Thursday, October 03, 2013

Can You Hear My Heart Episode 18

Woo Ri menagih Joon Ha untuk mentraktirnya tapi ia menolak di traktir makan. Akhirnya Joon Ha membelikan berbagai macam pakaian dan tas untuk Woo Ri. Selain itu, Woo Ri juga meminta Joon Ha memberikan kembali jam tangan yang ia kembalikan tempo hari.
“Dokter...” Woo Ri menatap tajam Joon Ha. “Dokter Jang Joon Ha...” sambung Woo Ri seraya tersenyum. Tapi lama kelamaan matanya mulai menitikan air mata, “Ma Roo-Oppa.... Aku tak akan mencarinya lagi. Kudengar dia sudah bahagia disuatu tempat. Bukankah begitu dokter? Kakakku pasti hidup bahagia sekarang!”

Joon Ha terharu mendengarnya, “Dia hidup sangat bahagia. Dia makan makanan yang enak. Tidak tahu kesulitan kita disini. Sama sepertiku dia menghamburkan banyak uang. Dia pasti hidup sangat baik.”

Woo Ri berkata kalau itu bagus, ia berusaha tersenyum walau air mata terus mengalir di pipinya. Joon Ha ingin merayakan hari ini sebagai hari melupakan Bong Ma Roo, ia ingin naik cable car. Tapi Woo Ri ingin menambahkan satu hal lagi yang ia inginkan sebagai hari peringatan melupakan Ma Roo.
Woo Ri : “Gantikan posisi Kak Ma Roo. Dokter, aku mohon jadilah Kakakku. Dengan begitu, aku bisa melupakan Kak Ma Roo!”
Jelas ini bukan hal yang diinginkan Joon Ha, dari dulu ia tak mau menjadi seorang Kakak untuk Woo Ri.

Woo Ri : “Bisakah kau lakukan itu?”
Joon Ha : “Aku tak mau!”

Joon Ha meminta Woo Ri masuk ke mobilnya tapi Woo Ri diam saja. “Apa kau mau jalan kaki?” tanya Joon Ha. Ia ingin Woo Ri jangan bicara, kalau yang dibicarakan adalah masalah yang diucapkan tadi, ia jelas-jelas menolaknya.
Dokter Jang menyuguhkan minuman untuk Presdir Choi. Dokter Jang berkata kalau ia sangat berterima kasih atas bantuan Presdir Choi dan juga ruangan yang nyaman ini (what jadi ini yang nyiapain Choi Jin Chul) Presdir berkata kalau itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Dokter Jang yang sudah menyelamatkan Dong Joo.

Dokter Jang tanya apa Dong Joo baik-baik saja. Walau ia sudah menyelamatkanya, Dong Joo seharusnya baik-baik saja karena ia sudah tak ada kontak dengannya. Presdir menatap curiga, kenapa Dokter Jang menanyakan kabar Dong Joo dan tak menanyakan Joon Ha, anak Dokter Jang. Dengan santai Dokter Jang berkata kalau Joon Ha itu seperti dirinya, keras kepala. Jadi setiap kali bertemu ia selalu berbeda pendapat dengan putranya.
Presdir tertawa, Benarkah. Ia belum tahu banyak tentang Joon Ha. “Kenapa kalian tak terlihat sama? Bisa saja kau menginginkan itu. Pada pandangan pertama bertemu Joon Ha, tak ada hal yang mengingatkanmu. Benarkah dia anak kandungmu? Terkadang kau punya aktifitas sebagai suka relawan, kau rentan akan hal-hal semacam itu. Bisa saja kau mengadopsinya!”

Dokter Jang menyadari kalau Presdir Choi mulai curiga, “Apakah ini alasanmu datang kemari?” Dokter Jang tertawa terbahak-bahak, “Kau sukses dengan rencanamu, karena kurasa akan jadi masalah besar bila dia mirip denganku. Jadi aku memilih istri yang unik. Joon Ha sekarang terlihat tampan kan?” Dokter Jang kembali tertawa.

Tapi tawa itu tak mengurangi rasa curiga Presdir Choi. Ia menatap Dokter Jang dengan tatapan serius, “Aku dengar anakmu meninggal saat kecelakaan. Saat itu usianya 17 tahun kan? Aku lihat di koran Jepang sudah lama. Bukankah seperti itu?”
Dokter Jang : “Apa kau sedang menyelidiku?”
Kini giliran Presdir Choi yang terkekeh dan meminta Dokter Jang jangan salah paham, “Dalam posisiku, aku harus berhati-hati dengan orang asing yang memiliki maksud tersembunyi. Selain itu, istriku sangat dekat dengannya. Ini sedikit bermasalah untukku!”

Dokter Jang : “Kau seharusnya lebih banyak mencari tahu. Anakku, Joon Ha masih hidup. Aku menyelamatkan dia. Sama seperti aku menyelamatkan anakmu, Dong Joo!”

Presdir masih curiga, “Kalau memang demikian, kenapa kau tak hidup dengannya? Joon Ha bilang ke istriku dan Dong Joo bahwa dia diadopsi olehmu!” Presdir berusaha menjebak dokter Jang dengan ucapannya. Dokter Jang terkejut, tapi untunglah suara telepon memotong ucapan Presdir Choi.
Dokter Jang menjawab teleponnya. “Apa kau bersama Choi Jin Chul?” itu suara Ny Tae. Dokter Jang menjawab ya dan mengalihkan pembicaraan supaya Presdir Choi tak curiga dengan siapa ia bicara. Presdir Choi terus memperhatikannya.
Ny Tae terlihat cemas, “Apa dia bertanya tentang Joon Ha? Dokter Jang, aku tahu kau pasti akan mengurus semuanya tapi setelah itu kau harus meneleponku. Kau tahu betapa cemasnya aku!” Dokter Jang mengerti dan akan menelepon Ny Tae setelah ini.
Ny Tae bertanya apa Dokter Jang akan menemui anak-anak. Dokter Jang menjawab tentu saja, “Jadwalku sangat padat tapi aku harus menemui anakku. Aku meninggalkannya tanpa gangguan karena dia telah dewasa. Tapi dia bertingkah seperti yatim piatu. Kalau istriku tahu dia pasti pingsan.”
Ny Tae ternyata berada di ruangan Presdir Choi di kantor Woo Kyung.

Dokter Jang menyambung kembali percakapannya dengan Presdir Choi, “Sampai dimana kita tadi?” “Lupakanlah!” sahut Presdir, sepertinya ia tak curiga lagi setelah mendengar ucapan Dokter Jang di telepon tadi dan membicarakan obrolan yang lain.
Ny Tae sedikit kecewa dengan kinerja Sek Kim, “Bagaimana bisa kau baru menemukan Dokter Jang saat Choi Jin Chul telah menemukannya lebih dulu.” Sek Kim minta maaf.
Ny Tae : “Apapun itu kau harus membuat Choi Jin Chul tak berhubungan lagi dengan Joon Ha!”

Setelah Sek Kim keluar, Ny Tae memeriksa berkas-berkas milik Persdir yang ada di depannya. Ia juga memeriksa laci tempat Presdir menyimpan foto Ma Roo. Ia mengambil foto itu dan mendesah kesal.

Terdengar suara Shin Ae di luar yang ingin masuk ke ruangan Presdir. Ny Tae segera menaruh kembali foto itu ke tempat semula tapi posisinya rubah menjadi terbalik.
Shin Ae terkejut melihat Ny Tae ada di ruangan Presdir. Ny Tae tanya apa yang dilakukan Shin Ae di ruangan Presdir. Shin Ae beralasan karena Presdir memberinya pekerjaan ia mau memberikan tanda terima kasih untuk Presdir.
Ny Tae menyindir, “Apa sekarang kau juga mengurus kebutuhan pribadinya? Kau sudah melakukan tugasku dan bahkan kau sekarang mengurus suamiku!”
Shin Ae : “Itu... Nyonya sepertinya kau salah paham!”

Ny Tae tersenyum dan berkata tak apa-apa dan berterima kasih, “Aku tak bermaksud untuk mengatakannya. Sebenarnya selama ini kami menikah hanya atas namanya saja. Setelah kecelakaan Dong Joo, aku meninggalkan rumah sangat lama. Aku paham hal itu bisa terjadi dan tempat yang aku tinggalkan, kau sementara sudah mengganti tempat itu. Aku tak tahu betapa beruntungnya aku.”
Shin Ae : Nyonya?
Ny Tae : “Itu benar. Jika kau adalah wanita yang tepat, kau tak akan pernah bisa menggantikan tempatku!” Shin Ae : Apa?
Ny Tae : “Kau bisa dibuang begitu mudah dan ditipu dengan mudah. Itulah sebabnya Choi Jin Chul memilihmu. Karena kau mudah disingkirkan tanpa alasan!”
Shin Ae mulai marah, “Nyonya. Aku berkata seperti ini karena aku rasa kau tahu segalanya. Tapi jangan memandang rendah aku. Aku bukan Kim Shin Ae yang dulu.”

Ny Tae tertawa terbahak-bahak mendengarnya, “Benar saat itu kau masih muda. Tapi jangan berfikir kalau sekarang kau lebih baik. Jangan memaksa dirimu.”
Shin Ae tambah berani bicara, “Apa kau tak berpikir dirimu juga buruk? Kau masih menahan pria yang tak mencintaimu. Bukankah Presdir sudah meminta cerai? Dia tak bisa melakukannya karena uangnya akan dibagi rata. Dia tak memiliki perasaan padamu dari awal.”

Ny Tae tambah tertawa, “Benar. Lalu kau mengambilnya dan hidup bersamanya. Setiap hari kau akan mendengar suara berisik, itu memang cocok untukmu!” Ia ingin Shin Ae jangan begitu tertekan, “Kenapa kau marah padaku dengan kesalahanmu sendiri? Saat kau muda seharusnya kau punya anak sehingga aku merasa takut!”
Dengan penuh keyakinan Shin Ae berkata bahwa Ny Tae akan menyesal sudah memperlakukannya seperti ini. Ny Tae menantang, “Baiklah saat hari itu datang mari kita bicarakan lagi.”

Shin Ae keluar dari ruangan dengan kemarahan yang memuncak, “Kapan kau pikir aku akan berhenti ditipu olehmu? kalau aku menemukan anakku, kau dan anakmu akan berlutut di kakiku!”
Joon Ha membelikan minuman untuk Woo Ri, ia berpesan Woo Ri hati-hati meminumnya karena ini panas. “Kita akan bicara setelah meminum ini.” Ponsel Woo Ri berdering, Dong Joo yang meneleponnya. Tapi Woo Ri tak segera menjawabnya. Joon Ha merebut ponsel Woo Ri dan mengangkatnya.
“Cinta pertama Bong Ma Roo!” sahut Dong Joo. “Dong Joo, nanti saja aku akan menutupnya!” Ucap Joon Ha. Dong Joo membaca tulisan di layar ponselnya dan merasa aneh, “Kakak?”

Tiba-tiba ada uang koin yang berputar di mejanya. Dong Joo menengok ke samping dan di sana Dokter Jang berdiri, “Apa kau masih bertemu dengan Joon Ha?”
“Dokter Jang!” Seru Dong Joo langsung memeluk dengan perasaan yang sangat senang.
Dokter Jang : “Apa kau melakukan hal yang baik, anak nakal?”
Dong Joo tertawa dan kembali memeluk Dokter Jang. Dong Joo Tanya kapan Dokter Jang datang. Dokter Jang menjawab pagi ini dengan penerbangan kelas 1, karena Presdir mengunjunginya.
Dong Joo terkejut melihat Dokter Jang mengatakan ini, “Choi Jin Chul? Untuk apa?” Dokter Jang berkata kelihatannya Choi Jin Chul mulai curiga. Dong Joo tambah terkejut, tapi Dokter Jang menegaskan kalau Choi Jin Chul tak mencurigai Dong Joo tapi mencurigai Joon Ha.
Woo Ri terdiam di mobil Joon Ha. Joon Ha tanya apa Woo Ri marah padanya karena telepon dari Dong Joo ia tutup. Woo Ri malah berkata kalau ada yang ingin Joon Ha ucapkan lebih baik dikatakan saja.
Joon Ha : “Apa kau sangat membenciku?”
Woo Ri menatap Joon Ha. Joon Ha mengingat ketika masa kecil dulu, Mi Sook kecil bertanya kenapa Ma Roo membencinya ia saja menyukai Ma Roo.
Joon Ha bertanya dengan tatapan sedih, “Kenapa kau membenciku? Aku menyukai Bong Woo Ri. Tak ada gunanya kau seperti itu? karena aku menyukai Bong Woo Ri!” (akhirnya Joon Ha menyatakan perasaannya juga)
Woo Ri : Dokter?
Joon Ha : “Lupakan! Apa yang harus kuharapkan. Ketika aku egois mengatakan aku menyukaimu..... Kopinya mulai dingin!” Joon Ha meminum kopinya sambil menangis. (hiks hiks hiks)
Woo Ri : “Aku tak membencimu. Itu karena kau kakak Cha Dong Joo. Itu sebabnya... karena kau kakak Cha Dong Joo. Aku hanya bisa melakukan ini. Maafkan aku!”
(Hiks hiks hiks kasian Joon Ha, cintanya ditolak)
Dokter Jang berkata Presdir Choi sangat serius bertanya padanya kalau Joon Ha bukan anaknya dan meminta Dong Joo memberi tahu Joon Ha agar hati-hati. Dong Joo mengatakan ini masalahnya karena Dokter Jang dan Joon Ha tak mirip sama sekali, “Kakakku itu sedikit tampan!” Dokter Jang menyahut, “Kalian berdua tumbuh begitu tampan!”
Dong Joo tersenyum membenarkan, “Kapan kau pulang? Kita bertiga harus minum sama-sama!”
Dokter Jang : “Minum? Sudah kubilang orang yang memiliki rahasia tak boleh minum.”
“Itu benar, Aku bisa bercerita dalam satu ucapan. Aku tak bisa mendengar!” Dong Joo memegang telinganya membuat Dokter Jang terkekeh dan berkata setelah Dong Joo di Seoul, Dong Joo banyak berubah.
Dokter Jang : “Yang membuat Cha Dong Joo seperti ini seorang gadis atau monyet itu?”
Dong Joo : “Ini bukan di Afrika, dimana ada banyak monyet?”
Dokter : “Lalu apa ini karena seorang gadis? Sebelum aku pulang, kau harus mengenalkanya padaku!”
Dong Joo mengangguk dan berkata kalau Dokter Jang bertemu dengannya, Dokter Jang pasti suka.
Dokter : Apa dia cantik?
“Itu sedikit...” Dong Joo mengangkat wajahnya dan terkejut melihat sesosok wanita cantik mengenakan gaun hitam (Woo Ri datang ke kantor Energy Cell)
Dong Joo melongo tak percaya dengan yang dilihatnya. “Dia cantik!” sahut Dokter Jang. “Itu bukan dia!” ucap Dong Joo.
“Cha Dong Joo!” Dokter Jang memanggil dan Woo Ri langsung menengok. “Itu dia!” sahut Dokter Jang.
Dong Joo masih melongo tak percaya.
Dong Joo dan Woo Ri bicara berdua di dekat tangga. Dong Joo memandang penampilan baru Woo Ri dari atas sampai bawah.
Dong Joo : “Apa maksud semua ini? Apa yang terjadi dengan jeans-mu yang cantik? Kenapa juga dengan rambutnya? Kau memakai make up seperti hantu!”
Woo Ri menyangkal ia tak pakai make up.
Dong Joo langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Woo Ri untuk melihat lebih jelas.
“Aku hanya pakai sedikit di bibir!” sahut Woo Ri gugup.
Dong Joo terus memperhatikan wajah Woo Ri, “Kenapa matamu bengkak? Apa kau baru menangis?” Woo Ri kembali menyangkal tidak.
Seettt.... Dong Joo langsung mengunci tubuh Woo Ri ke tembok dan menatap tajam, “Kenapa kau datang kemari?”
Woo Ri gugup mengatakannya, “Aku besok mulai bekerja disini jadi aku datang untuk menemui Na Mi Sook!”
Dong Joo : “Benarkah? Kau datang untuk menemui Na Mi Sook? Bukan aku? Tak apa-apa kalau kau datang ke sini menemuiku dengan pakaian seperti ini. Kemarin aku mengejekmu itik jelek, jadi kau mau menunjukan dirimu memakai gaun di depanku. Benarkan?”
Woo Ri : “Aku tahu kalau aku kemari aku akan bertemu denganmu. Bisakah aku mulai bekerja besok?”
Dong Joo : “Tidak. Tidak boleh!”
Woo Ri : Apa?
Dong Joo : “Ada workshop di kebun jadi kau harus ke sana!”
Woo Ri tersenyum ini berarti ia boleh bekerja. Dong Joo langsung merengut meminta Woo Ri jangan tertawa. Woo Ri langung diam.
“Jika kau coba berbohong lagi. Woakh...” Dong Joo memajukan wajahnya lagi. Woo Ri spontan menutup mulutnya. Hehe.
Nenek minum alkohol sambil menatap gambar buatan Young Kyu, ia terus menyebut nama putranya.
Woo Ri datang mengunjungi nenek dan terkejut melihat Nenek mabuk, “Nenek jika kau minum alkohol kepalamu akan meledak!”
Woo Ri merebut minumannya. Nenek meminta Woo Ri mengembalikan itu, ia memang sedang mencoba meledakkan kepalanya. “Aku tak tahan melihatmu, lebih baik aku mati!”
Woo Ri : “Kalau Nenek meninggal bagaimana dengan ayah? Bagaiman dengan aku? Apa anakmu hanya Bibi? Apa cucumu hanya Kak Ma Roo? Bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan ayah?”
Nenek terdiam, Woo Ri mengajaknya pulang. Ia datang untuk mengajak neneknya pulang. Nenek menolak ia ingin tetap di rumahnya Shin Ae.

Woo Ri bertanya apa Nenek pikir Shin Ae akan berubah hanya dengan Nenek tinggal bersamanya. Woo Ri meninggikan suaranya “Nenek pikir Kak Ma Roo akan kembali dengan Nenek menunggunya disini?”
Nenek kesal mendengar Woo Ri berteriak padanya, “Mana sopan santunmu? Siapa kau?”
Woo Ri : “Nenek pikir aku siapa? Aku cucumu... jangan lupa. Haruskah aku tunjukan lagi?” Woo Ri mengeluarkan kertas, Nenek tanya apa ini. Woo Ri menjelaskan walaupun Nenek kesulitan membaca tapi Nenek pasti tahu ini. Semuanya tertulis disini (semacam kartu keluarga)

Nenek menangis, “Kau masih membawa ini?”
Woo Ri berkata kalau ia sudah berjanji pada ibunya, “Saat Ibuku meninggal, saat aku menebarkan abu ibuku di sungai aku membuat janji. Bersama. Kita akan hidup bersama. Jadi ayo pulang. Bahkan bila kau membenciku, aku ingin hidup bersamamu. Karena aku telah membuat janji dengan ibuku!”
Nenek menangis memukul-mukul Woo Ri, “Ya Tuhan kau anak yang berbakti. Ya Tuhan kau anak yang berbakti!” Nenek berulang kali mengucapkannya.
Woo Ri ikut menangis, “Nenek, walaupun semur hidupku aku mendengar kau memanggilku ‘gadis gila’ aku menyukainya. Ayah juga ‘anakku melakukan yang terbaik’ ‘Young Kyu-ku yang terbaik’ mendengar itu ayah suka. Jadi, lupakan Bibi dan Kak Ma Roo yang kabur dari rumah dan membuatmu sedih. Ayo hidup bahagia bersamaku dan ayah.” Woo Ri menyanyikan lagu-nya, “Ayo hidup bahagia seperti itu!”

Nenek tetap menolak ia akan mencari Ma Roo, “Aku akan mencari Ma Roo dan membawanya ke rumah. Aku tak bisa meninggalkan dia disini!”
“Kak Ma Roo tak akan datang!” ucap Woo Ri. Nenek terkejut Woo Ri mengatakan ini.
Woo Ri kembali berkata bukankah Nenek bertemu Kak Ma Roo, “Itu bukan karena Kak Ma Roo tak bisa, tapi karena dia tak mau. Dia hidup sangat baik disana kan? Benarkan? Kata-kataku benar kan?”

Nenek terus menangis, bagaimanapun juga Ma Roo tetap cucunya. Woo Ri mengajak Nenek menunggu sampai Ma Roo sendiri datang ke rumah. “Karena itu tak akan sulit bagi kita dan itu tak akan sulit bagi Kak Ma Roo. Jadi lupakan dia, maka dia akan hidup bahagia dan makan dengan baik. Jangan lupakan yang lain, hanya lupakan Kak Ma Roo. Aku akan baik padamu. Aku akan melakukan apa yang Nenek minta!”
Woo Ri mengaitkan kelingkingnya, ia berjanji. Nenek menangis sesenggukan, “Apa yang harus kulakukan?” Nenek menyentuh wajah Woo Ri, “Cucuku yang malang, apa yang harus kulakukan?”
Nenek langsung memeluk dan menangis dalam pelukan Woo Ri. “Apa yang harus kulakukan pada cucuku yang malang?”
Seung Chul keluar dari kamar dengan setelan jas yang rapi, ia menghampiri Young Kyu dan kedua orang tuanya yang tengah sibuk mengupas daun bawang.
Seung Chul : “Ayah, Ibu, Paman. Aku sudah lulus dari ‘sekolah ayam goreng’ terima kasih telah membesarkanku sampai saat ini!”
Seung Chul langsung berlutut memberi hormat. Ibu dan ayahnya mendesah sudah mengerti maksud putranya.
“Berapa?” tanya Young Kyu (haha dia juga sudah paham maksud Seung Chul)
Seung Chul langsung berbisik ke ibunya, “100 juta!”
Semua menganga mendengarnya, “100 juta berapa banyak itu?” tanya Young Kyu.
Seung Chul memohon pada Ibunya agar mengizinkannya membuka toko ayam. Bibi Lee menabok putrnya, “Apa kau mengancamku. Ayam atau apalah itu, aku tak punya uang!”
Seung Chul : “Ibu.... siapa yang bilang kalian memberiku uang Cuma-cuma? Aku bilang investasi. Aku akan mengembalikan itu dalam waktu 3 tahun!”
Woo Ri berhasil membujuk Nenek untuk pulang, ia tersenyum sumringah begitu sampai rumah. Semua menyambut kedatangan Nenek dengan penuh kegembiraan.
Paman dan Bibi Lee girang sampai melempar daun bawang yang ada di tangan mereka.

Seung Chul terkejut melihat penampilan Woo Ri yang baru, ia tak percaya.
Young Kyu tanya ke Ibunya apa mengenalinya. Nenek tertawa. Paman dan Bibi Lee juga bertanya apa Nenek mengenali mereka. Nenek menjawab kalau ia ingat dan baik-baik saja.
Seung Chul langsung menunjuk Woo Ri, “Hey Bong Woo Ri dimana jamur yang selalu kau pakai?” (rambut jamur Woo Ri)
Semua baru menyadari penampilan baru Woo Ri. Ayahnya langsung berkata kalau Woo Ri seperti putri. Paman dan Bibi Lee memuji Woo Ri sangat cantik.
Seung Chul tak menyukainya ia malah curiga, “Hey dimana kau mendapatkan baju ini? Siapa yang membelikannya?”
“Cha Dong Joo!” Tebak Paman Lee.
Seung Chul marah, ia berusaha melepas baju yang dipakai Woo Ri. “Lepakan itu. Siapa suruh pakai itu!” Woo Ri langsung berlindung di belakang Nenek.
Seung Chul dipegangi orang tuanya. Seung Chul kesal bukan main, ayahnya minta Seung Chul menahan emosi dan tenangkan diri. Seung chul langsung ngosek-ngosek ngambek kayak anak kecil. hehe
Young Kyu duduk tertidur di depan pintu. Woo Ri membangunkannya dan berkata kalau Nenek sudah bosan tidur sendiri dan meminta ayahnya menemani Nenek. Young Kyu menyahut kalau ia menunggu Ma Roo.
Woo Ri berkata kalau ayahnya akan bertemu Ma Roo dalam mimpi, “Pegang erat tangan Nenek dan tidur!” Young Kyu mengerti ia setuju, ia bisa bertemu Ma Roo dan ibunya di dalam mimpi.
Young kyu langsung beranjak menuju kamar.
Woo Ri mengambil dompet ayahnya yang tertinggal, ia menatap foto keluarganya. “Ibu, Kak Ma Roo masih tetap tampan. Dia tampan dan pintar. Dia masih sama seperti saat masih muda. Tapi dia mengaku bernama Jang Joon Ha. Jadi, itu sebabnya aku tak bisa memanggilnya Kak Ma Roo. Kalau aku mencari Kak Ma Roo aku merasa akan banyak orang yang akan terluka. Jadi aku pura-pura tak tahu. Ibu, katakan padaku sekarang aku melakukan hal yang benarkan? Aku sangat frustasi!”
Di taman botani kegiatan workshop hampir di mulai. Manajer Seo menunjukan ruangan yang akan digunakan untuk makan dan ruangan rapat pun sudah disiapkan secara terpisah. Manajer menjelaskan dan menunjukannya secepat mungkin. Juga tempat untuk pegawai dan tempat untuk bermain voly, sepak bola.

Manajer menggerakkan badannya sangat cepat seperti yang pernah Woo Ri tunjukkan. Dong Joo merasa risih, ia menyuruh Manajar Seo keluar dan lanjutkan pekerjaan. “Ya aku mengerti!” jawab Manajer Seo semangat. Ia juga bergerak kesana kemari seperti gerakan Woo Ri. Hingga membuat Dong Joo geleng-geleng.

Dong Joo melihat Woo Ri ada di sana tengah membersihkan meja dan Woo Ri kembali memakai kaos dan jeans-nya.
‘Life Change Academy’ Na Mi Sook membaca Slogan Workshop yang terpasang disana, ia tak menyukai ini.
Mi Sook berbalik dan terkejut ada Young Kyu di sana, “Life Change Academy.... ini sedikit polos!” ucap Young Kyu mengikuti apa yang diucapkan Mi Sook tadi.
Mi Sook heran, “Polos bagaimana?”
Young Kyu : “Tak ada Ka Na Da (alfabet Korea) jadi tak ada arti!”

Woo Ri dan Dong Joo keluar bersamaan. Woo Ri memanggil ayahnya. Melihat ada Dong Joo di sana Young Kyu langsung memberi hormat, “Apa kabar Cha Dong Joo, hari ini apa kau tak bekerja?”
Dong Joo berkata kalau hari ini ia bekerja di taman.

Mi Sook menyampaikan protesnya pada Dong Joo mengenai slogan Workshop, bukankah ia sudah meminta dirubah. “Aku bilang kosmetik tak dapat merubah kehidupan!”
Dong Joo berkata kalau konsep itu tim yang memutuskan secara bersama.
Mi Sook : “Bersama? kata itu sungguh...”
“Sungguh suka!” teriak Young kyu memotong ucapan Mi Sook.
“Hey!” Mi Sook beteriak keras sampai memekakan telinga, “Siapa kau begitu mengganggu?”
Young Kyu kesal karena Mi Sook lupa lagi, “Namaku...”
“Bong Young Kyu. Aku tahu, aku tahu!” Sahut Mi Sook kekesalannya memuncak, “Begitu menyebalkan!” Mi Sook kembali bertanya pada Dong Joo apa itu tak bisa dirubah.
Dong Joo : “Oh ya. Karena ada 4 hal yang dapat merubah kehidupan. Love, Image Family and Energy. Cinta, imajinasi, keluarga dan kekuatan. 4 hal tersebut bukankah bisa merubah kehidupan?”

“Life Change Academy!” Young kyu kembali mengucapkannya membuat Woo Ri terkagum-kagum karena ayahnya sangat bagus berbahasa Inggris.
Young Kyu tak mengerti, “Bahasa inggris apa?” Haha
Mi Sook tambah kesal ia langsung melepas kacamatanya, “Kau tak bodoh kan?”
Woo Ri kembali melihat Mi Sook tanpa kacamata, “Kau benar-benar mirip ibu!” Mi Sook kembali melarang Woo Ri mengatakan itu. Mi Sook paham dengan slogan ini, tapi bisakah Dong Joo menyingkirkan dua orang ini (Woo Ri dan Young Kyu) karena ia bisa gila.
“Tapi bukankah Na Mi Sook yang mengajaknya?” sahut Dong Joo menunjuk Woo Ri.
“Boss kami datang!” Terdengar teriakan Kim Bi dan yang lain.
Woo Ri melihat Kim Bi datang menyapa Dong Joo tapi Dong Joo tak menyadarinya. Woo Ri langsung mengangkat tangan bersorak senang yang lain datang, memberi tanda pada Dong Joo.
Young Kyu dan Woo Ri memberi ucapan selamat datang pada para tamu dan ini membuat Mi Sook semakin kesal (haha kemarahan yang tak beralasan)
Joon Ha dan Presdir Choi makan bersama di ruangan Presdir. Presdir merasa Joon Ha sangat santai makan dengannya. Joon Ha tanya apa Presdir Choi keberatan dengan sikapnya.
Presdir berkata saat seorang pemuda makan siang dengan Presdir Woo Kyung dia seharusnya tak merasa nyaman. Joon Ha beralasan kalau ia dan Presdir sudah semakin dekat dan ia mengaku kalau dirinya berkulit tebal.
Presdir memuji itu bagus saat bertindak jujur, “Itulah kenapa semua investor banyak yang berinvest denganmu!” Joon Ha menganggap itu semua karena pengaruh Presdir choi jadi mereka berinvestasi karena percaya pada Presdir.
Presdir ingin tahu berapa banyak investasi yang datang hari ini. Joon Ha malah bertanya berapa banyak yang akan Presdir tawarkan.
Presdir : “Tentu saja memang harus begitu. Ada sesuatu yang harus ditawarkan, jadi jika ada sesuatu yang salah, kau tak akan dirugikan!”

Joon Ha tersenyum, ia tak pernah berfikir hal itu akan terjadi. “Ada Presdir yang sangat kuat seperti Anda? Lalu kenapa hal itu bisa terjadi? Kita dalam perahu yang sama jadi jika ada sesuatu yang salah, bukankah aku tak bisa menjadi satu-satunya yang dihukum? Aku akan berpegang padamu. Aku akan hidup atau mati di sampingmu. Aku bahkan belum menikah!”

Presdir menarik kesimpulan perkataan Joon Ha, “Jika terjadi kesalahan kau tak ingin mati sendirian?”
Joon Ha : “Bukankah kau merebut uang orang dan menggunakannya, atau mungkin nanti aku bisa seperti itu. Itu sama saja. Jika aku mati sendiri, aku tak mau hidup karena penyesalan.”
Ny Tae masuk ke ruangan Presdir, “Kau ada disini Joon Ha? Kalian berdua makan bersama?” Joon Ha berkata kalau ada sesuatu yang tengah ia dan Presdir diskusikan.
Presdir tanya untuk apa istrinya datang, jika itu bukan sesuatu yang penting lebih baik memberitahunya di rumah saja. Ia meminta istrinya keluar.
Joon Ha mengatakan kalau diskusinya tak akan lama, lebih baik ibunya menunggu setelah itu ia bisa pergi dengan ibunya.
Ny Tae mengusulkan seharusnya Joon Ha mengajak Dong Joo juga. “Makan enak, kau harus mengurus anakmu juga!” Ny Tae langsung keluar ruangan.
Presdir tak mempedulikan kata-kata istrinya dan kembali menyuruh Joon Ha makan.
Joon Ha keluar dari ruangan Presdir, Ibunya sudah menunggu. Ny Tae memuji Joon Ha sudah bertindak bagus, ia merasa Choi Jin Chul sangat mempercayai Joon Ha. Seperti yang ia katakan Joon Ha lebih cepat dari Dong Joo.
Joon Ha mengingatkan ibunya jangan membicarakan itu di kantor takut ada seseorang yang mendengar. Tapi Nya Tae tak peduli, “Choi Jin Chul tak bisa merendahkan kita lagi. Karena dia tahu begitu baanyak uang yang dia tanamkan padamu. Jika dia menyerang kita, dia akan jatuh juga. Investasi Choi Jin Chul berhubungan denganmu, benarkan?”

Joon Ha menjawab benar. Ny Tae berkata kalau kita memerlukan taget investasi semikonduktor, pabrik, dan percetakan sistematis. “Pertama yakinkan kau merebut rumahnya!”
Joon Ha : Ibu?
Ny Tae : “Karena aku memilikmu, aku begitu tegar. Ini akan segera berakhir kan?”
Workshop di mulai, Na Mi Sook menjadi pembicara. Ia mengatakan meskipun lupa tentang arti dari semua ini tapi perlu diingat satu hal. Yang namanya penjualan pada akhirnya akan bertemu dengan cinta dan seseorang. “Dan pada akhirnya kau akan memilih antara cinta dan seseorang. Tak tahu kalian suka atau kau pergi. Cinta atau pergi. Sama seperti make up, perempuan hanya berlaku 2x dalam hidup mereka.”
Woo Ri sangat serius mendengarkan apa yang disampaikan Na Mi Sook. Dong Joo tersenyum memperhatikannya.
“Ketika mereka cinta, ketika meraka pergi!” Mi Sook mengeluarkan lipstik merahnya, “Saat kau cinta : merah muda (pink) saat kau pergi : merah terang!”

Ponsel Woo Ri tiba-tiba berdering, semua melihat ke arahnya. Woo Ri minta maaf dan menjawab teleponnya menjauh. Dong Joo penasaran dan mengikuti Woo Ri.
Ternyata Seung Chul yang menelepon Woo Ri. Woo Ri mengatakan kalau ia tengah bekerja, ia akan menutup teleponnya. Seung Chul hanya ingin memastikan dan ternyata Woo Ri ada diluar, ia meminta Woo Ri cepat pulang. Ia akan menanda tangani kontrak dengan toko.
Woo Ri tak bisa pulang sekarang karena ini hari pertamanya bekerja, ia harus melakukan yang terbaik. Seung chul tanya dimana Woo Ri. Woo Ri minta maaf ia akan memberi tahu Seung Chul nanti. Woo Ri langsung menutup telepon.
Woo Ri berbalik dan ia terkejut Dong Joo sudah berdiri di sana, Dong Joo menatap heran. Woo Ri berjalan sesantai mungkin, Dong Joo menahan tangan Woo Ri dan memberikan sebuah ponsel untuknya.
“Life change (perubahan hidup). Saat kau merubah hidupmu, rubahlah ponselmu!” ucap Dong Joo. “Mulai sekarang, apa saja yang kau kerjakan dan dengan siapa laporkan padaku!”
Woo Ri tersenyum senang, “Kenapa? Kenapa aku harus melakukan itu?”
Dong Joo : “Karena kau pegawaiku dan aku Bos-mu!” Dong Joo berlalu dari hadapan Woo Ri.
“Alasan yang buruk!” ucap Woo Ri. Ia memandang ponsel barunya yang bagus, cantik dan bercahaya.
Woo Ri jingkrak jingkrak senang karena Dong Joo memberinya ponsel baru dan Eng Ing Eng ketika ia kembali ke tempat Workshop, ia terkajut melihat semua peserta workshop juga memiliki ponsel yang sama seperti dirinya.
Woo Ri menatap heran, ternyata Dong Joo memberikan ponsel itu untuk semua orang bahkan Na Mi Sook juga. Na Mi Sook langsung memakai ponsel itu untuk berkaca.
“Aishhh...” Woo Ri mendesah kesal, ia celingukan mencari Dong Joo. Dong Joo berdiri tak jauh darinya.
Dong Joo mengirim sms, “Aishhh kenapa?”
Woo Ri langsung mendelik menatap kesal. Dong Joo kembali mengirim sms, “Apa kau mau aku hanya menjadi bosmu? Kenapa?”
Woo Ri kembali mendelik. Dong Joo tersenyum geleng-gelang, “Terlalu berharap!” ucapnya. Hehe.

Dong Joo memberi pengumuman pada semuanya dan mengatakan kalau sekarang waktunya makan. Selanjutnya akan ada permainan tim di lapangan rumput. Tapi peserta workshop mengeluh kenapa setelah makan mereka harus melakukan itu bukankah itu hal yang buruk.
Woo Ri membenarkan untuk melakukan itu peserta workshop harus mengitari seluruh taman dan akan mengeluarkan banyak energi. “Kalau begitu ayo kita makan setelah melihat semua tanaman!”
Semua peserta workshop setuju usul Woo Ri. Woo Ri melirik menang ke arah Dong Joo. Dong Joo tersenyum dan mengelus rambut Woo Ri.
Min Soo berada di kantor Energy Cell, ia tengah menunggu telepon dari seseorang dengan cemas. Kemudian telepon kantor berbunyi ia menjawabnya, telepon dari Tuan Cheng.
Min Soo berbicara menggunakan bahasa inggris, ia mengatakan kalau bosnya sedang berada di luar kantor dan bisa meninggalkan pesan padanya.

“Kita akan mengirimkan penawaran pada Tuan Cha, aku akan mengirim fax!” ucap Tuan Cheng. “Pabrik Shen Young akan memberikan bahan anak perusahaan Energy Cell untuk 3 tahun ke depan. Pastikan anda menanda tangani kontrak eksklusif dnegan kami ketika masuk ke pasar China!”
Min Soo berkata ia sudah menerima fax-nya, ia berjanji akan terus menjaga kerja sama dengan Tuan Cheng.
Min Soo langsung mengirim email ke Dong Joo. Joon Ha datang dan heran karena kantor sangat sepi. Min soo bilang kalau semuanya tengah menghadiri workshop di taman.
Min Soo mengajak Joon Ha pergi ke sana. Tapi Joon Ha menolak, ia ada urusan lain dan menitipkan sesuatu untuk Dong Joo. Min Soo penasaran berkas apa yang dititipkan Joon Ha untuk Dong Joo. Min Soo membukanya.
Joon Ha : “Bo Young sekarang menjadi bagian dari Energy Cell Group. Ini adalah kontrak 5 tahun untuk bahan baku pada kami!”

Min Soo berkata bukankah perusahaan itu yang terakhir menolak kerja sama. Joon Ha membenarkan, tapi ia sudah membeli setengah saham perusahahan itu. Oleh karena itu, kita tak ada pesaing lagi. sekarang tidak memiliki masalah karena tak ada yang bisa menghentikan mereka.

Min Soo ingin tahu dimana Joon Ha mendapatkan semua uang itu. Joon Ha berkata kalau ia memiliki beberapa uang. “Apakah kau tak tahu? Energy cell harus melakukan yang terbaik atau kalian akan ditendang keluar!”
Dong Joo membuka email dari Min Soo yang berisi pesan kontrak kerja sama dengan perusahaan China. Dong Joo tersenyum kemudian ia menatap peserta workshop yang tengah melihat Young Kyu yang sedang berkebun.
Young Kyu menunjukan berbagai macam tanaman yang boleh di makan dan tak boleh dimakan. Woo Ri berkata kalau Young Kyu itu ayahnya, tanyakan padanya semua tanaman yang ada disini dia berpengalaman.
Na Mi Sook melirik dan mengamati Young Kyu, “Seperti orang yang berbeda!” sahutnya.
Min Soo menyusul ke taman dan membawa berkas yang dititipakn Joon Ha untuk Dong Joo. Ia langsung memberikan berkas kontrak itu pada Dong Joo, “Pacarmu memintaku memberikan ini padamu!”
Min Soo mengatakan kalau Joon Ha membeli perusahaan Bo Young. “Andai aku tahu akan seperti ini.... aku tak perlu susah-susah mengontrak Pabrik China!” Min Soo kesal bukan main.
Dong Joo juga kesal dan bertanya dimana Kakaknya. Woo Ri melihat Dong Joo dan Min Soo bicara, kemudian ia melihat Dong Joo berlalu dengan kekesalan. Woo Ri menatap heran.
Dong Joo menghubungi Joon Ha, ia marah. Siapa yang meminta Kakaknya melakukan semua ini. Ia tahu semuanya. “Tapi kenapa kau melakukan ini? membuatku merasa lelah.”
Joon Ha bilang seharusnya Dong Joo senang sudah mendapatkan satu perusahaan lagi. Dong Joo meminta Kakaknya berhenti ikut campur.

Joon Ha : “Kau yang berhenti membuang waktu berusaha mendapatkan perusahaan lain dan gunakan waktumu untuk produk manufaktur!”
Dong Joo : “Kakak kenapa kau seperti ini?”
Joon Ha : “Dong Joo, itu benar-benar Choi Jin Chul. Dia menarik banyak investor. Jika ini berlanjut, kau bisa melanjutkan Energy Cell dan aku bisa menusuk Choi Jin Chul dari belakang!”
Dong Joo : “Kakak, ini begitu memusingkan, ayo bertemu. Ayo bertemu dan bicara!”
Tak ada jawaban dari Joon Ha. Joon Ha menutup teleponnya, Dong Joo kembali menelepon Joon Ha. Woo Ri memperhatikan Dong Joo dari jauh.
Ny Tae menemui seseorang sepertinya pria ini seorang pengacara. Ny Tae berkata ia mendapatkan banyak uang saat menjual real estate, “Ada sejumlah uang yang akan dikirim dari sana dan semua yang ada di akun ini aku ingin membeli semua saham Woo Kyung!” Ny Tae menyerahkan buku rekening.
Pria itu mengatakan kalau sekarang bukan waktu yang tepat karena biayanya meningkat. Ny Tae tak peduli dengan harga sahamnya, “Pastikan pembeliannya atas nama akun ini!”
Pria itu tanya apa Ny Tae tak mendengar apa-apa dari Joon Ha. Ny Tae belum tahu, apa itu. Pria itu mengatakan kalau tanda tangan yang berwenang sudah berubah jadi tak bisa menggunakan tanda tangan lagi.
Ny Tae : “Apa Joon Ha melakukan itu? Kapan dia melakukan itu?”
Pria itu menjawab itu terjadi saat restrukturisasi Energy Cell group, dia membeli sebagian saham Woo Kyung. “Apa kau benar-benar tak tahu?”
Ny Tae merasa ini ada sedikit kesalahpahaman, ia ingin melihat rekening itu. Pria itu berkata ini sedikit sulit.
Ny Tae : Ketua Zi?
Ny Tae langsung menemui Joon Ha. Joon Ha tengah menelepon seseorang. Ny Tae yang sudah kesal langsung merebut dan mematikan ponsel Joon Ha. “Siapa yang menyuruhmu membekukan akun? Dan merubah password akunmu?”
Joon Ha hanya berkata kalau mulai sekarang ia akan melakukan yang ia mau. Ny Tae mengatakan kalau itu bukan uang Joon Ha dan meminta membuka blokirannya sekarang. Joon Ha menyampaikan kalau akun itu tak ada uangnya.
Ny Tae meyakinkan kalau hari penggulingan Choi Jin Chul belum datang. Joon Ha berkata kalau ia tak akan memberikannya pada Choi Jin Chul. “Investasi semikonduktor akan bangkrut jika kita mengambil uangnya!”
Ny Tae : “Kita baru saja mulai. Jadi kau akan menyerah? Segala sesuatu yang kita lakukan sampai saat ini akan sia-sia. Biar saja dia punya hutang pembelian dan kemudian kita bisa mengambil rumahnya!”
Joon Ha : “Ibu, jika kita melanjutkan ini aku akan dalam bahaya. Ibu, ayo bantu Dong Joo sekarang!”
Ny Tae : “Choi Jin Chul tak bisa merendahkanmu lagi. Jika dia meraih kakimu, dia akan mati juga. Menggulingkannya dan merebut rumahnya!”
Joon Ha : “Tidak. Aku akan lakukan dengan caraku sekarang. Ibu bilang, ibu percaya padaku!”

“Apa kau melakukan seperti yang kusuruh?” Bentak Ny Tae.
Joon Ha ikut meninggikan suaranya, “Ibu bilang Ibu hanya akan percaya padaku!”
“Apa kau bilang kau tak akan mematuhiku? Ibu bicara padamu!” Ny Tae kembali membentak.
Joon Ha melirihkan suaranya, “Ibu. Saat ini tak boleh. Hanya saat ini, pecayalah padaku. Karena aku anakmu!”
Park Dae Ri mengatakan pada Dong Joo kalau ia sudah memeriksa semua barang yang dipesan.
Dong Joo melihat Woo Ri sibuk membawa makanan. Dong Joo meminta itu diberikan padanya. Woo Ri menolak, ia saja yang membawanya. Ia akan membawanya secepat kilat.

Woo Ri berjalan cepat membawa makanan dan tepat saat itu Paman Lee berdiri tiba-tiba dan menabrak Woo Ri. Makanan itu tumpah mengenai keduanya dan keduanya kepanasan. Dong Joo terkejut melihat itu.
“Paman apa kau terluka?” tanya Woo Ri cemas. Dong Joo juga mencemaskan Woo Ri, “Apa kau terluka?”
Paman Lee mengambil sesuatu yang ia duduki, semangkok sambal. Woo Ri mencemaskan Paman Lee dan tak mempedulikan dirinya. Dong Joo membentak cemas, ia bertanya apa Woo Ri terluka.
Young kyu pulang memanggil ibunya dan ia melihat ibunya tengah makan bersama Seung Chul. Young kyu bilang ia datang untuk membuatkan makanan untuk ibunya tapi ibunya sudah makan bersama Seung Chul.
Nenek berkata disini banyak makanan, Seung Chul sudah menyiapkan ini dan meyuruh putranya cepat makan.

“Bukankah aku calon cucumu yang baik!” sahut Seung chul mulai menjilat Nenek hehe. Young kyu tak mengerti calon cucu apa.

Nenek mengatakan kalau Seung Chul akan menjalankan restauran ayam dan akan menikahi Woo Ri.
Seung Chul : “Nenek, berapa kali aku harus mengatakan ini. Bukan restauran ayam tapi kafe ayam!”
Nenek mengumpat, “Tutup mulutmu. Sebelum ku injak-injak tubuhmu. Makan saja makananmu!”
Seung Chul berbisik pada Young Kyu meminta Young Kyu menelepon Woo Ri dan suruh dia cepat pulang. Sebelum Young Kyu menelpon, teleponnya berdering lebih dulu. Itu dari Woo Ri. Tapi bukan Woo Ri yang bicara melainkan Paman Lee.
Paman Lee meminta Young Kyu membawakan celana ganti untuknya karena celananya terkena sambel. 

Seung Chul merebut ponsel dan bicara dengan ayahnya, ia akan menutup teleponnya karena ia ingin bicara dengan Woo Ri. Paman Lee berkata kalau Woo Ri juga ada bersamanya dan meminta putranya membawakan celana ganti. Seung Chul tanya ayahnya ada dimana.
Young Kyu menyahut kalau sobatnya sekarang ada di kebun. “Dia bermain dengan Woo Ri dan Cha Dong Joo!”
Mata Seung Chul melotot mendengar nama Dong Joo, “Apa paman bilang Woo Ri bersama Cha Dong Joo?” Young Kyu membenarkan Woo Ri dengan Cha Dong Joo dan orang-orang kantor.
Young Kyu menjelaskan pada ibunya kalau Woo Ri sekarang bekerja dengan Dong Joo. Woo Ri menjual mobil dan make up.
Seung Chul langsung menuju tempat workshop akan melabrak Dong Joo, ia celingukan mencari Dong Joo. Dari balik sekat ayahnya muncul dengan nampan yang menutupi boxernya hahaha.
Seung Chul tanya pada ayahnya dimana Woo Ri. Ayahnya menjawab tak tahu, ia meminta celananya. Seung Chul kembali bertanya kemana Cha Dong Joo pergi. Ayahnya kembali menjawab tak tahu, “Berikan celanaku!”
Seung Chul emosi bukankah ayahnya tadi bilang bersama Woo Ri. Paman Lee kesal putranya berani bicara keras padanya. Ia berjalan menghampiri putranya, “Berikan celanaku lalu aku akan beritahu dimana mereka!”
Seung Chul pura-pura menyembunyikan celana ayahnya, ia ingin ayahnya mengatakan keberadaan Woo Ri dan Dong Joo lebih dulu kemudian ia akan memberikan celana itu.
Paman Lee berkata kalau mereka ke rumah Dong Joo, “Mana celanaku!”
“Tak ada!” ucap Seung Chul langsung lari menuju rumah Dong Joo sambil mengumpat.
Paman Lee kesal bukan main, anak apa yang sudah membohongi ayahnya. Ia langsung kembali ke balik sekat melindungi dirinya, malu karena tak pakai celana. Hehe.

Joon Ha tiba di rumah Dong Joo ia membawa belanjaan, Ia merasa ragu untuk masuk.
Woo Ri mengenakan kemeja dan celana panjang milik Dong Joo (mungkin), ia mengeluh kenapa mereka lama membawakan pakaiannya. Memakai baju ini merusak harga dirinya. Hehe.
Dong Joo langsung menarik Woo Ri ke wastafel, ia menggulung baju yang dipakai Woo Ri dan memeriksa luka di tangan Woo Ri yang terkena masakan panas tadi. Woo Ri mengatakan kalau itu tak apa-apa.
Dong Joo mengucurkan alkohol, Woo Ri mengaduh. Kemudian ia berkata tak sedikitpun merasa sakit. Ini akan lebih baik setelah tidur. Dong Joo kembali menuangkan alkohol. Woo Ri mengatakan kalau itu akan sia-sia. Dong Joo mengucurkan alkohol satu botol. Woo Ri bilang Dong Joo tak usah menuangkan semuanya.
Dong Joo merasa ini salahnya, ia langsung menarik dan memeluk Woo Ri. Joon Ha melihatnya, ia terlihat sangat sedih. Matanya berkaca-kaca hampir menangis, tak sanggup dengan apa yang dilihatnya.
Dong Joo : “Bong Woo Ri, kenapa kau jadi seperti ini? Kalau sakit katakan saja atau mungkin lebih baik menangis!”
Woo Ri melepas pelukan Dong Joo dan ia menatapnya, “Ini sakit. Lepaskan tanganku!”
Dong Joo melepas tangan Woo Ri dan Woo Ri langsung memeluk Dong Joo erat.
Joon Ha meninggalkan belanjaannya di meja.

Joon Ha berada di luar bersama kesedihannya dan ia melihat kedatangan Seung Chul yang terpogoh-pogoh menuju rumah Dong Joo.
Seung Chul langsung masuk rumah tanpa permisi. Ia melihat posisi Woo Ri dan Dong Joo seperti sedang berpelukan, padahal Dong Joo tengah mengobati tangan Woo Ri. Dan memang posisinya mirip seperti Dong Joo memeluk Woo Ri dari belakang. Woo Ri memberi tahu Dong Joo sepertinya ada yang datang. Dong Joo meminta Woo Ri diam, ia tengah mengompres tangan Woo Ri.
Seung Chul langsung menarik paksa tubuh Dong Joo. Woo Ri terkejut melihat kedatangan Seung Chul. Seung Chul mengamati pakaian yang dikenakan Woo Ri, ia langsung menggandeng dan mengajak Woo Ri pergi dari sana. Woo Ri meringis kesakitan. Dong Joo menahan tangan Seung Shul dan berkata kalau tangan Woo Ri terluka.
“Kau itu siapa?” Seung Chul marah dan akan memukul Dong Joo tapi tangan Joon Ha menahannya, Joon Ha meminta jangan menggunakan kekerasan. “Kau juga siapa?” tanya Seung Chul pada Joon Ha.
Woo Ri tanya bagaimana Seung Chul bisa datang, ia mengajak Seung Chul pergi. Dong Joo melarang, ia harus mengobati tangan Woo Ri yang terluka lebih dulu. Seung Chul tambah marah melihat Dong Joo bersikap seperti itu pada Woo Ri. Joon Ha membentak Seung Chul, “Kenapa kau bertingkah begitu kasar?”
“Kau juga siapa?” Seung Chul tak kalah keras bicara.
“Cepat keluar!” suara Joon Ha bertambah tinggi.
“Dokter?” Woo Ri kaget baru kali ini ia melihat Joon Ha begitu marah.
Joon Ha meminta Woo Ri tetap disini. Jika Seung Chul masih bersikap seperti itu, ia tak menginzinkan Woo Ri keluar dengan Seung Chul.

Seung Chul tertawa sinis, “Hey Bong Woo Ri apa kau mengenal mereka dengan baik?” Woo Ri mengajak Seung Chul keluar untuk bicara. Tapi Seung Chul menolak ia tak bisa pergi dengan cara seperti ini, “Kenapa kau gunakan pakaian itu disini? Setelah ditipu oleh orang-orang ini dan bersumpah tak akan pernah lagi terlibat dengan mereka. Kenapa sekarang kau disini?”

Seung Chul mengeraskan suaranya, “Ibumu meninggal karena Woo Kyung. Kenapa kau bekerja untuk Woo Kyung? Aku perlu tahu semuanya, semuanya!”
Dong Joo berkata kalau ia tahu semua jawaban yang dibutuhkan Seung Chul, jadi bicara saja padanya. Joon Ha menyela meminta Dong Joo jangan menggunakan emosi. Ia mengajak Seung Chul keluar, Ia yang akan bicara dengan Seung Chul.
Seung Chul : “Aku peringatkan pada kalian. Sebelumnya... jika kau membuat Bong Woo Ri menangis lagi aku tak akan tinggal diam!”
Seung Chul meminta Woo Ri keluar karena ada yang harus ia bicarakan dengan Dong Joo dan Joon Ha, “Diantara kalian berdua siapa yang akan bertanggung jawab untuk Woo Ri? Silakan maju!”
Dong Joo langsung maju tapi Joon Ha mengahalangi dan mengatakan kalau Seung Chul sangat tegang. Dong Joo meminta Kakaknya diam.
“Kakak?” Seung Chul heran. “Jadi kalian Kakak beradik? Kalian berdua adalah si brengsek dari Woo Kyung!” Seung Chul menatap Woo Ri dan mengatakan kalau Woo Ri sangat hebat, “Kelihatannya mereka berdua berperang demi kau!” Woo Ri mengancam kalau Seung Chul tak pergi ia yang akan pergi.
Seung Chul menahan, “Kau. Kau, mulai sekarang jangan mengatai Bibimu. Setelah kehilangan anaknya, Ma Roo karena Woo Kyung dan hidup bergantung pada Woo Kyung, Bibimu ...”
Wow..... Joon Ha sangat terkajut mendengar apa yang baru saja dikatakan Seung Chul. Dong Joo juga kaget melihat apa yang barusan diucapkan Seung Chul.
Woo Ri memandang khawatir Joon Ha. Dong Joo menatap Kakaknya ia tak percaya.

Seung Chul : “Kenapa? Apa kau tak suka mendengar ini? Kau melakukan hal yang sama. Dengan anak-anaknya musuhmu yang membunuh ibumu!”
Woo Ri berusaha menarik Seung Chul agar tak bicara keterusan. Tapi Seung Chul menolak. Woo Ri berteriak pada Seung Chul, siapa Seung Chul sampai bisa mengatakan ini.

Joon Ha berjalan sempoyongan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, Kim Shin Ae adalah Ibu kandungnya. Dong Joo menghawatirkan Kakaknya, ia berusaha mengejar. Woo Ri akan ikut mengejar tapi Seung Chul menariknya. Joon Ha langsung menjalankan mobil, Dong Joo tak berhasil mengejar Kakaknya.
Entah bagaimana perasaan Joon Ha setelah mengetahui siapa ibu kandungnya. Ia mengingat kejadian ketika ia pertama kali bertemu Shin Ae di rumah Ny Tae ketika ia mengambil berkas beasiswa 16 tahun yang lalu.

Ketika itu Ayahnya, Young Kyu keceplosan bicara kalau Shin Ae itu ibu Ma Roo. Ma Roo langsung menemui Shin Ae dan bertanya apa Shin Ae mengenalnya. Ia anak Bong Young Kyu. Shin Ae terlihat terkejut. Kemudian Ma Roo bertanya pada Nenek siapa Shin Ae, Neneknya menjawab kalau Shin Ae itu putrinya, Bibinya Ma Roo.
Woo Ri berusaha menghubungi Joon Ha, tapi Joon Ha tak menjawabnya. Seung Chul melihat Woo Ri mondar mandir menelepon seseorang, ia merebut ponsel itu dan membaca nama yang dihubungi Woo Ri, “Apa yang kau lakukan? Ini Jang Joon Ha orang yang tadi kan? Apa yang kau lakukan dengan kedua orang itu?”
Woo Ri meminta Seung Chul mengembalikan ponselnya. Seung chul heran dengan sikap Woo Ri, “Kau bilang salah satunya anak dari pemilik Woo Kyung? Yang satunya lagi saudaranya. Aku tak tahu apa yang mereka lakukan, tapi kau tak seharusnya ada disana. Kau pikir mereka itu baik untukmu? Apa kau bodoh? Mereka hanya mempermainkanmu. Karena saat aku tanya siapa yang mau bertanggung jawab atasmu kau lihat tak ada satu pun yang maju!” (Dong Joo kan maju....)

Woo ri bilang itu bukan masalah dan kembali meminta ponselnya.
“Apa kau gila?” Seung Chul tambah marah. “Karena beberapa orang kaya menyukaimu, apa kau tak menggunakan otakmu?”
Woo Ri : “Benar. Karena ini begitu rumit. Benar, sekarang aku tak tahu apa yang terjadi. Jadi hentikan itu!”
Seung Chul : “Apa seterusnya kau akan seperti ini? Dari pada nanti kau akan menyesal tolong dengarkan aku. Berhenti berhubungan dengan mereka!”

Ponsel Woo Ri berdering, ia meminta ponselnya. Seung Chul ingin Woo Ri berjanji padanya. Woo Ri memohon Seung chul memberikan ponselnya karena ia harus menjawabnya.
Melihat Woo Ri yang memohon-mohon padanya hati Seung Chul luluh, ia menyerah mengalah. Woo Ri minta maaf ia nanti akan menjelaskan semuanya pada Seung Chul.
“Tak usah!” ujar Seung Chul. “Jawab saja teleponmu!” Seung Chul berlalu.
Joon Ha berada di dalam mobil memandang ponselnya yang terus berdering. Ia tak menjawabnya ia mengabaikan semua telepon yang masuk. Ia memarkir mobilnya tepat di depan apartemen Shin Ae.
Joon Ha akan pergi dari sana tapi ia melihat Shin Ae keluar bersama Presdir Choi. Joon Ha terkejut melihat Shin Ae begitu perhatian pada Presdir Choi. Merapikan dasi dan bersikap mesra pada Presdir Choi.
Presdir masuk ke mobilnya, tak lupa Shin Ae berkata kalau Choi Jin Chul itu satu-satunya bagi dirinya. Presdir menutup pintu mobil Shin Ae mengetuk kaca mobil, “Sayang hubungi aku saat kau menemukan Ma Roo. Sayang telepon aku!” ucapnya begitu mobil Presdir berjalan.
Shin Ae akan kembali, tapi ia dikejutkan dengan kehadiran Joon Ha yang tiba-tiba berdiri tak jauh darinya. Shin Ae marah kenapa Joon Ha begitu saja datang tanpa menyapanya.
Joon Ha tanya, kenapa Choi Jin Chul ada disini. Karena sudah terlanjur ketahuan, Shin Ae tak bisa mengalak lagi. “Haruskan aku mengatakannya? Kalau kau punya mata kau pasti tahu. Kau tahu, jadi kenapa kau tetap bertanya?”
Shin Ae tertawa meremehkan, “Kenapa? Apa kau akan mengadukannya pada wanita yang kau sebut ‘Ibu’ itu? lakukan saja sesukamu. Tapi Dokter Jang, kau pasti paham. Kenapa kita hidup seperti ini? Semua orang hidup dari seseorang, jika aku tak punya uang tapi saat kau butuh sesuatu. Kau tahu rasanya kan? Mari kita saling membantu dan bertahan hidup!”
Joon Ha tak menyangka ternyata ibu kandungnya orang seperti ini, ia mengepalkan tangan menahan amarah yang memuncak.
Young Kyu memegangi kaki ibunya, ia ingin memotong kuku kaki ibunya. Tapi Nenek menolak ia kegelian.
Telepon rumah berdering Nenek meminta putranya menjawab telepon dulu. Young kyu mengerti ia langsung menjawab teleponnya, tapi tak ada jawaban dari si penelepon. Young Kyu heran dan meniup-niup teleponnya hehe.
Ternyata Joon Ha yang menelepon. (Ya ampun tatapan matanya) Nenek tanya siapa yang menelpon, young kyu mengatakan kalau tak ada jawaban dari si penelepon.
Nenek meminta teleponnya. Nenek langsung mengumat pada si penelepon ia mengancam akan menutup teleponnya.
“Nenek, aku Ma Roo!” ucap Joon Ha. Nenek terkejut mendengarnya.
Joon Ha : “Seseorang yang kau temui di rumah sakit!”
Nenek terbata-bata, “Ma... Ma... Ma...!”
Joon Ha : “Kau bilang kau akan menutup teleponnya kan?”
“Tidak. Tidak. Aku tak akan menutup. Jangan ditutup dokter!” pinta Nenek memanggil Joon Ha dengan sebutan dokter agar Young Kyu tak curiga.
Young Kyu heran, dokter? Nenek mencari alasan tak menyebut nama Ma Roo di depan Young Kyu. Ia meminta Young kyu mengambilkan air. Young kyu segera menuruti perintah ibunya.

Nenek tanya dimana Ma Roo. Joon Ha berkata ada yang ingin ia tanyakan, ia ingin Neneknya segera keluar, “Datang sendiri. Jika Nenek bersama orang lain aku akan pergi lagi!” Nenek mengerti ia akan melakukan apa yang dikatakan Joon Ha, ia akan menemui Joon Ha.
Joon Ha masih duduk di mobil menunggu Neneknya datang dan tatapan matanya benar-benar penuh kebencian.




re-posted and re-edited by : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment