Wednesday, December 18, 2013

The Heirs Episode 3


Eun Sang terbelalak mendengar pertanyaan itu. Sejenak ia terpana, lidahnya seakan kelu. Akhirnya ia berkata dengan suara lirih, “Mungkin tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kau sudah bertunangan,” jawab Eun Sang. Tapi seolah hal itu bukan hal yang besar, Tan kembali bertanya, “Selain yang itu..”
Seakan kehabisan jawaban, Eun Sang diam cukup lama, hingga akhirnya ia berkata kalau semua yang ia rasakan ini terlalu mirip dengan film. Tapi Tan menjawab kalau ini adalah Hollywood, “Semuanya bisa terjadi.”
“Benarkah?” tanya Eun Sang ragu. “Kita sekarang ada di Hollywood?”
Tan bengong mendengar pertanyaan Eun Sang yang nggak nyambung, “Apa?”
Entah Eun Sang itu polos atau pinter karena bisa menghindar dari pertanyaan Tan yang nembak Eun Sang. Tan pun membawa Eun Sang untuk melihat tulisan Hollywood yang terpampang besar sekali.
Antusiasme Eun Sang yang berteriak kegirangan menyadairi kalau mereka benar-benar di Hollywood, membuat Tan heran. “Tak mungkin itu lebih menarik daripada apa yang tadi barusan kukatakan di bioskop,” Tan melipat tangan, dan menyelidik.
Tanpa menatap wajah lawan bicaranya, Eun Sang berkata kalau ia berjanji pada dirinya sendiri kalau ia akan ke Hollywood jika ia pergi ke Amerika. Jawaban Eun Sang yang terus tak nyambung itu, membuat Tan merasa ia bicara sendirian.
Eun Sang malah bertanya, “Walaupun kelihatan jauh, tapi mungkin sangat jauh kalau kita mencoba mendekatinya, kan?”
“Itu memang kelihatan jau..” sergah Tan, namun tiba-tiba ucapan Tan itu berhenti di ujung kalimat, seakan Tan sadar apa yang sebenarnya ingin dikatakan Eun Sang. Ia menatap Eun Sang yang meliriknya namun tak berani menatapnya.
She knows that he knows what she’s trying to say..
Maka ia pun menyuruh Eun Sang untuk pulang ke rumahnya dan ia akan mengantarnya karena Eun Sang tak bisa berjalan kaki ke sana. Tapi Eun Sang menolak. ia tak akan pergi ke sana. Ia berterima kasih karenaTan sudah melakukan banyak hal untuknya, tapi ia tak mau terus menjadi beban. Ia mengajak Tan untuk pulang ke rumah agar ia bisa mengambil kopernya.
Tan terlihat kesal mendengar jawaban Eun Sang. Ia pun berjalan mendahuluinya.
Sesampainya di rumah, Tan hanya berdiri memandangi koper Eun Sang. Ia hanya melirik melihat Eun Sang yang mengambil koper itu. Menyadari kalau Tan kesal padanya, Eun Sang meminta maaf, meminta Tan untuk memeriksa handphonenya. Sebenarnya ia merasa tak enak, namun ia hanya ingin tahu apakah Chan Young sudah menjawab pesannya.
Tan tetap diam, dan Eun Sang pun tahu diri. Ia pun pamit pada Tan dan mengangkat kopernya.
Tapi Tan lebih cepat lagi. Sebelum tangan Eun Sang menyentuh koper itu, Tan mengambil koper dan membawanya masuk ke rumah.
Tan memeriksa handphone dan melihat kalau Chan Young sudah menjawab. Ia semakin kesal karena ternyata Chan Young sedang di Amerika dan bersedia menjemputnya. Jadi Eun Sang tinggal menelepon ke handphonenya dan ia akan segera ke sana.
Jadi saat Eun Sang bertanya tentang keberadaan kopernya, Tan memasukkan handphone di saku dan menjawab kalau kopernya ada di kamarnya. Mungkin ia menduga kalau Eun Sang tak akan berani masuk ke kamarnya.
Namun Eun Sang sudah menuju ke kamarnya. Untuk mencegahnya, ia berjalan mendahului Eun Sang dan berkata, “Aku ingin mandi. Ambillah sendiri jika kau mau.”
Dugaan Tan benar. Eun Sang mengurungkan niatnya untuk naik ke kamar Tan. Tan pun menyuruh Eun Sang tinggal di rumahnya sampai teman Eun Sang membalas pesannya.
Hmm.. Rachel kemana, ya? Ternyata Rachel sudah pergi. Ia hanya meninggalkan pesan kalau ia makan siang sendirian dan menyuruh Tan agar makan malam bersamanya.
Tan mendapat telepon dari Sekretaris Yoon yang menyampaikan pesan ayah Tan. Ayah Tan menyuruh Tan pergi pesta kebun yang diadakan salah satu pemegang saham.
Tan bertanya apakah kakaknya tahu kalau ia akan datang? Sekretaris Yoon menekankan kalau ayah Tan ingin Tan pergi. Tapi sepertinya Tan lebih memikirkan kakaknya daripada ayahnya dan ia kembali bertanya, “Apakah kakak tak ingin aku pergi?”
“Kalau kau ingin tahu apa yang dipikirkan kakakmu, kau bisa pergi dan tanyalah sendiri padanya,” ujar Sekretaris Yoon.
Sekretaris Yoon ini pintar juga. Namun walau pintar, ia kewalahan menghadapi pacar anaknya. Saat itu ia ke yayasan Empire/Jeguk yang satu lokasi dengan sekolah Empire. Kebetulan ia berpapasan dengan Bo Na yang langsung berteriak memanggilnya, “Appanim! (Ayah tapi sangat hormat sekali)”
LOL. Mata Sekretaris jelalatan, takut ada yang mendengar julukan yang tua banget itu dan menyuruh Bo Na untuk memanggilnya Ahjussi (Paman) saja. Panggilan itu membuat Bo Na cemberut dan mengeluhkan betapa Chan Young tak pernah menghubunginya lagi, bahkan ia mendengar Chan Young berbicara dengan gadis Amerika. Dan ia merasa Chan Young sedang selingkuh di sana.
Sekretaris Yoon langsung memasang wajah marah, “Benarkah? Anakku benar-benar brengsek!”
“Bagaimana mungkin pacarku disebut brengsek?” sahut Bo Na marah. Haha.. Bo Na berkata bukan Chan Young yang mengejar wanita, tapi para wanita yang mengejarnya. “Dan Cha Eun Sang atau Cha Geum Sang itu. Aku tak suka dengannya. Jadi jangan berbaik-baik padanya!”
Bo Na ini mungkin bipolar. Setelah marah-marah, ia menunduk khas sageuk dan berpamitan, “Semoga selamat sampai di rumah, Appanim!”
Ia pun langsung lari menaiki tangga. Sekretaris Yoon berteriak kalau dia adalah Ahjussi. Tapi Bo Na menjawab dengan berteriak juga, “Ahjussi itu Won Bin!”
Hahaha... Anak ini.. so cute.
Walau cute begitu, tapi Bo Na juga bisa sadis. Saat ia pergi ke ruang klub penyiaran, ia melihat ada dua gadis yang memberikan makanan Hyo Sin, yang kata mereka sudah mereka siapkan sejak subuh tadi.
Ia pun menunjuk satu per satu, menyebutkan nama-nama restoran tempat kedua gadis itu membeli bungkusan makanan itu, “Jadi apa yang kalian siapkan sejak subuh? Apa kalian memotong sumpit dan membentuk sendok-sendok itu?”
Salah satu gadis tak suka dengan gaya sok Bo Na dan mengatakan kalau ayahnya adalah presiden direktur TV SBC. Tapi Bo Na langsung memotongnya, “Ayahku adalah presiden direktur Mega Entertainment. Apa kalian ingin melihat nasib SBC jika kami menarik semua artis-artis kami?”
Hahaha.. Kalau itu terjadi.. Kamera Dispatch pasti sudah ada di ruangan itu. Dan besok kita akan baca di Allkpop.
Hyo Sin hanya senyum-senyum geli mendengar percakapan mereka. Setelah kedua gadis itu pergi karena kalah bicara, mereka pun membicarakan tentang anak kelas 10 yang harus keluar dari klub karena keluarganya mengetahui tentang keikutsertaannya dalam klub ini. Sepertinya ikut klub penyiaran bukan hal yang elit yang bisa dilakukan oleh para pewaris itu.
Bo Na menyadari kalau Hyo Sin lebih mahir dalam menyembunyikan keikutsertaan dalam klub ini. Sambil minum pil, Hyo Sin menjawab kalau ia tak tahu apakah ia yang mahir, atau keluarganya yang mahir dengan pura-pura tak tahu tentang hal ini.
Bo Na heran melihat Hyo Sin yang minum pil. Namun ia tak mengejar jawaban lebih lanjut lagi saat Hyo Sin menjawab kalau itu adalah vitamin. Hmm.. apa pil itu ada hubungannya dengan muntahnya Hyo Sin kemarin?
Eun Sang heran melihat Tan berdandan rapih dan membawa tas. Tan meminta maaf karena ia tak bisa mengajak Eun Sang pergi ke Hollywood sekarang. Mendadak ia harus pergi. Ia menyuruh Eun Sang untuk tak pergi ke mana-mana.
Tapi Eun Sang berkata ia tak bisa tinggal lebih lama lagi karena ia terlalu membebani Tan. Ucapan itu malah membuat Tan marah, “Kau selalu berkata akan pergi, akan pergi. Padahal kau tak punya tempat tujuan lagi! Jangan pernah berkata ‘beban’ lagi, atau kalau tidak aku akan menjualmu!”
LOL, Eun Sang sampai terbelalak mendengar ancaman Tan.
Dan dari atas terdengar “Hey guys! Ohh.. My sweet angel is in the house!” Oh no! Si Jay muncul lagi. Bahkan kali ini saya sampai merinding melihat Jay meniupkan ciuman jarak jauh pada Eun Sang.
Rupanya yang kesal melihat Jay bukan cuman saya. Melihat Jay mendekati Eun Sang, Tan pun bertanya pada gadis itu, “Apakah kau bisa melakukan perjalanan jarak jauh?”
Maka mereka pun pergi keluar kota. Walau sama-sama terdiam, keduanya sama-sama saling mencuri pandang.
Nyonya Han ngobrol dengan temannya. Dan wow.. ada ya ternyata kaca mata yang berbulu? Temannya bertanya tentang ayah Tan yang tak kunjung menceraikan istri sahnya.
Note : Ibu Won adalah istri pertama dan sudah meninggal. Kemudian ada istri kedua, Nyonya Jung,  dan Nyonya Han ini adalah selingkuhan atau mungkin adalah selir karena dia memiliki Tan. Tapi ia belum berstatus istri karena suaminya masih memiliki istri sah.)                                                                                                                                                                           
Namun dari reaksi Nyonya Han yang diam saja, temannya tahu kalau suaminya masih tak bisa menceraikan istri keduanya itu. Menurutnya, perselingkuhan adalah cara terbaik untuk melakukan perceraian. Maka ia memberikan nomor telepon detektif swasta yang sudah berpengalaman menangkap basah orang yang berselingkuh.
Di ruang anggur, ia pun menelepon detektif swasta agar membuntuti Nyonya Jung. Tapi ia terkejut setengah mati karena di ada Ibu Eun Sang di ruangan itu. Buru-buru ia menutup telepon dan bertanya apakah ibu Eun Sang menguping pembicaraanya? Ibu Eun Sang pun menulis kalau ia tak menguping, tapi ia kebetulan ada di sana.
Hahaha.. lucu sekali melihat mereka berdua. Nyonya Han berkata kalau ibu Eun Sang melihatnya bicara di telepon dengan bisik-bisik, harusnya ibu Eun Sang langsung mengatakan kalau ia ada di ruangan itu!
Di notes-nya, ibu Eun Sang menulis kalau ia sudah menulis pesan dan mengangkatnya. LOL. Ibu Eun Sang pun mengingatkan kalau Nyonya Han beruntung jika tak ketahuan. Harusnya Anda menggunakan handphone sekali pakai.
Nyonya Han terkesiap, menyadari keteledorannya. Ia pun memarahi ibu Eun Sang karena baru memberitahukan padanya sekarang. Ibu Eun Sang menulis lagi, tapi Nyonya Han buru-buru menghampiri pelayannya dan berseru, “ “Jangan tulis itu! Jangan tulis, Anda tak pernah bertanya pada saya!
LOL.
Tan dan Eun Sang pun sampai ke tujuan. *Ehh.. nama tempatnya Harmony? Deket, dong. Di daerah Kota, naik busway sudah sampai.*
Tan menitipkan kunci mobil pada Eun Sang. Ia tak tahu apakah ia akan diusir dalam waktu 5 menit atau lebih lama dari itu. Ia mengijinkan Eun Sang untuk jalan-jalan jika merasa bosan, tapi memperingatkan gadis itu untuk berhati-hati pada seseorang, “Orang yang berwajah paling dingin di sini.”
Sepertinya kalimat itu Tan tujukan pada dirinya sendiri. Ia merapikan jasnya dan berjalan dengan gugup menghampiri kerumunan pesta itu.
Won yang sedang berbincang-bincang, ditanyai oleh salah satu tamu Jepang tentang siapa pria yang berdiri agak jauh dari mereka. Melihat adiknya yang berdiri menatapnya, iapun permisi pada tamunya dan menghampiri adiknya.
Tan tersenyum menatap kakaknya yang berjalan ke arahnya dan menyapanya, “Hyung.” Tapi kakaknya terus berjalan dan persis saat di sebelahnya Won berkata pelan namun tegas, “Ikuti aku.”
Eun Sang berjalan-jalan di kebun almond. Ia terkejut saat melihat Tan datag bersama seorang pria. Tak menampakkan dirinya, ia mengintip pembicaraan mereka.
Tan tersenyum melihat kakaknya lagi. Tapi tidak dengan Won yang tak membalas sapaan Tan dan malah bertanya, siapa yang menyuruhnya datang kemari?  Apakah sekretaris Yoon? Won memarahinya yang berani datang kemari tanpa memikirkan konsekuensinya,
“Bagaimana mungkin aku tak datang? Aku ingin menemuimu,” Tan seolah menjadi anak kecil lagi di depan Won.
“Inilah alasan mengapa anak-anak susah dikendalikan. Bagaimana mungkin kau langsung datang hanya karena ingin menemui seseorang? Kau bahkan tak tahu apa arti kedatanganmu ini.”
Tan mencoba menarik pujian dari kakaknya dengan berkata kalau mereka sudah 3 tahun tak bertemu dan ia sekarang jauh bertambah tinggi dari sebelumnya. Namun Won hanya berkata dingin, “Hanya itu, kan yang kau lakukan di Amerika? Tetap lakukan itu saja. Datang ke sini merupakan tindakan yang terlalu berani. Pergilah.”
Won pun meninggalkan Tan yang tak bisa berkata apapun, terlalu patah hati karena sikap kakaknya yang dingin.
Eun Sang tak melewatkan sedikitpun apa yang terjadi, hanya bisa menatap Tan dengan iba. Tiba-tiba penyemprot air otomatis menyala, membasahi tubuh mereka. Tapi Tan seakan tak menyadari siraman air itu.
Eun Sang tak berlindung dari semprotan air itu. Walau ragu, ia menghampiri Tan dan berdiri di hadapannya. “Apakah kau baik-baik saja?” tanyanya.
“Aku tak baik-baik saja. Kenapa kau menguping?”
“Karena jika kulihat kau dalam bahaya, aku akan menghitung sampai 3, menarik tanganmu dan lari bersamamu,” jawab Eun Sang sedikit bercanda.
“Lalu kenapa kau tak melakukannya?” tanya Tan mengagetkannya. “Dari tadi aku ada dalam bahaya. Kenapa kau tak menyelamatkanku?”
Di mobil, Eun Sang memandang Tan yang terus terdiam mengendarai mobil pulang. Tanpa menoleh, Tan meminta Eun Sang untuk melupakan apa yang dilihatnya tadi. Eun Sang menjawab kalau tanpa disuruh pun ia akan melupakannya, karena semua ini adalah mimpi. Mimpi musim panas yang segera terlupakan setelah ia bangun.
Ucapan Eun Sang membuat Tan menoleh dan memandangi gadis itu lama. Dan karena terus memandangi itulah Tan tak menyadari kalau ada longsoran batu yang memenuhi jalan. Saat melihatnya, refleks Tan langsung mengulurkan tangan untuk melindungi Eun Sang dan membanting setir agar tak menabrak bebatuan besar itu.
Tabrakan tak terjadi, tapi mobil Tan selip di pasir. Tan mencoba memundurkan mobilnya, tapi mobil terlalu selip ke dalam pasir. Eun Sang panik dan Tan menenangkannya. Ia menyuruh Eun Sang untuk tetap tinggal di mobil sementara ia akan berusaha.
Tapi Eun Sang tak mau. Walau panik ia masih bisa ingat kalau situasi seperti ini adalah adegan pertama di film horor.  Heheh.. ia pun keluar dan melihat Tan sedang menelepon.
Tapi handphone Tan tak mendapat sinyal sehingga tak bisa menelepon bengkel. Mereka harus melakukannya sendiri dan harus ada yang mendorong mobil agar bisa lepas. Karena Eun Sang tak bisa menyetir,  maka ia yang mendorong.
Haha.. kasihan Eun Sang. Tapi mobil tetap tak bergerak juga. Dan karena tangki bensin juga bocor terantuk batu, maka tak butuh waktu lama agar mobil menjadi mogok.
Maka Tan pun mengusulkan agar pergi ke suatu tempat sebelum gelap, untuk mencari pertolongan. Tapi Eun Sang tak suka ide itu, “Bagaimana kalau kita tinggal di sini saja? Di film-film, karakter yang pergi ke tempat itu, pada akhirnya selalu mati. Seperti Texas Chainsaw Massacre, Friday the 13th, Scream, Hello Sydney. Apa kau tak tahu?”
Tan memandang Eun Sang tak percaya. Ia pun menyuruh Eun Sang untuk tinggal di mobil saja dan ia pun berjalan pergi. Eun Sang berteriak memanggilnya, ketakutan, “Ayo pergi bersama! Aku bisa mati kalau sendirian di sini!”
Melihat Eun Sang berjalan bersamanya, Tan bertanya apakah Eun Sang sudah memutuskan kalau ia akan mati? Jawab Eun Sang, “Jika ada season 2, setidaknya salah satu harus tetap hidup!”
LOL. Tan tersenyum melihat Eun Sang malah berjalan lebih cepat darinya.
Jalan masih panjang, dan mereka belum menemukan rumah. Untung Eun Sang membawa makanan. Tan bertanya apakah ia hanya membawa satu? Eun Sang menjawab kalau ia beli dua. Tapi satu untuk ibunya.
Tan menyindir kalau Eun Sang sangat boros sekali. Ia pun meneruskan, “Jika temanmu menghubungimu..”
“Apa ia sudah menjawab?” Eun Sang langsung antusias, membuat Tan kesal dan berkata kalau pertanyaannya belum selesai.
Tan bertanya apa yang akan Eun Sang lakukan jika temannya menghubunginya? Eun Sang menjawab kalau ia akan pinjam uang untuk beli tiket pulang. Kakaknya membawa semua uangnya. Tan pun berkata kalau ia akan meminjamkan uang pada Eun Sang.
Tapi Eun Sang tak mau, “Dan ginjalku sebagai gantinya? Aku tak seberani itu.”
Heheh.. Tan akhirnya berkata kalau ia mendapat jawaban dari Chan Young. Hal itu membuat Eun Sang bersemangat dan meminta handphonenya dan bertanya apakah ada sambungan internetnya?
Tan menggerutu, bagaimana bisa ada sambungan internet jika tak ada sinyal? Namun Eun Sang tak mendengar karena ia berteriak kegirangan. Ada rumah di kejauhan.
Sayangnya bengkel yang mereka cari sudah tutup. Tapi pemilik pompa bensin itu berjanji akan menelepon tukang derek agar mobil bisa diderek pagi-pagi sekali.
Akhirnya mereka pun bermalam di motel sebelah pompa bensin. Eun Sang berusaha membersihkan kaosnya tapi sia-sia saja. Tan masuk dan melemparkan sebuah kaos yang ia beli di toko souvenir. Mereka tak bisa tidur dengan baju kotor.
Eun Sang terbelalak, bukan karena kedua kaos mereka serupa, karena Tan tak malu untuk membuka baju di hadapannya. Ia berbalik dan berdehehm canggung, bertanya apakah Tan berniat membuat orang salah sangka pada mereka, mengira mereka adalah pasangan?
“Jangan mimpi,” sahut Tan sambil tersenyum, terus membiarkan Eun Sang merasa malu dan tak berniat untuk ganti baju di tempat lain. Setelah selesai memakai kaos, ia menyuruh Eun Sang untuk berganti baju dan segera keluar karena mereka akan makan malam.
Eun Sang menghela nafas lega, walau menyesal, “Memalukan.. seharusnya aku tadi sempat mengintipnya.”
LOL.. jadi kenapa nggak liat?
Mereka pun makan malam seadanya. Dan Eun Sang pun terkesima melihat liquor yang sangat banyak. Tan terkejut mendengarnya. Apakah Eun Sang juga peminum? Eun Sang bertanya seperti seorang alkoholik, “Apa kau tak melihat tanganku gemetar dari tadi?”
Tan geli, “Kau sedikit lucu.”
“Apa kau baru tahu?” tanya Eun Sang sok imut dan ia pun makan telor orak-arik dengan lahap. Tapi Tan tak makan dan terus memandangi Eun Sang dari samping, membuatnya kembali canggung dan bergumam,”Jangan melihatku. Atau kalau tidak aku akan menanyakan pertanyaan yang membuatmu canggung.”
“Seperti apa? Siapa orang yang kau temui di perkebunan? Seperti itu?” sambar Tan cepat. Eun Sang mengangguk dan Tan pun menjawab, “Ia adalah orang yang paling aku sukai di dunia ini.”
Haha.. Jawaban yang ambigu dan itu membuat Eun Sang penasaran untuk bertanya, “Apakah kau mungkin..” tapi ia tak berani melanjutkan kalimatnya dan mencoba tak peduli.
Ia kembali makan lagi, membuat Tan geli, “Aku tak peduli kalau kau berpikir aku seperti itu, tapi jangan pikirkan kakakku seperti itu.”
“Ahh.. jadi itu kakakmu?” Eun Sang mengerti, tapi kemudian bertanya lagi, “Jadi kau menyukai kakakmu sendiri?”
“Hei!!” bentak Tan kesal. Dan Eun Sang pun terjatuh karena kaget dibentak Tan. Sehingga Tan segera menangkapnya.
Mereka berdua berpandangan dalam posisi yang membuat pipi Eun Sang bersemu merah. Tan segera mendudukkan kembali dan menyalahkan Eun Sang yang berpikiran kotor, “Dan kenapa wajahmu merah sekali?”
Eun Sang berkilah kalau ia sekarang merasa tak adil. Tak adil kenapa? “Karena aku belum pernah makan pancake.”
Haha.. Eun Sang pinter banget ngelesnya. Eun Sang berkata kalau di film-film, orang-orang selalu menuangkan sirup di pancakenya dan mereka juga minum orange juice. Tan berjanji akan mengajak Eun Sang ke tempat pancake yang enak di Malibu.
Bukannya senang, Eun Sang malah kesal karena Tan menjanjikan hal itu. “Jangan berjanji seperti itu. Jika kau berjanji dan tak menepatinya, kau akan mati!”

Eun Sang menggeleng-gelengkan kepala, mencoba menghilangkan pikiran yang menakutkan itu. Tan benar-benar bengong melihat gadis itu, “Kau yang menakutkan!”

Setelah makan malam, mereka kembali ke kamar. Eun Sang bersiap-siap tidur di sofa. Tan memancing kekesalan Eun Sang dengan berkata kalau ia akan tidur di tempat tidur. Eun Sang tak peduli kalau ia harus tidur di sofa. Ia mempersilakan Tan untuk memakai tempat tidur dan ia cukup bersyukur karena Tan bisa memperoleh tempat untuk tidur.


Tan heran mengapa Eun Sang sangat optimis sekali? Sebenarnya karena dirinyalah, Eun Sang mengalami hal yang tak menyenangkan ini. Eun Sang membaringkan diri dan berkata, “Bagaimana mungkin ini adalah kesalahanmu. Semua ini karena longsoran batu. Selamat malam!”
Tanpa menunggu jawaban, Eun Sang memejamkan mata dan tertidur. Secepat itu? Tan pun bertanya, “Apa kau sudah tidur?” Tak ada jawaban. “Benar-benar tidur?”
Tan pun menggoncang-goncangkan telepon dan memukul meja, tapi Eun Sang tetap tidur dengan tenangnya. Ngorok pula. Haha.. Tan akhirnya menendang-nendang sofa tempat Eun Sang tidur dan berkata, “Bangunlah. Aku tahu kau pura-pura tidur. Ada yang ingin kutanyakan padamu.”
Eun Sang langsung bangun dan duduk bersila, “Apa yang ingin kau tanyakan?” Tan pun bertanya mengapa Eun Sang membenci dan berharap agar grup Empire bangkrut. Eun Sang langsung menyadari kalau Tan membaca SNS-nya dan menuntut Tan untuk segera log out dari akunnya. Dan lagipula harapannya itu tak ada urusannya dengan Tan, “Apa kau punya saham di perusahaan itu?”
Tan tak bisa menjawab. Ia akhirnya menyuruh Eun Sang untuk melupakan pertanyaannya dan menyuruh Eun Sang untuk mengawasinya hingga ia tertidur, “Karena kau selalu bicara tentang pembunuhan, aku jadi takut. Kau boleh tidur setelah aku tidur. Itu biaya kamarmu.”
“Biaya kamar?” protes Eun Sang kesal. “Katamu aku mengalami kejadian hari ini karena kesalahanmu!” Tan membaringkan badan dengan nyamannya dan mengembalikan ucapan Eun San, “Semua ini karena longsoran batu.”
Walau kesal, tapi ia memenuh permintaan Tan. Tan menyuruh Eun Sang untuk mengawasinya saja, dan jangan berbuat yang tidak-tidak padanya. Hihihi.. Eun Sang menggerutu kalau Tan tidaklah sekeren itu. Tan tertawa dan memejamkan mata.
Eun Sang sudah terkantuk-kantuk saat Tan bertanya apa yang Eun Sang lakukan jika ia bertemu dengan temannya itu. Dengan mata terpejam, Eun Sang menjawab kalau ia akan pulang secepat mungkin.
Tan berbalik lagi dan melihat Eun Sang sudah tertidur dengan posisi duduk. Ia pun menghampiri namun segera berlari saat melihat tubuh Eun Sang terjatuh ke samping. Kepala Eun Sang akan terantuk lengan sofa jika Tan tak menahan tubuhnya.
Eun Sang sudah tertidur lelap, tak menyadari tangan Tan yang terus menyentuhnya. Tan menarik selimut dengan lembut agar Eun Sang tak terbangun. Duduk di meja, Tan memandangi gadis itu lama sekali.
Rachel menerima SMS dari Chan Young yang berterima kasih karena telah menerima alamatnya. Uh.. nyebelin nih si Rachelnya.
Tan dan Eun Sang sampai juga di rumah dan Eun Sang masih meminta agar Tan meminjamkan handphone-nya. Ia ingin memeriksa apakah sudah ada pesan balasan dari Chan Young. Tapi Tan masih tak mau dengan alasan berbagai rupa.
Namun tak ada alasan lagi saat Chan Young tiba-tiba muncul. Eun Sang kaget namun bersyukur melihat temannya datang. Chan Young yang katanya pergi itu, ternyata pergi ke Amerika.Tan membanting jasnya ke mobil, membuat Eun Sang menoleh kembali padanya. Sambl masuk ke dalam rumah, Tan berkata kalau cuaca panas sekali dan kalau Eun Sang mau ngobrol, ngombrol saja di dalam.
Chan Young bertanya siapa pria itu dan mengapa mereka memakai kaos couple? Eun Sang tak menjawab dan meminta Chan Young untuk masuk ke dalam.
Di dalam, Eun Sang berterima kasih pada Tan dan mengucapkan selamat tinggal. Tapi Tan memintanya untuk tetap tinggal di sini. Yang perlu Eun Sang lakukan setelah bertemu temannya kan hanya meminjam uang?


Eun Sang berkata kalau ia tak punya alasan lagi untuk tinggal di rumah Tan. Tapi Tan memberikan segudang alasan yang mengharuskan Eun Sang tinggal di rumahnya.


Chan Young masuk dan bertanya apa ada masalah. Tan menantang kalau memang ada, memang kenapa? Sedangkan Eun Sang yang tak mau ribut menjawab tak ada masalah. Chan Young memandangi Tan dan menggali ingatannya, hingga akhirnya ia bertanya, “Kau ini Kim Tan, kan?”


Tan bertanya bagaimana Chan Young bisa mengenalnya? Apakah Chan Young adalah salah satu anak yang dulu pernah ia bully semasa SMP? Chan Young hanya menjawab kalau masalahnya tak sesederhana itu. Ia mengajak Eun Sang untuk pergi karena taksinya sudah datang.


Eun Sang pun mengucapkan selamat tinggal dan Tan melihat kepergiannya dengan sedih. Ia berhenti sejenak melangkah, namun hanya sesaat. Sendirian, Tan berdiri di rumahnya yang sangat besar sekali itu.


Eun Sang menceritakan apa yang terjadi selama ini pada Chan Young dan bertanya apakah benar pria itu bernama Kim Tan? Ia tak berani bertanya tentang Tan karena ia juga tak ingin menceritakan lebih banyak tentang dirinya sendiri. Apakah Tan itu anak yang jahat? Apakah ia pernah mem-bully Chan Young?


Chan Young menjawab kalau ia tak begitu mengenalnya, yang ia tahu kalau Tan bukan anak yang baik. Ia mengajak Eun Sang masuk dan memintanya untuk tak khawatir akan masalah tiket.


Suara Eun Sang sedikit bergetar saat berterima kasih pada Chan Young. Ia sekarang harus pesan tiket segera. Chan Young menyuruhnya agar tak terburu-buru, karena yang pertama kali mereka harus lakukan adalah mencari makan.


Chan Young pun membawa Eun Sang berjalan-jalan, makan lollipop dan berfoto bersama. Tapi kejahilan Chan Young kumat dengan meng-upload foto mereka ke SNS-nya. Ia ingin menunjukkan sesuatu yang asyik. Eun Sang penasaran apakah sesuatu itu dan Chan Young pun menyuruh Eun Sang untuk menghitung sampai tiga.


Eun Sang pun manut dan mulai menghitung. Pada hitungan ketiga, handphone Chan Young berbunyi. Chan Young menunjukkan layar handphonenya. Eun Sang terbelalak membaca nama si penelepon. Bo Na!
“Tuh, lihat! Asyik, kan?”

“Apa kau mau mati? Apa kau ingin rambutku dijambak oleh Lee Bo Na?” tanya Eun Sang panik. Tapi Chan Young malah merasa itu ide yang bagus, membuat Eun Sang menendang kaki temannya itu. Chan Young mengangkat handphone dan senyum-senyum mendengar teriakan cemburu Bo Na, bertanya apa yang sedang Chan Young lakukan di Amerika dengan Eun Sang?


“Aku sekarang sedang bersama Cha Eun Sang, memikirkan dirimu,” jawab Chan Young gombal dan ia pun menjauh dari Eun Sang agar bisa bicara dengan pacarnya.


Eun Sang tersenyum melihat kelakuan Chan Young. Ia melihat-lihat sekitar dan pandangannya terantuk pada kaos yang tergantung di sebuah toko. Ia langsung teringat pada Tan.


Sedangkan Tan, sendirian tinggal di rumah, mondar-mandir nggak jelas. Hmm.. jadi kepikiran, sebelum Tan kenal Eun Sang, dia ngapain aja, ya? Sekarang kok kerjaannya mikirin Eun Sang aja.


Nulis jurnal juga nggak, malah kesal melihat foto terbarunya Eun Sang yang ada di SNS yang masih ada di handphonenya. Tiduran, ia akhirnya melihat foto  pertunangannya dan bergumam, “Besok..”


Rachel sudah ada di lobi hotel, bersiap untuk pulang. Tapi Tan menelepon dan bertanya dimana Rachel sekarang. Dengan ketus Rachel menjawab kalau ia sudah ada di Korea lagi.


“Benarkah?” tanya Tan yang ternyata berdiri tak jauh darinya. Ia menurunkan handphonenya dan dengan suara lebih keras, ia berkata, “Kalau begitu kembalilah lagi ke Amerika.”

Rachel mendengar suara Tan dan menoleh. Jika Rachel merasa senang, ia berhasil menyembunyikan dengan baik. Ia pun menyuruh pegawai hotel untuk mengundurkan jadwal kepulangannya sampai besok karena ia tahu Tan tak akan menemuinya lagi lusa.


Ibu Rachel menelepon dan bertanya apakah Tan sekarang bersamanya sekarang? Ibu Rachel berkata kalau ia akan menemui ibu Tan sekarang  dan pada ibu Tan, ia akan mengatakan kalau Rachel pergi ke Amerika karena Tan memintanya untuk datang, dan bukan sebaliknya.


Saya kira yang datang adalah Nyonya Han, tapi ternyata adalah Nyonya Jung. Note : Karena Tan adalah anak haram, maka di mata hukum Tan adalah anak dari istri sah, yaitu Nyonya Jung. Dan semua orang yang mengenal keluarga Empire, mengenal Tan sebagai anak dari Nyonya Jung.


Mereka berbasa-basi dengan Rachel memuji Nyonya Jung yang selalu langsing walau melahirkan Tan di usianya yang sudah tak muda, dan Nyonya Jung memuji Rachel yang disebutnya sebagai gadis cantik.

Pertemuan mereka ini karena ibu Rachel ingin memberitahukan kabar tentang dirinya yang akan menikah lagi. Nyonya Jung memang sudah mendengar kabar itu dan mengucapkan selamat.

Ibu Rachel bertanya tentang calon anak tirinya, Young Do, yang ia dengar sudah tak berhubungan baik lagi dengan Tan sekarang, yang sepertinya malah baru didengar oleh Nyonya Jung. Karena menurut Nyonya Jung mereka akrab sekali sebelum Tan pergi ke Amerika.


Di ruang klub fotografi, Myung Sok menangisi fotonya yang gagal karena Young Do membuka jendela sehingga terlalu banyak cahaya yang merusak fotonya. Ia merasa gagal untuk menjadi penerus Bresson.


“Seumur hidupku, aku selalu mencari momen-momen penting,” Young Do menoleh pada foto yang terpampang di tembok. Fotonya dan Tan saat masih SMP, “namun setiap saat dalam hidup ini adalah sebuah momen yang penting.”


Myung Sok heran, apa yang sedang dibicarakan Young Do. Young Do ternyata mengutip ucapan Bresson, fotografer kenamaan yang diidolakan Myung Sok, “Apa kau tak seharusnya mengenal mentormu terlebih dulu sebelum kau  menjadi penerusnya?”


Myung Sok berpikir sejenak. Sepertinya ia tak tahu, makanya ia hanya cengengesan sambil mengacungkan jarinya dengan imut, membuat Young Do tertawa.


Tapi mood Youn berubah suram saat melihat ayahnya meneleponnya. Ternyata Young Do diajak berlatih taekwondo. Salah. Bukan berlatih, tapi Young Do dihajar ayahnya dengan judo. Sama-sama bersabuk hitam, namun Young Do tak berkutik di hadapan ayahnya. Berapa kalipun  Young Do berusaha menjatuhkan ayahnya, si ayah selalu berhasil membanting Young Do.


‘Sesi latihan’ pun berakhir dan ternyata penyebab latihan ini adalah karena Young Do membuat gara-gara kemarin dengan manajer dapur, “Levelnya pun bukan manajer hotel. Tak dapatkan kau menangani Manajer Dapur? Kenapa kau malah membuat gosip tak sedap?”


Ayah Young Do bertanya apakah Young Do ingin tahu mengapa ia tak pernah menang melawannya? “Pertama, karena kau tak pernah memukuliku.”

Uhh.. suka ngelakuin KDRT kok ya bangga. Young Do menyindir kalau iseharusnya mewarisi sifat dari ayah, tapi ternyata yang menurun kepadanya adalah sifat ibunya. Young Do menunduk dan berlalu pergi. Tapi ayah Young Do belum selesai.


“Kedua, kau terlalu banyak menyerang, entah di dalam atau di luar matras,” ujar ayah Young Do. Ucapan ayah Young Do mengesalkannya, tapi lebih mengesalkan lagi saat ayahnya berkata, “Rachel akan pulang dari Amerika. Pergi dan jemput dia di bandara.”


Tan menemani Rachel di hari ulang tahun pertunangan mereka. Rachel berterima kasih pada Tan, tapi Tan meminta Rachel untuk berpura-pura menyukai barang-barang yang telah ia beli. Rachel mengatakan kalau barang-barang yang Tan beli juga bisa ia beli. Tapi hadiah yang Tan berikan padanya adalah waktu Tan karena ia tahu Tan tak suka belanja. Dan ia berterima kasih karenanya.

Tan meminta Rachel untuk tak berterima kasih padanya. Jika bersama Rachel, ia suka berbelanja. “Karena jika kita melakukan hal yang lain, sepertinya terasa kalau kita benar-benar berkencan.”


Ouch.. Ucapan Tan yang kejam itu membuat senyum Rachel hilang. Ia bertanya apakah Eun Sang sudah pergi? Tan menjawab kalau Eun Sang sudah pergi kemarin dan semuanya sesuai dengan apa yang direncanakan Rachel, “Kau yag memberitahukan alamatnya, kan?”


Tertangkap basah, Rachel bertanya kenapa Tan selalu mengungkit masalah Eun Sang. Tapi Tan menjawab sinis, “Kau yang mengungkit masalah ini.”


Rachel kesal. Makin kesal karena handphonenya berbunyi dan ada Young Do di seberang sana yang langsung menyemprotnya, mengatai seperti anak SD yang tak bisa pulang sendiri.

Pada Tan, ia bertanya apakah Tan sudah mendengar kalau ia akan bersaudara dengan si brengsek Young Do? Walau tak nyaman, tapi wajah Tan sedikit melunak saat bertanya apakah Young Do baik-baik saja? Jawab Rachel : “Dia sangat baik. Ia melakukan apa yang selalu kalian lakukan dulu, tapi sekarang ia melakukannya sendiri.”

Whoaa… dulu ada 2 Gu Jun Pyo? Berarti anak Je Guk sekarang beruntung dong, cuman ada Young Do yang suka mem-bully?


Untuk melepaskan kekesalannya akan Young Do yang telah merusak ulang tahun pertunangan mreka, ia mengajak Tan pergi ke restoran pancake di Melrose yang merupakan favorit Tan.

Tan teringat akan keinginan Eun Sang untuk makan pancake dan janjinya untuk membawanya ke Melrose. Ia pun menolak ajakan Rachel. Dengan jujur ia berkata kalau Eun Sang mungkin ada di sana, berharap Rachel yang tak suka melihat Eun Sang mengikuti ajakannya untuk pergi ke tempat lain saja.


Tapi Rachel mencemooh Tan yang yakin sekali Eun Sang akan ada di restoran yang sama. Apa Tan tak tahu kalau Los Angeles ini sangat luas sekali jika dibandingkan dengan Seoul? “Dan di LA yang seluas ini, kau bisa bertemu dengannya di sana?”

Tan hanya merasa kalau hal itu bisa saja terjadi. Maka Rachel pun memaksa pergi ke sana, hanya untuk memeriksa apakah firasat Tan benar.


Maka mereka pun ke restoran pancake di Melrose, dan melihat kalau Eun Sang benar-benar di sana. Sementara Rachel  mengomel, Tan terdiam. Ia terus memandangi Eun Sang, gadis yang baru saja pergi dari rumahnya tapi baginya kepergian itu sudah terasa sangat lama.

Eun Sang senang bisa ada di restoran ini dan Chan Young heran bagaimana Eun Sang bisa tahu ada tempat makan yang enak di sini? Eun Sang hanya tersenyum, tapi senyumnya pupus saat melihat sosok Tan yang berdiri di pinggir jalan. Sesaat dunia hanya milik berdua karena mereka berpandang-pandangan sangat lama.


Rachel bertanya apakah Tan dan Eun Sang memang berniat untuk datang ke restoran ini? Tan tak menjawab, malah menarik menarik tangan Rachel untuk mengajaknya pergi ke tempat lain. Tapi Rachel tak mau. Ia akan memeriksa apakah hal ini adalah takdir atau hanya kebetulan.


Ia pun mendatangi meja Eun Sang. Pada pelayan yang bertanya apakah ia sudah memesan sebelumnya, Rachel menjawab kalau ada temannya yang sudah menunggu. Ia pun menghampiri meja Chan Young dan menyapa, “Ternyata kau ini ‘White Hacker Yoon’. Aku akan duduk di sini dan kami yang akan membayar.”

Tanpa menunggu lebih lama, ia pun duduk di kursi kosong di meja Eun Sang. Eun Sang bertanya pada Chan Young apakah Chan Young mengenal Rachel? Chan Youn menjawab kalau mereka teman satu sekolah, tapi Chan Young tak mengenalnya.

Rachel menambahkan kalau ini juga pertama kalinya ia berbicara dengan Chan Young. Mereka berbeda  lingkup pergaulan karena Chan Young bisa sekolah di sekolahnya karena beasiswa untuk orang yang tak mampu.

Eun Sang memandang Rachel yang sangat menghina Chan Young. Chan Young diam namun terlihat ia mencoba bersabar.

Tan menghampiri mereka dan mengajak Rachel pergi. Tapi Rachel tak mau. Akhirnya Tan mengalah dan duduk di kursi kosong terakhir. Eun Sang meliriknya.


Rachel bertanya pada Chan Young, bagaimana mereka bisa makan di tempat ini? Chan Young menjawab kalau Eun Sang yang memilih tempat ini. Hal ini membuat Rachel sedikit terperangah, tapi ia kemudian berkata kalau hal ini benar-benar kebetulan yang luar biasa, “Walau menurut tunanganku dan gadis ini, hal ini adalah takdir. Bagaimana menurutmu Yoon Chan Young?”

Tan memotong ucapan Rachel, tak ingin membicarakan topic seperti itu. Maka Rachel pun menurut dan berganti topik, “Bagaimana kalau yang ini? Dulu kau pacaran dengan Lee Bo Na, kan? Ayo, saling menyapalah. Ini adalah pacar Bo Na sekarang dan ini adalah mantan pacarnya.”


Kali ini Chan Young marah, karena Rachel membicarakan Bo Na yang bahkan tak ada di antara mereka. Rachel pun balas menyalak, “Kalau begitu kenapa kau malah bersama dengan gadis ini padahal kau punya pacar? Ini adalah salahmu. Tunggu.. bukan.”


Rachel melirik Eun Sang kejam, “Pria yang sudah punya tunangan dan pria yang sudah punya pacar. Apakah ini adalah masalah terbesarmu karena kau selalu bertemu dengan pria-pria seperti itu?”


“Yoo Rachel!” seru Chan Young marah. Tapi Tan sudah berdiri dan menarik Rachel pergi. Eun Sang masih tetap terpaku, merasa tertohok dengan hinaan Rachel. Chan Young bertanya apa yang harus ia lakukan sekarang? Haruskan ia ikut campur atau pura-pura tak tahu?


Eun Sang menggeleng dan memaksakan senyum, “Pesan. Kita harus makan dan beli tiket pesawat.”

Chan Young meminta Eun Sang untuk tinggal beberapa hari lagi. Tapi Eun Sang menggeleng. Ia sudah harus segera pulang. Ia khawatir akan ibunya dan harus bekerja paruh waktu lagi agar bisa membayar Chan Young.

Chan Young menatapnya iba dan memintanya untuk tak perlu buru-buruu mengembalikan hutangnnya. Eun Sang tersenyum dan berkata kalau pandangan seperti itu dilarang muncul karena mereka sekarang masih berada di Amerika.


Tan menarik Rachel hingga ke tempat yang sepi dan meminta gadis itu untuk tak melakukan hal itu lagi. Ia mengenal Rachel saat mereka berumur 10 tahun dan saat itu ia melihat Rachel seperti anak yang jenius.


Bicara di telepon dengan bahasa Inggris dan bergumam sendiri dalam bahasa Jepang. Pada umur 14 tahun, ia mengenal Rachel yang menyukai kakaknya dan tak memandangnya karena menganggap dirinya masih bayi. Ucapan Rachel yang selalu ia ingat tentang pertunangan ini adalah, Kau mengenal semua orang di lingkup pergaulan kita. Apakah kau melihat ada gadis yang lebih baik dariku?


Selama 8 tahun terakhir, Yoo Rachel yang kuingat adalah gadis yang pintar, cantik, dan dewasa. Tapi sekarang, kau tak mirip dengannya. Jangan berubah seperti itu. Terlebih lagi, jangan berubah karenaku. Karena aku tak sepadan dengan pengorbananmu,” Rachel tercenung mendengar ucapan Tan yang seakan menamparnya kiri dan kanan. Tan berlalu pergi setelah berkata kalau ia akan datang kembali besok untuk mengantarkannya pulang.


Merasa galau, mood Rachel kembali naik saat ia tak sengaja berpapasan dengan Won di lobi hotel. Won bertanya mengapa Rachel tak menginap di hotel milik Young Do? Rachel menjawab kalau ia tak mungkin mau berhutang budi pada keluarga Young Do. Ia pun menebak Won mempunyai perasaan yang sama karena Won juga menginap di hotel ini.

Won tersenyum mengiyakan. Hubungan Rachel dengan Won sepertinya jauh lebih baik daripada hubungannya dengan Tan. Rachel meminta Won mengajaknya pergi , karena ia merasa sumpek jika terus berada di kamar hotel.


Maka Won pun mengajaknya walau mewanti-wanti kalau tempatnya jauh dan tempat itu mungkin bukan tempat yang disuka oleh Rachel. Ternyata Won membawanya ke kuburan dan mengunjungi makam seseorang bernama Sofia Lee.

Won menjelaskan kalau makam itu adalah makam ibunya. Sebelum ibunya bertemu dengan ayahnya, ibu adalah gadis desa yang pekerjaannya membuat anggur dan memetik jeruk. Sehingga menjadi istri di keluarga chaebol dan hidup di antara pesta-pesta yang penuh gosip terlalu menyesakkan bagi gadis Amerika sederhana seperti ibunya dan akhirnya ibunya meninggal.


Rachel bertanya apakah ibu Won bisa membuat wine sendiri? Won membenarkan, bahkan di ruang anggur di rumahnya ada wine yang bernama ‘Won’, namanya, ibunya sendiri yang membuatnya di tahun kelahirannya.


Kagum, Rachel bertanya apakah Won pernah mengajak Tan untuk mengunjungi makam ibunya? Won menggeleng, membuat Rachel tersenyum senang. Tan pasti sangat cemburu jika mendengar hal ini. Won geli dan bertanya Tan akan cemburu pada siapa? “Kepadaku?” Rachel menggeleng. Tan akan cemburu padanya.

Rachel berterima kasih karena telah diijinkan ikut bersama Won. Tapi Won yang merasa harus berterima kasih karena ia tak perlu bicara sendirian saat berada di makam.


Won mendapat telepon dari Sekretaris Yoon dan ia minta agar Sekretaris Yoon memberitahu ayahnya kalau ia akan tinggal di Amerika untuk beberapa hari lagi dan akan mampir ke Singapore. Tapi ia melarang Sekretaris Yoon untuk tak memberitahu jadwalnya pada Tan seperti sebelumnya.


Sekretaris Yoon meminta Won untuk tak khawatir karena ia tak akan mencampurkan urusan bisnis dengan personal. Sekretaris Yoon masuk lift dan kebetulan Presdir Choi dan Presdir Lee juga masuk ke dalam.


Sepertinya Presdir Lee dan Sekretaris Yoon memiliki masa lalu. Mantan pacar mungkin? Karena setelah presdir Choi keluar lebih dulu, meninggalkan calon istrinya di lift, Presdir Lee langsung menyapanya.


Sekretaris Yoon membalas sapaan dan bertanya apakah itu calon suami Presdir Lee sekarang? Presdir Lee mengangguk dan berkata, “Entah 20 tahun yang lalu ataupun sekarang, tetap saja bukan dirimu.”

Presdir Lee : Sekretaris Yoon = 0 : 1


Presdir Lee sepertinya ingin membuat Sekretaris Yoon marah ataupun reaksi lainnya. Tapi Sekretaris Yoon hanya tersenyum sopan dan memberi selamat padanya. Lift terbuka dan Sekretaris Yoon keluar. Tapi Presdir Lee masih terus mencoba, “Anehnya.. ,” Sekretaris Yoon berhenti dan menoleh ke arahnya, “Setiap kalau melihatmu, Oppa, hatiku selalu berdebar-debar.”


Sekretaris Yoon kembali tersenyum sopan dan berkata, “Semoga perasaan itu tetap sama bahkan setelah kau menikah lagi.

Presdir Lee : Sekretaris Yoon = 0 : 2


Pintu lift menutup kembali, menyisakan wajah presdir Lee yang kecewa. Walau yang sebenarnya, Sekretaris Yoon berhasil menyembunyikan perasaannya dengan baik.


Tan menelepon Sekretaris Yoon untuk menanyakan apakah kakaknya sudah kembali ke Seoul. Sekretaris Yoon menjawab sudah, membuat Tan kecewa. Sekretaris Yoon berkata kalau ia dengar Tan bertemu dengan putranya di Amerika. Awalnya sedikit bingung, namun ia menyadari kalau putra yang dimaksud adalah Chan Young.


Ia pun menelepon Chan Young dan berkata kalau ia akhirnya tahu siapa Chan Young. Ia meminta agar disambungkan pada Eun Sang. Tapi kata Chan Young, Eun Sang tak sedang bersamanya sekarang. Kalau ada yang ingin disampaikan pada Eun Sang, Tan bisa menitip pesan padanya.


“Apa kau ini pengacaranya?” Tan sepertinya selalu kesal pada Chan Young. “Aku akan bicara langsung padanya, jadi teleponlah aku kalau dia sudah datang.”


Eun Sang muncul. Ternyata ia baru saja dari restoran kakaknya. Sesuai arahan Chan Young, ia sudah minta teman-teman Eun Suk untuk menghubunginya jika kakaknya menghubungi mereka.


Chan Young mengangguk, kakaknya pasti sedang terlibat sesuatu sehingga tak mau menemui Eun Sang. Ia pun menyampaikan pesan Tan untuk menelepon balik. Tapi Eun Sang tak mau, karena mulai besok, dia sudah pulang dan tak akan bertemu lagi dengan Tan.


Aww.. lucu sekaligus kasihan saat melihat Tan yang duduk menunggu telepon dari Eun Sang. Ia terus memandangi handphoneya, seakan handphone itu bisa berbunyi jika ia memandangi handphone itu lama.

Kesal, ia akhirnya meninggalkan handphone itu di luar. Tapi ia buru-buru kembali mengambil handphone itu, takut ada dering telepon yang terlewatkan.


Tapi Eun Sang tak menelepon. Ia malah pergi ke kampus Tan untuk menulis pesan di papan pengumuman.


Tan melihat kalau Eun Sang menggantung kaos kaki di handle pintu. Dan kaos kaki merah muda itu menerbitkan senyum di bibirnya, yang mungkin mengingatkannya pada si pemilik.


Di atas papan pengumuman, tertulis  pesan Eun Sang, “Sebuah malam di musim panas. Saat itu terasa seperti mimpi. Aku akan menghilang sekarang, seperti mimpi yang kulihat kemarin malam. Selamat tinggal.”


Tan pergi ke hotel untuk mengantarkan Rachel ke bandara. Di bandara, Rachel bertanya apakah Tan tak mau pulang ke Korea? Tan menjawab kalau ia ingin, tapi ia tak punya keberanian untuk melakukan hal itu. Rachel heran, Tan membutuhkan keberanian untuk pulang? Tan mengiyakan, ia butuh keberanian yang sangat cepat.


Sepertinya Rachel benar-benar menyukai Tan, karena Rachel memberanikan diri memeluk Tan. Walau tindakannya berbeda dengan ucapannya, “Ini bukan berarti aku sudah memaafkanmu. Aku masih tetap membencimu.”

Meskipun terkejut, Tan tak menolak namun juga tak memeluk balik. Walau sesaat tangannya sempat terulur, namun tangan itu tetap berada di saku celananya.


Ia tak menyadari kalau ada seorang gadis yang masuk ke bandara dan melihatnya berpelukan dengan Rachel. Gadis itu terpana namun berbalik pergi dengan sedih. Akhirnya ia melihat gadis itu dan tanpa peduli ada gadis yang sedang memeluknya ia berteriak memanggil, “Cha Eun Sang, berhenti disana!”


Cha Eun Sang menghentikan langkahnya. Rachel pun melepaskan pelukannya saat mendengar nama itu.


Haruskah ia berbalik?



source :
http://www.kutudrama.com/2013/10/sinopsis-heirs-episode-3-1.html
http://www.kutudrama.com/2013/10/sinopsis-heirs-episode-3-2.html

re-posted and re-edited by : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment