Saturday, June 29, 2013

School 2013 Episode 15

Ki Deok masuk ke kelas 2-2, dengan menari-nari dan bernyanyi-nyanyi.
Siswa lain menyuruh Ki Deok agar jangan berisik.
Ki Deok seolah tersadar dan berkata “Oh Hyungnim (Heung Soo maksudnya)”
Dia memasang wajah sedih karena Heung Soo ditangkap.
Ki Deok bahkan memegang meja dimana Heung Soo duduk, dan seolah berbicara pada meja itu. Ki Deok berkata kalau polisi menuduh Hyungnim pelakunya.
Joong Hyun membenarkan hal itu, dan berkata kalau Heung Soo bahkan tidak takut dengan kekuatan polisi.



Yi Kyung kesal karena semua seolah menjelek-jelekkan Heung Soo. Dia berdiri dan menendang mejanya ke depan, sehingga menimbulkan suara yang membuat Joong Hyun dan Ki Deok serta lainnya kaget. Yi Kyung berkata kalau mereka semua salah.

Joong Hyun kemudian berkomentar kalau menurutnya ini aneh, kalau sampai polisi datang skalanya pasti sudah berbeda.
Yi Kyung menjawab karena itulah pelakunya bukan Heung Soo. Apa mereka pikir hanya dengan bukti foto, Heung Soo pergi ke kantor polisi dengan tuduhan mencuri?



Ki Deok berkata kalau Yi Kyung benar, dan kemudian kembali memegang meja Heung Soo, menatapnya dengan sedih. Lalu dengan konyolnya Ki Deok bertanya pada meja Heung Soo kalau ini bukan Hyungnim kan pelakunya. “Ayo jawab Hyungnim”
LOL



Temen Ki Deok bertanya kalau bukan Heung Soo pelakunya, kenapa petugas polisi membawa Heung Soo? Ha Kyung menjelaskan kalau heung Soo tidak ikut pelajaran olahraga kemarin dan tinggal di kelas. Jadi karena itu Heung Soo dibawa untuk diselidiki dulu, bukan berarti dia pelakunya.




Nam Kyung Min berkata kalau polisi sudah datang, berarti tandanya mereka sudah menemukan pelakunya.Eun Hye ga kalah sinisnya berkata itu sebabnya kelas juga harus dipasangi CCTV.



Kang Joo bertanya apa itu masuk akal? Hanya karena satu hal, kita semua dipantau sepanjang hari. Apa mereka semua mau seperti itu? tentu saja anak-anak menggeleng tidak maun, mereka berkata itu sangat mengerikan.
Min Ki ikut bicara,karena ini belum pasti lebih baik mereka menunggu saja hasilnya. Apalagi guru Kang juga berpesan agar kita jangan berasumsi dan mengatakan appaun jika belum tahu kebenarannya. Jadi ayo duduk kembali, dan menunggu.



In jae dan Se Chan masih terdiam di tempatnya. Mereka masih syok dengan kejadian ini. Se Chan hanya melihat In jae yang ada di dekat jendela, dan berkata “Pertama..duduklah dulu..”

In Jae pun mematuhinya dan duduk di kursi depan Se Chan. Se Chan bertanya kenapa Heung Soo bisa ada di masa percobaan? In Jae menjawab kalau dia tidak menanyakan itu secara detail. In Jae kemudian bertanya apa yang harus mereka lakukan sekarang?
Se Chan dengan tersenyum berkata “Kita harus pergi kesana, dan membawanya kembali.”
Se Chan beralasan kalau Heung Soo baru saja dalam tahap berdamai dengan Nam Soon. Se Chan meminta agar In Jae tidak khawatir. In Jaepun mengangguk.

Kemudian Se Chan berkata tentang Heung Soo yang terakhir kali menghadapi polisi. Saat itu, apa patroli tidak mengatakan apa-apa? In Jae menjawab kalau patroli tidak menangani hal –hal seperti ini. Ini memang tugasnya polisi, jadi dia tidak tahu. In Jae berkata kalau Heung Soo sudah sering dipindahkan, jadi polisi mencurigainya untuk berjaga-jaga saja.

Se Chan bertanya apa guru lain tahu hal ini? In Jae menggeleng dan berkata kalau polisi dan dia langsung ke ruangan ini. Se Chan berkata kalau begitu hanya mereka berdua yang tahu saat ini.
In Jae menatap Se Chan dengan pandangan heran, dan Se Chan bertanya kenapa In Jae menatapmya seperti itu?
In Jae tersenyum dan menjawab kalau menurutnya Se Chan sekarang mulai berubah (Duuhh,,jangan bilang gitu,,entar dia balik lagi lo kayak dulu..nyebelin..hehe)

In Jae berkata kalau beberapa waktu yang lalu Se Chan bilang tanggung jawab seorang guru untuk melapor ke sekolah jika terjadi sesuatu pada siswa. Tapi sekarang Se Chan bakhkan berusaha menutupinya agar sekolah tidak tahu.
Se Chan jadi salah tingkah, bingung bagaimana menjelaskan. Mungkin dia sendiri tidak sadar kalau dia sudah berubah. ^^
“Saat kau menjalani hidup, terkadang ada pengecualiaan.”



Nam Soon melangkah gontai saat melewati lorong kelas. Dia bahkan tidak ikut pelajaran pada jam itu. Dia hanya terdiam, pikirannya menerawang mencemaskan Heung Soo. Nam Soon berhenti di depan kelasnya melihat ke bangku yang biasa ditempati heung Soo, tidak ada dia disana. Dan itu sungguh mengganggu Nam Soon.
Nam Soon berdiri di luar kelas, diam, dan terus berfikir.



In Jae yang akan ke kantor polisi melihat Nam Soon tidak ikut peljaran, dan segera menghampirinya. Nam Soon yang melihat In Jae, membungkuk hormat pada wali kelasnya itu. In Jae bertanya kenapa Nam Soon tidak ikut pelajaran? Nam Soon malah menjawab “Itu bukan Heung Soo”
In Jae juga mengatakan kalau dia tahu itu. Nam Soon bertanya dimana Heung Soo sekarang? Dia harus bertemu Heung Soo. In jae menjawab kalau dia tahu bagaimana perasaan Nam Soon saat ini, tapi lebih baik Nam Soon masuk ke kelas. Dia akan meliuhat Heung Soo, dan akan segera mengirim SMS pada Nam Soon untuk memberitahu keadaan Heung Soo.

Nam Soon masih diam,dia masih terlihat cemas, dan In Jae kembali berkata kalau menurut Nam Soon ,bukan Heung Soo kan pelakunya. Maka pasti Heung Soo akan segera keluar. In Jae mencoba menenangkan Nam Soon. “meskipun sekarang pikiranmu sedang kacau, tapi jangan meninggalkan kelas, dan segera masuk ke dalam.”

Nam Soon masih terpaku tanpa menjawab dan In Jae segera berlalu.



Di kantor polisi, Heung Soo mendengarkan apa yang dikatakan petugas polisi, kalau saat ini hanya ada kecurigaan saja. Ternyata In Jae juga sudah sampai disana. Petugas mengatakan kalau tersangka membantah dan memang tidak ada bukti yang kuat,jadi Heung Soo kemungkinan akan dilepaskan. In jae dipersilakan untuk membawa heung Soo pulang.



In Jae benar-benar lega (begitu juga aku..^^), Heung Soo akhirnya bisa bebas karena memang tidak ada bukti yang mengarah padanya. In Jae mengajak Heung Soo untuk minum yang hangat dulu sebelum pulang, apalagi cuaca dingin seperti ini.
Heung Soo hanya mengangguk, wajahnya sudah terlihat lega.



Mereka berpindah ke sebuah tempat untuk minum. Tempat yang nyaman, apalagi Heung Soo baru mengalami waktu yang berat. In Jae bertanya apa Heung Soo merasa sangat sedih? Heung Soo menjawab tidak. “Dari saat pertama aku melihat mobil polisi tadi pagi, aku terus berfikir, aku yang akan dibawa nanti”
Heung Soo berkata itu sering dia alami di setiap sekolah yang dia datangi. Jika ada sesuatu maka dia yang pertama menjadi orang yang dicurigai.

In Jae bertanya apa masalahnya? Heung Soo menjawab perkelahian. In Jae menjawab dengan siapa? Heung Soo menjawab gangster top di sebelah sekolahnya. In jae bertanya lagi, apa banyak teman yang terluka karenannya? Hueng Soo menjawab kalau tersangka dibebaskan setelah dua minggu.

In Jae ikut kaget dan mencoba berkata kalau pasti ada penyelesaiaan jika memang tersangka dibebaskan setelah dua minggu. In Jae bertanya lagi bagaimana Heung Soo menerima penyataan pendisiplinan waktu itu?
Heung Soo terdiam sejenak, dan mencoba menjawab kalau pada awalnya memang agak sulit. Namun, seiring berjalannya waktu, dia hanya berfikir itulah yang terbaik.
In Jae bertanya kenapa?
Heung Soo menjawab kalau dia hanya tiba-tiba merasa tersadar dengan adanya kejadian itu.

“Semua kesalahan yang kulakukan sejak saat itu, kupikir itu sebagai hukuman atas semua hal yang coba kugabung-gabungkan, dan berfikir itu juga sebagai bantuan.”

In Jae memuji Heung Soo yang berfikir secara dewasa. Dia meminta agar Heung Soo tetap datang kesekolah, karena dia akan mencoba menjelaskan pada anak-anak lain. In Jae juga berterima kasih karena Heung Soo mampu bertahan dengan baik.



Yi Kyung ada di tempat pengumpulan sampah menemani Jung Hoo menjalani hukumannya, dan bergumam sendiri. “Siapa yang mengambilnya?Ini jelas bukan Park Heung Soo, juga bukan Oh Jung Hoo”

Yi Kyung mendekati Jung Hoo, dia bertanya apa Jung Hoo tetap tidak mau jujur padanya dari mana Jung Hoo mendapatkan uang itu? Dia bertanya bukan berarti dia mencurigai Jung Hoo, hanya jaga-jaga saja, siapa tahu jUng Hoo menyebabkan masalah lain.
Jung Hoo kesal dan membentak Yi Kyung. “Tidak akan seperti itu.”

“Lalu?”

Jung Hoo terdiam, dia sepertinya akan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Jung Hoo kemudian berkata kalau dia menjual sesuatu yang dia punya dirumah. Yi Kyung tertawa dan berkata kalau Jung Hoo bohong, karena sudah tidak ada barang yang bisa Jung Hoo jual lagi drimahnya.

Tiba-tiba wajah Yi Kyung berubah serius, dia seolah teringat sesuatu. Seolah dia tahu benda apa yang Jung Hoo jual. Yi Kyung hanya berkata Jung Hoo gila, dan bertanya apa Jung Hoo benar-benar menjualnya?

Jung Hoo menjawab kalau ini sebenarnya membuatnya kesal, tapi harus gimana lagi? Yi Kyung masih ga habis pikir, kenapa Jung Hoo menjual barang satu-satunya itu. (Sampe detik ini belum dikasih tahu barangnya apa..)
Yi Kyung menyuruh Jung Hoo memberitahu dimana dia menjual barang itu.
Jung Hoo kesal dan membentak, kalau dia juga tidak tahu. Tapi yang jelas setelah menjual barang itu, dia rasanya sangat lega. Yi Kyung pun menyindir kalau yang dilakukan Jung Hoo sangat bagus.
Yi Kyung menyuruh Jung Hoo menunggu disini, karena dia akan mencarinya.

(Penasaran deh aku..barang apaan sih?)

Jung Hoo melarang dan berkata jangan campuri urusannya. Yi Kyung bahkan tidak tahu apa-apa jika ikut campur. Jung Hoo juga mengancam tidak akan menjadi teman Yi Kyung, jika Yi Kyung keras kepala.



Nam Soon terlihat sedang tertidur di mejanya. Jung Hoo hanya diam seolah berfikir. Se Chan berdiri di depan, dan menjelaskan kalau baru saja ada berita dari guru Jung bahwa pelakunya bukan Park Heung Soo.



Nam Soon langsung bangkit dari tidurnya begitu mendengar nama Heung Soo, apalagi dengan berita yang dibawa Se Chan. Berita baik di telinganya. Melegakan pasti. Bahkan Jung Hoo juga ikut merasa senang, kecuali Hae Seon. Dia semakin bingung, siapa yang ngambil ponselnya. (Tak bisikin sini..Gae Na Ri..^^)
Ki Deok apalagi, dia bertepuk girang kalau bukan Hyungnim pelakunya.



Seorang siswi mengangkat tangannya dan bertanya, jika bukan Heung Soo, berarti ponsel Hae Seon masih bisa ditemukan kan?
Se Chan menjawab kalau itu tergantung dari bagaimana mereka bertidak. Jika memang itu hilang di kelas mereka, dia akan memberi mereka sedikit waktu untuk mengembalikannya di ruang Hilang dan Ditemukan.
Kyung Min dengan sinis bertanya kalau kemarin saja ponselnya tidak kembali, bagaimana hari ini bisa? Se Chan dengan sabar menjawab, karena kemarin tidak bisa, siapa tahu hariu ini bisa. Apa saja mungkin terjadi.



Se Chan kemudian berpesan agar masalah ini tidak terjadi lagi, mereka harus bisa menjaga barang-barang mereka dengan aman. Sebelum kelas berakhir, Se Chan berkata untuk yang terakhir kalinya pada mereka. Sampai detik ini ponsel masih tidak bisa ditemukan, bahkan polisi sudah dilibatkan dalam mencarinya, jadi dia tidak berfikir untuk bisa memeriksanya lagi. Kalau sudah seperti ini cara lain adalah dengan memriksa semua rekaman CCTV yang terpasang. Mereka satu persatu pun akan ditanyai. Tentu ini akan menjadi semakin rumit. Jika mereka terjebak dalam situasi seperti ini, mereka tidak akan dengan mudah melupakannya. Jadi Se Chan meminta mereka untuk memikirkannya dengan hati-hati.

Ki Deok bertanya bagaimana dnegan kelas sore? Dengan santai Ki Deok menyarankan agar kelas sore diliburkan dulu, mengingat suasana hati mereka sedang kacau. (alasan aja deh..^^)
Se Chan pun menyetujuinya, dan anak-anak bersorak senang.

Se Chan menyuruh mereka untuk tenang dan melanjutkan kalimatnya, kalau mulai besok dia akam mengajar mereka dengan sangat ketat, jadi bersiaplah. Anak-anak pun kembali mengeluh.



Se Chan berkata “Kelas selesai”
Tapi Nam Soon masih terdiam memikirkan Heung Soo, sehingga dia lupa akan tugasnya sebagai ketua kelas.
Se Chan akhirnya mengulangi sekali lagi dengan penuh penekanan “KELAS SELESAI”
Akhirnya Nam Soon tersadar dari lamunannya, dan segera berdiri melaksanakan tugasnya sebagai ketua.



Ji Hoon yang bersiap pulang, ditarik tangannya oleh Yi kyung, pertanda agar Ji Hoon mengikutinya. Setelah diluar kelas, Ji Hoon bertanya apa lagi yang terjadi sekarang? Yi Kyung berkata kalau Jung Hoo membuat masalah lain lagi. Yi Kyung membisikkan itu ditelinga Ji Hoon. (jadi penonton belum tahu juga ya..^^)

Sepertinya sesuatu yang besar, karena Ji Hoon pun ikut tersentak. Dia bertanya apa Yi Kuyung serius? Dimana tempatnya? Yi Kyung menjawab kalau dia juga tidak tahu, tapi yang jelas mereka harus bisa menemukannya.

“Bagaimanapun, kali ini, kau dan aku, kita harus bekerja sama. Aku mengerti kau terluka oleh Jung Hoo.”

Belum sempat Yi Kyung melanjutkan, Ji Hoon langsung menyanggupinya.

Duh, persahabatn mereka bener-bener tulus yah..tersentuh aku dengan mereka berdua ini..^^)



Nam Soon yang bersiap pulang, mendapat sms. Ternyata dari guru Jung, yang mengabarkan kalau Heung Soo baik-baik saja. “Dia sudah pulang sekarang, jadi jangan khawatir”



Se Chan yang juga bersiap pulang, tidak menyangka melihat seseorang di kelas 2-2, diapun menghentikan langkahnya.



Ternyata ada Na Ri di dalam kelas, Se Chan kemudian memutuskan masuk dan menghampirinya. Na Ri sedang menaruh kepalanya di meja, bertumpu pada lengannya. Se Chan bertanya apa Na Ri tidak akan pulang? Na Ri kemudian bangkit, tapi tidak menjawab. Se Chan bertanya apa Na Ri sakit? Na Ri berdiri dan sambil meangis berkata kalau dia akan pergi sekarang. Sebelum Na Ri jauh melangkah, Se Chan menyuruh Na Ri berhenti. Se Chan bertanya bukankah Na Ri hari ini tidak masuk sekolah?



Se Chan kemudian semakin mendekat kearah Na Ri. Na Ri semakin terisak-isak. Se Chan bertanya kenapa Na Ri menangis? Na Ri tidak mampu membendung air matanya. Dia berusaha menutup dengan kedua tangannya yang ternyata sedang memegang ponsel. Tepatnya dua ponsel. Satu ponsel miliknya, satu ponsel milik sahabatnya.



Se Chan yang jenius, mengamati dua ponsel yang sedang Na Ri genggam. Dia akhirnya bisa menarik kesimpulan, kalau Na Rilah yang mengambil ponsel Hae Seon. Tapi alasannya Se Chan masih belum mengetahuinya.



Yi Kyung dan Ji Hoon terlihat baru keluar dri toko perhiasaan, mereka mencari sesuatu yang Jung Hoo jual. Sepertinya benda itu tidak ada di toko ini. Sehingga mereka mencari lagui ketempat lain.

(Aku belum bisa menenbak, perhiasan apa yang Jung Hoo jual. Cincin? Kalung? Atau lainnya? Dan seberharga apa itu, aku juga ga bisa menebak-nebak? Apa milik ibunya? Entahlah -__-)

Yi Kyung dan Ji Hoon bingung kemana lagi mereka harus mencari, tapi mereka tetap mencoba berusaha menemukannya.
Mereka masuk lagi di salah satu toko perhiasaan. Namun, keluar lagi dengan tangan hampa.
Tidak patah semangat, Ji Hoon dan Yi Kyung terus mencari.



Toko kali ini, sepertinya toko yang benar. Yi Kyung mencoba berkata pada pemilik toko, apa dia bisa menunggu untuk beberapa hari saja, agar dia bisa membayar kembali benda itu, karena benda itu sangat penting bagi mereka.
Yi Kyung terlihat memohon pada bapak pemilik.
Si bapak menjawab kalau memang ada seorang anak yang membawanya kemari, dia curiga kalau itu benda curian. Ji Hoon dan Yi kyung serempak menggeleng-gelengkan tangan mereka, bertanda kalau itu bukan benda curian..
Yi Kyung menjanjikan waktu satu minggu untuk melunasinya. Mereka serius akan datang dan segera mengambilnya kembali, jadi tolong agar jangan dijual pada yang lain.



Sementara itu Na Ri memegang ponselnya dengan tangan bergetar. Dia sedang ada bersama Se Chan di ruang konseling. Na Ri hanya diam membuat Se Chan berkata apa Na Ri tidak ingin mengatakan sesuatu. Pada awal Se Chan masih lupa nama Na Ri dna memanggilnya “Tumor otak”

LOL. Ini guru masih aja konyol, dia kan lagi sedih..

Se Chan bertanya apa lebih baik di keluar saja, karena Na Ri masih tidak mau berbicara. Na Ri menolak, dan meminta Se Chan untuk tetap menemaninya disini.

“Na Ri, tidak apa-apa, jadi katakan saja. aku akan merahasiakannya.”

Na Ri mengangkat ekpalanya yang sedari tadi menunduk “Sungguh?”
Se Chan mengangguk, menyakinkan Na Ri.

“Masalahnya… Hae Seon. Dia benar-benar dekat denganku. Guru juga tahu kan?”

Se Chan bingung, karena dia kan tidak memperhatikan satu-satu muridnya sepertinya In Jae, jadi dia sedikit kaget, tapi dia tidak ingin mengecawakan Na Ri yang sudah mau bercerita padanya, sehingga akhirnya Se Chan ngangguk-ngangguk bego aja. Haha..

Na Ri melanjutkan ceritanya “Tapi dia..membeli ponsel baru, dan hanya bermain dengan siswi yang lain. Aku tidak punya smartphone, jadi aku tidak bisa bermain game dengannya.”

Na Ri bercerita kalau ponsel miliknya dihancurkan ayahnya, karena nilai raportnya yang buruk.
Se Chan berkata pasti Na Ri benar-benar sedih karena ini. Na Ri berkata kalau Hae Seon bahkan tidak tahu apakah kemarin dia sudah makan siang atau belum. Hae Seon juga tidak membaca catatan yang ditulisnya kemarin.

“Bagaimanapun, aku akan menyembunyikannya sebentar lalu mengembalikannya, tapi aku tidak bisa membuat diriku untuk melakukannya. Karena aku terus memegangnya, aku merasa sakit, jadi aku memutuskan untuk pulang.”

Se Chan mengangguk-angguk tanda dia mengerti. Lalu kemudian se Chan berkata kalau Na Ri telah melakukan kesalahan tanpa sadar. Na Ri mennyetujui kata-kata Se Chan itu. Se Chan kemudian membenarkan yang Na Ri lakukan, karena Na Ri membawanya kembali, jadi ini bukan masalah.
Bahkan Se Chan mengucapkan terima kasih pada Na Ri karena sudah berniat mengembalikan ponsel itu.

Se Chan melanjutkan kalimatnya “kesalahan tetap kesalahan, kau harus mendapatkan hukuman”

Se Chan berkata hukuman seperti apa Na Ri sendiri yang harus memutuskannya. Dia menyuruh Na Ri pulang dan datang besok untuk menulis sendiri hukuman seperti apa yang harus dia dapatkan. Jangan lupa untuk menulis cerminan dari kesalahan yang Na Ri buat.
Na Ri bertanya ingin memastikan kalau Se Chan benar-benar akan merahasiakan hal ini kan? Se Chan mengiyakan hal itu dengan mantap



Nam Soon menunggu Heung Soo di dekat rumahnya. Dia benar-benar harus melihat Heung Soo untuk memastikan kalau sahabatnya itu baik-baik saja. Akhirnya Heung Soo datang juga, Nam Soon langsung bertanya kenapa Heung Soo baru datang? Heung Soo menjawab apa ada yang memberitahunya kalau Nam Soon menunggu?
Nam Soon langsung mengajak Heung Soo pergi. Heung Soo tentu bertanya kemana mereka akan pergi?
Nam Soon berkata “Mari kita bicara”

Heung Soo mengeluh, dan menjawab lain kali saja, jangan sekarang.
Nam Soon tetap menginginkan mereka bicara sekarang, dan menyuruh Heung Soo mengikutinya.



Heung Soo pun tidak bisa menolak, dia kemudian mengikuti Nam Soon. Heung Soo bertanya sebenarnya kemana mereka akan pergi?
Nam Soon berhenti dan menjawab “Untuk makan ramen”
Heung Soo hanya terdiam mendengar jawaban Nam Soon



Heung Soo yang akan menyusul Nam Soon, tiba-tiba kakinya tanpa sengaja masuk ke dalam kumpulan salju. Heung Soopun mengeluh karena merasakan kakinya jadi dingin. ^^



In Jae yang ada di apartemennya, sedang pusing memikirkan semua tingkah murid-murid kelas 2-2. Tiba-tiba ponsel In Jae berdering, sepertinya ada sms masuk. In jae pun membuka dan membacanya, ternyata sms dari Se Chan yang bilang kalau ponselnya sudah kembali. Tentu saja ini cukup membuat In Jae kaget. In Jae membalasnya bagaimana bisa? Siapa yang membawanya kembali?
Se Chan menjawab kalau ponselnya ditemukan di ruang Hilang dan Ditemukan. Jadi In Jae jangan khawatir sekarang, dan tidur dengan baik.

In Jae cukup merasa lega, walau masih terselip kecewa kalau berarti benar pelakunya adalah kelas mereka sendiri. Ini cukup membuatnya terpukul bahwa anak didiknya melakukan hal tercela seperti itu. Mencuri.



Nam Soon sudah sampai di rumahnya. Awalnya Heung Soo hanya berdiri di luar, Nam Soon menoleh memandangnya dan menyuruh Heung Soo masuk. Heung Soo menjawab katanya mereka akan makan ramen?
Nam Soon mengajak Heung Soo untuk membuatnya bersama. “Untuk pertama kalinya dalam beberapa saat ayo lakukan ini bersama”
Heung Soo pun memutuskan untuk masuk dan menutup pintu.



Ramenpun siap di meja, Nam Soon dan Heung Soo masih saling diam. Heung Soo hanya menatap Nam Soon yang sedang memindahkan ramen ke mangkuknya. Nam Soon sendiri tidak sadar kalau Heung Soo terus memperhatikannya. Atau mungkin Nam Soon tahu Heung Soo terus menatapnya tapi berpura-pura cuek.
Nam Soon pun akhirnya mengangkat kepalanya menatap Heung Soo. Heung Soo pun bertanya apa yang akan Nam Soon katakan padanya, bukankah tadi Nam Soon mengajaknya untuk bicara?



Nam Soon menjawab setelah mereka selesai makan akan dia katakan. Heung Soo masih belum mengambil ramennya, matanya masih terus menatap kearah Nam Soon. Nam Soon tahu kalau pandangan Heung Soo masih kearahnya, sehingga Nam Soonpun mengangkat kepalanya dan balik menatap Heung Soo. Mereka lagi-lagi bermain mata disini. ^^



Nam Soon akhirnya bertanya bagaimana bisa Heung Soo hidup sembarangan seperti itu? Kenapa Hueng Soo hidup seperti itu?

“Karena kupikir akan ada lagi bajingan seperti kau.”

Nam Soo sudah hampir menangis mendengar jawaban Heung Soo. Berarti selama ini, Heung Soo menjadi nakal, karena jauh dilubuk hatinya berharap bisa bertemu dengan Nam Soon. Mungkin jika dia berubah menjadi bajingan seperti Nam Soon, dia bisa bertemu kembali dengan sahabatnya itu.Atau itu mengganti rasa kehilangan Heung Soo selama tidak bersama Nam Soon.

Nam Soon yang hampir menangis bertanya kenapa? Apa kalau Heung Soo bertemu dengan bajingan sepertinya maka Heung Soo akan memukuli orang itu? Heung Soo menjawab bukan itu, dia hanya ingin menempatkan kembali hatinya bersama-sama.
Heung Soopun akhirnya meneteskan air matanya.

Nam Soon berkata “Bahkan setelah melalui semua itu..kau masih ingin kembali bersama-sama?”
Heung Soo menjawab “Apa kau tidak mengalami apapun? Pernahkan kau pergi ke seseorang,dan mengatakan hatimu terluka?”

Heung Soo tahu, Nam Soon mengalami hari-hari yang berat saat kecelakaan tidak disengaja itu terjadi, dan Heung Soo tahu, Nam Soon tidak memiliki siapapun untuk membagi apa yang dirasakannya. Nam Soon tidak memiliki siapapun untuk meringankan rasa bersalah dihatinya.
Nam Soon selalu melakukan semuanya sendiri.

(Aku ikut sedih..:-( )

Heung Soo kembali berkata di sela-sela tangisnya “Itu sebabnya Nam Soon, berhenti merasa bersalah..”

Nam Soon hanya menunduk, menahan tangisnya yang semakin susah dibendung.
Heung Soo yang sudah mengatakan semuanya, menghapus air matanya,dan mencoba mencairkan suasana dengan berkata kalau semuanya jadi basah. Heung Soo pun akhirnya memakan ramennya. Hatinya lega, karena Nam Soon tahu kalau dia sama sekali tidak menyalahkan Nam Soon atas luka di kakinya. Itu sesuatu yang tidak disengaja, dan dia masih menyayangi Nam Soon tanpa berkurang sedikitpun.

Semua kenakalan yang Heung Soo lakukan, dikeluarkan atau dipindahkan dari sekolah, hanya dengan satu harapan agar dia bisa bertemu Nam Soon, dan agar Nam Soon tahu, kalau dia juga melewati hari-hari yang sulit saat mereka sudah tidak bersama.

Merekapun menikmati ramen bersama
Ini moment menyedihkan sekaligus membahagiakan menurutku..^^



Lebih membahagiakan lagi, Heung Soo juga tidur bersama dengan Nam Soon.



Nam Soon dan Heung Soo sudah meluapkan perasaan mereka satu sama lain. Malam itu mereka tidur bersama dengan perasaan yang damai.



Keesokan paginya, Nam Kyung Min datang lebih awal, ternyata dikelas sudah ada Ji Hoon. Sepertinya Ji Hoon sedang mencoba belajar deh. Walau akhirnya tertidur. Kyung Min menatap heran karena tidak biasanya Ji Hoon datang sepagi ini di kelas.



Nam Soon dan Heung Soo bangun kesiangan, mereka saling menyalahkan karena tidak membangunkan satu sama lain. Bahkan mereka pun berebut kaos kaki dan sama-sama mengkalim itu miliknya.
Saat akan berangkat, Heung Soo mencium sepatunya yang basah karena salju semalam. Heung Soo menyalahkan Nam Soon, karena Nam Soon sepatunya basah. Nam Soon kemudian mengambil sepatu Nam Soon lalu menciumnya juga.
LOL
Pada nyiumin sepatu ih..^^




Nam Soon menyuruh Heung Soo menunggu sebentar. Dia lalu masuk kembali ke kemar, dan mengambil sesuatu di bawah kolong tempat tidurnya. Nam Soon masih menimbang-nimbang, apa dia akan memberikan sepatu ini pada Heung Soo.



Heung Soo yang menunggu di luar, berteriak kenapa Nam Soon lama sekali, sehingga Heung Soo menyusul ke dalam.
Tapi sebelum Heung Soo sampai, Nam Soon sudah keluar dengan sepatu di genggamannya. Sepatu itu langsung di berikan pada Heung Soo. Heung Soo sendiri menerima sepatu itu dengan heran.

Nam Soon berkata kalau itu milik Heung Soo, apa Heung Soo lupa? Dulu Nam Soon berjanji akan membelikannya pada Heung Soo. Saat itu Heung Soo dulu meminta untuk dibelikan sepatu itu, kalau berhasil ke Seoul untuk berlatih sepak bola.
Heung Soo tersenyum dan bertanya jadi Nam Soon benar-benar membelinya ya? Nam Soon menjawab iya. “Tapi aku tidak pernah memberikannya padamu.”

Nam Soon bahkan berkata apa Heung Soo tidak tahu seberapa lama dia bekerja untuk mendapatkan sepatu itu? Heung Soo berkata harusnya Nam Soon membuangnya saja.
Nam Soon bertanya kemana dia harus membuangnya?
(Buang sini aja..^^)

Nam Soon menyuruh Heung Soo memakainya, lebih baik daripada sepatu Heung Soo yang bau tadi. Heung Soo berkata apa sepatu ini masih cocok untuknya? Ini kan sudah 3 tahun yang lalu. Nam Soon mengeluh dan menyuruh Heung Soo segera memakainya, mereka juga sudah terlambat. Apa Heung Soo ingin berurusan dengan guru Kang lagi?
Heung Soo pun menurut dan segera memakainya.

(Mereka swit ya, kayak suami istri baru rujuk. Haha)



In Jae menyerahkan ponsel milik Hae seon yang sudah dikembalikan. Hae Seon melihatnya dengan tatapan tidak percaya. Benarkah ini ponselnya? In Jae menjelaskan kalau seseorang memang telah menempatkannya di ruang Hilang dan Ditemukan. Dia berpesan agar Hae Seon bisa lebih hati-hati lagi, agar tidak mengalami kejadian yang sama suatu hari nanti. Hae Seon mengangguk tanda mengerti.
Dia senang sekali ponselnya sudah kembali dengan selamat, tanpa cedera sedikitpun (Lah memang orang yak..^^)



In Jae kemudian bertanya kenapa Hae Seon mengira Jung Hoo yang mengambil ponselnya? Hae Seon menjawab kalau semua anak dikelas juga mengira seperti itu, makanya dia melaporkan itu pada ayahnya.
In Jae menjelaskan kalau memang dimasa lalu Jung Hoo banyak melakukan kesalahan, tapi dia setuju untuk tidak melakukannya lagi sekarang. Jadi mari melihatnya dari sisi positif untuk saat ini. Jangan selalu melihatnya sebagai anak yang nakal.

Hae Seon menjawab kalau dia juga tidak selalu melihat Jung Hoo sebagai anak yang nakal. In Jae bertanya apa Jung Hoo melakukan sesuatu yang lain?
Hae Seon menjelaskan tentang denda keterlambatan, yang ternyata digunakan Jung Hoo, tapi Nam Soon menutupi dan mengakui sebagai kesalahannya.

In Jae terlihat sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Hae Seon. Dia jelas tidak tahu tentang ini.



Hae Seon kemudain masuk ke kelas dengan perasaan senang. Kelompok Ga Eun menyebutnya sebagai sebuah keajaiban, karena ponsel Hae Seon benar-benar ditemukan kembali. Mereka bergosip, kalau hal ini sudah jelas bahwa yang mengambil adahal teman mereka sendiri. Kebetulan kyung Min dan Eun Hye masuk kelas dan mendengar semuanya.
Hae Seon sendiri lebih memilih pergi keluar, karena malas mendengar mereka semua.



Kelompok Ga Eun berkata kalau pasti orang tersebut menaruh ponsel di ruang Hilang dan Temukan kemarin malam, atau dini hari tadi. Kyung Min langsung berkata kalau sepertinya dia tahu siapa orang itu? (Pasti dia ngiranya Ji Hoon, kan Ji Hoon yang pagi-pagi buta datang ke sekolah)
Eun Hye pun dengan semangat bertanya siapa orangnya? Kelompok Ga Eun juga ikut mendengarkan siapa orangya?
Kyung Min berkata kalau ada seseorang yang datang lebih awal daripada dia pagi tadi. Eun Hye menjawab kalau itu tidak mungkin. Lalu kembali bertanya siapa orangnya?
Kyung Min menjawab “Lee Ji Hoon”

Mereka semua langsung menoleh kebangku Ji Hoon yang sedang kosong. Eun Hye berkata tidak mungkin Ji Hoon.
Kyung Min berkata coba kalian pikir, seseorang yang biasa datang semaunya ke sekolah, tadi pagi dengan lebih awal dari siapapun.Apakah itu tidak aneh?
Temen Kyung Min, menjawab pasti memang dia orangnya yang meletakkan ponsel Hae Seon di ruang Hilang dan Temukan. Kelompok Ga Eun juga semakin yakin kalau memang Lee Ji Hoon pelakunya.



Na Ri sedang menulis cerminan kesalahannya dan hukuman apa yang pantas untuknya. Dia menulis berlembar-lembar dan selalu salah. Memulai lagi, dan salah lagi, hingga sudah banyak kertas yang dia gunakan.
Saat sudah merasa pas dengan kata-kata yang disusunnya. Na Ri membereskan kertas-kertas yang salah tadi, dan membuangnya ditempat sampah. (Ini nih,,ceroboh..buang di tempat sampah rumahnya aja apa,,biar ga ada yang tahu gitu..^^)



In Jae dan Se Chan masuk ke kelas. Se Chan berdiri di depan,sedang In Jae dibelakang. Se Chan berkata kalau ponsel Hae Seon sudah ditemukan. jAdi sekarang kembalikan pikiran mereka semua dan fokuskan pada pelajaran, karena ujian sebentar lagi.

Tiba-tiba Nam Soon dan Heung Soo membuka pintu kelas dengan tergesa-gesa, mereka terlambat. In Jae memandang mereka dengan tatapan aneh. Se Chan kemudian berkata kalau sepertinya mereka berdua sangat dekat, datang terlambat aja bareng.



Ha Kyung terlihat tersenyum karenanya. Nam Soon dan Heung Soo sih sedikit salah tingkah karena sindiran Se Chan tadi. Se chan pun menyuruh mereka berdua untuk segra duduk di bangku mereka masing-masing.
Se Chan kemudian berkata kalau mereka berdua dikurangi 1 poin. Dia juga berkata pada mereka semua, kalau semua kesalahpahaman pada Park Heung Soo telah dihapuskan. Nam Soon langsung memandang Heung Soo dengan tersenyum. Heung Soo sendiri memandang Nam Soon tanpa ekspresi. LOL



Tiba-tiba In Jae meminta Nam Soon untuk menemuinya sebentar. Mereka berdua bicara di perpustakaan sekolah. Hanya berdua saja tentunya. In Jae mungkin ingin meminta kejelasan tentang denda keterlambatan yang dipakai dengan tanpa ijin itu.

Sebelumnya In Jae bertanya apa Nam Soon dan Heung Soo sudah baik-baik saja sekarang? Nam Soon mengangguk tanda iya. Kemudian barulah In Jae bertanya tentang denda keterlambatan yang Nam Soon gunakan. Nam Soon jadi salah tingkah karena ketauan. In Jae berkata kalau Nam Soon tidak bolah menggunakan apa yang bukan miliknya, tidak peduli seberapa mendesaknya situasi saat itu. Nam Soon mengakuinya dan meminta maaf.

In Jae berkata kalau dia sedang memikirkan hukuman untuk mereka berlima. Tapi karena denda keterlambatan adalah tanggung jawab Nam Soon, maka hanya Nam Soonlah yang akan dihukum, apa Nam Soon mengerti?
In Jae menyuruh Nam Soon untuk menulis dua lembar penuh tentang kesalahannya, dan setiap baris harus diisi.

In Jae juga berkata kalau sepertinya semua siswa percaya pada Nam Soon sehingga hanya mendiamkan saja yang Nam Soon lakukan. Nam Soon menjawab kalau bukan karena dia. Mereka semua hanya tidak ingin mengecewakan In Jae yang baru saja kembali mengajar. In Jae pun akhirnya menyuruh Nam Soon kembali. Tapi sebelum Nam Soon pergi, In Jae bertanya kenapa Nam Soon memaksakan diri untuk membantu Jung Hoo?

“Karena dia mungkin akan dikeluarkan dari sekolah”

In Jae kemudian bertanya apa yang akan berubah jika Jung Hoo tetap bersekolah? Nam Soon menjawab “Setidaknya dia bisa makan dengan nyaman”

In Jae tersenyum dan mengangguk,ya..makanan.^^
Tapi kemudian dengan tampang serius In Jae bertanya apa jangan-jangan Nam Soon ke sekolah juga hanya untuk dapat makan saja?
Dengan mantap Nam Soon menjawab “aku datang untuk makan dan juga tidur, karena aku seorang siswa”
LOL

In Jae menambahkan belajar juga tugas seorang siswa. Nam Soon pun tertawa mendengarnya.



Na Ri menemui Se Chan yang sedang sendiri di ruang guru. Sepertinya Na Ri akan menyerakan tulisan yang diminta Se Chan, tentang cerminan kesalahannya. Na Ri berkata kalau dia sudah menyia-nyiakan 10 halaman hanya untuk menulis ini.
Se Chan bertanya apa hukuman yang ingin Na Ri terima? Na Ri menjawab kalau dia sendiri tidak bisa menentukannya. Dia tidak ingin mendapatkan pukulan, atau berjalan disekitar sekolah karena menurutnya itu memalukan. Se Chan bertanya jadi apa Na Ri tidak akan dihukum sampai Na Ri bisa memutuskannya?

Na Ri kemudian mendapat ide dan berkata kalau dia punya buku sastra yang belum pernah dia baca sejak dia membelinya, jadi bagaimana kalau hukumannya yang berkaitan dengan buku sastranya itu?
Se Chan menyetujuinya dan menyuruh Na Ri selama 2 minggu menyelesaikan 5 halaman setiap harinya.
Na Ri harus menyerahkannya setelah kelas selesai.



Oh Jung Hoo seperti biasa sedang menyelesaikan hukumannya, memisahkan sampah sesuai dengan kategori sampah itu. Saat sedang memeasukkan kertas-kertas kedalam tempatnya, seorang petugas datang menaruh sampah dan melihat yang Jung Hoo lakukan. Sang petugas mengatakan kalau untuk sampah kertas, Jung Hoo harus membuka kertas itu agar tidak terlipat baru memasukkannya. Jung Hoo kesal tapi tetap mematuhinya.



Saat membuka sebuah kertas yang sudah terremas-remas, Jung Hoo kaget membaca isinya. Tulisan Na Ri tentang pengakuan kesalahannya. Sekarang Jung Hoo tahu kalau na Ri lah yang mengambil ponsel Hae Seon kemarin.



Saat jam istirahat Na Ri tidak bersemagat seperti yang lainnya. Dia menaruh kepalanya di meja, disaat semua siswa berhamburan keluar kelas. Hae Seon yang sudah keluar kelas, kembali masuk dan menghampiri meja Na Ri. Hae Seon bertanya apa Na Ri tidak akan makan? Na Ri bangkit dan menjawab kalau dia tidak selera makan. Hae Seon memegang tangan Na Ri dan bertanya apa Na Ri masih sakit? Na Ri menjawab kalau masih terasa sedikit. Hae Seon kemudian berkata kalau Na Ri benar-benar aneh. Kenapa Na Ri tidak mau menatapnya? Apa Na Ri marah padanya karena dia tidak mengirim sms sama sekali saat Na Ri sakit kemarin? Hae Seon kemudain menjelaskan kalau kemarin ponselnya hilang. Hae Seon mengajak Na Ri untuk makan siang bersama sambil menggoyang-goyang tubuh Na Ri. Apalagi ada sesuatu yang ingin dikatakannya pada Na Ri.

Na Ri menoleh dan menatap Hae Seon kemudian bertanya apa Hae Seon tidak akan main game lagi? Hae Seon menjawab apa Na Ri pikir dia hanya memegang ponsel setiap saat. Setelah semua yang terjadi, dia jadi merasa sedikit muak. Hae Seon berkata kalau hari ini dia ingin menghabiskannya bersama Na Ri.



Di ruang makan, Nam Soon dan Heung Soo satu meja. Mereka makan siang bersama tanpa canggung lagi sekarang. Jung Hoo yang juga mengambil makan siangnya, hanya melewati meja Yi Kyung dan Ji Hoon, dia lagi-lagi memilih satu meja dengan Nam Soon dan Heung Soo.



Heung Soo memandang Jung Hoo dan menyuruhnya makan bersama teman-temannya. Ji Hoon dan Yi Kyung tanpa aba-aba langsung membawa makan mereka ke meja Nam Soon dan Heung Soo, sehingga sekarang mereka berlima di satu meja.
Nam Soon kini bertambah heran dengan kelakuan mereka. Diapun berpandangan dengan Heung Soo. Seolah memiliki pikiran yang sama. Mereka berdua berdiri dan berniat pindah meja, tapi Ji Hoon bertanya apa dia dan teman-temannya begitu memalukan?



Nam Soon dan Heung Soo tidak peduli dan pindah meja lain,kali ini Nam Soon dan Heung Soo tidak satu meja, tapi saling membelakangi. Jung Hoo kemudian bertanya pada teman-temannya siapa sih Gae Na Ri? Ji Hoon dan Yi Kyung jelas kaget dan mengangkat kepala mereka lalu menatap Jung Hoo heran. Yi Kyung kemudian menunjuk kearah Na Ri yang sedang makan bersama Hae Seon. Ji Hoo juga menoleh ketempat yang ditunjuk Yi Kyung.



Kelompok Ga Eun yang juga sedang makan langsung menghampiri meja Hae Seon dan Na Ri. Mereka jelas akan bergosip. Salah satu dari mereka langsung berkata kalau ponsel Ha Seon sepertinya Ji Hoon yang mengambilnya. Na Ri tentu kaget walau tetap terlihat tenang. Hae Seon tentu tidak percaya, kemudian mereka menjelaskan kalau Kyung Min melihat Ji Hoon datang lebih awal dari biasanya. Jadi itu pasti Ji Hoon yang meletakkannya di ruang Hilang dan Temukan.
Bukankah aneh kalau seorang Ji Hoon yang biasanya tidak peduli pelajaran datang lebih awal dan membukan bukunya.

Na Ri hanya diam. Entahlah dia sepertinya merasa bersalah, atau mungkin kenapa bisa tuduhan itu mengarah ke Ji Hoon.



Ji Hoon menemui In Jae di ruang guru, meminta ijin sebulan penuh untuk tidak ikut sesi belajar setelah sekolah, karena dia harus bekerja. In Jae bertanya apa Ji Hoon harus bekerja? Ji Hoon menjawab iya. Dia berkata awalnya dia berfikir kalau hanya beberapa hari saja bekerja, tapi ternyata dia harus melakukannya selama sebulan.
Tapi Ji Hoon berjanji akan datang lebih awal sebelum kelas dimulai untuk mengerjakan beberapa soal, dan dia sudah memulainya pagi ini. Ji Hoon sedikit malu saat mengatakannya.

In Jae senang dan langsung menepuk-nepuk punggung Ji Hoon lalu berkata kalau itu sesuatu yang bagus. In Jae kemudian berkata kalau dia juga akan datang lebih awal menemani Ji Hoon belajar, jadi kalau ada yang tidak Ji Hoon mengerti, In Jae akan membantunya.
Ji Hoon tentu merasa senang, karena In Jae mendukungnya.



Ji Hoon bekerja di sebuah rumah makan, dan Yi Kyung datang menghampiri. Ji Hoon kemudian menemui Yi Kyung dan menyerahkan gajinya hari ini. Mereka berdua sedang mengumpulkan uang untuk membeli kembali benda yang dijual Jung Hoo yang dipakainya untuk melunasi denda keterlambatan.
Yi Kyung memuji Ji Hoon yang sudah bekerja keras. Saat Yi Kyung akan mengambil amplop gaji Ji Hoon, Ji Hoon menahannya dan berkata kalau uang gaji ini sama berharga seperti darahnya.
Tapi Yi Kyung tidak peduli dan langsung mengambilnya. Yi Kyung berkata jangan khawatir karena dia akan segera bekerja di toko daging, jadi dia juga akan segera mengumpulkan uang.

Tiba-tiba Ji Hoon bertanya kenapa Yi Kyung begitu peduli pada Jung Hoo? Yi Kyung tersenyum dan membalikkan pertanyaan itu pada Ji Hoon. Ji Hoon pun ikut tersenyum sepertinya memang rasa persahabatan yang membuat mereka peduli pada Jung Hoo, karena mereka memang saling menyayangi satu sama lain sebagai sahabat.
Ji Hoon hanya tidak ingin Jung Hoo jadi preman.

Yi Kyung berkata walau Jung Hoo seorang yang pemarah, kalau tidak melihat dia selama hidup mereka, rasanya akan sangat sulit. Kata-kata itu dibenarkan juga oleh Ji Hoon.
Ji Hoon kemudian berkata akan sangat menyenagkan kalau mereka bertiga bisa memiliki toko dan mengelolanya bersama-sama (ya ampun niat dan impian yang sederhana tapi indah yak..^^)

Yi Kyung kemudian menyetujuinya, mengatakan itu ide yang bagus sekali. Merekapun tertawa bersama.



Keesokan paginya di Seungri, Ha Kyung melihat pengumuman yang ditempel di papan. Ternyata disana tertulis ranking kelas. Dan di kelas 2-2, yang meraih ranking 1 adalah Lee Kang Joo, bukan dirinya. Ha Kyung tentu terpana melihatnya, tidak menyangka posisinya digeser oleh Kang Joo, sahabatnya sendiri. Dia tidak tahu, apakah dia harus sedih atau bahagia melihatnya.

In Jae yang kebetulan lewat melihat Ha Kyung dan menghentikan langkahnya. Akhirnya In Jae tahu kenapa Ha Kyung terdiam di depan papan pengumuman. In jae bertanya apa Ha Kyung kecewa mengetahui ini? Ha Kyung jujur menjawab iya. In jae menyemanagti Ha Kyung dnegan berkata kala dalam hal yang lain, Ha Kyung sangat pintar.
Ha Kyung berkata kalau dia bahkan hampir mati dalam menyiapkan spesifikasinya. Dan mengetahu hal ini membuatnya bertambah kesal. Ha Kyung hampir menangis saat itu.

In Jae memgang lengan Ha Kyung, tanda dia ingin menguatkan Ha Kyung. Ha Kyung bertanya apa dia terlihat seperti orang jahat karena kesal saat tahu Kang Joo yang ranking 1? In Jae mencoba menjawab bahwa ini bukan terlihat seperti Ha Kyung kesal karena Kang Joo yang berada di posisi pertama. Ha Kyung membantah dan berkata kalau Dia benar-benar kesal karena Kang Joo ada di peringkat pertama, apapun bentuknya dia merasa sangat kesal.

“Aku memilki hati yang buruk. Akan lebih baik jika kami berdua gagal. Tapi memilki hati semacam ini, membuatku sangat merasa bersalah pada Kang Joo. Apa aku sangat berlebihan?”

In Jae bertanya mana yang lebih besar, merasa bersalah pada Kang Joo dan ingin minta maaf? Atau memaklumi kelakuan dan perasaan diri sendiri?
Ha Kyung memilih yang pertama. Perasaan bersalah dan rasa ingin minta maaf pada Kang Joo lah yang terbesar.
In Jae tersenyum mendengarnya dan berkata kalau itu pilihan Ha Kyung, berarti dia belum terlalu berlebihan. Ha Kyung masih dalam taraf baik-baik saja.

In Jae kemudian berpesan bahwa belajar itu bukanlah sesuatu yang harus lebih unggul dari pada orang lain, tapi yang terpenting adalah melakukannya dengan baik. “Jika kau terus membandingkan dirimu dengan orang lain, itu akan membuatmu frustasi”

Ha Kyung menjawab kalau dia tahu itu, tapi rasanya sangat sulit. “Bukan karena belajar yang sulit, tapi karena belajarlah aku merasa semua menjadi sulit.”



Ha Kyung berkata terus terang pada In Jae kalau dia memang kesal karena Kang Joolah yang diposisi pertama. Dia juga berkata kalau karena belajarlah smeua menajdi suli menurutnya



Na Ri menemui Se Chan diruang guru, untuk menyerahkan tugasnya. Se Chan menelitinya dan berkata kenapa Na Ri menjawab semua dnegan salah. Na Ri menjawab saat ini pikirannya sedang rumit. Se Chan kan tidak tahu tentangnya seperti apa? “Aku,,namaku unik, jadi banyak orang yang tahu namaku, dan langsung mengingatnya, tapi tidak banyak yang mengingat wajahku. Aku tidak punya kehadiran yang kuat. Apa guru tahu apa itu kehadiran yang kuat?”

Se Chan bertanya apa yang Na Ri katakan? Na Ri tidak menjelaskan dan malah berkata kalau sekarang Se Chan sudah mengenal dia kan? “Kalau ada yang menyebut Gae Na Ri, maka kau akan mengingat wajahku kan? Anak-anak sepertiku, jika guru mengakuiku, itu bagus.”

Na Ri masih melanjutkan kalimatnya “Tapi disisi lain..aku juga khawatir guru akan menganggapku sebagai pencuri.”
Na Ri khawatir orang-orang yang mengingat namanya akan menganggapnya sebagai pencuri, jika mereka tahu kejadian yang sebenarnya.

Se Chan menjawab kalau dia bahkan lupa tentang bagian itu (pencuri) jadi Na Ri tidak perlu khawatir karenanya.
Na Ri senang mendengarnya dan bertanya apa Se Chan benar-benar lupa tentang itu?
Se Chan pun mengiyakan dan menyuruh Na Ri memecahkan soal dengan benar mulai besok. Na Ri pun mengangguk.



Jung Hoo masih melakukan hukumannya dengan rajin. Tiba-tiba Yi kyung datang mengejutkannya. Kayak ngomong Ci Luk Ba. LOL
Yi Kyung datang bersama ji Hoon. Yi Kyung bertanya berapa lama lagi Jung Hoo menyelesaikan hukumannya ini? Jung Hoo menjawab hanya sampai minggu ini. Jung Hoo bertanya ada apa? Yi Kyung hanya tersenyum-senyum saja, kemudian berkata kalau dia dan Ji Hoon ingin memberikan sesuatu pada Jung Hoo.



Yi Kyung menunjuk jempolnya yang kosong, lalu mengangkat jempolnya kebelakang dan tiba-tiba di jempol Yi Kyung yang kosong tadi sudah terselip cincin. Yi Kyung dnegan senang menunjukkannya pada Jung Hoo. “Ta Da..”

Ji Hoon berkata “Ada hal-hal lain untuk dijual, tapi, bagaimana bisa kau menjual cincin ibumu?”

(Ampuunn ternyata selama ini benda itu cincin ibu Jung Hoo..)

Jung Hoo yang mendengar itu, hanya memejamkan matanya. Yi Kyung berkata apa Jung Hoo tahu kalau dia dan Ji Hoon melewati banyak hari-hari menderita karena harus mendapatkan cincin ini lagi? Yi Kyung pun menyerahkannnya pada Jung Hoo.




Jung Hoo marah dan berkata kalau jangan ikut campur, dan langsung menepis tangan Yi Kyung yang terulur menyerahkan cincin itu, sehingga cincin ibu Jung Hoo terlempar. Mungkin masuk di dalam kantong-kantong sampah itu, atau hilang menggelinding. Entahlah..
Jung Hoo berkata lagi kalau tidak ada seorangpun yang menyuruh Ji Hoon dan Yi Kyung untuk menemukan hal itu kembali.

Yi Kyung bertanya “Hal itu?”
Apa untuk cincin ibunya Jung Hoo hanya menganggap barang sepele, dan berkata “hal itu”
Dia sudah mentolerir sikap Jung Hoo akhir-akhir, bahkan sudah memaklumi Jung Hoo yang menjual cincin ibunya. Tapi, berhentilah membentak.
“Apa Egomu lebih penting dari cincin ibumu yang sudah meninggalkanmu?”

Jung Hoo menjawab apa Yi Kyung pikir ini karena egonya yang tinggi dia bertingkah seperti ini? Jung Hoo menjawab kalau dia hanya tidak ingin berhutang.
Yi Kyung mengeluh..”Siapa yang peduli tentang hutang diantara sesama teman?”

Jung Hoo menjawab kalau hanya dia saja yang terus-terusan membuat hutang bukan mereka berdua. Hanya dia yang terus menerus membuat masalah bukan Yi Kyung dan Jung Hoo. Jadi bagaimana bisa dia melakukan itu pada temannya, menyuruh temannya untuk melunasi hutangnya.
Ternyata Jung Hoo memang menyayangi kedua temannya itu. Dia langsung pergi meninggalkan mereka berdua, karena dia tidak mau perasaannya yang sebenarnya ketahuan oleh Yi Kyung dan Ji Hoon.



Ji Hoon bertanya apa Jung Hoo takut kalau dia tidak bisa berteman lagi dengan mereka jika mereka tahu Jung Hoo menjual cincin ibunya. Kemudian Ji Hoon tersadar, tentang cincin ibu Jung Hoo yang dilemparkannya tadi entah kemana.
Ji Hoon mengatakannya pada Yi Kyung, untuk menemukan cincin itu dulu.
Merekapun segera mencarinya



Di kelas 2-2, Min Ki yang sedang asik belajar didatangi Ji Hoon yang bertanya tentang buku Julius Caesar padanya. Min Kin tersenyum dan bertanya apa Ji Hoon ingin meminjamnya lagi? Ji Hoon menjawab iya sambil berbisik-bisik. Min Ki pun dengan senang hati meminjamkannya pada Ji Hoon. Min Ki kemudian berkata kalau bukunya ini kumpulan dari catatannya dan Eun Hye, jadi pasti lengkap.
Ji Hoon berterima kasih..Min Ki bertanya untuk apa berterima kasih? Kalau Ji Hoon memang ingin meminjamnya, tentu dia akan meminjamkan dengan senang hati, kapanpun Ji Hoon butuh katakan saja langsung padanya.
Ji Hoon pun mengangguk senang.



Ji Hoon keluar kelas dan melihat isi buku yang dipinjamnya, ada Eun Hye yang kebetulan akan masuk ke dalam kelas, sehingga Eun Hye pun menghentikan langkahnya menatap Ji Hoon heran. Eun Hye kemudian mendekati Ji Hoon dan bertanya darimana Ji Hoon mendapatkan buku itu? Ji Hoon menjawab kalau dia mendapatkannya dari Min Ki. Eun Hye hanya tersenyum dan berlalu begitu saja kedalam kelas. Dia berkata sambil lalu berapa banyak yang Ji Hoon dapatkan dengan menjual catatan itu? (Nyindir masalah ponsel ini..)
Temannya menjawab bagaimana dia bisa tahu, dia kan bukan yang mencurinya.

Ji Hoon hanya menarik nafas dan menyandarkan kepalanya ke pintu, dan Jung Hoo melihatnya dari jauh.



Ji Hoon mencoba sabar, tapi tidak bisa dan langsung masuk ke kelas menyusul Eun Hye. Dia bertanya apa maksud dari sindiran Eun Hye tadi? Apa yang dia curi? Eun Hye hanya tersenyum mengejek. Ji Hoon semakin kesal dan mengacungkan bukunya lalu memanggil Min Ki. “Min Ki, kau meminjamkannya padaku kan?”
Min Ki membenarkan hal itu. Eun Hye dengan santai menjawab apa ada yang bilang sesuatu padanya? Jangan Ge-Er dulu.

Ji Hoon berteriak “Kau bilang aku mencurinya”
Eun Hye berkata kalau dia berfikir Ji Hoon mencuri lagi. Ji Hoon semakin marah, apa maksud dari omong kosong yang Eun Hye katakan?
Eun Hye balas berteriak dan menjawab kalau yang dia katakan bukan omong kosong. Semua orang di kelas ini juga sudah tahu, kalau Ji Hoon yang mencuri ponsel Hae Seon. Semua kaget termasuk Ji Hoon. Dia tidak menyangka tuduhan itu mengarah padanya.



Yi Kyung yang pertama berdiri untuk protes dan membela sahabatnya. Ji Hoon bertanya siapa yang mengatakan itu? Dia bukan pencurinya. Eun Hye dengan dingin berkata siapa yang percaya dengan kata-kata Ji Hoon?
Jung Hoo juuga mulai kesal karena bagaimanapun Ji Hoon adalah sahabatnya. Dia berteriak, membuat Eun Hye menoleh ke belakang, Jung Hoo langsung menghampiri Eun Hye dan berkata kalau apa yang Ji Hoon bilang adalah benar. Jadi jangan terus menuduhnya.
Ha Kyung langsung berdiri dan mencoba menghentikan mereka.



Eun Hye mana peduli dengan Ha Kyung yang berusaha melerai mereka, dan dengan ketus berkata kenapa Jung Hoo yang marah? Jung Hoo dengan membentak berkata kalau orang lain yang mencuri ponsel Hae Seon.Bukan Ji Hoon. Eun Hye bertanya siapa orangnya? Apa itu Jung Hoo. Tentu kalimat tadi membuat amarah Jung Hoo semakin berapi-api. Jung Hoo berkata kalau Eun Hye sudah gila. Dia kemudian mengambil meja dan siap melemparnya kearah Eun Hye, tapi Heung Soo dan Yi Kyung menahan Jung Hoo, sehuingga meja itu hanya terdorong. Tapi sial bagi Ha Kyung, karena Ha Kyunglah yang terkena meja itu sehingga kakinya terluka.
Jung Hoo tentu kaget begitu juga Heung Soo.
Jung Hoo tidak berniat melukai Ha Kyung. Itu bukan keinginanya.



Heung Soo langsung melepaskan pegangannya pada Ji Hoon, dan menolong Ha Kyung yang terluka. Heung Soo berkata lebih baik Ha Kyung segera ke klinik sekolah, dan Heung Soo pun mengantarnya.
Hae Seon dan Na Ri baru masuk kelas, dan heran melihat keributan yang terjadi.



Eun Hye masih menuduh Ji Hoon atau Jung Hoo yang mencurinya. Jung Hoo langsung membantah dan dengan kesal berkata kalau orang lain pencurinya. Bukan dia atau Ji Hoon. Eun Hye lalu bertanya lagi, siapa orang yang pencurinya kalau bukan mereka berdua? Kalau Jung Hoo tidak bisa bilang, berarti ya salah satu dari mereka yang melakukannya.
Jung Hoo galau, dilemma, apakah dia akan mengatakannya atau tidak? Tapi Jung Hoo sudah tidak tahan dengan sindiran Eun Hye dan langsung mengatakan kalau Gae Na Ri pelakunya.
Semua kaget dan langsung menoleh memandang Hae Seon dan Na Ri yang sedari tadi diam di dekat papan tulis.

Hae Seon tertawa tidak percaya, dan berkata kalau itu tidak mungkin. Na Ri hanya diam saja. Hae Seon jadi heran dengan ekspresi Na Ri yang berbeda. Apakah memang benar Na Ri pelakunya? Hae Seon pun ingin menegaskan sehingga bertanya langsung apa benar Na Ri pelakunya? Tapi Na Ri sama sekali tidak menjawab,dan Hae Seon langsung melepas tangannya yang menggenggam Na Ri.



Na Ri malu dan langsung mengambil tasnya untuk pulang, dia tidak mampu menjawab apapun. Atau menjelaskan. Hanya menunduk saja. Tingkahnya yang diam semakin membuat semua yakin kalau Na Ri lah pelakunya.



Nam Soon dan Kang Joo bertemu dipersimpangan tangga. Kang Joo akan turun sedangkan Nam Soon akan naik, mereka sama-sama berhenti dan Kang Joo memuji Nam Soon yang berhasil mengendalikan kelas. Nam Soon balik memuji Kang Joo yang berhasil ada di posisi pertama, Kang Joo hanya tersipu malu. Nam Soon mengacungkan tinjunya untuk tos pada Kang Joo, dan saat itulah Ha Kyung lewat dipapah Heung Soo.
Kemudian Nam Soon melihat mereka berdua.



Nam Soon melihat tangan Ha Kyung yang sedang dalam genggaman Heung Soo. Ha Kyung jadi salah tingkah dan langsung melepaskan tangannya.Mungkinkah ini sinyal agar Nam Soon tidak cemburu padanya.



Kang Joo kaget melihat Ha Kyung terluka dan langsung menghampiri Ha Kyung. Dia bertanya apa Ha Kyung baik-baik saja?
Ha Kyung menjawab kalau dia baik-baik saja. Kang Joo pun memapah Ha Kyung untuk menuruni tangga.



Nam Soonpun hanya melirik Ha Kyung sekilas saat melewati tempatnya. Dia kemudian menghampiri Heung Soo, yang masih diatas. Nam Soon bertanya apa yang terjadi? Heung Soo menjawab Oh Jung Hoo. Nam Soon terkejut dan bertanya Oh Jung Hoo lagi? Nam Soon berkata lebih baik berpura-pura saja tidak tahu. Heung Soo nenjawab santai, dia sudah melakukannya.



Di kelas 2-2, In Jae ada di belakang, sedangkan Se Chan ada di depan kelas. Se Chan bertanya kemana Gae Na RI pergi?
Ga Eun menjawab kalau Na Ri pulang kerumah. Se Chan bertanya lagi, kenapa? Semua diam dan tidak menjawab. In Jae kemudian bertanya apa terjadi sesuatu? Semua masih tetap tidak menjawab.



Setelah kelas usai, In Jae dan Se Chan yang berjalan berdampingan, masih merasa heran dengan diamnya anak-anak tadi. In Jae pun berkata kalau pasti sudah terjadi sesuatu pada mereka (anak-anak)? Se Chan menjawab mungkin saja. In Jae bertanya apa menurut Se Chan itu masalah yang besar? Se Chan menjawab pasti besok mereka tahu jawabannya. Menurut Se Chan kalau memang masalahnya besar, maka besok akan menjadi tambah besar, jadi pasti akan menyebar dengan cepat beritanya.



Dan benar saja, keesokan harinya, Se Chan dan In Jae dikagetkan dengan berita Song Ha Kyung terluka. Mereka ada di ruangan kepala sekolah, dimana ada Ibu Ha Kyung, Wakasek, Kepsek Im dan Guru Uhm. Soo Chul bertanya apa In Jae tidak tahu karena melihat ekspresi In Jae yang terkejut.
Ibu Song berkata wajar kalau In Jae atau Se Chan tidak tahu, dia bisa mengerti. Ha Kyung tidak pernah bilang apapun, makanya dia juga tidak tahu sebelumnya. Tapi Ibu Eun Hye (Rumpi emnag ibu-ibu..^^) meneleponnya dan menceritakan semuanya.

In Jae bertanya dibagian mana Ha Kyung terluka dan seberapa parah?
Ibu Song menjawab dnegan sinis, tidak penting seberapa parah lukanya, yang penting Ha Kyung terluka.
Guru Uhm berkata kalau Ibu Song ingin membuka kasus ini sebagai kasus kekerasan sekolah.

Dengan kompak In Jae serta Se Chan bertanya siapa tersangkanya? Guru Uhm mantap menjawab Oh Jung Hoo.



Jung Soo berkata kalau ini adalah keinginan dari penggugat atau korban, jadi mau tidak mau kasus ini harus dibuka.
Dia meminta pada guru Uhm untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk membuka kasus ini.



Guru Uhm memanggil Jung Hoo, dan berkata dia harus mendengar apa yang terjadi sebenarnya. Jung Hoo menjawab smeua ini karena Eun Hye. Eun Hye menuduh dia dan Ji Hoon sebagai pencuri, jadi dia kesal. In Jae terlihat mendampingi Ji Hoon menghadapi guru Uhm.
Guru Uhm bertanya kenapa malah Ha Kyung yang terluka?
Jika sampai kasus kekerasan ini dibuka, maka ayah Jung Hoo harus datang kesekolah.

Jung Hoo kesal dan berteriak, daripada memanggil ayahnya mending keluarkan saja dia langsung dari sekolah.

(Kenapa aku jadi sedih ya sama Jung Hoo akhir-akhir episode, aku rasa banyak yang tidak bisa menghilangkan pikiran negative mereka pada Jung Hoo, dan selalu menganggap Jung Hoo pembuat masalah. Jung Hoo sendiri rasanya pasti lelah, untuk meyakinkan mereka kalau dia masih punya HATI..Bagaimanapun, hanya Jung Hoo yang masih mau menemani ayahnya yang tukang mukul, hanya dia yang mungkin kelak mau merawat ayahnya, sedangkan ibu dan saudara-saudara yang lain, pergi meninggalkannya. Bukankah itu sudah tanda kalau dia sebenarnya pria penyayang..)

In Jae langsung memanggil Jung Hoo dengan lembut, tanda dia tidak setuju dengan keinginan Jung Hoo itu. In Jae mungkin satu-satunya yang peduli, pada si berandal satu ini.



Eun Hye diminta menemui In Jae diruangannya. In Jae mencoba mencari tahu cerita yang sebenarnya dari yang bersangkutan. Eun Hye dnegan ketus mengatakan kalau dia tidak tertarik untuk menceritakannya.
In Jae masih belum menyerah dan berkata kalau yang dia dengar semua hanya kecelakaan tidak disengaja. Jadi bantu dia untuk informasi yang benar.

Eun Hye masih dengan sinis berkata bukankah membantu itu harus dilakukan dengan sukarela dan ikhlas, sedangkan dia, dia sama sekali tidak ingin melakukannya.
In Jae masih melanjutkan pertanyaannya, bukankah Eun Hye bermimpi menjadi seorang penyiar (Aku juga…tapi penyiar kayak Eun Hye bisa setres semua kalii yang denger, ketus dan tidak bersahabat sekali..)

Eun Hye menjawab iya, In Jae pun melanjutkan kata-katanya “Penyiar itu harusnya memiliki ketertarikan pada orang lain” (Alias Kepo..haha,,aku juga melakukannya kok..^^)

Eun Hye menjawab kayaknya ga gitu deh. In Jae bertanya lalu kenapa Eun Hye ingin jadi penyiar? Eun Hye menjawab karena seorang penyiar memiliki kehidupan pernikahan yang baik. (Amiiinnn..^^)
Eun Hye kemudian berkata kalau dia tidak ingin berlama-lama tentang ini, jadi dia akan segera pergi.



Saat Eun Hye telah pergi, Jo Bong Soo langsung mendekati In Jae dan berkata kalau ini masalah besar. Nan Hee yang juga ada disana berkata kalau Eun Hye adalah tipe anak yang egois, yang sama sekali tuidak peduli orang lain. Hanya dirinya sendirilah yang terpenting. Nan Hee juga berkata kalau anak-anak seperti Eun Hye memang banyak dan mereka biasanya bisa mengambil alih seluruh bangsa. LOL

Bong Soo berkata kalau orang tua yang meneybabkan mereka seperti itu. Orang tua hanya mengajarkan pada anaknya untuk belajar dan hanya itu, jadi menurut anak, tidak ada yang lebih penting dari nilai yang bagus.

In Jae ikut berkomentar “Sekolah juga tidak mengajarkan mereka hal-hal lain selain itu.”
In Jae bilang kalau dia bahkan belum pernah menghukum mereka dengan keras, selama ini dia hanya mencoba menghindari mereka saja.

Nan Hee menjawab apa In Jae tahu apa yang akan terjadi kalau In Jae menghukum anak-anak? Anak-anak akan menjadi raja dan ratu di rumah mereka, apapun keinginan mereka akan dipenuhi.



Hae Seon melirik ke bangku Na Ri yang kosong. Na Ri masih malu untuk kesekolah karena rahasianya terbongkar. Dia tidak sanggup menghadapi cemoohan teman-teman, apalagi harus berhadapan dengan Hae Seon, sahabatnya.
Se Chan melihat dari luar kelas, dan lalu membuka buku informasi para siswa. Dia melihat milik Na Ri, mencari nomer ponselnya mungkin. Se Chan juga khawatir kenapa Na Ri bolos sekolah hari ini?

Se Chan menulis SMS “Na Ri, dimana kau?Gurumu menunggu, cepat datang”
Baru kali ini kan Se Chan nulis SMS untuk muridnya?^^
Se Chan sendiri merasa heran dengan yang dilakukannya.



Kang Se Chan yang masuk ke ruang guru, dan duduk dikursinya, didekati Jung In Jae yang berbisik pada Se Chan bisakah dia bicara pada Jung Hoo? In Jae menceritakan kalau Jung Hoo lebih memilih dikeluarkan dari sekolah.
Se Chan menjawab kalau pasti karena Jung Hoo ga mau ayahnya datang, makanya dia kayak gitu.

In Jae berkata kalau sekarang Jung Hoo ada di ruang konseling. Mungkin Se Chan bisa menasihatinya atau bicara dengannya. Se Chan mengeluh, kalau konseling benar-benar bukan bidangnya. Tapi dia tetap menuruti kemauan In Jae.



Saat Se Chan keluar akan ke ruang konseling, ada Na Ri yang menunggu dibalik tembok dekat tangga. Se Chan tentu terkejut melihat Na Ri. Se Chan bertanya kapan Na Ri datang? Na Ri berkata kalau awalnya dia tidak ingin datang, tapi Se Chan mengirim SMS padanya, makanya dia datang. Se Chan berkata saat ini ada sesuatu yang harus dia lakukan, jadi masuklah ke kelas dulu, nanti dia akan menemui Na Ri lagi.

Na Ri kemudian memanggil Se Chan, membuat langkah Se Chan berhenti. Na Ri berkata apa Se Chan tidak bisa bicara dengannya dulu? “Aku mengalami waktu yang sulit sekarang”

Se Chan bingung, mana yang harus dia lakukan. Bicara dengan Jung Hoo atau Na Ri?
Se Chan berkata agar Na Ri menunggunya sebentar di kantor guru. Na Ri awalnya ingin protes kalau dia akan segera kembali. Se Chan pun lega dan segera ke ruang konseling.

Namun langkah Se Chan terhenti, dia berbalik, dan melihat kemana na Ri pergi. Sepertinya Se Chan mengkhawatirkan Na Ri.




Flashback

Se Chan seolah melihat saat dia dulu juga bertugas sebagai guru, dan keluarlah seorang siswi dari ruangannya di masa itu.
Seorang siswi berambut panjang yang berjalan terus menyusuri lorong, lalu kemudian bayangannya semakin kabur dan lenyap.



Flashback end

Bayangan itu tergantikan oleh Na Ri yang dimata Se chan sama persis seperti siswi berambut panjang yang ada di pikirannya tadi.



Se Chan memutuskan menemui Jung Hoo dulu di ruang konseling. Se Chan berkata kalau Jung Hoo harus membawa ayahnya. Apa Jung Hoo benar-benar ingin diusir seperti ini? Jung Hoo hanya menjawab iya. Se Chan berkata kalau begitu ya gak apa-apa. Jung Hoo kaget, karena biasanya dia akan ditahan untuk tidak seperti itu, kenapa dia sekarang malah dipersilakan keluar dari sekolah. Se Chan tersenyum dan berkata terlalu mudah kan? Se Chan melanjutkan kalimatnya “Hidupmu..ini terlalu mudah untuk orang lain. Jika kau tidak melakukannya, tidak akan ada orang lain.”



Konseling dengan Jung Hoo selesai, Se Chan pun masuk ke ruang guru, dan melihat hanya ada In Jae tanpa Na Ri disana. Se Chan mulai khawatir dan mecoba menengok diluar apa Na Ri ada disana. Se Chan bertanya pada In Jae apa Na Ri tidak datang kesini? In Jae membenarkan dan berkata Na Ri bahkan tidak membalas SMSnya. Se Chan semakin panik, dan berkata kalau tadi dia melihatnya?
In Jae heran dan bertanya dimana Se Chan bertemu Na Ri? Kenapa dia tidak melihatnya?
Se Chan diam saja dan segera keluar.



Ternyata orang yang ditemui Se Chan pertama kali adalah Hae Seon. Dia bertanya apa Hae Seon melihat Na Ri hari ini?
Hae Seon menggeleng. Na Ri tidak datang ke kelas sama sekali.
Se Chan tidak mendesak lebih jauh, saat akan meninggalkan Hae Seon, Se Chan menoleh dan melihat raut wajah Hae Seon yang sedih.
Se Chan pun bertanya apa ada seuatu yang terjadi pada Na Ri?
Hae Seon diam saja, dan Se Chan berkata ceritakan saja padanya tidak apa-apa. Hae Seon pun menceritakan kalau Na Ri lah ternyata yang mengambil ponselnya waktu itu.

Se Chan jelas terkejut mendengar penuturan Hae Seon. Darimana Hae Seon tahu, sedang dia menutup mulutnya terkait hal itu.



Dengan panik Se Chan langsung menghubungi Na Ri yang sama sekali tidak mendapatkan hasil. Se Chan yang saat itu sudah kembali keruan guru , kemudian bertanya lagi pada In Jae apa Na Ri benar-benar tidak datang? Dia bahkan tidak mengangkat teleponnya. In Jae heran melihat Se Chan yang sebegitu paniknya.
Se Chan kemudian nberkata pada In Jae kalau ponsel Hae Seon yang hilang waktu itu, Na Ri lah pelakunya. Dan sepertinya seluruh anak dikelas tahu akan hal ini. In Jae ikut kaget, dan bertanya kapan itu? Ha Kyung dan Eun Hye bahkan tidak mengatakan apapun tentang ini.

Se Chan akhirnya menyuruh In Jae untuk juga menghubungi Na Ri, siapa tahu dia akan mengangkat teleponnya. Mereka berduapun sama-sama cemas.



In jae kemudian bertanya bukankah tadi Se Chan bertemu Na Ri, memang apa yang tadi Na Ri katakan?
Se Chan menjawab kalau tadi Na Ri berkata dia segera kembali. In Jae mencoba menenangkan Se Chan dan berkata mungkin Na Ri memang sedang dalam perjalanan kembali, jadi jangan khawatir. Se Chan yang masih sibuk dnegan ponselnya menghubungi Na Ri membentak In Jae dan berkata kalau anak-anak sering berkata seperti itu, tapi nyatanya tidak. Tiba-tiba Se Chan teringat sesuatu setelah membaca pesan yang masuk di peonselnya.



Flashback

Seorang siswi berambut panjang berdiri di depan ruang guru. Saat itu Se Chan sedang sibuk mengajar dua siswi yang juga datang ke ruangannya. Dia menoleh pada siswi berambut panjang itu yang ternyata bernama Yoo Jin.
Yoo Jin berkata kalau ada sesuatu yang akan dia diskusikan dengan Se Chan. Se Chan menjawab kalau sekarang dia agak sibuk, jadi nanti saja bicaranya. Yoo Jin menjawab kalau begitu dia akan segera kembali. Se Chan dnegan tersenyum berkata sampai nanti ya.
Se Chan pun kembali melanjutkan penjelasnnya pada dua siswi yang sedang menunggu dari tadi.



Tiba-tiba Yoo Jin berjalan masuk mendekati Se Chan. Yoo Jin berkata “Maafkan aku guru.”
Setelah itu Yoo Jin keluar meninggalkan Se Chan



Flashback end

Se Chan menatap layar ponselnya dan melihat berulang kali SMS Na Ri yang berisi “Maafkan aku guru”
Kata-kata itu seolah mengingatkannya pada Yoo Jin, salah satu siswinya dulu. (Apa siswi yang digendong Se Chan dalam keadaan kritis dan tidak mampu bertahan sehingga meninggal di punggung Se Chan ya?)

In Jae heran melihat ekspresi Se Chan yang berubah tiba-tiba. Se Chan pun langsung mencari Na Ri di sekitar sekolah, takut hal-hal buruk yang akan Na Ri lakukan, karena pikirannya sedang kalut sekarang. Se Chan berhenti di toilet perempuan, dan berhenti di depannya.



Flashback

Waktu itu, Se Chan mendapati Yoo Jin dalam keadaan kritis di toilet perempuan.



Flashback End

Se Chan takut dan ragu untuk masuk. Dia tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Dia tidak mingin menyaksikan kematian muridnya lagi. Dia tidak sanggup.
In Jae yang ternyata mengikuti Se Chan, heran melihat Se Han hanya terdiam di depan toilet ini. In Jae pun memanggil Se Chan dan menyadarkan Se Chan dari lamunannya tentang Yoo Jin.
Se Chan segera melangkahkan kakinya kedalam, tapi In Jae langsung menarik lengan Se Chan membuat Se Han terkejut dan menatap In Jae. In Jae mengingatkan kalau ini toilet wanita. Se Chan pun sadar, dan langsung menyuruh In jae untuk mengecek ke dalamnya. In Jae pun paham dan segera masuk melihat.
Se Chan menunggu dengan cemas. Dan In Jae keluar berkata kalau tidak ada siapapun didalam toilet.



Se Chan memutuskan untuk melihat langsung ke dalam. Dia pun membuka satu persatu bilik kamar mandi itu. Dan saat akan membuka salah satu bilik, Se Chan kembali mengingat sesuatu



Flashback

Se Chan membuka setiap bilik kamar mandi di tolite wanita untuk mencari Yoo jin, dan saat membuka salah satu pintu, Se Chan mendapati tubuh Yoo Jin sudah menggantung dengan leher terikat. Kakinya terayun-ayun dia atas toilet yang tadi pasti dia pakai untuk berpijak sesat sebelum mengikat lehernya.
Yoo Jin ditemukan dalam posisi gantung diri.
Se Chan berteriak memanggil namanya.



Flashback End

Se Chan keluar dari toilet dan In jae menyusul sambil memanggil-manggi namanya. Se Chan tidak peduli dan terus melangkah mencari Na Ri.



Flashback

Se Chan yang sudah menemukan Yoo Jin menggantung dirinya di toilet, segera menggendong Yoo Jin di punggungnya untuk dibawa ke Rumah sakit atau minimal klinik sekolah. Saat itu Se chan begitu panik, dan meminta agar Yoo Jin tetap bertahan. Tapi tiba-tiba tangan Yoo Jin terkulai lemah, tanpa daya, menandakan bahwa dia sudah tidak mampu bertahan, dan sudah menghembuskan nafas terakhirnya.



Flashback End

Se Chan masuk ke salah satu ruangan, yang mungkin didatangi Na Ri dan berharap bertemu Na Ri dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada siapapun disana. Kosong. Hanya ada berderet-deret kursi yang tersusun rapi. Tanpa Na Ri.



Masih belum berhenti, Se Chan berlari lagi keluar ruangan. In jae yang terengah-engah mengikutinya berhenti saat Se Chan masuk ke satu ruangan lagi. Ruang olahraga, namun tetap tidak ada Na Ri disana. In Jae pun menghampiri Se Chan dan berkata kalau Na Ri ada dirumah. Dia baru saja mendapat telepon dari ibu Na Ri.
Se Chan menarik nafas lega mendengarna.



In Jae pelan-pelan mendekati Se Chan yang karena capek berlarian memilih untuk beristirahat dulu di ruang olahraga itu. Se Chan duduk untuk mengatur nafasnya kembali yang terengah-engah. In Jae ada disampingnya menatap dengan heran. In Jae melihat wajah Se Chan yang masih terlihat cemas.

Se Chan tahu In Jae penasaran diapun kemudian menceritakan semuanya “Ada seorang gadis bernama Yoo Jin, gadis yang kubawa dipunggungku”

Se Chan terdiam dan membuka kaca matanya, dia hampir menangis menceritakan tentang Yoo Jin. “Dia murid pertamaku..aku membunuhnya..anak itu..”

Se Chan benar-benar terisak kali ini, dia tidak mampu lagi membendung kesedihannya jika mengingat Yoo Jin. Terluka, karena merasa dialah yang menyebabkan Yoo Jin bunuh diri.



source : http://nhieshe.blogspot.com/2013/04/sinopsis-school-2013-episode-15-part-1.html , http://nhieshe.blogspot.com/2013/04/sinopsis-school-2013-episode-15-part-2.html , and http://nhieshe.blogspot.com/2013/04/sinopsis-school-2013-episode-15-part-3.html
re-posted and re-edited by : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment