Saturday, June 29, 2013

School 2013 Episode 13

Kyung Min protes pada Se Chan dan menuduhnya sudah membocorkan soal. Se Chan sendiri tidak percaya hal itu dan terkejut karena dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Min Ki juga punya soal Essai sama persis seperti yang dia buat. Se Chan tidak merasa membocorkannya.

In Jae yang juga ada disana ikut kaget dan memandang Se Chan. Namun kemudian alarm berbunyi, tanda sesuatu juga telah terjadi.
Se Chan berkata pada In Jae agar dia tetap disini,karena Se Chan akan melihat kenapa alarm berbunyi. In Jae mengangguk, dan kemudian menyuruh Kyung Min untuk segera kembali ke tempat duduknya. In Jae meminta agar mereka semua tetap tenang.



In Jae melihat kursi Min Ki kosong, dan bertanya pada peserta yang lain, dimana Min Ki? Kang Joo menjawab kalau Min Ki baru saja pergi. In Jae terkejut mendengarnya, dan cemas akan keberadaan Min Ki sekarang.



Nam Soon dan Heung Soo masih belum beranjak dari tempatnya, mereka masih merasa syok karena alarm berbunyi keras. Mereka merasa ada di tempat dan waktu yang salah. Kemudian tiba-tiba mereka mendengar ada suara kaki berlari mendekat, dan Nam Soon serta Heung Soo segera menyembunyikan diri mereka di balik pintu.



Ternyata itu adalah Oh Jung Hoo. Dia mencoba berlari masuk ke ruang guru. Heung Soo yang melihat Jung Hoo masuk, berteriak memanggil nama Jung Hoo. Jung Hoo kaget, karena ada Nam Soon dan Heung Soo di ruangan yang sama dengannya.



Heung Soo mendekati Jung Hoo, dan langsung mengambil tas yang berisi ponsel para peserta lomba. Jung Hoo kaget dan terdiam di tempatnya. Nam Soon langsung menegur Jung Hoo dan menyuruhnya untuk segera lari, pergi dari tempat ini.





Heung Soo segera menaruh tas itu kembali ke tempatnya semula. Setelah itu mereka bertiga sama-sama lari menyelamatkan diri sebelum ada yang datang.
Mereka menuruni tangga dengan cepat, tapi tiba-tiba ada petugas yang menghadang. Karena Nam Soon ada di barisan pertama maka dia selamat, sedangkan Heung Soo dan Jung Hoo, berhasil dihadang oleh sang petugas.
Nam Soon kaget dan terkejut karena melihat Heung Soo dan Jung Hoo terhadang si petugas.



Petugas bertanya apa yang sedang mereka lakukan? Jung Hoo bingung akan menjawab bagaimana dan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Heung Soo dengan tersenyum ramah menyapa sang petugas. Jung Hoo juga dengan sopannya membungkuk memberi hormat pada petugas itu.
Setelah itu mereka berlari lagi dengan arah yang berbeda dari Nam Soon. Sang petugaspun mengejar mereka.



Se Chan sudah sampai di ruang guru dan menyadari kalau pintu terbuka. Dia segera masuk, dan mencoba bertanya siapa yang didalam. Se Chan kemudian menghidupkan lampu, dan melihat dengan jelas, ternyata lemari sudah rusak. Se Chan takut kalau ponsel yang disimpan didalamnya ikut raib.

Se Chan membuka lemari itu, dan melihat kalau tas penyimpanan ponsel masih ada di tempatnya. Untuk lebih meyakinkan Se Chan mengambil tas itu dan membukanya. Ternyata ponsel para peserta lomba masih utuh didalamnya.



Se Chan membawa tas itu keluar, dan saat menuruni tangga, ada Heung Soo dan Jung Hoo yang sedang berlari keatas. Mereka terhadang oleh kehadiran Se Chan, sehingga langkah merekapun terhenti. Se Chan bertanya apa yang sedang mereka lakukan disekolah? Kemudian si petugas yang mengejar mereka juga telah sampai di tangga itu, dan meminta Se Chan untuk membantunya menangkap mereka. Se Chan tentu terkejut dan coba mengaitkan kejadian ini dengan ruang guru yang pintunya tidak terkunci dengan benar.



Jung Hoo semakin kaget apalagi dengan melihat tas yang dipegang Se Chan. Se Chan yang tahu arah mata Jung Hoo, semakin yakin kalau Jung Hoolah yang terlibat dalam insiden malam ini.
Se Chan menatap Jung Hoo, membuat Jung Hoo takut dan segera kabur, melewati petugas. Se Chan hanya melihat larinya Jung Hoo tanpa mengejarnya.



In Jae berlari menuruni tangga ingin mencari Min Ki. Dia takut terjadi sesuatu pada muridnya itu.



Di atap sekolah, Min Ki berdiri diatas pembatas atap. Tanpa rasa takut sedikitpun. Hanya sekali lompat, maka Min Ki akan berhasil terjun bebas ke tanah.



Min Ki sebenarnya tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia takut, tapi dia juga benci jika harus menjalani kehidupan yang serba diatur seperti ini. Dia merasa mati adalah hal yang mudah, tinggal melompat, lalu semua masalah akan hilang begitu saja. Tapi saat berada diatap, dia malah merasa takut untuk melangkah. Namun dia memberanikan diri untuk memajukan kakinya selangkah, sehingga semakin mendekati tepi.
Min Ki melihat kebawah dengan sedikit takut.



Min Ki mencengkeram tasnya dengan erat, dan menatap ke bawah dengan takut. Dia memejamkan matanya dan ingin menyakinkan dirinya, kalau jatuh ke bawah tidaklah sakit, karena setelah itu toh dia tidak akan merasakan apa-apa lagi.



Nam Soon yang tadi berlari berbeda arah dengan Heung Soo dan Jung Hoo, sudah sampai di halaman sekolah. Dia sudah berhasil meloloskan dirinya. Tapi dia juga masih khawatir dengan Heung Soo dan Jung Hoo. Apakah mereka berhasil lari seperti dirinya? Nam Soon tiba-tiba mendengar sesuatu yang jatuh, dia langsung menoleh ke sumber suara.

Nam Soon mendekati benda yang terjatuh itu, ternyata yang jatuh adalah tas sekolah dengan berisi buku-buku yang berserakan.



Nam Soon mengambil satu buku, dan melihatnya. Dia tahu kalau itu adalah buku teman sekelasnya, Kim Min Ki. Kemudian datanglah In Jae, yang melihat Nam Soon disana. In Jae memanggil Nam Soon. Nam Soonpun menoleh.
In Jae mendekati Nam Soon dan bertanya apa Nam Soon lihat Min Ki? Nam Soon menunjukkan buku milik Min Ki dan mengatakan kalau bukunya jatuh kesini.



In Jae kaget dan langsung melihat keatas, Nam Soon juga ikut mendongakkan kepalanya. In Jae seolah menyadari kalau Min Ki masih ada diatas, dan segera berlari keatap. Nam Soonpun juga mengikuti In Jae dengan membawa tas Min Ki.



In Jae dan Nam Soon yang sudah sampai diatap, mereka melihat Min Ki sedang duduk memeluk kedua kakinya. In Jae mendekat, dan memandang Min Ki dengan perasaan sedih. Seolah merasakan apa yang Min Ki rasakan saat ini. In Jae coba memanggil Min Ki, dan terus berjalan kearahnya. Sedangkan Nam Soon terdiam melihat Min Ki dari jauh, dia mungkin juga terkejut dengan apa yang hampir saja akan Min Ki lakukan.



In Jae langsung memeluk Min Ki yang sedang menangis disana.

(Aku ikutan nangis lo liatnya. Sedih banget.)

In Jae benar-benar memeluk Min Ki dengan erat, seolah bersyukur Min Ki tidak melakukan hal yang membahayakan dirinya. Pelukan itu juga seolah tanda kalau dia peduli pada Min Ki. In Jae ikut menangis menyadari apa yang mungkin Min Ki rasakan. Dia mengelus-elus pundak Min Ki mencoba menenangkannya.



Min Ki yang masih menangis berkata “Aku minta maaf guru. Aku minta maaf”
In Jae menjawab “Tidak.tidak apa-apa Min Ki. Semuanya akan baik-baik saja.”

In Jae berulang kali berkata kalau tidak apa-apa. Berharap dengan kalimat itu Min Ki sedikit tenang.



Nam Soon yang melihatnya dari jauh, ikut terharu. Tapi Nam Soon tahu dia tidak boleh mengganggu In Jae dan Min Ki. Dia tahu kalau keberadaannya tidak begitu penting disana.
Nam Soon berbalik, dan menaruh tas Min Ki di dekat pintu, lalu segera pergi.



Kembali ke ruang lomba. Disana masih ada Se Chan dan beberapa peserta lomba, seperti Kyung Min, Kang Joo dan Ha Kyung. Se Chan berkata kalau mereka harus mendengarkan apa yang akan dia katakan. Dia harus memeriksa smeuanya secara detail, agar tahu bagaimana ini bisa terjadi.
Kyung Min menjawab apa lagi yang harus diperiksa? Rasanya semua sudah jelas. Kyung Min kesal, dan langsung pergi. Dia mungkin merasa tidak adil, karena Se Chan sudah berlaku curang.



Masih tersisa Ha Kyung dan Kang Joo. Se Chan bertanya kemana guru Jung pergi? Ha Kyung menjawab kalau dia tidak tahu, karena guru Jung pergi tepat setelah guru Kang pergi.



Ha Kyung dan Kang Joo sudah meninggalkan ruang lomba. Kang Joo bertanya apa menurut Ha Kyung, guru Kang yang membocorkannya? Ha Kyung menjawab apa menurut Kang Joo itu masuk akal? Kang Joo menjawab kalau memang ini tidak masuk akal. Ha Kyung berkata kalau guru Kang pasti punya alasan kenapa harus membocorkannya?

Kang Joo bertanya lagi, lalu bagaimana menurut Ha Kyung tentang Min Ki? Bagaimana Min Ki bisa memiliki soal lomba itu? Ha Kyung menjawab kalau dia sendiri tidak yakin bagaimana itu terjadi. Ha Kyung menjelaskan kalau mungkin Min Ki mendapatkannya dari tempat les di Gangnam.
Kang Joo bertanya apa itu mungkin sebuah tempat les mengetahui soal yang dibuat sekolah kita? Ha Kyung menjawab tentu saja tidak. Tapi apa sih yang orang dewasa tidak bisa melakukannya?

Kang Joo berkata kalu dia merasa kasihan pada Min Ki. Apalagi dia yakin besok kejadian ini akan mneyebar dengan cepatnya di sekolah.



In Jae berhasil membawa Min Ki pergi dari atap sekolah. Mereka berdua ada di salah satu ruang, dan In Jae membuatkan minuman hangat untuk Min Ki. In Jae mendekatkan tangan Min Ki yang dingin untuk memegang gelas, agar bisa sedikit hangat. Tangan Min Ki memang bergetar saat itu. In Jae menjelaskan kalau tangan Min Ki sangat dingin, makanya dia mendekatkannya ke gelas agar tangan Min Ki bisa sedikit hangat.

Min Ki hanya diam saja, tanpa berkata apapun. In Jae kemudian bertanya dengan lembut kenapa Min Ki menjatuhkan tasnya? Min Ki menjawab kalau tasnya sangat berat. In Jae mengangguk mengerti. Dia berkata kalau dia juga merasa bahwa hadir di sekolah adalah hal yang berat menurutnya.

In Jae bertanya lagi bagaimana perasaan Min Ki saat ada di atap? Min Ki menjawab kalau itu sangat menakutkan. In Jae bertanya lagi, apanya yang menakutkan?

Min Ki menjelaskan “kupikir akan cepat jatuh ke tanah. Namun, kurasa itu membutuhkan waktu yang lama daripada yang kukira.”

Min Ki terdiam dan masih belum berani menatap In Jae. Kemudian dia melanjutkan “Aku..kupikir aku merasa seperti itu, karena aku benar-benar akan mati lebih awal diatap.”

Min Ki mengangkat kepalanya dan memandang In Jae. Dia kemudian minta maaf pada In Jae karena pikiran konyolnya. In Jae yang mendengar penjelasan Min Ki, ikut berkaca-kaca matanya. Dia menahan tangis, dan tahu kalau Min Ki merasa sangat putus asa saat ini.

In Jae berkata “Min Ki, ada saat-saat dimana semua orang ingin mati. Ini tidak salah jika kau memiliki pikiran ingin mati, tapi fakta bahwa kau bertahan, itu adalah hal yang hebat.”

Min Ki meneteskan air mata mendengar penjelasan In Jae. In jae pun melanjutkan kata-katanya “Kau hanya sedang mendaki gunung yang sangat sulit. Kau melakukannya dengan baik karena kau terus berjuang untuk mendakinya. Jadi aku sangat berterima kasih padamu, dan bangga padamu karena terus bertahan serta berjuang”

Min Ki menjawab kalau saat itu dia teringat puisi yang pernah In Jae ucapkan. Puisi tentang tidak ada bunga yang mekar tanpa terguncang.

“Guru..aku juga bunga yang sedang terguncang kan?”

In Jae mengangguk sambil terus menahan air matanya. Min Ki kemudian bertanya kalau In Jae juga sedang terguncang kan saat ini? In Jae hanya mampu menganggukkan kepalanya, tanda kalau apa yang Min Ki ucapkan adalah benar.

Min Ki berkata kalau ini melegakan, karena ada In Jae disisinya.




Heung Soo termenung di kaca jendela, sepertinya dia mendapatkan hukuman membersihkan kaca itu karena kepergok Se Chan tadi. Lalu tiba-tiba Heung Soo terkejut mendengar langkah kaki yang mendekat. Ternyata itu Nam Soon yang datang. Heung Soo lega karena itu bukan Kang Se Chan. Nam Soon bertanya apa yang sedang Heung Soo lakukan? Heung Soo menjawab sambil mengacungkan kain lap yang dipegangnya, dan berkata kalau pasti Nam Soon senang karena berhasil lari sendiri. Nam Soon tersenyum dan berkata sambuil mengejek, kalau sepertinya Heung Soo sudah kehilangan kemampuannya. Heung Soo berfikir lari, tapi ternyata tidak melarikan diri kearah yang benar..



Heung Soo kesal karena Nam Soon mengejeknya, sehingga dia ingin melempar Nam Soon dengan kain lap yang ada ditangannya. Tapi tiba-tiba Se Chan datang dan memanggil Nam Soon, membuat Nam Soon menoleh, dan Heung Soo dengan sedikit kikuk berbalik kembali mengelap jendela. LOL



Se Chan mendekati Nam Soon dan bertanya apa Nam Soon tidak membersihkan perpustakaan? Nam Soon kaget dan menjawab kalau tugasnya sudah selesai. Heung Soo dengan tampang lucunya mencoba melirik kearah Nam Soon. Se Chan bertanya Nam Soon darimana saja tadi? Nam Soon bingung dan menoleh pada Heung Soo, dan Heung Soo hanya tersenyum sambil mengedikkan bahunya. Dalam hati Heung Soo seneng banget karena berhasil melihat Nam Soon terbingung-bingung menghadapi Se Chan.



Se Chan berkata apa Nam Soon merupakan kaki tangan? Nam Soon mencoba mengelak. Se Chan berkata terlepas itu benar atau tidak, malam ini tempat duduk Nam Soon ada disana (Sambil menunjuk tempat Heung Soo)
Se Chan meminta Nam Soon juga ikut membersihkan kaca jendela seperti Heung Soo. Nam Soon hanya mengangguk pasrah menerima hukumannya. Heung Soo tersenyum puas pada Nam Soon yang malam ini juga bernasib sama dengannya.



(Haduuww,,uda deh Heung Soo berhenti senyuum kek,,rasanya sampe ke pori-pori deh nyes nya..^^)

In Jae dan Min Ki berjalan bersama menuruni tangga. In Jae akan masuk ke ruang guru mengambil tasnya, sehingga meminta Min Ki menunggu sebentar di luar. Mungkin In Jae berniat mengantarkan Min Ki pulang, karena kan kondisi Min Ki masih membuat In Jae khawatir.



Sambil mengambil tasnya di ruang guru, In Jae bertanya pada Se Chan kenapa alarm berbunyi tadi? Se Chan menjawab kalau itu untuk membuat In Jae marah. In Jae bingung. Dan Se Chan berkata kalau ini sudah berakhir, dan bertanya In Jae dari mana saja? In Jae menjawab kalau tadi dia bersama Min Ki dan sekarang Min Ki sedang menunggunya di luar. Se Chan kemudian bertanya ada apa dengan Min Ki sambil menyerahkan ponsel Min Ki yang dititpkan tadi sebelum lomba pada In Jae.
In Jae meminta agar mereka membicarakannya nanti saja. In Jae pun kemudian bertanya tentang lomba Essai?Bagaimana akhiurnya? Se Chan menjawab dengan kalimat yang sama seperti In Jae tadi.Meminta In Jae untuk membicarakannya nanti saja. Karena sepertinya In Jae sedang sibuk.

Sebelum In Jae melangkahkan kakinya semakin jauh, Se Chan memanggil In Jae. In Jae pun menoleh. Se Chan berkata “Karena kau berada di sekolah pada hari ini, itu melegakan”

In Jae pun tersenyum mendengarnya.



Se Chan yang sudah sendiri meneliti kembali soal Essai yang ternyata bocor. Se Chan bergumam bagaimana ini bisa bocor?



Heung Soo sedang membersihkan jendela ditemani Nam Soon tentunya. Mereka membersihkan dengan semangat. Tapi kemudian mereka merasa capek dan duduk sebentar melepas penat.



Nam Soon bertanya bagaimana Heung Soo bisa tahu kalau Jung Hoo akan menyebabkan masalah? Heung soo menjawab kalau sepertinya Jung Hoo sudah meminjam uang dari preman-preman itu.
Nam Soon berkata kalau itu masalah besar dan bertanya berapa banyak Jung Hoo meminjam uang?
Heung Soo menjawab bagaimana dia bisa tahu?

Kemudian terdengar langkah kaki mendekat, mereka terkejut dan segera membersihkan jendela lagi. Ternyata benar itu Se Chan. Se Chan seperti biasa memeriksa apakah mereka benar-benar melakukannya dengan baik?



Se Chan bertanya kenapa Jung Hoo menyebabkan masalah? Mereka hanya diam tanpa menjawab. Membuat Se Chan memandang mereka dengan tatapan tajam. Se Chan berkata apa mereka yang menempatkan ponsel kembali ke posisinya? Nam Soon menjawab kalau Jung Hoo sendiri yang mengembalikannya. Se Chan bertanya lalu kenapa mereka bisa terlibat?
Dengan tersenyum Nam Soon menjawab karena Heung Soo memiliki indra yang baik, jadi Heung Soo tahu.
Heung Soo kesal dan menyenggol Nam Soon. Nam Soon tidak peduli. LOL



Se Chan berkata pantas saja Heung Soo nilainya lebih bagus daripada Nam Soon, karena dia memiliki indra yang sangat baik. Heung Soo memaksakan senyumnya pada pujian Se Chan yang aneh itu menurutnya. Sedangkan Nam Soon hanya menepuk pundak Heung Soo seolah dia bangga pada Heung Soo. LOL



Se Chan berkaa menyuruh Nam Soon dan Heung Soo bagaimanapun caranya agar bisa membawa Jung Hoo ke sekolah besok pagi. Se Chan meminta agar Nam Soon dan Heung Soo menyampaikan pada Jung Hoo kalau semua baik-baik saja, dan meminta Jung Hoo untuk tetap datang ke sekolah tanpa rasa takut.

Nam Soon bertanya apa itu artinya Jung Hoo tidak akan mendapat masalah? Se Chan menjawab pokoknya bawa saja Jung Hoo kembali dan katakan seperti apa yang dia bilang tadi. Kalau dia bisa menutupinya maka dia akan menutupinya, tapi kalau dia tidak bisa, ya dia tidak bisa melakukannya.
Kalau mereka tidak berhasil membawa Jung Hoo kembali, maka merekalah yang akan terkena masalah.
Nam Soon dan Heung Soo memasang ekspresi aneh saat mendengarnya. Kemudian mereka menjawab iya untuk menyanggupi perintah Se Chan.



In Jae benar-benar mengantarkan Min Ki sampai ke rumahnya. In Jae berniat mengantar Min Ki sampai masuk ke dalam rumah, tapi Min Ki menolaknya, dan berkata kalau dia bisa sendiri masuk ke rumahnya. In Jae berkata kalau dia harus memastikan Min Ki masuk ke rumah agar dia merasa Min Ki aman. Min Ki berkata kalau dia baik-baik saja. Dia sudah merasa cukup lega saat ini.

In Jae dengan pelan-pelan berkata kalau ibunya harus tahu tentang kejadian hari ini. “Ibumu harus tahu bagaimana perasaanmu, agar dia bisa memberikan banyak kekuatan padamu.”

In Jae ingin membicarakannya secara pribadi pada Ibu Min Ki. Min Ki menjawab kalau ini akan sulit jika melakukannya di rumah. In Jae menjawab kalau begitu dia akan menelponnya. Min Ki masih mencoba menolak, dan berkata kalau dia sendiri yang akan bercerita pada ibunya.

In Jae berkata kalau dia tidak merasa itu akan mudah untuk Min Ki lakukan. Jadi lebih baik dia saja yang mengatakannya pada ibu Min Ki.
Min Ki tetap mempertahankan pendapatnya, dia hanya takut ibunya akan bertambah marah pada In Jae dan juga padanya.
Min Ki berkata kalau biarkan dia yang pertama kali memberitahu ibunya. Akhirnya In Jae tidak memaksa lagi, dan membolehkan Min Ki yang menceritakannya.
In Jae berpesan agar Min Ki jangan terlalu memikirkannya. Kalau ternyata Min Ki tidak bisa melakukannya, Min Ki bisa menguirim SMS dan memberitahukannya.
Dia akan mencoba memberitahu ibu Min Ki dengan baik, dan menjelaskannya pada Ibu Min Ki. Min Ki mengangguk.

In Jae menyuruh Min Ki segera masuk ke dalam, dan langsung ke kamar agar bisa istirahat. In Jae bahkan menyuruh Min Ki mengirim foto kalau Min Ki benar-benar sudah ada di kamar, agar In Jae merasa tenang.



Nam Soon dan Heung Soo berjalan pulang. Tidak berjalan berdampingan, tapi Nam Soon di belakang Heung Soo, dengan jarak yang juga tidak dekat. Nam Soon akhirnya memanggil nama Heung Soo. Heung Soo pun menoleh memandang Nam Soon. Nam Soon sebenarnya ingin mengajak Heung Soo pulang bersama, tapi dia malah berkata kalau dia yang akan membawa Jung Hoo ke sekolah besok pagi. Heung Soo menjawab baguslah kalau begitu. Dan berkata hati-hati pada Nam Soon. Heung Soo pun membalikkan badannya untuk melanjutkan langkahnya pulang.

Nam Soon tiba-tiba memanggil nama Heung Soo lagi, membuat Heung Soo dengan enggan membalikkan badannya dan bertanya apa lagi sekarang?
Nam Soon lagi-lagi tidak mampu mengatakan yang sebenarnya pada Heung Soo. Dia akhirnya hanya berkata sampai jumpa besok di sekolah.

Heung Soo pun berjalan meninggalkan Nam Soon.
Nam Soon yang melihat kepergian Heung Soo hanya bergumam kalau dia benar-benar ingin berjalan bersama dengan Heung Soo.



In Jae masih berdiri gelisah menunggu SMS Min Ki. ngin memastikan Min Ki benar-benar sampai di kamarnya dan beristirahat dengan baik malam ini.

Tiba-tiba ponsel In Jae bordering, dan dengan cepat In Jae membuka pesannya. Ternyata itu benar dari Min Ki. Min Ki mengirim MMS dan berkata “guru, terima kasih. Aku akan memberitahu ibuku sekarang”

In Jae membalas dengan memberi semangat pada Min Ki, dan berkata sampai jumpa besok di sekolah.



Min Ki sedikit ragu untuk memberitahukan pada ibunya tentang perasaannya dan insiden malam ini. Dia hanya berdiri di depan kamarnya. Ibu Min Ki akhirnya keluar dan melihat Min Ki sudah pulang. Ibunya senang dan menghampiri Min Ki dengan senyum. Ibunya bertanya kapan Min Ki datang? Min Ki menjawab baru saja. Dengan sedikit ragu Min Ki ingin mengatakan sesuatu, tapi ibunya tidak memberi kesempatan karena langsung menyela dengan pertanyaan tentang lomba Essai Min Ki. Apakah Min Ki melakukannya dengan baik tadi? Min Ki sedikit kecewa dan membatalkan niatnya memberitahu ibunya, dia hanya menjawab kalau dia tidak melakukannya dengan baik.

Ibu Min Ki kesal dan berteriak memanggil nama anak kesayangannya itu. Min Ki dengan berani berkata kalau dia sangat lelah sekarang, jadi biarkan dia beristirahat. Hari ini cukup untuk hari ini saja.
Walau ibu Min Ki tidak setuju tapi dia kemudian berubah lembut dan berkata kalau mereka akan membicarakannya besok.

Min Ki tidak menjawab, dan langsung masuk ke kamarnya.
Ibu memandangnya kesal.



Di dalam apartemennya, In Jae merebahkan kepalanya ke sandaran sofa. Kemudian dia duduk dan kepikiran dengan Min Ki. Apa benar Min Ki berani mengatakan hal ini pada ibunya? Apakah Min Ki sudah melakukanya?

In Jae teringat kata-kata Min Ki tadi, bahwa Min Ki mengibaratkan dirinya seperti bunga yang sedang terguncang karena akan mekar dengan indah. Dan Min Ki juga mmengibaratkan In Jae seperti itu saat ini.

In Jae memejamkan matanya dan bergumam kalau dia pasti sudah gila. Bagaimana bisa seorang anak memberitaukan kejadian seperti ini pada ibunya?



In Jae pun langsung mengeluarkan ponselnya dan menekan nomer Ibu Min Ki.
Setelah tersambung, dengan sopan In Jae memberitahu kalau dia adalah guru Min Ki, yaitu Jung In Jae.



Sementara itu di dalam kamar (Luasnya minta ampun kamar Min Ki ini..ngiri ih..^^)
Min Ki tidak menghidupkan lampu di kamarnya, dia tiba-tiba teringat kejadian di atap sekolah tadi. Dia teringat saat dia menjatuhkan tas sekolah yang di pegangnya.



Sedangkan itu di kamarnya Ibu Min Ki kaget mendengar penjelasan In Jae. Ibu Min Ki tidak percaya kalau Min Ki hampir membahayakan nyawanya diatap sekolah. Dia seolah tersadar kalau Min Ki adalah yang berharga dalam hidupnya, dan tidak ingin kehilangan Min Ki.

Ibu Min Ki hanya menjawab ya di setiap perkataan In Jae, tanpa bisa protes atau berkata-kata menyakitkan seperti biasanya. Dia benar-benar sedih. Bahkan bibirnya bergetar saat menjawab perkataan In Jae. Ibu Min Ki menyetujui untuk menemui In Jae di sekolah besok.



Beralih ke Min Ki. Min Ki mencoba mengetuk pintu kamar kakaknya. Dia sedikit ragu. Akhirnya dia membatalkan niatnya, dan hanya memanggil kakaknya.



Sementara di kamar Ibu Min Ki, terlihat ibu Min Ki akan beranjak menemui Min Ki.Meminta maaf atau mungkin mencoba menguatkan Min Ki. Tapi sepertinya ibu Min Ki mendengar panggilan Min Ki pada kakaknya di luar. Walau lirih, ibu Min Ki mendengarnya. Sehingga dia tidak jadi beranjak dari duduknya untuk menemui Min Ki.

Terdengar Min Ki bertanya kalau kakaknya pasti mendengar kata-katanya kan? Hyung pasti mendengar semuanya.



Min Ki seolah ingin curhat pada kakaknya. “Aku..sebelumya naik keatap sekolah. Kau sudah melakukannya juga kan Hyung? Karena aku juga pergi kesana, aku juga berfikir kau akan melakukannya juga”



Ibu Min Ki menangis dikamarnya, tidak menyangka kalau ternyata anak sulungnya juga melakukan ha itu. Dia merasa benar-benar gagal menjadi ibu.

Terdengar suara Min Ki. “Jika bukan karenamu Hyung, aku benar-benar punya pikiran semacam itu. Semuanya..kupikir aku tidak bisa berbuat apa-apa karena kau.”

“Tapi Hyung,aku benar-benar merindukanmu. Jika aku seperti ini, itu akan membunuh ibu kan? ”

Ibu Min Ki semakin terisak, dia mencoba menutup mulut dengan tangannya agar tangis tidak terpecah dan Min Ki mendengarnya. Bahkan Min Ki pun masih menyayanginya, padahal dia sudah melakukan hal-hal yang ternyata tidak diinginkan anaknya itu.

“Hyung..tolong keluar saja sekarang. Ibu dan aku, sangat kesepian.”



Min Ki ikut menangis di depan kamar kakaknya.



Keesokan paginya.
Nam Soon mendatangi rumah Oh Jung Hoo. Dia berteriak memanggil nama Jung Hoo, bahkan menendang pintu pagar dengan keras agar terdengar oleh Jung Hoo, tapi tetap tidak ada jawaban. Nam Soon berteriak sekencang-kencangnya agar Oh Jung Hoo segera keluar.

Saat Nam Soon akan menendang pintu pagar lagi, tiba-tiba pagar terbuka. Karena pagar terbuka secara tiba-tiba, Nam Soon terdorong maju kedepan dengan sedikit terkejut.

Jung Hoo kaget dan bertanya kenapa Nam Soon ada disini? Nam Soon dengan tersenyum menjawab ayo pergi ke sekolah. Jung Hoo bertanya kenapa? Apa para guru menyuruh Nam Soon untuk membawa tersangka? Apa Nam Soon memberitahu mereka semua?



Nam Soon mengelak, dan berkata dia tidak memberitahu siapapun. Nam Soon bertanya kalau dia mendengar Jung Hoo berlari dari guru Kang? Jung Hoo berkata kalau dia tidak akan pergi. Karena dia yakin kalau dia akan dikeluarkan, jadi buat apa dia datang ke sekolah?

Nam Soon tersenyum dan berkata kenapa bajingan seperti Jung Hoo yang tidak mau ke sekolah, keluar rumah memakai seragam sekolah?
Jung Hoo menjawab kalau ini hanya pura-pura saja.



Jung Hoo berniat meninggalkan Nam Soon, tapi Nam Soon dengan gesit menarik tas Jung Hoo sehingga Jung Hoo terpaksa menoleh kearah Nam Soon. Nam Soon bertanya kenapa Jung Hoo datang kembali setelah membawa tas berisi ponsel itu? Jung Hoo harusnya melarikan diri karena sudah merusak lemari, dan membawa ponsel. Tapi kenapa Jung Hoo kembali lagi?

Nam Soon meminta Jung Hoo segera datang ke sekolah. Kemudian Nam Soon berlari pergi meninggalkan Jung Hoo.



Sementara itu di rumah Min Ki. Sang ibu sedang berdiri menunggu Min Ki keluar kamarnya.Dia memegang dadanya yang terasa berdebar, karena merasa benar-benar bersalah pada Min Ki, dan bingung harus berkata apa pada anaknya itu.



Min Ki lalu keluar dari kamarnya. Ibu bertanya apa Min Ki tidak terlambat? Min Ki menjawab iya. Ibu bertanya lagi, apa Min Ki benar-benar suka jika tidak diantar ke sekolah?
Min Ki menjawab tentu saja, dan meminta ibunya jangan khawatir karena dia bukan anak kecil lagi.



Ibu Min Ki berkata hati-hati dan segera pulang. Tiba-tiba ibu Min Ki memeluk Min Ki. Min Ki merasa heran, tapi dia tidak menolak.
Ibu memeluk Min Ki erat sambil berusaha menahan tangisnya.
Dia merasa sangat bersalah, dan bersyukur karena Min Ki masih selamat. Dia bahagia masih bisa melihat Min Ki pagi ini.



Se Chan berada di ruang kepala sekolah. Im Jung Soo tidak percaya kalau sola Essai bisa bocor, menurutnya ini sangat tidak masuk akal. Se Chan menjawab tentu saja tidak masuk akal. Dia bahkan belum percaya kalau soal bisa bocor. Jung Soo bertanya apa yang akan Se Chan lakukan?
Se Chan balik bertanya untuk apa? Jung Soo memperjelas pertannyaannya bagaimana cara Se Chan memperbaiki masalah ini?
Se Chan menolak untuk memperbaikinya. Kekuatan macam apa yang dimiliki guru sehingga dia harus memecahkan masalah ini? Lagipula bukan dia yang membocorkan soal itu, jadi kenapa dia yang harus menyelesaikannya? Pasti ada yang telah membocorkannya. Dan harusnya dia meminta tanggung jawab Jung Soo untuk masalah ini.

Jung Soo bertanya apa Se Chan tidak khawatir akan situasi yang timbul setelah kejadian ini? Se Chan menjawab dengan santainya, mungkin dia akan dipecat. Dan Jung Soo selalu melakukan hal-hal semacam pemecatan itu dengan sangat baik.

Jung Soo bertanya apa Se Chan seperti ini karena guru Jung?Se Chan balik bertanya kenapa memangnya?Apa ada sesuatu yang menusuk hati nurani Jung Soo?
Jung Soo tidak mampu menjawab, selalu kalah jika harus berdebat dengan Se Chan.



Uhm Dae Woong menghampiri Se Chan di mejanya. Dae Woong bertanya kalau benarkah ada sesuatu yang telah terjadi di kantor guru?
Se Chan dengan gugup menjawab kalau itu hanya sebuah kesalahan saja, jadi tidak perlu cemas.

“apa kau yakin?”
Se Chan dengan mantap menjawab Ya.

Uhm Dae Woong masih merasa belum puas, sehingga bertanya pada staf guru lainnya, apakah ada yang hilang? Kwon Nam Hee menjawab kalau semua tetap utuh. Guru yang lainpun membenarkan kalau tidak ada barang yang hilang.

Nan Hee mengeluh kalau sekarang bahkan ruang guru sudah tidak aman. Berani sekali anak-anak mencuri sesuatu dari gurunya sendiri.

Seorang guru perempuan juga mengeluh kalau sekarang anak-anak sudah berani mencuri dompet gurunya. Jadi sekarang dia selalu membawa dompetnya kemanapun dia pergi.

Se Chan hanya melirik mereka, tanpa ikut berkomentar.
Uhm Dae Woong pun mengingatkan mereka untuk lebih berhatiu-hati, agar anak-anak tidak mempunyai ide buruk lagi.



In Jae yang baru masuk ke ruangannya langsung dipanggil Uhm Dae Woong. In Jae pun segera menghampiri meja Dae Woong. Dae Woong berkata kalau sekolah sudah menemukan pengganti In Jae. In Jae hanya mengangguk mengiyakan.



Di kelas 2-2, kemlompok Ki Deok sudah mulai bergosip. Salah satu dari mereka memberitahu tentang Min Ki yang memiliki soal Essai sama persis dengan yang dilombakan.
Ki Deok beranggapan kalau itu tandanya mIn Ki orang yang terampil ^^
Ki Deok beranggapan kalau Min Ki bisa menyelesaikan soalnya dengan sekali tulis saja.

Seorang temannya mengejek Ki Deok yang bodoh, dan mengatakan kalau Min Ki bahkan tidak mejawab semua soal dan pergi meninggalkannya begitu saja di meja.



Masuklah Min Ki dan akhirnya mendengar kalau teman-teman sedang membicarakan dirinya. Kang Joo yang melihat min Ki jadi kesal dengan gengnya Ki Deok, yang terus mengoceh. Dia akhirnya menghampiri meja mereka dan menutup kepala si penggosip dengan tas. Agar Min Ki bisa lewat tanpa merasa tambah malu.

Min Ki pun segera duduk di mejanya, dan Kang Joo menyapa Min Ki dengan berkata “Kau sudah disini?”

Min Ki hanya menjawab iya.



Nam Kyung Min tidak melewatkan kesempatan ini, dia langsung bertanya pada Min Ki darimana Min Ki mendapatkan soal Essai itu? kang Joo menyelamatkan Min Ki dnegan menjawab Min Ki bisa saja mendapatkannya di tempat dia les (akademi)
Geng Ki Deok pun mengiyakan dengab serempak, kalau itu tentu saja benar. Min Ki pasti mendapatkannya dari akademi.

Kyung Min masih belum puas dan bertanya dimana akademi itu, karena sepertinya dia juga harus kesana.
Kang Joo semakin kesal dan berkata kalau mana Min Ki tahu jika dia menerima soal essai yang sama persis dengan sekolah.



Kyung Min langsung menoleh ke Kang Joo, dan berkata memang Kang Joo walinya Min Ki? Kang Joo membentak dan berkata Ya. Dia walinya.

Min Ki yang tidak tahan dengan ribut-ribut ini, langsung memanggil Kang Joo, dan memberi isyarat agar kang Joo tidak meladeni mereka.


Kim Min Ki memilih keluar dari kelas, dan berpapasan dengan Oh Jung Hoo yang baru saja akan masuk kelas.
Nam Soon ingin menyusul Min Ki, tapi berhenti dulu di dekat Jung Hoo dan tersenyum padanya, karena Jung Hoo akhirnya datang juga.




Min Ki menyendiri di luar kelas, Nam Soon keluar dan melihat Min Ki lalu segera menghampirinya. Nam Soon bertanya apa Min Ki baik-baik saja? Min Ki menjawab bagaimana bisa dia baik-baik saja? Nam Soon berkata agar Min Ki mengabaikan mereka. Nanti setelah ini mereka juga akan lupa. Min Ki tersenyum dan berterima kasih pada Nam Soon tentang yang kemarin.
Nam Soon bertanya untuk apa? Dia berkata seperti itu berharap Min Ki melupakan juga kejadian kemarin. Lagipula mereka adalah teman, jadi kenapa harus sungkan.
Min Ki pun tersenyum mendengar jawaban Nam Soon.



Min Ki berkta kalau dia benci karena harus kembali ke kelas. Nam Soon menjawab, masih mending Min Ki baru benci masuk kelas dari sekarang, sedangkan dia sudah dari SD benci sampai mati rasanya kalau harus masuk sekolah.
Haha..
LOL

Min Ki tersenyum lebar mendengar kata-kata Nam Soon.Nam Soon ikut tertawa melihat Min Ki senang. Dia Berharap semoga perasaan Min Ki menjadi lebih baik.



Min Ki merasa terhibur karena Nam Soon.Nam Soon sendiri cukup puas karena setidaknya Min Ki bisa terseyum karenanya.
Lalu datanglah In Jae ditengah mereka.
In Jae memandang min Ki dengan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Dia senang Min Ki terlihat baik-baik saja.




In Jae mengajak Min Ki bicara berdua. In Jae bertanya apa Min Ki semalam dapat tidur dengan nyenyak? Min Ki menjawab iya. In Jae berkata kalaupun Min Ki memiliki waktu yang sulit sekarang, tapi sepertinya dia tetap harus memarahi Min Ki.

In Jae berkata kalau tindakan Min Ki keluar lebih dulu dan mundur dari lomba Essai adalah salah, walaupun Min Ki tahu alasannya. Bahkan jika memang ada seseorang yang menempatkan Min Ki diposisi itu, atau jika itu kesalahan orang lain. Bertindak sesukanya meskipun Min Ki tahu itu benar, adalah juga hal yang salah.

“Jadi, bahkan jika anak-anak mengeluh, atau kau merasa tidak nyaman di kelas, apa kau akan mencoba untuk bertahan? Anngap saja ini sebagai tanggung jawabmu untuk apa yang telah kamu lakukan.”

Min Ki mengangguk tanda dia paham, In Jae mengeluarkan kata andalannya “kau akan memiliki --waktu yang sulit--”
In Jae kemudian memberitahu kalau dia sudah menelpon ibu Min Ki, dan menceritakan semuanya. Raut wajah Min Ki langsung berubah. In Jae melanjutkan kalimatnya. Bahkan jika dia menjadi Min Ki, dia tidak akan bisa dengan mudah menceritakan pada ibunya. In Jae memberitahu kalau ibu Min Ki sangat terluka karenanya. “Ibumu sangat mencintaimu Min Ki”

Min Ki tidak mampu berkata apa-apa, dia jadi teringat pelukan ibunya yang tiba-tiba pagi tadi.
In Jae berkata kalau semuanya sudah berlalu. “Bahkan hal-hal yang tampak seperti masalah besar akan cepat berlalu. Jadi mampulah bertahan selama menunggu semua itu berlalu karena itu merupakan sebuah kekuatan”

Min Ki mengangguk, dan meneteskan air matanya. Dia merasa kata-kata In Jae benar, bahwa jalan terbaik adalah dengan bertahan, dan semuanya juga akan hilang seiring berjalannya waktu.



Se Chan memeritahu siswa di kelasnya, kalau kejadian yang terjadi di sekolah saat ini sedang diselidiki. Lomba Essai juga tetap akan diadakan selama istirahat berikutnya.

Kyung Min berkata kalau bukankah Se Chan sudah menangkap siapa yang membocorkannya? Se Chan menjawab kalau itu sedang diselidiki saat ini. Se Chan kemudian memberitahu kalau guru sastra korea yang baru akan datang 1 minggu lagi.



Wajah Jung Hoo langsung berubah mengetahu kalau In Jae akan digantikan oleh yang lain. Nam Soon dan Heung Soo sama-sama menundukkan kepala mereka saat mendengar kabar itu.

Se Chan memanggil Oh Jung Hoo sebelum dia mengakhiri kelasnya. Se Chan menyuruh Jung Hoo untuk mengikutinya setelah kelasnya selesai.



Saat guru Kang sudah meninggalkan kelas. Kang Joo bertanya pada Ha Kyung tentang kebenaran berita ini? Benarkah guru Jung akan segera digantikan oleh guru yang lainnya.
Ha Kyung hanya diam.



Di ruang guru, Uhm Dae Woong sedang memeriksa lemari yang dibuka paksa sehingga akhirnya rusak karena insiden semalam. Ada In Jae juga disana yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Uhm Dae Woong tiba-tiba bertanya dimana keberadaan guru Kang saat ini?
In Jae menjawab kalau Se Chan sedang mengisi kelas tadi.





Guru Uhm melihat Kang Se Chan segera memanggilnya. Jung Hoo juga ada disana, karena tadi Jung Hoo memang diminta untuk mengikuti Se Chan saat kelasnya sudah selesai.
Se Chan segera berbalik diikuti Jung Hoo. Dae Woong berkata kalau lemari benar-benar rusak. Apa Se Chan benar-benar tidak tahu apa-apa?
Jung Hoo kaget mendengar kata-kata guru Uhm itu.



Se Chan dengan anehnya menjawab kalau itu adalah ulahnya. Dae Woong berkata kalau dia hanya akan memriksa CCTV saja. Se Chan langsung menarik tangan guru Uhm yang akan segera ke ruang CCTV.



Se Chan tentu tidak mau kejadian yang sebenarnya terungkap, bisa berbahaya untuk Jung Hoo, karena dia pasti akan langsung dikeluarkan.

Se Chan mencoba menjelaskan kalau sebenarnya memang ada seseorang yang mau mengambil ponsel di lemari, tapi itu adalah ponselnya sendiri, tapi kemudian dia mengembalikannya lagi. Se Chan menjelaskannya dengan sedikit terbata-terbata.

Dae Woong tiba-tiba memandang Jung Hoo yang terlihat gelisah, dan sepertinya sudah mengambil kesimpulan kalau itu pasti ulah Jung Hoo. Dae Woong langsung bertanya apa itu Jung Hoo yang melakukannya?
Se Chan menjawab kalau orang yang dimaksud bukan Jung Hoo.

Dae Woong semakin tajam menatap Jung Hoo. Dan tanpa basa-basi Dae Woong langsung menyuruh Jung Hoo untuk mengikutinya.

Jung Hoo, dan Se Chan hanya saling memandang saja.
Bingung mungkin. Se Chan tidk berharap ini akan terjadi, sedangkan Jung Hoo, dia sama sekali tidak berharap bisa berhubungan dengan guru Uhm saat ini.



Guru Uhm berdua saja dengan Jung Hoo. Dae Woong berkata kalau apa yang Jung Hoo lakukan semalam itu adalah melanggar hukum. Jung Hoo hanya menjawab tanpa semangat kalau dia sudah tahu itu.

Dae Woong berkata kalau Jung Hoo melakukannya dengan baik. Pasti sangat sulit harus meletakkannya kembali. Tapi karena dia tidak bisa membiarkan Jung Hoo lolos begitu saja, maka Jung Hoo harus melakukan 5 hari kerja sukarela dan membuat permintaan maaf secara tertulis.

Jung Hoo pun diperbolehkan pergi oleh guru Uhm. Saat Jung Hoo sudah berdiri dan akan melangkah, tiba-tiba Uhm Dae Woong bertanya kenapa Jung Hoo harus kembali semalam? Apa alasannya? Apa Jung Hoo takut dikeluarkan dari sekolah?

Jung Hoo menjawab bukan itu alasannya.
Dae Woong bertanya lalu apa? Dengan sedikit enggan Jung Hoo menjawab “Ini karena guru Jung. Aku sangat khawatir guru Jung akan benar-benar dipecat karena aku.”

(Ya ampuunn…Jung Hoo swit sekali kamuh..^^)



Ibu Min Ki menepati janjinya untuk menemui In Jae di sekolah. In Jae berkata kalau Min Ki sepertinya sudah stabil sekarang. Ibu Min Ki sendiri dalam keadaan yang berbeda dari biasanya. Wajahnya pucat.

In Jae dengan hati-hati menyarankan agar Min Ki dan ibunya melakukan konseling bersama-sama. Ibu Min Ki kali ini sama sekali tidak membantah, dia hanya menjawab kalau dia akan mengurus semuanya dengan baik.

In Jae berkata kalau dia hanya akan memastikan kalau Ibu Min Ki dan anaknya benar-benar bisa melakukannya.Ibu Min Ki mengucapkan trima kasih karena In Jae sudah merawat Min Ki. In Jae menjawab itu tidak apa-apa.



Jung Soo mengadakan rapat dengan Soo Chul, Se Chan dan Dea Woong. Mereka membahas tentang bagaimana caranya soal Essai bisa bocor? Jung Soo bertanya pada Dae Woong bagaimana caranya kok kebocoran soal bisa terjadi? Dae Woong juga menjelaskan kalau ibu Min Ki mendapatkannya dari sebuah akademi, jadi sekarang kemungkinan terbesar kebocoran terjadi di lingkup sekolah.

Se Chan bertanya dimana tepatnya akademi itu? Dia akan mencoba untuk mencari tahu kebenarannya, karena dia punya beberapa koneksi.

Soo Chul langsung kaget mendengar perkataan Se Chan itu.



Min Ki menemani ibunya menuju parkiran mobil. Ibu Min Ki berkata agar Min Kim mau menemuinya di rumah nanti. Min Ki menjawab iya. Ibu berkata agar Min Ki tidak hilang semangat, karena dia melihat Min Ki seperti orang yang tidak punya kemauan.

“Apa ada orang-orang yang berbicara tentangmu? Apa kau ingin pindah?”

Min Ki menggeleng dan berkata kalau dia baik-baik saja. Bahkan jika dia pindah maka berita itu juga akan tetap mengikutinya. Jadi, lebih baik kalau dia tetap disini. Dekat dengan anak-anak membuat dia merasa lebih mudah menjalaninya.

Tanpa disangka ibu Min Ki berkata “Apapun yang ingin kau lakukan di perguruan tinggi, maka lakukanlah. Meskipun aku tidak tahu apa itu hal yang benar”

Min Ki terkejut dan bertanya “sungguh?”

Ibu Min Ki menjawab kalau itu benar, dan dia akan segera mengurus ulang spesifikasi yang sesuai dengan apa yang Min Ki inginkan.
Min Ki tersenyum senang. Namun Ibu Min Ki tetap menginginkan agar Min Ki masuk Universitas S.
Min Ki mengeluh lagi, tapi ibunya berkata jangan berkata apa-apa padanya lagi. Karena dia juga butuh waktu seperti juga Min Ki.

Ibu Min Ki mengelus rambut Min Ki, menunjukkan rasa sayangnya yang begitu dalam pada anaknya ini. Seolah memberitahu Min Ki bahwa dia sangat menyesal dengan semua sikapnya. Tanpa berkata apapun, ibu min Ki langsung menuju mobilnya.



Sementara itu Se Chan terlihat sedang sibuk menelpon. Mungkin dia sedang mencari tahu siapa yang membocorkan soal Essai. Tiba-tiba masuklah Soo Chul dengan diam-diam dan sedikit kikuk, Se Chan tetap dengan ponsel yang tertempel ditelinganya, menunggu panggilannya diterima.

Karena Soo Chul begitu gugup, Se Chan membatalkan niatnya menelepon, dan mendengar apa yang akan Soo Chul katakan. Soo Chul menjelaskan kalau ada kesalahpahaman disini. Dia bercerita kalau saat itu dia sedang mabuk. Se Chan merasa tertarik dan Soo Chul pun melanjutkan ceritanya. Adik nya kerja di sebuah akademi yang ada di kampung halamannya. Adiknya meminta sedikit informasi tentang soal Essai karena merasa ide-ide dari kota tentu lebih menarik. Dia tidak menyangka kalau Min Ki menghadiri akademi itu. Kalau dia tahu dia tidak mugkin akan melakukan hal itu. Dia bukan tipe seperti itu. Soo Chul mencoba meyakinkan Se Chan. Dia memegang tangan se Chan yang sedang bersedekap. Soo Chul berkata kalau impiannya adalah menajdi kepala sekolah. Seorang kepala sekolah tentu harus jujur, dan menjunjung kebenaran.

Se Chan berkata kalau dia sudah menduga situasi seperti itu. Sebuah akademi memang membutuhkan informasiu untuk bisa berkembang. Bahkan bisa menghabiskan sejumlah uang untuk mendapatkan informasi, atau malah berusaha untuk mencurinya.
Soo Chul meminta agar Se Chan mau membantunya untuk masalah ini. Soo Chul bahkan memegang tangan Se Chan, dan benar-benar memohon.



Se Chan melepaskan pegangan tangan Soo Chul dan berkata kalau dia tidak bisa melakukan itu untuk Soo Chul. Dia bisa bertindak sebagai saksi untuk melaporkan hal ini dan tentunya juga akademi tersebut.

Soo Chul menutup muka dengan tangannya, dan berkata dia sangat malu. Dia masih mencoba merayu Se Chan agar mau menutupinya kesalahannya.



Se Chan menceritakannya pada In Jae tentang Wakasek Soo Chul yang ternyata tidak sengaja membocorkan soal Essai itu. In Jae berkata pasti Wakasek memiliki waktu yang sulit saat ini. Jadi, sepertinya In Jae harus berhati-hati dengan apa yang dia katakan setelah keluar sekolah.
In Jae bertanya bisakah Kang Se Chan meluangkan waktu untuknya sebentar setelah kelas selesai?

Se Chan bingung kenapa In Jae ingin dia meluangkan waktu untuknya?? In Jae menjelaskan sebelum kepergiannya dia ingin memberikan semua tugas-tugasnya pada Se Chan, dan bebrapa catatan penting yang harus Se Chan tahu.
Se Chan menjawab tunggu dulu sebentar, sambil melihat jam tangannya dan kemudian berkata kalau dia sepertinya sangat sibuk, jadi dia tidak bisa meluangkan waktunya untuk In Jae.

In Jae kemudian berkata kalau ini adalah kenyataan, jadi Se Chan harus coba untuk bisa menerimanya. Jangan terus menghindar seperti ini. “Semua orang ingin pergi ke Universitas S. Banyak guru yang tidak bisa menjadi guru seperti yang mereka inginkan. Jika mereka tidak bisa, apa yang harus mereka lakukan setelah itu.. Aku tidak bisa melihat itu..Itu sebabnya..”

Kalimat In Jae terputus karena bel tanda kelas berbunyi, Se Chan berkata kalau dia harus mengajar saat ini.

Se Chan pun melangkah menuju kelas.



Joong Hyun yang melihat Se Chan dari jendela kemudian bergosip dengan Ki Deok. Joong Hyun berkata kalau mungkin saja Se Chan yang membocorkan soal essai, karena Se Chan kan juga mengajar di akademi. Apalagi gaji guru kan tidak banyak. In Jae kemudian melihat dari jendela di luar kelas kelakuan anak-anak didiknya. Sebelum akhirnya memutuskan untuk segera masuk.



In Jae masuk dan berkata pada murid-muridnya kalau pasti ada dari mereka bertanya-tanya tentang sesuatu setelah insiden lomba essai. In Jae menceritakan kalau ada seorang guru yang tanpa sengaja berbicara tentang pertanyaan essai pada orang yang bekerja di akademi. In Jae memberitahu kalau sepertinya orang itu tidak tahu kalau kejadiaannya akan seperti ini, karena niat awal orang itu hanya ingin membantu. Itu memang akademi dimana Min Ki mengikutinya.

Anak-anak bertanya siapakah gurunya? In Jae menjawab kalau untuk saat ini yang jelas bukan guru Kang. Hanya saja ada guru lain yang melakukan kesalahan.

Nam Kyung min bertanya bagaimana mereka bisa percaya kalau itu memang benar-benar sebuah kesalahan. In Jae menjawab kalau Kyung Min tidak percaya, ya tidak ada lagi yang bisa dia lakukan atau katakan. In Jae hanya berpesan untuk tolong percaya pada guru. Itu saja.

“Bukankah lebih sulit untuk bersekolah, jika kau tidak percaya pada guru yang kau lihat setiap hari?”

Anak-anak merasa kata-kata In Jae adalah benar. In Jae juga berkata kalau guru itu sudah sadar kesalahannya dan tidak akan mengulanginya lagi, karena dia cukup syok dengan insiden ini. Namun anak-anak tidak perlu berfikir bahwa semua guru akan membuat kesalahan yang sama seperti itu. In Jae menyebut kalau ini adalah kesalahan “generalisasi yang tergesa-gesa”

In Jae kemudian mencoba berkata tentang Min Ki. Semua kemudian menoleh pada Min Ki. In Jae mengatakan kalau meskipun Min Ki mendapatkan bocoran soal itu, sepertinya mereka melupakan bahwa Min Ki tidak mengambil kesempatan itu. Dia sudah mendapatkan soal yang sama persis, jika dia mau, dia bisa mengisinya dengan akurasi 99% benar. Tapi Min Ki tidak mau, dia tidak ingin melakukan kecurangan seperti itu, sehingga dia hanya meninggalkannya begitu saja diatas meja. In Jae bertanya jika itu terjadi pada mereka, apa mereka juga akan melakukan sesuatu seperti yang Min Ki lakukan? Itu adalah hal yang tidak bisa dibilang mudah.



Kang Joo melihat kearah Min Ki dengan memberikan isyarat dengan tangannya agar Min Ki semangat. Ha Kyung juga tersenyum seolah mengatakan pada Min Ki kalau semua akan baik-baik saja.

Min Ki menunduk, merasa terharu dengan kepeduliaan teman-teman padanya. Ternyata dia tidak sendiri.



Di kelas tambahan In Jae. In Jae mengatakan kalau kelas hari ini sudah selesai. Masih ada 10 menit tersisa, jadi apa ada yang ingin mereka lakukan di 10 menit terakhir ini?
Han Young Woo mengangkat tangannya dan berkata kalau dia ingin membuat puisi. Jadi tolong ajari dia bagaimana caranya.




In jae senang sekali mendengarnya, dan berkata kalau itu adalah ide yang bagus. Jadi ayo mereka melakukannya.
Oh Jung Hoo berkata apa gunanya melakukan itu sekarang. Lebih baik membiarkan mereka pulang saja.

In Jae berkata setidaknya lebih baik mencoba dulu untuk memulainya daripada tidak sama sekali. In Jae menjelaskan kalau membuat puisi itu tidak sulit. Itu bisa saja tentang hal-hal yang mereka alami, atau hal-hal yang ada dipikiran mereka, atau bisa juga mulai menulis tentang emosi. Mereka bisa memulainya dengan hal-hal dasar seperti itu.

In Jae meminta mereka menulis tentang apa yang melintas dipikiran mereka saat ini. Satu kata saja.
Ji Hoon dengan polosnya berkata “Belajar sulit. Sangat sulit”



Young Woo berkata “aku suka puisi”
In Jae tersenyum mendengarnya dan berkata itu adalah hal yang bagus.
Nam Soon ikut berkata sesuatu dan dia menyebut “Aku ingin makan ramen”



In Jae mendekati Heung Soo, dan menggeser tangan Heung Soo yang menutupi apa yang dia tulis dengan telunjuknya. Dan ternyata yang ditulis Heung Soo sama dengan apa yang diucapkan Nam Soon. (Cie..cie..sehati lo..^^)

Heung Soo malu dan menutup mukanya dengan tangan. In Jae berkata apa ada lagi yang ingin makan ramen disini?



In Jae bertanya pada Jung Hoo, yang sedari tadi diam saja. Jung Hoo menjawab kalau dia tidak akan melakukannya. In Jae berkata kalau Jung Hoo tidak melakukannya, maka Jung Hoo tidak akan bisa pulang. In Jae pun membolehkan yang lainnya untuk pulang, kecuali Jung Hoo tentu saja. Walaupun Jung Hoo ingin pulang juga, tiba-tiba Yi Kyung dan Ji Hoon memegang pundak Jung Hoo, dan mendudukkannya kembali di kursi, lalu melangkah keluar kelas.



In Jae memberitahu Jung Hoo untuk menulis apa saja walau itu hanya satu baris. Jung Hoo mengeluarkan ponselnya dan menulis sesuatu disana. Setelah itu Jung Hoo berkata kalau dia sudah menulis dan mengirimnya di nomer In Jae. Jadi In Jae bisa membacanya, dan dia akan pergi sekarang.
In Jae langsung melihat ponselnya, dan membuka SMS dari Jung Hoo.In Jae tersenyum senang saat melihat yang Jung Hoo tulis.



Nam Soon dan Heung Soo ternyata ada di sebuah kedai makan. Mereka memesan ramen disana. Sepertinya Nam Soon yang mengajak Heung Soo untuk makan ramen bersama, karena apa yang ada dipikiran mereka saat kelas In Jae tadi adalah sama.

Heung Soo kesal dan bertanya kenapa Nam Soon harus menulis hal yang sama seperti dirinya? Nam Soon dengan cuek menjawab kalau nyatanya bukan dia satu-satunya yang menulis kalimat itu (Ya wong Nam Soon juga nulis itu.^^)



Nam Soon menyuruh Heung Soo segera makan. Saat Nam Soon sudah akan menyantap ramennya, tiba-tiba tangan Heung Soo menghentikan Nam Soon. Heung Soo berkata kalau mereka harus mengambil foto untuk bukti kalau mereka sudah berbaikan sekarang. (Hahay..lucu..^^)
Nam Soon langsung menyetujuinya dan berkata itu ide yang bagus.



Nam Son mengeluarkan ponselnya dan langsung mendekati Heung Soo. Nam Soon juga merangkul pundak Henug Soo, walau Heung Soo memandangnya dengan tatapan aneh. Tapi terlihat tidak menolak. Nam Soon menyuruh Heung Soo juga memegang ramen sebagai bukti.
Dan jepret..berfotolah mereka..

(Sangat lucuuuu..^^)



Heung Soo langsung menyuruh Nam Soon menjauh setelah mereka selesai berfoto.
Tiba-tiba ponsel Heung Soo berdering dan Heung Soo menerimanya. Heung Soo bertanya kenapa harus dia yang ditelepon? Sepertinya dari Yi Kyung. Kayaknya tentang jung Hoo deh.

Heung Soo bertanya berapa banyak? Nam Soon langsung melihat kearah Heung Soo. Heung Soo langsung menutup teleponnya, dan menceritakan itu pada Nam Soon. Heung Soo bilang kalau Jung Hoo tertangkap oleh anggota preman itu, dan mereka menyuruh Jung Hoo melunasi hutangnya pada preman-preman itu. Jumlahnya 300 ribu won.

Heung Soo memengang kepalanya, jadi pusing karena masalah yang ditimbulkan Jung Hoo kali ini.



Nam Soon bertanya apa yang akan Heung Soo lakukan?
Heung Soo mengeluh kalau Jung Hoo memang bajingan kecil. Heung Soo berdiri terlihat akan menghampiri Jung Hoo disana, tapi Nam Soon langsung memegang tangan Hueng Soo dan bertanya apa yang akan Heung Soo lakukan disana? Ini adalah kesalahan Jung Hoo. Heung Soo menjawab setidaknya mereka harus membawa Jung Hoo keluar dari tempat itu. Nam Soon menyuruh Heung Soo pergi duluan, nanti dia akan menyusul.



Heung Soo menemui Yi Kyung yang sudah menunggunya. Yi Kyung bertanya mana Nam Soon? (berharap Nam Soon yang kuat yang akan melawan preman-preman itu kan?)
Heung Soo menjawab kalau dia tidak tahu dimana Nam Soon.

Ji Hoon juga datang dan Yi Kyung bertanya bagaimana bisa Ji Hoon datang padahal tadi menolak? Ji Hoon menjawab bagaimana mungkin dia tidak datang? Yi Kyung langsung menggandeng tangan Ji Hoon dan mengajaknya segera pergi ke tempat Jung Hoo. Heung Soo pun mengikutinya.



Nam Soon ternyata kembali ke kelas, dan membuka sebuah loker. Didalamnya ternyata ada celengan berbentuk babi. Nam Soon mengeluarkan celengan itu dan memandangnya. Itu sepertinya uang hasil denda dari siswa yang terlambat datang. Nam Soon terlihat ragu untuk menggunakannya. Bahkan tertulis di badan celengan “Denda terlambat. Tolong jangan sentuh”

Namun Nam Soon membulatkan tekadnya, dia memperkirakan, kalau celengan itu berisi 300 ribu won lebih, dan tentu bisa untuk menyelamatkan Jung Hoo. Nam Soon juga sudah memikirkan untuk mengembalikan isi uang itu.



Jung Hoo yang berada di tempat billiard sudah terlihat babak belur. Preman-preman itu tanpa ampun menghajarnya. Lalu masuklah Ji Hoon, Yi Kyung dan Heung Soo. Jung Hoo terlihat malu dengan kondisinya yang seperti ini, apalagi juga ada Hueng Soo.



Yi Kyung bahkan hampir menangis melihat keadaan Jung Hoo yang sudah tidak berdaya. Heung Soo meminta mereka melepaskannya karena pasti dia dan yang lain akan membayar mereka nanti. Heung Soo meminta preman-preman itu untuk menunggu beberapa hari. Heung Soo bahkan dengan menundukkan kepala mengatakan hal itu.
Preman-preman itu berkata kalau begitu Heung Soo harus membayar bunganya hari ini juga.



Yi Kyung marah dan berteriak kalau bukankah Jung Hoo tidak punya utang pada mereka? Preman-preman itu menjawab apa mereka mau menggunakan tubuh mereka untuk dipukuli sebanyak jumlah hutang Jung Hoo, 300 ribu won?



Kemudian masuklah Nam Soon dan berteriak memanggil Oh Jung Hoo. Nam Soon masuk dengan pandangan marah dan kemudian langsung melemparkan celengan babinya ke lantai, sehingga berhamburanlah uang receh didalamnya.

Preman itu bertanya apa ini? Apa Nam Soon menyuruhnya mengambil sendiri uang-uang koin itu? Nam Soon menjawab dengan senyumnya kalau celengan itu berisi 300 ribu won lebih, jadi silakan ambil itu dan tinggalkan Jung Hoo.

Heung Soo mengarahkan pandangannya ke celengan babi yang sudah tergeletak tidak berdaya (Apaan siii Ay..^^)
Dan Heung Soo melihat tulisan di tubuh celengan itu. Heung Soo akhirnya tahu kalau itu adalah uang denda para siswa yang terlambat.



Nam Soon akhirnya berhasil keluar bersama yang lain. Saat mereka diluar Yi Kyung bertanya apa uang yang Nam Soon pakai tadi adalah denda keterlambatan yang dikumpulkan teman-teman? Nam Soon menjawab iya, dan dia meminta agr mereka smeua tidak lari dari kewajiban untuk melunasinya. Setiap dari mereka harus mengumpulkan 50 ribu won dalam 3 hari ini agar uangg di celengan bisa terkumpul lagi.

Jung Hoo menjawab kalau dia akan membayarnya sendiri. Jung Hoo lalu melangkah pergi, Yi Kyung langsung menyusul Jung Hood an berteriak kalau mereka akan membayarnya bersama-sama.
Ji Hoon dengan terbata-bata mengucapkan terima kasih pada Nam Soon dan Heung Soo.



Setelah mereka bertiga pergi, Heung Soo bertaya darimana Nam Soon belajar tentang ini? Nam Soon tersenyum dan menjawab, kalau dia belajar itu semua dari Heung Soo.



In Jae menyerahkan buku administrasi kelas pada Se Chan. In Jae dengan tersenyum berkata pada Se Chan kalau hari ini Jung Hoo menulis puisi. Se Chan tidak percaya dan bertanya apa yang ditulis Jung Hoo? In Jae kemudian membacakan sms yang dikirimkan Jung Hoo padanya dan melihatkannya pada Se Chan agar Se Chan percaya. Isi SMS Jung Hoo “Apa bisa berubah dengan menulis satu baris puisi?”

Se Chan merasa heran dan bertanya apa itu sebuah mahakarya sehingga In Jae begitu senang?In Jae menjawab kalu menurutnya ini melegakan. In Jae masih dengan tersenyum senang berkata kalau sepertinya Jung Hoo memiliki keterampilan menulis puisi. Se Chan menjawab apa dengan kalimat sebaris itu bisa dikatakan kalau Jung Hoo memiliki keterampilan? In Jae menjawa iya.



In Jae datang ke Seungri. Dia terdiam saat memasuki halaman sekolah itu. Merasa waktunya sudah semakin dekat untuk meninggalkan mereka semua. Sekolah dan anak-anak didik yang dia sayangi.
Nam Soon kemudian berdiri di samping In Jae dan tersenyum manis padanya. In Jae malah berkomentar kalau Nam Soon datang lebih awal dan kemudian berpesan agar Nam Soon tidak terlambat lagi untuk datang ke sekolah. Usahakan juga untuk bisa belajar.



Nam Soon kemudian berkata tentang menulis puisi, bisakah guru-guru lain mengajarkannya pada mereka? In Jae menjawab tentu saja, jika kalian memang mau.

“Bisakah mereka mengajar sebaik guru?”

In Jae tersenyum dan kemudian mengangguk. Kemudian Nam Soon memasang wajah lucunya, lalu bertanya apa guru-guru lain juga bisa membuat Oh Jung Hoo mau menulis puisi? Karena dia dengar Jung Hoo berhasil menulis puisi kemarin, walau hanya satu baris saja.

Nam Soon berkata kalau ini sangat sulit di kelas, apalagi semua orang mengeluh kalau tidak ada guru Jung. Semua juga gugup tentang apakah guru Jung jadi pergi atau tidak. Jadi apakah guru Jung serius akan pergi?
In Jae tidak menjawab sama sekali. Nam Soon berkata lagi “Bagaimana mungkin orang dewasa lebih mudah mneyerah daripada murid-murid?”



Di kelas 2-2, Shin Hae Seon mengeluh pada sahabatnya Gae Na Ri kalau ini adalah hari terakhir guru Jung. Semua ikut mengeluh akan kehilangan guru Jung. Nam Soon dan Heung Soo yang akan masuk ke kelas terhenti dan mendengar semua yang teman-teman bicarakan.



Heung Soo bertanya apa yang akan Nam Soon lakukan? Nam Soon balik bertanya kenapa? Heung Soo berkata bukankah Nam Soon ketua? Apa Nam Soon yakin tidak akan melakukan apapun?



Nam Soon masuk ke kelas, dan kemudian berdiri di depan, ingin menyampaikan sesuatu. Teman-teman masih belum memperhatikan Nam Soon, karena semua masih sibuk dengan kegiatannya. Heung Soo yang tahu Nam Soon tidak diperhatikan, langsung berteriak “Ah, jangan berisik”

Akhirnya smeua siswa pun memperhatikan Nam Soon. Nam Soon berkata kalau dia ingin mengumpulkan pendapat mereka semua tentang mereka yang ingin menentang guru Jung untuk pergi.

Eun Hye mengejek Nam Soon yang sekarang sepertinya sudah benar-benar menjadi ketua kelas. Memang apa yang bisa Nam Soon lakukan untuk mengubahnya? Itu kan sudah diputuskan.
Ha Kyung membela Nam Soon dengan mengatakan kalau Nam Soon hanya ingin mencobanya dan melihat sejauh mana ini akan berhasil (bela terus Song..^^)



Kang Joo ikut berpendapat kalau dia senang bisa memiliki mereka berdua, guru Jung dan guru Kang. Ki Deok bahkan dengan lebaynya berkata kalau dia akan memilih guru Jung apapun yang terjadi, karena guru Kang menurutnya terlalu dingin.



Ha Kyung berkata pada Nam Soon, sehingga Nam Soon akhirnya menunduk lebih dekat kearah Ha Kyung. Ha Kyung berkata kalau dia menyarankan agar Nam Soon membuat teman-teman mengangkat tangannya untuk yang tidak setuju guru Jung pergi. Nam Soon paham dan kemudian berdiri lagi.

Nam Soon berkata kalau dia akna melihat jumlah tangan mereka yang tidak setuju guru Jung pergi.



Han Young Woo adalah yang pertama mengangkat tangannya.



Disusul Kang Joo yang kedua. Lalu hampir semua juga mengangkat tangan mereka.
Ha Kyung tentu saja termasuk didalamnya.



Eun Hye kesal karena semua mendukung guru Jung kembali. Nam Kyung Min juga mengangkat tangannya, tapi menurunkannya sedikit saat Eun Hye menolek kearahnya.



Di ruang guru Nan Hee bertanya pada In Jae bagaimana dengan kelas? Ini kan hari terakhir In Jae? In Jae hanya menjawab iya dan kemudian melangkah ke meja guru Uhm.



In Jae berkata apakah dia boleh pergi sekarang karena dia saat ini tidak memiliki jam mengajar? Guru Uhm berkata kalau mereka harus memberikan perpisahan yang sepantasnya untuk In Jae. In Jae menolak dan berkata itu terlalu memberatkan menurutnya. Jadi lebih baik dia pergi sekarang saja.



Sebelum memutuskan pergi, In Jae melihat untuk terakhir kalinya suasana kelas 2-2 saat Se Chan mengajar, dia melihat dari jendela luar. Didalam terlihat Young woo yang sedang mencoba bolpoinnya.



Nam Soon yang hanya diam tanpa melakukan apapun. Heung Soo juga sama dengan Nam Soon. Sedangkan Ki Deok malah memilih tidur dengan lelapnya.



Sementara Min Ki terlihat sedang memperhatikan dengan serius pelajaran Se Chan.

In Jae menangis. Dia tidak mampu menahan air matanya. Dia pasti merasa berat melepaskan mereka semua yang dia sayangi. Berharap masih bisa melihat mereka naik ke kelas 3, tapi itu sepertinya hanya mimpi.



Se Chan yang sedang asik mengajar tanpa sengaja menoleh ke jendela dan melihat In Jae yang sedang menangis. Se Chan langsung terdiam dan tertegun melihat In Jae.



Se Chan mengakhiri kelasnya untuk hari ini, kemudian Nam Soon berdiri dan berkata kalau mereka sudah mengumpulkan pendapat. Se Chan biungung dan bertanya pendapat apa? Nam Soon kemudian memperlihatkannya. Se Chan terkejut.



Se Chan kemudian menyerahkan pendapat siswa kepada Jung Soo sebagai kepala sekolah. Diruangan itu juga ada Soo Chul menemani.
Se Chan berkata kalau itu adalah pendapat anak-anak, pernyataan keberatan mereka. Jadi lebih baik kalau Jung Soo membiarkan guru Jung kembali ke posisinya.
26 anak jelas-jelas mendukung agar guru Jung kembali menjadi wali kelas mereka.

Jung Soo berkata kalau ini agak terlambat, karena pengunduran dirinya sudah diproses, dan itu agak sulit untuk membatalkannya. Lagian apa guru Jung punya kemauan untuk mengajar lagi?

Se Chan kembali menekankan tentang pendapat anak-anak. Anak-anak menolak kepergian guru Jung, jadi kalau sekolah bisa mengusahakan sesuatu untuk kembalinya guru Jung, maka guru Jung memiliki kesempatan untuk memikirkannya kembali.
Jung Soo masih tetap mepertahankan keputusannya untuk menolak pendapat anak-anak. Sedangkan Se Chan sepertinya sudah pasrah, karena Jung Soo terlalu keras kepala.



Se Chan tidak menyerah, dia menoleh kepada Soo Chul. Karena Soo Chul sudah dibantu Se Chan maka Soo Chul kali ini harus bisa membantunya. Soo Chul yang paham akan pandangan Se Chan langsung salah tingkah, tapi kemudian berkata kalau dia bisa melakukan sesuatu untuk masalah ini, karena dia berfikir masalah ini bukan maslah yang sulit diselesaikan.

Se Chan tersenyum penuh makna pada Soo Chul dan membenarkan perkataannya. Jung Soo kemudian bertanya benarkah ini bisa dilakukan dengan mudah? Soo Chul kemudian berkata tentu saja, lagian tidak mudah menemukan guru seperti guru Jung.



Jung Soo kemudian menyetujuinya, dan berjanji akan menemukan solusi yang pas untuk masalah ini. Jadi mereka berdua bisa kembali ke ruangan mereka dan menunggu.

Soo Chul adalah yang pertama kabur, sedangkan Se Chan menunduk dalam-dalam tanda agar Jung Soo benar-benar mengusahakannya. Mana ada Se Chan mau membungkukkan badannya sedalam itu, jika hanya sekedar rasa hormat saja.



Se Chan yang masuk ke ruang guru, dan melihat In Jae sedang beres-beres, menyuruh In Jae menghentikannya. Se Chan malah bertanya kenapa In Jae berkemas sekarang? In Jae menjawab kalau dia akan pergi lebih awal.



Joong Hyun yang kebetulan lewat di depan ruang guru melihat In Jae sedang berkemas. Joong Hyun juga mendengar kata-kata Se Chan masih ada yang ingin dia ketahui. In Jae menyuruh Se Chan bertanya sekarang saja.
Se chan masih mencoba mengulur waktu In Jae dengan berkata kalau sekarang waktunya Cuma sedikit.



Jong Hyun dengan cepat masuk ke kelas 2-2, dan mengabarkan apa yang baru dilihat dan didengarnya pada semua. Joong Hyun berkata kalau apa yang mereka lakukan percuma karena guru Jung sudah mengemasi semua barangnya. Min Ki yang awalnya cuek, ikut menoleh kearah Joong Hyun.
Kang Joo juga ikut melihat kearah Joong Hyun. Na Ri berkata benarkah guru Jung harus pergi?



Ha Kyung berjalan mendekati mereka, dan berkata setidaknya ini melegakan karena paling tidak guru Jung tahu apa yang mereka inginkan. Kang Joo ikut berpendapat kalau ada baiknya mereka menyiapkan pesta perpisahan yang bagus untuk guru Jung. Jadi mari mengumpulkan uang.



Anak-anak sepertinya protes karena mereka kan tidak memiliki uang. Kang Joo jadi bingung dan bertanya lalu apa dong yang akan mereka lakukan?

Ha Kyung dengan tersenyum berkata bukankah mereka mempunyai biaya keterlambatan? Kang Joo senang dan berkata betul, yang ada di kanan loker Nam Soon.



Heung Soo terkejut mendengarnya, karena uang di celengan babi itu kan sudah dipakai untuk menyelamatkan Jung Hoo.
Jung Hoo yang ada di luar kelas ikut kaget, begitu juga dengan Yi Kyung dan Ji Hoon.



Ki Deok menyuruh Nam Soon untuk segera membukanya, dan memecahkan celengan babi itu.



Nam Soon dan Heung Soo saling berpandangan. Heung Soo benar-benar cemas dengan apa yang akan terjadi, karena terlihat dari sorot matanya pada Nam Soon.



In Jae sudah siap akan pergi, tapi kemudian Se Chan berkata apa In Jae tidak ingin mengucapkan selamat tinggal pada anak-anak? Se Chan masih mencoba mengulur waktu menunggu Jung Soo yang tidak kunjung datang.Guru yang lain pun mendukung karena In Jae harus mengucapkan selamat tinggal pada mereka dulu. Rasanya tidak adil kalau In Jae pergi begitu saja, karena In Jae kan wali kelas mereka juga.
Se Chan bahkan mencoba mengambil kotak yang berisi barang-barang In Jae dan menyuruh In Jae menunggu sebentar lagi.



Kemudian masuklah Jung Soo, orang yang Se Chan harapkan kehadirannya sedari tadi. Jung Soo tentu didampingi Soo Chul.
In Jae berkata kalau dia baru saja berniat mengucapkan selamat tinggal secara pribadi pada Jung Soo.

Jung Soo berkata setelah melihat yang dilakukan kelas 2-2, dan berusaha mencari solusinya tapi memang ini adalah sulit untuk dilakukan.

In Jae bingung dengan apa yang dikatakan kepala sekolah, dia menoleh memandang Se Chan. Se Chan menjelaskan kalau anak-anak mengumpulkan pendapat mereka kalau mereka menolak In Jae pergi.
Uhm Dae Woong terlihat tersenyum mendengar kata-kata itu.



Jung Soo tersenyum dan berkata kalau hampir saja In Jae pergi tanpa mereka(anak-anak kelas 2-2) tahu. Soo Chul berkata kalau dia sedang berusaha mencari cara untuk memecahkan masalah ini. Jung Soo kemudian menyela, ada hal tidak boleh dilupakan bahwa kontrak guru pengganti In Jae juga sudah disepakati. Bukankah akan terlalu banyak kalau sekolah memiliki 3 guru sastra korea?

Se Chan kemudain berkata tidak, itu tidak terlalu banyak. Jung Soo bingung dengan maksud Se Chan. Se Chan kemudian melanjutkan kata-katanya “Aku akan berhenti..sekarang”




source : http://nhieshe.blogspot.com/2013/03/sinopsis-school-2013-episode-13-part-1.html and http://nhieshe.blogspot.com/2013/03/sinopsisschool-2013-episode-13-part-2.html
re-posted and re-edited by : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment