Friday, December 27, 2013

The Heirs Episode 9



Tan menyusul Eun Sang yang menangis terisak-isak. Ia bertanya apakah Eun Sang terluka? Eun Sang mengangguk  tapi tak ingin Tan mendekatinya. Tan tak menggubris permintaan Eun Sang dan menghampiri gadis itu untuk memeriksa luka di lengannya. Akhirnya Eun Sang membiarkannya.
Handphone Eun Sang berbunyi dan melihat siapa peneleponnya, Eun Sang ingin mengangkatnya. Tan meminta handphone itu, tapi Eun Sang tak memberikannya. Ia harus menjawab telepon ini. “Kau juga melihatnya tadi. Tak ada gunanya mengacuhkan dan mengabaikannya. Ia tahu kalau aku bukan orang kaya baru.”
“Memang kenapa kalau dia tahu? Biarkan saja!” tukas Tan tajam.
Tapi Eun Sang tak bisa. Young Do tahu semuanya tentang dirinya. Ia terlalu panik dan takut untuk menuruti perintah Tan. Buru-buru ia mengangkat telepon.



Maka Tan pun menghentikan Eun Sang dengan menarik handphone itu dan menciumnya.
Eun Sang terkesiap, dan handphone itu terlepas dari genggamannya.
Young Do sudah mendengar kalau teleponnya diterima, tapi tak kunjung mendengar suara Eun Sang. Ia berkata ‘halo’ tapi tak ada yang menyahut di ujung sana. Ia pun mematikan dan menelepon lagi, namun kali ini panggilan itu tak tersambung.
Tan melepaskan ciumannya dan melihat Eun Sang sudah tak sepanik sebelumnya. Masih tetap memegang tangannya, Tan berkata, “Jika kau ingin membuatku menjadi gila, angkatlah telepon dari orang itu, walau sudah kularang. Dan aku tak akan segan untuk mengubur orang itu.”
Eun Sang mengangguk dan buru-buru pergi. Kali ini Tan tak mengejarnya. Ia memungut handphone Eun Sang yang tadi terjatuh. Young Do masih terus menelepon Eun Sang, maka ia yang mengangkatnya.
Young Do kaget mendengar suara Tan, namun saat melihat Eun Sang turun, ia dapat menduga kalau Tan sekarang ada di atap sekolah, “Apa yang kalian lakukan di atap? Cha Eun Sang baru saja turun dari atas.”
Tan memperingatkan Young Do agar tak berbuat macam-macam, tapi Young Do malah menutup telepon karena ia ada urusan lain. Young Do menarik tangan Eun Sang, tapi kali ini Eun Sang menepis tangan Young Do. Young Do kaget melihat reaksi Eun Sang yang berbeda apalagi melihat tatapan Eun Sang yang marah dan tak kelihatan takut.
Myung Soo yang berpapasan dengan Eun Sang bertanya pada Young Do apa yang terjadi pada si OKB? Kenapa bajunya sangat kotor? Young Do mengaku kalau ia tadi menjegal Eun Soo.
“Sengaja atau tak sengaja?”  tanya Myung Soo. Dari wajah Young Do, Myung Soo tahu jawabannya. Ia heran melihat sikap Young Do. Biasanya Young Do tak pernah mengganggu anak perempuan. Lalu kenapa hal seperti ini bisa terjadi?
“Karena aku penasaran. Aku penasaran dengan perasaanku setelah aku menjegalnya,” jawab Young Do.
Myung Soo heran mendengarnya. Pantas saja Young Do sering disebut anak SD. Kalau Young Do tertarik pada Eun Sang, tanya saja langsung. Kenapa harus mengganggu Eun Sang seperti itu?
Heheh.. Untuk urusan ini, Myung Soo lebih pintar daripada Young Do.
Young Do menyuruh Myung Soo untuk diam. Tapi Myung Soo malah menyuruhnya untuk diam, dan berjalan meninggalkannya.
Waahhh.. Myung Soo pemberani banget bisa mengkritik Young Do. Nggak juga, karena setelah itu Myung Soo terbirit-birit lari dan Young Do memanggilnya untuk berhenti. LOL.
Di toilet, Eun Sang mencuci jasnya yang kotor. Bo Na muncul dan meminjamkan baju ganti untuk Eun Sang. Aww… Bo Na so sweet banget. Eun Sang berterima kasih walau Bo Na bersikeras kalau tindakannya ini ia lakukan karena nanti Chan Young pasti melakukan hal yang sama.
Tan mencari seseorang di setiap kelas. Dan saat melihat Young Do, ia sepertinya menemukan targetnya. Ia segera turun dari tangga dan memukul Young Do. Perkelahian pun terjadi. Young Do membanting Tan. Tan meninju Young Do beberapa kali. Begitu seterusnya. 
Myung Soo hanya bisa melihat tapi tak berani melerai. Begitu pula siswa lain yang berdatangan, termasuk Rachel.
Eun Sang selesai ganti baju, dengan Bo Na yang berkomentar kalau sepertinya Eun Sang tak pernah kelihatan pantas memakai baju apapun. Ye Seol muncul dan mengabarkan kalau di luar ada kehebohan antara Tan dan Young Do.
Belum sempat Ye Seol menjelaskan lebih rinci, Rachel muncul di toilet dan menjambak rambut Eun Sang. Bo Na menahan tangan Rachel agar tak menjambak Eun Sang, tapi Rachel menepis tangannya dan menyuruh Bo Na diam.
Tetap tenang, Eun Sang menyuruh Rachel melepaskan tangannya dan bercerita atas apa yang terjadi, “Pasti terjadi sesuatu yang besar karena kau menjambak rambutku.”
“Apa kau tak menyadari apa yang terjadi di sekolah gara-gara orang tak berharga sepertimu? Tan dan Young Do saling memukul satu sama lain. Apa yang akan kau lakukan?” tanya Rachel marah.
Eun Sang dan Bo Na terkejut.
Hyo Sin yang melerai mereka. Eun Sang yang akhirnya melihat mereka, terkejut melihat wajah Tan dan Young Do yang babak belur. Dan lebih parahnya lagi, Nyonya Jung muncul dan marah melihat kedua anak yang barusan ia temui sekarang berkelahi lagi. Ia menyuruh keduanya untuk mengikutinya.
Di ruangannya, Nyonya Jung bertanya apa yang sebenarnya terjadi, yang membuat Tan dan Young Do berkelahi seperti ini. Mereka berdua diam tak menjawab. Nyonya Jung memaksa mereka bicara, dan Young Do pun berkata, “Saya diajarkan untuk tak mengatakan satu katapun tanpa kehadiran seorang pengacara, Bu.”
Dengan tajam, Nyonya Jung berkata kalau ia bicara sebagai kepala sekolah bukan sebagai ibu Tan. Beraninya mereka berdua membuat kerusuhan di sekolahnya. Ia akan menyelidiki kejadian ini dari CCTV dan akan melaporkan pada komite disipliner. Jika perlu, ia akan memanggil orang tua mereka.
Young Do meminta agar ia diberi kesempatan sekali lagi. Nyonya Jung berkata kalau itu sudah terlambat. Ia tak peduli apa yang mereka lakukan diluar sekolah, tapi jangan macam-macam di dalam. “Kalian akan meninggalkan tempat ini setelah lulus. Tapi bagiku ini adalah karirku dan tempat kerjaku. Jadi jangan menodai sekolahku. Mengerti?!”
Tan dan Young Do keluar ruangan. Ucapan terakhir Nyonya Jung tak luput dari perhatian Young Do. Bukankah Nyonya Jung, sebagai ibu, seharusnya bertanya lebih dulu apakah Tan terluka atau tidak. “Tapi karena kau bukan anak kandungya, tentu ia lebih khawatir akan pekerjaannya dibandingkan dirimu.”
Tan menanggapi ucapan Young Do dengan santai karena Young Do pasti tak tahu betapa senang dan amannya ia memiliki ibu seperti itu. Young Do mencoba mengusik Tan dengan bertanya kapan enaknya ia menggunakan kartu as itu (Tan anak haram) dan mencoba menebak-nebak bagaimana dampaknya jika hal itu muncul.
Tan berkata kalau Young Do tak mungkin berani melakukannya. “Karena tanpa itu, kau jadi bukan siapa-siapa lagi. Karena setelah itu kau tak dapat melakukan apapun padaku. Jika kau ingin memastikannya, coba saja gunakan hal itu,” tantang Tan.
Young Do menggertak, nanti Tan akan menyesal. Tapi Tan malah berkata kalau ia sudah mempersiapkan diri untuk membuat semuanya jadi kacau.
Menatap foto remaja Tan dan Young Do, Myung Soo sebagai ‘kakak’ merasa sedih melihat perkelahian mereka. Bo Na dan Ye Seul muncul untuk ekskul Golf mereka. Ye Seul yang tak mengenal Tan dan Young Do saat SMP bertanya mengapa kedua orang itu bermusuhan? Bukannya mereka dulu dekat? Bo Na yang juga mengenal mereka pun juga tak tahu.
Myung Soo menggeleng. Dulu ia hanya merasa aneh karena Young Do tak muncul saat Tan pergi keluar negeri. Ia tak tahu kalau ternyata hubungan mereka seburuk ini.
Ye Seul juga penasaran apakah Kim Tan benar menyukai Eun Sang, karena Tan sangat melindungi gadis itu. Bo Na langsung mengatakan kalau kelakuan Young Do yang seperti anak SD itu yang membuat Tan berlaku seperti itu. Ye Seul heran, mengapa Bo Na selalu membela Tan. Bo Na menjadi kesal dituduh seperti itu.
Mereka akan terus bertengkar jika Myung Soo tak melerai mereka. Sudah cukup ia melihat satu perkelahian. Ia tak mau melihat yang kedua kali. Bo Na heran, mengapa Chan Young tak kunjung datang.
Ternyata Chan Young sedang mendengarkan Eun Sang yang curhat. Melihat Young Do menduduk Eun Sang di kursi Joon Young, membuat Eun Sang menduga kalau Young Do sudah tahu kalau ia ada di SMA Jeguk karena beasiswa. Chan Young meminta Eun Sang untuk tak takut. Ia akan mendampingi Eun Sang untuk melawan Young Do.
Namun Chan Young lebih khawatir akan satu hal yang lain. Ia menebak kalau Tan suka dengan Eun Sang. Dan Chan Young lebih mengkhawatirkan kenyataan itu daripada kenyataan Eun Sang bisa sekolah di sini karena beasiswa. Banyak anak di sekolah mereka yang ingin menjatuhkan Tan, namun mereka tak dapat menyentuh anak pemilik Grup Jeguk. Oleh karena itu jika mereka mengetahui hal ini, sebagai gantinya mereka akan menjatuhkan Eun Sang. Dan Chan Young merasa Young Do sudah mulai melakukannya.
Ucapan itu membuat Eun Sang khawatir. Maka saat ia pulang dan menemukan Tan menunggu di depan gerbang ia bersikap dingin. Tan mengembalikan handphone Eun Sang dan pura-pura marah karena Eun Sang ceroboh pada barang yang belum lunas cicilannya. Ia juga pura-pura merajuk karena luka yang dideritanya. Ia juga bercanda kalau ia mungkin akan dikeluarkan oleh Kepala Sekolah, “Seorang pria tak mungkin hanya punya ijasah SMP saja, kan?”
Sesaat Eun Sang tampak khawatir, tapi hanya sesaat karena setelah itu Eun Sang memilih tak peduli. Ia hanya berkata kalau ia akan masuk sekarang. Tan menahannya. Ia sudah menunggu Eun Sang lama sekali. Tanpa menatap Tan, Eun Sang berkata kalau mulai sekarang, Tan jangan menunggunya lagi.
Tan menarik tangan Eun Sang. Eun Sang meminta Tan menahan diri. Ia tak ingin berdebat dengan Tan dan mengingatkan kalau ada kamera CCTV di depan gerbang. Tan mulai marah karena Eun Sang tak pernah mau mendengar kata-katanya.
Selain CCTV, ternyata ada yang juga melihat mereka berdua. Won datang dan melihat Tan memegang tangan Eun Sang. Eun Sang buru-buru memberi hormat dan masuk ke dalam. Seperti sikap Eun Sang, Won pun juga bersikap dingin pada Tan.
Saat Tan bertanya apakah Won berniat tetap tinggal di hotel, Won balik bertanya apakah Tan ini sekarang penjaga pintu gerbang karena bertanya hal-hal yang tak berguna. Saat Tan bertanya apakah Won ingin kembali tinggal di rumah, Won berkata apakah Tan ingin menggantikannya untuk tinggal di hotel jika ia kembali ke rumah?
Tan frustasi melihat sikap kakaknya. Ia menegaskan kalau ia tak memiliki keinginan untuk merebut apa yang dimiliki Won. Won menjawab kalau Tan tak bisa memutuskan apa keinginannya, Grup Jeguk yang memutuskan. Dan bagi Won, keberadaan Tan sekarang hanya merupakan masalah saja, “Itulah arti seorang anak haram.”
Won melewati Tan yang tertegun dan menyuruh Tan untuk tak memberitahu siapapun kalau ia ada di sini.
Rasanya kasihan sekali melihat kesedihan di wajah Tan karena diacuhkan oleh 2 orang yang penting dalam kehidupannya.
Di dalam kamar, Tan meng-SMS Eun Sang agar tak pergi ke gudang anggur karena ada kemungkinan kakaknya akan pergi ke sana.
Tapi terlambat karena Won sudah berdiri di tangga, menatap Eun Sang. Eun Sang buru-buru berkata kalau ia disuruh Nyonya Han untuk mengambil minuman. 
Won berkata kalau Eun Sang boleh mengambil semua botol anggur di ruangan itu, kecuali botol yang dipegang Eun Sang. Botol itu memiliki tahun 1983. Eun Sang minta maaf, tapi Won berkata kalau ia tak marah. Ia mengambil botol yang dipegang Eun Sang dan menyerahkan botol lainnya.
Won bertanya apakah Eun Sang bersekolah di SMA Jeguk dan tinggal di sini. Eun Sang menjawab iya. Sikap Won pada Eun Sang tak sedingin saat bicara pada Tan. Ia mengatakan kalau ia senang bertemu lagi dengan Eun Sang.
Hyun Joo menunggu kedatangan Won di lobi. Saat ia berdiri untuk memanggil Won. Tapi ada orang yang sudah lebih dulu menyapa Won. Rachel sebenarnya datang ke hotel untuk menemui Young Do, tapi ternyata Young Do tak ada.  Won mengajak Rachel untuk minum the bersama.
Melihat hal itu, Hyun Joo hanya dapat menelan kekecewaannya.
Rachel tahu kalau Won sekarang tinggal di hotel dan menyebutnya masih dalam masa puber karena bersikap seperti anak kecil. Ia pikir Tan juga sama, sedang masa puber. Rachel memberitahu kalau Tan hari ini berkelahi karena seorang gadis . Kelihatannya Tan ingin pacaran dengan gadis itu.
Won pun menghubungkan ucapan Rachel dengan apa yang dilihatnya di depan gerbang tadi. Won mencoba bercanda dan bertanya apa gadis itu lebih cantik daripada Rachel? Rachel menjawab kalau Won itu sama seperti pria-pria lainnya (yang mementingkan fisik) dan ingin tahu apakah wajah Tan memang benar-benar babak belur? Won pun kembali bercanda dengan menjawab, “Kau juga sama seperti gadis-gadis yang lain.”
Nyonya Han marah karena Tan berkelahi di sekolah. Ia tak percaya kalau wajah Tan seperti itu karena menendang bola, “Kalau mau berbohong itu buatlah yang masuk akal. Apa kau menendang bola dengan wajahmu?!”
Tapi Tan tak mau memperpanjang urusan ini. Ia berkata kalau ia sudah capek dan langsung menutup pintu kamar.
Wihh.. bisa diomeli saya sama ibu kalau bersikap sama seperti Tan.
Keesokan harinya, Tan sudah ada bersiap berangkat sekolah pagi-pagi sekali. Ia menunggui Eun Sang untuk pergi ke sekolah bersama-sama. Tapi Eun Sang tak kunjung muncul hingga jam tujuh pagi, membuat Tan sadar kalau Eun Sang berangkat jauh lebih pagi.
Tapi kekhawatirannya mulai muncul karena Eun Sang absen. Ia hampir tak mendengarkan gurunya yang sedang mengupas karakter dalam novel Great Gatsby. Young Do, Rachel dan Chan Young pun juga melihat kursi Eun Sang yang kosong.
Eun Sang ternyata hanya duduk-duduk di pinggir jalan, melihat orang yang lalu lalang. Ibu Eun Sang mendapat telepon dari sekolah. Ia tak dapat menjawab, tapi mendengar gerutuan pihak administrasi kalau Eun Sang tak masuk sekolah tanpa ijin.
Begitu bel pelajaran berbunyi, Tan langsung kabur untuk mencari Eun Sang. Ia mencoba menelepon gadis itu, tapi tak bisa. Begitu pula Chan Young yang mencoba menghubungi sahabatnya. Tapi Chan Young mengatakan kalau Eun Sang biasanya menonton film di sebuah bioskop yang menyajikan film dengan gratis.
Dan benar saja. Tan lega saat menemukan Eun Sang duduk sendirian di sana. Ia duduk beberapa baris di belakang Eun Sang dan terus menunggu Eun Sang yang tetap duduk di kursi walau film sudah habis.
Ia pun mengikuti Eun Sang yang berjalan-jalan dan melewati toko yang menjual dreamcatcher. Eun Sang memandangi dreamcather yang tergantung di toko,dan tersenyum  teringat saat ia memberikan dreamcatcher itu pada Tan di Amerika.
Tak diduga, orang yang ada dalam pikirannya, muncul di bayangan kaca etalase toko. Ia berbalik dan terkejut melihat Tan sudah ada di belakangnya. Mengapa Tan mengikutinya ke sini?
“Apakah filmnya bagus?”
“Kau mengikutiku sejak di bioskop?”
“Kenapa kau pergi ke sekolah? Kau berangkat ke sekolah kalau kau ingin pergi. Dan tak berangkat kalau kau sedang tak ingin pergi. Apa seperti itu?”
“Apa kau sedang menunggu putusan komite disipliner? Apakah tak apa-apa kalau kau membolos seperti ini?”
“Khawatirkan dirimu sendiri. Hari ini, kau akan mati di tanganku.”
Tan menggenggam tangan Eun Sang dan menariknya pergi. Dan kali ini Eun Sang tak menolaknya. Mereka berjalan bersisian.
Eun Sang berkata kalau dengan adanya dirinya bisa menghancurkan kehidupan Tan. Tan berkata kalau bukan Eun Sang penyebabnya. Dan walaupun Eun Sang penyebabnya pun,Tan tak akan pernah melepaskan tangannya dan terus berjalan. “Dan jika aku terus seperti ini, kau tetap akan bersamaku sampai akhir jalan nanti, kan?”
Eun Sang sesaat terdiam, dan kemudian berkata, “Tidak, aku tak akan ada di sana.” Eun Sang menarik tangannya, “Saat itu aku sudah melarikan diri.”
“Tak masalah.”
“Jangan. Aku tak memiliki tempat untuk tinggal lagi.”
“Kalau begitu, kau ingin aku melakukan apa? Aku menyukaimu, jadi apa yang harus aku lakukan?”
“Aku juga menyukaimu,” jawab Eun Sang. “Tapi setelah itu apa? ‘Lulus sekolah tanpa masalah.’ ‘Hidup dengan percaya diri, walau aku harus tinggal di tempatmu.’ Bahkan rencana sederhana seperti itu saja kacau, jadi memang kenapa kalau aku menyukaimu? Apa artinya semua itu?”
“Murid-murid lainnya belum tahu tentang hubungan keluargamu yang rumit, kan?” Tan terdiam. Eun Sang pun melanjutkan, “Kau tak dapat melindungiku. Lindungi dirimu sendiri dulu.”
Tan menatap Eun Sang lama. Dan ia pun berbalik pergi, tanpa menoleh ke belakang lagi. Eun Sang menatap kepergian Tan dan menangis.




Entah karena khawatir Eun Sang tak masuk sekolah atau penasaran dengan status Eun Sang, akhirnya Young Do menemukan rumah lama Eun Sang dari form identitas yang diberikan Rachel. 
Tapi rumah itu sekarang sudah kosong dengan kertas tertempel di depan pintu yang tertulis kalau rumah itu disewakan. Young Do menggumam kalau Orang Kaya Baru itu hanya omong kosong belaka.


Seorang ahjumma menyapanya dan bertanya apakah Young Do mencari rumah kontrakan? Dengan sopan Young Do berkata kalau ia mencari rumah temannya, Cha Eun Sang. Ahjumma itu mengatakan kalau Eun Sang sudah pindah ke Pyongchang-dong.
Hyo Sin pulang ke rumah dan ibunya mengatakan kalau guru lesnya sudah datang. Tapi guru les yang baru karena Hyun Joo keluar. Hyo Sin kaget dan bertanya apakah ibu memecat Hyun Joo? Jawab ibu,”Untungnya dia sudah minta keluar dulu sebelum aku memecatnya.”
Hyo Sin tak mempedulikan ajaran guru lesnya itu. Ia malah memotret soal yang dikerjakan gurunya itu, membuat guru lesnya heran. Hyo Sin berkata kalau soal itu tak bisa dikerjakan dengan cara itu. Ia mengirim foto soal itu kepada Hyun Joo dan pada guru lesnya ia berkata, “Aku ini ingin meningkatkan rangking nasionalku. Bukan hanya untuk menjadi nomor satu di kelas.”
Tak berapa lama kemudian, Hyun Joo mengirimkan jawabannya dan Hyun Sik menunjukkan jawaban itu pada guru lesnya. Hyo Sin pun kembali membalas pesan Hyun Joo, Bagaimana mungkin kau keluar tanpa mengucapkan selamat tingal?
Hyun Joo tak menjawab pertanyaan itu. Ia malah menulis kalau ia akan meng-email file tentang bahan yang belum sempat mereka pelajari dan Hyo Sin bisa menanyainya kapan pun jika Hyo Sin tak mengerti dalam pelajaran. Terlihat jawaban kekecewaan di pesan Hyo Sin setelahnya, Kurasa selamanya aku akan selalu menjadi murid di matamu.”
Hyun Joo menemui Sekretaris Yoon yang menawarkan sebuah pekerjaan di Grup Jeguk. Hyun Joo langsung menangkap kalau begitu ia bekerja, pasti akan muncul artikel yang mempromosikan tentang dirinya, “Anak yang dibesarkan oleh Grup Jeguk, sekarang bekerja di Grup Jeguk. Artikel-artikel seperti itulah yang akan muncul di halaman pertama jika aku meng-google namaku.”
Sekretaris Yoon yang memahami maksud Hyun Joo berkata kalau Hyun Joo bisa menolak tawaran itu. Hyun Joo tersenyum dan berkata kalau ia memang punya hak untuk menolaknya. Tapi mengetahui kalau ini adalah tawaran dari Presdir Kim, ia tak bisa menolaknya. Ia hanya meminta agar Sekretaris Yoon tak memberitahukan hal ini pada Won karena ia sendiri yang akan memberitahukannya.
Pertemuannya dengan Hyun Joo membuat Sekretaris Yoon berpikir keras. Saat sedang mempersiapkan makan malam, ia bertanya pada Chan Young bagaimana kabar Eun Sang di sekolah itu. Chan Young merasa heran karena akhir-akhir ini ayahnya sering bertanya tentang Eun Sang.
Sekretaris Yoon menjawab, “Aku menyekolahkanmu ke SMA Jeguk karena aku ingin kau memiliki koneksi yang bagus dan melihat dunia yang lebih baik lagi. Tapi sekarang aku meragukan keputusanku.”
Chan Young tak mengerti maksud ucapan ayahnya. Tapi ia punya solusi. Bagaimana kalau minum-minum. “Satu gelas saja,” pinta Chan Young manis. Ayahnya berdecak kesal karena anaknya ini menyarankan sesuatu yang bukan anak-anak banget, walaupun, “Baiklah. Tapi segelas saja, ya.”
Chan Young tersenyum menang dan berkata, “Tentu saja. Hanya satu gelas. Masalah nanti baru timbul jika satu menjadi dua.”
Haha.. I love them.
Eun Sang akan tutup toko, namun masih tersisa dua pengunjung. Dua orang (siswa SMA walau ketuaan untuk jadi anak SMA) itu juga mulai mengganggu Eun Sang dengan berkata kalau ada rambut di dalam gelas. Eun Sang memeriksa gelas itu, tapi tak ada rambut di dalamnnya. Ternyata itu hanya trik kedua murid itu untuk meminta nomor telepon Eun Sang.
Eun Sang mulai marah setelah salah satu siswa itu memegang tangannya dan memaksanya untuk memberi nomor teleponnya. Ia mengancam akan melaporkan mereka ke polisi karena semua kejadian ini terekam oleh CCTV. Namun terdengar suara, “Polisi telah datang!”
Belum sempat mereka menoleh untuk melihat siapa polisi itu, si polisi sudah menendang kursi yang diduduki si pengganggu itu hingga anak itu terjerembab. Eun Sang kaget melihat siapa polisi itu. Aww… ternyata Young Do.
Young Do senang karena mengenali kedua pengganggu, “Ahh.. sudah lama kita tak bertemu. Ini adalah pertama kali kita bertemu lagi sejak SMP, kan?” Young Do mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Tapi anak itu ketakutan saat melihat Young Do. Buru-buru ia menolong temannya bangun dan mereka segera kabur.
Haha.. dan wow! Jadi berapa banyak sebenarnya anak yang dibully oleh Tan dan Young Do saat mereka SMP?
Eun Sang mendesah kesal melihat Young Do. Tapi Young Do juga begitu. Kalau Eun Sang diganggu oleh orang, orang itu harusnya dirinya dan bukannya kedua anak tadi. Tapi Eun Sang hanya menjawab pendek kalau cafenya sudah tutup dan meminta Young Do pergi.
Young Do heran melihat Eun Sang yang tak berterima kasih padanya karena telah diselamatkan dari kedua orang jahat tadi. Tapi Eun Sang menyelanya, “Kaulah yang jahat. Kau adalah alasan mengapa aku tak pergi ke sekolah. Kenapa kau selalu menggangguku?”
Young Do terlihat muram mendengar hardikan Eun Sang dan menjawab pelan, “Aku tak mengganggumu.” Namun hanya sesaat, karena Young Do berkata, “Apakah yang ini yang akan sedikit mengganggu? Aku pergi ke rumah yang dulu pernah kau tinggali.”
Young Do tersenyum melihat paras Eun Sang yang berubah. “Kalau begitu, dengarkan. Satu,” Young Do mengacungkan telunjukknya, “Kau tinggal di rumah yang sangaaat jelek. Kedua, sekarang kau tinggal di Pyongchang-dong. Karena itu kita bertemu di minimarket. Ketiga, smakin aku melihatmu, aku semakin yakin kalau kau adalah murid beasiswa. Karena itu keempat,..”
“Benar. Kau benar. Aku bukan orang kaya baru,” potong Eun Sang, tahu kalau itu adalah poin keempat Young Do. Young Do terdiam, sedikit kaget melihat keberanian Eun Sang yang kembali berkata, “Kau juga benar karena aku sekolah di sana karena beasiswa.”
Mungkin Young Do mengharap reaksi Eun Sang yang ketakutan, jadi Young Do hanya tersenyum canggung dan berkata kalau ia memang akan mengatakan itu. Eun Sang bertanya memang kalau Young Do tahu masalah itu, kenapa? Apa Young Do akan mengusirnya dari SMA Jeguk?
Perlahan Young Do menjawab, “Tidak. Karena aku mulai suka denganmu.” Eun Sang kaget mendengarnya, tapi Young Do belum selesai, “Tapi kau tak menyukaiku, kan?”
Eun Sang tak menyangka Young Do berkata seperti itu, jadi kali ini Eun Sang terdiam, tak menjawab.
Tan menunggu kedatangan Eun Sang. Tak kunjung melihat sosok Eun Sang muncul di halaman rumah, ia pun mememeriksa luar rumah dari kamera CCTV.
Whoa.. Harry Borrison, anyone?
Ternyata Eun Sang duduk di luar gerbang. Melihat Eun Sang termenung dan nampak sedih, Tan berniat untuk menyusulnya. Tapi ia mengurungkan niat setelah melihat ada seseorang yang menghampiri gadis itu dan kembali duduk untuk melihatnya.
Ibu Eun Sang, yang baru saja membuang sampah, menghampiri putrinya. Eun Sang bertanya apakah pihak sekolah menelepon ibu? Ia mengaku kalau hari ini ia membolos. Melihat ibu hanya mengangguk namun tak marah, membuat Eun Sang bertanya mengapa ibu tak memarahinya?
Dengan bahasa isyarat ibu berkata kalau ia tahu kalau Eun Sang tak mau masuk karena merasa sangat berat. Jadi jika ia menanyai Eun Sang, maka Eun Sang akan merasa lebih terbebani.
Eun Sang menitikkan air mata mendengar ucapan ibu yang penuh pengertian. Air matanya semakin merebak saat ibu menggenggam tangannya. Ia memaksakan senyum dan meminta ibu untuk tak khawatir, “Aku merasa berat hanya untuk hari ini saja. Aku akan masuk sekolah besok. Ini adalah seragam 1 juta won, jadi aku akan membuat seragam ini setara dengan nilainya.”
Ibu mengangguk dan berkata kalau cuaca di luar sangat indah. Eun Sang menganggu dan mereka pun duduk di sana lebih lama.
Keesokan harinya, Eun Sang menepati janji pada ibunya. Ia bersekolah walau mendapat pandangan menggunjing dari siswa lain. 
Ia berpapasan dengan Tan dan berusaha sedapat mungkin untuk tak memandangnya.
Tapi Tan pun juga tak memandangnya, seakan ia memenuhi permintaan Eun Sang untuk meninggalkannya. Ia terus berjalan lurus, tak melirik sedikitpun. Malah Eun Sang yang melirik ke belakang.
Ibu Eun Sang panik setengah mati karena mendapat telepon yang ia tahu pasti menanyakan tentang pertemuan POMG. Ia meminta tolong agar Nyonya Han untuk mengangkat teleponnya.
Nyonya Han pun mengangkat teleponnya dan tanpa basa-basi, ia mengatakan kalau ia tak bisa hadir di rapat POMG karena mendapat halangan, “Halangan yang tak bisa di’bi-ca-ra’kan.” Hahaha.. Nyonya Han ini lumayan juga.
Tentu saja si penelepon tak menangkap maksud Nyonya Han dan meminta ibu Eun Sang untuk tetap hadir karena Eun Sang adalah murid pindahan. Dan si penelepon itu langsung menutup telepon.
Nyonya Han marah karena si penelepon itu tak sopan padanya. “Apakah aku harus ikut campur dan ‘membersihkan’ orang-orang ini?” ucapnya kesal. Dan bak preman pulak. LOL. Namun ia memiliki ide untuk datang dan menyelesaikan semuanya.
Ibu Eun Sang buru-buru menulis kalau Nyonya Han seperti itu, maka Nyonya Han akan ketahuan sebagai istri simpanan. Ibu Eun Sang terbelalak dan berhenti menulis karena salah tulis. Bwahaha..
Ia segera mencoret tulisan istri simpanan, tapi Nyonya Han mendelik, mencoba merampas notes itu, “Ketahuan, kau. Aku melihatmu menulis istri simpanan.” Tapi ibu Eun Sang menarik lebih keras dan buru-buru menulis dengan kalimat yang lebih ‘masuk akal’, “Saya hanya khawatir kalau Anda keluar maka semua akan terungkap.”
Nyonya Han kembali tenang dan bertanya dengan mata berbinar-binar, “Memang siapa yang bilang kalau aku akan pergi sebagai ibu Tan?”
Hahaha… ide Nyonya Han ini benar-benar, deh!
Rachel marah melihat kehadiran Eun Sang di sekolah ini lagi. Ia ingin tahu sebenarnya status sosial Eun Sang ini ada dimana? Seberapa  kaya Eun Sang ini sebagai Orang Kaya baru? Eun Sang menganggap kalau semua itu adalah kekanak-kanakkan.
Tapi tidak menurut Rachel. Walau ia bertunangan dengan Tan, ia tak pacaran dengan Tan, karena ini lebih ke arah merger dua perusahaan besar. “Pertukaran saham, sharing tekhnologi. Ini adalah penggabungan untuk menghasilkan laba yang jutaan bahkan milyaran won. Dan kau mengatakan kalau ini adalah kekanak-kanakkan?” tanya Rachel tinggi.
Sekarang Rachel ingin bertanya pertanyaan yang dulu pernah ia tanyakan di Amerika. Siapakah Eun Sang sebenarnya? Eun Sang menjawab kalau sebentar lagi semua akan tahu, karena Young Do sudah mengetahuinya.
Seorang wanita muncul dengan segela merek ternama tertempel di badannya, membuat semua ibu (kecuali Ibu Ye Seul) terkesima karena melihat penampilan seorang wali murid itu. Dan betapa terkejutnya semua ibu karena ibu trendy itu memperkenalkan diri sebagai ibu Eun Sang.
Pertemuan ini dilakukan untuk membahas leadership camping yang diakan diadakan dalam waktu dekat. Tahun lalu ibu Myung Soo menyumbang tiket pesawat dan ibu Rachel menyumbang baju camping (para ibu diminta untuk bertepuk tangan). Dan tahun ini ayah Young Do akan menyumbang biaya hotel (ibu-ibu diminta untuk bertepuk tangan lagi). Dan itu berarti ada beberapa biaya yang belum ter-cover.
‘Ibu Eun Sang’ langsung mengangkat tangan, “Saya yang akan melakukannya.”
Semua mata memandang pada Nyonya Han. Apalagi saat Nyonya Han berkata kalau ia yang akan menutup semua biayanya. Salah satu ibu mengatakan kalau jumlahnya tak hanya satu atau dua (juta won) saja. Dengan tenang Nyonya Han menjawab kalau ia tak peduli berapa biaya yang harus ia keluarkan, entah satu, dua atau seratus. Ia yang akan melakukannya.
Para ibu kembali diminta untuk bertepuk tangan.  Nyonya Han tersenyum sopan mendengarnya. Tapi senyumnya menghilang saat mendengar kalau kepala sekolah SMA Jeguk yang juga ibu Tan datang.
Hahaha… ia langsung panik dan ibu Ye Seul berbisik, “Apa yang sekarang bisa kau lakukan?” Nyonya Han langsung berpaling dan menyembunyikan wajahnya.
Tapi mana bisa ia menyembunyikan wajahnya kalau Nyonya Jung tepat persis di sampingnya? Nyonya Jung juga nampak kaget melihat siapa yang ada di sampingnya. 
Salah satu memperkenalkan mereka dan tak tahu harus berkata apa, Nyonya Han memuji  anak Nyonya Jung, Tan, sebagai anak yang sangat tampan, tinggi dan berkepribadian yang baik. Nyonya Jung menyindir kalau Nyonya Han sepertinya sangat mengenal  Tan dengan baik.
Upps.. Nyonya Han langsung beralasan kalau Eun Sang selalu membicarakan Tan setiap hari sehingga ia merasa kalau ia sudah seperti mengenal Eun Sang. Esther langsung menatap Nyonya Han dengan lebih tertarik. Nyonya Han melanjutkan, kalau saja ia punya seorang anak perempuan, maka ia menginginkan Tan sebagai menantunya. Nyonya Jung kembali menyindir, “Bukankah kau punya anak perempuan?”
Hahaha.. Double Uppss… Nyonya Han segera menyadari kesalahannya. Maka ia berpura-pura perlu pergi ke toilet, dan meninggalkan semuanya.
Tapi Nyonya Jung mengikutinya. Setelah memastikan tak ada orang di toilet, Nyonya Jung memarahi Nyonya Han. Tapi Nyonya Han tak peduli atas masalah yang baru saja ia timbulkan karena ia merasa senang bisa datang ke pertemuan orang tua murid untuk pertama kalinya.
Nyonya Jung berkata kalau Nyonya Han punya waktu untuk hal seperti ini, seharusnya Nyonya Han bisa mengajari Tan agar tak berkelahi di sekolah dan mencoreng nama SMA Jeguk. Tapi Nyonya Han berkata kalau anak-anak itu masih remaja, tentu saja anak-anak itu suka berkelahi. Nyonya Jung pasti berpengalaman dengan hal seperti itu kalau Nyonya Jung punya anak sendiri.
“Apa kau tahu anak siapa yang berkelahi dengan Tan?” tanya Nyonya Jung marah.
Nyonya Han tak tahu. Tapi ia bisa menebak kalau ibu si anak itu pasti ada di ruang pertemuan, “Apakah dia adalah wanita yang bertampang serigala? Kau tahu, kan, wanita berambut pendek dengan memakai kalung yang mirip dengan bola mata raksasa?”
“Serigala itu adalah calon besanmu. Ibu mertua Tan,” jawab Nyonya Jung yang berbaik hati akan memperkenalkan Nyonya Han pada Esther jika ia mau.
Bwahahaha.. Triple Uppss… Mau lakban untuk menutup mulut, Nyonya Han?
Di sekolah Eun Sang dipojokkan oleh Ye Seul dan teman-temannya. Mereka bertanya siapa nama ayah dan ibu Eun Sang? Dan apa nama perusahaan keluarganya yang katanya menjadi orang kaya baru, kenapa bisnis keluarganya tak pernah muncul di media. Tapi Eun Sang tak mau menjawab. 
Di belakang, Tan pura-pura mendengarkan musik, walau sama seperti Young Do, ia juga mendengarkan percakapan itu.
Eun Sang tak mau menjawab, membuat Ye Seul mendorong Eun Sang. Tan menarik earphone-nya, hendak ikut campur, tapi Young Do sudah mendahuluinya, “Kang Ye Seul. Jangan menyentuhnya!”
Mendadak Myung Soo masuk kelas dengan membawa kabar yang menghebohkan. Myung Soo bertanya pada Eun Sang, hal yang sama seperti yang ditanyakan Ye Seul sebelumnya, “Hei OKB, orang tuamu kerja apa? Aku baru saja mendapat telepon dari ibuku yang mengatakan kalau ibu Eun Sang sangat hebat sekali.”
“Apanya yang hebat?”
“Hari ini kan pertemuan orang tua murid. Penampilan ibu Eun Sang, dari ujung rambut sampai ujung kaki, seharga mobil luar! Dia bahkan keluar dari mobil yang paling keren, membuat semua ibu kehilangan percaya diri.”
Berita itu membuat semua tercengang, bahkan termasuk Tan dan Eun Sang sendiri. Myung Soo bertanya apakah mungkin bisnis keluarga Eun Sang adalah simpan pinjam/lintah darat? LOL. Masuk akal juga sih, Lintah darat adalah bisnis yang menghasilkan besar tanpa muncul di surat kabar. Bahkan, menurut kabar yang didengar Myung Soo, biaya camping mereka selain kamar, dibiayai oleh ibu Eun Sang semua.
Rachel bengong mendengarnya. Tapi Tan dapat menduga siapa ibu Eun Sang itu.
Rachel mengkonfirmasi pada ibunya. Dan Esther membenarkan hal itu. Ibu Eun Sang bahkan memiliki tas yang sama dengan tas miliknya, tas yang hanya ada 20 buah di dunia ini.
Ibu Eun Sang benar-benar menjadi bahan pembicaraan anak-anak. Bo Na yang tadi tak mengikuti pelajaran bersama yang lain, menanyakan apakah benar-benar yang Myung Soo dengar adalah ibu Eun Sang? Apa Ibu Myung Soo tak salah lihat?
Myung Soo mengatakan kalau ibunya adalah pengacara terbaik di Korea Selatan, setelah ayahnya. Tapi Bo Na masih belum bisa percaya. Sementara Ye Seul merasa dipermalukan di depan Young Do. Err… apa Ye Seul naksir Young Do?
Young Do sekarang sedang melakukan hukuman dari sekolah bersama Tan. Dan Myung Soo merasa kalau ia harus mendamaikan kedua orang itu, “Mengunci keduanya di ruang bawah tanah sepertinya ide yang bagus.”
Tapi Bo Na tak merasa begitu. Karena jika Myung Soo mengunci mereka berdua, keesokan harinya pasti hanya ada satu orang saja yang keluar.
LOL. Atau mungkin, keduanya keluar hidup-hidup, tapi ada satu orang yang mati. Myung Soo. Heheh.. *abaikan*
Kedua anak orang kaya ini sama-sama tak mau mengepel. Haha.. Tan menyuruh Young Do untuk mengepel sendirian. Tapi Young Do menjatuhkan tongkat pel. Ia menolak karena ia sudah setiap hari membersihkan kamar-kamar di hotel. Jadi ia menyerahkan semuanya pada Tan.
Young Do beranjak pergi, tapi Tan menendang ember sehingga sebagian airnya muncrat. Tanpa banyak kata, Tan meninggalkan Young Do tapi berhenti karena ucapan Young Do. “Kenapa ingin cepat pulang? Apakah kau ingin bertemu dengan ibu kandungmu?”
Tan mendesah kesal dan berkata, “Hari ini pertemuan orang tua murid. Apakah ibumu datang?” Tan berbalik dan tersenyum, “Ahh.. Aku lupa. Ibumu melarikan diri.”
Young Do sudah tak tersenyum lagi dan Tan mengatakan kalau Young Do yang memulai semua ini, “Tiga tahun yang lalu dan juga sekarang.”
Eun Sang masih belum tahu siapa ibunya yang datang ke pertemuan itu. Ia meng-sms ibunya untuk menanyakan hal ini.
Sementara Tan langsung mengkonfrontasi ibunya akan hal ini. Dan Nyonya Han dengan bangga mengakuinya, “Aku membuat semua ibu-ibu itu mengkeret. Aku benar-benar menipu mereka.”
Tapi Tan malah marah karena hal ini, membuat Nyonya Han minta maaf karena tak berpikir dengan jernih. Nyonya Han berkata kalau ia melakukan hal ini karena merasa penasaran, “Aku ingin tahu bagaimana teman-temanmu. Bagaimana para ibu dari murid-murid itu. Bagaimana pertemuan orang tua murid itu. Apa yang mereka lakukan.”
Tan luluh melihat wajah ibunya yang terlihat sedih. Ia tak memperpanjang masalah itu, hanya meminta ibunya untuk mengurangi minum anggur karena itu membuatnya cemas. Nyonya Han berjanji.
Pelayan muncul untuk memberitahukan kalau ada teman Tan datang. Muncullah Young Do yang menyapa Tan dengan ceria, seolah mereka adalah sahabat lama. Penuh kemanisan, Young Do bertanya dimanakah ibu kepala sekolah.. err.. ibu Tan agar ia bisa memberi salam yang pantas padanya.
Tan mendesah tak percaya. Nyonya Han diam-diam beringsut pergi. Tapi Young Do menghentikannya, “Maaf, tapi bisakah kau membawakan aku segelas air, Ahjumma?”
Wajah Tan semakin keruh mendengar hal itu. Saat ibunya mengiyakan dengan sopan dan berjalan menuju dapur, ia memegang tangan ibunya dan menahannya, “Ibu, ada yang ingin mengucapkan salam. Ini adalah temanku.”
Nyonya Han semakin panik karena Tan berkata seperti itu. Young Do pura-pura kaget mendengarnya, “Aku tak mengenalinya karena ia berbeda dengan ibu yang aku kenal,” dengan wajah serius ia meneruskan, “Ini pasti ibu kandungmu.”
Tan memberi senyum, menenangkan ibunya. Ia akan mengajak temannya bicara di luar. Dan pada Young Do, ia menyuruhnya untuk keluar sebelum ia membunuhnya. Young Do pun mengikuti Tan keluar setelah membungkuk hormat pada Nyonya Han.
Di luar, Tan mengatakan kalau Young Do benar-benar membuktikan kalau ia adalah bajingan, tapi jika itu adalah rencana Young Do untuk membuatnya bertekuk lutut di hadapan Young Do, maka Young Do salah.
Young Do mengalihkan perhatian pada sosok yang ada di muncul di halaman, dan tak sadar kalau sedang diawasi karena sibuk meng-SMS. Young Do berkata kalau ternyata rencananya ke rumah Tan adalah benar.
Eun Sang akhirnya sadar kalau ada orang lain di dekatnya. Dan betapa terkejutnya melihat Young Do berdiri di sana. Tan juga menyadari siapa yang datang, sejenak tak tahu apa yang harus ia lakukan.
“Kau juga tinggal di sini? Aku tak datang untuk menemukan ini, tapi” Young Do menatap Tan tajam dan berdecak seperti mengokang senapan, “Aku mendapat hadiah utama.”






source :
http://www.kutudrama.com/2013/11/sinopsis-heirs-episode-9-1.html
http://www.kutudrama.com/2013/11/sinopsis-heirs-episode-9-2.html
re-posted and re-edited by : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment