Friday, October 04, 2013

Can You Hear My Heart Episode 30 (Final)

Dong Joo berdiri di tepi jurang dengan mata tertutup dan kedua tangan yang menutupi telinga. Tiba-tiba ada bola dan sarung baseball jatuh mengenai kakinya. Dong Joo membuka mata dan melihat Joon Ha berdiri di belakangnya. Keduanya saling melempar senyum.
Joon Ha mengajak Dong Joo bermain bola di sana. Dong Joo memungut sarung tangan dan bolanya. Ia mulai melempar bola ke arah Kakaknya. Joon Ha menangkapnya dengan tangkas dan melempar kembali ke arah Dong Joo. Dong Joo juga menangkapnya dengan baik. Keduanya beberapa kali saling melempar dan menangkap bola. (Oh oh untuk adegan ini berapa banyak bola yang jadi korban jatuh ke laut ya??)
Ny Tae mondar-mandir di kamar tak tahu apa yang harus ia lakukan. Terdengar suara Dong Joo dan Joon Ha bicara. Ny Tae langsung kembali ke tempat tidur menutup tubuh dengan selimut. Dong Joo masuk ke kamar ibunya dan mengatakan kalau Joon Ha datang. “Katanya dia akan menginap beberapa hari. Apa ada yang ingin ibu katakan?”
Ny Tae membuka selimut dan bertanya apa mata Joon Ha sudah sembuh. Dong Joo mengangguk. Ny Tae lega mendengarnya. Ia akan kembali membaringkan tubuh tapi Dong Joo menahan meminta ibunya menemui Joon Ha, jangan mengacuhkan seperti itu.

Ny Tae mengatakan kalau Joon Ha tak mau melihatnya. Dong Joo tersenyum dan bertanya apa benar seperti itu, “Ibu tentu tahu kata-kata apa yang paling disukainya. Jangan lakukan hal yang akan ibu sesali. Bisa jadi ini kesempatan terakhir ibu bertemu dengannya.”
Dong Joo dan Joon Ha tidur sekamar. Joon Ha belum tidur, kayaknya dia akan menemui Ny Tae. Tapi Dong Joo meminta kakaknya membiarkan saja dulu. Dong Joo berkata kalau ia belum bisa pulang, ia masih harus di Saipan dan Kakaknya harus pulang. Joon Ha diam tak mengatakan apa-apa, ia hanya mendesah.
Dong Joo bangun memandang wajah Joon Ha dan bertanya tatapan wajah seperti apa itu, “Kalau kau tak nyaman tidur disini cari tempat lain buat tidur. Aku mau tidur.” Dong Joo langsung merebahkan tubuhnya kembali.

Dan plok.... dengan keisengannya Joon Ha memukul Dong Joo menggunakan bantal. “Hey.. kau egois, aku juga mau tidur disini. Aku ini lebih egois dari pada kau, hah..... merepotkan saja.”
“Merepotkan...” Joon Ha langsung merebahkan badannya. Tapi sesaat kemudian ia bangun lagi, “Lebih baik kau pergi sebelum aku teriak. Dengarkan kata-kata kakakmu!”

Dong Joo terkekeh melihat tingkah kakaknya, ia langsung memperagaakn bahasa isyarat, ‘orang bodoh’ dan langsung akan tidur.
Joon Ha ingin tahu apa artinya itu. Dong Joo kembali memperagakannya. Joon Ha makin penasaran ia menebak artinya. “Apa itu artinya aku tampan? Atau apa artinya hidungku mancung?” Buwahaha tebakan Joon Ha sama seperti tebakan Dong Joo ketika kecil dulu.
Ny Tae masih menyendiri dengan penyesalannya, ia menimbang-nimbang apa yang Dong Joo katakan padanya. Apakah ia harus menemui Joon Ha atau tidak.
Pagi hari cuaca cerah di Saipan. Joon Ha bangun terlambat dan Dong Joo sudah tak ada di sampingnya.
Joon Ha bersiap keluar, ia melihat Ny Tae duduk membelakanginya melihat pemandangan. Ny Tae menegok ke arah Joon Ha. Joon Ha menghampirinya dan Ny Tae langsung berdiri.
Nya Tae berkata kalau ia perlu mendengar sesuatu dari Joon Ha. Joon Ha mengatakan kalau tak ada yang perlu ia katakan, “Dong Joo sudah pulang dan semua kembali ke tempat semula. Kau juga harus kembali.”
Joon Ha akan pergi tapi Ny Tae langsung mengatakan sesuatu yang membuat Joon Ha menghentikan langkahnya, “Aku, Dong Joo, dan kau. Kita berjanji untuk selalu bersama sampai akhir. Apa kau lupa bagaimana kau pernah memintaku untuk membawamu kalau aku mati? Kalau kau ijinkan... mulai sekarang... aku benar-benar ingin menjadi ibunya Joon Ha.”
Hati Joon Ha tak kuasa mendengarnya.
Ny Tae : “Kau tak perlu menjawabnya sekarang. Agar kau bisa menjadi anakku, aku akan menunggu.”
Joon Ha tak bisa membendung air matanya.
“Sebagai balasannya sering-seringlah mengunjungi ibumu ini Joon Ha. Ibu minta maaf. Maafkan aku. Maafkan aku Ma Roo.”
Joon Ha berbalik badan menatap ibunya dengan penuh air mata. Keduanya berusaha untuk tersenyum, “Ibu...” ucap Joon Ha. Ny Tae senang Joon Ha kembali memanggilnya Ibu.
Di kelas kuliah Woo Ri sedang diadakan tes.
Pertanyaan dari guru, “Tiga hal penting apa yang harus diperlukan seorang penerjemah bahasa kode?”
Seorang mahasiswa menjawab, “Yang pertama fleksibel, kedua objektif dan ketiga rasa tanggung jawab.”
Jawabannya diberi tepuk tangan. Nih kayak gini tepuk tangannya kayak orang bersorak. Bukan prok prok.

Kini giliran Woo Ri yang harus menjawab pertanyaan. Woo Ri gugup dan menghela nafas panjang. “Bong Woo Ri kenapa kau mau menjadi penerjemah bahasa kode?”
Woo Ri berfikir sejenak kemudian ia berkata sambil memperagakan bahasa kode, “Aku ingin menjadi penghubung antara dunia dan orang-orang yang sangat penting bagiku. Sambil menunggu orang itu.....”
Tiba-tiba Dong Joo masuk ke kelas Woo Ri. Woo Ri tersenyum senang melihat Dong Joo. Spontan ia langsung berseru sambil memperagakan bahasa kode, “Aku merindukanmu.”

Uhhhhhh.... terdengar riuh teman sekelasnya. Dong Joo bingung tak tahu apa yang terjadi. Si Guru bertanya, “Apa dia itu orang yang kau sebutkan?”
Woo Ri menjawab pertanyaan gurunya hanya menggunakan bahasa kode tanpa omongan, “Ya. Tak bisakah guru tahu hanya dengan melihatnya saja. Dia begitu mencintaiku.”

Uhhhhhh.... kembali terdengar suara riuh teman-teman Woo Ri yang mengerti apa yang Woo Ri peragakan. Dong Joo yang tak mengerti hanya bengong saja. Guru mengistirahatkan kelasnya.
Woo Ri menemui gurunya. Ia meminta Dong Joo untuk menyapa gurunya. Dong Joo langsung memperkenalkan diri. Si Guru senang bisa bertemu dengan Dong Joo karena ia juga penyandang tuna rungu. “Walaupun tak bisa mendengar aku senang bisa bertemu denganmu.”
Setelah si Guru pergi Dong Joo bertanya apa kedatangannya mengganggu. Woo Ri berkata kalau kedatangan Dong Joo tepat waktu. Keduanya tersenyum saling menatap, “Aku sudah kembali.” sahut Dong Joo. Woo Ri mengangguk senang. Dong Joo langsung memeluk Woo Ri.
Woo Ri mengajak Dong Joo ke rumahnya. Keduanya melihat nenek tertidur sambil duduk dan di sebelah Nenek, Shin Ae juga tertidur. Mungkin Shin Ae ketiduran ketika menjaga ibunya. Keduanya memberi tanda agar tak berisik.
Woo Ri langsung menggelar kasur. Dong Joo membopong nenek dan membaringkannya. Setelah menyelimuti Nenek, Dong Joo langsung pamit akan pulang. Woo Ri kesal mendengarnya, “Kau sudah mau pergi? Baiklah, pergi sana!” Keduanya keluar dari kamar Nenek.
Nenek terlelap dan ia pun bermimpi. Mimpi ketika Young Kyu masih kanak-kanak.
Nenek pusing mencari Young Kyu kecil kesana-kemari, ia bertanya pada setiap penjual di pasar apa melihat Young Kyu tapi tak ada yang melihatnya, “Tuan muda Young Kyu.. Tuan muda Young Kyu.” teriak nenek.
Nenek melihat Young Kyu kecil duduk menangis sendirian dibawah guyuran hujan. Ternyata lutut Young Kyu kecil terluka karena terjatuh. Young Kyu kecil terus menangis memanggil ibunya.

Nenek menenangkan Young Kyu kecil dengan mengatakan kalau mulai sekarang ia adalah ibu Young Kyu. Young Kyu kecil menolak. Nenek cemas bagaimana caranya agar Young Kyu kecil tak menangis.

Nenek berusaha menghibur dengan menawarkan akan membelikan permen. Tapi tak mempan Young Kyu kecil tetap menangis. Nenek mengajak Young Kyu menyanyi tapi Young Kyu terus saja menangis. Nenek tak kehilangan akal ia akan menggendong Young Kyu kecil agar tak menangis, tapi Young Kyu tetap menolak. Young Kyu kecil malah mendorong nenek dan membuat nenek hampir terjatuh.

Nenek dengan sabar berusaha menghibur dan meminta Young Kyu kecil naik ke punggungnya. Young Kyu kecil akhirnya mau digendong tapi tangisnya tak kunjung reda.
Young Kyu kecil tertidur dalam gendongan nenek. Nenek melihat tangan dan kaki Young Kyu terkulai karena tidur pulas. Nenek tak kehabisan akal, ia mengikat tangan Young Kyu agar ia lebih mudah menggendong.

Nenek : “Tuan muda tak usah khawatir. Tidurlah. Aku memang bodoh dan miskin tapi aku akan menepati janjiku pada orang tuamu. Aku memang bukan ibu yang baik bagi tuan muda sepertimu. Tapi apapun yang terjadi, aku tak akan pernah membiarkanmu kelaparan. Kau tak usah khawatir. Tidurlah! Karena anak mereka cacat. Orang tua seperti apa yang membuang anaknya? Orang tua seperti apa itu? mulai sekarang kau tak usah mencari mereka!”
Dalam tidurnya Young Kyu kecil begumam memanggil nama ibu.

Nenek : “Apa yang harus kulakukan anak ini tak mirip dengan putriku. Tuan muda, kita bukan orang kaya makanlah dan bicara dengan orang lain. Kita hidup bergantung pada orang lain. Jadi tidurlah dan jangan khawatir.”

Nenek menyanyikan lagu untuk Young Kyu. Tapi kemudian ia mendesah, “Suamiku meninggalkanku dan aku harus mencari makan sendiri.” Nenek kembali menyanyikan lagu untuk Young Kyu kecil.
Nenek terbangun dari mimpinya dan Young Kyu sudah ada di sebelahnya sambil tersenyum, “Ibu kau sudah bangun?”
“Maaf. Aku harus menemukan Young Kyu. Aku harus menemukan Tuan muda Young Kyu, tolong carikan dia untukku!” Pinta nenek masih dalam kepikunannya.

Young Kyu sedih melihat ibunya seperti ini, “Aku Young Kyu. Aku anak ibu, Aku Bong Young Kyu.”
“Tidak. Young Kyu tingginya hanya segini.” kata Nenek. “Bagaimana ini, aku harus mencari Young Kyu?”
Woo Ri dan Shin Ae melihat dari balik pintu. Keduanya tampak sedih.
Young Kyu : “Aku Bong Young Kyu. Aku Young Kyu besar karena makanku banyak aku tumbuh. Maafkan aku, Bu. Maaf kalau aku banyak makan hingga tumbuh besar.”
Woo Ri berusaha menghibur ayahnya. Young Kyu menangis dan berkata mulai sekarang ia tak mau makan lagi, “Aku tak mau makan. Aku mau jadi kecil saja. Aku mau sekecil ini.”
Nenek meminta Young Kyu jangan seperti itu, “Kalau aku melihatmu kau mirip dengan Young Kyu kecilku. Kalau kulihat lagi kau sangat mirip dengan Young Kyu. Jadi kau tak usah menangis lagi. Jangan menangis dan makanlah!”
Young Kyu mengerti dan menggenggam tangan ibunya, “Ibu kalau aku tak menangis dan makan, aku anakmu benar kan? Bong Young Kyu anak ibu kan?”
Nenek mengangguk. Young Kyu senang dan berkata pada Woo Ri kalau nenek mengenalnya. Young Kyu berjanji tak akan menangis lagi dan berpesan pada ibunya agar tak lupa lagi padanya. “Aku Bong Young Kyu anak ibu, jangan lupa itu.”
Dong Joo ke kantor Energy Cell. Ia memberi kejutan pada pegawainya, “Selama aku tak disini kalian sudah bekerja keras.” sahut Dong Joo.
Semua senang melihat Dong Joo kembali ke kantor. Min Soo tanya kalau Dong Joo kembali apa Ny Tae juga pulang. Dong Joo mengatakan kalau ibunya ia tinggalkan dengan anak tertua Ibunya. Min Soo tersenyum lega, “Kalian berdua pasti sudah baikan.”
Di rumah, Woo Ri dan yang lain membuat banyak makanan. Mi Sook juga ikut membantu. Nenek meminta Young Kyu mencoba makanan yang dibuatnya.
Young Kyu sudah siap akan mencicipi tapi Woo Ri langsung menyambarnya dan berkata kalau itu sangat enak. Young Kyu merengut, “Itu punyaku. itu untukku.” Nenek melerai meminta Young Kyu jangan marah karena masih banyak yang lainnya. Nenek langsung memberikan makanan buatannya untuk Young Kyu. Young Kyu berkata kalau itu enak.
Seung Chul datang membawa buah plum untuk nenek. Woo Ri ingin melihatnya tapi Seung Chul melarang karena itu bukan buat Woo Ri tapi khusus untuk nenek. Nenek berseru lebih baik itu dimakan bersama-sama.

Mi Sook senang berada di tengah-tengah keluarga ini, “Aku nonton drama dan aku ingin keluarga seperti itu. Selama ini kita mungkin kurang bahagia. Tapi kini kita bahagia kembali. Aku suka.”
Dong Joo berkunjung ke rumah Woo Ri membawa sekeranjang buah-buahan dan bawaan Dong Joo langsung disandingkan dengan yang dibawa Seung Chul. Wehehehe.
“Apa ini?” Seung Chul kesal. “kau.... ikut aku!” Seung Chul mengajak Dong Joo bicara di luar. Woo Ri akan menyusul keduanya tapi Young Kyu melarang ia yang akan menyusul.
Di luar Seung Chul mengingatkan Dong Joo agar tak coba-coba berbuat sesuatu yang bisa membuat Dong Joo menjadi anggota keluarga disini. Dong Joo tertawa dan berkata kalau ia baru akan menyatakan hal itu pada keluarga disini hari ini.
“Apa maksudmu?” tanya Seung Chul. Ia merasa Dong Joo berlagak seolah-olah Dong Joo yang menang. Ia belum menyerah tentang Bong Woo Ri.

Dong Joo meminta Seung Chul mengalah kali ini saja. Dong Joo mengatakan kalau ia mempunyai banyak kelebihan daripada Seung Chul. Ia bisa memenuhi kebutuhan Woo Ri. “Seperti katamu, aku akan menjaganya sampai akhir. Aku berjanji.”
Seung Chul : “Memangnya kau mau melamarku? Lucu sekali.”
Young Kyu datang tergesa-gesa. Ia mengira Seung Chul dan Dong Joo terlibat baku hantam seperti dulu. “Cha Dong Joo apa kau tak apa-apa?”
“Baiklah. Cha Dong Joo, aku mengalah sekali ini saja.” Seung Chul langsung pergi dengan kekesalannya. Young Kyu menyahut, Seung Chul yang malang hehe.
Dong Joo ingin tahu apa alasan Young Kyu menikahi ibunya Woo Ri. Young Kyu terkejut dengan pertanyaan Dong Joo. Ia menjawab kalau Mi Sook wanita yang paling cantik. Mi Sook satu-satunya wanita baginya.
Dong Joo : “Kalau begitu aku juga. Bong Woo Ri adalah yang tercantik diantara semua wanita, hanya dia yang kulihat. Bolehkah aku menikahi Woo Ri?”
“Apa?” Young Kyu menepuk kelapanya, “Bagaimana ya? Ya kalau begitu lakukanlah!” (hehehe)
Dong Joo tentu saja senang, “Kalau begitu mulai sekarang Bong Young Kyu bukan lagi temanku kau adalah ayahku. Ayah Cha Dong Joo itu kau.”
Young Kyu bingung, “Ayah Cha Dong Joo? aku ayah Bong Ma Roo. Ayah Cha Dong Joo? kalau dua-duanya aku jadi bingung,”
Dong Joo : “Tidak akan. Yang satu dokter, Bong Ma Roo dan yang satunya bukan dokter, Cha Dong Joo.”
Young Kyu : “Ah... kalau begitu tidak bingung dan kau tak akan bisa jadi dokter kan?”
Dong Joo mengangguk senang, “Aku tak bisa jadi dokter. Kalau begitu kau setuju pernikahan antara aku dengan Bong Woo Ri?”
“Ya. Anak yang bukan dokter, Cha Dong Joo.” jawab Young Kyu tersenyum.
Na Mi Sook menata rambut nenek. Nenek merasa ragu apa tak apa-apa ia ikut menghadiri pesta keluarga lain. Mi Sook berkata kalau menjadi keluarga itu tak sulit, orang yang tinggal dan makan bersama itu baru yang namanya keluarga.
Semua mengitari meja yang penuh dengan makanan. Paman Lee langsung berdiri berniat memberi sambutan, sendok ia gunakan sebagai microphone.
“Hari ini untuk pertama kali sejak 16 tahun yang lalu keluarga kita lengkap berkumpul dan makan bersama. ada yang ingin kusampaikan....”
Young Kyu melirik ke arah Joon Ha dan meminta sobatnya diam jangan terus bicara nanti nasinya dingin lebih baik langsung makan saja. Yang lain juga setuju langsung makan saja tak perlu ada sambutan segala.
Joon Ha menyendok dan melahap nasi. Semua mata menatapnya, Young Kyu tersenyum senang akhirnya Joon Ha memakan nasi buatannya.
Seung Chul langsung memberikan tepuk tangan dan yang lain pun ikut tepuk tangan. Suasana menjadi riuh Joon Ha hanya tersenyum malu.

Paman Lee merengut karena pidatonya terganggu. Bibi Lee meminta suaminya duduk. Young Kyu berkata pada ibunya bukankah senang kalau punya keluarga besar. Nenek mengiyakan, “Aku senang kalau kalian semua bahagia.” Ucap nenek lirih.

Bibi Lee mengeluh kenapa tak ada alkohol. Seung Chul berkata kalau hari ini sengaja tak ada alkohol, “Kenapa? kalau aku mabuk kalian semua tak akan bisa mengatasi aku.”
Mi Sook melihat sikap Shin Ae dan ia merasa aneh. Shin Ae dari tadi hanya diam saja dan duduk menjauh dari putranya. Joon Ha menatap sikap ibu kandungnya yang memang seperti tak nyaman dan serba salah.
Woo Ri meminta nenek makan yang banyak. Nenek sangat berterima kasih dan minta maaf karena mereka semua sudah baik pada orang asing seperti dirinya. Sebagai anak dan cucu kandung dari nenek, Shin Ae dan Joon Ha sedih melihat kondisi nenek yang tak mengingat mereka sekarang.

Nenek memakan nasinya, Young Kyu langsung bertanya apakah nasinya enak. Nenek mengangguk dan berkata lirih kalau nasi yang ia makan nasi terenak di dunia. Woo Ri terharu mendengarnya, Dong Joo mengerti suasana hati Woo Ri dan langsung memberikan semangat dengan mengelus bahu Woo Ri.
Acara makan selesai, Joon Ha menatap foto masa kecil dirinya. Woo Ri tengah mengelap meja yang digunakan untuk makan tadi. “Itu foto kita ketika masih kecil.” sahut Woo Ri.
Woo Ri langsung berdiri di samping kakaknya dan berkata kalau mereka harus membuat foto keluarga yang terbaru.
“Kita foto sekeluarga ketika kau menikah nanti,” ujar Joon Ha.
Woo Ri : Apa ?
Joon Ha : “Ah... kau mau kado pernikahan apa? Kakakmu ini akan membelikan apa saja yang kau mau.”
Woo Ri diam tak tahu harus mengatakan apa.
Joon Ha menatap tajam Woo Ri, “Adiknya Bong Ma Roo, Bong Woo Ri. Terima kasih sudah menjaga ayah dan nenek.”
Woo Ri tersenyum, “Kakaknya Bong Woo Ri, Bong Ma Roo. Terima kasih sudah menepati janji untuk kembali.”
“Katanya kau ingin mengenakan gaun pengantin, akan kupilihkan untukmu.” ucap Joon Ha. tepat saat itu Dong Joo datang, “Ada apa disini? Kenapa kau yang memilihkan?”
“Karena aku kakaknya.” ujar Joon Ha, “Kakakmu akan membelikan gaun pengantin untukmu.”
Dong Joo mengeraskan suaranya, “Jang Joon Ha?”
Woo Ri : “Dia bukan Jang Joon Ha, dia Bong Ma Roo.”
Woo Ri berlalu dari hadapan keduanya. Dong Joo melongo melihatnya.
“Lihat kan katanya aku Bong Ma Roo,” sahut Joon Ha. Dong Joo makin tak mengerti, “Bong Ma Roo!” panggilnya.
Ny Tae sudah pulang ke Korea dan berada di rumah Dong joo. Ia tengah menyiapkan makanan untuk putranya. Dong Joo pulang, Ny Tae langsung menyuruh putranya agar lekas mandi karena ia sudah menyiapkan mie campur. Dong Joo berkata kalau ia sudah makan.

Dong Joo melihat baju yang dikenakan ibunya dan memuji dari sekian baju ibunya ini yang paling cantik. Ny Tae mengatakan kalau Ma Roo yang membelikannya ketika di Saipan.
Dong Joo merengut karena ia sudah kecolongan lagi dan berkata seharusnya ia tak menyatukan kakak dan ibunya.
Ny Tae : “Kau masih punya kesempatan. Kalau ingin kembali ke masa kita bersama Ma Roo,”
“Aku menolak,” kata Dong Joo. “Satu perempuan saja sudah cukup bagiku. Satu sudah cukup.”
“Perempuan? Hey ibu tak setuju kau dengan gadis jelek itu.”
“Dia tidak jelek, dia lucu.”
“Dia jelek. Dari dulu sudah kubilang jangan main dengannya, bermainlah dengan gadis cantik.”
“Bukankah sudah kubilang tak ada wanita cantik selain ibu.”
Dan keduanya bercanda bersama.
Young Kyu menanam bunga di taman. Ia melirik ibunya yang duduk tertidur. Young kyu tak konsentrasi ia menghampiri ibunya. “Ibu, biasanya ibu selalu mengumpatku. Ibuku selalu mengumpatku. Benar.”

Ponsel Young Kyu berdering, Woo Ri menelponnya. Young Kyu mengatakan kalau nenek tertidur dan tidurnya nyenyak. Dia tidur sepanjang hari. “Woo Ri aku akan terus menjaga ibu. kau tak usah khawatir bermainlah dengan Dong Joo. Aku tahu, walaupun aku tak melihatmu.” (wehehe bermain apa?)
Nenek terbangun Young Kyu langsung menyudahi bicaranya dengan Woo Ri.
Nenek bergumam sambil menatap bunga-bunga yang ada di depannya, “Semua sudah mati kecuali kau yang masih hidup.” Nenek juga mengucapkan kata-kata umpatannya pelan.
Young Kyu senang mendengar ibunya mengumpat. Young Kyu membungkuk berterima kasih karena ibunya sudah mengumpat. Nenek heran dengan terima kasih yang aneh itu. Young Kyu ingin ibunya mengumpat lagi.
Nenek : “Anak yang aneh jangan ganggu aku, lakukan pekerjaanmu.”
Young Kyu mengerti dan segera menyelesaikan pekerjaannya. Tak lupa Young Kyu memberikan permen agar ibunya tak bosan menunggunya bekerja.
“Orang yang baik.” gumam nenek. Young Kyu tersenyum meneruskan pekerjaannya sambil sesekali melirik ibunya dan tersenyum.
“Terima kasih...” Nenek membalas senyum Young Kyu sambil melambaikan tangan. Young juga melambaikan tangan pada ibunya.
Young Kyu menggendong ibunya yang sudah tetidur, “Ibu ini rahasia. Tapi karena kau ibuku aku akan memberitahumu. Dong Joo hanya melihat Woo Ri sebagai wanita. Mi Sook juga satu-satunya wanita bagiku. Ibu ini hanya pendapatku, tapi apakah aku harus mengijinkan Dong Joo dan Woo Ri menikah? Aku juga menikahi Mi Sook. Ibu rahasiakan ini ya! Ibu apa kau sudah tidur? ibu pasti sangat lelah. Baiklah Bu, tidurlah. Aku kunyanyikan lagu untukmu.”
Young Kyu menyanyi dengan riang. Nenek tetap memejamkan matanya. Tiba-tiba tangan nenek terkulai. Melihat itu Young Kyu mengikat tangan nenek agar ia tak kesulitan menggendong. Seperti yang dilakukan nenek padanya ketika ia kecil. Young Kyu melanjutkan nyanyiannya sambil tersenyum. Nenek memejamkan mata untuk selama-lamanya.
Semua orang mengenakan baju hitam. Suasana berkabung dilakukan di taman. Young Kyu memasang gambar nenek di pohon. Mereka akan menguburkan abu Nenek di taman.
Young Kyu menatap gambar ibunya, “Ibu...” sebutnya lirih. Woo Ri memapah ayahnya untuk mundur.
Joon Ha membawa abu nenek. Ia meletakan abu neneknya dan siap dikuburkan. Perlahan-lahan Joon Ha mulai menguburnya dengan tanah.
Kemudian Dong Joo dan Seung Chul melakukan hal yang sama. menguburkan abu nenek dengan tanah.
Young Kyu berusaha untuk tak menangis, ia berusaha sekuat tenaga untuk tegar. Woo Ri tak kuasa membendung air matanya.
Shin Ae tak bisa menguasai perasaannya, rasa kehilangan terhadap ibu yang kini sangat ia cintai tak dapat membendung air mata yang terus mengalir. Suara tangisnya yang paling terdengar. Joon Ha pun tak kuasa menahan kesedihan kehilangan neneknya.
Paman dan Bibi Lee juga merasa kehilangan nenek yang sudah mereka anggap sebagai orang tua mereka sendiri. Seung Chul pun demikian ia sudah menganggap nenek seperti nenek kandungnya sendiri.
Na Mi Sook berdiri di samping Woo Ri berusaha menguatkan Woo Ri, ia sendiri pun merasa kehilangan sosok seorang ibu. Dong Joo pun menitikan air matanya.
Abu nenek sudah terkubur. Young Kyu mendekati dan meraba gundukan kuburan ibunya dengan tangan gemetaran, “Ibu walaupun orang-orang menganggapku bodoh. Aku tak apa-apa, karena aku anakmu. ‘Young kyu yang terbaik’ ‘anakku Young Kyu yang terbaik’. Ibu aku ingin mendengar itu sekali lagi. Ibu kau juga yang terbaik.”
“Aku menyukai ibu lebih dari ibuku. Ibuku membuangku. Ibu... terima kasih sudah membesarkanku.” Young Kyu tersenyum berusaha untuk tak menitikan air matanya. Namun lain halnya dengan Woo Ri dan Shin Ae, air mata keduanya mengalir deras.
Young Kyu membungkuk memberi penghormatan terakhir untuk ibunya. Ia pun akhirnya tak bisa menahan air matanya, “Ibu.... maafkan aku, aku sudah berjanji tak akan menangis tapi air mataku tetap keluar. Maafkan aku, Bu. Ibu... ibu...”
Woo Ri membantu ayahnya berdiri. Young Kyu dipapah kedua putra putrinya yang juga menangis kehilangan nenek mereka. Young Kyu kembali berjanji ia tak akan menangis lagi.
Joon Ha memandang gambar nenek yang terpasang di pohon dengan perasaan pilu.
Shin Ae terus menangis tak henti, “Ibu....”
Woo Ri dan Dong Joo duduk bersama menikmati pemandangan danau.
Dong Joo membuka percakapan, “Bong Woo Ri.. Sebenarnya aku berbohong. Tentang waktu aku di Saipan. Mengenai mimpiku menjadi Indiana jones. Itu bohong.”
Dong Joo mulai bercerita, “Ketika aku berusia 13 tahun. Ketika aku mengikuti seekor katak, aku bertemu gadis cantik berusia 9 tahun. Walaupun dia tak bisa, tapi dia berpura-pura bisa bermain piano dan gadis cantik itu berkata dia kehilangan bendanya yang paling berharga. Aku mengembalikan padanya dan menyelamatkan si gadis cantik itu. Setelah itu dia berterima kasih. Benda yang beharga itu lalu diberikannya padaku.”
Dong Joo merogoh saku celananya dan mengambil kantong kacang. Ia memberikan benda itu pada Woo Ri. Dong Joo kembali melanjutkan ucapannya, “Waktu itu aku sudah jatuh cinta tanpa kutahu apa namanya. Si gadis cantik itu, selama 16 tahun aku menyimpan benda itu. Aku terus mengingat kenangan itu. Suara piano itu adalah suara terakhir terindah yang kudengar. Pertemuan itu, mungkin terakhir kalinya kudengar suara dunia dan karena kenangan itu aku bisa menghadapi dunia.”
Dong Joo menutup kedua telinga dengan tangan sambil memejamkan mata, “kung kung kung...”
Dong Joo kembali membuka mata dan tersenyum, “Aku jadi tahu caranya mendengar suara hati dari gadis itu.”
Woo Ri tersenyum mendengarnya.
Dong Joo : “Woo Ri, walaupun aku tak bisa mendengar suaraku sendiri aku selalu mengingat suaramu. Itulah kenapa setiap kau menyebut ‘Cha Dong Joo’ kau memanggil namaku aku sangat senang. Aku hanya mendengar suaramu.”
“Cha Dong Joo.” sebut Woo Ri sambil tersenyum.
Dong Joo memperagakan bahasa isyarat tanpa mengatakan kata-kata, “Maukah kau selalu bersama disisiku? Agar kau bisa mendengar suaraku.”
Woo Ri mengangguk seraya tersenyum.
Dong Joo merasakan sakit di telinga. Ia menepuk-nepuk telinganya lalu keluarlah sebuah cincin. (oh so sweet...)
Woo Ri terkejut melihatnya.
“Aku mungkin tak bisa mendengar karena ini. Menikahlah dengan Cha Dong Joo.”
Woo Ri kembali mengangguk sambil tersnyum. Dong Joo langsung menyematkan cincin ke jari Woo Ri.
Woo Ri : “Apa kau bisa mendengar sekarang?”
Dong Joo memalingkan kepalanya dan tertawa. Keduanya tertawa bersama.

Di BBQ Chicken.
Dong Joo mengambilkan ayam untuk Seung Chul yang tengah patah hati wehehe. Tapi Paman Lee merebut ayam yang diambilkan Dong Joo dan langsung memakannya.
Seung Chul meminta Dong Joo mengajaknya piknik.
Dong Joo tertawa, “Memangnya aku mau mengajakmu?”
Seung Chul : “Katanya kita teman. Ada teman yang patah hati tapi kau tak mengajaknya jalan-jalan. Beberapa hari ini aku tak bisa tidur.”
Bibi Lee ikut bicara, “Sekali seorang pria menyerahkan hatinya sulit untuk ditarik kembali. Kau harus membuka restouran yang nomor 2, jangan kemana-mana dulu setelah itu kau harus membuka restouran nomor 3, 4 dan seterusnya. Dan jadilah raja ayam.”
Seung Chul mengeluh apa gunanya menjadi raja ayam dan kaya raya kalau tak ada seorang ratu disisinya.
“Siapa bilang? Kau punya aku.” sahut Paman Lee. “Aku pandai menggunakan uang.”
Dong Joo memuji ayam di BBQ Chicken enak. Ia memesan untuk dibawa ke kantor untuk pegawai-pegawainya.
Seung Chul terus memaksa diajak piknik bersama.
“Baiklah. Mau menginap berapa malam.” ujar Dong Joo seraya menggenggam tangan Seung Chul. Buwahahaha.
“Apa-apaan ini, menjijikan.” Seung Chul menarik tangannya.

Bibi Lee berkata kalau suara Dong Joo sudah melumerkan hatinya. Tak heran Woo Ri menyukai Dong Joo. Seung Chul kesal ibunya menyebut nama Woo Ri di depannya. Tak hanya ibunya ayahnya pun menyebut nama Woo Ri.
Seung Chul berteriak kesal sambil menutup telinga meminta jangan menyebut nama Woo Ri. Dong Joo malah menggoda Seung Chul dengan menanyakan Woo Ri pada Paman dan Bibi Lee.
Bibi Lee juga menggoda putranya dengan terus-menerus menyebut Woo Ri Woo Ri Woo Ri membuat Seung Chul terus berteriak kesal hehehe.
Woo Ri janjian bertemu dengan Min Soo di sebuah restouran Es Krim. Woo Ri bertanya kenapa ke restouran es krim dan mengajak minum alkohol saja.

Min Soo menatap tajam Woo Ri dan bertanya sejak kapan Woo Ri menyukai Cha Dong Joo. Woo Ri bingung menjawabnya, “Kapan ya? Rasanya ketika usiaku 9 atau 10 tahun karena sudah lama sekali aku sampai tak ingat.”

Min Soo kesal sampai ia akan memukulkan sendok es krim yang ia pegang. Woo Ri hanya bisa terkekeh melihatnya. Woo Ri minta maaf sudah lama ia ingin mengatakan hal ini pada Min Soo tapi karena banyak kejadian ia tak berani mengatakannya.
Pelayan datang membawakan pesanan Min Soo yang dibungkus dan Min Soo mendapatkan bonus tas karena mereka sedang promo, “Ini bisa dipakai kalau kau mau piknik dengan pacarmu.” ujar si pelayan.

Melihat tas itu Min Soo jadi tambah kesal dan memberikannya pada Woo Ri. Woo Ri tentu saja senang menerimanya, ia bisa memakai tas ini untuk piknik bersama Cha Dong Joo.
“Tak boleh.” Min Soo mengajak Woo Ri minum dengannya.
Joon Ha sudah siap dengan pakaian rapi, Shin Ae masuk ke kamar menemuinya.
Shin Ae meminta putranya membelikan tiket pesawat untuknya, “Aku lelah. Ibu... ibu sudah tidak ada, untuk apa aku tinggal disini? Walaupun aku tak banyak berbuat sesuatu padanya, kupikir di Amerika akan lebih nyaman dari pada disini.”
Joon Ha : “Kenapa kau harus dibelikan tiket?”
Shin Ae : apa?
Joon Ha : “Kau belum berbuat apa-apa untukku. Aku juga tak akan membelikan apa-apa untukmu.”
Shin Ae : “Tapi Ma Roo ada banyak hal....”
Joon Ha : “Jangan menghindariku. Kau hiduplah lebih baik, itulah yang bisa kau perbuat untukku. Aku tak akan memberimu apa-apa. Kalau kau ingin sesuatu dariku berbuatlah sesuatu untukku.”
Joon Ha akan keluar Shin Ae memanggilnya, “Ma Roo aku akan baik-baik saja. Tidak, aku akan hidup lebih baik lagi.”
“Aku akan kembali.” kata Joon Ha seraya tersenyum.

Shin Ae terharu mendengarnya, Joon Ha memberinya kesempatan untuk berbuat sesuatu sebagai seorang ibu, “Terima kasih sudah menahanku pergi.” Shin Ae menangis gembira.
Joon Ha kembali bekerja sebagai dokter. Ia berjalan penuh senyuman dan menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya.
Joon Ha menghentikan langkahnya ketika ia melihat seorang nenek yang tak sanggup berjalan. Ia melihat nenek itu seperti melihat neneknya sendiri.
“Nenek apa kakimu sakit? Apa kau mau kugendong?” Joon Ha menawarkan diri.
“Bisakah kau mengantarku kesini!” kata nenek sambil menunjukan kertas yang dibawanya.

Joon Ha mengerti ia langsung jongkok di depan nenek siap menggendong. Nenek langsung naik ke punggung Joon Ha, “Aigoo nyamannya terima kasih dokter.” Nenek tersenyum.
Ny Tae datang ke rumah sakit dan ia melihat Joon Ha menggendong seorang nenek. Joon Ha menurunkan nenek itu di tempat yang dituju. Si nenek mengucapkan terima kasih. Ny Tae terus memperhatikannya dan ikut tersenyum bangga.
Ny Tae dan Joon Ha menemui dokter yang merawat Choi Jin Chul (ya ampun kita hampir melupakan orang ini) Dokter mengatakan kalau Choi Jin Chul selalu menolak untuk di operasi. Maka dari itu pihak rumah sakit memanggil Ny Tae, “Katanya dia ingin menghabiskan hidupnya di penjara.”

Ny Tae tanya apa kondisi Choi Jin Chul begitu buruk. Dokter menjawab ya, “Setelah serangan stroke yang pertama kalau terjadi serangan stroke lagi akibatnya bisa fatal dan karena kondisi Choi Jin Chul sudah semakin parah dia tak bisa dibiarkan sendirian. Anaknya datang dan menandatangani formulir ijin operasi tapi.....”
Ny Tae terkejut mendengarnya, “Anaknya?”
Joon Ha menebak itu pasti Dong Joo.
Dokter berkata kalau kondisi pasien sangat mempengaruhi caranya dalam mengambil keputusan.
Tak sengaja Joon Ha melihat seorang pria berjalan tertatih menyeret tiang infus dan berpegangan pada dinding, ya itu Choi Jin Chul. Keduanya bertemu pandang, Choi Jin Chul terkejut melihat putranya ada di sana. Ia langsung pergi tak sanggup menemui mereka.

Choi Jin chul berbalik akan ke kamar rawatnya tapi karena terburu-buru dan kondisinya sedang tak baik ia terjatuh dan tak ada yang membantunya berdiri.
Joon Ha menatap iba tapi kemudian ia mengajak ibunya segera pergi dari sana. Tapi Ny Tae ingin menengok Choi Jin Chul sebentar. Joon Ha berkata menengoknya nanti saja. “Kondisinya hari ini tak memungkinkan untuk bisa kita ajak bicara.”

Choi Jin Chul berusaha berdiri sekuat tenaga dan kembali ke kamar rawatnya. Ia mendengar percakapan Joon Ha dengan Ny Tae, Joon Ha belum ingin bertemu dengannya. Choi Jin Chul melirik ke arah Joon Ha yang mengajak Ny Tae pergi, keduanya kembali bertemu pandang. Ia tak kuasa menahan sedihnya, ia diacuhkan oleh anak kandungnya sendiri.
Choi Jin Chul masuk ke kamar rawat dan terkejut melihat Dong Joo ada disana. Dong Joo membantu Choi Jin Chul kembali ke tempat tidur tapi Choi Jin Chul menolak ia menyuruh Dong Joo pergi dan jangan datang lagi.
Dong Joo tak tahu apa yang dikatakan Choi Jin Chul karena posisi Choi Jin Chul membelakanginya. Dong Joo menyentuh lembut tangan Choi Jin Chul, “Walaupun kau tak mau melihatku tapi kau tetap harus melihatku agar aku bisa mengerti apa yang kau katakan. Kak Joon Ha, Ibu dan aku, semua orang perlu waktu untuk memaafkanmu. Kumohon kau bersedia untuk dioperasi. Kau harus dioperasi bukan untukmu tapi untuk kita semua.”

Choi Jin Chul mendengarkan semua yang dikatakan Dong Joo tapi ia tak berani menatap Dong Joo, kesalahannya pada Dong Joo sudah sangat besar. Sebelum pergi Dong Joo mengatakan kalau ia akan segera menikah dan ia akan datang berkunjung lagi.
Setelah Dong Joo pergi Choi Jin Chul hanya bisa menangis tersedu-sedu menyesali kesalahannya, “Aku sudah bersalah padamu Cha Dong Joo. Aku sudah menganiayamu. Aku sudah bersalah padamu. Aku bersalah.”
Young Kyu, Paman Lee dan Manajer Seo tengah menanam bunga di taman. Kim Bi sedang meneliti tanaman disana. Manajer Seo berkata kalau Dong Joo itu orang yang baik, dia bahkan memenuhi keinginan calon ayah mertuanya. Paman Lee meralat kalau itu bukan keinginan Young Kyu tapi keinginan Ibunya Woo Ri agar memiliki taman bunga di depan rumah dan Manajer Seo mana mungkin tahu hal itu.
Paman Lee mendorong Manajer Seo agar menjauh dari Young Kyu. Manajer Seo sampai jatuh terjengkang. Gilirang Manajer Seo yang mendorong Paman Lee dan berkata kalau ia dan Young Kyu memiliki hubungan yang akrab. Paman Lee kembali mendorong Manajer Seo. Manajer Seo kesal melihatnya.
Woo Ri datang dan bertanya pada ayahnya apakah ayahnya membutuhkan sesuatu. Young Kyu menjawab kalau ia haus. Dengan semangat 45 dan teriakan yang mantap Manajer Seo langsung menawarkan diri akan mengambilkan air untuk Young Kyu.
“Calon istri dan calon nyonya disini saja. Aku akan lari seperti ini”. Manajer Seo memperlihatkan gaya cepat yang pernah Woo Ri tunjukan. Manajer Seo langsung lari mengambil air minum.
Kim Bi mencium bunga dan langsung bersin-bersin. Young Kyu bertanya apa Kim Bi terkena flu. Kim Bi menjawab kalau ia alergi.
Woo Ri mengatakan kalau ada tanaman obat yang bisa menyembuhkan alergi sinusitis. Young Kyu menjelaskan khasiat tanaman obat itu. Kim Bi terkesan dam memuji Young Kyu serba tahu. Young Kyu mengajak Kim Bi menunjukan tanaman dan cara mengkonsumsinya.

Paman Lee : “Ayahmu itu kuat sekali sudah lama sekali istrinya meninggal tapi sering kulihat dia masih menangis.”
Woo Ri : “Dia sudah berjanji pada nenek bahwa dia tak akan menangis lagi.”
Paman Lee : “Ya benar apa gunanya menangis toh istrinya tak akan hidup lagi.”
Malah Paman Lee yang sedih dan menangis. Woo Ri meminta Paman Lee jangan menangis, kalau ayahnya melihat dia akan ikut menangis.

“Mong goon ke sini cepat!” Young Kyu mengajak sobatnya untuk ikut bersamanya.
Paman Lee malah mengumpat sambil mengusap air matanya, “Kau pikir aku ini apa? Apa kau suka padaku?” Paman Lee langsung lari menyusul Young Kyu.
Saatnya piknik. Mereka piknik di dekat abu nenek dikuburkan.
Dan hoho pakaian Bibi Lee paling wah. Paman Lee heran melihat istrinya, “Apa kau mau ikut karnaval?” Seung Chul juga tak suka melihat pakaian yang dipakai ibunya.
“Ini pesta kan?” tanya Bibi Lee.
“Ini bukan pesta ini piknik.” ujar Paman Lee.
Bibi Lee menilai itu sama saja, ia meminta pendapat Yong Kyu bagaimana penampilannya apa ia kelihatan aneh. Young Kyu berkata kalau Bibi lee sangat cantik.
Na Mi Sook meminta perhatian sebentar sebelum menata makanan. Ia menengadahkan wajahnya ke langit dan berteriak kencang, “Mi Sook-ssi.... aku tak mencurinya setelah hidup bersama Bong Young Kyu sebagai teman akan kukembalikan dia.”
Shin Ae dan Ny Tae terkekeh melihatnya, “Apa-apaan kau ini? Lucu sekali.”
Joon Ha tersenyum melihat keakraban kedua ibunya.
Dong Joo ingin tahu apa maksudnya dan ia bertanya pada Woo Ri. Woo Ri menjelaskan sambil memperagakan bahasa isyarat, “Dia baru saja melamar ayahku.”
Dong Joo tersenyum senang tapi kemudian merengut, “Lalu kapan kita akan menikah?”
“Apa kau mau menikah disini?” tanya Woo Ri.
Dong Joo mengangguk setuju, keduanya tertawa.
Seung Chul ikut tersenyum dan sudah rela melepas Woo Ri untuk Dong Joo.
Na Mi Sook kembali bicara pada Young Kyu, “Go Mi Sook itu istrimu dan Na Mi Sook itu temanmu. Ayo kita tinggal serumah sebagai teman.”
“Tinggal serumah?” Young Kyu kaget. “Tidak bisa.”
Na Mi Sook membentak, “Kenapa tak bisa. Mong Goon itu temanmu dan tinggal serumah denganmu, kenapa aku tak bisa?”
Kang Min Soo lari-lari menyusul mereka, “Kenapa aku tak diundang?”
Dong Joo : “Siapa yang tak mengundangmu?”
Joon Ha : “Kami sudah menghubungimu. Kemarilah!”
“Tidak mau.” jawab Min Soo jutek hehe.
Min Soo melihat Seung Chul, “Sudah lama tak bertemu, nanti kita minum bersama ya!”
“Apa? Kau kan baru saja ditolak cintanya.” Sahut Seng Chul.
“Bukankah kau juga seperti itu. ini harus kita bicarakan berdua.” Ujar Min Soo.
Young Kyu : “Wah si kuntilanak menyukai Seung Chul.” (wakakaka)
Seung Chul kesal, “Paman?”

Kemudian mereka membuka botol sampagne-nya. Seung Chul menawarkan diri membuka tutup botolnya.
Tapi kesenangan mereka terganggu karena hujan turun. Mereka berlarian mencari tempat berteduh. Mereka berteduh di bawah pohon tempat gambar nenek di pajang. Walaupun hujan mereka masih tetap ceria.
Joon Ha melindungi kedua ibunya dari air hujan.
“Ya ampun seharusnya kita piknik di rumah saja.” sahut Ny Tae.
“Kau benar.” kata Shin Ae.
“Tapi disini lebih segar.” Ucap Joon Ha.
Seung Chul malah kesal, “Sudah kuduga. Ide siapa ini?”
“Kenapa? ini romantis kok.” ujar Min Soo.
“Lalu kapan kita akan makan?” teriak Paman Lee melindungi istrinya dari guyuran hujan.
“Ah bagaimana ini?” Bibi Lee mencemaskan baju yang dipakainya.
“Wow hujan.. hujan...” Young Kyu malah jingkrak-jingkrak. Na Mi Sook menarik dan melindungi Young Kyu dari hujan. “Bunga-bunga senang kalau hujan.” ucap Young Kyu masih jingkrak-jingkrak.
Dong Joo memeluk dan melindungi Woo Ri dari hujan. Keduanya tersenyum sumringah. Gambar nenek juga bersama mereka ikut kehujanan.
Suara Woo Ri : “Banyak hal yang tak bisa kau lakukan di dunia ini, tapi kita bisa melakukannya kalau dikerjakan bersama sama.”
Suara Dong Joo : “Karena kau selalu bersamaku aku bisa melakukannya. Itulah kenapa....”
Suara Joon Ha : “Walaupun sakit dan ingin menangis.....”

Suara Woo Ri : “Aku tetap mencintaimu!”
Suara Dong Joo : “Aku masih mencintaimu!”




re-posted and re-edited by : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment