Wednesday, October 02, 2013

Can You Hear My Heart Episode 10


Woo Ri menemui Manajer Penanggung jawab taman. Ia tanya di mana Cha Dong Joo. Manajer tak menjawab.


Woo Ri mengancam kalau tak memberitahu padanya ia akan membongkar kejadian rumah kaca waktu itu. Manajer mengatakan itu tak akan ada gunanya. Ia tak ingin memecat ayah Woo Ri, ia sangat menyukai Young Kyu walaupun sulit menghadapinya tapi dia sangat rajin bekerja.

“Kalau begitu mana Cha Dong Joo!” bentak Woo Ri.
“Aku tak tahu!” jawab Manajer dengan suara yang tak kalah keras. Ia meminta Woo Ri jangan mendatangi Dong Joo karena sifatnya buruk. Setiap ia bertemu, pandangannya selalu mencurigakan. Tapi mau bagaimana lagi dia adalah putra dari pemilik Woo Kyung grup.


Manajer : “Walaupun kuberi salam, dia tetap tak mau menengok. Bukan itu saja, pria itu mengenakan make up di wajahnya. Makanya wajahnya pucat. Di malam hari wajahnya bersinar dalam gelap, bersinar. Menyeramkan!”

Woo Ri berkata kalau anak itu tak memakai make up dan wajahnya memang benar-benar pucat.
Anak ? manajer heran dengan sebutan yang diucap Woo Ri. “Apa maksudmu anak?” ia meminta woo Ri jangan kurang ajar.


Woo Ri : “Kalau begitu kenapa dia memecat ayahku? Kenapa memecatnya?”
Manajer : “Kenapa memecatnya? Seusia itu kenapa dia masih menyusu pada ibunya? Mungkin dia berfikir kalau ayahmu tidak normal!”
Woo Ri : “Tidak normal?”
Manajer : “Ayahmu itu... kau tahu kan?”
“Apa itu alasan Cha Dong Joo memecat ayahku?” Woo Ri makin emosi. “Akan kubunuh dia!”

Woo Ri langsung pergi, Manajer teriak Woo Ri jangan melakukan itu kalau tidak ia juga bisa dipecat.


Meeting di mulai Presdir berkata kalau pasar DRAM sudah mulai jenuh menurutnya ia harus berinvestasi disitem RAM yang lebih potensial, “Aku percaya kalian yang ada disini setuju pendapatku!” (Presdir ingin mengganti sistem berbisnisnya)

Salah seorang peserta rapat berpendapat kalau masalahnya adalah pengembalian invesatsi, “Kau menyarankan untuk menuangkan dana ke lubang tak berdasar selama 5 tahun!”

Direktur Kang berpendapat kalau berbisnis itu harus memliki visi jangka panjang. Bahkan perusahaan Kiyong semiconductor, yang peringkat 4 di industri ini tidak berinvestasi di sitem RAM.


Dong Joo memainkan penanya untuk menghilangkan ketegangan ia terus menatap setiap orang yang berbicara. Joon Ha memperhatikan Dong Joo.

“Woo Kyung menjadi besar seperti ini karena ide yang menantang dan inovatif!” ucap Presdir Choi. “Apa kalian menyamakan Woo Kyung dengan perusahaan kelas teri yang berdana pas-pasan. Kita memiliki dukungan dana yang kuat!”


Dong Joo ikut bicara ia berfikir kalau anak perusahaan Woo Kyung dibangun bukan untuk mendukung bisnis semikonduktor.
Presdir meminta Dong Joo jangan ikut campur masalah ini dan menyuruh Dong Joo diam saja.

Dong Joo : “Aku duduk disini sebagai peserta, aku tak boleh diam saja! Para direktur sekalian, kalian disini tidak hanya untuk mendengarkan saja kan? Aku memiliki usulan bisnis yang lebih baik dari pada bisnis sistem RAM. Bisnis yang sesuai dengan kondisi keuangan Woo Kyung saat ini!”
Presdir penasaran, apa itu?

Dong Joo : Proyek Energy Cell
Semua kasak-kusuk mendengar Dong Joo mengatakan proyek baru. Joon Ha berbisik pada Kim Bi. Kim Bi mengerti dan segera keluar.
Dong Joo kembali berkata bahwa Presdir Choi Jin Chul lah yang memajukan Woo Kyung, Presdir juga yang memajukan bisnis kosmetik.


Kim Bi keluar menemui Min Soo dan berkata kalau semuanya sudah mulai. Min Soo tengah menerima telepon dari Woo Ri. Ia langsung menutup teleponnya dan akan menghubungi Woo Ri nanti.

Min Soo ingin tahu bagaimana penampilannya sekarang. Kim Bi berkata kalau Min Soo hebat. Maksud Min Soo bagaimana dengan make up maskara-nya apa belepotan. Hahaha.


Presdir Choi meremehkan proyek Dong Joo, “Inikah idemu? Bisnis kosmetik?”
Dong Joo : “Kenapa tidak?”
Presdir : “Apa kau pikir bisnis itu main-main. Kita sudah menjual bisnis kosmetik 16 tahun yang lalu. Ini adalah pasar yang selalu bergerak dengan banyak pemain di dalamnya, sudah terlambat kalau mulai lagi dari sekarang!”
Dong Joo berkata kalau disanalah letak tantangannya, bukankah presdir sendiri yang mengatakan semangat Woo Kyung adalah menghadirkan inovasi.


Dong Joo langsung berdiri, ayo kita mulai. Bukankah Presdri berkata kalau keuntungan sistem RAM akan kembali dalam 5 tahun. Ia percaya investasi dibisnis kosmetik keuntungan akan kembali dalam waktu 1 tahun.


Lampu ruangan dimatikan dan layar menampilkan tulisan Energy Cell Project. Berkas rencana pun dibagikan.
Dir Kang ikut menyahut kalau bisnis kosmetik itu tidak mudah, risetnya saja membutuhkan waktu selama 3 tahun. Dong Joo meralat bukan 3 tahun tapi risetnya paling sedikit 5 tahun.

Pintu ruangan dibuka, Kang Min Soo masuk ke ruang rapat dengan penuh senyuman.
“Ini adalah kepala periset yang memimpin proyek Energy Cell selama 5 tahun!”
Presdir dan Dir Kang terkejut melihatnya. Min Soo memberi hormat dan memperkenalkan diri.
“Min Soo?” Dir Kang kaget melihat putrinya ada disana. Presdir menahan emosi atas tingkah Dong Joo.
Dong Joo kembali berkata kalau ia sudah mendapatkan lisensi dari FDA dan sudah siap untuk memasarkannya.


Min Soo memulai presentasinya, “Proyek Energy Cell dibuat berdasarkan konsep memperpanjang daur ulang kehidupan sel, yang menyebabkan usia kelenturan kulit semakin panjang. Ini adalah mekanisme memberikan energi kepada sel agar dapat berstimulasi dan bernafas sehingga terjadi peremajaan dan memperlambat penuaan.

Di tambah lagi teknologi dengan Nano Kapsul yang digunakan untuk menghambat absorpsi. Min Soo menambahkan kalau kosmetik pemutihnya sudah siap dipasarkan.
Membuat kulit bersinar dari dalam sekaligus menyehatkan sel kulit. Disanalah konsep proyek Energy Cell.

Dong Joo melirik Joon Ha. Joon ha berkata pelan, “Kau bagus sekali!” Dong Joo membalasnya dengan senyum.


Young Kyu tengah menggambar, ia merasa bosan dan ingin pergi tapi Seung Chul keburu datang dan berkata kalau Woo Ri bilang Young Kyu harus menggambar saja.

Nenek keluar dari kamar dan bertanya apa yang Young Kyu kerjakan. Young Kyu menjawab kalau Woo Ri menyuruhnya menggambar.
Nenek : “Ya Tuhan putrimu kau dengarkan, bukankah kau seharusnya kerja di taman botani?”

Seung Chul kemudian berkata lain Woo Ri menyuruh Young kyu berhenti menggambar dan mengantar Nenek ke rumah sakit karena tangannya gatal-gatal.
Nenek senang mendengarnya. Young kyu bingung ia harus bagaimanana. Kapan ia ke taman botani, “Setelah tidur malam mereka akan memotong bunga mawar, memotongnya harus benar!”


Nenek meminta Young Kyu jangan menyebut taman botani lagi, “Dia menyuruh orang lain libur, kesananya besok saja!” Nenek memberi alasan.
Young Kyu : “Besok? Benar. Benar, besok aku akan ke taman botani, besok. Aku harus tidur supaya besok cepat tiba!”

Seung Chul bingung bagaimana ini. Nenek meminta tak usah khawatir karena setelah tidur dia akan lupa. “Besok aku akan mengatakan besok lagi. Selama ini dia selalu menunggu Ma Roo Nenek mulai sedih. Seung Chul meminta Nenek jangan menangis.


Usai rapat Dong Joo menerima beberapa pujian mereka menyukai presentasinya. Dong Joo berterima kasih ia akan menunggu kabar baik dari proyek ini.
Kubu Presdir Choi jelas tidak senang. Presdir Choi meminta Dong Joo menemuinya di ruangan. Dong Joo meminta semua rekan ikut dengannya.
“Kalian telah bekerja keras itu kan yang akan anda katakan!” sahut Dong Joo. “Penghargaanmu sebaiknya kau berikan pada kepada anggota tim!”

Dir Kang meminta Min Soo menemuinya. Min Soo bersembunyi di belakang punggung Dong Joo.

Ada yang menelepon Dong Joo. Ia mengabaikannya dan berkata pada Presdir kalau mereka harus membahas rencana pemasarannya. Presdir menyuruh Dong Joo menjawab telepon dulu.


Dong Joo menjawab teleponnya, ia meletakan ponsel di telinganya, “Ya ini Cha Dong Joo!”
“Aku tahu kau Cha Dong Joo, aku Bong Woo Ri!” ujar si penelepon.
“Ya aku mengerti akan kuurus nanti!” sahut Dong Joo.


“Mengurus apa?” Woo Ri sudah tiba disana. “Tak puaskah kau dengan memecat ayahku? Jadi kau akan mengurusku juga? Orang-orang memujimu lalu kenapa kau mengganggu keluargaku?”
Dong Joo akan maju tapi Joon Ha melarang, ia yang yang bicara dengan Woo Ri.


Woo Ri menatap Joon Ha, “Dokter Jang Joon Ha juga ada disini. Bukankah sudah kukatakan kalau kau mengganggu keluargaku aku akan menuntutmu!”
Presdri marah pada Woo Ri bagaimana bisa masuk, “Mana petugas keamanan?”


Woo Ri menatap marah Presdir Choi, “Kenapa? Apa kata-kata yang selalu kau ucapkan ‘seret dia keluar sekarang’ akan kau ucapkan lagi? menyeretku keluar. aku sudah siap!”
Presdir : “Kau. Kau siapa?”
Woo Ri : “Aku Bong Woo Ri. Kebakaran Woo Kyung waktu itu, kau sudah membu...”


“KELUAR!” bentak Dong Joo pada Woo Ri. Woo Ri memandangnya, “Keluar!” Dong Joo memelankan suaranya.
“Cha Dong Joo, kau sudah berubah!” ujar Woo Ri.


Dong Joo menarik lengan Woo Ri tapi Woo Ri menepisnya. Plakkk Woo Ri melempar sesuatu ke wajah Dong Joo, “Cha Dong Joo apa yang membuatmu menjadi seperti ini? Walaupun aku membenci Woo Kyung tapi aku tak membencimu. Lalu aku mendengar tentang ayahku. Apa salah ayahku hingga kau memecatnya?”

“Kalau kau pura-pura tak mengenaliku bagiku tak masalah. Tidak apa-apa jika kau pura-pura tak mengenaliku. Tapi jangan mengganggu keluargaku, aku bukan anak kecil yang dulu lagi. Karena kalian aku kehilangan ibuku dan Oppa-ku. Ayahku diberhentikan tanpa alasan. Aku tak akan berhenti sampai keadilan ditegakkan!”

Petugas keamanan datang dan memaksa Woo Ri keluar, “Lepaskan aku belum selesai bicara!” Woo Ri meronta.


Dong Joo meminta petugas keamanan melepaskan Woo Ri. Ia menatap tajam Woo Ri, “Aku.... Tidak mengenalmu. Karena itu jangan mencariku lagi, tak ada gunanya menemuiku. Kalau kau sudah selesai, pergilah!”

Dong Joo ingin bicara dengan ayahnya. Keduanya bergegas ke ruangan Presdir.

Air mata Woo Ri menetes penuh kekesalan setelah Dong Joo mengatakan itu. Joon Ha menatapnya. Dir Kang langsung menarik putrinya.


Di ruangannya Presdri marah-marah, “Apa kata para Direktur melihat semua ini?”
“Aku perlu sesuatu makanya aku berbohong, dia marah pada masalah kecil!” Dong Joo meminta ayahnya melihat apa pipinya merah karena lemparan benda dari Woo Ri tadi. Presdir tak mempedulikannya.

Presdir ingin tahu kenapa selama 5 tahun ini Dong Joo tak mengatakan rencananya. Dong Joo beralasan ia ingin memberi ayahnya kejutan, “Setelah aku pergi selama 16 tahun ini adalah hadiah atas kembalinya diriku!”
Presdir : “Lalu apa kau akan terjun dalam dunia bisnis seperti ini?”


Dong Joo : “Karena aku sudah memulainya, aku tak akan berhenti sampai selesai. Karena aku anakmu, kau percaya padaku kan?”
Presdir akan mempertimbangkannya. Dong Joo berterima kasih dan berjanji akan bekerja keras.
Setelah Dong Joo keluar dari ruangannya Presdir Choi menatap marah, meremas kertas dan membantingnya.


Dong Joo mencari Woo Ri, Ia melihat Woo Ri berdiri di depan aquarium besar yang berada di lobi kantor Woo Kyung. Dong Joo akan menemuinya tapi ia melihat Joon Ha menghampiri Woo Ri.


Joon Ha ingin bicara sebentar dengan Woo Ri. Tapi Woo Ri mengacuhkannya dan berjalan pergi.
Min Soo lari-lari ia melihat Joon Ha lalu mengejar Woo Ri, “Bong Woo Ri adikku!” Ia mengajak Woo Ri pergi.


Woo Ri ingin pulang karena tak ada yang perlu ia bicarakan dengan Min Soo. Min Soo berkata kalau ia tak akan bicara dengan Woo Ri. Ia mengajak Woo Ri makan. “Bibi berikan kami alkohol!” teriak Min Soo.
Joon Ha melihat keduanya masuk ke rumah makan.


Young Kyu bolak-balik melongok ke pintu. Paman Lee tanya apa yang tengah dilakukan sobatnya ini.
Young kyu langsung kembali ke meja dan menggambar. Paman Lee tertawa melihat tingkah sobatnya, “Jujurlah dari pada menggambar kau lebih suka kerja di taman botani kan?”


Young Kyu : “Bagaimana kau tahu? Tak ada yang kau tak tahu!”
Paman Lee : “Kita ini sudah berteman selama 30 tahun. 30 tahun!”
Young Kyu : “30 tahun? berapa lama itu?”

Paman Lee hanya mendesah dan menyuruh sobatnya untuk meneruskan menggambar. Ia juga memberikan ayam goreng yang baru dimasak.

Young Kyu tanya besok itu kapan. “Besok ya besok!” jawab Paman Lee. “Memangnya ada masalah apa?”
Young Kyu berkata kalau ibunya menyuruh dia ke taman botani besok tapi hari ini belum juga besok. Setiap hari selalu saja hari ini.


Paman Lee kembali mendesah, “Orang bingung dibuat tambah bingung. Besok adalah... tengah malam jam 12 itu tandanya sudah masuk waktu besok!”
Young kyu : “Tengah malam jam 12? Jam berapa itu?”
Paman Lee bingung menjelaskannya, “Kalau begini artinya jam 12 malam!”


Presdir meminta Dir kang memimpin proyek kosmetik yang dijalankan Dong Joo. “Putrimu yang memulainya!”
Dir Kang : “Putriku?”
Presdir : “Dong Joo bukan anak kandungku!”

Dir Kang tak bisa melakukannya. Presdir tanya kenapa. Dir kang mengatakan kalau Presdir lah yang memulai ini lebih dulu, “Kau yang harus bertanggung jawab. Kau yang mengerjakan!”
Presdir tak mengerti kenapa Dir Kang jadi seperti ini, berada dipihak mana Dir kang. “Apa kau berpihak pada Dong Joo? Apa kau tahu apa yang kau lakukan dimasa lalu?”


Dir Kang : “Apa kau sudah lupa? Aku pemegang saham Woo Kyung. Kenapa aku harus selalu menuruti perintahmu. Kau menghianati Presdir yang dulu dan aku bekerja keras menyelamatkan uangku sendiri!”

“Kenapa harus kugunakan uangku untuk pekerjaan ini?” Dir Kang mengeraskan suaranya.

Shin Ae tiba-tiba masuk. Dir Kang kembali berkata kalau mereka sudah bukan manusia lagi, “Bukankah kita hidup demi uang? Aku tak akan melakukannya!” Dir Kang langsung keluar.


Shin Ae terkejut dengan sikap Dir Kang, “Apa orang tua itu sudah gila? Kenapa kau diam saja? Pecat dia!”
Presdir Choi : “Setiap yang kuperintahkan padamu bukankah kau pasti mengerjakannya? Hanya ada satu orang yang bisa kupercaya, Kau!”


Ny Tae menerima telepon ia merasa Dong Joo bisa memulai proyeknya karena beberapa direktur menyukainya, Apa tak ada masalah lain? Ny Tae terkejut, bagaimana gadis itu bisa masuk? Haruskah ia mengganti petugas keamanan?

“Nyonya!” Shin Ae tiba-tiba masuk ke kamar Ny Tae. Ny Tae menutup teleponnya. Ny Tae tanya untuk apa Shin Ae datang, “Apa alasanmu kesini?”


Shin Ae : “Kurasa aku akan senang kalau menjadi sekertaris di sini. Mulai sekarang aku akan selalu di sampingmu, bisa kan? Aku akan mengerjakan hal-hal yang sederhana saja!”
“Baiklah. Kalau itu maumu, lakukanlah!” ujar Ny Tae.

Ny Tae mengajak Shin Ae keluar. Karena Dong Joo dan Joon Ha sibuk, ia ingin berbelanja untuk putra-putranya.
Shin Ae : “Apa untuk Joon Ha juga? Aku tak suka dengan kehadirannnya? Jangan terlalu dekat dengannya!”

Ny Tae tersenyum karena apa yang diucapkan Shin Ae sama dengan kata-kata suaminya.
Shin Ae : “Benarkah? Lihatlah pendapat orang-orang selalu sama tentang dia!”

Ny Tae ingin tahu kapan anak Shin Ae kembali. Ia ingin bertemu sekali-kali. “Kalau dia mirip kau dia pasti tampan!” Shin Ae cengingisan karena ia sendiri tak tahu tampang putranya.


Ny Tae ingin mandi sebelum keluar. Shin Ae memandang kesal. Ia melihat ada dua ranjang di kamar itu, “Apa ini? Makanya tak ada kepercayaan!”


Woo Ri dan Min Soo masih di kedai minum, keduanya sudah mabuk. Min Soo berkata kalau ayahnya mengancam akan menghapus namanya dari daftar silsilah. Sementara Woo Ri berkata kalau ia menuliskan nama ayahnya didaftar silsilah.


“Adik, kenapa kita begitu mirip!” sahut Min Soo. “Ini semua karena Cha Dong Joo. Aku seorang dokter tapi dia menyeretku ke bisnis kosmetik!”
“Eonni karena si brengsek Cha Dong Joo aku ingin jadi pianis. Kalau itu maumu kau hanya akan berlatih, berlatih, dan berlatih!” Keduanya terus minum.

“Tapi yang terparah adalah Jang Joon Ha!” sambung Min Soo. “Dia itu benar-benar biang kerok, membuat masalah itu hobinya. Di Amerika aku seharusnya menjadi pacar Joon Ha. Tapi Cha Dong Joo... tidak!”
“Apa yang kau katakan? Dia itu dokter yang baik!” Woo Ri menepuk dahinya.

Woo Ri : “Jadi Dong Joo itu adik Joon Ha, mereka sama saja. Jangan sebut nama itu aku bisa gila. Beraninya dia memecat ayahku, si brengsek Cha Dong Joo!”


Dong Joo sampai di rumah, ia langsung memberi makan ikan-ikannya. Dong Joo memperlihatkan wajahnya yang terkena lemparan benda Woo Ri, “Lihatlah wajahku apa terluka? Lihat ini!” tapi si ikan terus berenang. “Apa kau tahu betapa sakitnya? Mulai hari ini aku sibuk, aku tak bisa memberi makan kalian!”


“Dia bahkan tak tahu apa-apa!” ucap Dong Joo.


Woo Ri menyandarkan kepalanya ke meja ia mendesah, “Dia bahkan tak tahu apa–apa!” ucapnya sama seperti yang diucapkan Dong Joo.


Min Soo menerima telepon dari Seung Chul dengan ponselnya Woo Ri, ia bicara tak karuan, “Aku? Aku bermimpi. Mimpi. Aku mengambil mantel dokter? Periset itu mantel putih lagi?”
“Ibuku juga memakai baju putih!” Sahut Woo RI.


Min Soo terus bicara ngawur. Seung Chul marah mendengarnya dan meminta Min Soo memberikan ponsel itu ke Woo Ri, “Katakan dimana? Mana Woo Ri? dasar kuntilanak pemabuk!”

Young kyu melihat jam dinding yang menunjukan pukul 10 malam, ia memperagakan pukul 12 yang diajarkan paman Lee.
Seung Chul terus marah-marah, ia bilang kalau Woo Ri tak bisa minum alkohol. “Dari awal aku sudah tahu kau itu tak bisa dipercaya!” Ia meminta teleponnya cepat di berikan pada Woo Ri.


“Adik aku punya mimpi... apa mimpimu?” tanya Min Soo.
Woo Ri : “Mimpiku? Mimpiku ah... kau tak tahu. Setiap hari aku sibuk, aku berfikir menyerah menyerah. Aku menyerah saja, aku tak tahu lagi harus bagaimana!”


Woo Ri melihat Min Soo sudah tak sadarkan diri. ia langsung pindah duduk di samping Min Soo.
Dingin, dingin. Woo Ri menggosok-gosok tubuh Min Soo. Ia mengambil beberapa tisu dan menyelimuti Min Soo dengan tisu dari mulai bahu, kepala. “Tidurlah tidurlah!” hahaha
Woo Ri langsung menundukan wajahnya ke meja.

Seseorang datang menghampiri keduanya, “Ayo pergi sekarang!” ucapnya menepuk bahu Woo Ri. Woo Ri mendongak melihat siapa yang datang, ya itu Joon Ha.

Joon Ha membangunkan Min Soo. Woo Ri meminta Min Soo tenang (padahal Min Soo diam aja ga sadar hehehe)
“Apa kau bisa bangun?” tanya Joon Ha. Woo Ri langsung menempelkan telunjuknya ke mulut Joon Ha meminta diam.


Woo Ri mengambil segelas lagi minuman tapi Joon Ha menahannya, “Berhentilah jangan minum lagi. Ayo kita pergi!” Joon Ha meletakan gelas Woo Ri.


Woo Ri menatap Joon Ha, “Oppa. Ma Roo Oppa!”


kemudian Woo Ri menunjuk Joon Ha, “Kak Ma Roo satu!” Lalu Woo Ri menunjuk ke orang yang di sebelah, “Kak Ma Roo dua!” ia menunjuk orang lain, “Kak Ma Roo tiga, empat lima!”

Woo Ri semakin lemas ia menyandarkan kepalanya ke bahu Min Soo. Joon Ha hanya memandangnya.


Joon Ha menerima telepon dari ibunya. Ia berkata kalau ia tengah menjemput Min Soo yang mabuk berat. Ny Tae mengira Dong Joo tengah bersama Joon Ha.
“Ibu aku bersama gadis itu juga!” sahut Joon Ha jujur. “Gadis siapa?” Tanya Ny Tae.
Joon Ha : “Bong Woo Ri. Dia datang ke kantor. Dia marah pada Dong Joo karena ayahnya dipecat!”
Ny Tae : “Benakah? terima kasih informasinya!”


Young Kyu lari-lari ke taman malam-malam, ia melihat Dong Joo duduk melamun di depan rumah. Young kyu langsung lari menghampiri.

Young kyu mengarahkan senter ke Dong Joo. Dong Joo terganggu karena sinarnya, “Apa kau menungguku?” tanya Young kyu. “Tidak aku sedang bekerja!” sahut Dong Joo.


“Tidak, kau seperti ini!” kata Young Kyu memperagakan posisi duduk melamun Dong Joo. “Kau sedang menunggu. ini bahasa kode, bahasa kode. Woo Ri putriku yang mengajarinya!”
Young Kyu memperagakan beberapa bahasa isyarat. Dong Joo mengacuhkannya. Ia akan masuk ke rumah.

Young Kyun : “Cha Dong Joo, aku salah aku salah. Kau marah karena aku datang terlambat? Waktu itu kita berjanji akan bertemu besok. Sekarang sudah jam 12 berarti sekarang ini adalah besok, apa kita akan main?”

Dong Joo melihat tangan Young kyu terluka, “Tanganmu kenapa?”
Young Kyu menyembunyikannya, “Tidak.. tidak.. setiap memetik bunga tanganku lecet, tidak sakit karena aku menyukai bunga!” Young kyu tertawa.

Dong Joo mengajak young kyu masuk ke rumah. Young Kyu melihat ikan-ikan di aquarium Dong Joo ia mulai menghitungnya, “Satu dua tiga empat!”


Dong Joo membawa kotak P3K. Dong Joo mengobati luka Young kyu.

Young kyu tanya apa saja nama ikan-ikan Dong Joo karena semua orang harus punya nama, “Bong Young Kyu. Cha Dong Joo, Bong Ma Roo, Bong Woo Ri, Ibu, Mong Goon, Seung Chul, Ibunya Seung Chul, Manajer, Bunga mawar, Melati. Semua punya nama!”
Dong Joo menjawab kalau mereka belum memiliki nama. “Mereka cantik-cantik!” sahut Young Kyu.


“Apa kau menyukai ikan?” Tanya Dong Joo. “Ya aku suka ikan, aku suka bunga, aku suka pohon, aku suka katak, aku suka yang ada di taman botani!” Jawab Young Kyu.

Dong Joo ingin tahu apa yang Young kyu tak suka, “Sesuatu yang kau tak suka. Sesuatu yang kau benci!” Young kyu berfikir kemudian ia mengatakan tak ada, ia menyukai semuanya.

“Apa benar tak ada?” Dong Joo penasaran. “Kau tak membenci siapapun? Tak seorang pun?”
“Ya aku tak membenci siapapun. Aku menyukai semua orang!” kemudian ia teringat sesuatu ada yang ia takuti. “Api. Aku takut dengan api. Pabrik itu. Orang yang kuberi kimchi di rumah Shin Ae. Aku jadi ingat, aku benci api!”
Dong Joo tahu yang dimaksud adalah pabrik Woo Kyung.

Dong Joo selesai mengobati tangan Young kyu dan memperbolehkannya pulang. Young kyu berterima kasih. Young kyu ingin tahu apa yang paling Dong Joo takuti.


“Aku takut gelap!” jawab Dong Joo. “Dalam gelap aku tak bisa melihat apa-apa, aku tak bisa mendengar. Aku jadi frustasi. Itulah kenapa aku takut kalau aku menutup mataku!”

Young kyu mengerti gelap itu menakutkan. Karena sudah larut Dong Joo meminta Young kyu pulang. Dong Joo melihat Young Kyu lupa membawa senternya.


Dong Joo keluar rumah ia membawa secarik kertas dan senter. Ia mencari alamat rumah Bong Young Kyu. Ia mengamati setiap rumah menyamakan alamat yang tertera di kertas dengan alamat yang ada di rumah-rumah.


Joon Ha mengantar Woo Ri yang sudah mabuk berat. Woo Ri tertidur di mobilnya. Ia membangunkan Woo Ri tapi Woo Ri tertidur pulas.

Joon Ha melihat jam tangan yang terus dibawa Woo Ri kemana-mana. Woo Ri menaruh jam tangan itu di tas gendongnya.


Dong Joo terus keliling mencari rumah Young Kyu. Pandangan Dong Joo tertuju ke satu arah. Ia melihat Joon Ha menggendong Woo Ri yang tertidur.

Terbanyang dalam ingatannya Ma Roo menolak mengakui Mi Sook kecil sebagai adiknya ketika Ma Roo mengambil berkas beasisiwa dulu.
Ketika Woo Ri masuk ke pesta perayaan Woo Kyung Woo Ri mengira dirinya adalah Ma Roo.
Kemudian tatapan sedih Joon Ha ketika melihat Young Kyu menangis menggambarkan wajah Ma Roo.
Dan juga ketika Joon Ha bicara jujur mengenai situasi keluarganya. Joon Ha sudah meninggalkan keluarganya, bagaimana bisa ia muncul lagi.
Tapi kini Dong Joo melihatnya mengantar Woo Ri pulang bahkan menggendongnya.


Woo Ri menangis dalam tidur di punggung Joon Ha, “Oppa!” ucapnya. “Oppa!” Woo Ri terus mengucapkannya membuat hati Joon Ha sedih.


Joon Ha mendudukkan Woo Ri di dekat tangga. Ia akan menekan bel rumah Paman Lee tapi tak jadi dilakukannya, ia ikut duduk di samping Woo Ri yang tertidur.

Melihat Woo Ri duduk tertidur ia ingin menyandarkan kepala Woo Ri ke bahunya, tapi niat itu ia urungkan.


Sesaat kemudian kepala Woo Ri bersandar dengan sendirinya ke bahu Joon Ha. Joon Ha tak menghindar, ia membiarkannya.

Dan terdengarlah bel rumah. Paman Lee keluar dari kamar dan bertanya siapa.


Paman Lee menggendong Woo Ri masuk kamar dan di kamar Woo Ri, Seung Chul asyik tidur berselimut.
Bibi Lee menepuk putranya untuk cepat bangun, “Apa yang kau lakukan disini?”
Nenek ngomel kenapa Woo Ri minum banyak. Paman Lee sudah tak tahan menggendong Woo Ri. Woo Ri langsung dibaringkan dan diselimuti.


Young Kyu tidur di samping Woo Ri. Nenek masuk dan meminta putranya pindah tidur. Nenek memandang Woo Ri, “Gadis bodoh. Alkohol itu bukan untuk anak-anak seperti dirimu. Dia bahkan tak tahu sopan santun, ayahnya jadi tidur di lantai!”
Nenek menarik selimut Woo Ri dan menyelimuti young kyu. Keduanya berselimut berdua.


Paginya Dong Joo berteriak memanggil Joon Ha yang masih tidur, ia menggedor jendela kamar, “Hyeong. Hyeong!”
Joon Ha terbangun dan panik ia langsung keluar kamar.


Dan sroooootttttt dengan isengnya Dong Joo menyiram Joon Ha layaknya menyiram tanaman.


“Nice...!” Dong Joo senang tembakannya tepat sasaran. Dong Joo langsung melemparkan sarung tangan baseball, “Ayo main!”
“Mati kau!” sahut Joon Ha. Keduanya tertawa. Dong Joo melempar bola baseball dan Joon Ha belum siap menagkapnya.
Dong Joo : “Kubilang ayo main. Kenapa? Apa kau takut? Kau takut kalah?”


“Kau. Mati kau!” Joon Ha mengejar adiknya. Dong Joo terus menyiramkan air ke tubuh kakaknya. Keduanya saling menyiram air.


Kini Keduanya tiduran di rumput. Dong Joo melempar-lempar bola baseball-nya.
“Sulit!” ucap Joon Ha tapi Dong Joo tak mengetahui kakaknya bicara. Joon Ha membetulkan posisi tidurannya ia meminta Dong Joo melihatnya, “Sulit!” Ucap Joon Ha agak lambat. “Kau sudah tak berusia 14 tahun lagi!” ujar Joon Ha.
Dong Joo : “Waktu kita bertemu kau berusia 14 tahun kan?”
Joon Ha : Benar.


Dong Joo duduk, “Tapi karena aku, kau belajar manajemen keuangan. Kau juga jadi dokter!”
Joon Ha : “Apakah kau dokter juga?”
Dong Joo : “Sebenarnya kau sanggup menjadi kedua-duanya. Tidak sepertiku yang hanya bisa mengerjakan satu pekerjaan dalam satu waktu.”


Ketika mengemudi ia tak bisa bicara melalui telepon. “Aku bisa bicara tapi aku tak bisa mendengar. Ketika memandang langit seperti ini, aku tak bisa berbincang-bincang denganmu.
Aku mungkin bersikap seakan tak mengenal Bong Woo Ri. Aku tak bisa minta maaf padanya. Kau bisa melakukan keduanya sekaligus. Menjadi kakak Cha Dong Joo dan menjadi kakak Bong Woo Ri.”

Joon Ha : “Apa kau mengajakku kesini hanya untuk mengatakan itu?”
“Apa?” Dong Joo tak melihat dengan jelas Joon Ha bicara. “Katakan sekali lagi!”

“Apa kau sudah menyiapakan materi konferensinya? Tinggal dua hari lagi!” kata Joon Ha mengalihkan pembicaraan dan langsung berdiri.
Dong Joo berkata bukan itu yang Joon Ha katakan tadi, “Apa yang tadi kau katakan? Hyeong!”


Keduanya jalan bersama saling melempar bola. Joon Ha melihat Manajer Taman menyuruh Young kyu pergi karena sudah dipecat. “Sudah kubilang kau dipecat. Berulang kali kau kusuruh pergi!”


Dong Joo tak menyadari keributan itu. Joon Ha berkata kalau ia harus pergi kerja dan meminta Dong Joo pulang.
Young kyu berkata kalau sekarang sudah besok, ibunya bilang ia bisa ke taman botani.
“Memanganya ibumu pemilik tempat ini?” bentak Manajer. “Pemilik tanah ini tak mau menemuimu!”
Young kyu : “Kenapa tak mau menemuiku? siapa pemiliknya?”

Woo Ri melihat ayahnya. Ia berkata bukankah ia sudah meminta ayahnya di rumah saja.


Woo Ri melihat Dong Joo dan Joon Ha bermain lempar bola dengan senang. Woo Ri menatap sinis, “Sekumpulan kotoran semut!” sahutnya. “Kau kasar sekali Cha Dong Joo!”
Young kyu bertanya pada Woo Ri kenapa dirinya dipecat. Kenapa pemiliknya tak menyukainya. “Aku salah aku salah jangan memecatku!”

“Ayo pulang. Jangan kembali lagi ke taman!” Woo Ri menarik ayahnya. “Siapa yang menyuruh ayah datang? Pemiliknya tidak menyuruh ayah datang!” Woo Ri terus menarik ayahnya. Ia memandanag ke belakang melihat dua pria dengan pandangan sebal.


Woo Ri terus menarik ayahnya sampai di rumah. Young kyu berkata kalau hari ini sudah besok.
Woo Ri mengancam kalau ayahnya masih seperti ini ia tak akan memanggil ayahnya dengan sebutan ayah, tapi mengganti dengan sebutan bayi.
Young Kyu : “Jangan jangan aku ayahmu aku ayahmu!”

Woo Ri : “Tapi kenapa Ayah seperti bayi, tak mendengarkanku? Pemiliknya sudah ganti. Pemilik sekarang sangat menakutkan.”
Young kyu : “Aku tahu aku tahu tapi kalau Ma Roo datang?”
Woo Ri berkata ia yang akan menemuinya jadi jangan datang lagi ke taman botani, “Apa ayah mengerti?”


Young Kyu : “Aku mengerti tapi Woo Ri kalau pemiliknya menakutkan, orang yang kuberi kimchi di rumah Shin Ae, kebakaran itu, kalau bunga terbakar tak akan mekar. Bagaimana ini aku harus ke taman kalau terbakar bunganya tak akan mekar!”

Seung Chul mendengarkan kedua ayah dan anak ini bicara.
Woo Ri : “Baiklah mulai sekarang ayah akan kupanggil bayi!”
Young kyu : “Tidak tidak tidak. Aku salah, aku salah, tapi aku..... t-t-t-a-a-a-maann. Aku tak pergi aku tak pergi!”


Seung Chul melamun di luar rumah, ayahnya datang dan heran melihatnya. Bibi Lee ngomel ia tanya apa yang dilakukan suaminya karena ia sendiri sangat sibuk.


Seung Chul langsung bangkit dan berlutut di hadapan kedua orang tuanya, “Ayah Ibu...” Kedua orang tuanya saling memandang tak mengerti.
Seung Chul : “Kalian sudah bersusah payah membesarkanku, kalian pasti sudah sangat lelah. Mulai sekarang, aku akan membantu kalian berdua dan mengerjakan apapun yang kalian perintahkan!”

Paman dan Bibi Lee hanya bisa mendesah, “Berapa banyak?” ucap mereka bersamaan mengerti maksud dari putranya.
“300rb won!” jawab Seung Chul.


Bibi Lee tahu sifat putranya dan segera pergi tapi Seung Chul menahan ibunya, “Ibu haruskah aku mencuci pakaian? Menyapu? mencuci piring? Katakan saja. Hari ini semua yang kalian suruh akan kukerjakan!”
“Kalau begitu goreng ayamnya!” perintah Bibi Lee.

Seung Chul menolak di suruh menggoreng ayam. “Ibu apa saja selain itu. apa saja akan kulakukan selain itu!
Ibu aku anak laki-laki yang penuh mimpi, aku harus mencari uang. Aku harus mencari uang dan mengalahkan si Cha Dong Joo.


Bibi Lee : “Dari pada mengurusi kehidupan orang lain lebih baik urus dirimu sendiri. Kau kan sudah punya pekerjaan. Setiap hari kerjamu hanya mengikuti Bong Woo Ri. Aku bingung dan ingin mati rasanya. Cha Dong Cha atau apapun lupakan dia dan sekarang goreng ayamnya. Baru kuberikan 300 rb won!”
Blblblblblblblblbllbblbll Paman Lee bicara tak jelas ia mengangkat tangan dan bersedia menggoreng ayam demi 300rb won.


Bibi Lee menatap putranya, “Dia tak akan bisa apa-apa selama ada didekatku. Jiwamu adalah milikku. Begitu juga dengan tubuhmu. GORENG AYAM!”


Dong Joo dan Joon Ha mempersiapkan lounching produk kosmetiknya. Kim Bi memanggil Dong Joo dari atas, Joon Ha menarik Dong Joo pelan. Kim Bi bilang kalau geladi resiknya jam 4.30
Joon Ha tanya apa Dong Joo melihat mulutnya. Dong Joo menjawab tidak dan bertanya apa yang dikatakan Kim Bi. Joon Ha berkata kalau Kim Bi bilang geladi resiknya jam 4.30


Joon Ha ingin tahu apa Dong Joo sudah siap untuk acara besok. Sepertinya tata cahayanya harus lebih terang. Dong Joo berkata kalau fokusnya itu bukan dirinya, “Aku harus menunjukan produknya!”


“Boss!” panggil karyawan Dong Joo. Joon Ha menarik Dong Joo pelan ke arah wanita itu.
Wanita itu memberikan telepon untuk Dong Joo dari perwakilan koran Daehan yang ingin bicara dengan Dong Joo.


Joon Ha mengambil telepon dan ia yang menjawabnya, “Ya ini Cha Dong Joo!” ucap Joon Ha mewakili Dong Joo dan pergi menghindar. Dong Joo berkata kalau suara kakaknya lebih bagus dari pada suara dirinya.


Min Soo dengan walki talkie-nya meminta mematikan lampu. Ny Tae melihat tata cahayanya kurang, “Apa ini cukup?”
Min Soo meminta team lighting mematikan lampunya sebagian. Team lighting tanya apa mematikan semua lampunya. Min Soo kembali berkata kalau hanya satu lampu saja.

Ny Tae panik ia mencari Dong Joo. Ia melihat putranya sendirian, “Joon Ha dimana kau?”

Dan Peeet..... Lampu padam keadaan ruangan gelap tak ada sinar.
“Tunggu sebentar tunggu sebentar!” ucap team lighting, sepertinya mereka mematikan semua lampu.


Dong Joo celingukan ia mulai panik berada di dalam kegelapan, ia tak mendengar atau melihat apapaun. Samar-samar ia melihat bayangan.
“Hyeong!” panggil Dong Joo. Ia mulai ketakutan “Hyeong. Joon Ha Hyeong. Hyeong!” Dong Joo mengeraskan suara panggilannya.


Ada yang menyentuh badan Dong Joo. Joon Ha segera datang. Tatapan mata Dong Joo memancarkan ketakutan. Joon Ha tanya apa Dong Joo tak apa–apa. Dong Joo memegang lengan Joon Ha erat-erat.


Dan lampu pun menyala. Dong joo masih memegang tangan Joon Ha erat, kepanikan dan ketakutannya belum hilang. Ny Tae terlihat cemas, Dong Joo dan Joon Ha menatap ibu mereka.


Joon Ha membawakan air mineral untuk Dong Joo. Ketika Dong Joo meminum air itu dengan isengnya Joon Ha memukul botol hingga menumpahkan airnya. Dong Joo kesal. “Kenapa kau terkejut?” Joon Ha tersenyum.
“Dalam Kegelapan aku tak bisa beradaptasi!” Dong Joo akan kembali minum, Joon ha bersiap, Dong Joo waspada. “Janga khawatir tak akan terjadi lagi!” sahut Joon Ha.
“Awas kalau kau melakukannya sekali lagi!” Dong Joo meminum airnya.


dan plukkk Joon Ha kembali memukul botolnya hahaha membuat air yang diminum Dong Joo tumpah. Joon Ha tertawa.


“Cha Dong Joo!” teriak Seung Chul datang tiba-tiba. “Apa itu kau?” tanya Seung Chul pada Joon Ha.
“Atau Kau kah itu?” Seung Chul beralih pandang ke Dong Joo.
(Seung Chul belum tahu yang mana Cha Dong Joo)

Dong Joo dan Joon Ha berpandangan membuat Seung Chul makin emosi, “Mana diantara kalian yang bernama Cha Dong Joo!”
Dong Joo langsung berdiri, “Ada masalah apa?”


Seung Chul langsung membanting  amplop (berisi uang) “Ini 3 juta won harga lukisan yang kau beli dari Bong Woo Ri.
Membunuh ibunya, membuat kakaknya lari dari rumah, membohonginya, memecat ayahnya dari pekerjaannya, lalu berikutnya apa lagi?
Apa lagi? teriak Seung Chul.
Biarpun kau kaya raya, tapi kehidupannya... kehidupan Bong Woo Ri....


Kalau kau hidup dengannya sehari saja kau tak akan berbuat seperti ini. Sekali lagi kau membuat Bong Woo Ri menangis. Gadis itu mungkin tak apa-apa, tapi aku tak akan diam saja. Ini adalah batas toleransiku.
Seung Chul langsung pergi.


Dong Joo pulang ke rumah ia melihat Young Kyu berdiri di depan pagar. Dong Joo mengehentikan mobilnya tapi kemudian ia meneruskan kembali laju mobilnya.

Young kyu jongkok dan menggambar bunga di tanah.


“Bong Young Kyu-ssi!” panggil Dong Joo dengan helm senter yang menyilaukan Young Kyu.
Young kyu berkata kalau ia tak boleh ke taman jadi ia tak bisa bermain dengan Dong Joo, ia minta maaf.
Dong Joo berkata kalau ia memiliki masalah yang besar. Ada yang ingin ia tanyakan. Young kyu tanya apa itu.


Young Kyu sampai di rumah, ia mengenakan helm senter Dong Joo. Ia menatap foto keluarganya, “Mi Sook-ssi kau tak usah khawatir. Besok aku akan ke taman botani. Aku bisa diandalkan.”
Lalu senter itu mengarah ke foto Ma Roo, “Ma Roo aku akan ke taman botani. Ayah akan selalu menunggumu!”


Ny Tae berziarah ke makan ayahnya. Dalam hati ia berkata, “Ayah aku tak bisa menolongmu tapi aku bisa membuat harapanmu menjadi kenyataan. Dong Joo yang sangat kau cintai lindungilah dia!”


Acara peluncuran produk dimulai, Dong Joo berdiri dipodium.
Namaku Cha Dong Joo pemimpin Energy Cell, harapanmu Energy Cell akan membuat kulitmu putih bersinar.


Kang Min Soo telah membuat ramuan baru.


Kim Bi Young dengan test laboratorium-nya. Woo Bi Hyun pengembang proyek Energy Cell.


Tak hanya anda tapi seluruh dunia akan bahagia. Aku akan mengambil alih masa depan Woo Kyung.

Semua tepuk tangan. Presdir Choi, Shin Ae, Joon Ha, Dir kang dan Sek Kim duduk di meja yang sama.


Shin Ae berkata pada Presdir Choi kalau ia sudah bertemu dengan Dir Han Seong kosmetik, dia sangat mengerti dengan pesan Presdir yang disampaikan melalui dirinya. Ia juga sudah membuat perjanjian untuk nanti malam.
Shin Ae celingukan, “Mana istrimu?”


Dong Joo berdiri diantara produk kosmetiknya Re:NK (produk kosmetik ini juga sepertinya sponsor untuk drama ini)


Shin Ae memberikan selamat untuk Dong Joo. Dong Joo juga menerima ucapan selamat dari tamu. Joon Ha terus berada di sisi Dong Joo.
“Kau keren!” ucap Min Soo. “Apa kau tak apa-apa?” Min Soo melihat wajah Dong Joo mulai pucat. Dong Joo mengangguk. Joon Ha mencemaskan kondisi Dong Joo.


Nenek di dapur sembunyi-sembunyi makan sesuatu. Paman Lee melihatnya dan penasaran apa yang dimakan Nenek.
Paman terkejut melihat Nenek memakan gula. Nenek beralasan kalau mulutnya pahit.

Paman Lee merebut gulanya dan meminta lebih baik minum alkohol saja, “Kalau kau minum kami tak bisa apa-apa karena kau mabuk!” Paman Lee minta Nenek juga memikirkan dirinya. Nenek merebut kembali gulanya.


Woo Ri datang dan langsung bertanya apa itu. “Aku membutuhkan gula!” sahut Paman Lee merebut dan memakan gula pasirnya.
Woo Ri berseru berat badan Paman Lee akan bertambah kalau memakan itu. Woo Ri tanya mana ayanya. Paman Lee menjawab kalau Ayah Woo Ri pergi menemui seseorang.
Woo Ri : Apa?

Paman Lee : “Dia tidak disini mungkin pergi ke taman botani!”
Woo Ri : Apa?
Paman Lee bilang kalau Young kyu akan memasak nasi yang enak dan anehnya lagi ia juga mencari makanan ikan.


Young kyu membersihkan kolam, “Mi Sook aku punya teman seprti Mi Sook, bukan Ma Roo tapi Cha Dong Joo. Usianya sama denganmu. Tapi dia tak tahu bahasa isyarat. Apakah aku harus mengajarinya?”


Dong Joo sampai di rumah tangannya gemetaran. Joon Ha menelepon, Joon Ha tanya apa Dong Joo tak apa-apa? apa kau kelelahan?
“Jangan perlakukan aku seperti pasien. Kau tahu aku tak bisa minum alkohol. Sudah tak asyik lagi makanya aku pulang!” Dong Joo menutup teleponnya ia beralasan akan pergi mandi.

Wajah Dong Joo pucat, bel rumahnya berbunyi. Dong Joo melihat itu dari jam tangannya. Dengan langkah sempoyongan Dong Joo membuka pintu.


Pintu ditarik dari luar oleh Woo Ri, “Mana ayahku?” Dong Joo tak menjawab. Ia berusaha melihat apa yang diucapkan Woo Ri.
Woo Ri berteriak mana ayahnya. Woo Ri masuk ke rumah Dong Joo berteriak memanggil ayahnya.
Pandangan Dong Joo mulai kabur ia tak melihat jelas. “Tak bisa kah kau pergi?”

Woo Ri : “Memangnya kau siapa mempekerjakan ayahku? kau pecat dia lalu kau beri dia pekerjaan!”
Dong Joo meminta Woo Ri nanti saja bicaranya dan menyuruh Woo Ri pergi.
“Hey Cha Dong Joo!” teriak Woo Ri.

Woo Ri menarik paksa Dong Joo yang sudah pusing. “Pergilah!” perintah Dong Joo pelan.


Dong Joo berjalan lemas lalu dia ambruk. Woo Ri terkejut melihatnya, “Hey ada apa denganmu?”


Dong Joo memejamkan matanya tak bergerak. Woo Ri mendekat, “Hey Cha Dong Joo!” Woo Ri mulai menguncang-guncangkan tubuh Dong Joo. Ia mulai panik.


Dong Joo membuka matanya perlahan.
“Cha Dong Joo apa kau terluka? Apa kau sakit?”
Dong Joo melihat kepanikan Woo Ri. Ia berusaha mengamati apa yang diucapkan Woo Ri.
“Apa kau tak mendengarku? Apa kau tak mendengar suaraku? Apa kau tak bisa mendengarku?”


Dong Joo langsung menarik Woo Ri ke dekapannya. Woo Ri terkejut. Dong Joo memejamkan mata mengingat masa lalunya dengan Woo Ri ketika berada di bawah pohon besar. Woo Ri mengajarinya mendengar melalui suara hati dengan menutup kedua telinga.


Air Mata Dong Joo menetes, “Suaramu!” sahutnya pelan sambil terus mendekap erat Woo Ri.

Aku bisa mendengarnya!
Suaramu....


Aku mendengar,
Suaramu......

Aku mendengar,
Suaramu........



re-posted and re-edited by : dianafiteiwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment