Thursday, March 28, 2013

Sinopsis Rooftop Prince Episode 13


Sinopsis Rooftop Prince Episode 13

Yi Gak menarik Park Ha dalam pelukannya, dan mencium Park Ha.
Sinopsis Rooftop Prince episode 13\
Bersamaan dengan itu, perlahan-lahan foto kenangan mereka berlima berubah. Keempat pengelana dari Joseon menghilang, sesaat meninggalkan Park Ha sendiri. Namun hanya sepersekian detik, dan foto itu kembali normal.

Chi San dan Man Bo sedang tekun mempelajari dokumen, dan Young Sul sedang tekun tertidur. Saat Chi San ingin minum, ia meraih mugnya tapi hanya angin yang didapat. Berkali-kali ia mencoba, tapi ia seperti hantu yang tak bisa menyentuh benda padat.
Tentu saja Chi San kaget dan berteriak ketakutan, membangunkan Young Sul sampai Young Sul jatuh terduduk. Dengan panik Chi San mengatakan kalau ia tak dapat mengambil mugnya. Mulanya Young Sul mengira Chi San sedang bermimpi (LOL, memang Young Sul kira semuanya tertidur seperti dirinya?)
Namun Man Bo yang juga melihatnya, menggelengkan kepala dan berkata kalau akhir waktu mereka di jaman ini sudah semakin dekat. Man Bo menduga kalau pernikahan Pangeran dan Se Na sebagai putri mahkota sudah semakin dekat, sehingga sebentar lagi alasan mengapa mereka melintasi waktu akan terkuak. Dan mereka bisa kembali ke Joseon.
Bukannya senang, tapi mereka malah mengkhawatirkan Park Ha. Bagaimana dengan Park Ha jika mereka kembali nanti? Chi San merasa bersalah banyak hal pada Park Ha selama mereka ada di sini. Man Bo pun menyesali mengapa Park Ha harus menyukai junjungan mereka.
Sinopsis Rooftop Prince Episode 13
Duduk di atas bukit, Yi Gak meminta Park Ha untuk membuatkan omurice untuknya. Sudah lama ia tak pernah merasakan omurice buatan Park Ha lagi. Park Ha heran pada Yi Gak, apakah Yi Gak tak pernah bosan pada makanan itu?
Yi Gak malah menjawab, “Tak peduli berapa kali aku makan omurice buatanmu, tapi aku tak pernah akan bosan.”
#eaaaaa…
Mendengar jawaban Yi Gak, Park Ha berjanji akan membuatkannya sampai Yi Gak akhirnya merasa bosan, “Alangkah senangnya jika kau tak kembali dan kita dapat tinggal di sini bersama-sama. Akan lebih menyenangkan jika kita dapat tinggal di jaman yang sama. Aku selalu bertanya-tanya, sampai kapan kau akan tinggal di sini?”
Yi Gak tak dapat memberi jawaban pada Park Ha.
Tapi Park Ha mengerti walau tak pertanyaannya tak dijawab oleh Yi Gak. Jadi saat mereka kembali ke rumah, Park Ha berkata, “Sebaiknya.. kita hentikan hubungan kita sampai di sini. Kita masih bisa kembali pada hubungan kita sebelumnya.”
“Apa maksudmu?” tanya Yi Gak yang mengerti perkataan Park Ha tapi tak memahami pikirannya.
“Kita berdua sama-sama tahu. Ini bukan takdir yang seharusnya kita jalani, tapi kita tetap melakukannya. Kau datang kemari untuk Putri mahkota dan mengemban misi penting. Dan kau juga harus kembali ke Joseon.”

Air mata merebak di mata Park Ha saat ia mengingatkan Yi Gak kalau ia juga bertanggung jawab pada Man Bo, Chi San dan Young Sul. Mungkin semua ini akan memusingkan Yi Gak dan beban di bahu Yi Gak akan semakin berat, tapi beginilah takdir mereka dan Yi Gak tetap harus meneruskan pertunangannya. 
Tae Moo menerima telepon yang mengagetkan dari temannya di Amerika yang mengabarkan kalau Tae Young telah ditemukan. Tae Moo menyuruh agar temannya mengirim foto Tae Young.
Gemetar, Tae Moo membuka MMS dari temannya. Betapa kagetnya Tae Moo melihat foto Tae Young terbaring lemah di tempat tidur, tapi hal itu sudah mampu membuktikan kalau Tae Young yang asli masih hidup.
Buru-buru Tae Moo keluar dan meninggalkan mobil, tak menyadari kalau di mobil sebelah ada Taek Soo yang sedang membuka bagasi.
Apakah Taek Soo mengetahui atau tidak? Mungkin iya, mungkin juga tidak.
Di kamar, Park Ha menulis surat lamaran. Dan ia berkemas-kemas dan keluar kamar bersamaan dengan Yi Gak. Park Ha pamit untuk tinggal di rumah Mimi untuk sementara waktu sampai ia menemukan tempat tinggal yang lain. Yi Gak bertanya, “Kenapa kau tak tinggal sementara waktu di sini saja?”
Park Ha tak mau. Mengingat hubungan mereka dan status Yi Gak sekarang, akan tampak sangat aneh jika ia tetap tinggal di rumah loteng.
Yi Gak kesal karena Park Ha tak bisa dibujuk, “Baiklah. Kenapa tak sekalian pergi ke tempat yang jauh saja agar aku tak dapat melihatmu lagi.”
“Kata-katamu benar. Kenapa kau tak membiarkanku pergi ke Amerika dulu? Kenapa kau menahanku dan malah membuat semuanya menjadi susah untukku?” tanya Park Ha.
“Ya! Aku juga menyesalinya. Kalau saja aku membiarkanmu pergi ke Amerika, kepalaku tak akan sakit memikirkanmu,” jawab Yi Gak.
Jawaban Yi Gak mengejutkan Park Ha, “Jadi kepalamu sakit karena memikirkanku?”
“Kepalaku memang sakit karena memikirkanmu!”
“Kalau begitu, baiklah. Aku akan pergi. Jadi pikiranmu biar jernih kembali.”
Yi Gak semakin kesal, “Kalau begitu, kenapa kau tak kembali saja ke Amerika? Jadi aku tak akan melihatmu lagi dan tak akan merasakan sakit dalam hatiku.”
Park Ha terpana tak percaya mendengar kata-kata Yi Gak. “Kau tak dapat menghilangkan kebiasaan melakukan semuanya sesuka hatimu, ya?” dan ia pun meninggalkan Yi Gak.
Yi Gak berteriak frustasi, “Sekarang siapa yang melakukan semuanya sesuka hatinya?”
Lain di mulut, lain pula di perbuatan. Keesokan harinya, Yi Gak mencari apartemen dan pegawai real estate mengatakan kalau hanya sedikit apartemen yang memiliki fasilitas seperti ini. Ruangan luas, pemandangannya indah dan akses transportasi sangatlah mudah.
Aww… sepertinya ada yang ingin menyewakan rumah untuk Park Ha. Dan manis banget Yi Gak mencari apartemen yang seperti keinginan Park Ha.
Setelah menyetujui untuk menyewa apartemen itu, Yi Gak menelepon Park Ha dan menyuruhnya untuk menemuinya malam nanti karena ada yang ingin ia bicarakan.
Park Ha sedang sibuk dan meminta Yi Gak untuk mengatakannya sekarang. Yi Gak tak mau karena ini berhubungan dengan apa yang mereka bicarakan kemarin malam. Ia telah menemukan jalan terbaik untuk masalah Park Ha yang ingin keluar dari rumah loteng.
Namun kata-kata Yi Gak terpotong karena Park Ha telah dipanggil. Park Ha buru-buru pamit pada Yi Gak yang tak sempat menceritakan rencananya lebih detail lagi. Tapi Yi Gak mendesak agar Park Ha mau menemuinya nanti malam, karena masalah ini sangat penting. Park Ha akhirnya menyetujuinya.
Ternyata Park Ha sedang melamar untuk menjadi pemandu wisata. Persyaratan yang diberikan adalah harus mahir bahasa Inggris dan tinggal tak jauh dari tempat wisata. Park Ha mulanya agar ragu dengan syarat tempat tinggal itu. Tapi ia mengiyakan syarat itu dan bersedia bekerja sesegera mungkin.
Tae Moo menemui Se Na dan memberikan tiket pesawat untuk Park Ha. Bagaimanapun caranya, Se Na harus bisa membujuk Park Ha untuk pergi ke Amerika. Kalau perlu berikan uang dan juga sedikit ancaman. Tapi yang penting Park Ha harus segera pergi karena CEO Jang akan datang sebentar lagi untuk Rapat Umum Pemegang Saham. Jika Park Ha pergi, CEO Jang pasti tak dapat menemukan Park Ha.
Se Na masih ragu, tapi Tae Moo meminta Se Na untuk mempercayainya. Ia meminta Se Na untuk mengurus Park Ha dan ia akan mengurus Tae Yong.
Di kantor, ketiga Joseoners mengawasi jalannya penjualan produk mereka yang bersaing ketat dengan penjualan pruduk Tae Moo. Betapa gembiranya mereka melihat grafik penjualan produk mereka mengungguli penjualan produk Tae Moo. 
Saking gembiranya, Young Sul menggunakan tenaganya saat high five dengan Chi San sehingga Chi San terdorong ke belakang. 
Tae Moo memandang ketiga anak buah sepupunya yang bersorak sorai ceria dengan wajah keruh. Soo Bong heran kenapa mereka bisa mendapatkan sebuah produk untuk dijual padahal gerak mereka telah dijegal kiri dan kanan. Dan ternyata mereka kembali pada produk awal mereka yaitu masker kecantikan. 
Se Na gembira karena usaha Yi Gak kali ini berhasil dan mengucapkan selamat pada Yi Gak. Ia juga mengajak Yi Gak untuk memilih cincin pertunangan mereka. Ia telah memilih cincin pertunangan bersama nenek dan Yi Gak hanya perlu datang untuk mengukur jari. Tapi betapa kecewanya Se Na saat Yi Gak mengatakan kalau ia menyerahkan semuanya pada Se Na karena semua yang dipersiapkan oleh Se Na pasti akan cocok untuknya.
Hmmm… kalau untuk mengukur jari untuk cincin pertunangan sudah malas, bagaimana dengan kehidupan pernikahannya?
Se Na sangat kesal saat disuruh pergi sendiri. Bagaimanapun juga ini adalah cincin pertunangan mereka berdua. Ia kembali lagi ke ruangan Yi Gak dan melihat Yi Gak memberikan sebuah dokumen pada Chi San dengan perintah agar dokumen itu harus diberikan langsung pada Park Ha. Hari ini Yi Gak sangat sibuk sehingga tak dapat menemui Park Ha.
Mendengar nama Park Ha membuat Se Na curiga. Ia mengikuti Chi San dan mengajaknya untuk minum kopi. Chi San ragu, tapi akhirnya ia mau dan mereka duduk bersama. Se Na bertanya kondisi kesehatan Chi San dan  mengajak Chi San dan teman-teman untuk barbecue lagi. Chi San menyanggupinya.
Kopi pesanan mereka telah datang, dan Chi San pergi untuk mengambilnya meninggalkan amplop titipan Yi Gak di meja.
Se Na tak menyia-nyiakan kesempatan ini dan membuka amplop itu. Ternyata isinya adalah kontrak sewa aparatemen dan sebuah pesan dari Yi Gak untuk Park Ha, “Temui aku di sini.”
Chi San menemui Park Ha dan memberikan amplop titipan Yi Gak. Betapa terkejutnya Park Ha mendapati sebuah tiket satu arah ke New York untuknya. Park Ha teringat kata-kata Yi Gak kemarin malam yang mengatakan kalau kepalanya sekarang sakit karena memikirkan Park Ha dan lebih baik kalau Park Ha kembali ke Amerika.
Tiket itu dan ucapan Yi Gak kemarin yang cocok, seharusnya tak mengagetkan Park Ha. Tapi air matanya tetap keluar tak bisa ditahan.
Ihh.. Se Na benar-benar membuat orang speechless karena kelicikannya.
Sementara itu Yi Gak menunggu kedatangan Park Ha dan mempraktekkan ucapannya untuk Park Ha, “Mulai sekarang ini adalah rumahmu. Apakah kau menyukainya?” dengan berbagai gaya. 
Gaya Pangerannya yang sok (nggak boleh, Park Ha pasti langsung menolak), gaya Yi Gak yang manis (nggak mau, ingat harga diri sebagai pangeran, dong), gaya Yi Gak yang jaim (jangan, nanti Park Ha juga ikutan jaim dan menolak), gaya Yi Gak yang membujuk (bukan gaya Yi gak, deh) dan beberapa gaya yang lain. Tapi Yi Gak tetap belum puas juga.
Tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Yi Gak mulai merasa cemas saat ia mencoba menelepon Park Ha tapi telepon Park Ha dimatikan.
Dan malam yang seharusnya membahagiakan berakhir muram bagi mereka berdua.
Tae Moo terbang ke Chicago dan langsung ke rumah sakit dimana Tae Young dikabarkan dirawat di sana. Betapa terkejutnya saat ia melihat Tae Young terbaring di tempat tidur. Ia segera mengenali sepupunya walaupun Tae Young menatap kosong padanya, tak mengenalinya.
Man Bo yang hendak keluar rumah tak sengaja bertabrakan dengan Mimi yang membawa sebuah bungkusan. Betapa kagetnya ketika ia membaca alamat di bungkusan itu yang ditujukan pada Park Ha. Apakah Mimi tahu kemana Park Ha pergi selama ini?
Mimi panik dan meminta Man Bo untuk tak mengatakan pada siapapun kalau ia mengetahui keberadaan Park Ha yang telah menghilang.
Kepergian Park Ha yang tiba-tiba dan tanpa kabar membuat Yi Gak menjadi pria pemarah. Saat Chi San bertanya pada Yi Gak apakah mereka harus mencari Park Ha karena Park Ha telah pergi berhari-hari yang lalu, Yi Gak menolaknya. Dengan nada ketus Yi Gak mengatakan kalau mereka tak perlu mencari orang yang pergi atas kemauannya sendiri.
Ia juga melarang semuanya untuk menyebut nama Park Ha lagi didepannya.
Sialnya, Young Sul datang dan membawa sebungkus permen peppermint dan menawarkan Park Ha (permen peppermint) pada junjungannya. Sontak Yi Gak meledak marah pada Young Sul, “Sudah kubilang jangan katakan nama itu lagi didepanku! Akan kujahit mulutmu kalau kau mengatakan hal itu lagi.”
Young Sul terbelalak ketakutan karena mendapat amukan junjungannya, tapi ia tetap tak tahu apa kesalahannya.
LOL, kasihan pendekar yang satu ini.
Taek Soo datang dan mengatakan kalau mereka harus mencari produk wisata domestic yang cocok untuk dijual di musim semi ini. Chi San mengusulkan beberapa daerah seperti Jeju, Namhae, Gangneung, Jinan..
Mendengar kata Jinan, Man Bo teringat pada bungkusan Mimi yang ditujukan untuk Park Ha di Jinan. Ia langsung mengusulkan untuk pergi ke Jinan dengan alasan kalau bunga sakura di Jinan bersemi paling akhir, jadi masih ada waktu untuk mereka menjual produk wisata ini.
Taek Soo meminta Yi Gak untuk memeriksanya sendiri, membuat Man Bo tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
Aww.. ada yang mau jadi makcomblang nih..
Yi Gak tiba di Jinan dan bertemu dengan pria yang sama denga yang pernah mewawancarai Park Ha saat melamar kerja. Pria itu meminta Yi Gak untuk menunggu sebentar. Pemandu wisata yang akan menemani Yi Gak sebentar lagi akan datang.
Sekelompok wisatawan kembali dari wisatanya. Dan Yi Gak yang sedang menikmati keindahan seminya bunga sakura langsung mengalihkan perhatiannya karena mendengar suara yang selalu akrab di telinganya. 
Suara yang kadang bahagia dan kadang marah. Suara yang tak pernah ia dengarkan lagi   beberapa hari terakhir ini. Suara itu sekarang sedang meminta para wisatawan untuk menikmati waktu-waktu musim semi di Jinan. 
Yi Gak tak percaya tapi juga senang karena dapat melihat Park Ha lagi. Bahkan Park Ha akan menjadi pemandu wisata yang akan menemaninya.
Park Ha diberitahu oleh atasannya kalau turis ini adalah turis spesial. Menurut atasannya, Park Ha harus membuat pria itu senang berwisata di Jinan.Karena jika pria itu tak senang maka mereka tak mendapatkan kontrak kerja dari konsumen ini, dan ia beserta Park Ha akan dipecat. Park Ha berjanji akan melakukan tugas ini sebaik-baiknya.
Park Ha buru-buru menemui tamu penting kantornya dan memperkenalkan diri. Betapa terkejutnya Park Ha saat tamu itu berbalik dan berkata, “Apakah kau yang akan mengantarkanku berkeliling? Aku adalah perwakilan dari Home & Shopping, Yong Tae Young.”
Park Ha terbelalak, tak menyangka akan melihat Yi Gak lagi yang tak nampak kaget melihatnya, malah bersikap acuh dan sok. Namun jika Yi Gak dapat bersikap acuh, iapun juga dapat bersikap sama. Berpura-pura baru mengenalnya untuk pertama kalida, dengan sopan Park Ha memberi salam balik pada Yi Gak.
Tapi tentu saja ia tak bisa bersikap sok pada Yi Gak karena Yi Gak adalah tamu penting perusahannya dan Yi Gak meneruskan sikap soknya dengan mengisyaratkan agar Park Ha membukakan pintu untuknya.
LOL. Park Ha hanya dapat menahan kekesalan dan membukakan pintu untuk Yi Gak. Ia hanya dapat meluapkan kekesalan dengan membanting pintu keras-keras saat menutupnya.
Penderitaannya belum berakhir. Saat ia menjelaskan panjang lebar tentang sepasang gunung yang dilegendakan sebagai suami istri, Yi Gak seolah tak peduli pada penjelasan Park Ha. Saat Park ha menceritakan tentang kisah air sungai yang simpang siur dan menjadi cerita rakyat, Yi Gak malah bertanya bagaimana kisah aslinya. Tentu saja Park Ha tak tahu (dan Yi Gak hanya menggeleng-geleng tak puas).

Akhirnya Park Ha tak dapat menahan kesabarannya lagi saat ia bercerita  tentang hutan pohon yang ditanam oleh Raja Yi Seong Gye, Yi Gak malah bertanya berapa umur pohon itu? Park Ha menjawab pedas, “Aku kan belum lahir saat pohon itu ditanam. Jadi bagaimana aku tahu umur pohon itu?”

Mendengar kata-kata Park Ha, Yi Gak pura-pura bergumam tak puas dan menelepon seseorang.

Langsung saat itu juga ada telepon untuk Park dari atasannya yang memarahinya. Park Ha hanya dapat mengangguk-angguk patuh mendengar atasannya menyuruhnya untuk menundukkan kepalanya jika perlu karena mereka harus mendapat kontrak kerja dengan perusahaan Yi Gak.

Yi Gak melirik khawatir melihat Park Ha dimarahi. Tapi itu hanya sesaat karena senyumnya mengembang setelah ia menguping pembicaraan Park Ha yang berjanji akan memperlakukan tamunya dengan baik.

Heheh.. Yi Gak benar-benar kayak anak TK yang lagi naksir sama teman ceweknya dan malu memperlihatkan rasa sukanya. Gantinya ia menyiksa teman itu untuk mendapatkan  perhatiannya.

Siksaan Yi Gak belum berakhir, karena Yi Gak bertanya hal-hal yang tak masuk akal seperti saat ia melihat tumpukan batu-batu yang semakin ke atas semakin mengecil. Mengapa susunan batu itu tak dibalik, batu yang paling kecil yang ada di bawah?
Park Ha harus menjelaskan kepada anak TK yang menjadi tamunya kalau mereka tak bisa menyusun batu dengan dasar batu adalah batu paling kecil.

“Berapa jumlah total batu yang dipakai untuk membuat menara batu itu?” Tanya Yi Gak polos.

“Bagaimana aku tahu jumlah batu itu? Apa ada orang yang kurang kerjaan mau menghitungnya?” teriak Park Ha meradang.


Yi Gak memasang muka tak puas membuat Park Ha harus menelan kekesalannya lagi. Park Ha ingin menyudahi perjalanan wisatanya dan berjalan turun. Tapi Yi Gak belum berniat menyudahinya. Ia memanggil Park Ha dan dengan telunjuknya ia mengisyaratkan agar Park Ha naik ke atas lagi menemuinya.
Ia menyuruh Park Ha untuk mengambil foto dirinya yang sedang berdiri di bawah. Park Ha terbelalak. Bukankah itu berarti ia harus naik berpuluh-puluh anak tangga hanya untuk mengambil foto Yi Gak dan turun berpuluh-puluh anak tangga lagi demi Yi Gak?!

Park Ha geram, tangannya terkepal menahan kemarahan. Tapi sesaat kemudian seolah mendapat ide brilian, ia tersenyum manis pada Yi Gak dan mengatakan kalau ia akan segera melakukannya.
Ia berlari dan naik ke atas namun kakinya hanya melangkah beberapa anak tangga saja, karena kemudian ia berhenti dan berteriak.


Yi Gak berbalik khawatir dan melihat Park Ha terjatuh dan memegangi kakinya. Park Ha mengeluh kesakitan karena kakinya keseleo.


Walau cemas karena kondisi Park Ha, ia tak dapat menyembunyikan kecurigaannya karena Park Ha dengan sigap menelepon kantornya dan mengatakan kalau sepertinya ia tak dapat meneruskan tugasnya menemani Yi Gak berwisata karena kakinya keseleo.

Namun yang terjadi selanjutnya adalah Park Ha harus menemani para atasannya dan Yi Gak makan malam bersama. Apalagi atasannya menyuruh Park Ha sebagai karyawan yang paling muda untuk menuangkan minum di gelas Yi Gak.
LOL. Pasti sekarang Park Ha menyesali, kenapa tangannya juga tak keseleo saja ya..


Ia ragu-ragu untuk menuangkan minum di gelas Yi Gak, membuat Yi Gak berpura-pura kesal dan meninggalkan meja dengan alasan ia masih memiliki pekerjaan lain setelah ini. Atasan Park Ha buru-buru menahan Yi Gak, memintanya untuk duduk kembali dan meminta Park Ha untuk segera menuangkan minum untuk Yi Gak.

Dengan berat hati, Park Ha menuangkan minum membuat yang lain merasa gembira. Begitu pula dengan Yi Gak yang lengkap dengan senyum soknya.

Menuangkan minum ke gelas Yi Gak juga berarti Park Ha yang bersikap mengalah pada Yi Gak. Tak dapat meluapkan kekesalannya yang sudah memuncak, ia menuangkan alcohol untuk dirinya sendiri dan minum banyak.

Hasilnya saat karaoke bersama, Park Ha yang sudah setengah mabuk bernyanyi tak karuan tapi sesuai dengan suasana hatinya menyanyikan lagu ‘dengan tali yang kencang, ikat ia dengan tali, agar cintanya tak akan pergi’.

Ganti Yi Gak yang mengalami penderitaan karena saat Park Ha menyanyi, ia diikat dengan sambungan-sambungan dasi milik atasan Park Ha dan ia tak dapat melarikan diri karena Park Ha berputar-putar mengelilingi dirinya sehingga tubuhnya terikat kencang. Atasan Park Ha bukannya menolongnya malah semakin menyorakinya.
LOL. Begini ya kalau semuanya mabuk kecuali Yi Gak..


Sesi karaoke berakhir dan semuanya pulang. Yi Gak yang tinggal berdua dengan Park Ha hanya menggumamkan lagu di karaoke tadi, “Dengan tali yang erat..” dan dari nadanya, Yi Gak terdengar tak marah pada kelakukan Park Ha tadi malah terdengar geli.

Yi Gak beranjak masuk ke hotel, tapi Park Ha yang masih mabuk memanggilnya, “Oy! Yang Mulia.. Apa kau merasa senang? Apa kau sudah puas berbuat sesuka hatimu?”

Yi Gak terbelalak melihat Park Ha yang berani menghardiknya. Tapi ia membiarkannya kali ini dan melangkah untuk masuk hotel. Tapi Park Ha meraih tangannya, menahan Yi Gak untuk tak pergi.


Park Ha yang masih mabuk, menggerakkan telunjukknya meniru tindakan Yi Gak tadi siang saat menyuruhnya naik keatas. Kali ini ia menyuruh Yi Gak untuk mengikutinya karena ada sesuatu yang akan ia tunjukkan pada Yi Gak. Yi Gak menuruti saja keinginan Park Ha.


Park Ha membawanya ke rumah tempat ia tinggal. Di depan rumah, ia bertemu dengan nenek pemilik rumah dan cucunya, Su Jun. Yi Gak menyapa nenek dan pada Se Jun ia menyapa dan memujinya lucu.
Tapi Se Jun malah membuang muka. Dan saat ia melirik Yi Gak, lirikan tajam tak suka yang diterima Yi Gak.


Di dalam kamar, Park Ha memberikan amplop coklat pada Yi Gak yang setelah Yi Gak buka adalah tiket pesawat. Yi Gak tak tahu apa maksud Park Ha memberikan tiket pesawat padanya dan menganggap ocehan Park Ha ngawur karena ia sedang mabuk. Tentu saja Park Ha kesal mendengarnya, “Bukankah tiket itu yang kau berikan padaku malam itu? Akui saja hal itu. Kau sendiri yang menyuruhku untuk pergi ke Amerika. Mengapa kau pura-pura tak tahu?”

“Kapan aku pernah memberimu tiket pesawat? Kau menuduh orang yang tak bersalah!” teriak Yi Gak membela diri.


Di luar Se Jun mengawasi pertikaian Park Ha dan tamunya dengan marah. Diam-diam, Se Jun memasukkan kotoran anjing dengan sekop. Baru setelah itu ia tersenyum manis.


Park Ha dan Yi Gak duduk berhadapan, bingung akan keberadaan tiket pesawat yang menurut Yi Gak tak pernah berikan pada Park Ha. Park Ha dberkata kalau ia menerima amplop itu langsung dari Chi San. Yi Gak tersadar, mungkin di tengah perjalanan amplop itu darinya ke Park Ha, amplop itu pasti tertukar. Untuk apa ia mengirim Park Ha ke Amerika?
Dan Yi Gak pun menyadari sesuatu, “Apakah karena ini kau menghilang tiba-tiba? Kau tak mempercayaiku dan melarikan diri karenanya?”


Park Ha berbalik, menutup matanya untuk menghindari tatapan Yi Gak, “Apa kau pikir setelah aku menerima tiket ini aku dapat berpikir jernih?”
“Kau benar-benar bodoh kalau berpikiran seperti itu,” kata Yi Gak memarahi Park Ha.

“Siapa yang lebih bodoh?” suara Park Ha berkata pelan. Dan setelah itu ia jatuh tertidur.


Yi Gak buru-buru menangkap Park Ha agar tak terjatuh ke lantai. Ia menatap Park Ha dengan sayang dan membiarkannya tidur dalam pangkuannya.

Setelah Park Ha tertidur pulas, Yi Gak keluar kamar dan membawa tiket itu bersamanya. Saat memakai sepatu, ia terkejut menyadari ada sesuatu di sepatu kanannya. Dan kemudian ia menyadari kalau ada penonton yang menyaksikannya dan menghardiknya, “Anak kecil, apa yang kau masukkan kedalam sepatuku?”

Se Jun tak takut pada Yi Gak yang marah, malah menghardik balik, “Jangan ganggu Park Ha  Noona-ku!”

Nenek Se Jun keluar mendengar ribut-ribut dan menyadari apa yang terjadi, “Se Jun, apakah kau menaruh kotoran anjing di sepatu orang lagi?”

Bwahaha.. saya nggak tahu mau ketawa untuk yang mana? Untuk ekspresi Yi Gak yang shock kalau yang ia injak dalam sepatu adalah kotoran anjing atau kata-kata nenek yang menandakan kalau ini bukan pertama kalinya Se Jun melakukan ini untuk Park Ha noona. LOL.


Se Jung lari ke balik dinding untuk mencari tameng, tapi ia sempat berteriak pada Yi Gak, “Jika ada orang yang ingin menyiksa Park Ha noona, aku akan melindunginya.”
“Kenapa kau harus melakukannya?” Tanya Yi Gak kesal.

“Karena aku menyukainya!”


Yi Gak terpana mendengar kata-kata Se Jun yang polos namun mengena. Ia bergumam pelan, “Aku tak percaya kalau aku diajari oleh seorang anak kecil.”

Nenek menyuruh Se Jun untuk meminta maaf pada Yi Gak dan mengancamnya kalau Se Jun tak mau, Se Jun dilarang ikut acara sekolah besok. Se Jun tetap tak mau minta maaf. Toh ia juga tak mau datang ke sekolah karena acara itu harus bersama orang tua, sedangkan ia tak memiliki orang tua.

Yi Gak membangunkan Chi San pagi-pagi sekali untuk bertanya mengapa isi amplop yang diberikan pada Park Ha berubah? Chi San tak tahu karena ia tak pernah membukanya dan hanya memberikannya langsung pada Park Ha. Tapi Chi San mengatakan kalau sebelum bertemu dengan Park Ha ia juga bertemu dengan Se Na.

Maka Yi Gak menemui Se Na dan meminta Se Na untuk mengingat-ingat pertemuan terakhirnya dengan Chi San. Yi Gak menunjukkan amplop Chi San dan Se Na langsung menyadari kalau perbuatannya terbongkar.

Dengan cepat ia langsung berkata, “Ah! Jadi itu yang terjadi. Amplopnya tertukar!”
Yi Gak kaget mendengar kata-kata Se Na dan Se Na menjelaskan, “Aku juga bertanya-tanya mengapa amplop yang kubawa berbeda isinya. Dalam amplop yang di bawa Chi San ada tiket pesawat di dalamnya bukan?”

Whoaa.. benar-benar pembohong kelas kakap, nih..


Yi Gak bertanya lagi apakah amplop Se Na berisi kontrak sewa apartemen? Dengan mata berbinar polos Se Na mengangguk mengiyakan. Yi Gak tersenyum lega mendengar penjelasan Se Na.

Di Jinan, Park Ha sedang menerima telepon dari ibunya. Park Ha meminta ibunya untuk tak mengungkit-ungkit tentang pertunangan kakaknya lagi. Yi Gak yang baru saja membeli es potong, mendengarnya dan bertanya apakah Park Ha memiliki kakak yang juga akan bertunangan?
Park Ha hanya tersenyum tapi tak menjawab. Ia malah mengajak Yi Gak untuk meneruskan wisatanya.


Dan wisata kali ini membuat Yi Gak gentar, “Kau menyuruhku untuk  naik kotak logam yang digantung hanya dengan seutas tali? Aku tak bisa menaikinya! Aku tak mau!”

Park Ha tersenyum dan membujuk Yi Gak untuk menunggu dan ia akan membelikan makanan yang manis-manis yang akan disukai Yi Gak. Yi Gak pun menurut.

Bwahaha.. Nggak nyangka Pangeran ini gampangan banget. Takluk sama yang manis-manis. Eh.. yang manis makanannya atau Park Ha-nya, ya?

Menunggu sembari minum yoghurt, Yi Gak bertanya mengapa Park Ha tak pernah menceritakan kalau ia sebenarnya memiliki kakak perempuan? Dengan lesu Park Ha menjawab kalau memiliki kakak perempuan bukan berarti mereka harus dekat satu sama lain.
Yi Gak ingin bertanya lagi tapi Park Ha mengalihkan perhatian dan mengajaknya naik kereta karena sekarang sudah waktu mereka untuk naik.


Yi Gak langsung melupakan segalanya saat harus menaiki kotak logam yang tergantung oleh seutas tali. Di dalam kereta gantung, Yi Gak tetap menutup mata dan memegang erat lengan baju Park Ha. Park Ha tertawa melihat kali ini Yi Gak yang sok tak bisa sok lagi.

Ia menjauh dari Yi Gak, tapi Yi Gak tetap mencengkeram lengan baju Park Ha dan tak memperbolehkan Park Ha jauh darinya. Park Ha tertawa senang melihat ketakutan Yi Gak dan menggodanya, “Aih aih.. ada yang lagi takut, nih..”

Kalau Yi Gak bisa mendelik, Yi Gak pasti mendelik kesal pada Park Ha. Park Ha menyuruh Yi Gak untuk menikmati pemandangan, tapi Yi Gak tak mau. Akhirnya ia meraih tangan Yi Gak yang mencengkeram bajunya dan meletakkan di pegangan jendela kereta gantung dan perlahan-lahan berkata, “Cobalah lihat ke luar, atau kau nanti akan menyesal karena tak melihatnya. Percayalah padaku.”

Yi Gak perlahan-lahan membuka matanya dan bukannya rasa takut yang ia rasa tapi terkesima. Terkesima melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Park Ha bertanya kepergian Yi Gak malam tadi yang tiba-tiba. Yi Gak menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi dan bagaimana amplop itu tertukar dengan milik Se Na. Mendengar kata Se Na, Park Ha langsung memahami kejadian yang sebenarnya.

 Yi Gak menyadari perubahan wajah Park Ha setelah ia menceritakan semuanya. Ia bertanya pada Park Ha apakah ada yang aneh? Park Ha memilih untuk tak menceritakan apa yang ia ketahui pada Yi Gak. Ia hanya bertanya, “Putri Mahkota dan Hong Se Na. Apakah mereka orang yang sama?”
“Tentu saja, bagaimana mungkin aku tak dapat mengenali wajah putri mahkota?” Tanya Yi Gak.

“Bukan, bukan dari wajah,” kata Park Ha. “Tapi yang ada dalam dirinya. Maksudku kepribadian aslinya.”


Yi Gak terkejut mendengar pertanyaan Park Ha. Ia tak dapat menjawabnya.


Yi Gak dan Park Ha datang ke acara sekolah Se Jun. Se Jun ikut lomba lari dan Park Ha berteriak-teriak menyemangatinya. Ia menyikut Yi Gak yang hanya diam menonton pertandingan itu.

Saat Se Jun kalah, Park Ha menyalahkan Yi Gak yang tak berteriak menyemangati Se Jun. Lagi pula sepertinya Se Jun tak menyukai Yi Gak, tapi kenapa Yi Gak mau repot-repot menemani Se Jun ikut perlombaan sekolah?
“Karena aku ingin membalas budi padanya,” kata Yi Gak sambil lalu, tapi tak menjelaskan lebih lanjut.


Perlombaan berikutnya adalah perlombaan antar orang tua yang lari dengan satu kaki ayah diikat dengan kaki ibu. Yi Gak dan Park Ha bersiap-siap dan bertekad untuk menang.

Satu-dua-tiga-Go! Yi Gak dan Park Ha lari sekencang-kencangnya dan kadang menarik baju orang tua lainnya agar minggir, dan saat menyalib peserta lain, mereka tertawa kegirangan. Dan.. menang!

Yi Gak dan Park Ha tertawa gembira karena kemenangan ini. Mereka mendapat stempel pemenang yang langsung dibagikan pada Se Jun dengan menempelkan stempel itu ke punggung tangan Se Jun.


Dan itu langsung mengingatkan Yi Gak pada suatu hal. Dan ia pun menelepon Se Na untuk bertemu kembali.

Dengan wajah ceria, Se Na menemui Yi Gak yang langsung menyodorkan amplop coklat padanya. Se Na langsung mengenali amplop itu. Apakah amplop itu yang tertukar dengan miliknya?

“Jujurlah padaku. Apa yang sebenarnya terjadi dengan amplop ini?” tanya Yi Gak tanpa basa-basi.


Se Na mengatakan ia tak tahu. Tapi Yi Gak memintanya untuk berkata jujur. Se Na tetap bersikeras kalau ia tak tahu maksud Yi Gak.


Yi Gak menutup mata sejenak dan kemudian membuka mata sebelum menceritakan pengalamannya kemarin di sekolah Se Jun.


“Orang yang menjadi juara akan mendapat stempel sebagai tanda ia juara. Anak yang kutemani ikut lomba lari tapi tak memenangkannya. Maka ia menempelkan tangannya ke punggung tangan yang juara agar ia mendapatkan stempel itu. Apakah kau mempunya lipstick?” pinta Yi Gak yang segera diberikan Se Na.

Yi Gak mencoretkan lipstick itu ke punggung tangannya dan menempelkannya ke punggung tangan lainnya sehingga kedua punggung tangannya sama-sama tercoret lipstick.
Se Na masih belum mengerti apa maksud Yi Gak, tapi Yi Gak tetap meneruskannya.

“Kau dulu bilang kalau amplopmu yang berisi tiket tertukar dengan amplop yang dibawa oleh Chi San, kan?”

“Ya.”

“Jadi, jika menuruti kata-katamu, amplop ini adalah milikmu bukan?”

“Ya. Karena itulah maka punyaku tertukar.”


Yi Gak mengeluarkan pisau kertas dan ia menyobek amplop itu sambil berkata, “Dalam amplop yang dibawa Chi San, ada kontrak sewa apartemen yang baru saja ditandatangani dan distempel yang belum sempat kering saat masuk amplop.”

Ia membuka amplop yang sekarang sudah tersobek dan menunjukkan bagian dalam amplop itu pada Se Na yang di dalamnya ada tiga cap stempel, “Apakah kau melihat stempel bertuliskan Yong Tae Young? Sejak awal memang hanya ada satu amplop. Dan kau mengganti isi di dalamnya.”


Mata Se Na berkaca-kaca, mendengar kata-kata Yi Gak padanya,

“Kau bukan orang seperti ini. Kenapa kau membohongiku?” 
source : http://www.kutudrama.com/2012/05/sinopsis-rooftop-prince-episode-13.html
re-posted and re-edited by : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment