Friday, September 23, 2011

Sinopsis My Princess Episode 5

Seol terpesona dengan istana ini. Penjaga membuka pintu istana. Pres. Park (selanjutnya kusebut kakek Hae-yeong/kakek saja ya biar gampang^^) bertanya apakah istana ini menyenangkan sang putri. Seol menjawab, “Indah sekali. Aku tidak pernah tahu kita memiliki istana seperti ini di negara kita.” Kakek berkata, “istana ini khusus dibangun untukmu dan telah lama disembunyikan dari dunia, menunggu pemilik kerajaan yang baru”. Seol kaget, jadi…
PDVD_001 PDVD_006
“Akhirnya Putri akan memasuki istana ini. Melihatmu akan menegakkan kembali kerajaan yang telah jatuh, aku tidak akan menyesal meski aku mati sekarang, “kata Kakek Hae-yeong senang. Seol masih mencerna kata-kata kakek ketika seekor kupu-kupu mungil berwarna biru terbang melintasi atap istana dan hinggap di bahu Seol. Ketika Seol hendak menyentuhnya, kupu-kupu itu terbang masuk ke dalam istana, bagaikan sebuah pertanda. Hal ini disadari kakek Hae-yeong.
PDVD_013 PDVD_015
“Itu pasti tanda keberuntungan. Kupu-kupu di musim dingin? Yang Mulia Raja pasti telah lama menunggumu, Putri.” Seol tersenyum. Seol dan Kakek Hae-yeong berjalan-jalan melihat istana. Kakek lagi-lagi menanyakan kesan sang Putri setelah melihat istana ini. Seol berkata istana ini besar sekali. Kakek mengatakan memang besar sekali jika ditempati seorang diri tapi nanti putri akan menikah dan memulai keluarga kerajaan.
“Menikah?” tanya Seol kaget. Kakek mengangguk, “Itu rencana untuk masa yang akan datang. Untuk sekarang ini, beristirahatlah dengan nyaman di sini. Dalam waktu seminggu, kami akan mengadakan preskon dan secara resmi mengumumkan kembalinya putri ke istana.” Seol gugup mendengar rencana itu.
PDVD_017 
“Sebenarnya aku masih tidak nyaman dengan sebutan “putri”, “keluarga kerajaan”. Aku ke sini karena aku tidak bisa menerima rakyat dengan tidak adil menghina ayahku. Aku merasa kaulah satu-satunya orang yang dapat menghentikan penghinaan itu. Tolong, bantulah aku,” kata Seol.
Kakek mengangguk mengerti. Sekretaris Oh mengatakan ada seseorang yang menunggu Seol di dalam. Ibumu ada di sini, kata kakek. Seol terkejut namun senang ketika melihat ibunya. Ibunya senang melihat Seol tapi ia ragu untuk mendekati Seol ketika Seol menghampirinya untuk memeluknya. Seol bingung, I….Ibu!!
Ibu Seol bingung harus memanggil Seol dengan sebutan apa, ”Yang Mulia…Putri….”
PDVD_024 PDVD_027
“Ibu, ada apa denganmu?” tanya Seol. Ibu Seol takut-takut menjelaskan, bagaimana ini aku tidak tahu kau ternyata seorang putri, kupikir yang terbaik adalah membesarkanmu sebagai anakku sendiri. Seol tidak tahan lagi dan menangis memeluk ibunya. Ibunya bertanya pada kakek Hae-yeong apakah ia boleh memeluk Seol. Kakek mengangguk dengan hormat. Ibu langsung memeluk Seol erat, “Oh anakku…Seol…Putri…Seol anakku….” Seol tersenyum. Kakek bertanya pada Sekretaris Oh mengenai Hae-yeong.
PDVD_029 PDVD_030
Hae-yeong pergi bekerja seperti biasa di departemen luar negeri. Namun ia mendapat kejutan tak menyenangkan. Ada pengumuman yang mengatakan bahwa Ia telah melanggar aturan dan dipindahtugaskan. Temannya berkata para wartawan terus mencari Hae-yeong untuk mengambil fotonya. Judul beritanya adalah “Chaebol generasi ke-3 menjalin cinta dengan Putri” dan “Dunia baru menyatukan hubungan politik dan bisnis.” Hae-yeong tidak terlihat senang.
Seorang reporter mengambil fotonya dari tangga. Hae-yeong mengenalinya. Ia adalah reporter Yoo. Hae-yeong tidak senang melihatnya dan menyindirnya dengan mengatakan Yoo adalah reporter kelas tiga. Yoo menjawab ia hanya memberitakan kenyataan bukan spekulasi.
PDVD_033 PDVD_035
Yoo-ju mendatangi Lee Dan di rumahnya. Yoon Ju mengatakan usaha Lee Dan akan terganggu untuk sementara karena jumlah wartawan yang mencarinya akan meningkat sehubungan dengan sang Putri. Tapi jangan khawatir, aku akan memperketat penjagaan, kata Yoon-ju ramah.
Dengan sinis Lee Dan bertanya berapa orang yang menjaganya dan berapa lama. Jika hanya sedikit maka sia-sia saja. Dan ia tidak suka jika orang memberi sesuatu lalu mengambilnya kembali. Yoon-ju tersenyum menyadari suatu saat Lee Dan akan berguna baginya. Ia menyerahkan kartu namanya pada Lee Dan.
PDVD_039 PDVD_040
Lee Dan ini agak mirip Lee Shi-young (Playfull Kiss) ya^^
Lee Dan menaruh kartu nama itu dalam sebuah kotak di lacinya. Lalu ia mengambil sebuah bungkusan kecil. Bungkusan yang “mirip” dengan bungkusan yang diberikan kakek Hae-yeong pada ayah Seol. (Kusebut mirip karena kita belum tahu apakah itu bungkusan yang sama.) Lee Dan melihat bungkusan tersebut dan seperti menyadari sesuatu.
PDVD_044 PDVD_045
Ibu dan Seol duduk bersama Kakek Hae-yeong. Kakek mengamati tingkah laku ibu dan anak itu mirip. (Walau bukan ibu kandung tapi Seol dibesarkan ibunya sejak ia berusia 5 tahun jadi wajar saja semua didikan ibunyalah yang melekat padanya.)
“Sejak kecelakaan itu aku telah mencari putri selama 20 tahun. Aku terus menerus berdoa dia hidup aman di suatu tempat,” kata kakek. “Oh ternyata sejarahnya begitu, sebenarnya selama ini aku bertanya-tanya seperti apakah orangtua kandungnya. Dia terlihat berbeda dari orang lain, “ sahut ibu Seol. Seol bertanya malu, memangnya aku berbeda seperti apa.
“Sejak dia masih muda, kau bisa melihat dia dipenuhi karisma atau semacamnya. Dia tidak bisa mentoleransi ketidakadilan. Dia belajar dengan baik hingga aku tidak pernah perlu memaksanya belajar,” celoteh ibu Seol melebih-lebihkan membuat Seol salah tingkah.
PDVD_046 PDVD_049
“Benarkah?” tanya Kakek senang. “Bisa dikatakan sedikit seperti itu,” sahut Seol malu-malu. “Aku pikir adakah anak lain yang seperti dia dan kupikir aku beruntung (mengadopsi Seol). Putriku ternyata adalah seorang putri.” Ibu Seol kembali sedih karena itu artinya ia tidak bisa hidup bersama dengan Seol.
Setelah perpisahan yang mengharukan dengan ibunya, ia bertanya pada Kakek apakah ia boleh pulang untuk menjenguk ibunya dan membereskan barang-barangnya. Dengan lembut kakek mengingatkan apakah Seol punya kepercayaan diri untuk kembali saat ini mengingat semua orang mengenalinya sebagai putri sekaligus menganggap ayahnya seorang criminal. Kakek berkata hanya Seol yang bisa membersihkan nama ayahnya menggunakan otoritasnya sebagai keluarga kerajaan. Dan hanya Seol yang bisa memulihkan otoritas itu dengan membentuk kembali monarki.
PDVD_057PDVD_058
Kakek berkata, sebelum putri resmi memasuki istana, Seol harus memutuskan apakah ia akan tinggal atau pergi. Seol tidak bisa menjawab.
Kembali ke rumahnya, Kakek Hae-yeong memanggil Yoon-ju. Dengan senang ia bercerita pada Yoon-ju bahwa putri sudah tinggal di istana dan mereka akan mendirikan Dewan keluarga kerajaan lebih cepat dari yang direncanakan. Yoon-ju bingung dan menoleh pada ayahnya. Ayahnya cepat-cepat menjawab, semuanya hampir selesai. Yoon-ju terlihat kecewa.
Kakek bertanya apa yang Yoon-ju inginkan. Apa maksud Anda, tanya Yoon-ju. Aku tahu kalian berdua telah bekerja keras membantu Daehan Grup, sebelum aku menyerahkan seluruh hartaku aku ingin melakukan sesuatu untukmu, kata Kakek.
Yoon-ju menjawab, aku ingin seumur hidupku dapat melakukan apa yang Presdir inginkan. Sekretaris Oh mendongak. “Aku ingin memberimu Museum Hae-young, tapi….” Kakek pikir Yoon-ju menginginkan museum karena saat ini ia adalah direkturnya. Yoon-ju cepat-cepat menjawab, bukan itu maksudku.
Yoon-ju bertanya apakah Presdir akan mengijinkannya mengelola Dewan Keluarga Kerajaan. Ayahnya kaget mendengar permintaan Yoon-ju. “Jika aku mengelolanya sesuai keinginanmu maka Kak Hae-yeong tidak akan bisa melakukan apa yang dia inginkan pada sang Putri.” Kakek yang tidak mengetahui niat Yoon-ju sebenarnya langsung berterima kasih dengan tulus. Ayah Yoon-ju tidak terlihat gembira.
PDVD_062 PDVD_065
Ketika mereka bicara berdua ia bertanya mengapa Yoon-ju ingin menjadi direktur dewan keluarga kerajaan. Dengan dingin Yoon-ju berkata itu adalah keinginan kakek Hae-yeong. Namun ayah Yoon-ju tahu bahwa putrinya memiliki niat tersembunyi, ia meminta putrinya membatalkan permintaan itu. Yoon-ju menolak bahkan sedikit mengancam ayahnya bahwa ia tidak ingin mengabaikan ayahnya. Ayahnya terhenyak.
PDVD_066 PDVD_069
Seol memasuki kamar tidurnya dan tak bisa mengatupkan mulutnya hehe…saking terpesonanya. Ia ditemani oleh dua orang dayang. Mereka memperkenalkan diri sebagai Dayang Kepala Istana Hong In-ae dan Dayang istana Shin Mi-so. Mereka berkata mereka bertugas melayani kebutuhan dan keperluan putri di istana. Seol keceplosan mengatakan entah untuk berapa lama ia tinggal di sini tapi untuk sementara tolong bantu dia. Kedua dayang bingung karena bukankah seorang putri tinggal di istana untuk selamanya?
PDVD_071 PDVD_072
Seol cepat-cepat berkata ia ingin istirahat dan meminta ditinggal sendiri. Seol duduk dengan murung dengan perubahan tiba-tiba ini tapi kemurungannya tidak lama. Begitu melihat lemari pakaian, lebih tepatnya ruang pakaiannya, ia langsung senang. Sepatu-sepatu dan pakaian-pakaian mewah berderet. Ia mencobanya namun terjatuh saat mengenakan sepatu berhak tinggi (I like that shoes^^). Ia kembali murung dan berkata semua itu tak cocok untuknya.
PDVD_081 PDVD_084
Jung-woo terkejut mengetahui Seol telah masuk istana. Ia mendadak dipanggil ke kantor Rektor. Di kantor Rektor, Rektor sedang mengagumi lukisan pemberian Yoon-ju. Ia tak percaya putri adalah salah satu mahasiswa di universitasnya dan anak didik dari Prof. Nam. Yoon-ju mengatakan ia merekomendasikan Prof. Nam sebagai salah satu Direktur Dewan Keluarga Kerajaan. Jung-woo mengetuk pintu dan masuk. Ia tidak terlalu terkejut melihat Yoon-ju.
PDVD_091 PDVD_092
Di luar, Yoon-ju membujuk Jung-woo dengan mengatakan bahwa menjadi direktur Dewan Kerajaan akan menjadi langkah karir yang baik. Jung-woo berkata saat ini ia tidak merasa buruk. Menjadi professor pada usia 32 tahun tanpa pendukung dan uang adalah sebuah keajaiban. Apa maksudmu tak memiliki pendukung, kau memiliki aku, sahut Yoon-ju. Jung-woo bertanya benarkah, kalau begitu beritahu aku di mana putri berada agar aku bisa menemuinya.
Apa yang kauinginkan darinya, tanya Yoon-ju. Telepon, jawab Jung-woo singkat. Yoon-ju terlihat cemburu mendengarnya.
Sementara itu ketidakberuntungan terus menimpa Hae-yeong. Kakeknya mendatangkan para pengawalnya ke rumah Hae-yeong untuk mendaftar semua asset (baca: barang) yang akan dikembalikan pada kerajaan. Dimulai dari rumahnya yang dibeli atas nama kakek. Hae-yeong menghela nafas, aku tahu, sekarang pergilah.
Pengawal tidak berhenti sampai di situ mereka masuk ke rumah dan mulai menyita semua barang Hae-yoeng dengan menempelkan stiker merah (jadi inget adegan teve Chae-kyeong disita di Goong^^). Hae-yeong protes, ia membeli semua barang yang mengisi rumahnya dengan menggunakan uangnya bukan uang kakeknya. Pengawalnya berkata Hae-yeong menggunakan kartu kredit yang dibuat dari akun Presiden. Bahkan cangkir dan sepatupun ditempeli stiker merah. Hanya barang-barang yang dibeli Hae-yeong di luar negeri dengan uang tunai yang tidak ditempeli stiker.
PDVD_094 PDVD_101
Pengawal memberi Hae-yeong koper dan berkata pasti menyedihkan harus diusir keluar dari rumahmu sendiri pada musim dingin. Hae-yeong tak percaya semua ini. Dong-jae, sang pengawal, dengan tak enak hari berkata ia harus mengunci pintu dan bertanya apakah Hae-yeong akan keluar atau ia harus menggunakan kekerasan. Hae-yeong tak bisa apa-apa lagi, ia berteriak kesal.
Dengan hanya membawa sebuah koper, Hae-yeong pergi menemui Yoon-ju. Yoon-ju menyerahkan daftar asset yang akan diserahkan pada kerajaan, real estat, saham dan asset tunai. Yoon-ju bertanya di mana Hae-yeong akan tinggal.
PDVD_103
Hae-yeong menjawab rumah di PyeongChangdong (numpang di rumah rumah keluarga Joo-won?? Hehe ^^) kosong, untuk sementara ia akan tinggal di….Hae-yeong melihat daftar itu dan berkata sepertinya aku pun tidak bisa tinggal di sana. Ia melihat daftar itu dan sangat kesal, “Resort di Jeju adalah hadiah ultahku yang ke-8. Itu adalah milikku. Siapa yang memutuskan memberikannya?”
“Resort itu adalah pemberian ayahmu dan sampai sekarang masih menggunakan namanya. Sekarang telah menggunakan nama Presiden,” Yoon-ju menjelaskan. Hae-yeong tambah kesal mendengarnya.
Terbalik dengan Hae-yeong, Seol menjalani hidup putri. Ia berbelanja di mal, diiringi pengawal dan dayang. Banyak orang yang mengenalinya dan ingin bersalaman dengannya. Dayang Shin bertanya, semua belanjaan ini untuk orang lain, kau hanya membeli sebuah jepit rambut. Seol berkata itu untuk ibu dan kakakku, tanpa kehadiranku rumah pasti sepi.
PDVD_104 PDVD_106
Di mal yang sama, Hae-yeong sedang berbelanja untuk mengisi kopernya. Ia sedang melihat-iihat pakaian dalam saat rombongan Seol menuju ke arahnya. Ia terkejut dan tanpa berpikir panjang bersembunyi di balik manekin pakaian dalam wanita haha.. Rombongan Seol lewat tanpa ada yang menoleh ke arahnya.
PDVD_113 PDVD_117
Hae-yeong bertanya sendiri untuk apa Seol ke sini. Pramuniaga toko melihatnya dengan aneh. “Teruskan pekerjaanmu,” kata Hae-yeong tersenyum kikuk.
“Sedang apa kau di situ?” tanya Seol tiba-tiba di depan Hae-yeong. Hae-yeong buru-buru menunduk tapi percuma. Hae-yeong berdiri dan bertanya, “Mengapa kau di sini?” Seol tidak sempat menjawab, ia terbelalak melihat tangan Hae-yeong, demikian juga dayang Shin dan pengawal Dong-jae, dan semua orang lainnya.
PDVD_126 PDVD_127
Begini posisi Hae-young^^:
PDVD_123
Hae-young buru-buru melepas tangannya dan berusaha terlihat cool. Tapi Seol terbelalak melihat tangan Hae-yeong yang sebelah lagi:
PDVD_125
Hae-yeong melempar celana itu. Seol bertanya apa yang Tn. Park lakukan di sini sebagai pewaris tunggal Mal Dae-han dan juga Grup Daehan? Hae-yeong berkata ia sedang melihat bagaimana keadaan penjualan saat ini. Oh, aku juga sedang menjalankan tugas, sahut Seol ketus lalu meninggalkan Hae-yeong. Hae-yeong malu dan kesal.
Well, sudah bisa kita tebak bukan kalau kartu kredit Hae-young juga ditolak? (Aneh juga ya, sebagai diplomat Hae-yeong kan dapet gaji juga, emangnya Hae-young ngga punya akun atas namanya sendiri? Ya namanya juga chaebol kali ya ngga kepikiran bakal mendadak bangkrut kaya gini :p)
Ia mengejar Seol dan rombongannya dan ikut masuk ke dalam lift tapi ia tidak bisa berkata apa-apa (sepertinya ia ingin minta tolong). Mereka hanya saling melirik namun tidak mau mulai bicara. Akhirnya Seol dengan cuek keluar dari lift diikuti dayang dan para pengawal yang dulu mengikuti Hae-yeong. Hae-yeong frustasi. (Lucu juga ….kita sudah sering melihat chaebol tampan dengan wanita miskin yang dianggap tidak sederajat, nah ini terbalik kan ^^)
PDVD_131 PDVD_134
Hae-yeong pun mendapat larangan meninggalkan Korea. Ia bertemu dengan Presiden Lee. Presiden Lee berkata pasti keadaan saat ini sangat berat bagi Hae-yeong. Dengan hati-hati Hae-yeong bertanya mengapa Presiden Lee menyetujui pembentukan kembali keluaraga kerajaan. Presiden berkata ia percaya hal ini akan mengembalikan pengetahuan rakyat akan sejarah.
Hae-yeong berkata Presiden belum melihat gadis tidak dewasa yang akan menjadi putri, ia juga menyebut kakeknya tidak bertanggung jawab karena telah memulai kekacauan ini. Ia yakin pembentukan kembali kerajaan akan menuai banyak perhatian dan akan sulit ditangani.
PDVD_140
Presiden berkata, ia juga berpikir demikian tapi voting tidak bisa dibatalkan karena adanya konflik dengan partai Geum Ja. Terlebih lagi karena kakek Hae-yeong, voting makin tidak bisa dibatalkan. Ia bertanya menurut Hae-yeong apa yang sebaiknya dilakukan?
Presiden Lee dan So Sun-woo mendonorkan darah bersama. Mereka bersikap bersahabat dan ramah satu sama lain saat para reporter meliput mereka. Begitu tinggal mereka berdua, Sun-woo menyuruh selangnya dicabut saja, ia menderita anemia. Ia mengomel menyuruh lain kali Presiden melakukan hal seperti ini sendiri saja, tidak perlu mengajaknya, mereka bahkan tidak berhubungan baik.
PDVD_144 PDVD_146
Presiden Lee bertanya apa So Sun-woo akan terus menentang monarki. Presiden Lee berkata putri sudah masuk istana. So Sun-woo terkejut, memangnya istana itu sebuah hotel yang bisa dimasuki seenaknya, ia tidak akan pernah menyetujuinya. Presiden berkata berita sudah tersebar, tidak bisa lagi menyembunyikan sang putri di suatu tempat.
Presiden berkata salah Sun-woo sendiri yang menyebarkan skandal tentang ayah Putri. Pada akhirnya rakyatlah yang akan memutuskan. Presiden mengingatkan Sun-woo untuk tidak menekan sang Putri lagi.
Seol sangat senang ketika mendapat kabar siapa yang menemuinya. Ia berlari keluar kamarnya membuat dayang Shin cemas mengejarnya karena Seol sedang sakit dan bisa terjatuh jika berlari seperti itu. Seol berhenti berlari dan bertanya apakah ia terlihat cantik. Dayang Shin mengiyakan. Seol memanggil Dayang Shin dengan panggilan”Unni” (kakak) sama seperti Chae Kyeong (Goong) memanggil Dayang Choi.
PDVD_151 PDVD_153
Seol memanggil Jung-woo, “Professor!” dan tersenyum senang. Jung-woo tersenyum melihat Seol. “Kukira kau sakit, apa kau baik-baik saja?” tanya Jung-woo. “Bagaimana aku bisa sakit? Aku di surga saat ini,” kata Seol (maksudnya tentu bukan istananya, tapi karena Jung-woo sengaja datang menemuinya). “Kau tidak berubah, “sahut Jung-woo.
PDVD_157 PDVD_159
Seol bertanya bagaimana Jung-woo bisa ke istana. Jung-woo menjawab karena ia merindukannya. Seol sampai tergagap, “Benarkah? Tunggu sebentar! Jangan menjawabnya! Karena kau tiba-tiba berkata begitu, sulit bagiku untuk menelannya,” kata Seol memegang dadanya.
PDVD_162 
Jung-woo mengingatkan, “mulai sekarang hidupmu akan dipenuhi hal-hal yang akan sulit dihadapi dan sebagai tambahannya kau juga mungkin akan kesepian. Tak peduli kapan dan dimanapun, nasib seorang Raja selalu seperti itu. Tentu saja kau hanya seorang putri, tapi bukankah hal itu sama saja? Jadi, daripada kau berteriak di hutan bamboo, “Raja bertelinga keledai !”, sebaiknya datanglah pertama kali padaku. Suaramu begitu lantang, bagaimana jika muncul gossip.” Seol sangat terharu.
PDVD_166
(Ungkapan “berteriak di hutan bamboo” datang dari cerita rakyat Korea. Seseorang dipercayakan sebuah rahasia yang tidak boleh ia katakan pada siapapun tapi lama-lama rahasia ini menjadi terlalu berat baginya untuk ditanggung sendiri (susah untuk menahan diri tidak bergosip?). Ia tidak tahan lagi dan berteriak mengucapkan rahasia itu di hutan, “Raja bertelinga keledai!”. Dengan demikian ia bisa bebas mengatakan rahasia itu tanpa didengar oleh orang lain. Ungkapan ini juga digunakan dalam drama Pasta ketika Eun-soo mengetahui hubungan Hyun-wook dan Yoo-kyung dan ia harus merahasiakannya.)
Mendadak telepon Seol berbunyi. Seol ragu menjawabnya begitu melihat siapa peneleponnya. Tapi karena Jung-woo menyuruh mengangkatnya, akhirnya ia menjawab telepon itu dengan kesal. Ternyata Hae-yeong yang menelepon.
Seol bertanya mengapa Hae-yeong meneleponnya, mereka seharusnya tidak saling berbicara lagi. Hae-yeong menelepon karena ingin tahu di mana Seol sekarang. (bahkan Hae-yeong tidak tahu di mana istananya? Kok ngga tanya Yoon-ju aja ya, Jung-woo juga tau dari Yoon-ju kan? Abaikan)
Seol berkata sejak ia masuk istana ia memutuskan untuk melupakannya (Hae-yeong) jadi jangan meneleponnya lagi. Hae-yeong terus bertanya di mana Seol sekarang.
“Jangan bilang kau akan datang dan menemuiku,” kata Seol. Dayang Kepala dan Dayang Shin berpandangan, soalnya kedengarannya seperti telepon dari mantan pacar yang ngga terima diputusin hehe^^. “Kau ini benar-benar….tolong, biarkan saja aku,” kata Seol lagi.
“Jika aku tidak mau memberitahukannya, aku akan membuat insiden,” ancam Hae-yeong kesal. “Kita sudah membuat semua insiden yang mungkin terjadi!” sahut Seol kesal. Haha…I love this couple, chemistry mereka oke walau cuma lewat telepon. Seol segera sadar Jung-woo mendengarkan ucapannya barusan. (Insiden=kecelakaan=ungkapan untuk sesuatu yang terjadi antara pria dan wanita)
“Benar sekali, berlawanan dengan kepercayaanmu, ada berbagai cara pria dan wanita dapat mneyebabkan insiden. Aku….akan menikahimu,” kata Hae-yeong.
“Menikah?” Seol langsung menutup teleponnya membuat Hae-yeong mengomel. “Dia menjadi gila, apa yang harus kuperbuat?” gumam Seol panik. Duh Seol ini polos banget ya. Seol permisi pada Jung-woo dan menelepon balik Hae-yeong dari ruangan lain.
PDVD_168
Hae-yeong dengan santai berkata ia sedang mempersiapkan konferensi pers saat ini dan akan mengumumkan dirinya dan Seol akan menikah, padahal sebenarnya ia sedang berbelanja di minimarket. Seol terkejut, “Mengapa kau menikah denganku?”
Hae-yeong berkata mungkin Seol tidak mengerti tapi semakin besar skandal akan semakin menguntungkannya. Ia menegaskan ancamannya dengan menutup telepon.
Seol bertambah panic. Ia menarik lengan Jung-woo, “Professor, ayo cepat! Go-go-go!” Jung-woo kebingungan. “Cepat, cepat! Mari kita ke hutan!” Kedua dayang bingung, mengira Seol dan Jung-woo benar-benar akan ke hutan. Mereka mengejar keduanya.
PDVD_172
Seol menarik Jung-woo ke dalam sebuah ruangan dan menutup pintu. Sebelum menutupnya, Seol berkata mereka akan berduaan dulu dalam ruangan itu dan ia memperingatkan dayangnya untuk tidak membuka pintu. Apapun yang mereka dengar tidak boleh membuka pintu. Tentu saja hal ini membuat para dayang berpikir yang aneh-aneh hehe…
PDVD_174 PDVD_179
Hutan yang dimaksud Seol adalah ada suatu rahasia yang ingin ia katakan pada Jung-woo. Ia menceritakan ancaman Hae-yeong pada Jung-woo. Mereka berdua memutuskan untuk keluar istana sembunyi-sembunyi.
PDVD_183 PDVD_185
Akhirnya mereka berdua berhasil keluar dan masuk ke mobil. Tapi Gun melihat mereka dan ketika melihat Jung-woo menutupi kepala Seol dengan kain (untuk menyamar), ia mengira Seol telah diculik.
PDVD_188 PDVD_193
Seol dan Jung-woo lega telah berhasil keluar istana tapi mereka segera dikejutkan oleh Gun dengan skuternya yang berteriak-teriak mengejar mereka. “Noona! Noona!” untung dia masih pinter ya ngga manggil-manggil: Putri! Putri!
Gun berhasil menyejajarkan skuternya dengan mobil Jung-woo. Ia menyuruh Seol keluar dari mobil. Seol bilang tindakan Gun berbahaya dan menyuruh Gun pergi. Gun bersikeras menyuruh Seol keluar dari mobil, ia akan menyelamakannya. Ternyata ngga sepinter itu hahaha…gimana bisa keluar dari mobil yang lagi jalan terus pindah ke skuter? Karena Jung-woo dan Seol sibuk memperhatikan Gun, mereka lengah dan mobil Jung-woo menabrak penghalang perbaikan jalan. Ujung-ujungnya rumah sakit deh.
Seol berteriak-teriak kesakitan walau dokter mengatakan tidak ada yang salah. Seol tak percaya, kalau begitu mengapa hidungku berdarah? Dokter bilang ia tidak bisa langsung mendiagnosa saat kecelakaan baru terjadi. Ia bertanya di bagian mana Seol merasa sakit. Seol tidak bisa menjawab.
PDVD_201
Hae-yeong masuk dengan buru-buru dan bertanya pada dokter apa yang terjadi. Melihat dua pria di depannya (Jung-woo dan Hae-yeong, deuh aku aja bingung milih yang mana^^) dokter mengomel, aku benci jika ada banyak pendamping. Dokter berkata sebenarnya Seol tidak perlu masuk rumah sakit tapi jika Seol berkeras masuk rumah sakit, pendampingnya harus mendaftar. Lalu dokter itu pergi.
Hae-yeong mengomeli Jung-woo, bagaimana ini bisa terjadi? Seol dengan senang berkata,”Kau langsung ke sini berarti preskonnya batal kan? Kan? Kan?” Hae-yeong bertanya apa Seol sengaja kecelakaan untuk menghentikannya?
Jung-woo mengajak Hae-yeong bicara di luar. Hae-yeong malah terus berceloteh, “Kudengar kau yang mengemudi saat kecelakaan itu terjadi? Sudah kubilang bukan? Jangan menaiki mobil pria ini. Sudah berapa kali kukatakan?” Tentu saja Seol membela Jung-woo, karena Hae-yeong mau cari gara-gara maka Jung-woo membantunya.
Hae-yeong terlihat cemburu? “Melihatmu membelanya seperti itu berarti kau tidak apa-apa.” Lalu ia menarik tangan Seol membuat Seol berteriak. Jung-woo memarahi Hae-yeong dan menunduk menanyakan keadaan Seol. Hae-yeong bertanya, apa kau benar-benar sakit. Seol terus mengaduh hingga Jung-woo semakin kesal pada Hae-yeong. Ia berkeras ingin berbicara di luar dan meyakinkan Seol ia akan mendaftarkannya masuk rumah sakit. Merasa sedikit bersalah, Hae-yeong berkata aku tidak dengan kuat menarikmu.
PDVD_207 PDVD_210
Di meja pendaftaran, persaingan kembali berlanjut. Mereka berebut menandatangani formulir pendaftaran. “Karena ia mendapat kecelakaan saat mencariku, aku akan menandatanganinya,” kata Hae-yeong. Jung-woo merebut bolpen dan form-nya, “Kubilang lupakan.” Hae-yeong balik merebut, “Gaji Professor tidak akan sebanyak itu, biar aku saja.” Jung-woo merebutnya lagi, “Aku bisa mendaftarkannya sebagai muridku. Tapi kau, membayar dalam hubungan apa?” Hae-yeong berkata ia ingin membereskan hubungannya dengan Seol, jika Jung-woo menyingkir sebentar, ia akan dapat mengakhiri “pertunangan” ini. Dan Hae-yeong pun menandatanganinya.
Gun mendatangi tempat tidur Seol. Seol bertanya apakah mereka berkelahi (Jung-woo dan Hae-yeong)? Gun balik bertanya, apa Hae-yeong benar-benar tunangan Seol? Seol bangkit dari tempat tidur, tidak seperti itu, aku harus mengakhirinya sekarang.
Gun khawatir, “Apa kau tidak apa-apa? Tadi kau terlihat tidak begitu baik.” Tapi otak Seol sedang dipenuhi pikiran lain. Ia bertanya siapa nama Gun. “Panggil saja aku Gunnie, kau bisa dengan nyaman berbicara apa saja padaku.”
Seol senang, “Benarkah? Gun, kakak ingin meminta bantuanmu. Apa kau akan membantuku?” Seol mengatakannya dengan mata memelas seperti Puss in Boots dalam Shrek, mana tahaaaaan…
PDVD_218 PDVD_221
Di istana, dayang Shin membereskan barang-barang Seol yang berserakan. Sementara itu Gun, menyamar jadi Seol, bersembunyi dalam selimut. (I really like this guy…. and his hair colour^^). Dayang Shin berceloteh tentang Jung-woo, bahwa semua orang di istana bertanya-tanya siapa dia. Gun mengeluarkan tangannya sedikit memberi isyarat agar dayang Shin keluar. Dayang Shin berpikir “Seol” sedang bad mood. Gun mengiyakan, namun mendengar sudara Seol yang tidak seperti biasanya membuat dayang Shin berpikir Seol sakit.
Ia berusaha menarik selimut yang menutupi “Seol”. Gun memegangi selimutnya erat-erat dan memberi isyarat agar dayang Shin pergi. Akhirnya dayang Shin keluar. Gun cepat-cepat mengunci pintu kamar. Ia menghela nafas, “Ini benar-benar untuk stabilitas keluarga kerajaan, kan?”
PDVD_224 PDVD_226
Hae-yeong menemani Seol di rumah sakit. Seol mengigau dalam tidurnya, “Sakit…ayah…” Seol mulai menangis memanggil ayahnya, membuat hati Hae-yeong tergerak. “Ayah….aku lapar…aku lapar….” Hae-yeong langsung mengomel, membuat Seol terbangun.
PDVD_233 PDVD_232
Seol terbatuk-batuk dan meminta air. Hae-yeong memberi segelas air tapi Seol hanya mengangakan mulutnya minta disuapi. Hae-yeong menggerutu baru tinggal sebentar di istana, Seol sudah punya kebiasaan baru. Seol berkata ia tidak dapat bergerak, ia bahkan tidak bisa menggerakkan bahunya. Hae-yeong mengalah dan membantunya minum. “Ah, kurasa aku bisa hidup sekarang,” gumam Seol lega. Lalu Seol mengangkat tangannya untuk mengusap matanya.
Hae-yeong langsung protes, katamu kau tidak bisa mengangkat tanganmu. Seol beralasan tangan kanannya sakit, dan tangan kirinya ditusuk jarum infus. Hae-yeong bertanya apakah Seol pura-pura sakit. Seol menjawab silakan jika kau mau berpikir demikian.
Seol membelakangi Hae-yeong dan bersiap tidur kembali. Namun tiba-tiba ia berbalik mneghadap Hae-yeong, “Begini…” Ada apa, tanya Hae-yeong. Belum sempat Seol menjawab, tubuhnya sudah bereaksi duluan. Terdengar siulan panjang dari bokong Seol (maaf, buang gas maksudnya hehehe^^). Hae-yeong speechless….
PDVD_246 PDVD_247
Hae-yeong menemani Seol ke toilet. Saat mereka hendak kembali ke kamar, seorang ibu menggendong anaknya yang menangis keras di meja pendaftaran. Perawat berkata semua kamar terisi penuh dan meminta ibu itu pergi ke rumah sakit lain. Seol tentu saja tidak tega melihatnya dan langsung minta keluar saat itu juga. Ia berkata ia sudah sembuh.
PDVD_249 PDVD_251
Mereka keluar. Seol memegangi dahinya dan tidak langsung masuk mobil. Hae-yeong bercanda mengatakan apa Seol meminta dibukakan pintu? Ia masuk ke mobil. Seol masih memegangi dahinya dan akhirnya jatuh pingsan. Awalnya Hae-yeong tidak menyadarinya, namun begitu melihat Seol terbaring di tanah ia langsung panic. Seol melarang Hae-yeong membawanya kembali ke dalam rumah sakit. Terpaksa Hae-yeong membawa Seol ke rumahnya.
PDVD_253PDVD_254  
Seol mengalami demam tinggi. Hae-yeong mengompresnya. Ia melepas baju Seol di bawah selimut dan memakaikan pakaian tidur (kok bisa ya?). Saat Hae-yeong mengompres tangan Seol, ia melihat luka dan memar di tangan Seol akibat kecelakaan itu. Ia merasa bersalah karena sebelumnya ia tidak percaya Seol sakit bahkan sempat menarik lengannya. Akhirnya demam Seol turun, Hae-yeong lega.
PDVD_262 PDVD_263
Berita Seol dibawa Hae-yeong ke rumahnya rupanya sampai di telinga kakek Hae-yeong. Kakek memutuskan akan menjemput Seol langsung.
Seol bangun dan mendapati Hae-yeong sedang memasak. Hae-yeong menyuruhnya duduk bahkan menyuapinya bubur karena tangan Seol sedang sakit. Ia mengomel bagaimana bisa Seol terluka seperti itu. Seol mencoba menutupi lukanya tapi lalu ia sadar ia tidak mengenakan pakaiannya sendiri.
Hae-yeong menenangkannya dengan berkata ia tidak melihat apapun, dan lagi tak ada yang bisa dilihat. Seol tidak percaya tapi ia terus makan disuapi Hae-yeong hehe… Seol curiga Hae-yeong menginginkan sesuatu darinya karena mendadak ia bersikap baik.
PDVD_273 PDVD_277
“Kau bilang kau tidak percaya pada orang yang membuatmu kelaparan. Tapi aku ingin kau percaya padaku.”
Seol bertanya apa yang harus ia percayai dari Hae-yeong.
“Permintaan maafku. Walau kau tidak bisa menerimanya kuharap kau bisa mendengarnya. Cerita mengenai ayahmu, kuharap aku tidak melakukannya. Aku minta maaf.”
Seol masih bingung, ia menatap Hae-yeong.
PDVD_283 PDVD_284
Seol terkejut melihat barang-barang Hae-yeong ditempeli stiker. Mengapa terkejut, kau yang melakukannya, kata Hae-yeong. Bukan karena pengembalian asset bukan, tanya Seol. Hae-yeong menyuruh Seol mandi dulu baru mereka akan berbicara.
Seol menurut. Ketika ia hendak keluar kamar ia melihat setumpuk surat kabar dengan berbagai judul mengenai pembentukan kembali kerajaan dan berita ayahnya. Lalu ia menemukan sebuah map. Saat ia membukanya, isinya adalah foto ayahnya dan draft berita. Ternyata itu adalah berita tentang ayahnya yang ia dengar di rumah makan waktu itu.
PDVD_290
Bahkan ada draft berita dari berita yang saat ini sedang ditayangkan di televisi mengenai ayahnya. Berita itu mengatakan Lee Han (ayah Seol) membuat barang antic palsu dan menjualnya pada para kolektor dengan harga tinggi. Seol terkejut. Dengan marah ia menemui Hae-yeong dan menunjukkan draft di tangannya, bertanya apa artinya ini semua, semuanya persis sama dengan berita di TV ketika di rumah makan bahkan dengan berita barusan.
PDVD_296 PDVD_293
Apa kau pikir aku membuat berita tentang ayahmu, tanya Hae-yeong. Seol melemparkan kertas-kertas itu pada Hae-yeong. “Apa lagi yang akan kaulakukan selanjutnya?! Bertindak sejauh ini untuk menghentikan pembentukan kembali keluarga kerajaan. Apa ada orang lain selain dirimu?”
“Tidak,” jawab Hae-yeong, “Ada banyak…banyak sekali. Bahkan jika aku berhenti, bukan berarti kau akan menjadi putri tanpa halangan. Jadi menyerahlah.”
“Apa semua yang kaulakukan itu kebohongan? Agar kau bisa menghentikanku menjadi putri?” tanya Seol.
Hae-yeong menarik nafas, “Dengarkan aku baik-baik. Aku khawatir saat kau sakit, itu benar. Permintaan maafku tentang ayahmu juga benar. Tapi diatas semua kebenaran itu, kau sebaiknya menyerah menjadi putri. Apa kau mengerti?”
Seol menatap Hae-yeong, matanya berkaca-kaca. Ia tidak berkata apa-apa lagi dan keluar dari rumah Hae-yeong. Hae-yeong menyusulnya, namun di luar kakek Hae-yeong tiba untuk menjemput Seol.
PDVD_306 PDVD_308
Seol meminta maaf pada kakek Hae-yeong (karena telah keluar dari istana). Tapi Kakek hanya menyuruh Seol ikut, Presiden Lee ingin menemui Seol. Awalnya Seol ragu tapi lalu ia masuk ke dalam mobil. Hae-yeong memperhatikannya (gah why this man is so cooool..^^)
Presiden menemui Seol dan menyalaminya dengan ramah. Seol berkata sebenarnya ia juga ingin bertemu Presiden. “Aku juga memilih calon No. 5 (nomor pemilihan Presiden Lee saat pemilu),” katanya malu-malu. Presiden tertawa dan berkata Seol pasti sudah melalui berbagai rintangan.
“Begitu kau memasuki istana, untuk membentuk kembali monarki dan memenangi pengambilan suara, pemerintah tidak akan menahan segala bantuan untukmu. Tapi harap diingat bantuan yang kami berikan harus setara dengan tanggungjawab yang menyertainya. “ Seol tersentuh mendengarnya.
PDVD_322 PDVD_323
Ketika ia menemui kakek Hae-yeong kembali, kakek bertanya apa keputusan Seol, ke mana Seol akan kembali. Seol menguatkan dirinya dan menatap kakek.
PDVD_324 PDVD_327
Seol kembali ke istana (ya iyalah… kalo pulang ngga jadi putri lagi dong….beda judul drama^^), kali ini ia melangkahkan kaki dengan mantap.
PDVD_331
Saat tidur ia bermimpi Hae-yeong duduk di samping tempat tidurnya dan tersenyum membelai kepalanya seperti ketika ia demam. Saat pagi hari ia membuka mata, ia terkejut melihat Hae-yeong benar-benar di hadapannya. Dia pikir dia masih bermimpi. Matanya langsung terbuka lebar begitu mendengar Hae-yeong berbicara.
PDVD_333 PDVD_337
“Selamat pagi Putri, aku Diplomat Park Hae-yeong dari Departemen Urusan Luar Negeri.”
Seol langsung bangun dan duduk tak percaya.
PDVD_338 PDVD_347

No comments:

Post a Comment