Thursday, March 28, 2013

Sinopsis Rooftop Prince Episode 18



Se Na kaget melihat kedatangan Tae Young. Apakah Tae Young mendengar ucapannya? Dari mimik Tae Young yang marah, Se Na menebak kalau Tae Young mendengarnya.
Yi Gak menghampiri Se Na yang ketakutan melihatnya. Tapi belum jauh ia melangkah, ia mendengar suara pintu terbuka.
Tae Moo datang, kaget melihat kedatangan sepupunya. Ia mencoba menyapanya dengan bersahabat, “Tae Young ah..”


Tapi Yi Gak yang murka, sudah mendorongnya keluar apartemen dan memukul Tae Moo hingga terjatuh, “Dasar bajingan! Kau yang menyebabkan nenek meninggal, kan? Katakan yang sebenarnya.” Ia menarik Tae Moo berdiri dan memukulnya lagi.
“Kau sudah gila, ya?” Tae Moo mencoba mengelak dan pura-pura tak tahu. “Kau ini ngomong apa sih?”
Tapi Yi Gak, yang kalap dan tak sadar kalau ia menggunakan aksen aslinya (aksen sageuk), menggeram marah, “Kau adalah pembohong juga pembunuh! Kau adalah kedua-duanya. Aku sudah tahu dari dulu.”
Tae Moo mulai marah dan menyerang Yi Gak, “Jangan omong kosong!”
Tapi Yi Gak lebih cepat dan memukul Tae Moo lagi hingga mulut Tae Moo berdarah. “Aku akan memastikan kalau kau membayar kejahatanmu.” 
Dan Yi Gak meninggalkan Tae Moo yang terduduk di lantai.
Esoknya, Yi Gak mengunjungi Tae Young yang masih terbaring diam. Kedatangannya kali ini untuk meminta maaf pada Tae Young, karena walau ia telah menggantikan posisi Tae Young, tapi ia tak dapat melindungi nenek hingga nenek meninggal. Tapi ia berjanji akan menangkap pembunuhnya.
Yi Gak duduk di bukit, mengingat semua kenangannya bersama nenek. Semenjak ia bertemu dan nenek memintanya untuk menjadi Tae Young, cucunya, hingga saat-saat terakhir ketika mereka berfoto bersama sehingga nenek merasa sangat bahagia.
Di akhir hidupnya Nenek sangat bahagia karena mengira telah bertemu dengan cucunya, juga Yi Gak memperlakukan nenek dengan rasa hormat sekaligus sayang. Tapi saya rasa Yi Gak masih menyimpan rasa bersalah karena belum sempat mempertemukan nenek dengan Tae Young yang asli yang masih terbaring koma. Karena bagaimanapun juga nenek belum pernah melihat cucunya yang asli.
Park Ha datang dengan mood yang hampir mirip dengan Yi Gak. Walaupun Yi Gak Ymemang menduga kalau Park Ha dan Se Na adalah saudara sedarah, tapi ia tetap merasa terkejut. Tapi setidaknya sekarang satu misteri telah terpecahkan.
Yi Gak bersimpati pada Park Ha yang baru bisa bertemu dengan ibunya sekarang. Jika saja Park Ha tahu sejak dulu, tentu hidupnya tak akan sekesepian seperti sekarang.
Park Ha terisak mendengar kata-kata Yi Gak, “Jika saja kami bertemu sejak dulu ..”
Park Ha berdiri dan memunggungi Yi Gak tak mau memperlihatkan air matanya. Tapi Yi Gak tahu kalau Park Ha membutuhkan dukungannya dan ia ingin memeluknya.
Ia bangkit dan mengulurkan tangan untuk memeluk Park Ha. Namun ia hanya memeluk angin.
Yi Gak kaget, menyadari tubuhnya perlahan-lahan menghilang.
Ia melangkah mundur, melihat tangannya yang tak terlihat lagi. Apa yang terjadi?  Hanya beberapa saat, ia kemudian melihat tangannya perlahan-lahan muncul kembali. Tapi kekagetannya masih belum hilang.
Park Ha sudah berhasil menghentikan tangisnya dan ia berbalik menatap Yi Gak dengan memaksakan senyumannya. Tapi ia merasa Yi Gak sedikit aneh, “Ada apa?” tanyanya.
Sesaat Yi Gak tak dapat berkata apapun, tapi kemudian ia berkata kalau semuanya baik-baik saja. Tapi Park Ha melihat kalau Yi Gak menyembunyikan sesuatu dan memaksanya untuk berkata yang sebenarnya.
“Aku sudah katakan kalau semuanya baik-baik saja. Jadi kenapa kau seperti ini?” Yi Gak pura-pura marah dan meninggalkan Park Ha.
Park Ha mengejarnya dan terus bertanya. Akhirnya Yi Gak mengakui sambil menatap tangannya,
“Tadi aku menghilang, dan aku sendiri tak dapat melihat tubuhku. Aku juga tak dapat memelukmu.”
Park Ha terbelalak mendengarnya, “Kau sudah melihatnya? Kau tadi melihat dirimu menghilang?”
Ganti Yi Gak yang kaget mendengar pertanyaan Park Ha, “Kau pernah melihatku menghilang sebelumnya?” Park Ha mengangguk, membuat Yi Gak marah dan berteriak, “Kenapa kau tak memberitahuku sebelumnya?”
“Bagaimana aku bisa memberitahukanmu? Bagaimana aku mengatakannya?” tanya Park Ha putus asa. Ia berbalik dan menangis.
Yi Gak ingin memeluk Park Ha, menenangkannya. Tapi ia takut. Ia takut kalau ia tak dapat menyentuh Park Ha. Perlahan-lahan ia mengulurkan tangannya mencoba menyentuh Park Ha.
Dan terasa oleh ujung jarinya, ia dapat menyentuh pundak Park Ha. Ia segera meraih Park Ha dan memeluknya erat. Park Ha menangis dalam pelukan Yi Gak.
Setelah sama-sama tenang, mereka berbicara dari hati ke hati. Yi Gak menduga kalau tubuhnya yang mulai hilang dan muncul adalah pertanda kalau dalam waktu dekat, ia akan kembali ke Joseon.
Park Ha mengangguk, jika itu memang harus terjadi, maka Yi Gak memang harus kembali.
“Kupikir alasan mengapa aku datang ke sini dari Joseon adalah untuk menemuimu,” Yi Gak menatap Park Ha. “Karena hanya itulah yang  kulakukan sejak aku datang kemari, yaitu aku jatuh cinta padamu.”
“Bukankah kau juga harus memecahkan misteri kemtatian Putri Mahkota?” Park Ha mencoba mengingatkan.
“Tapi aku ingin menghabiskan sisa waktuku di sini bersamamu,” Yi Gak menghela nafas sedih, “aku tidak punya banyak waktu.” Apalagi masih ada kasus pembunuhan nenek.  
Ketiga Joseoners menunggu kedatangan Yi Gak untuk melaporkan perkembangan terkini atas kasus nenek. Polisi mulai menanyai orang-orang yang berhubungan dengan nenek karena polisi curiga kalau ini bukanlah kecelakaan biasa.
Yi Gak yakin kalau Tae Moo berhubungan dengan kematian nenek, tapi tak ada bukti yang memberatkannya. Mereka harus segera mencari bukti tersebut sebelum polisi, karena ia ingin menghukum Tae Moo dengan tangannya sendiri.
Waktunya pembacaan surat wasiat Nenek. Di depan seluruh anggota keluarga plus Taek Soo, pengacara nenek memberitahukan kalau seluruh harta kekayaan nenek akan diwariskan pada Yong Tae Young. Tapi karena surat wasiat ini dibuat saat Tae Young menghilang, ada klausul lain. Yaitu jika Yong Tae Young tak muncul pada saat pembacaan surat wasiat (yaitu jam 12 siang keesokan harinya), maka warisan nenek akan berpindah pada Yong Tae Moo.
Ayah dan Tae Moo meninggalkan pertemuan itu dengan perasaan marah. Ayah menggerutu kalau mereka tak dapat melakukan apapun karena Tae Young sudah kembali normal. Kecuali jika memang ada kondisi khusus, maka mereka dapat mengajukan alasan keberatan akan surat wasiat itu.
Tapi Tae Moo tak menyerah begitu saja. Saat menyusuri koridor apartemennya, ia teringat kata-kata sepupunya yang menuduhnya pembunuh juga pembohong. Kata-kata itu sama dengan kata-kata Tae Young palsu. Ia buru-buru kembali ke kantor dan memutar ulang DVD saat ia menemukan Tae Young untuk pertama kali.
Dan betapa kagetnya ia melihat sesuatu yang baru ia sadari sekarang. Tae Young menyembunyikan tangan kirinya dengan gerakan orang yang bukan baru saja sadar dari koma. Berarti Tae Young yang sekarang juga adalah Tae Young palsu.
Tae Moo bergerak cepat. Ia pergi ke rumah Tae Young dan menaruh bungkusan yang berisi uang dan tiket pesawat ke dalam mobil Tae Young.
Seorang polisi menemui Se Na untuk menyelidiki kasus kematian nenek.
Yi Gak sedang berjalan-jalan dengan Park Ha. Tapi ia hanya berjalan dalam diam, karena pikirannya tak bersama Park Ha. Park Ha yang berjalan di belakangnya, mencoba menggoda Yi Gak.
Yi Gak selalu berjalan dengan tangan di belakang (khas seorang pangeran dan raja). Dengan tangannya, Park Ha menyentuh telapak tangan Yi Gak. Sekali, dua kali. Tapi tak ada respon dari Yi Gak.
Park Ha kembali menyentuh tangan Yi Gak lagi, kali ini lebih keras. Sekali, dua kali.
Dan Yi Gak menangkap tangan Park Ha untuk kemudian menggenggamnya. Dan tangan itu tak ia lepaskan lagi. Yi Gak berbalik dan tersenyum meminta maaf karena, “Walaupun kita sedang bersama, aku tak memeperhatikanmu.”
Park ha tersenyum ceria dan telunjuknya bergoyang mengisyaratkan kalau Yi Gak salah, “Seorang raja yang hanya memikirkan wanita, tidaklah menarik. Jadi lanjutkan lagi memikirkan apa yang sedang kau pikirkan.”
Yi Gak tersenyum mendengar Park Ha yang sangat pengertian. Park Ha bertanya apakah Yi Gak belum menemukan petunjuk untuk kematian nenek? Yi Gak menggeleng.
Tapi ia mungkin memiliki petunjuk, karena ia melihat iklan produk black box (semacam kamera CCTV) yang bisa dipasang di mobil.
Ia bertanya pada Park Ha apakah orang-orang mulai menggunakan black box itu? Park Ha menjelaskan kalau hampir semua mobil sekarang menggunakannya.
Yi Gak teringat kalau sebelum ia menemukan nenek meninggal, ada sebuah kecelakaan di depan rumahnya. Yang berarti mungkin ada black box yang merekam kejadian di rumah nenek.

Maka mereka mendatangi satu per satu bengkel yang ada di sekitar rumah nenek. Tapi tak ada yang menangani mobil yang kecelakaan di depan rumah pada hari meninggalnya nenek. Kecuali satu bengkel.
Montir bengkel itu mengatakan kalau ia memang menangani mobil yang kecelakaan pada hari itu. Park Ha dan Yi Gak kemudian menemui pemilik mobil itu dan bertanya apakah mobilnya dipasangi black box?

Betapa leganya hati mereka mendengar kalau ada black box yang terpasang, hanya saja mobil itu adalah milik saudara yang tinggal di Gwangju. Mereka tak menyerah dan meminta alamat yang ada di Gwangju.
Informasi itu membuat Yi Gak dan Park Ha puas. Yi Gak merasa dengan informasi yang mereka dapatkan, semuanya akan berlangsung dengan baik.

Dan aww… cute banget minum satu pak yakult untuk berdua. Dan siapa yang akan minum yakult yang ada di tengah-tengah? *ignore.. ignore*
Tiba-tiba muncul polisi (yang sama dengan polisi yang menanyai Se Na) dan bertanya apakah Yi Gak adalah Yong Tae Young?
Setelah Yi Gak mengiyakan, polisi itu langsung menunjukkan tanda pengenal. Ia  mengatakan kalau Yi Gak akan ditahan karena berpura-pura menjadi Yong Tae Young dan diduga melakukan pembunuhan pada nenek.
Whaaaa..tt*? 
Tanpa ba bi bu, polisi itu menyeret Yi Gak tanpa mendengar protes dari Yi Gak dan Park Ha dan membawanya pergi ke kantor polisi.
Di kantor polisi, Yi Gak mencoba meyakinkan polisi kalau ia adalah Tae Young yang asli. Tapi polisi malah bertanya kalau dimana Yi Gak menyembunyikan Tae Young yang asli.
Yi Gak hanya dapat menjawab, “Saat kau melihat Yong Tae Young dan bertanya dimanakah Yong Tae Young, aku harus menjawab apa?”
Polisi meletakkan tas berisi tiket dan uang yang sebelumnya disembunyikan Tae Moo di mobilnya, “Kau berpura-pura menjadi Tae Young, membunuh, mencuri uang perusahaan dan berniat kabur keluar negeri. Semua bukti mengarah padamu, kenapa kau tak mengakuinya saja?”
Yi Gak kaget dan mengatakan kalau ia baru saja melihat tas itu untuk pertama kalinya. Tapi polisi tak percaya pada pengakuan Yi Gak. Maka Yi Gak memanggil saksi yang bersamanya saat itu, yaitu Tae Moo.
Sayang Tae Moo tak mengaku kalau ia bersama dengan Yi Gak, karena saat itu ia sedang bersama dengan Se Na yang dapat dibuktikan jika polisi bertanya pada Se Na. Dan polisi mempercayai kata-kata Tae Moo, tak peduli kata-kata Yi Gak yang mengatakan kalau Tae Moo telah berbohong.
Polisi meninggalkan mereka berdua, dan Tae Moo menatap Yi Gak sambil tersenyum menang, “Segalanya akan berakhir besok siang, sementara itu tunggulah kau disini. Setelah itu aku akan menghancurkanmu untuk selamanya.”
Polisi akhirnya memasukkan Yi Gak ke dalam penjara, walaupun Yi Gak berteriak meminta untuk dilepaskan. Yi Gak putus asa, menatap jam yang bergerak maju, menuju saat-saat pembacaan surat wasiat. Ia teringat kata-kata terakhir Tae Moo yang akan membiarkan ia mendekam di tahanan sampai saat surat wasiat dibacakan.
Sementara itu Tae Moo mengajak Se Na makan di restoran dan memesan banyak hidangan yang enak. Tapi Se Na tak berselera makan. Tae Moo menenangkan Se Na kalau sebentar lagi semuanya akan selesai. Besok ia akan menangani Tae Young palsu dan besok perusahaan juga akan menjadi milik mereka.
Di rumah loteng, bunga teratai sudah berkembang dan sekarang diletakkan di atas akuarium. Park Ha mengambil saputangan kupu-kupu dan menyadari kalau ada inisial di ujung saputangan yang belum pernah dilihatnya.
Saat mengunjungi Yi Gak di penjara, Park Ha menenangkan Yi Gak yang mengkhawatirkan kalau ia tak dapat bertindak apapun untuk mencegah warisan yang akan jatuh ke tangan Tae Moo.
Park Ha menunjukkan saputangan kupu-kupu dan bertanya apa arti tulisan di pojok itu? Sepertinya inisial itu dari bahasa Hangeul.
Yi Gak kaget kalau di saputangan ada inisial yang belum pernah ia lihat. Inisial itu terbaca.. Bu Young? Yi Gak teringat kalau putri mahkota mengaku kalau ia menyulam semalaman untuk membuat saputangan kupu-kupu ini. Dan ternyata saputangan itu dibuat oleh Bu Young?
Park Ha bertanya apakah Yi Gak tak pernah melihat inisial itu? Yi Gak mengetahui ada inisial itu, tapi ia tak tahu artinya. Baru sekarang ia menyadarinya kalau inisial itu berarti Bu Young.
Terkesima, walaupun tahu kalau ia tak dapat menyentuh dari balik kaca yang memisahkan mereka, Yi Gak mencoba menyentuh saputangan milik adik iparnya.
Tapi yang terjadi malah membuat mereka berdua kaget. Tangan Yi Gak menghilang! Perlahan-lahan tangan Yi Gak menghilang, dan kali ini diikuti oleh seluruh tubuhnya.
Park Ha terkejut dan panik melihat Yi Gak perlahan-lahan menipis hingga menyatu dengan udara. Bersamaan dengan itu ada polisi datang membawa tahanan, membuat Park Ha berpura-pura menelepon seseorang dan mengatakan kalau Yi Gak sudah kembali ke selnya.
Park Ha buru-buru pergi sebelum ketahuan, dan di koridor ia melihat sosok Yi Gak sudah menunggunya di koridor. Ia menggandeng Yi Gak dan melangkah pergi keluar.
Hampir saja mereka bertemu dengan polisi yang menangkapnya, kalau saja mereka tak buru-buru berbelok ke arah tangga.
Setelah sampai di luar kantor polisi dengan aman, Yi Gak pun buru-buru pergi menuju kantor Home & Shopping.
Waktu hanya tinggal beberapa menit lagi saat Yi Gak sampai di lobi kantor. Tapi ia ketinggalan lift yang sudah keburu tertutup. Akhirnya ia berlari menuju tangga darurat.
Di ruang meeting, waktu sudah menunjukkan pukul 12 tepat dan surat wasiat resmi dibacakan. Pengacara memanggil nama Tae Young sebagai pewaris utama, tapi Tae young tak menjawab karena ia belum hadir.
Tae Moo tersenyum puas sementara ayahnya bertepuk tangan saat pengacara menyatakan kalau warisan akan diberikan pada pewaris kedua yaitu Yong Tae Moo.
Surat yang tadi dibacakan berpindah tangan. Tae Moo menerima surat wasiat itu dengan menang. Ia membaca surat wasiat itu dan tak terburu-buru menstempelnya, menikmati saat-saat kemenangannya. Namun saat stempelnya hampir menempel di surat wasiat,
 “Tunggu! Maafkan saya yang datang terlambat. Saya, Yong Tae Young, telah hadir.” 
Tae Moo kaget melihat Yi Gak yang terengah-engah, menyeruak masuk ke dalam ruangan. Ia langsung berteriak menuduh Yi Gak sebagai Tae Young palsu.
Yi Gak tersenyum, “Kalau aku palsu, bagaimana mungkin aku dapat berdiri di sini?”
Tae Moo menatap Yi Gak tak percaya.
LOL. Saya rasa Tae Moo harus mulai mengenal kata menyerah. Karena apa yang dilakukannya, sepertinya tak disetujui oleh alam.
Taek Soo memeluk Yi Gak erat, tak menyangka kalau Yi Gak bisa keluar dari penjara dan bertanya bagaimana caranya? Yi Gak hanya tersenyum tapi tak menjawabnya.
Taek Soo mengusulkan Yi Gak sebagai CEO baru untuk menendang Tae Moo dari perusahaan. Tapi Yi Gak menolaknya, ia akan mengurus Tae Moo sendiri dan ia meminta agar perusahaan ditangani oleh Presiden Pyo.
Taek Soo terkejut, karena Presiden Pyo.. bukankah itu dirinya sendiri? Yi Gak tersenyum dan mengangguk, berkata kalau nenek pasti juga akan menyetujui akan keputusannya.
Urusan perusahaan telah beres, sekarang mereka menangani misteri kematian nenek. Young Sul berhasil melacak black box yang ada di Gwangju dan ia menyerahkan black box itu pada Yi Gak. Dan hasil temuan ini mengagetkan Yi Gak.
Di kantor, Tae Moo disekap oleh seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Young Sul. Tae Moo mencoba melawan, tapi sia-sia karena Young Sul langsung membungkamnya dan memasukkannya ke dalam mobil.
Tae Moo duduk seperti tahanan di Joseon, Yi Gak menyuruh Tae Moo untuk menghubungi Se Na. Tapi Tae Moo menolak sehingga Young Sul memukul kepalanya hingga Tae Moo mengaduh kesakitan.
Ha! Mau melawan penyelidikan ala Joseon yang belum mengenal HAM?
Akhirnya Se Na duduk di samping Tae Moo. Ia tak dapat menyembunyikan kekagetannya saat rekaman black box diputar. Ia melihat dirinya keluar dari rumah nenek dengan membawa laptop. Tapi ia mencoba mengelak kalau ia memang terbiasa keluar masuk rumah nenek, jadi tak ada yang aneh pada video itu. 
“Tadi sudah kukatakan kalau video ini direkam saat kejadian meninggalnya nenek, dan kau terlihat keluar dari rumah.”
Tae Moo mencoba bersikap tenang dan malah menunjukkan kemarahannya karena kematian nenek dapat meleset satu atau dua jam, jadi bukti yang dimiliki Yi Gak tak ada gunanya.
Ia menarik tangan Se Na untuk segera pergi, tapi Young Sul menahannya untuk tetap duduk.
“Aku ingin kau membayar kejahatanmu,” kata Yi Gak marah. “Mundur dari perusahaan dan kembalikan semua uang yang telah kau curi. Jika tidak, kau akan disiksa lebih banyak lagi.”
Tae Moo tak bergeming mendengar ancaman Yi Gak. Ia menarik tangan Se Na lagi dan mengajaknya pergi, tak mempedulikan teriakan Yi Gak, “Ini kesempatan terakhir yang kuberikan padamu! Kau dan aku tak memiliki waktu lebih banyak lagi!”
Se Na sangat terpukul mengetahui ada bukti yang mengarah pada dirinya dan bukti itu akan diserahkan pada polisi. Apa yang harus ia lakukan? Tae Moo geram dan bersumpah akan membunuh Yi Gak dan mengakhiri semuanya ini.
“Yang Mulia, apakah kau sudah tidur?” terdengar suara Park Ha memanggilnya dari luar kamar Yi Gak.
“Sudah malam, tidurlah sekarang,” kata Yi Gak sudah terbungkus selimut dan hampir tertidur.
Di luar, Park Ha duduk berjongkok di depan pintu kamar Yi Gak. Suaranya terdengar tenang, dan walaupun sedikit kecewa ia menjawab balik, “Oke, tidurlah.”
Beberapa saat kemudian, terdengar suara Park Ha lagi, “Hei, bodoh. Apakah kau benar-benar sudah tertidur?”
Sekarang Yi Gak benar-benar terbangun, “Ya, aku sudah tidur.”
“Bagaimana mungkin orang yang sudah tidur bisa menjawab balik?”
Yi Gak mendesah, bangkit dan membuka pintu kamarnya. Ia sedikit kaget melihat Park Ha yang jongkok meringkuk, “Apa yang mengganggu perasaanmu sehingga kau tak mau pergi dari pintu kamarku?”
Park Ha menjawab perlahan, “Aku takut kejadian di kantor polisi terulang lagi, kau tiba-tiba .. menghilang.”
Yi Gak menatap wajah Park Ha yang sedih, dan kemudian ia menarik tangan Park Ha masuk ke dalam kamarnya.
Ia menyelimuti Park Ha yang sekarang terbaring di sisinya dan ia juga ikut berbaring sambil menggenggam tangan Park Ha, “Apakah sekarang kau sudah merasa tenang?”
Park Ha mengangguk, “Jika kau tak menghilang di kantor polisi, kau tak mampu melindungi perusahaan. Kau juga akan kembali ke Joseon untuk memecahkan misteri putri mahkota, kan? Kau harus kembali, ya? Apakah itu hal yang akan terjadi?”
Yi Gak berbalik menghadap Park Ha dan dengan tangan satunya, Yi Gak menggenggam tangan Park Ha, “Daripada merasa tersiksa, menebak-nebak karena tak tahu kapan kita akan berpisah, aku memutuskan untuk menikmati saat-saat bersamamu. Aku menyukai saat-saat ini. Mari kita buat banyak kenangan indah. Kau pikirkan apa yang akan kita lakukan besok malam. Sekarang, ayo kita tidur.”
Park Ha tersenyum mendengar kata-kata Yi Gak. Ia menarik tangan Yi Gak lebih dekat ke pelukannya dan iapun tertidur. Walaupun Park Ha sudah menutup mata, Yi Gak masih menatap wajah Park Ha dan setelah itupun ia tertidur.
Keesokan paginya, Tae Moo mengajak Se Na ke sebuah bendungan dan meminta Se Na untuk mengingat semua ceruk di tempat ini. Ia juga menyuruh Se Na untuk mengajak Yi Gak datang ke bendungan ini, bagaimanapun caranya.
Ihh.. enak bener si Tae Moo. Semua-semuanya dilakukan oleh Se Na. Dari berpura-pura menjadi putri CEO Jang, mengambil laptop sehingga membuat nenek meninggal dan sekarang memanggil Yi Gak, yang melakukan adalah Se Na semua. *ignore.. ignore..*
Dan Se Na pun menemui Park Ha di rumah loteng. Ia datang untuk meminta maaf pada Park Ha. Jika ia pada posisi Park Ha, ia pun juga tak ingin menemui dirinya.
“Aku tak tahu mengapa aku melakukan hal ini. Saat aku memikirkan apa yang telah aku lakukan, aku tak dapat menegakkan kepalaku karena malu. Aku tak dapat bertemu dengan ibu,  atau ibu kandung kita, atau dirimu,” Ia menangis saat berkata, “Haruskah aku mati saja? Jika aku mati, apakah kesalahanku dapat termaafkan?”
Park Ha tak ingin mendengar Se Na berkata seperti itu. Ia mengambil tisu dan memberikan pada Se Na. Tapi Se Na tetap menangis. Park Ha berdehem dan mengatakan kalau ia akan mengambil buah terlebih dahulu.
Park Ha meninggalkan Se Na ke dapur. Se Na menatap sekeliling rumah dan di meja terdengar bunyi handphone Park Ha berbunyi. Ada SMS dari Yi Gak, “Kau sudah memutuskan kita akan pergi kemana malam ini?”
Buru-buru Se Na pergi ke kamar mandi dan mengetik balasan untuk Yi Gak. Ia, sebagai Park Ha, mengajak Yi Gak untuk pergi memancing di bendungan malam ini. Yi Gak mengirim SMS balik dan menyuruh Park Ha untuk berdandan dan memakai kaos kuning milik Chi San yang ia letakkan di meja dekat pintu.
Setelah keluar kamar mandi, Se Na memasukkan handphone Park Ha kedalam tasnya. Saat Park Ha datang membawa sepiring buah, ia buru-buru pamit pada Park Ha yang kebingungan akan sikap Se Na.
Tanpa menunggu reaksi Park Ha, Se Na keluar rumah dan masuk ke mobil. Belum sempat mobilnya berjalan jauh, Park Ha berlari mengejarnya dan memintanya untuk berhenti.
Se Na panik tapi ia memasang muka tenang saat ia menurunkan kaca jendelanya. Ternyata Park Ha merasa tak enak membiarkan Se Na pergi begitu saja. Ia ingin mengajak Se Na makan dan ia yang mentraktirnya. Se Na bingung harus berkata apa.
Saat Park Ha melihat GPS Se Na yang mengarah pada sebuah bendungan, Ia langsung menyuarakan perasaannya, “Kenapa kau ingin pergi ke bendungan? Kau tak berpikir mau melakukan hal yang bodoh, kan? Kau tak ingin membunuh dirimu, kan?”
Se Na mengatakan kalau ia hanya salah menyetel GPS-nya dan ia mematikannya. Walau begitu Park Ha tetap mengatakan kalau Se Na dapat selalu memperbaiki perbuatannya, namun jangan menganggap enteng dan menganggap kalau nyawa itu tak berharga.
Kata-kata Park Ha semakin membuat Se Na gelisah.
Tiba-tiba handphone Park Ha yang ada di dalam tasnya berbunyi, mengagetkannya juga mengagetkan Park Ha yang bertanya, “Bunyi dering handphonemu sama denganku?”
Se Na hanya mengangguk membenarkan, tapi ia tak segera mengangkatnya membuat Park Ha sedikit curiga. Se Na kemudian menyelipkan tangannya untuk mematikan handphone itu.
Telepon itu dari Yi Gak yang ada di toko peralatan memancing. Ia memilih semua perlengkapan memancing dibantu oleh ketiga pengikutnya. Man Bo bertanya mengapa Yi Gak tiba-tiba ingin memancing? Sambil tersenyum rahasia, Yi Gak berkata kalau memancing adalah sebuah pekerjaan yang dapat dilakukan di malam hari.
Man Bo dan Chi San langsung mengerti, “Aaahh.. kencan di malam hari.” Young Sul yang polos, merasa kalau ia harus tetap melindungi junjungannya. Ia menawarkan diri untuk mengawal Yi Gak dan Park Ha.
Man Bo buru-buru mencegah Young Sul, bahkan Chi San harus membekap mulutnya agar tak ikut campur. Yi Gak menelepon Park Ha tapi telepon itu tak diangkat, sehingga Chi San bertanya apakah Park Ha tak mengangkat teleponnya? Yi Gak mengatakan kalau mereka berjanji untuk bertemu langsung di bendungan. Ia juga menyuruh pengikutnya untuk segera pergi karena rencana mereka yang akan menonton pertandingan bola.
Teringat pertandingan bola, Chi San teringat kalau ia lupa membawa tiketnya.
Se Na mengantar Park Ha ke depan restoran. Ia menunggu Park Ha turun, untuk mengatakan kalau ia harus segera pergi dan mengajak Park Ha untuk makan bersama di lain kesempatan. Ia segera pergi, tanpa Park Ha sempat mengatakan apapun.
Di rumah, Park Ha mencari-cari handphonenya yang mendadak menghilang. Chi San masuk ke rumah dan heran melihat Park Ha masih ada di rumah, “Noona, apakah kau pergi memancing?”
Park Ha bingung mendengar kata-kata Chi San, “Memancing?”
“Yang Mulia telah menunggumu di sana,” jawab Chi San buru-buru. Sebelum pergi, ia juga menambahkan kalau mereka tak akan menunggu kepulangan mereka.
Park Ha bingung mendapat informasi yang aneh dari Chi San. Memancing? Tapi ia segera teringat akan kelakuan Se Na yang aneh, ringtone handphone Se Na yang mirip dengannya dan GPS Se Na yang mengarah jauh ke bendungan.
Ia segera menyadari kalau Yi Gak mungkin dalam bahaya. Buru-buru ia naik taksi ke arah bendungan.
Sementara itu Yi Gak mempersiapkan tempat untuk memancing bersama Park Ha. Dan ia merasa puas melihatnya.
Whaa..? Nggak ada tenda? *ignore.. ignore..*
Namun yang ditunggu-tunggu belum datang juga. Dan Yi Gak juga heran, mengapa Park Ha memilih tempat sejauh ini.
Beberapa saat kemudian, dari kejauhan ia melihat sosok Park Ha yang memakai kaos kuning milik Chi San. Yi Gak memanggilnya, tapi Park Ha hanya melambai dan malah berlari menjauh.
Yi Gak menyangka Park Ha sedang ingin mempermainkannya. Ia pun berteriak pada Park Ha, “Jangan sampai aku menangkapmu, ya..”
Yi Gak mengejar Park Ha yang menghilang di kegelapan. Ia memanggil-manggil Park Ha, tapi tak ada jawaban membuat Yi Gak mulai kesal, “Ia sudah mulai keterlaluan.”
Yi Gak mencari-cari Park Ha, hingga ke jalan besar. Dan di sana Tae Moo yang telah menunggunya mulai menjalankan mobilnya pelan-pelan.Sementara Se Na yang menyamar menjadi Park Ha telah bersembunyi di balik semak-semak.
Akhirnya Park Ha sampai ke bendungan. Setelah turun dari taksi, ia mencari-cari Yi Gak dan tak terlalu lama ia menemukannya. Belum sempat ia memanggil, ia melihat ada sebuah mobil yang mengarah pada Yi Gak. Ia segera berteriak memanggil Yi Gak.
Di balik semak-semak, Se Na kaget melihat kedatangan Park Ha. Ia juga melihat kalau Tae Moo mulai mempercepat laju mobilnya.
Mobil Tae Moo semakin mendekati Yi Gak. Dan setelah dekat jangkauan, Tae Moo menekan pedal gas, melarikan mobilnya untuk menabrak Yi Gak.
Tapi Yi Gak yang tak menyadari kalau ia dalam bahaya, memanggil Park Ha dengan gembira. Park Ha yang sudah melihat mobil Tae Moo dari tadi, segera lari menghampiri Yi Gak.
Se Na panik melihat Park Ha lari. Yi Gak akhirnya menyadari kalau ada mobil yang melaju kencang ke arahnya. Tapi ia terlalu kaget untuk menggerakkan badannya, menghindar.
Tak ada waktu lagi bagi Park Ha. Ia menubruk Yi Gak hingga Yi Gak terdorong ke belakang dan matanya terbelalak melihat lampu mobil Tae Moo berkilat-kilat mengarah padanya.

source : http://www.kutudrama.com/2012/05/sinopsis-rooftop-prince-episode-18.html
re-posted and re-edited by : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment