Thursday, October 03, 2013

Can You Hear My Heart Episode 13


Woo Ri terus berteriak memanggil Dong Joo tapi Dong Joo tak melihatnya, “Apa kau tak mendengarku? Kau bilang kau bisa mendengar suaraku!”
Dong Joo mempercepat langkah pulang ke rumah tak melihat Woo Ri mengejar dan memanggilnya dari belakang. Woo Ri menangis melihat Dong Joo tak mendengar teriakannya. Dong Joo masuk rumah dan mengambil kantong kacanganya.


Joon Ha tiba dan melihat Woo Ri berdiri di depan rumah Dong Joo ia langsung menyapa. Joon Ha menyentuh bahu Woo Ri, tapi Woo Ri beringsut menyembunyikan air matanya dan segera lari dari sana. Joon Ha heran.


Joon Ha masuk ke rumah Dong Joo dan melihat Dong Joo sudah siap dengan pakaian rapi, Joon Ha tanya Dong Joo mau kemana. Dong Joo menjawab tak kemana-mana.

Joon Ha ingin mengatakan sesuatu tapi Dong Joo meminta kakaknya nanti saja bicaranya. Joon Ha manahan tangan Dong Joo, “Apa kau mau menemui Bong Woo Ri?” Dong Joo heran kenapa Joon Ha tahu. Joon Ha berkata kalau Woo Ri baru saja pergi. “Apa? Kakak tunggu sebentar!” Dong Joo langsung keluar.


Dong Joo celingukan mencari Woo Ri dan ia tersenyum ketika melihatnya, “Orang yang aku sukai!” panggil Dong Joo. Langkah Woo Ri terhenti tapi kemudian melanjutkan jalannya lagi. Dong Joo merasa aneh dan mengejar Woo Ri, “Orang yang Cha Dong Joo sukai!” panggil Dong Joo lagi. Woo Ri terus berjalan sambil menangis. “Hey, Bong Woo Ri!” Woo Ri terus jalan cepat sambil terus menangisi Dong Joo mengikutinya.


Pluk... Dong Joo melempar kantong kacangnya dan tepat mengenai Woo Ri. Langkah Woo Ri terhenti ia melirik ke bawah kearah kantong kacang jatuh. Woo Ri memungutnya.

Woo Ri berbalik manatap Dong Joo. Dong Joo tersenyum ‘nice’ dan meminta Woo Ri melemparkan kantong itu padanya. Joon Ha menyusul dan berdiri tak jauh dari sana.


“Berikan padaku!” pinta Dong Joo. Woo Ri hanya diam memandang Dong Joo. “Itu milikku!” sahut Dong Joo. “Berikan padaku!” Dong Joo berjalan maju. Woo Wi langsung lari ke arah Dong Joo dan memeluknya.



Woo Ri memeluk Dong Joo erat dan Dong Joo hanya terdiam tertegun. Keduanya diam dalam pelukan.

Joon Ha mendekati keduanya, “Ada apa?” Woo Ri masih menangis kemudian melepas pelukannya dan memandang kantong kacang. “Ini kantong kacang milik ibuku. Ibuku!”

Woo Ri menyerahkan kembali kantong kacang itu ke Dong Joo dan minta maaf dengan air mata yang masih bercucuran. Ia langsung lari meninggalkan Dong Joo dan Joon Ha. Dong Joo masih tertegun ia hanya bisa menatap dan memegang erat kantong kacangnya. Joon Ha menepuk bahu adiknya. Dong Joo meminta Joon Ha menunggunya disini, ia harus mengejar Woo Ri.


Woo Ri berjalan pelan dan masih menangis, “Ibu. Ibu. Apa yang harus kulakukan, Bu? Ibu bagaimana ini?” Ternyata Dong Joo sudah berjalan di samping Woo Ri. Woo Ri berhenti dan terkejut, ia mengusap air matanya.


Dong Joo memandang Woo Ri dan tersenyum, “Tak apa-apa menangislah lagi. Ketika seseorang menangis sendirian, bukankah itu karena malu? Begitukan? Apa dia akan menangis lagi dihadapan orang lain? Ahh aku tak tahu!”


Dong Joo berdiri di depan Woo Ri, “Kemarilah!” Dong Joo merentangkan tangannya siap memeluk Woo Ri. “Karena aku tak bisa ikut menangis. Kenapa aku mencurinya dulu ya? Lagi pula aku lebih lama memiliki ini daripada kau dan kalau pun kau mengambilnya kau akan pusing sendiri, kadang-kadang malah membuat sakit kepala dan kadang-kadang organ dalam tubuh... perlu dioperasi, tapi kakakku seorang dokter!” (kalau kantong kacangnya sobek/rusak, perlu dioperasi/dijahit)

“Apa kau mau menangis lagi?” Dong Joo kembali membuka tangannya, “Kemarilah!”
“Aku sudah selesai!” sahut Woo Ri memandang Dong Joo. “Aku pergi!” Dong Joo menghalangi laju jalan Woo Ri sambil tetap membuka tangannya. “Ayo kuantar kau pulang!”


Dong Joo berjalan mundur, “Sebagai balasannya aku harus tetap memiliki ini!” Dong Joo mengacungkan kantong kacanganya. Woo Ri jalan maju dan Dong Joo mundur.


Woo Ri berjalan cepat Dong Joo juga mengikuti ia berjalan mundur cepat tapi ia kehilangan keseimbangannya dan hampir jatuh. Woo Ri langsung menangkapnya. Keduanya tertawa.


Joon Ha menerima telepon dari Ibunya, “Aku tak punya kesempatan menceritakan padanya mengenai kejadian di pabrik. Harus. Kita harus menyembunyikan ini dari Dong Joo. Kita bisa menyampaikan ini dengan mudah. Ada hal lain yang ingin kuberitahukan. Aigoo, nanti saja!”

Dong Joo minta kakaknya berhenti menelepon. Joon Ha memberi tahu ibunya kalau Dong Joo ada di sebelahnya.


Setelah selesai menelepon Joon Ha tanya mana Woo Ri. Dong Joo menjawab sambil memainkan kantongnya kalau Woo Ri sudah pulang, “Waktu dia mau mengembalikan uang yang 3 juta won, aku tadinya mau menerima dan mau melemparkan uang itu ke wajah teman prianya (Seung Chul) tapi untuk apa, aku tak mau mengembalikan kantong kacang ini padannya!”

Joon Ha menyuruh Dong Joo memakai earphone, “Belakangan ini kau tak hati-hati!” Dong Joo tak menanggapi ucapana kakaknya, ia malah mengalihkan pembicaraan “Ah.. kenapa ada suara burung ya?” Kepala Dong Joo mendongak kesana kemari.


Dong Joo merasa ia harus membuat benda yang mirip dengan kantong kacangnya, karena ia tak akan melepaskannya, “tapi bagaimana kalau dia tetap menunggu?”

Joon Ha merubah arah pembicaraan, ia ingin membahas pabrik di Bucheon. Dong Joo ingat dan mengusulkan bagaimana kalau mereka membeli pabrik itu. “Seperti yang kau katakan pabrik di Bucheon itu tidak mencukupi, kita kan punya uang. Bukankah kau mau menolongku sebelum kembali ke Amerika?”

Joon Ha menyampaikan kalau ia sudah memulai usaha investasi. Ia akan melakukannya melalui perusahaan itu. Dong Joo heran kakaknya sudah memulai usaha investasi. Joon Ha mengingatkan bukankah Dong Joo menyuruhnya melakukan dua pekerjaan sekaligus. Bisnis dan praktek medis. Uang yang ia dapat dari para istri Direktur di Galery. Ia berpikir kalau lebih baik ia yang mengatur sendiri.


Dong Joo tersenyum bangga dan langsung memeluk Joon Ha. Ia merasa senang memiliki kakak seperti Joon Ha. Joon Ha risih dengan pelukan Dong Joo dan meminta jangan terlalu berlebihan. Ada yang ingin ia katakan.


“Apa kau lihat dia melakukan itu padaku? (Woo Ri memeluk Dong Joo) Bong Woo Ri, dia sudah menyentuh hatiku!” ucap Dong Joo seraya mengelus dadanya. Joon Ha melihat adikknya sudah jatuh hati pada Woo Ri.


Tiba-tiba terdengar sapaan dari Young Kyu mencari Dong Joo. Joon Ha bertanya pelan, ‘Siapa itu’ ke Dong Joo. Dong Joo langsung melihat ke pintu dan disana Young Kyu tersenyum menatapnya.

Young Kyu berkata kalau ia mencari Dong Joo kemana-mana. Sadar kalau ayahnya ada di rumah adiknya Joon Ha berusaha menghindari temu pandang dengan ayahnya. Ia terus membelakangi Young Kyu.


Tahu kalau Kakaknya dalam situasi yang sulit Dong Joo mengajak bicara Young Kyu. Young Kyu melihat Joon Ha dan bertanya pada Dong Joo siapa dia, apa dia orang yang menakutkan itu. Dong Joo menjawab kalau itu adalah Kakaknya.

Young Kyu langsung tahu, “Kakaknya Cha Dong Joo yang dokter itu?” Young Kyu menyapa tapi Joon Ha berusaha menghindar bertatap muka ia membalikan badannya.

Dong Joo menarik Young Kyu dan berkata kalau ikannya sudah lapar. Tapi Young Kyu berkata kalau sekarang bukan saatnya memberi makan ikan.


Young Kyu kembali memandang Joon Ha yang membelakanginya, ia mengucapkan terima kasih. “Waktu itu Dong Joo pingsan di lantai. Waktu aku menunggu Ma Roo aku juga menunggunya tidur di lantai!” Mata Joon Ha berkaca-kaca mendengarnya. Young Kyu terus mengucapkan terima kasih.

Joon Ha langsung keluar tanpa memandang Young Kyu, ia membanting pintu. Young Kyu heran apa Joon Ha marah? Apa seharusnya ia tak masuk, “Bagaimana ini? Apa karena kata-kataku? Apakah dokter yang saudaranya Cha Dong Joo marah?” Dong Joo meyakinkan kalau kakaknya tak marah dia hanya sedang sibuk.


Joon Ha berjalan lemas ia seperti tak kuat berjalan setelah bertemu dengan ayahnya. Ia tak menyangka akan bertemu dengan ayahnya lagi dan kali ini mereka sudah sangat dekat. Apalagi ia mendengar kalau ayahnya selalu menunggunya pulang.

Joon Ha menangis sedih tapi ia berusaha menguatkan hatinya. Ia langsung ke mobil dan segera pergi. Dong Joo keluar mencari Kakaknya dan ternyata sudah tak ada, Dong Joo mengkhawatirkan Joon Ha.


Woo Ri memandang foto keluarga, ia menatap foto ibunya. Woo Ri menangis, “Ibu ibu!”
Woo Ri segera mengusap airmatanya ketika Nenek keluar dari kamar. Nenek heran kenapa Woo Ri masih di rumah dan belum berangkat kerja.


Nenek tambah heran melihat wajah Woo Ri. Nenek menyentuh wajah Woo Ri, “Kenapa begitu panas? Apa kau menendang selimut ketika tidur?” Woo Ri meyakinkan kalau dirinya tak apa-apa.

Nenek minta Woo Ri tak usah berangkat kerja dan istirahat di rumah. Nenek langsung mencari obat untuk Woo Ri.


Woo Ri senang Nenek perhatian padanya, ia langsung memeluk Nenek. Ia merasa ketika memeluk Nenek rasanya sangat hangat dan menyenangkan. Nenek menyahut apanya yang menyenangkan kau sudah kerja setengah mati untuk biaya rumah sakit.

Woo Ri senang karena ketika dulu ia bersandar pada punggung ibunya, ibu tak pernah menjawab perkatannya tapi Nenek lain Nenek mengumpatnya dengan sebutan ‘brengsek, gadis bodoh’ dan itu rasanya menyenangkan.

“Apa kau merindukan ibumu?” tanya Nenek. Ia meminta lebih baik Woo Ri istirahat saja ia akan membuatkan makanan untuk Woo Ri, “Makanlah lalu tidur. Tidur adalah obat yang mujarab!”


Shin Ae tiba-tiba datang. Nenek kaget sejak kapan Shin Ae masuk. “Sejak aku tak bisa tidur dan serasa mau mati!” Shin Ae mengajak ibunya pergi. Woo Ri ingin tahu mau kemana. Shin Ae minta Woo Ri jangan ikut campur.


Shin Ae mengajak ibunya ke kantor polisi. Polisi akan membuat sketsa wajah Ma Roo berdasarkan keterangan dari Nenek setelah bertemu Ma Roo kemarin.

Nenek menunjuk sebuah sketsa. Kemudian Nenek diminta mengamati sketsa wajah. Nenek bingung kenapa sketsanya banyak. Shin Ae meminta ibunya menuruti apa yang dikatakan polisi, “Ibu kau memiliki penyakit alzheimer kita harus menemukan Ma Roo sebelum ibu lupa sama sekali!”

Shin Ae menerima telepon dari Presdir Choi. Ia berkata kalau ia sedang melaksanakan hal yang diperintahkan Presdir, “Walau bagaimanapun kau akan mencari anak kita Ma Roo. Kau juga merindukannya kan?” Nenek kaget mendengar Shin Ae berbicara dengan ayah kandung Ma Roo.

Polisi meminta Nenek melihat ke layar monitor. Nenek marah pada Shin Ae dan memukulnya, “Kau harusnya digantung!” Shin Ae kesal kenapa tiba-tiba ibunya seperti ini mereka harus menemukan Ma Roo.


“Kalau sudah ketemu kau mau apa?” tanya Nenek. “Apa kau akan membawanya pada setan pujaanmu itu? memangnya apa hakmu?” Shin Ae berkata kalau ayah Ma Roo itu Presdir Woo Kyung dan kalau ayahnya Presdir perusahaan besar kehidupan Ma Roo akan bahagia.

Nenek : “Apa kau menyebut itu bahagia? Membawanya pada seorang suami yang sudah beristri. Kekejaman apa lagi yang akan kau berikan padanya?”

Shin Ae : “Apa maksud ibu kekejaman? Setelah Ma Roo ditemukan akan kutendang Nyonya besar itu dari rumahnya dan aku yang akan menjadi Nyonya besar. Pria itu menikah karena uangnya dan tidak mencintai istrinya dan yang paling penting adalah anaknya yang sekarang. Kalau Ma Roo ketemu, Ibu juga akan hidup dalam kemewahan. Jangan keras kepala bantulah mencari Ma Roo!”


Nenek tak menyangka putrinya seperti ini, “Kau monster liar. Kalau itu rencanamu. Ma Roo atau bukan aku tak akan melakukannya. Tak adakah yang bisa kau lakukan selain menghancurkan rumah tangga orang lain? Tidakkah dengan mengabaikan anakmu itu sudah cukup? Sekarang kau mau menancapkan kuku ke hati orang lain? Bagaimana kau bisa menanggung dosa-dosa itu? makan apa aku hingga melahirkan anak seperti kau!”

Nenek sedih dan merasa ia yang salah, karena kehidupannya yang miskin dan tak berpendidikan ia membesarkan Shin Ae menjadi orang yang seperti itu. Ibunya minta Shin Ae merubah jalan hidup Shin Ae, “Carilah anakmu tapi jangan lagi kau berbuat dosa. Ini permintaan terakhir ibumu, ini permintaan terakhirku!” Shin Ae mengerti ia akan mendengarkan kata-kata ibunya. Ia ingin anaknya memanggilnya ‘ibu’. Siapa tahu setelah ia mendengar dipanggil ‘ibu’ ia akan bertaubat dan lahir kembali. Shin Ae menangis sedih (ah.... Pura-pura dia)


Joon Ha pulang ke rumah disana ibunya tengah bersama Min Soo. Ada yang ingin ditanyakan Min soo pada Joon Ha. Ny Tae menyuruh Joon Ha ganti baju dulu, ia sudah menyiapkan baju di kamar. Joon Ha langsung bergegas.

Min Soo heran karena wajah Joon Ha terlihat muram ia menebak apa Joon Ha bertengkar dengan pacarnya. Ny Tae tak mengerti apa Joon Ha sudah memiliki pacar. “Benar. Cha Dong Joo!” jawab Min Soo. Ny Tae tertawa mendengar Min Soo mengatakan itu. Min Soo merasa ia harus memilih salah satu diantara mereka, tapi mereka selalu saja berdua dan sepertinya ia tak bisa menjadi menantu Ny Tae.


Min Soo langsung nyelonong masuk kamar dan Joon Ha tengah berganti pakaian (ini cewek main nyelonong aja haha) “Apa yang kau lakukan?” Joon Ha langsung memakai bajunya. Min Moo berkata kalau Joon Ha tak perlu malu.

Min Soo tanya tantang kantong kacang Dong Joo, apa kisah dibalik kantong itu. karena ia sangat terganggu dengan kantong itu, “Katakan padaku apa itu? aku tak bisa penasaran terus!”


Min Soo maju mendekat pada Joon Ha dan Joon Ha berjalan mundur menghindari Min Soo, “Cepat ceritakan!” pinta Min Soo. Joon Ha berkata kalau itu mainan milik Dong Joo. Dimainkan sejak Dong Joo kecelakan dan kehilangan ingatannya.

Min Soo Ingin tahu apa benda itu dimainkan Dong Joo sampai sekarang. Joon Ha berkata kalau kantong itu enak buat diremas-remas dan sudah menjadi kebiasan Dong Joo.


Min Soo penasaran kalau kantong itu ia ambil apa Dong Joo akan membunuhnya. Joon Ha menjawab tentu saja, Dong Joo berbagi apapun dengannya kecuali yang satu itu. Min Soo masih penasaran, ketika Dong Joo kecil dia pasti menyukai seorang gadis dan berbagi kantong itu dengannya.

Ny Tae menelepon seseorang ia berkata sebelum pasar saham ditutup ia akan menjual semuanya, “Ikuti pergerakannya dan laporkan padaku. Kau harus bergerak tanpa sepengetahuan mereka!” (siapa yang ditelepon Ny Tae)

Joon Ha mengetuk pintu, Ny Tae menyudahi obrolannya. Ia tanya apa Min Soo sudah pulang Joon Ha menjawab ya dan ada yang ingin ia bicarakan dengan ibunya. Ny Tae juga ada yang ingin dikatakan pada Joon Ha dan menyuruh Joon Ha duduk.


Joon Ha mengatakan kalau ia mendapat penawaran dari Presdir Choi. Ny Tae terkejut. Joon Ha menjelaskan kalau Presdir Choi melihatnya berbisnis dengan Dong Joo, “Dia mungkin memperhitungkan posisi kami dan dia mengajakku bergabung bersamanya!”

Ny Tae berkata apa menurut Joon Ha dia melakukan itu karena takut dengan Dong Joo. Dia bahkan melepaskan masker oksigen ayahnya (kakek Dong Joo). “Jika dia membunuh dia akan bersungguh-sungguh. Beraninya dia menawarkan hal seperti itu. Ini sama seperti ketika dia menggaaet tangan kanan ayahku, Dir Kang. Lalu apa jawabanmu?”


Joon Ha berkata kalau ia belum menjawabnya. Ia memberi kesempatan pada Dong Joo sampai ia kembali ke Amerika. Ny Tae ingin Joon Ha tak pergi. Joon Ha menyampaikan kalau ia akan tetap menjalankan perusahaan investasinya, “Dimanapun aku berada aku akan tetap membantu Dong Joo!” Joon Ha menatap sedih ibunya, “Bolehkah aku pergi?”

Joon Ha mengenggam tangan ibunya. Ny Tae menyerah, kalau itu kemauan Joon Ha ia tak bisa menahannya, “Pergilah jangan khawatirkan tempat ini!” Ia akan mencoba sebisanya. Joon Ha cemas apa yang akan Ibunya lakukan. Ny Tae berkata apapun itu asal untuk anaknya. Ia minta Joon Ha percaya padanya dan Dong Joo.


Woo Ri yang tak sehat tiduran gelisah di kamarnya. Min Soo meneleponnya. Min Soo akan ke rumah Woo Ri setelah ia pulang dari lab. Ada yang ingin ia berikan pada Woo Ri.

Dong Joo keluar dari ruangan ia bertanya apa daftarnya sudah siap. Park Dae Ri menjawab kalau kepala Team Kang (Min Soo) akan memeriksanya.


Dong Joo melihat Min Soo tengah menelepon. Ia memperhatikan apa yang diucapkan Min Soo. Min Soo tak menyangka kalau Woo Ri bisa sakit, ia berfikir kalau Woo Ri itu selalu ceria dan tak pernah sakit.

Dong Joo terkejut mengetahui Woo Ri sakit. Min Soo berkata pada Dong Joo tapi tak memutus telepon ia mengatakan kalau mereka harus menunggu 3 item barang lagi dan ia akan menunggunya.


Dong Joo berkata mengeraskan suara supaya Woo Ri yang disana mendengar, “Jadi kau tetap bicara dengan orang sakit ditelepon? Kalau dia sakit dia harus ke rumah sakit dan bukan menahan orang yang sedang bekerja. Sepertinya dia lebih suka makan obat lalu tidur!” Woo Ri segera bangkit dari tidurannya setelah mendengar apa yang diucapkan Dong Joo, ia mendengarnya.

Min Soo menutup teleponnya dan berpesan ia akan kembali menghubungi Woo Ri nanti.


Min Soo masuk ke ruangan Dong Joo ia kesal kenapa Dong Joo berteriak seperti itu Woo Ri pasti mendengernya. Dong Joo memang sengaja mengeraskan suaranya agar Woo Ri mendengar dan supaya tahu kalau mereka itu sedang sibuk.

Min Soo heran apa Dong Joo tak khawatir. Dong Joo berkata kalau Min Soo khawatir kenapa tidak membawanya ke rumah sakit.

Min Soo tambah kesal, “Kau kasar sekali!”
“Sakitnya kan tidak parah. Dimana dia sakit?” Dong Joo penasaran, ia kayaknya cemas. “Aku tak tahu!” jawab Min Soo ketus. Min Soo minta Dong Joo lebih perhatian pada orang lain seperti Dong Joo memperhatikan kantong kacangnya.


Setelah Min Soo keluar Dong Joo memandang kantong kacangnya ia teringat ucapan Woo Ri ketika menangis dan menyebut kalau kantong kacang ini milik ibunya. Dong Joo berfikir apa Woo Ri sakit karena kantong kacang itu masih berada di tangannya. Dong Joo mencemaskan Woo Ri.


Nenek dan Shin Ae masih di kantor polisi, Nenek sudah kelelahan. Shin Ae mengamati beberapa sketsa dan ia sudah mulai frustasi. Ia meminta ibunya mencoba dari awal lagi. Nenek mengeluh matanya sudah leleh dan hampir copot.

Polisi mengajak Shin Ae bicara berdua. Mereka sudah mencoba sepuluh kali tapi tetap masih belum mirip dan rasanya ini tak akan berhasil. Shin Ae memohon sekali lagi dan ini yang terakhir kalinya.


Nenek melirik Shin Ae yang tengah bicara berdua dengan polisi. Nenek mengambil satu gambar sketsa yang mirip dengan Ma Roo (Joon Ha) ia langsung melipat sketsa itu dan segera menyimpan dibalik bajunya.


Young Kyu berseru pada Paman Lee kalau Woo Ri sakit, dia demam dan bertanya apa yang harus dilakukannya. Paman Lee kesal dan berkata kenapa itu tanyakan pada dia, Paman Lee minta Young Kyu tanya ke teman young Kyu yang baru, Cha Dong Joo.

Young Kyu berkata kalau Dong Joo sibuk. Paman Lee menyahut ia juga sibuk makan dan nonton TV. Young Kyu tanya bagaimana caranya membuat bubur, ia bisa membuat nasi tapi tidak bisa membuat bubur.


Paman Lee mewek-mewek, “Kau jadikan hidupku menjadi bubur. Lihat wajahku penuh bubur!” Young Kyu tak menegerti, muka bubur. Wakakaka. Paman Lee merasa sohibnya sudah ga menganggap dia lagi hehehe.


Shin Ae mengantar Nenek pulang. Young kyu langsung berseru pada Ibunya kalau Woo Ri sakit dan belum mau makan apa-apa. Nenek marah kenapa Young Kyu tak segera membuatkan bubur untuk Woo Ri. Paman Lee langsung mengacungkan diri dan bicara, “Ayo bermain membuat bubur!” Kata Paman Lee mangajak Young Kyu. Hehehe.

Woo Ri meyakinkan kalau dirinya tak apa-apa. Nenek minta Woo Ri jangan banyak bicara dan segera makan buburnya. Young Kyu langsung berseru kalau bubur itu ia yang buat bersama Paman Lee.


Bibi Lee membelikan obat untuk Woo Ri. Woo Ri tak enak hati, kalau semua ada di rumah bagaimana dengan toko ayamnya. Bibi Lee berkata kalau ia mempekerjakan pelayan paruh waktu. Sementara Suaminya di rumah dan Seung Chul sekolah di Unversitas Chi.

Shin Ae heran, “Universitas Chi (gigi) Apa Seung Chul mau menjadi dokter gigi?”
“Dokter gigi dengkulmu!” sahut Nenek. “Itu sekolah yang mengajarkan bagaimana menggoreng ayam!” hahahaha.

Bibi Lee mengatakan kalau putranya belajar di Chicken University. “Apa? apa tidak sesuai dengan seleramu?” Shin Ae tak menyangka Bibi Lee marah padanya. Ia merasa kalau keluarganya harus mendiskusikan sesuatu dan meminta Bibi Lee dan suaminya keluar.


Paman Lee menegaskan kalau mereka juga satu keluarga. Bibi Lee minta suaminya membiarkan saja, “Dia tak tahu malu. Yang dia tahu hanya merias saja. Dia bahkan tak tahu apa artinya keluarga!”
“Apa?” Shin Ae mengeraskan suaranya.

Bibi lee : “Kenapa? Apa aku salah? Apa itu keluarga? Orang-orang yang tinggal dan makan bersama dalam satu atap. Pernahkah kau berbagi makanan dengan meraka?”

Woo Ri meminta Bibi Lee bisa menahan emosi. Nenek menyahut meminta mengabaikan Shin Ae dan anggap saja dia tak mendengarkan. Bibi Lee mengingatkan jangan pernah memanggilnya kalau Shin Ae ada disana.

Shin Ae kaget bagaimana kalian bisa menemukan perempuan tak tahu malu seperti ini. Nenek berteriak Shin Ae berisik dan menyuruhnya pergi.


“Lihat ini. Apa kalian masih mau mengusirku!” Shin Ae memberikan sketsa gambar. Young Kyu mengambil sketsa gambar itu dan berujar kalau itu dirinya. Wakakaka, ternyata sketsa yang dibawa sketsa Young Kyu. “Kalian punya mata? kalian lihat ini? Apa ini Ma Roo? ini Young Kyu!”

Shin Ae minta ibunya mengingat lagi wajah Ma Roo, “Ibu bilang Ibu melihatnya di rumah sakit?” Woo Ri terkejut mendengar kalau Nenek melihat Ma Roo di rumah sakit. Dengan terbata-bata Nenek berkata kalau ia cuma mimpi. Shin Ae emosi. Young Kyu minta Shin Ae jangan seperti itu. Young Kyu mengahalngi amukan Shin Ae.


Tiba-tiba Min Soo masuk kamar ia mengira kalau keluarga Woo Ri tengah dirampok. Shin Ae kaget melihat Min Soo datang, ia langsung menutupi wajahnya. Min Soo penasaran dan ingin melihat Shin Ae. Shin Ae langsung tersenyum memandang Min Soo.


Shin Ae keluar untuk menelepon Presdir Choi. Ia mengatakan kalau ia hampir menanyakan pada ibunya tapi putri Dir Kang keburu datang, “Sepertinya meraka sudah saling mengenal lama!”

Presdir ingin tahu bagaimana dengan sketsa wajah Ma Roo. Shin Ae berkata kalau ia sudah mendapatkannya (bohong) “Mataku berkaca-kaca waktu melihat wajah anakku!” (huwekkk)

Presdir Choi meminta Shin Ae membawakan sketsa wajah Ma Roo besok ia ingin melihatnya.
Shin Ae : “Mengenai putri Dir Kang, bagaimana menurutmu? Kehadirannya tidak bisa kita abaikan. Karena ayahnya pemegang saham terbesar. Seandainya terjadi putri Dir Kang dan Dong Joo itu pacaran ini tak akan menguntungkan kita. Aku akan mengawasinya terus!”


Min Soo berjalan keluar dengan woo Ri, Shin Ae langsung menutup teleponnya. Shin Ae senang melihat Min Soo sangat perhatian pada Woo Ri, “Kita tak punya ikatan darah tapi sangat perhatian dengan gadis malang ini. Dia sudah seperti keponakanku sendiri. Bagaimana kalau kita ngobrol bersama?” Min Soo menolak ia hanya mau ngobrol dengan dongsaeng-nya saja dan menyuruh Shin Ae pergi.


Setelah Shin Ae pergi Min Soo langsung marangkul Woo Ri. Ia sudah menduga kalau Woo Ri itu mirip dirinya. Ia juga sebenarnya jarang sakit. Woo Ri sangat berterima kasih karena Min Soo memberikan kosmetik pertamanya. Min Soo senang woo Ri menerimanya bahkan ibunya Cha Dong Joo pun tak diberi.

Shin Ae mengintip, ia ingin tahu apa yang dibicarakan kedua gadis ini.

Woo Ri kembali berterima kasih, seandainya saja rumah Min Soo dekat ia akan mengirim susu ke rumah Min Soo setiap hari. Min Soo bilang tak usah khawatir lab-nya dekat sini dan ia akan sering mampir, dari pada susu ia lebih suka makanan.

Min Soo juga berharap kalau Boss-nya (Dong Joo) lebih sedikit bersikap manusiawi seperti Woo Ri, “Begitulah seharusnya kalau mau menjadi kekasihku. Tapi rasa kemanusiannya cuma setengah!” Jadi ia ragu untuk menikahinya.
Woo Ri : “Me.. nikah?”
Shin Ae juga kaget mendengarnya. Min Soo berkata kalau itu hanya pendapatnya saja.

Woo Ri : “Eonni, bukankah kau menyukai dr Jang Joon Ha?”
Min Soo berkata kalau itu juga cuma pendapatnya saja. Saat ini Min Soo menyukai mereka berdua, jika perasaannya nanti sudah mantap memilih ia akan menikahi salah satu dari mereka. “Kau sudah bertemu dengan mereka berdua kan? siapa menurutmu yang lebih baik?”


Seung Chul berdiri di depan rumahnya (menyelinap dari asrama dia hahaha). Ia menekan nomor panggilan cepat 1 nomor Woo Ri hehehe. Tiba-tiba terdengar suara Min Soo dan Woo Ri keluar Rumah. Seung Chul langsung sembunyi di bawah tangga.


Min Soo meminta Woo Ri tak usah khawatir bukankah Woo Ri sudah berjanji padanya akan mencarikannya sales yang bernama Na Mi Sook. “Kau punya banyak hubungan dengan para sales jadi aku minta tolong padamu!”

Woo Ri mengerti, kalau ia sudah menemukannya ia akan segera menghubungi Min Soo segera. Min Soo mengingatkan namanya agar Woo Ri tak lupa ‘Na Mi Sook’. Woo Ri tak akan lupa dengan nama itu karena nama itu mirip nama ibunya.

Min Soo senang ini sangat kebetulan pasti gampang ditemukan. Dari tadi ia tak melihat Seung Chul mana dia. Waktu itu kami membicarakan mimpi-mimpiku (waktu mabuk)


Seung Chul yang tengah bersembunyi heran kenapa dia dibawa-bawa Seung Chul mengintip. Woo Ri berkata kalau ia merindukan Seung Chul sayang sekali dia tak ada. Dia baru pulang minggu depan. Seung Chul terpana mendengar Woo Ri merindukannya. Min Soo merasa Woo Ri dan Seung Chul sangat dekat. Woo Ri menyahut ini aneh karena biasanya ia selalu melihat Seung Chul dan sekarang tidak.
Min Soo : “Kau pasti merindukannya kan?”


Woo Ri mengangguk dan Seung Chul melihatnya. Ia tersenyum dan kembali bersembunyi.


Seung Chul masih berdiri di jalan dekat rumahnya. Ia menerima telepon dari Woo Ri. Woo Ri ingin tahu apa yang dilakukan Seung Chul sekarang. Seung Chul menjawab kalau ia sedang tidur. Woo Ri tak percaya ia merasa Seung Chul memanjat pagar kampus karena ia mendengar ada suara mobil. Seung chul beralasan kalau dia membuka jendela kamarnya, “Memangnya aku mau kemana? Aku kan kesini mau belajar?”

Woo Ri kesal kenapa Seung Chul tak pernah meneleponnya. Seung Chul bilang ia lupa kalau Woo Ri itu ada karena ia asyik menggoreng ayam. Woo Ri tertawa.
Seung Chul : “Bong Woo Ri, kau anak ceria tak seorang pun sanggup bertemu denganmu setiap hari!”


Woo Ri mengucapkan terima kasih atas sidiran Seung Chul ia pun curhat, “Hari ini aku sakit. Sakit betulan, aku demam!” Tatapan Seung Chul cemas, “Terus kenapa? Haruskah aku datang?” Woo Ri meminta Lupakan saja, “Kau harus belajar bagaimana cara menggoreng ayam terenak di dunia!”

Seung Chul : Dan?
Woo Ri : Apa?
Seung Chul : “Dan apa? Kalau kukatakan sesuatu untukmu apa kau tak akan sakit lagi?”
Woo Ri : “Jadilah temanku selamanya. Kau satu-satunya orang yang bisa kuajak bicara kalau aku sedang sedih, kau mau kan?”


Seung Chul tak menjawab. Woo Ri memanggil, “Seung Chul apa kau tidur? Hey Lee Seung Chul. Tidurnya kalau kita sudah selesai bicara. Seung Chul. Teman!”
Mata Seung Chul terlihat sedih karena Woo Ri hanya menganggapnya sebagai teman. Ia menatap rumahnya sekaligus rumah Woo Ri.


Woo Ri masuk dan melihat ayahnya tengah menggambar. Young Kyu berkata pada Woo Ri kalau ia tengah membuat hadiah untuk Cha Dong Joo. Dong Joo sudah memberinya helm, bermain ikan dan bermain sekolahan. Mengajarinya baca tulis sampai sampai ibu menyukai dirinya karena jadi pintar. Ia harus mengucapkan terima kasih.

Woo Ri terharu mendengarnya, ia menatap foto ibunya. “Ayah, ibu bukan orang yang mudah mendengar tapi dia bisa melihat dengan bagus kan?” Young Kyu tak mengerti maksud Woo Ri. Woo Ri berkata kalau ibunya melihat dan mendengar dengan matanya.

Young Kyu membenarkan dan ketika ia menyanyi mata Mi Sook jadi bulat, “Dia jadi lebih cantik. Mata Cha Dong Joo juga bulat dia cantik!”


Woo Ri setuju, dia cantik. Tapi ibu diejek sampai menangis kan? Jadi Cha Dong Joo itu mirip ibu... bagaimana? Woo Ri langsung memperagakan bahasia isyarat yang artinya rahasia. Young Kyu tahu itu tapi ia bertanya kenapa.

“Bagaimana jika Cha Dong Joo seperti ibu lalu diganggu orang. Jadi mata bulat ibu dan Cha Dong Joo ...!” Woo Ri kembali memperagakan bahasa isyarat rahasia.


Keduanya sepakat merahasiakan kondisi sebenarnya Dong Joo. Keduanya tahu, walaupun Young Kyu tak mengerti betul tapi ia menyadari kalau Dong Joo dan Mi Sook memiliki kemiripan, yaitu selalu menatap wajah (mulut) orang yang diajak bicara.


Joon Ha yang tertidur merasa terganggu dengan suara Dong Joo yang tengah memainkan kantong kacangnya, ia langsung terbangun. Dong Joo melempar kantong kacangnya ke atas dan menangkapnya kembali. “Pluk pluk pluk” ucap Dong Joo menerka suara kantong kacangnya ketika jatuh.


Dong Joo memandang kantong kacangnya, “Hey suaramu itu seperti apa sih?” Dong Joo kembali melempar dan mulai menerka suara yang ditimbulkan dari lemparan kantonganya, “chik tok chak chik pock” Joon Ha memperhatikan apa yang dilakukan Dong Joo. (ngenes sumpah –kasihan-)


Pagi hari Woo Ri mengantar susu ke rumah Dong Joo, ia menaruh susu kotak di pintu. Ketika Woo Ri berbalik badan Dong Joo membuka pintu, “Hey susu!”
Dong Joo memainkan kantong kacangnya dan bertanya jam berapa sekarang. Woo Ri langsung melepas tas ransel melihat arlojinya. Jam 6.15 jawab Woo Ri.


Dong Joo tak percaya ia ingin melihatnya sendiri. Ia melihat arloji Woo Ri yang diletakan di tas ransel, “Kenapa kau mengantung arloji disitu? Apa ini tren jaman sekarang?” Woo Ri berkata kalau arloji itu milik Oppa-nya. Woo Ri pamit.


Dong Joo langsung menahan Woo Ri dengan meletakan tangannya ke dahi Woo Ri, mengecek apa Woo Ri sudah sehat atau masih demam. Ada sesuatu yang membuatnya penasaran sahut Dong Joo, “6.15 apa sudah waktunya minum susu?”


Woo Ri berbalik badan dan terkejut ketika wajahnya sangat dekat dengan wajah Dong Joo. Dong Joo panik dan langsung mundur menarik diri. Dong Joo gugup ia jadi memarahi Woo Ri, bagaimana Woo Ri bisa mengirim susu jam 6.15 sementara ia sarapan jam 6. Kalau sudah kenyang bagaimana ia bisa minum susu.


Woo Ri tanya jam berapa ia harus datang. Dong Joo mendesah Woo Ri langsung berdiri di depan Dong Joo dan mengulang kata-katanya, “Kapan seharusnya aku datang?”
Dong Joo gugup, “Terserah kau!” Dong Joo mengalihkan pandangannya. Woo Ri mengejar arah pandang Dong Joo, ia mengikuti kemana Dong Joo menatap. “Kau yang putuskan jam berapa?”


Dong Joo tak menjawab kemudian terdengar teriakan Young Kyu. Woo Ri menarik Dong Joo dan kembali bertanya, “Jam berapa? kapan aku harus mengantar susu?”
Dong Joo : “Bisakah seorang gadis menarik lengan pria?”


Woo Ri langsung melepaskan tangan Dong Joo. Young Kyu menyerahkan hadiah yang dibawanya untuk Dong Joo. Ia berterima kasih karena Dong Joo sudah mengajarkannya tulisan Hangul.


Joon Ha mengintip dari dalam, ia tampak kesal.

Young Kyu menunjukkan pada Woo Ri ikan-ikan di aquarium Dong Joo ia juga menyebutkan namanya satu persatu.


Dong Joo memberi bingkai pada gambar yang dibuat Young Kyu. Gambar itu ada tulisannya, Woo Ri tanya kapan ayahnya menulis itu.


Young Kyu berkata kalau itu bukan tulisan tapi sebuah surat. Waktu Dong Joo memberikan helm, Dong Joo menuliskan surat jadi ia juga menuliskan surat. Dong Joo membaca tulisan Young Kyu ‘jangan sakit tersenyumlah ha ha ha’ Dong Joo memuji surat yang ditulis Young Kyu sangat bagus.


Dong Joo merasa kalau Woo Ri juga pasti pandai menggambar. Woo Ri berkata ia tidak bisa. “Apa kau hanya pintar bermain piano?” tanya Dong Joo. Young Kyu berkata kalau Woo Ri bisa bermain piano dengan baik, dia juga pintar berenang seperti ikan. Woo Ri menyangkal ia tak sepandai itu.

Young Kyu : “Waktu itu kau terjun ke air bersama Seung Chul, kau berenang dan menarik Seung Chul ke darat. Hari itu juga kau mencium Seung Chul!”


Woo Ri terkajut ayahnya mengatakan itu di depan Dong Joo. Dong Joo pun kaget melihat apa yang diucapkan Young Kyu. Woo Ri menyangkal kapan ia malakukan itu. Young Kyu minta Woo Ri jangan berbohong, kalau bohong berarti orang jahat dan orang jahat akan di tangkap polisi.


Dong Joo langsung pasang muka jutek. Woo Ri mengajak ayahnya pergi mengantar susu. Tapi Young Kyu bilang ia sudah mengirim semuanya. Dong Joo memandang Woo Ri dan hanya manggut-manggut. Woo Ri ingin segera pergi dari sana. Young kyu menyahut kalau mereka harus pergi bersama.


Dong Joo menarik Woo Ri, ia langsung merogoh saku celana dan memberikan kantong kacangnya, “Kau harus berterima kasih pada ayahmu untuk ini!” Dong Joo menatap kesal.


Joon Ha duduk santai meminum kopi, Dong Joo minta maaf pada Kakaknya. Karena ia sudah menerima hadiah jadi ia tak bisa menyuruh mereka pergi begitu saja. Joon Ha berkata itu tak apa-apa, ia tak perlu lama-lama bersembunyi.

Dong Joo ingin tahu kenapa sikap Woo Ri seperti itu. Joon Ha berkata kalau itu karena Dong Joo, “Apa kau mengembalikan kantong kacangnya?” Dong Joo kesal dan menjawab tak tahu.


Joon Ha : “Kenapa kau mengembalikannya kalau kau jadi marah seperti ini?”
Dong Joo : “Aku tak menyukainya, aku sama sekali tak menyukainya!”


Woo Ri melayani pelanggan yang mau membeli mobil dan itu mobil Joon Ha yang dijual. ia berkata pada pelanggan kalau itu dulunya mobil milik seorang dokter dan kalau pelanggan tersebut memakainya nanti, pasti para gadis akan terpesona.


Joon Ha menemui Woo Ri dan mengajak makan. Apa yang mereka makan, roti isi telur. “Murah, bergizi dan membutmu kenyang. Di Amerika tak ada yang seperti ini kan? Cobalah jual disana pasti laku keras!” ujar Woo Ri. “Dan aku tidak menjadi dokter?” sahut Joon Ha. Woo Ri menyakini kalau Joon Ha bisa melakukannya sekaligus, menjadi dokter dan menjual roti isi telur.

Joon Ha mendesah Woo Ri mirip seseorang (mirip Dong Joo) kenapa semua orang menyuruhnya mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Woo Ri tanya siapa mirip siapa. Joon Ha menjawab dia seseorang yang jelek dan seperti kotoran semut.


Joon Ha ingin tahu selain menjual mobil apa ada lagi yang Woo Ri lakukan. Woo Ri berkata kalau ia tak melakukan kerja apa-apa lagi. Temannya yang lulus kuliah saja pendapatan selama sebulan tak sampai 1rb dolar sedangkan ia sendiri sering mendapatkan 2rb dolar perbulan. Di perusahaan tempatnya bekerja ia selalu masuk dalam 5 besar.


Joon Ha tanya kalau uang jatuh dari langit apa Woo Ri akan tetap bekerja. Woo Ri menjawab ya karena tak mungkin uang jatuh dari langit. Joon Ha menatap Woo Ri. Woo Ri tanya kenapa, apa Joon Ha pikir pekerjaannya itu rendahan. Joon Ha berkata bukan itu hanya saja ia melihat kalau Woo Ri masih muda.


Woo Ri merasa Joon Ha seorang peniru, waktu itu Joon Ha meniru kata-katanya. Joon Ha berkata kalau itu sangat menyenangkan, haruskah ia melakukannya lagi. Joon Ha menirukan beberapa kalimat yang pernah diucapkan Woo Ri, Joon Ha tertawa.

Seung Chul menelepon Woo Ri tapi Joon Ha langsung merebut dan mematikan ponselnya. “Kau itu bukan murid yang baik di sekolah ya?”
Woo Ri : apa?
“Ketika orang sedang belajar ya belajar. Ketika makan roti telur, makanlah roti telur. Makanlah!” Joon Ha menyodorkan roti telur ke mulut Woo Ri.


Karena kantong kacangnya sudah tak ada yang dimainkan Dong Joo barang lain. Ia terus melempar-lemparkannya. Min Soo penasaran ada apa dengan kantong kacangnya. Dong Joo tak menjawab ia meminta Min Soo melakukan analisa dan perbandingan eksperimen dan segera melaporkan itu padanya.


Tae Hyun dan Kim Bi masuk ke ruangan Dong Joo, mereka menyampaikan kalau Hansung menyampaikan komplein terhadap kosmetik mereka. Kim Bi tanya apa yang harus ia lakukan, mereka juga mengirim email di website Energy Cell bahwa ia sudah melanggar hukum kompetisi bisnis. Kim Bi meyakinkan kalau ia bukan mata-mata bisnis. Dong Joo paham itu, mungkin itu terjadi karena kontrak Kim Bi dengan perusahaan itu.

Min Soo ikut emosi, “Mereka memulai riset kosmetik berbasis sel ketika Kim Bi sudah meninggalkan perusahaan itu!” Kim Bi menyahut mungkin mereka menyadari kalau ini persaingan yang tak bisa mereka menangkan. Mereka ingin merusak image Woo Kyung.


Dong Joo minta dipanggilkan seorang konsultan dari luar. Park Dae Ri masuk dengan wajah yang cemas, “Boss apa yang harus kita lakukan? ada masalah!”


Dong Joo masuk ke ruang Presdir Choi. Di sana Presdir sudah memasang wajah kemarahannya. Ia membanting artikel yang baru saja dibacanya, “Inikah image Woo Kyung yang kau inginkan?”
Dong Joo membaca artikel itu disana tertulis [Energy Cell Cosmetics] chrome dan neodymium terdeteksi diatas standar dalam produk perdana (ada logam berat yang terkandung dalam kosmetik produk Dong Joo)

Presdir berkata bukankah Dong Joo yakin mengenai masalah kualitas produk. “Kau bilang kau sudah merisetnya selam 5 tahun. Logam berat? Ini memalukan sekali!” Dong Joo ingin tahu apa ayahnya sudah memeriksa kebenarannya. Ini hanya rumor murahan.


Presdir Choi emosi, apa Dong Joo pikir bursa saham peduli itu rumor atau bukan. Begitu pasar dibuka saham Woo Kyung akan turun merosot. “Ketika membuat anak perusahaan harga saham akan berguncang dan kemudian kau menuangkan minyak ke atas api, bagaimana kau akan bertanggung jawab?”


Dong Joo : “Kita harus mencari kebenarannya dulu. Siapa yang melakukan ini akan kutangkap dia dan menyeretnya ke pengadilan agar dia tak bisa mengulangi kejahatannya. Akan kuberikan dia peringatan serius!”

“Lupakan saja!” bentak Presdir. “Itulah yang diharapkan dari penjahat itu, anggap saja mereka sudah ditangkap, lalu apa kau pikir kau bisa mengembalikan nama baik Woo Kyung yang sudah rusak? Kalau kau punya waktu blokir media!”

Dir Kang masuk tergesa-gesa dan bertanya ada apa. Ia mengeraskan suaranya kenapa hal ini bisa sampai terjadi. Dong Joo beralasan ini karena ia kurang berpengalaman. Ia akan bicara lagi nanti setelah situasinya sudah bisa ia kuasai.


Setelah Dong Joo keluar Presdir menyahut apa mudah bagi Dong Joo untuk menggulingkan posisinya. Ia akan lihat sampai berapa lama Dong Joo bisa bertahan.

Dir Kang menatap Presdir, “Apa karena keinginanmu tak terpenuhi kau melangkah sejauh ini?” Presdir menegaskan kalau ia akan kembali menjalankan sistem bisnis RAM lagi, ia minta Dir Kang meyakinkan para dewan direksi yang tidak sepakat untuk tidak mengacau lagi kali ini. “Kalau kita gagal mengamankan uang kita, kau dan aku akan tamat. Bisnis yang dimulai tanpa dipahami oleh dewan direksi apa kau pikir akan kubiarkan saja menerima konsekuensinya? Aku Choi Jin Chul!”


Woo Ri makan Es krim bersama Joon Ha. Woo Ri merasa ia tetap sedih sekaligus merasa senang. Joon Ha ingin tahu apa yang membuat Woo Ri sedih. Woo Ri menjawab bukan apa-apa.
Woo Ri menyahut kalau berat badannya tak akan bisa gemuk kalau hanya dengan makan es krim. Joon Ha malah merasa sepertinya berat badan Woo Ri masih bisa naik, “Dagumu begitu runcing, seperti jarum!”


Sepertinya begitu karena Neneknya juga mengatakan kalau dagunya bisa dipakai untuk membajak sawah. Joon Ha meminta Woo Ri makan yang banyak, “Apa mau pesan lagi?” Woo Ri menolak itu tak ada gunanya, karena ia seperti ayahnya.

Woo Ri : Dokter belum lihat ayahku kan? Dagunya benar-benar runcing. Dia ke rumah Cha Dong Joo untuk memberi makan ikan. Kau harus bertemu dengannya sebelum pulang ke Amerika. Dia mirip aku.”


Joon Ha terdiam mendengarkan Woo Ri mengatakan tentang ayahnya.
Woo Ri : “Ayahku itu tampan. Hidungnya seperti ini, matanya seperti ini. Kalau dia tersenyum dia seperti malaikat. Dokter kau mirip siapa? Ayahmu atau ibumu?”
Joon Ha tersenyum dan menjawab tak tahu. Joon Ha tanya apa kantong kacangnya disimpan baik-baik karena Dong Joo sangat panik. Woo Ri heran, “Panik?”


Joon Ha berkata kalau sudah 16 tahun tangan Dong Joo memegang itu dan sekarang tangannya mulai bergetar. “Tangannya begetar?” Woo Ri cemas bagaimana bisa. Apa seperti ini, Woo Ri memperagakan tangan orang yang bergetar.
Joon Ha berkata tidak seperti itu lebih bergetar lagi. Apa seperti ini Woo Ri menggetarkan tangannya lebih guncang lagi. Joon Ha tertawa dan Woo Ri kesal melihatnya, kau bohong kan?
Joon Ha : “Siapa yang percaya itu, dia bukan peminum alkohol. Kenapa tangannya bergetar?”
Woo Ri kesal, “Ahhh dokter!”

Ponsel Joon Ha berdering Ny Tae meneleponnya tapi Woo Ri segera merebut ponsel Joon Ha, “Kau tak boleh mengangkat telepon ketika minum kopi, perhatikan kopimu!”
“Baik!” Joon Ha meminum kopinya. Woo Ri melihat nama yang tertera dilayar dan terkejut, “Oh ini ibumu jawablah!” Joon Ha menolak ia akan mempertahankan kopinya. Woo Ri meminta Joon Ha menjawabnya bagaimana kalau panggilan itu darurat.


“Kenapa kau selalu mengaturku?” Joon Ha menjawab telepon ibunya. Ia terkejut mendengar berita yang disampaikan ibunya dan bertanya bagaimana Dong Joo. Joon Ha bicara menjauh dari Woo Ri. Woo Ri penasaran.


Ny Tae berkata kalau kita baru saja mulai dan sepertinya Choi Jin Chul yang menang. “Joon Ha, apakah ini akhir Energy Cell?”
Joon Ha berkata kalau mereka bisa memblokir media. Ny Tae meminta Joon Ha tak boleh terlibat walaupun Dong Joo minta tolong. Joon Ha menegaskan kalau mereka harus segera memblokir media dan juga mencari sumber beritanya, Dong Joo tak bisa melakukannya sendirian. Ny Tae meminta Joon Ha jangan ikut campur, “Kau harus kembali ke Amerika!”
Joon Ha : apa?
Ny Tae : “Dengan memblokir media apa kau pikir ini selesai? Kalau kau tak akan tinggal sampai selesai maka akhirilah. Begitulah seharusnya!”
Joon Ha merasa ia harus menemui Dong Joo, ia akan mampir ke kantor.


Joon Ha minta maaf pada Woo Ri karena ia harus pergi. Woo Ri berkata tak apa-apa dan bertanya ada apa dengan Dong Joo. Joon Ha tak bisa mengantar Woo Ri pulang karena sesuatu terjadi dengan pekerjaan Dong Joo. Woo ri berkata tak apa-apa dan meminta Joon Ha bergegas.


“Tunggu sebentar!” Joon Ha memakaikan arloji ke tangan Woo Ri. Woo Ri heran apa ini.
Joon Ha : “Ini untuk makanannya. Karena kau membelikanku makanan aku juga ingin mentraktirmu tapi karena aku akan ke Amerika.
Woo Ri tak bisa menerimanya ia akan melepas arloji itu, Joon Ha menahan dan menatap Woo Ri, “Bong Woo Ri senang bertemu denganmu!”


“Ini resep untukmu kalau kau mau mengobati pikiranmu tentang kakakmu maka lupakanlah dia. Jam 2.20 p.m 14 Mei 2011. Mulai dari sekarang jangan melihat arloji kakakmu, lihatlah ini sedikit demi sedikit kau akan melupakannya!”


Dong Joo bertemu staf-nya di lobi kantor. Min Soo berkata kalau mereka sudah menemukan sumber berita tentang kasus logam berat itu, “Dia sudah dipecat dari pabrik Bucheon!” Dong Joo heran jadi bukan dari Hansung?


Min Soo akan menemui orang itu tapi Dong Joo meminta Min Soo menghentikan kegiatan promosi. Kim Bi diminta menyiapkan dokumen gugatan dan ia yang akan menemui orang itu sendiri. Kim Bi tanya apa yang harus dilakukannya ia sudah merasa kesal. Dong Joo menyakinkan kalau ini bukan kesalahan Kim Bi, perusahaan akan mengatasi ini dan lanjutkan saja pekerjaan Kim Bi.

Tae Hyun mencegah boss-nya, Dong Joo tak bisa keluar dari kantor sekarang. Di depan wartawan sudah banyak yang menunggu.


Joon Ha masuk diantara para wartawan dan menghampiri Dong Joo. Park Dae Ri datang dan mengatakan bahwa sesuai perintah Dong Joo ia terus mengawasi pergeseran saham, “Dari cabang Yoido H Securities ditemukan banyak transaksi penjualan saham Woo Kyung. Haruskah aku mengawasi terus?”


Joon Ha berkata pada Dong Joo kalau ia akan melihatnya sendiri. Dong Joo berpapasan dengan Presdir Choi, Dong Joo langsung pergi.


Dong Joo menghentikan laju mobilnya di depan sebuah rumah. Ia melihat seorang pria dan memastikan apakah orang itu yang tengah dicarinya. Dong Joo akan meneleponnya.

Ponsel pria itu berdering dan ia langsung menjawabnya, Halo dan kata halo tertulis di ponsel Dong Joo. “Tuan Baek Sun Hyuk?” tanya Dong Joo. “Ini Presdir Energy Cell, Cha Dong Joo!”
Pria itu terkejut dan gugup, Dong Joo memperhatikannya, “Maafkan aku anda salah sambung!” itu yang tertulis di layar ponsel Dong Joo.


Dong Joo melihat orang itu menelepon seseorang, “Nama anakmu bukankah Cha Dong Joo? Aku berencana akan pergi tapi aku tak bisa meninggalkan istriku sendirian di rumah sakit. Maafkan aku Nyonya (what Nyonya????) tentu saja aku siap dipenjara karena ini!”


Dong Joo terus memperhatikan gerak Bibir pria ini. Dong joo mendapat sms ‘informasi penjualan besar-besaran –Jang Joon Ha W invest inc’s patrner- Dong Joo marah ia mencengkeram setir mobilnya.
Pria itu menjawab mengerti dan mulai sekarang ia tak akan menerima telepon dari orang yang salah sambung, “Anakmu tak akan datang menemuiku di rumah sakit kan?”

Dong Joo langsung merebut ponsel pria itu dan meletakkan di telinganya. Ia tahu siapa dalang dibalik semua ini, “Apa ini?”


Ny Tae terkejut, “Dong Joo?”
Dong Joo : “Balas dendammu, apa balas dendammu lebih penting daripada aku dan Joon Ha?”
Ny Tae panik, ia minta Dong Joo bicara dengan ponsel Dong Joo.
“Aku akan melakukannya. Aku akan merebut kembali Woo Kyung. Bisakah aku melakukan itu? bisakah ibu mempercayaiku? Kenapa? Kenapa?” Dong Joo mengeraskan suaranya.

Ny Tae meminta Dong Joo menutup mulut karena ada orang disebelah Dong Joo. Joon Ha ikut panik, ia minta telepon itu dan ia yang akan bicara pada Dong Joo. Ny Tae berkata kalau itu bukan telepon Dong Joo.


Dong Joo : “Apapun yang kau lakukan dibelakangku, apa itu karena aku tak bisa mendengar? Kau menjebakku seperti boneka. Apa yang sudah ibu rencanakan bersama Kak Joon Ha?”


Ny Tae tambah panik, “Dong Joo bukan begitu. Jawablah teleponmu kau harus tahu apa yang kusampaikan!”


“Aku tak bisa mendengar. Ibu aku tak bisa mendengar apapun yang kau katakan. Katakan dengan keras. Katakan yang keras!” Dong Joo berteriak, “Aku tak bisa mendengar. AKU TAK BISA MENDENGAR!”



re-posted and re-edited by : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment