Thursday, October 03, 2013

Can You Hear My Heart Episode 16


Dong Joo meminta Presdir Choi jangan membuang energi untuk memecah belah dirinya dengan Joon Ha. Presdir murka dan langsung melayangkan tamparan ke arah Dong Joo tapi Dong Joo sudah siap. Ia menahan tangan Presdir Choi, “Kalau kau sedang tak ingin membunuhku jangan pernah menyentuhku!”


Presdir menggertak apa Dong Joo berani melawan ayahnya. “Menjatuhkan anaknya di belakangnya. Apakah itu namanya seorang Ayah? Jangan melibatkan Kak Joon Ha untuk menjatuhkanku.” Dong Joo tak kalah galak. Presdir mengatakan kalau ia sudah menandatangani kontrak dengan Joon Ha. Joon Ha sekarang rekan bisnisnya. Dong Joo menatap Kakaknya, Joon Ha hanya bisa menunduk dan mengajak Woo Ri keluar.

“Apa kau pikir kau bisa mengalahkanku?” Presdir mencibir, akan lebih baik kalau Dong Joo berlutut padanya supaya masa depan Dong Joo lebih baik.


Joon Ha menyuruh Woo Ri masuk ke mobilnya tapi Woo Ri mencemaskan Dong Joo kenapa meninggalkannya. Joon Ha tanya apa Woo Ri ingin terluka di area pertempuran itu. Joon Ha kembali menyuruh Woo Ri masuk ke mobilnya. Woo Ri ingin tahu mau kemana. Kemana saja jawab Joon Ha.


Presdir kembali ke kantor Woo Kyung dengan kemarahannya. Ia menyuruh Sekertaris Kim untuk memeriksa status finansial perusahaan Joon Ha. Sekertaris Kim bilang kalau dananya sudah di transfer ke rekening kita. Presdir minta Sekertaris Kim menemukan apa saja untuk menjatuhkan Joon Ha, ia menginginkan semua uang Joon Ha supaya Dong Joo tak mendapatkan satu sen pun.

Sekertaris Kim tanya apa Presdir ingin meneruskan berbisnis dengan Jang Joon Ha. Presdir berkata ia ingin menunjukan kepada mereka apa yang terjadi kalau mereka rakus dan lupa siapa mereka. Ia akan mengembalikan semua uang Joon Ha pada saat yang tepat. “Besok jual bagian saham yang kumiliki atas nama orang lain.”


Sek Kim tanya apa itu perlu. Presdir meninggikan suaranya, “Kenapa kau tak memakai otakmu? Aku Choi Jin Chul, tak akan jatuh hanya gara-gara saham. Si brengsek Jang Joon Ha itu sangat rakus dengan saham Woo Kyung. Kita pertahankan saham-saham itu agar dia penasaran. Begitu dia tak tahan, dia akan mulai menggali kuburannya sendiri menggunakan uang orang lain. Begitu tiba waktunya lempar dia ke penjara!”

“Jangan menyentuhmu jika tak ingin membunuhmu!” Presdir mengulang kalimat yang diucapkan Dong Joo. “Baiklah, akan ku mulai dengan Jang Joon Ha dan melenyapkannya dari muka bumi ini.”
(Perang seperti ini yang diinginkan Ny Tae (mengadu ayah dan anak kandung))


Dong Joo memandang kantong kacangnya, ia akan menelepon Woo Ri tapi ia ragu. (Nama kontaknya bukan Woo Ri tapi pianoist)
Min Soo masuk ke ruangan Dong Joo dan bertanya apa yang harus mereka lakukan terhadap Kim Shin Ae. Dong Joo meminta Min Soo tak usah mempedulikannya dan harus tetap ke rencana semula. Min Soo tak tahu bagaimana melakukannya, setelah Dong Joo pergi dia mengamuk. Kalau Dong Joo tak menolong mereka dia akan menghancurkan rencana kita. “Apa kau mau aku datang dan berteriak padanya?”
Dong Joo : Kang Min Soo?


Min Soo mendekatkan wajahnya ke Dong Joo, “Apa kau pikir aku tak bisa melakukannya?”
Dong Joo langsung mundur menghindar. Min Soo mengerti, Dong Joo sedang ingin sendiri. Min Soo mendesah ternyata sangat sulit untuk menjadi teman Dong Joo, “Katakan padaku kalau kau mau bicara.” Dong Joo langsung memeriksa berkas.

Min Soo kembali berbalik ada satu masalah lagi yang mengganjal kenapa Dong Joo menggandeng tangan Bong Woo Ri ketika pergi tadi. Dong Joo tak memperhatikan Min Soo bicara, Dong Joo diam saja. Min Soo bergumam, “Ketika kau tak mau bicara kau seakan-akan tak bisa mendengar. Kalau begitu akan kutanyakan langsung pada Bong Woo Ri.”


Joon Ha mengajak Woo Ri jalan-jalan. Woo Ri merasa kalau Dong Joo sudah kelewatan. Bukankah dia masih anaknya, ayah tiri juga termasuk ayah. Tapi Choi Jin Chul adalah ayah tiri yang terburuk.

Joon Ha tanya apa Woo Ri tak kehabisan nafas karena mereka sudah naik begitu jauh dan Woo Ri terus bicara. Woo Ri berkata kalau sekarang ia tak apa-apa. Ia bisa berjalan dengan baik bahkan ia juga bisa berlari.


Woo Ri penasaran apa Joon Ha bertengkar dengan Dong Joo. Apa tingkah Dong Joo seperti itu karena dia bertengkar dengan Joon Ha. Joon Ha membenarkan, Dong Joo bertengkar dengannya. “Makanya dia bersikap seperti itu padamu, kalau begitu sekarang Cha Dong Joo adalah yang terburuk. Makanya dia jadi seperti itu.”

Woo Ri minta Joon Ha jangan marah pada Dong Joo, “Dia sangat menyukaimu.” Hanya dengan melihat saja Woo Ri sudah tahu. “Dia tak berniat membuatmu marah itu hanya karena masalah... kontrak atau sesuatu dengan Choi Jin Chul. Dia seperti itu untuk mencegahmu menandatangani kontrak.”

Joon Ha mendesah mendengar ocehan Woo Ri dan mengambil ponsel untuk menelepon seseorang. Woo Ri bergumam apa ucapannya ada yang salah.


Joon Ha menelepon Dong Joo dan bertanya Dong Joo di mana. Setelah ia makan dan menghirup udara segar ia akan ke Taman Botani. Dong Joo tanya apa Joon Ha dan Woo Ri pergi berdua.

“Kalau kau merasa sesak carilah udara segar akan kutemui kau di rumah setelah ku tenangkan pikiranku!”

Itu yang tertulis di layar ponsel Dong Joo. Dong Joo tak bicara apa-apa lagi. Ia tahu kalau Joon Ha dan Woo Ri tengah bersama. Joon Ha menunggu jawaban Dong Joo, Dong Joo pun demikian.

“Dia menyuruhku mengantarmu pulang!” sahut Joon Ha berbohong. “Dan dia minta maaf padamu.”


Joon Ha memberikan softdrink untuk Woo Ri. Joon Ha tanya apa Woo Ri sering datang ke tempat ini. Woo Ri berkata kalau ia pernah sesekali datang. Ia datang dengan ayah dan keluarga Seung Chul.

Woo Ri mulai bercerita, Seung Chul meminjam mobil seniornya lalu mengajak ia dan keluarganya ke sana. Di sini Nenek sering mengumpat. Ayah menggendongnya di punggung tapi Nenek tetap mengumpat. Dia khawatir Ayah akan merasa lelah. Waktu itu kami makan daging. Ibu Seung Chul protes karena datang kesini hanya untuk makan. “Keluarga Seung Chul memiliki restauran ayam goreng. Sudah berapa lama ya? Ketika itu usiaku 9 tahun. Wah berarti sudah 16 tahun, bukankah sudah lama sekali?”

Joon Ha tersenyum mendengar ceritanya, “Ya sudah lama. Ketika kau berusia 9 tahun tubuhmu pasti sangat kecil, sekarang kau sudah dewasa.” (wah ada apa dengan Joon Ha hehe) Woo Ri membenarkan, tapi ketika usianya saat itu ia tergolong gadis cilik yang tinggi. Joon Ha merasa ketika itu Woo Ri pasti lebih cantik dari sekarang. Woo Ri membantah kalau ia lebih cantik yang sekarang. Neneknya bilang kalau sekarang ia terlihat lebih manusiawi.


Joon Ha : “Kalau begitu dulu kau pasti jelek sekali!”
Woo Ri mendelik, “Apa maksudmu?”
Joon Ha : “Aku lapar. Apa kau punya uang? Traktir aku makan!”
Woo Ri kaget, Lagi?
“Kapan kau pernah mentraktirku? Mana toko daging yang kau sebut itu!” Joon Ha langsung jalan duluan. Woo Ri menggerutu kenapa Joon Ha selalu minta ditraktir.


Dan keduanya pun makan di restauran daging. Woo Ri mengatakan bukankah dagingnya memiliki ukuran yang besar. Joon Ha heran apa Woo Ri tak ikut makan kenapa hanya memesan setengah porsi. Woo Ri beralasan kalau Joon Ha tak akan bisa menghabiskan semua dagingnya. Tak menghabiskan makanan itu dosa, kalau kurang ia akan pesan lagi.


Joon Ha menilai Woo Ri berbohong, “Kau bilang kau lebih menyukai aku dari pada Dong Joo. Untuk orang yang kau sukai kau hanya membeli setengah porsi daging? Kalau Dong Joo datang apa kau juga akan membelikannya setengah porsi daging?”
“Tentu saja!” jawab Woo Ri tegas tapi kemudian ia buru-buru meralatnya. Ia tidak akan membelikan daging untuk Dong Joo sebanyak ini. “Dia egois kenapa aku harus mentraktirnya? Lihat apa yang dilakukannya. Setelah aku pergi tadi dia tak juga mengirim sms. Dia hanya memintamu untuk mengantarku pulang. Bukankah kau sendiri yang menambahkan kata maaf? Aku tahu semuanya aku mendengarnya. Benarkan?”
“Kalau aku menghabiskan semua ini kau harus pesan lagi!” Joon Ha langsung melahap dagingnya.

Joon Ha penasaran benarkah Kakak Woo Ri itu cinta pertama Woo Ri. Woo Ri kaget Joon Ha menanyakan hal ini, berarti Joon Ha tadi mendengar apa yang ia bicarakan pada Dong Joo di restauran tadi.
Joon Ha ingin tahu kenapa Kakak Woo Ri itu menjadi cinta pertama Woo Ri. “Bukankah kau bilang dia brengsek?” Woo Ri beralasan kalau itu hanya ungkapan emosinya saja. Sebenarnya ini masalah yang menyedihkan untuknya. Joon Ha mulai mengorek rahasia hati Woo Ri, kenapa?

Woo Ri : “Ketika itu aku tak tahu kalau dia akan menjadi Kakak-ku. Karena aku mencintai Ayahku. Aku berkata ‘ya’ ketika dia hendak menikahi Ibuku. Mungkin Kakak juga terkejut. sebenarnya dia juga sangat menyukaiku.”
Joon Ha kaget, “Dia menyukaimu?” (Ma Roo, apa kau menyukai Woo Ri???? Hehe)

Dengan sangat yakin Woo Ri berkata ya. Joon Ha menatap tak percaya. Woo Ri meyakinkan kalau itu benar, “Sebenarnya dia tak pernah tersenyum. Tapi setiap bertemu denganku dia tersenyum. Dia tak pernah mau memakan bekalnya, tapi dia memakannya ketika ku suruh. Ketika aku ke kamar kecil di malam hari, dia pun ikut keluar dan pura-pura belajar di halaman belakang. Katanya dia terbangun tapi aku tahu dia bohong. Halaman belakang itu terlalu gelap untuk membaca. Dia pasti sedang manjagaku. Dia pikir aku tak tahu. Dia selalu berusaha tampil berwibawa, tapi kalau kau sudah mengenal dia...” Woo Ri geleng-geleng hehehe...


Joon Ha tersenyum mendengar semua yang diucapkan Woo Ri tentang masa lalu dirinya. “Sepertinya Kakakmu benar-benar menyukaimu? Pria selalu tampil berwibawa di depan wanita yang dicintainya!” (apakah ini pengakuannya mulai menyukai Woo Ri????)
Woo Ri senang, Benarkan?

Setelah makan Joon Ha ingin mengajak Woo Ri naik cable car (semacam kereta gantung), “Permainan itu cepat tutup jadi aku tak sempat memainkannya. Setelah kecelakaan Dong Joo tak pernah mau naik permainan di taman hiburan.” Woo Ri menatap sedih dan berkata kalau Joon Ha bisa bermain sendirian.
Joon Ha : “Kalau adik kecilku celaka, bagaimana bisa aku sebagai kakak bermain sendirian? Dasar kau!”
Woo Ri terharu, ternyata Joon Ha sangat menyayangi Dong Joo.


Nenek tiduran di karpet kondisi ruang tamu berantakan, disana sini bekas makanan berserakan. Juga gambar Ma Roo yang kotor karena tumpahan jus. Terdengar bel pintu rumah berbunyi.
Itu Young Kyu dan Seung Chul. Karena tak ada yang membukakan pintu, Seung Chul merasa kalau mereka pasti pergi ke suatu tempat dan meminta besok datang lagi saja.
Young Kyu tanya besok itu kapan ia sudah merindukan ibunya. Young Kyu berteriak memanggil Ibunya dan membuat Nenek terbangun. Seung Chul meminta Young Kyu jangan berteriak seperti itu karena akan membuat masalah dengan petugas keamanan.
Nenek terkejut dan takut mendengar terikan dari luar, ia mengira itu penjahat yang mau menangkapnya.


Young Kyu jongkok di depan pintu apartemen Shin Ae, Seung Chul mengajaknya pulang. Tapi Young Kyu akan pulang setelah melihat ibunya. Seung Chul mengancam kalau Young Kyu masih keras kepala ia akan meninggalkan Young Kyu sendiri.


Terdengar suara dari dalam rumah, Young Kyu dan Seung Chul menebak itu Nenek, “Ibu ibu buka pintunya. Ini aku Bong Young kyu!”
Nenek menyuruh Seung Chul dan Young Kyu pergi ia mengira kalau keduanya itu penjahat, “Kau akan menangkapku kan? Pergilah penjahat.” Young kyu meyakinkan kalau ia adalah putra Ibunya. Nenek malah berkata kalau ia tak memiliki seorang putra, “Kau pasti penculik jangan menyikasa putriku Shin Ae. Pergi!”
Seung Chul berteriak meminta Nenek membuka pintunya. Nenek berseru ketakutan, gerombolan penjahat datang. Ia ketakutan dan menangis. Young Kyu mendengar Ibunya menangis ia mulai mencemaskan ibunya, “Ibu apa kau menangis? Kenapa kau menangis? siapa yang memukulimu?”
Young Kyu dan Seung Chul berusaha meyakinkan Nenek agar membuka pintu. Tapi Nenek menangis memohon-mohon minta maaf (sepertinya masa lalu Nenek dan Shin Ae kelam)


Woo Ri memandangi ponselnya dan mendesah. Ia menunggu kabar dari Dong Joo. Joon Ha sudah membeli tiket kereta gantungnya. Tapi melihat kecemasan Woo Ri ia mengantongi tiketnya dan berbohong tak jadi beli tiket karena mereka harus menunggu lama.
Woo Ri melihat kereta gantung yang berjalan. Joon Ha mengajak Woo Ri pergi dari sana. Woo Ri tanya bukankah wahana permainnya akan ditutup dan bukankah Joon Ha akan kembali ke Amerika.


Joon Ha bilang kalau ia tak jadi pergi ke Amerika. Ia memutuskan untuk tak kembali ke sana. Woo Ri tanya kenapa, Joon Ha mengatakan tak ada alasan. “Tak ada yang menahanku jadi aku merasa malas pergi!”
Woo Ri heran bagaimana dengan rumah sakit. “Kau akan bekerja di rumah sakit di Amerika kan?” Joon Ha berkata kalau rumah sakit itu ada dimana-mana.


Ada yang menelepon Woo Ri, Seung Chul yang meneleponnya. Joon Ha kesal selalu saja Woo Ri sibuk. Joon Ha memperlihatkan tampang bete-nya hehehe... mulai ada tanda tanda suka kah si Joon Ha ke Woo Ri.
Woo Ri kaget kenapa Seung Chul kesana. Ia akan ke sana segera dan meminta Seung Chul menunggunya.
Woo Ri minta maaf pada Joon Ha, sesuatu terjadi di rumahnya dan ia harus pergi. Joon Ha menarik tangan Woo Ri. “Kita pergi sama-sama!” sahutnya.

Joon Ha mengantar Woo Ri sampai di depan gedung apartemen tempat tinggal Shin Ae. Woo Ri menerima telepon dari Seung Chul sambil keluar dari mobil Joon Ha. Joon Ha menatap Woo Ri yang berlalu begitu saja. Woo Ri menutup telepon dan berbalik ke Joon Ha untuk mengucapkan terima kasih.


“Woo Ri-ah!” panggil Joon Ha. Woo Ri berbalik, Joon Ha berpesan pada Woo Ri, “Biarkan dia tenang dan tidur dulu. Nenek pasti sangat panik. Jangan ditanya-tanya dulu, lebih baik biarkan dia tenang.” Woo Ri mengerti.
Woo Ri menerima telepon dari Shin Ae dan mengatakan ia sudah sampai di apartemen Shin Ae. Woo Ri segera masuk Joon Ha menatapnya.


Shin Ae tiba dan keluar dari mobil tergesa-gesa sambil berbicara dengan woo Ri di telepon. Joon Ha dan Shin Ae pun bertemu pandang.
Shin Ae tak mengira Joon Ha datang ke apartemen tempatnya tinggal dan bertanya ada apa. Joon Ha juga heran ia menjawab kalau ia ada sedikit keperluan. Shin Ae mengatakan kalau ia tinggal disini dan jika Joon Ha datang lagi Joon Ha bisa memberitahu dirinya, “Akan ku hidangkan teh!”
Joon Ha : “Aku tak ada alasan lagi untuk ke sini. Permisi!”
Shin Ae melongo, “Kasar sekali dia!” (siapa dulu emaknya haha)


Nenek jongkok ketakutan di dalam rumah. Shin Ae membuka pintu dan terkejut melihat rumahnya berantakan. Young kyu langsung menghampiri Ibunya. Tapi Nenek malah menjauh ketakutan ia berusaha melindungi Shin Ae, “Jangan ini anakku. Jangan memukulnya!” Shin Ae heran dan bertanya ada apa.
Nenek : “Mereka mau menculik. Shin Ae, larilah!”
Young Kyu : “Ibu, ini aku Young Kyu. Putramu Bong Young Kyu!”
Nenek : “Apa? Aku tak memiliki seorang putra. Shin Ae pergilah cepat!”


Young kyu terkejut ibunya tak mengenalinya. Shin Ae cemas, “Ibu apa kau tak mengenali Young kyu? Apa Ibu sudah gila?”
Nenek mengajak Shin Ae lari. Young Kyu melihat sikap aneh ibunya. Woo Ri memandang cemas penyakit Nenek. Young kyu bingung ia memukul-mukul dahinya.
Nenek tambah ketakutan kenapa meraka. Shin Ae meminta ibunya sadar, “Kita harus menemukan Ma Roo. Kau satu-satunya yang sudah melihat Ma Roo. Bagaimana bisa menemukannya lagi kalau Ibu begini?”
Nenek : “Ma Roo? Ma Roo anakmu? Kita tak boleh membiarkan mereka menculiknya. Gambar Ma Roo ku simpan disini di dalam sini!” (menunjuk ke hatinya)
“Ibu apa kau menyembunyikan gambar Ma Roo? Di mana?” Shin Ae memeriksa baju ibunya secara paksa. Melihat itu Young kyu meminta Shin Ae jangan memperlakukan ibu seperti itu.


Seung Chul melihat gambar sketsa tergeletak di lantai. Ketika semua tak menyadari, Seung Chul mengambil gambar itu dan menyimpannya.
Nenek ketakutan dan memeluk Shin Ae. Young Kyu sedih ibunya tak mengenalinya lagi. Woo Ri menenangkan ayahnya yang menangis. Seung Chul dan Woo Ri mengajak Young Kyu pulang.


Bibi Lee memaskeri suaminya. Suaminya berkata tanpa Seung Chul rasanya mereka seperti pengantin baru. Pengantin baru apa sahut Bibi Lee. Biarpun ia tak bisa mengubah mata, hidung, dan mulut ini paling tidak ia bisa merubah penampilan suaminya, “Wajah pucat susu Cha Dong Joo!”
Paman Lee kesal mendengar istrinya terus memuji Dong Joo. Ia merasakan pedih di wajahnya. Bibi Lee berkata ia ingin membuat wajah suaminya menjadi putih makanya ia menambahkan pemutih. “Oh tidak. Ini pasti ada efek sampingnya.”


Seung Chul dan Woo Ri manggandeng Young Kyu masuk ke rumah. Paman Lee heran kenapa dengan sobatnya ini. Bibi Lee juga heran kenapa putranya tak berada di Universitas Chicken. Seung Chul berkata kalau dia sudah lulus.
Seung Chul mencemaskan Young Kyu, “Paman. Apa kau tak apa-apa?” Paman Lee kembali bertanya pada Young Kyu kenapa wajahnya pucat. Woo Ri berkata kalau ayahnya ketakutan. Woo Ri mengajak ayahnya masuk.
Bibi Lee menahan putranya dan bertanya ada apa. Seung Chul menjawab kalau penyakit pikun Nenek kumat lagi. Bibi Lee langsung duduk lemas tak percaya.


Young Kyu berada di dalam kamar menimang-nimang bantal yang selalu dipakai ibunya ketika tidur, “Ibu Ibu ibu Ibu!” sebut Young Kyu sambil menangis. Woo Ri masuk membawakan air untuk ayahnya, ia meminta ayahnya berhenti menangis.
Young Kyu : “Woo Ri ibu tak mengenaliku. Katanya Bong Young Kyu bukan anaknya!”
Woo Ri berusaha menghibur ayahnya, “Jadi apa? Semua orang tahu kalau Bong Young Kyu anak Nenek. Aku tahu dan keluarga Seung Chul juga tahu bahkan semua orang di pasar juga tahu!”
Young Kyu : “Semua orang tahu... hanya ibu yang tak tahu!”
Woo Ri : “Kita bisa memberi tahu Nenek setiap hari sampai dia ingat. Lita katakan padanya setiap hari.”


Daripada ayahnya menangis lebih baik ayahnya menceritakan hal-hal yang lucu padanya dan nyanyikan lagu itu Di padang rumput yang biru... juga kau lempar sepatu dan menangkapnya lalu nenk akan berkata ‘ya ampun kau pasti anakku Young Kyu’
Young Kyu tersadar seharusnya ia melakukan itu tadi. Ia menyesal dan menepuk dahinya. Woo Ri menahan dan bertanya apa lagi yang bisa membuat Nenek mengingat ayahnya dengan cepat. Young kyu menjawab menulis surat ia pernah menuliskan kata ‘ja’ (tidur) untuk ibunya. Dan ketika itu Ibunya memuji dirinya pintar sekali.

Keluarga Lee masuk ke kamar Young Kyu. Meraka merasa kasihan dengan kondisi Nenek. Young kyu tak punya waktu untuk menjawab pertanyaan sobatnya ini ia berkata kalau ia sibuk. Young Kyu mulai melupakan kesedihannya dan ia akan memulainya dengan lagu. Ia langsung berdiri dan menyanyi terutama dibagian yang paling ibunya sukai.


Woo Ri setuju dan mengangkat kedua tangan, ayahnya senang dan menirunya. Woo Ri paling pintar mengusir kesedihan ayahnya. Paman Lee ikut mengangkat tangan walaupun dengan tatapan wajah yang sedih. Ia berusaha menghibur sobatnya. Seung Chul terharu melihatnya.

Setelah menenangkan ayahnya Woo Ri menghirup udara segar di luar rumah. Ia memandang langit. Seung Chul mengikutinya, “Tanyakan pada bintang!” seru Seung Chul. Seung Chul meminta Woo Ri jangan lagi menanyakan pada bintang, tanyakan padanya saja. Woo Ri ingin sendiri, ia menyuruh Seung Chul kembali ke rumah.


Seung Chul mengingatkan apa Woo Ri sudah lupa keinginan Ibu Woo Ri sebelum meninggal. “Bersama, bersama.” Seung Chul memperagakan kode bersama. Woo Ri bilang kalau itu yang selalu Seung Chul sebut setiap hari kepadanya. Seung Chul kembali memperagakan bahasa isyarat lain, “Apa kau pikir aku anak bodoh?” Seung Chul memperagakan kode bodoh. Seung Chul tertawa, Woo Ri juga ikut tertawa. “Apa lagi? apa lagi yang bisa kulakukan untuk membuatmu tertawa?” tanya Seung Chul. Woo Ri mendelik, “Apa kau pikir aku tertawa padamu karena kau lucu? Itu karena kau aneh!”


Seung Chul : “Benarkah? Kalau begitu bagaimana dengan ini? Ini kak Ma Roo!”
Seung Chul memperlihatkan sketsa gambar Ma Roo yang ia bawa dari rumah Shin Ae. “Dengan ini kita akan segera menemukannya!” Woo Ri memandang senang dan terkejut, “Apa ini Ma Roo-Oppa?”

Dong Joo membaca berkas sambil minum, kantong kacangnya tergeletak di depannya. Karena minumannya habis Dong Joo akan mengambilnya lagi. Ia melihat Kakaknya datang. “Kapan kau datang? Kenapa langkah kakimu tak terdengar? Kau membuatku takut.” Nada suara Dong Joo menandakan kalau diantara mereka sudah tak terjadi apa-apa setelah ketegangan tadi.


Joon Ha berusaha menghindari adiknya, tapi Dong Joo menahan, “Kalau kau mau memukulku lakukanlah. Aku sekarang agak pusing karena minum alkohol. Aku sedikit tak sadar.”


Joon Ha tak mengubrisnya ia malah tiduran di kursi. Joon Ha menutup matanya dengan tangan. “Bagaimana kencanmu dengan adikmu?” tanya Dong Joo. Joon Ha diam tak menjawab.
“Seharusnya kau membawakan makanan enak dan sesuatu yang bagus. Pakaian yang dikenakannya selalu sama setiap hari. Tasnya juga, yang itu-itu saja. Jam tangannya juga sudah kuno!”


Joon Ha membuka tangan dan menatap Dong Joo yang terus bicara.
Dong Joo : “Jika kau dan Choi Jin Chul sudah melakukan kesepakatan, apa rencanamu?”
Joon Ha : “Apa harus ku ulangi lagi? akan ku gunakan apapun caranya untuk merebut semua saham Choi Jin Chul. Aku sudah tahu kelemahan Choi Jin Chul. Apa kau tahu?”
Dong Joo : “Apa kau pikir hanya kau saja yang tahu? Apa kau pikir Choi Jin Chul akan membiarkanmu melakukan itu? sebelum kau mengalahkan Choi Jin Chul, kau akan hancur terlebih dahulu!”
Joon Ha tak peduli siapa yang hancur lebih dulu, karena ia sangat yakin dengan titik kelemahan Choi Jin Chul, “Paling tidak kami akan sama-sama mati.” Joon Ha langsung bangkit menuju kamar.
Dong Joo mengeraskan suaranya, “Apa kau mencintai Choi Jin Chul? Apa kalian berdua itu romeo dan juliet? Kenapa mati bersama?” Joon Ha mengacuhkannya.


Joon Ha sudah berganti pakaian. Dong Joo merasa Joon Ha sangat egois. Walaupun Woo Kyung sudah berhasil mereka rebut, apa Joon Ha pikir semuanya akan beres, “Setelah melakukan trik-trik kotor untuk Choi Jin Chul, apa kau pikir Bong Woo Ri akan berterima kasih?”
“Selama kau bersama Bong Woo Ri hari ini, apa kau merasakan sesuatu? Keluarga yang ingin kau lindungi bukan aku dan Ibu. Tapi Bong Woo Ri dan keluarganya. Kau pasti sudah tahu itu, tapi kenapa kau keras kepala?”


Dong Joo menahan tangan Kakaknya, “Jang Joon Ha dengan IQ 301. Bukankah kau lebih pandai dari aku?” Joon Ha berkata kalau ia sudah lelah jika Dong Joo mau bicara katakan langsung.


Dong Joo : “Jangan mempercayai Ibu. apa maksudmu kau tak mau kehilangan dia? Katanya Ibu akan menjual hartanya untuk mengembalikan semua uang yang telah kau habiskan? Apa kau pikir dia benar-benar akan melakukan itu? Begitu dia punya uang dia pasti akan membeli saham Woo Kyung. Dia tak akan melindungimu. Batalkan kontraknya untuk pabrik Energy Cell nomor 2. Dan jangan makan umpan yang diberikan Choi Jin Chul kepadamu. Kecuali, kalau kau mati bersama-sama dengannya!”
Joon Ha : “Aku tak mau!”
Dong Joo : Apa?


Joon Ha : “Apa kau terkejut? itu kan kata-kata yang selalu kau ucapkan. Aku bisa meniru setiap kata-katamu tapi aku tak bisa menjadi Cha Dong Joo. Mudah bagimu untuk melarangku percaya pada Ibu. Tapi bagiku, kalau kepercayaan itu hilang masa laluku yang selama 16 tahun juga akan hilang begitu saja. Jadi apapun yang terjadi, aku harus ke sana!”
Dong Joo : Kakak?
Joon Ha : “Tapi kalau ibu meninggalkanku, kau jadilah malaikat pelindungku. Kalau tidak, aku akan sangat menderita!”
Joon Ha meminta Dong Joo lebih fokus pada Energy Cell dan jangan mempedulikan dia. “Kau hanya bisa melindungiku kalau kau memiliki kekuatan!”


Presdir Choi penasaran dan bertanya pada istrinya apa benar Dong Joo kehilangan ingatannya karena kecelakaan itu. “Aku tak bisa mengatakannya karena aku tak melihatnya sendiri. Hari ini dia tiba-tiba menanyakan tentang kebakaran pabrik 16 tahun yang lalu. Dia juga membawa putri dari perempuan yang meninggal itu.”
Ny Tae terkejut suaminya mulai curiga tentang kebohongan hilang ingatannya Dong Joo. Ny Tae berkata kalau ia mendengar keduanya saling bertemu untuk masalah desain kemasan Energy Cell, tapi tak berhasil karena dia masih memiliki dendam dengan Woo Kyung.
“Tapi seorang anak tak pantas berkata seperti itu kepada ayahnya!” sahut Presdir. “Katanya jika aku menyentuhnya lebih baik aku langsung membunuhnya.” Presdir tertawa kenapa Dong Joo begitu marah padanya. “Apa yang telah kulakukan padanya?”


Ny Tae menahan kesal apa suaminya tak tahu. Sepertinya ia tahu. “Kau sudah meminta Shin Ae untuk membantu Dong Joo, kau memang tak tahu malu. Aku sebenarnya mau marah padamu tapi kau dan Shin Ae terlalu sempurna di mataku. Makanya aku tahan saja. Bahkan aku merasa risih kalau mengganggu kalian berdua.”
Presdir : “Kalau kau risih kenapa tak menceraikanku saja? Sangat sulit bagiku untuk hidup dengan wanita angkuh seperti dirimu!”
Ny Tae : “Itulah sebabnya aku tak bisa menceraikanmu. Aku senang melihatmu menderita!”
Setelah istrinya berlalu Choi Jin Chul meremas-remas koran yang di bacanya.


Nenek dan Shin Ae mencari sketsa gambar Ma Roo. Shin Ae mencarinya sampai ke kolong-kolong kursi, tapi tetap tak ketemu. (jelas, kan udah di bawa sama Seung Chul) Shin Ae melarang ibunya tidur sebelum menemukannya. Kenapa ibunya bisa melupakan benda itu. Shin Ae menyuruh ibunya untuk menggambar ulang. (Nenek ga pikun lagi dia sudah sadar)

Nenek berkata kalau menggambar itu kelebihan Young Kyu. Shin Ae mengancam kalau ibunya tak menemukan gambar Ma Roo, ibunya tak boleh menemui Young Kyu lagi. Nenek memohon mamanggilkan Young Kyu sekali ini saja. “Dia pasti terkejut, aku bisa gila.” Nenek mendesah ia ingin mati saja.
Shin Ae : “Siapa yang menyuruhmu mati? Sebelum Ibu mati temukan dulu gambar Ma Roo!”

Telepon berbunyi Nenek menebak itu dari putranya ia akan mengangkatnya tapi Shin Ae menabok tangan ibunya. Shin Ae mengangkat teleponnya.

Wajah Shin Ae berubah jadi bete setelah tahu kalau yang menelepon itu Woo Ri, “Wanita tua itu baik-baik saja!” ucap Shin Ae. “Apa itu dari Young Kyu?” Nenek langsung memanggil nama putranya.


Woo Ri senang mendengar suara Nenek, ayahnya ikut menguping. Woo Ri berkata pada ayahnya kalau Nenek sudah sembuh dia sudah mulai mengumpat lagi. Young Kyu menyuruh ibunya mengumpat lagi tanda kalau ibunya masih mengingatnya. Young Kyu minta ibunya tak usah khawatir, ia baik-baik saja dan berkata kalau penyakit pikun itu tak menyakitkan. Walaupun ibunya tak mengenalinya ia tetap mengenali ibunya.

Ada yang ingin Woo Ri tanyakan ke Nenek, ia menatap cemas ayahnya. Woo Ri bicara sedikit berbisik, “Itu bukan mimpi kan? Apa Nenek benar-benar bertemu Kak Ma Roo?” Young Kyu kaget, “Siapa? Kakak? apa itu Ma Roo?” Woo Ri langsung menjawab bukan.
Woo Ri akan menutup telepon tapi ayahnya melarang ia harus menyanyi untuk ibunya dulu.


Woo Ri belum tidur, ia gelisah. Woo Ri mengambil gambar Ma Roo dari balik selimutnya, ia memandangi gambar itu.
Seperti yang dilakukan ayahnya ketika ingin memastikan itu Ma Roo atau bukan, Woo Ri menutup bagian mulut gambar itu dengan telapak tangannya.


Pagi hari Woo Ri kembali mengantar susu di rumah Dong Joo, ia tak sengaja mendengar alunan instrumen piano, Woo Ri mengintip.


Woo Ri penasaran dan langsung masuk ke rumah Dong Joo, ia melihat ke arah piano tak ada siapa-siapa. Tak ada yang memainkan piano. Ternyata itu suara rekaman dari tape recorder hehe. Woo Ri heran.
“Ada apa kau disini?” tanya Dong Joo mengagetkan Woo Ri.


Dong Joo keluar dari balik aquarium sambil membawa sendok penggorengan hehehe, “Sekarang, apa susu diantar sampai ke ruang tamu?”
Woo Ri berkata tidak, ia mendengar ada suara piano jadi... Dong Joo memotong ucapan Woo Ri, “Kalau kau mendengar suara piano apa kau bisa seenaknya masuk ke rumah orang?”
Woo Ri tertawa kenapa Dong Joo jadi judes seperti itu. Kemarin ia sangat menghawatirkan Dong Joo, “Kenapa kau tidak mengirim sms padaku?”


Dong Joo : “Kenapa aku harus.. (melakukannya)”


Dong Joo menunjuk Woo Ri dengan sendok penggorengannnya, “Mengirim sms kepada seseorang yang menjadikan Bong Ma Roo cinta pertamanya? Susunya letakkan di sana dan pergilah!” Dong Joo pura-pura galak. Dong Joo menyuruh Woo Ri keluar ia mengibas-ibaskan sendok penggorengannya.

Woo Ri : “Hey aku tak ingin mengungkit ini. Tapi setelah perbuatanmu kemarin beraninya kau berteriak padaku?”
Dong Joo pura-pura tak mengerti, “Apa salahku?” Woo Ri kesal, “Kau memintaku minum untukmu tapi kau malah memanfaatkan aku...”


“Dan berbohong!” lanjut Dong Joo sambil memajukan wajahnya ke wajah Woo Ri siap dicium oleh Woo Ri karena ia sudah berbohong (hukuman berbohong cium hehe) Dong Joo memonyongkan mulutnya, “Ayolah!” kata Dong Joo.


Plok... Woo Ri menabok mulut Dong Joo, “Itu yang akan kau dapatkan kalau kau berbohong padaku!” Dong Joo merengut, “Baiklah!”
Dong Joo penasaran kemarin Woo Ri dan Joon Ha kemana. Woo Ri tak menjawab ia malah balik bertanya apa dokter Jang Joon Ha ada. Dong Joo kesal dan berkata tak ada dia sudah pergi.
“Siapa yang pergi? aku ada disini!” Seru Joon Ha tiba-tiba muncul. Woo Ri langsung menatap ke arah Dong Joo, “Kau berbohong lagi?”


Woo Ri langsung tersenyum berdiri di samping Joon Ha, “Dokter. Bukankah kau hanya minum susu coklat?” Woo Ri memberikan susu coklat untuk Joon Ha. Joon Ha tertawa menerimanya dan memuji ternyata Woo Ri masih mengingatnya walaupun hanya sekilas.
Dong Joo kesal dan merebut susu coklat itu. Ia memberikan Joon Ha sendok penggorengannya, “Kalau begitu masak sendiri makananmu aku ada rapat pagi ini!”


Joon Ha tanya apa Woo Ri mau minum kopi. Woo Ri menjawab tidak karena ia tak minum kopi. Dong Joo tersenyum menang ajakan Joon Ha ditolak. Tapi senyum itu berubah menjadi kekesalan ketika Woo Ri berkata kalau ia ingin minum air putih biasa. Hahaha cemburu dah tuh.

Joon Ha tersenyum menang dan Woo Ri mengikutinya. Dong Joo menatap tak percaya, “Ada apa disini?” Dong Joo langsung pergi tapi ia kembali menatap Woo Ri dan geleng-geleng kepala.

Joon Ha penasaran bagaimana keadaan Nenek. Woo Ri mengatakan kalau Nenek sudah baikan. Mungkin dia lupa karena sedang mabuk penyakitnya itu cepat kumat. Joon Ha berpesan Nenek harus memperhatikan untuk tidak minum alkohol lagi dan jangan sampai dia stress.


Joon Ha minum dan Woo Ri memperhatikannya. Ketika Joon Ha minum dengan gelas yang menutupi wajah. Woo Ri merasa itu mirip ketika ia menutup wajah gambar Ma Roo.
Woo Ri memberanikan diri bertanya, “Maaf. Bukankah kau bilang ayahmu juga seorang dokter?” Joon Ha menjawab ya dan bertanya kenapa. Woo Ri menjawab tidak apa-apa. Woo Ri masih belum berani menyimpulkan hal yang bukan-bukan.

Joon Ha : “Kemarin kau mentraktirku makan, sekarang gantian aku yang akan mentraktirmu. Bagaimana kalau makan malam bersama?” (what? kencan kah?)
Woo Ri tak bisa malam ini ia ada lembur. Joon Ha sedikit kecewa dan berkata tak apa-apa lain kali saja.


Presdir Choi kesal sampai kapan ia harus menunggu di ruang meeting. Di sana hanya ada Presdir Choi, Sekertaris Kim dan Dong Joo. Anggota dewan direksi belum muncul.


Min Soo masuk dan menemui Dong Joo. Ia mengatakan bahwa baru saja mendapatkan berita. Email permohonan maaf Dong Joo kepada dewan direksi dikembalikan semuanya, “Bagaimana ini tidak berhasil?”

Dong Joo menatap Presdir Choi yang tengah asyik meminum teh-nya. Presdir bicara pada Min Soo, “Apa kau tahu bagaimana Ayahmu memperoleh banyak saham di Woo Kyung?” Min Soo menjawab tak tahu, ia dan ayahnya tak pernah membicarakan masalah pekerjaan di rumah.


Presdir kembali bertanya kenapa Min Soo tak menanyakannya, bukankah sekarang Min Soo bekerja di Woo Kyung, “Dia dulu dekat dengan Kakek Dong Joo (Presdir Tae) dan dia masih aktif di Woo Kyung sampai sekarang. Itu pelajaran yang harus kau pikirkan!”


Dong Joo menahan marah, ia mencengkeram erat pena yang ada di tangannya.
Presdir juga meminta Dong Joo harus lebih hati-hati sejak kecelakaan ketika kecil dulu. “Kalau kau tak mau jatuh lagi jangan pernah lagi naik ke tempat yang tinggi!”

Dong Joo kembali ke kantor Energy Cell bersama Min Soo. Di sana ia melihat Shin Ae dan peserta training. Shin Ae tak setuju kalau begini caranya bagaimana bisa menjual kosmetik. Buat pilihan yang baru. Park Dae Ri mengatakan kalau produk itu sudah dipilih oleh seseorang yang berpengalaman. Menurut Shin Ae apa salahnya menjual dari pintu ke pintu. Apapun harus dilakukan untuk menjual kosmetik.


Dong Joo bertanya ke staf-nya kenapa orang-orang ini bisa masuk ke kantor Energy Cell. Dong Joo memperkenalkan diri pada peserta training, ia meminta semuanya keluar. Mengenai masalah Program training ia akan menghubungi mereka nanti.


Shin Ae menatap marah Dong Joo, apa Dong Joo menentangnya atau Dong Joo mengabaikan perintah Presdir Choi. Dong Joo berkata pada staf-nya agar membiarkan Shin Ae keluar untuk mencari udara segar. Shin Ae tak menyangka dengan sikap Dong Joo, “Dia berani juga!”


Min Soo akan masuk ke ruangan Dong Joo, tapi ia melihat Dong Joo merenung dan sepertinya tak ingin diganggu. Min Soo tak jadi masuk.


Woo Ri berada di kamarnya ia kembali menutup mulut gambar Ma Roo untuk memastikan perkiraannya, “Tidak mungkin. Tapi mereka sangat mirip!” Woo Ri menggeleng-gelengkan kepala mencoba menepis apa yang ia pikirkan.
Woo Ri memandang jam tangan pemberian Joon Ha. Min Soo meneleponnya menanyakan di mana keberadaan Na Mi Sook. Min Soo mengatakan ini sangat darurat Woo Kyung akan menghancurkan Energy Cell.

Woo Ri tanya apa yang terjadi, Min Soo menjelaskan kalau Dong Joo mengundang para Direktur pagi ini untuk rapat tapi tak seorang pun yang datang. Dan juga Bibi yang bukan Bibinya Woo Ri, Kim Shin Ae. Dia sudah membuat Dong Joo marah. Katanya dia akan melakukan penjualan dari pintu ke pintu, tapi tak ada hasilnya.
“Aku marah sekali dan tentu saja Cha Dong Joo juga ikut marah. Tapi Na Mi Sook tak menjawab teleponnya. Bisakah kau mencari kan dia?” Woo Ri paham ia akan mencarinya. Woo Ri mendesah, “Tadi pagi moodnya bagus sekarang mungkin mood-nya sudah berubah.”

Woo Ri mengirim sms pada Na Mi Sook, “Nona Na Mi Sook apa kau ingin melihat langit biru nan cerah?”
Na Mi Sook membalas sms, “Kau dimana?” Woo Ri tersenyum senang sms-nya direspon.


Shin Ae mengadu pada Presdir Choi atas kekesalannya di kantor Energy Cell tadi. “Dong Joo secara frontal menolak perintahmu. Sudah kubilang itu perintahmu tapi dia tak mau mendengarkan!”

Presdir menanyakan gambar Ma Roo. Shin Ae berkata hal itu lah yang ingin ia bicarakan dengan Presdir. “Ibu menyembunyikan gambar Ma Roo!” Presdir terkejut kenapa Shin Ae baru mengatakannya sekarang. Shin Ae memberi tahu kalau ia juga baru mengetahuinya kemarin. “Hubungi lagi kantor polisi. Sayang, mari kita pikirkan Ma Roo saja. Kita harus menemukan anak kita!” Presdir tahu itu. Dia akan mencarinya dan meminta Shin Ae mengerjakan pekerjaannya sendiri.

Presdir menyuruh Sekertaris Kim untuk pergi ke kantor polisi Seoul, tapi jangan sampai Shin Ae tahu. Sekertaris Kim mengerti.


Ny Tae berada di parkiran, ia menerima amplop besar dari seseorang yang duduk di kursi belakang mobilnya. Ny Tae membuka amplop itu dan ternyata berisi sketsa gambar Ma Roo yang tak lain juga Joon Ha. Ny Tae cemas dan bertanya siapa yang membuat gambar ini.
“Ibunya Kim Shin Ae, Ny Hwang Soon Geum!” ucap seorang pria yang duduk di kursi belakang mobil. “Apa boleh kusampaikan informasi ini kepadanya?” (kepada presdir Choi)
Ny Tae : “Tak ada jalan lain. Kalau dia tahu kau mengambil ini dia akan curiga!”
Toeng toeng ternyata pria itu Sekertaris Kim.


Ny Tae mengatakan kalau isu tentang Energy Cell sudah membuat saham Woo Kyung jatuh, “Ini kesempatan kita untuk membelinya. Ini bagianmu!” Sekertaris Kim berkata kalau kita memerlukan banyak dana. Ny Tae bisa mengembalikan nanti.

Ny Tae : “Kau sudah dibohongi Choi Jin Chul berkali-kali. Apa kau masih percaya pada orang lain? Kau tak perlu percaya padaku!”

Sekertaris Kim menerima amplop berisi gambar itu. Ny Tae kembali berkata ia tahu penderitaan Sek Kim tak bisa diukur dengan uang. Tapi uang itu bisa digunakan untuk membunuh Choi Jin Chul. “Karena dia yang memulainya, mari kita lihat bagamana akhirnya!”


Joon Ha membuat tiruan kantong kacang seperti punya Dong Joo. Ia memasukan biji kacang dan menjahitnya sendiri. Ia tampak senang melakukannya, Joon Ha terus tersenyum.


Tapi kegiatannya ini diganggu dengan kedatangan Woo Ri yang tiba-tiba. Joon Ha panik ia tak ingin apa yang dilakukannya diketahui Woo Ri. Woo Ri celingukan, Joon Ha mencoba menghalangi arah pandang Woo Ri. Woo Ri heran apa ada orang lain di rumah. Joon Ha menjawab tak ada siapa-siapa. Ia menyuruh Woo Ri menunggu di luar selama 10 menit.


Woo Ri berkata tak perlu, ia tahu kalau Joon Ha sedang sibuk. Woo Ri mengembalikan jam tangan yang diberikan Joon Ha, “Jam tangannya bagus dan terima kasih atas perhatiannya, tapi aku tak bisa mengenakan jam tangan ini. Terima kasih lenganku sempat menikmati jam tangan mewah ini.”

Joon Ha kecewa dan meminta Woo Ri kembali menyimpannya, kenapa hadiahnya dikembalikan. Woo Ri menolak, bukankah Joon Ha memberikan jam itu padanya agar ia melupakan Kakaknya. Tapi Woo Ri tak mau melupakan Kakaknya. “Maafkan aku, akulah yang bilang ingin melupakannya.”


Joon Ha : “Kenapa kau merubah keinginanmu?”
Woo Ri : “Karena aku merindukannya!”
Joon Ha terpana. Woo Ri pamit pulang. Tapi Joon Ha menahan tangan Woo Ri, “Bukankah kau bilang dia bukan saudara kandungmu? Kenapa kau begitu merindukannya?”
Woo Ri : “Aku tak tahu. Setiap aku melihatmu, aku semakin merindukannya!”


Ny Tae menelepon Joon Ha ia mengingatkan kalau mereka ada rapat dengan investor hari ini. Ny Tae mengajak Joon Ha berangkat bersama. Joon Ha tak bisa karena ia ada konferensi di rumah sakit. Ny Tae bilang kalau ia sudah membatalkan acara konferensi Joon Ha.
Joon Ha : “Apa? Tanpa bilang dulu padaku?”

Ny Tae membuka gambar Ma Roo dan berkata kalau sekarang mood-nya tak bagus. Ia mendengar sesuatu yang aneh dari Choi Jin Chul. “Kau dan Dong Joo kelihatannya dekat dengan seseorang yang bernama Bong Woo Ri. Apa itu benar? Bukankah dulu kau berlutut dan memohon padaku. Untuk tak melihat anggota keluargamu lagi?”
Joon Ha : “Aku melakukannya agar Ibu tak marah. Bukan karena aku berbuat kesalahan. Itu karena ibu membencinya!”
Ny Tae : “Jadi apa kau akan tetap menemui adikmu?”


Joon Ha : “Dia bukan adikku. Dulu atau pun sekarang aku tak pernah menganggapnya adikku. Aku bukan Bong Ma Roo, aku Jang Joon Ha.”
Ny Tae : “Baik temui dia. Tapi kau juga harus membantuku. Kalau kau ingin kembali pada keluargamu, biar Ibu yang memersiapkannya!”
Joon Ha kesal bukan itu maksudnya, kalau ibunya menganggap ia adalah Jang Joon Ha, seharusnya ibunya tak merasa terganggu dengan mereka.


Ny Tae : “Kenapa kau berkata seperti itu? ketika aku mambawamu kau masih dibawah umur. Tanpa sepengetahuan orang tuamu, aku merubah nama dan identitasmu. Kalau ada yang mengetahuinya apa kau tahu apa yang akan terajadi padaku? Bagaimana dengan Dong Joo? Kau jangan menemui mereka lagi. bukankah kau sudah berjanji padaku. Aku mohon padamu.”
Joon Ha mematikan ponselnya, ia kesal.


Na Mi Sook berada di taman botani ia berdiri di depan gambar yang di tempel Young Kyu. Ia menuliskan kata ‘Cinta atau pergi’ di gambar itu dengan lipstik merahnya. “Hanya ada dua pilihan ketika orang saling bertemu. Cinta atau pergi.” Young Kyu berjalan sedih ia merindukan ibunya. Ia melihat melihat Na Mi Sook mencoret-coret gambarnya.


“Jangan mencoret-coret, nanti aku bisa dipecat. Kalau aku dipecat aku tak bisa menunggu Ma Roo.” Young kyu mulai berkata sedih, ibunya sakit kalau penyakit ibunya bertambah parah ibunya tak akan bisa mengenali Ma Roo.

Mi Sook menatap tajam Young Kyu, “Kau? Siapa kau?” Young Kyu mulai tersenyum, “Aku Bong Young Kyu. Halo tukang mencoret-coret!” Young Kyu memberi salam.
Mi Sook berjalan mundur perlahan, “Pabo (orang bodoh)?”
“Benar aku orang bodoh!” sahut Young Kyu. “Bodoh itu bagus, Mi Sook yang bilang seperti itu!”


Mi Sook kaget namanya disebut tapi yang pasti bukan dia yang dimaksud, “Apa kau mengenalku?” Mi Sook melepas kaca matanya. Young Kyu melotot memandang heran, “Ya. Tukang coret-coret aku melihatmu!” (Young kyu ga sadar apa ya kalau Mi Sook ini mirip sama Mi Sook-wakaka bingung dah)
“Hey!” Mi Sook berteriak kencang membuat Young Kyu kaget.


Manajer Seo keluar dari toilet ia memanggil Young Kyu. Mi Sook kembali memakai kaca matanya. Young Kyu minta maaf ia akan segera menghapusnya. Manajer melihat Mi Sook dan bertanya siapa. “Kau tak perlu tahu!” sahut Mi Sook dingin. Mi Sook berbalik meninggalkan dua orang ini. Young kyu langsung mengucapkan selamat tinggal, “Selamat tinggal tukang coret-coret!” hehe

Mi Sook kesal ia berbalik badan untuk menatap galak Young Kyu. Young Kyu melayangkan senyumannya.
Manajer tanya apa dia orang yang suka mencoret-coret. Young Kyu membenarkan dan menunjukan coretan yang ditulis Mi Sook, Young Kyu membacanya pelan. “Cinta atau pergi.” manajer memebca tulisan itu. Young Kyu tak mengerti maksudnya.

Mi Sook duduk sendiri di bangku taman. Ia menengadahakan wajahnya menatap langit, “Begitu gerahnya!”
Woo Ri datang membawa minuman. Mi Sook tanya dimana langit biru yang cerah. Woo Ri menyesal karena hari berubah mendadak menjadi berawan. “Tapi bukankah udaranya tetap segar?”


Woo Ri memberanikan diri duduk di samping Mi Sook dan bertanya apa Mi Sook sedang kecewa. Mi Sook malah bertanya balik apa Woo Ri mau ia beri saran, “Jangan menilai orang dari wajahnya.” Woo Ri berkata kalau ia tak peduli hal semacam itu.
Mi Sook : “Kebohongan yang baik. Lebih bersikap netral. Orang itu terlalu putih. Warna putih cepat menjadi kotor, janganlah menjadi kotor. Kalau warna putih menjadi kotor sulit untuk membersihkannya. Jangan menyakitinya.”
Woo Ri : “Sebelumnya kau bilang tak suka orang yang bicara berputar-putar. Hari ini aku akan to the point saja. Bisakah kau mempertimbangkan Energy Cell?”
Mi Sook menerima teh yang ditungkan Woo Ri, “Apa karena orang itu?” Woo Ri menjawab bukan, ini untuknya. Ini satu-satunya cara memebuatnya nyaman. Mi Soo penasaran berapa usia Woo Ri. Woo Ri menjawab usianya 25 tahun.


“25 tahun!” Mi Sook kembali menengadahkan wajahnya menatap langit, “25 tahun.” Woo Ri memandang heran dan ia melihat Mi Sook meneteskan air mata.

And then aksi Woo Ri dengan lagu Good Person yang pernah dipopulerkan Super Junior hehe.


Woo Ri lembur di show room mobil tempat ia bekerja. Woo Ri sibuk mengepel lantai. Ia manari kesana kemari mengikuti alunan lagu Good Person, ia menjadikan gagang pel sebagai microphone.


Dan Woo Ri melihat Dong Joo berdiri di luar dan merekamnya. Ia langsung berhenti, Dong Joo tersenyum dan meminta Woo Ri melanjutkan nyanyiannya. Woo Ri menggeleng karena ini memalukan.


Dong Joo memohon, “Ayolah cepat. Menyanyilah, aku sedang kecewa.”


Akhirnya Woo Ri menyanyi tanpa menari. Ia menyanyi sambil memperagakan bahasa isyarat dari lagu yang ia bawakan. Dong Joo tersenyum menatapnya.

Nih reff-nya hehe

Niga wooseumyuhn nado joha nuhn jangnanira haedo
Nuhl gidaryuhdduhn nal, nuhl bogo shipduhn bam
Naegen buhkchan haengbok gadeukhande
Naneun honjayuhdo gwaenchanha nuhl bol sooman iddamyuhn
Neul nuhui dwiesuh, neul nuhl baraboneun geuge naega gajin mogshin guhtman gata


Setelah selesai menyanyi Woo Ri menutup telinganya, “Bisakah kau mendengarku menyanyi?” Dong Joo melakukan hal yang sama, munutup kedua telinganya. “Aku bisa mendengarmu!”
Woo Ri kembali memperagakan gerak bahasa isyarat sambil menyanyi.


Seorang ibu dan anak kecilnya menonton Woo Ri. Dong Joo melihat ibu dan anak ini. Si ibu bilang ke anaknya mengomentari Woo Ri yang tengah bernyanyi, “Wajahnya cantik tapi sayang sekali dia itu tuli.”
Tatapan mata Dong Joo berubah sedih. Woo Ri heran kenapa. Woo Ri akan keluar tapi Dong Joo berkata kalau ia harus ke pabrik. Dong Joo pamit ia melambaikan tangannya.


Joon Ha minum-minum sendiri di warung pinggir jalan. Ia teringat ucapan Woo Ri, “Setiap melihat dokter, aku semakin rindu pada Kakakku.” Joon Ha bergumam, “Kau tak tahu apa-apa.” Joon Ha meminum minumannya lagi, ia sudah mabuk.


Joon Ha meminta Bibi pemilik warung memberikannya sebotol lagi. Joon Ha tanya apa Bibi pernah naik kereta kabel (kereta gantung) Bibi itu menjawab pernah. Joon Ha mengeluarkan tiket, “Apa kau mau tiketnya?” Tapi si Bibi tak menghiraukannya.


Joon Ha yang sudah mabuk mengeluarkan kantong kacang buatannya dan jam tangan kembalian dari Woo Ri, “Aku juga punya ini. Ini barang mahal.” Bibi itu meminta Joon Ha menyimpan benda-benda itu. “Tidak. Bibi bisa memilikinya. Setiap kubelikan sesuatu, dia tidak mau. Kau bisa memiliki semuanya.” Ucap Joon Ha.
Bibi itu mengeluh Joon Ha sudah mabuk, jangan minum lagi dan menyuruh Joon Ha pulang.


Ponsel Joon Ha berdering, Dong Joo meneleponnya. Tahu kalau itu Dong Joo, Joon Ha tak menjawab. Ia membiarkan ponselnya terus berdering, ia menatap ponselnya.


Dong Joo di luar rumah memainkan kantong kacang menunggu Joon Ha pulang. Dong Joo mendapat sms dari Woo Ri, “Sekarang aku berjalan dengan mata tertutup!”
Sms Woo Ri berikutnya, “Sekarang aku berjalan dengan telinga tertutup!”
Dong Joo menatap heran.


Woo Ri benar-benar melakukan apa yang ia sms kan ke Dong Joo. Woo Ri berjalan dengan mata dan telinga tertutup. “Kenapa aku melakukan ini? Kenapa?”
Woo Ri kembali mengirim sms, “Kenapa?”
Kemudian sms berikutnya muncul, “Tanyakan pada bintang!”
Dong Joo terkekeh hehehe, “Mati kau!” Dong Joo segera beranjak pergi.

Woo Ri kesal Dong Joo tak membalas sms-nya. Ia menatap langit malam yang penuh bintang, “Tanyakan pada bintang. Tanyakan pada bintang.” Gumam Woo Ri.
Woo Ri berjalan berjingkat-jingkat sambil mengucapkan ‘tanyakan pada bintang’


Ups Woo Ri keget di depan rumah Seung Chul, Joon Ha duduk sendiri. Joon Ha melihat kedatangan Woo Ri dan tersenyum dalam mabuknya.


Woo Ri tanya apa yang dilakukan Joon Ha disini. Joon Ha berkata kalau ia baru saja minum alkohol. “Kau sangat mabuk apa bisa kau berdiri?” Woo Ri mencoba membantu Joon Ha berdiri. Tapi Joon Ha menarik Woo Ri supaya duduk di sampingnya.


Joon Ha menggenggam pergelangan tangan Woo Ri, “Tunggu sebentar!” ucap Joon Ha pelan. Joon Ha langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Woo Ri, tangannya tetap menggenggam tangan Woo Ri. “Tunggu sebentar!” Ucapnya lagi.
Woo Ri : Dokter?
Joon Ha : Woo Ri Woo Ri


Joon Ha mengangkat kepalanya dan menatap wajah Woo Ri. “Tunggu sebentar!” pinta Woo Ri dengan suara yang berat. Woo Ri mengangkat tangan dan menutup wajah Joon Ha sebagian, seperti yang ia lakukan pada gambar Ma Roo. Mata Joon Ha berkaca-kaca.
Woo Ri : “Kau mirip dia. Ma Roo-Oppa!”


Air mata Joon Ha tak tertahankan lagi, ia mulai terbawa perasaan. Joon Ha memajukan wajahnya mencium telapak tangan Woo Ri dan mendorongnya ke wajah Woo Ri. Matanya terpejam dan airmata mengalir deras di pipinya. (Dan inilah Palm kiss-nya Can You Hear My Heart) Woo Ri tersentak kaget dan diam terpaku.


Dan ternyata Dong Joo melihat ini. Ia memandang tak percaya, “Kakak?” sebutnya pelan.


Dong Joo menitikan air mata. Dong Joo seakan tak kuat berdiri dengan apa yang dilihatnya. Ia terhuyung-huyung, “Kakak?”



re-posted and re-edited by : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment