Thursday, October 03, 2013

Can You Hear My Heart Episode 19

Dong Joo mengandarai mobilnya ia terus mencoba menghubungi Joon Ha tapi panggilannya selalu mailbox.

Dong Joo pun meninggalkan pesan, “Kakak dimana kau? Kenapa kau membuatku khawatir? Angkatlah teleponmu! Kakak, Kak Joon Ha. Kau tahu aku tak bisa mendengar. Kau bisa berteriak melepaskan frustasimu, apapun dapat kau katakan. Tapi hubungi aku kembali, apa kau mengerti?”

Nenek mengendap-endap keluar, ia berjalan menuruni tangga berpegangan pada pegangan tangga. Nenek mengeluh kenapa ia harus menuruni tangga terkutuk ini karena ia pernah jatuh dari sana.
Nenek turun pelan-pelan, ia merasakah sakit di kakinya. Ia memutuskan untuk duduk dan istirahat sebentar di tangga. Tapi ia terkejut melihat Joon Ha sudah menunggunya di bawah tangga dengan tatapan penuh kebencian.
“Ma Roo!” panggil Nenek. Joon Ha langsung menarik paksa Nenek turun dari tangga. Nenek tanya mau kemana. “Ikut aku!” kata Joon Ha.

Joon Ha terus menarik paksa Nenek yang berjalan tertatih-tatih, “Apa kau mau membunuh Nenekmu? Kenapa kau ini? Ya Tuhan pelan-pelan saja. Nenekmu bisa mati!” Nenek melepaskan tarikan tangan Joon Ha, ia jongkok di jalan mengeluh kakinya sakit.
Nenek : “Ma Roo, Ma Roo. Ya Tuhan, Nak bagaimana kau tahu kalau aku mencarimu dan menemukanku disini? Terima kasih!”
Joon Ha dengan tatapan dingin bertanya siapa Shin Ae. Nenek kaget. Joon Ha kembali bertanya siapa Shin Ae. Nenek terbata-bata menjawabnya, “Shin Ae... dia... apa pentingnya dia untukmu? Ma Roo ayo pulang. Ayahmu menunggumu!” Nenek mulai menangis dan memegang kaki Joon Ha.
“Aku tanya padamu siapa itu Shin Ae?” bentak Joon Ha memandang penuh kebencian. Ia ikut jongkok. “Kali ini aku takkan bisa dibohongi lagi. Dibohongi seperti ketika aku kecil dulu. Katakan padaku siapa itu Kim Shin Ae? Katakan!”
Nenek panik kenapa Joon Ha tiba-tiba seperti ini, “Cucuku kenapa kau seperti ini?”
“Aku ingin tahu semuanya!” ujar Joon Ha. “Dari mulutmu sendiri, katakan padaku siapa itu Kim Shin Ae?”
Nenek mengaku dan ia yang bersalah. Nenek menangis pasrah, “Aku sudah melakukan kesalahan padamu. Ma Roo, aku salah. Tapi kau harus terima!”
Joon Ha : apa? Apa!
Nenek : “Ibumu. Ibumu. Itu benar. Shin Ae adalah ibumu. Ya dia ibumu!”

Nenek menangis ingin memeluk Joon Ha tapi Joon Ha yang masih tak percaya kalau ibu kandungnya adalah Shin Ae malah mendorong Nenek. Nenek terus memohon maaf ia mengaku salah tapi cucunya harus bisa menerima itu.
“Terima apa?” Tanya Joon Ha dingin.
Nenek : “Ibumu. Shin Ae melakukan itu agar dia bisa hidup terus. Ketika dia baru pulang membawa bayinya yang baru lahir, ketika itu usianya lebih muda darimu sekarang. Ia melakukannya karena ia masih anak-anak dan miskin. Pahamilah dan maafkanlah ibumu. Jangan salahkan Dia, Ma Roo!”
Joon Ha : “Kenapa aku tak boleh menyalahkannya? Biarpun dia Bibiku, Ibuku atau siapapun itu tak kan merubah apapun. Aku tak punya Ibu. Itu karena kalian bilang dia sudah meninggal, tidak apa-apa. Tapi..... siapa ayahku?
Bong Young Kyu... bukan ayahku. Dia bukan ayahku. Ayah yang ingin selalu kuhindari, ayah yang selalu aku ingin dia mati. Orang yang selalu menyiksa hatiku setiap hari. Dia bukan Bong Young Kyu. Aku bukan anak dari Idiot itu!” teriak Joon Ha.
Nenek hanya bisa menangis, ia terus mengaku salah.
Joon Ha : “Kenapa kau melakukannya?”
Nenek : “Ini semua salahku karena aku tak berpendidikan dan miskin. Aku tak menyangka ini akan membuatmu menderita. Tak sekalipun aku berniat seperti itu. Memiliki dirimu di sampingku dan mendaftarkanmu atas nama Bong Young Kyu, ini semua ideku. Aku tak menyangka kalau Shin Ae akan kembali setelah sekian lama.”
Joon Ha : “Atas izin siapa? Atas izin siapa kau menjadikanku sebagai anak Bong Young Kyu. Kalau ternyata ayahku adalah..... Choi Jin Chul...?”
Nenek terkejut mendengar tebakan Joon Ha, “Ma Roo tidak tidak tidak. Choi Jin Chul bukan ayahmu. Penjahat itu menyuruh Shin Ae untuk mengaborsi ketika itu. Tidak tidak!”
Joon Ha lemas ternyata benar ayah kandungnya adalah Choi Jin Chul. Nenek terus menangis menyebut nama Ma Roo. Nafas nenek tersengal ia merasakan sakit di dadanya.

Young Kyu tidur di kamar Woo Ri. Woo Ri menyelimuti ayahnya.
Woo Ri panik dan ia segera keluar rumah. Di depan rumah Dong Joo datang mencari Joon Ha. Woo Ri yang panik berkata kalau Nenek tak ada dia menghilang.
Nenek masih menangis, ia mengatakan kalau Choi Jin Chul bahkan tak tahu kalau putranya lahir, “Dia meninggalkan ibumu lalu menikahi wanita kaya. Penjahat itu tak bisa menjadi ayahmu. Dia bukan ayahmu dia bukan ayhamu.”
Joon Ha menatap Nenek, “Benar. Dia bukan ayahku. Aku kesini bukan untuk mencari orang tuaku. Tapi untuk mencari tahu siapa yang telah menghancurkan hidupku. Apa kau pikir kau bisa menyimpan rahasia ini sampai mati?”
Nenek : Ma Roo?

Joon Ha : “Setelah mengacaukan hidupku seperti ini, sekarang kau minta maaf? Apa kau ingin ku maafkan? Kau tak tahu bagaimana aku hidup selama ini kan? Kau tak tahu bagaimana aku hidup.
Tahukah kau walaupun aku makan enak dan memakai pakaian bagus, di sudut hatiku...Ya benar aku anak durhaka yang meninggalkan keluargaku. Aku sampah yang lebih rendah dari pada binatang.
Karena dosaku itu, bagaimana pun aku berusaha hidup bahagia. Tapi Aku tetap tak bisa, aku selalu takut dan sendirian.
Kenapa aku bisa seperti ini? Kenapa aku harus hidup seperti itu? kanapa? Kenapa aku harus hidup seperti itu? anak durhaka yang telah meninggalkan Bong Young Kyu dan Bong Woo Ri. KENAPA AKU? KENAPA AKU HARUS YANG HIDUP SEPERTI ITU?”

Joon Ha berdiri dan berteriak sambil menangis, “Kenapa aku? Kenapa aku harus hidup seperti itu?”
Dengan penuh kebencian Joon Ha berkata, “Kim Shin Ae yang melahirkanku kedunia ini telah membuangku. Choi Jin Chul mencoba membunuhku sebelum aku lahir. Dan kau telah membuatku hidup sebagai anak si bodoh Bong Young kyu.”
Joon Ha memegang bahu Nenek menatap tajam, “Jangan mati. Jangan mati dan teruslah hidup. Kim Shin Ae, Choi Jin Chul, Nenek. Jangan mati sampai aku menyuruh. Hiduplah terus dan yang akan kulakukan mulai sekarang HARUS KALIAN SAKSIKAN!”
Joon Ha langsung pergi meninggalkan Nenek sendirian di jalan. Nenek berusaha memanggil tapi apa daya karena ia menangis sesenggukan dan suara pun tak bisa keluar. Nenek langsung ambruk.

Woo Ri kesana kemari mencari Nenek ia juga berteriak memanggil Nenek. Woo Ri melihat mobil Joon Ha terparkir di jalan tak jauh dari rumahnya. Woo Ri mengamati mobil itu tapi tak ada siapa-siapa di dalam mobil.
Dan jreng Woo Ri berpapasan dengan Joon Ha. Mata Joon Ha masih penuh air mata. Woo Ri mendekat tapi Joon Ha mangacuhkan dan menuju mobilnya. Woo Ri menatap khawatir jalan yang baru di lalui Joon Ha.

Dong Joo membantu Woo Ri mencari Nenek, tapi ia tak menemukannya Dong Joo terlihat cemas.

Woo ri berjalan menyusuri jalanan yang di lewati Joon Ha tadi. Woo Ri sangat terkejut melihat Nenek tergeletak di jalan.
Woo Ri berusaha membangunkan Nenek yang sudah lemas. “Ma Roo Ma Roo!” ucap Nenek lemah dengan mata terpejam.

Dong Joo sampai dimana Woo Ri dan Nenek berada, ia terkejut. Dong Joo tanya apa Woo Ri sudah memanggil ambulance, Woo Ri menggeleng. Nenek bergumam, “Aku yang salah!”
Dong Joo langsung menekan 911 (119) diponselnya. Tapi bingung ia harus bicara apa, ia tak bisa mendengar ucapan orang yang diteleponnya. Dong Joo meminta Woo Ri bicara di telepon dan menyebutkan dimana lokasi mereka sekarang. Woo Ri mengerti ia menerima ponsel dan langsung menyebutkan dimana posisinya berada. Dong Joo menyangga Nenek dan memperhatikan apa yang digumamkan Nenek.
Young Kyu kebingungan harus bagaimana. Paman Lee dan Seung Chul juga ikut bingung. Paman Lee berkata harus cepat. Young Kyu tanya ke sohibnya di mana ibunya. Paman Lee berkata mungkin Nenek mengidap penyakit tidur sambil berjalan. Young Kyu tanya apa itu. Paman Lee mencoba menjelaskan, tapi Seung Chul meminta ayahnya cepat karena Woo Ri sudah menunggu.

Bibi Lee tiba dan berkata kalau mobilnya sudah siap. Ia bertanya pada suaminya apa sudah membawa dompet. Paman Lee berkata apa gunanya dompet toh tak ada isinya.
Young Kyu bilang ia punya uang, Young Kyu merogoh kantongnya tapi tak ada, ia melepas semua baju mencari uangnya.

Bibi Lee tak sabar melihatnya ia langsung turun mengambil uang. Karena terburu-buru Seung Chul meminta yang lain di rumah saja, ia yang akan ke sana dan akan menghubungi ketika sampai di sana. Seung Chul segera berangkat ke rumah sakit menyusul Woo Ri.

Di rumah sakit, Woo Ri panik meminta Nenek membuka mata. Dokter langsung memeriksa Nenek. Woo Ri cemas apa Neneknya tak apa-apa. Melihat kepanikan Woo Ri, Dong Joo memintanya untuk tenang.

Dokter bertanya pada Dong Joo pernahkah Nenek pingsan sebelumnya. Dong joo tak tahu apa yang dikatakan dokter karena mulut dokter separuhnya tertutup masker. Dong Joo meminta Woo Ri menjawabnya. Woo Ri berkata tak pernah dan ini pertama kalinya.

Dokter kembali bertanya bagaimana riwayat penyakit Nenek. Woo Ri mengatakan kalau Nenek di diagnosa menderita alzheimer dan juga nama penyakit lain yang Woo Ri lupa apa namanya. Dong Joo memperhatikan apa yang dikatakan Woo Ri. Dong Joo meminta Woo Ri mengingat nama penyakit Nenek.

Dong Joo menyarankan pada dokter untuk melihat catatan medis Nenek karena sebelumnya Nenek pasien di rumah sakit ini.
Woo Ri ingat nama penyakit itu Brain Aneurims. Perawat berkata kalau tekanan darah Nenek naik. Dokter mengatakan ada kemungkinan pembuluh darah di otaknya pecah. Kalau hasil pemeriksaannya keluar, Nenek harus segera di operasi.
Woo Ri cemas bukan main, “Ooo.. perasi? Apa itu berbahaya?”
Dokter meminta Dong Joo mengisi berkas formulir untuk operasi Nenek. Lagi-lagi Dong Joo tak bisa melihat apa yang dikatakan dokter karena mulut dokter tertutup masker (arghhh dokter maskernya dilepas napa)
Dong Joo bingung apa yang harus ia lakukan. Ia benar-benar tak mengetahui apa yang dikatakan dokter barusan.

Perawat meminta Dong Joo chek in dan lakukan pembayaran. Dan lagi-lagi Dong Joo tak melihat perawat itu bicara, ia membelakangi si perawat. Dong Joo menyadari si perawat barusan mengatakan sesuatu padanya, ia tanya apa yang perawat katakan barusan tolong katakan sekali lagi.

Seung Chul tiba di rumah sakit dan bertanya Nenek kenapa dan mana dokternya.
Dong Joo memperhatikan Seung Chul yang baru datang. Perawat kembali berkata lakukan pembayaran dulu. Dan kembali Dong Joo tak melihatnya. (Arghhh... greget saya)
Seung Chul bertanya ke perawat mana dokternya. Apa dia harus meninggal dulu baru di scan. Perawat meminta Seung Chul tenang. Ia sudah bilang ke Dong Joo berulang kali, “Kalian harus chek in dulu dan membayar baru bisa dilakukan scan!”
Dong Joo baru tahu maksud dari perawat. Seung Chul menatap dingin Dong Joo, kenapa Dong Joo tak segera melakukan chek in. Dong Joo diam. Woo Ri yang mengatahui situasinya menenangkan Seung Chul dan berkata kalau ia tadi panik dan ia yang akan segera check in. Seung Chul melarang, Woo Ri harus selalu berada di samping Nenek. Ia yang akan melakukannya, biar ia yang mengurus.
Dong Joo sedih ia tak bisa berbuat banyak untuk membantu Nenek dan Woo Ri.

Joon Ha menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia masih marah mengetahui siapa orang tua kandungnya. Ia teringat ucapan Presdir Choi ke Ny Tae ketika ia menerima beasiswa dulu, “Sikap baikmu tak ada gunanya mereka akan menjadi lintah untukmu!”

Joon Ha juga mengingat perlakuan kasar Presdir Choi ketika ia ke rumah Ny Tae dulu. Ia juga bicara dengan Shin Ae ketika itu, apa Shin Ae mengenalnya dan Shin Ae mengelak.
Joon Ha menangis mengingat semua itu.

Joon Ha juga mengingat ketika Ny Tae mengenalkan ia pada Presdir Choi dan Shin Ae dengan nama barunya Jang Joon Ha di pesta ulang tahun Woo Kyung. Dan juga ketika ia berbincang dengan Presdir bahwa ketika Presdir melihat Joon Ha untuk pertama kali di pesta Woo Kyung itu Presdir merasa Joon Ha mirip seseorang yaitu dirinya.
Joon Ha menangis meraung-raung di dalam mobil.

Young Kyu menunggu kabar ibunya di rumah. Paman dan bibi Lee tertidur. Tapi keduanya langsung terbangun begitu ponsel Young kyu berbunyi. Yang menelepon Seung Chul menenangkan Young kyu dan berkata kalau Nenek jadi seperti itu karena mengantuk. Young Kyu heran.

Seung Chul sebisa mungkin tak membuat Young Kyu khawatir. Katanya dokter akan memeriksa kepala Nenek dia sakit atau tidak. Young kyu berkata kalau ibunya tak sakit dia sehat, ia ingin bicara dengan ibunya.
Bibi Lee merebut ponsel, ia penasaran dengan keadaan Nenek. Ia bertanya pada putranya bagaimana keadaan Nenek yang sebenarnya. Seung Chul bicara jujur dengan ibunya. Ia mengatakan menurut pemeriksaan ada kerusakan ringan di otak Nenek.
Bibi Lee terkejut, rusak dimana?

Mendengar itu Paman Lee ikut panik. Ia merebut telepon dan bicara dengan putranya. Seung Chul meminta orang tunya jangan seperti itu nanti akan membuat Young Kyu panik. Seung Chul bilang ada penyumbatan pembuluh darah tapi itu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Young Kyu ingin tahu apanya yang rusak. Paman Lee berkata pada sobatnya supaya tak khawatir menurut dokter semuanya baik-baik saja. “Semuanya baik-baik saja. Hore!” Paman Lee bersorak agar Young Kyu tak cemas. Young Kyu dan Bibi Lee ikut bersorak. Young kyu kembali bicara dengan Seung Chul meminta ibunya segera dibawa pulang.
Woo Ri menunggui Nenek yang belum sadar. Dong Joo dan Seung Chul masih ada di sana. Dong Joo tanya apa sudah menelepon rumah. Woo Ri menjawab ya. Dengan sikap dingin karena masih kesal Seung Chul berterima kasih pada Dong Joo karena sudah membawa Nenek ke rumah sakit. Dong Joo minta maaf karena tak bisa membantu banyak.

Dong Joo tersenyum pada Woo Ri dan pamit mohon diri karena ada barang yang harus ia ambil di kantor bea cukai. Kalau Nenek sadar ia harap Woo Ri memberi tahunya.
Setelah Dong Joo pergi, Seung Chul tanya apa Woo Ri juga akan menginap di rumah sakit. Ia tak bisa sendirian di rumah sakit. Woo Ri meminta Seung Chul pulang saja, ia sudah merepotkan Seung Chul.

Seung Chul meminta Woo Ri jangan seperti itu, ia tak akan bisa tidur kalau meninggalkan Woo Ri dan Nenek di rumah sakit.
“Nenek cepatlah sadar!” ucap Seung Chul. Woo Ri terharu melihat perhatian Seung Chul pada keluarganya.
Nenek membuka matanya, Woo Ri senang Nenek sudah sadar. Nenek akan bicara tapi suaranya berat.
Dong Joo ternyata belum pergi, ia masih di sana dan merasa lega Nenek sudah sadar walaupun tatapannya masih sedih karena ia tak bisa berbuat banyak untuk membantu Nenek.
Dong Joo berdiri di samping mobil dan menatap gedung rumah sakit. Ia menekan panggilan cepat nomor 1 nya. Ia mencoba menghubungi kembali Joon Ha. Tapi tetap saja tak aktif.

Dong Joo kembali meninggalkan pesan, “Kakak. Kak Joon Ha. Aku tahu ini sulit bagimu. Nenekmu pingsan, dia menderita shock tapi dia sudah sadar sekarang. Aku di rumah sakit. Apa sih sulitnya? Kalau orang tak bisa mendengar membiarkan dokter bekerja, dia tak bisa banyak membantu.
Dokter perawat Cha Dong Joo. Malaikat pelindung. Kakak. Kau lari dari tugasmu. Cepatlah kesini sebelum kupecat kau!”
Dong Joo langsung terduduk lemas dan tertunduk.

Esok harinya di taman botani Young Kyu memunguti daun kering yang berserakan. Ia melihat ada mobil hitam yang lampu mobilnya masih menyala. Young Kyu langsung berseru sudah pagi harusnya lampu-lampu sudah dimatikan. Young kyu mendekati mobil sambil sesekali menguap.
Ternyata itu mobil Joon Ha. Joon Ha tertidur di dalam mobil dengan tangan menutupi wajahnya. Young Kyu heran kenapa ada orang yang tidur di dalam mobil. Young Kyu mengetuk pintu mobil dan Joon Ha terbangun.
Dengan sebelah matanya Joon Ha melirik ke samping dan dilihatnya Young Kyu. Joon Ha panik, ia langsung membuang muka supaya Young Kyu tak melihat wajahnya. Young kyu senang orang yang di dalam mobil sudah bangun.
Joon Ha menengok dan Young Kyu terkejut melihatnya. Joon Ha langsung pergi menjalankan mobilnya membuat Young Kyu terkejut. “Kau seharusnya tidur di rumah. Tidurnya di bawah selimut.”
Staf Energy Cell sibuk. Kim Bi tanya ke rekannya bagaimana barang-barang itu. Rekannya menjawab kalau bahan-bahan dari China seharusnya sudah masuk hari ini. Kim Bi senang.
Park Dae Ri berbicara di telepon, “Pabrik sudah memproduksi jadi jadwal pengirimannya sudah bisa tepat waktu.” Perusahannya juga tak akan terpuruk lagi karena keterlambatan produksi.

Min Soo datang membawa koran dan bertanya apa Dong Joo sudah datang. Park Dae Ri meminta Min Soo untuk tenang. Ia bilang kalau Dong Joo baru saja datang setelah mengambil barang di kantor bea cukai. Dia begadang semalaman. Ternyata Dong Joo tertidur di ruangannya (Dia semalaman di Rumah sakitkah???)
Min Soo masuk ke ruangan dan menatap Dong Joo yang tengah tertidur. Ia membidikkan tangannya ke wajah Dong Joo seperti sebuah bingkai. “Haruskah kuambil gambar pemandangan ini!” sahut Min Soo. “Tidak. Terlalu berharga untuk dibagi ke orang lain!” sambungnya. Min Soo gemes melihat Dong Joo yang tertidur pulas.
Min Soo ingin menyentuh wajah Dong Joo tapi niat itu ia urungkan. Ia mendekatkan wajahnya ke Dong Joo, ia mengambil ponselnya dan berniat memotret. Tapi Min Soo terkejut mendengar ponsel Dong Joo bergetar. Ia kaget dan tanpa sengaja menyenggol Dong Joo hingga Dong Joo terbangun. Ia gagal memotret. Hehe.
Min Soo panik dan langsung mengambilkan ponsel Dong Joo, “Ada telepon!” sahutnya. Dan si penelpon adalah piano-ist dengan foto Woo Ri kecil. Dong Joo marah dan merebut ponselnya. Min Soo penasaran, “Piano-ist siapa itu?”

Min Soo ingat ia menunjukan koran yang dibawanya dan berkata kalau perusahannya untung besar. Keuangan bulan lalu sudah dipublikasikan dan hasilnya saham Woo Kyung melambung tinggi.

Dong Joo menjawab teleponnya dan mengacuhkan apa yang disampaikan Min Soo. Dong Joo menatap Min Soo, Min Soo mengerti dan langsung keluar ruangan.

Video call Dong Joo dan Woo Ri
Woo Ri memperlihatkan kalau ia sudah berada di kamarnya. Dong Joo tersenyum senang, “Apa dia sudah pulang?” Woo Ri menjawab ya boss. Dong Joo heran Woo Ri memanggilnya Bos.
Woo Ri : “Bos ini adalah hari pertamaku kerja dan juga hari pertamaku cuti. Aku minta maaf.”
Dong Joo : “Apa artinya ini?”
Woo Ri : “Apa kau sudah tidur?”
Dong Joo : kau?
Woo Ri : “Aku akan tidur seperti sepotong kayu.”
Dong Joo : “Jangan. Sampai jam kerja usai, telepon aku setiap satu jam sekali.”
Woo Ri tak mengerti. Dong Joo bilang ia belum cukup tidur dan masih merasa lelah. “Bangunkan aku setiap satu jam.” Woo Ri takut waktu bekerja Dong Joo akan terganggu kalau ia meneleponnya.
Dong Joo berkata tidak. “Mulai detik ini aku akan memikirkanmu, hingga aku akan konsentrasi kerja. Jadi kau harus memikirkanku. Setiap jam ya!”

Dong Joo membaca koran yang Min Soo bawa tadi.
[Keberhasilan Enegy Cell Cosmetics di pasar: Naiknya tingkat kepuasan pelanggan online]
Presdir Choi membanting koran yang dibacanya, ia tak suka dengan keberhasilan Energy Cell. Di ruangan presdir juga ada Shin Ae.

Shin Ae berkata bukankah ia sudah menyuruh choi Jin Chul untuk bercerai. Kemarin ia melihat Ny Tae duduk di sana seakan-akan itu tempat duduknya sendiri. “Dan kau tahu apa katanya? Sekumpulan burung berkumpul, dua orang miskin hidup dengan baik. Dia memintaku untuk menyingkirkan tanganmu darinya dan tinggal bersamamu!”

Presdir Choi merasa curiga ia memeriksa laci tempat ia menyimpan foto Ma Roo, ia melihat foto itu terbalik tak seperti ketika ia terakhir menyimpannya. Shin Ae tanya ada apa. Apa sudah menemukan gambar Ma Roo. Shin Ae marah kenapa menyimpan foto Ma Roo di situ.
Presdir meminta Shin Ae memajang gambar Ma Roo di rumah sakit dan jangan melibatkannya, “Katakan itu anakmu dan kau mencarinya!” Shin Ae takut bagaimana pendapat Tae Yeon Suk kalau melihat itu. Presdir tanya apa buktinya kalau Ma Roo itu anaknya, “Kau meminta pertolonganku untuk mencari anakmu!”
Shin Ae : “Apa kau pikir wanita itu akan percaya?”

Presdir mencibir bahkan Kakeknya Cha Dong Joo pun tak bisa menutup masa lalunya. Ia minta Shin Ae hanya perlu menutup mulut. “Sampai Bong Ma Roo ditemukan kita tak ada hubungan apa-apa. Ma Roo itu anakmu!”
Na Mi Sook mengawasi anak buahnya mengepak kosmetik. Shin Ae masuk ke ruangan itu dan meminta laporan hasil penjulan hari ini. Mi Sook tertawa geli dan meminta anak buahnya keluar sebentar.
Shin Ae menyuruh Mi Sook mengambil laporan dari kepala team supaya kantor pusat tahu dan laporkan langsung pada Presdir.
Mi Sook : “Maksudmu, antara pribadimu dan pribadinya. Dari pada itu lebih baik kau menjaga ibumu!”
Shin Ae : Apa?
Mi Sook : “Bukankah Nenek Bong Woo Ri adalah ibumu? Ketika Ibumu pingsan apa yang kau lakukan?”

Shin Ae meminta Mi Sook jangan ikut campur urusan orang lain. Mi Sook menutup hidungnya, “Bau apa ini, kau yang bau!” sahutnya. Mi Sook langsung menyemprotkan parfum ke ruangan.
Shin Ae kesal dan merebut parfum itu tapi tenaga Mi Sook lebih besar. Dengan kekuatannya Mi Sook langsung menahan Shin Ae dengan cekikannya, “Ow instingku sebagai seorang istri yang sah, harusnya kupatahkan tanganmu. Orang sepertimu aku ingin sekali menggunduli rambutmu. Jangan muncul lagi dihadapanku kalau kau tak mau celaka!”

Shin Ae melepaskan diri, “Kau. Suamimu pasti sudah menyia-nyiakanmu. Aku bisa tahu dari sikapmu!”
“Ya. Lelaki tua itu sudah menendangku dan suamimu aku akan...” Mi Sook berbisik, “Membunuh mereka!”
Shin Ae gemeratan. Ia berteriak meminta orang lain melaporkan Mi Sook ke polisi. Mi Sook tersenyum dan berkata untuk sementara ini ia membunuh mereka di dalam hati, jadi berhati-hatilah. Mi Sook kembali mengingatkan, jangan lupa insting istri yang sah. Ia menggenggam tangannya. Membuat Shin Ae ketakutan setengah mati.

Dong Joo berusaha menghubungi kembali Joon Ha. Joon Ha yang masih kacau mengabaikan panggilan telepon Dong Joo.

Na Mi Sook berkunjung ke rumah Woo Ri, ia melepas kacamatanya dan melihat rumah itu sangat sepi. Terdengar suara Woo Ri dari dalam kamar, suara Woo Ri yang mencemaskan Neneknya.
Nenek duduk murung, Woo Ri ingin Nenek cepat makan agar tak pingsan lagi. ia akan menyuapi tapi Nenek menolak. Nenek terlihat sangat sedih.

Woo Ri mengancam kalau Nenek tak mau makan, ia akan memanggil ayahnya. Apa Nenek mau membuat ayahnya khawatir. Nenek menggeleng tak bicara mungkin maksudnya jangan beri tahu Young Kyu. Woo Ri ingin Neneknya mengatakan sesuatu kalau disimpan dalam hati Nenek bisa sakit.
Nenek memegang dadanya, ia menangis tanpa suara. Woo Ri meminta nenek jangan seperti ini.
Woo Ri memeluk Nenek dan berkata tak satu pun Nenek berbuat salah. “Apapun itu semuanya bukan kesalahan Nenek. Aku juga gadis yang jahat, tak kukatakan semua yang ku tahu, jadi itu bukan salahmu!” Nenek menggeleng seakan terus menyalahkan dirinya sendiri.

Woo Ri ingin tahu siapa yang sudah melakukan hal seperti ini pada Nenek, “Nenek sangat mencintai anak-anaknya siapa yang membuatmu seperti ini?”
Nenek tak menjawab, Woo Ri mengerti. Nenek masih terus diam dan menangis. Woo Ri tak akan memaksa Nenek untuk mengatakannya.
Mi Sook yang mendengar ikut menangis, “Benar. Itu bukan salah siapa-siapa.” Sahutnya.
Young Kyu sampai di rumah membawa bunga untuk ibunya. Ia terkejut melihat Na Mi Sook ada di rumahnya. “Orang yang ditinggalkan cinta!” panggil Young Kyu.
Young Kyu heran kenapa Mi Sook menangis, “Apa kau jatuh? Apa kau terluka?” Young Kyu mencoba memeriksa barangkali ada yang terluka di kaki Mi Sook.
Mi Sook hanya ingin segera pergi dari sana. Sebelum Mi Sook pergi Young Kyu memberikan bunga yang di bawanya, “Apa kau mau ini?”

Mi Sook terharu melihatnya. Young Kyu bilang tadinya bunga itu mau ia berikan pada ibunya tapi diluar sana masih banyak. “Jadi berhentilah menangis dan terima ini! Dan berhati-hatilah jangan sampai kau jatuh!”
Mi Sook menerima bunga pemberian Young Kyu dan kembali menangis. Ia langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Young Kyu. Young Kyu gugup ia jadi gagap tak tahu harus ngomong apa.
Mi Sook ada di luar rumah Young Kyu, ia mengamati make up wajahnya yang berantakan karena menangis tadi. Ia mendesah kesal, “Aku bisa gila!” ucapnya.
Young Kyu datang membawakan air minum. Mi Sook langsung mengambil posisi menangis untuk menutupi wajahnya yang berantakan. Young kyu tanya apa Mi Sook masih menangis.
Mi Sook menutupi wajahnya dan berkata kalau ia ingin sendiri. Young kyu akan pergi tapi ia kelihatan tak tega dan duduk di sebelah Mi Sook.
Mi Sook menoleh dengan wajah masih ditutupi, “Apa yang kau inginkan?” Young Kyu berkata kalau Mi Sook menangis, Mi Sook harus bersama orang lain. “Kalau kau sendirian kau akan sedih. Biar aku menemanimu disini!”

Kini giliran Young Kyu yang menangis. Mi Sook tanya kenapa. Young kyu menjawab tak tahu karena kalau ada yang menangis ia juga jadi ikutan menangis.

Terdengar teriakan Bibi Lee mencari putranya. Young kyu menyahut kalau Seung Chul tak ada. Mi Sook langsung membersihkan make up wajahnya yang belepotan.
Young kyu melihat Mi Sook tak lagi menangis, “Karena Ibu Seung Chul air matamu masuk lagi. benarkan?”
Keduanya bertatapan sejenak. Tapi Mi Sook menggeleng-geleng, ia kemudian berkata tentang mereka berdua yang duduk bersama seperti ini dan bunganya ia minta Young Kyu merahasiakannya.
Young Kyu : Rahasia?
Mi Sook : “Jangan bilang siapa-siapa!”
Young Kyu langung mendekatkan telunjuknya ke mulut Mi Sook. Kemudian ia memperagakan bahasa isyarat yang artinya rahasia.
Shin Ae menempel sketsa gambar Ma Roo disetiap lorong rumah sakit. Di sketsa gambar tertulis ‘Dicari Bong Ma Roo hadiahnya 50rb dolar!’
Ny Tae menerima telepon mungkin dari Sekertaris Kim yang memberi tahu kalau sketsa gambar Ma Roo ditempel di rumah sakit. Ny Tae marah dan meminta itu segera dihentikan.

Dong Joo masuk ke kamar ibunya. Ny Tae kaget dan segera mematikan teleponnya. Ny Tae tanya kenapa putranya datang. Dong Joo berkata bukankah ibunya meminta ia untuk sering datang tapi sekarang wajah ibunya tak meyambut kedatangannya.

Ny Tae meyakinkan kalau ia tak apa-apa dan ada yang ingin ia beritahukan pada Dong Joo. Ia merasa akhir-akhir ini Joon Ha terlihat aneh. Dong Joo dengan santai bertanya ada apa dengan Kakaknya.
Ny Tae : “Kudengar dia menarik uang dari perusahaan investasi dan memberikan padamu.”
Dong Joo membenarkan ia sudah membicarakan itu dengan Kakakanya dan mengenai rencana itu ia sudah mengatakannya pada Joon Ha kalau ia tak akan menerima uang itu.
Ny Tae berkata bukan itu masalahnya. “Dia memblokirku, hak aksesku terhadap rekening itu. dia bahkan merubah pin-nya!”
Dong Joo : “Apa Kakak melakukan itu?”
Ny Tae : “Ya. Itu terjadi sejak dia bertemu Choi Jin Chul. Aku tak tahu apa yang dia rencanakan!”
“Ibu, kau-lah penyebabnya!” ucap Dong Joo. “Lalu kenapa ibu curiga? Ibu bilang ibu lebih percaya dia dari pada aku. Berikanlah kepercayaanmu kepada Kakak dan ibu tak usah terlibat lagi!”

Ny Tae mengatakan kalau Choi Jin Chul sekarang sedang tidak berfikir waras. Kita harus merelakan uang kita padanya untuk membeli pabrik sistem RAM. Ini bukan masalah kepercayaan. Kita tak punya waktu lagi.

Dong Joo berkata bukankah Ibunya sudah cukup banyak mengambil saham Choi Jin Chul untuk membangun perusahaan Energy Cell dan meminta ibunya jangan rakus. Jangan sakiti hati Kakak.
Nya Tae : “Menyakiti? Aku yang lebih sakit!”

Dong Joo bertanya bagaimana kalau kita kehilangan Joon Ha kalau terus melakukan ini. Ny Tae meyakinkan kalau Joon Ha tak akan meninggalkannya. “Dia selalu mendengarku. Dia sudah kuperlakukan seperti anakku sendiri!”
Joon Ha sampai di rumah bersama Dokter Jang. Dong Joo heran melihat Kakaknya datang penuh senyuman. Joon Ha berkata kalau ia datang bersama ayahnya.
Ke-empatnya makan bersama di halaman rumah. Mereka tertawa bersama.
Joon Ha bertanya pada Dong Joo, “Kalau kau harus membawa tiga benda di pulau terpencil apa yang akan kau bawa? Pertama pasti aku!”
Dong Joo : “Salah. Aku tak akan membawamu!”
Joon Ha : Apa?
Dong Joo : “Kau harus menyelamatkanku. Bagaimana bisa malaikat pelindungku ikut terdampar bersamaku?”
Joon Ha : “Apakah aku kembali ke posisi sebagai malaikat pelindung?”
Presdir Choi hadir di sela-sela canda tawa meraka, “Apa yang kalian lakukan?” Semua terkejut. Presdir Choi kembali bertanya apa kalian sedang melawak.

Joon Ha : “Itu masalahnya, tak seorang pun menyambut Presdir Woo Kyung. Selamat datang presdir Choi Jin Chul!”
Suasana berubah menjadi tegang.
Joon Ha menyarankan sebaiknya pergi ke warung tenda untuk minum, “Dong Joo bukankah kau belum pernah ke sana? kalau kau ke Seoul cobalah mampir ke sana!”
Dokter Jang menyahut kalau itu bukan tempat yang bagus untuk pergi seorang diri apa Joon Ha sudah punya pacar. Ny Tae menyahut kalau itu membuatnya cemburu.
“Oh oh coba saja!” sahut Joon Ha tersenyum pada Ibunya. Keduanya tertawa. Presdir Choi merasa tak nyaman berada diantara semuanya.
Dong Joo menatap heran sikap Kakaknya. Dokter Jang memperhatikan Dong Joo yang diam. Dokter Jang berkata itulah sebabnya kanapa ia tak memiliki Joon Ha. “Setiap dia bersama ibunya dia jadi sensitif!”

Joon Ha : “Apa ayah cemburu? Kalau Presdir Choi diam-diam saja. Kenapa kau juga diam Ayah?”
Dokter Jang merasa kalau Presdir Choi memiliki perut yang kuat dan itu berbanding terbalik dengan dirinya perutnya tak begitu kuat.
Joon Ha tanya ke Presdir apa terlihat tak nyaman untuk Presdir. Choi Jin Chul menyangkal, “Kalian berdua terlihat baik. Kau lebih dianggap anak olehnya (Ny Tae) dari pada Dong Joo!”

“Memangnya ada apa dengan anak? Kau tak punya seorang anakpun. Ah.. kau tak bermaksud begitu kan?” Joon Ha kemudian memandang Ny Tae, “Presdir pasti sangat menyayangimu, Bu!” Ny Tae berkata kalau yang dicintai suaminya bukan dirinya melainkan Woo Kyung. “Benarkan sayang?”

Dong Joo mulai merasa bosan dan mengajak Kakakanya ka warung tenda. Tapi Joon Ha menolak. Dokter Jang melempar sesuatu ke arah Joon Ha, “Kau sudah mabuk? Kau punya kebiasaan mabuk. Dari mana kau belajar mabuk?” Joon Ha menjawab belajar sendiri karena ia tak punya ayah.
Dr Jang : apa?
Joon Ha : “Kau meninggalkanku. Apa yang mau kau katakan?”
Dokter Jang tertawa meminta Joon Ha jangan membolak-balikan kata. Bukankah Joon Ha sendiri yang minta ingin bersama Ny Tae dan Dong Joo. Dong Joo saksinya. Dong Joo setuju ia bisa menjadi saksinya.
“Ibu kau lihat kan, ayah labih mencintai Dong Joo dari pada aku?” ucap Joon Ha manja pada Ny Tae. Dong Joo sudah menyerah terhadap ibunya, ia sudah lama merelakan ibunya untuk Kakaknya, “Kak silakan memilikinya!”
Joon Ha : “Ibu. Dong Joo bilang aku boleh memilikimu!”
Ny Tae : “Cha Dong Joo inilah kenapa aku lebih memperhatikan Joon Ha!”
Choi Jin Chul langsung tertawa terbahak-bahak menyaksikan semua ini. Semua menatapnya. Presdir menunjuk Joon Ha, “Kau. sangat ingin menjadi anggota keluargaku. Walaupun ayahmu duduk di sebelahmu. Kau tetap menempel pada istriku!”

Joon Ha menawarkan apa Presdir Choi mau minum lagi, karena rasanya ia sebentar lagi akan mabuk. “Mana wine-nya?” tanya Joon Ha.
Choi Jin Chul menawarkan diri mengambil wine, ia beranjak dari kursinya akan ke tempat penyimpanan wine. Joon Ha mengikutinya.
Presdir Choi berkata kalau Joon Ha itu bukan tipe orang yang pemabuk, “Apa kau memiliki masalah denganku?” Joon Ha menjawab bukan masalah. Ia hanya mengasihani Presdir.
Presdir : Apa?
Joon Ha : “Kau tak bersama Ibu dan Dong Joo. Itulah sebabnya kau terobsesi dengan Woo Kyung kan? Tanpa itu kau akan kesepian.”

Presdir Choi tertawa ringan, Joon Ha begitu tahu banyak tentang dirinya. Joon Ha berkata bukankah Presdir pernah bilang kalau ia mirip dengan Presdir ketika muda. “Aku seperti itu. Aku sangat kesepian, hanya ada satu yang ku punya yang tak akan kulepaskan!”

Presdir ingin tahu apa itu. Tapi Joon Ha tak akan mengatakannya karena ia masih belum jelas Choi Jin Chul itu teman atau lawan. Jadi kenapa ia harus memberitahukan itu.
Joon Ha ingin menanyakan sesuatu pada Presdir Choi. Bagaimana perasaan Presdir jika Woo Kyung jatuh ke tangan Dong Joo. Presdir menjawab itu tak akan terjadi.
Joon Ha : “Bagaimana kalau itu terjadi?”
Presdir : “Kalau kau memang penasaran coba jadikan itu terjadi dan lihatlah apa yang akan terjadi!”
Joon Ha berkata ia sangat penasaran.
Ny Tae masuk ke ruang penyimpanan wine dan bertanya apa sudah dipilih wine-nya. Ia memegang wajah Joon Ha dan merasa suhu badan Joon Ha panas. Ia meminta joon Ha berhenti minum. Presdir Choi langsung keluar dari ruang penyimpanan wine.
Ny Tae tanya apa Joon Ha sudah mabuk. Joon Ha menjawab tidak. Ia tanya bukankah ibunya sudah memiliki uang penjualan real estate. Ny Tae tanya kenapa. Joon Ha meminta ibunya siap-siap saja, Ibunya akan segera memerlukan uang itu.
Joon Ha : “Ibu aku sudah berbuat kesalahan, kau dan Dong Joo satu-satunya milikku. Kurasa aku harus menyeret Choi Jin Chul dengan tanganku sendiri!”
Ny Tae tersenyum senang. Joon Ha kembali berkata bukankah ibunya bilang. Ibu, Dong Joo dan dirinya akan selalu bersama sampai mati. ia akan selalu mengingat itu.

Dong Joo dan Woo Ri video call-an lagi.
Woo Ri terkejut mengetahui kalau mereka berkumpul bersama. Dong Joo mengatakan kalau mood Kakaknya sedang tak bagus. Ia nanti bicara lagi. Woo Ri mengerti.
Dong Joo : “Karena kau menghubungiku setiap jam, ku anggap kau gadis yang baik. Tapi apakah itu karena Kakak?”
Woo Ri menjawab kalau itu bukan satu-satunya alasan.
Tiba–tiba Dokter Jang langung ikut bicara dan masuk ke video call hehe, “Apa kau bicara dengan pacarnya Joon Ha? Mendadak aku tak mabuk lagi!” ucap Dokter Jang.
“Siapa anda?” tanya Woo Ri. Dong Joo berkata Woo Ri tak perlu tahu. Dokter Jang langsung mendorong kepala Dong Joo tuing hahaha. Woo Ri panik.

“Itu pacar Dong Joo!” sahut dokter Jang seraya tersenyum. Dong Joo berkata kalau ini hubungan segitiga antara Kakak, dirinya dan gadis itu. Dong Joo berterima kasih karena Woo Ri sudah meneleponnya ia akan menemui Kakaknya.

Ponsel Woo Ri kembali berdering ia mengira itu dari Dong Joo, “Bukankah kau bilang akan menghubungi kakakmu?”
Ternyata yang menelepon adalah Joon Ha. Joon Ha mengajak Woo Ri ketemuan. Woo Ri bersedia. Joon Ha bilang ia ingin bertemu Woo Ri bukan sebagai Kakak Woo Ri. Woo Ri menolak karena ada yang ingin ia sampaikan pada Ma Roo untuk terakhir kalinya.
Joon Ha : “Asal kau tak memukulku karena kebohonganku aku akan datang menemuimu. Kita bertemu besok!”

Joon Ha menutup teleponnya, “Sebagai Kakak atau dokter kita harus tetap bertemu!” ucapnya pelan. Dong Joo melihat Kakaknya selesai menelepon tapi tak tahu siapa yang ditelepon.
Joon Ha tiduran di kamar, Dong Joo datang. Keduanya sudah berganti pakaian. Melihat adiknya datang Joon Ha meminta Dong Joo mematikan lampu dan mengajak tidur.
Dong Joo langsung merebahkan diri ke kasur dan menindih Joon Ha. Dong Joo memeluk Kakaknya, ia bilang ia akan menidurkan Kakaknya.
Joon Ha risih meminta Dong Joo jangan mendekat. Dong Joo tetap memeluk Kakaknya. “Malam ini jangan memikirkan apa-apa tidur saja!”
Dong Joo menyanyikan lagu nina bobo untuk Joon Ha sambil menepuk punggung Joon Ha keras, Joon Ha meringis kesakitan. Dong Joo berseru Kakaknya genit sekali. Dong Joo kembali menepuk punggung Joon Ha dan menyanyaikan lagu nina bobo lagi. Joon Ha ikut menyanyikannya. Keduanya saling menepuk punggung.
Dong Joo mendorong Kakaknya dan kedunya saling memandang.
Dong Joo : “Kau mencintaiku kan? Kakak tidak boleh. Kita bersaudara!” Buwahahaha...

“Baiklah anak brengsek!” Joon Ha memukul Dong Joo dengan bantal.
“Kenapa kau begitu mencintaiku?” seru Dong Joo menarik dan memeluk Kakakanya. Keduanya bergulat di kasur.

Young Kyu berada di taman ia berseru pada orang yang menutupi diri dengan payung, “Sekarang kan tak hujan. Hey orang berpayung!”
Young Kyu mendekati orang itu ternyata di balik payung itu ibunya yang tengah tertidur. “Ibu apa kau tidur?”
Nenek terbangun ia langsung menutup diri dengan payung. Young kyu heran ia melihat ke sisi lain dan ibunya kembali menutup dirinya dengan payung. Young kyu tambah heran kenapa ibunya bersembunyi seperti itu. Ia akan menyelesaikan pekerjaannya dulu setelah itu ia akan bermain dengan ibunya.

Nenek menutup dirinya ia terlihat bingung, Young kyu loncat kesana kemari seperti bermain Ci Luk Ba.
Young Kyu berseru kalau ini menyenangkan, bermain di taman itu menyenangakan. Nenek tertawa. Young kyu senang ibunya tersenyum.

Young kyu kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia malambai-lambaikan tangan ke arah ibunya. “Aneh!” Gumam Nenek.
Nenek melihat sekeliling ia merasa bingung, “Kenapa dia lama sekali. Sudah lama sekolahnya Young Kyu selesai. Tapi kenapa dia belum datang?”
Apa Nenek pikun lagi?

Presdir Choi tiba di kantor Woo Kyung. Dong Joo tiba setelahnya tepat di belakang Presdir. Dong Joo memanggil, “Ayah!”
“CEO Cha!” panggil Joon Ha. Presdir menengok ke arah Joon Ha spontan Dong Joo pun menengok ia kaget melihat Kakaknya datang.

Joon Ha berkata kalau mulai hari ini ia resmi bekerja di Energy Cell. “Dengan dukungan Presdir Choi dan CEO Cha aku bisa bekerja disini kan?”
Presdir terkejut, “Kau mulai bekerja di Energy Cell?” Joon Ha balik bertanya, “Memangnya tak boleh? Presdir kau sudah mengakui kemampuanku!”

Presdir meminta Joon Ha menemuinya di ruangan. Joon Ha mengajak Dong Joo. “JANG JOON HA!” teriak Presdir marah.
Joon Ha menemui Presdir Choi bukan di ruangan tapi di luar ruangan.
Presdir : “Apa kau mau cuci tangan denganku sekarang? Siapa yang menyuruhmu?”
Joon Ha : “Aku. Ini juga uangku.”
Presdir : “Beraninya kau. Orang seperti kau meremehkanku?”
Joon Ha : “Sudah pernah kukatakan padamu kalau aku akan menolong Dong Joo!”
Presdir : “Jadi menjual namaku. Menjadikanku tameng. Mengambil uangku lalu menolong Dong Joo? Apa kau pikir aku akan diam saja?”
Joon Ha : “Lalu apa kau akan pergi bersamaku ke pihak yang berwajib kerena penggelapaan? Aku sudah menggunakan uang investasi untuk deposit perusahaan semikonduktor-mu. Aku tak mau pergi sendiri. Paling tidak, aku tak kesepian!”
Presdir : “Kenapa kau melakukan ini padaku?”
Joon Ha menatap tajam Presdir Choi penuh kebencian, “Presdir Choi Jin Chul. Aku tak bisa melihatmu hidup bahagia. Selama aku hidup. Di manapun kau akan kuseret sampai ke dasar laut!”
“Dasar berandalan!” umpat Presdir. “Kupikir kau melakukan ini karena Tae Yeon Suk dan Dong Joo. Apa artinya mereka bagimu?”
Joon Ha : “Orang-orang yang kau singkirkan!”
Presdir : Apa?
Joon Ha : “Apa kau tak mengerti? Orang-orang yang kau singkirkan demi Woo Kyung. Itulah kenapa aku tak akan memberikan Woo Kyung padamu. Akan kukembalikan kepada ahli waris yang sah. Kau akan berlutut dan memohon pada mereka!”
Presdir mencengkeram baju Joon Ha, apa Joon Ha pikir ia akan mengembalikan Woo Kyung pada mereka.
“Kalau kau penasaran tunggu saja!” ucap Joon Ha tersenyum dingin. “Karena aku sudah sengsara mati-matian untuk sampai ketahap ini. Tidak akan menyenangkan kalau sudah terungkap lebih dulu!”

(Joon Ha sudah tahu kalau Presdir Choi adalah ayah kandungnya tapi ia tetap bertempur melawan ayahnya karena ia sendiri dendam. Karena dulu Ayahnya menginginkannya mati bahkan sebelum ia lahir. Joon Ha sangat membenci ini. Karena keinginan Ayahnya untuk memiliki Woo Kyung, Presdir choi sampai meminta Shin Ae melakukan aborsi. Tapi Joon Ha tak tahu kalau pertempuran ini yang diinginkan Ny Tae dan Dong Joo belum tahu kalau Joon Ha adalah anak dari Choi Jin Chul)
Presdir meminta Sek Kim menjual semua saham atas namanya. Rombongan Presdir berpapasan dengan Dong Joo.
Presdir menatap marah dan berkata pada Dong Joo kalau ia akan mencekik leher Joon Ha. Presdir memerintahkan Sekertaris Kim agar memasukan Joon Ha ke penjara.
Shin Ae marah karena sketsa gambar Ma Roo yang sudah ia tempel dicopot lagi. Ia meminta orang suruhannya untuk menempelkannya kembali. Tapi Mereka menerima perintah dari direktur rumah sakit dan meminta Shin Ae jangan memaksanya lagi kalau tidak Shin Ae akan dilaporkan. Ia meminta petugas rumah sakit membuang sketsa gambar itu.
Shin Ae kesal bukan main dan menelepon Presdir Choi, tapi tak aktif. Ny Tae memperhatikannya dari jauh. Karena tak tersambung ke ponsel, Shin Ae menelepon ke kantor dan minta disambungkan ke Presdir Choi.
Ny Tae menerima telepon yang memberitahukan sepertinya Choi Jin Chul sudah memutuskan untuk membunuh Jang Joon Ha. Ny Tae terkejut.
“Untuk mengembalikan semua uang dari W invest sekarang dia sedang rapat dengan para investor!”
Ny Tae : “Kalau mereka menarik semua uangnya mereka tak akan mendapatkan 100% apa mereka mau menanggung kerugian itu?”
“Presdir mulai panik. Untuk menghindari kerugian dia bahkan merubah pemilik saham atas nama lain. Bagaimana Nyonya?”
Ny Tae meminta membeli semua saham yang dibuang Choi Jin Chul.
“Lalu bagaimana dengan Jang Joon Ha?”
“Biar aku yang urus!” ucap Ny Tae. Ia meminta cepat, agar jangan sampai jatuh ke tangan orang lain. Beli semua dan jangan sampai tercecer.
Joon Ha melihat Woo Ri duduk di kursi, ia tersenyum dan akan menghampirinya karena keduanya sudah membuat janji untuk bertemu. Tapi Dong Joo memanggilnya. Woo Ri melihat kedunya dan langsung berdiri.
Dong Joo tanya apa yang terjadi, kenapa Kakaknya mencari masalah dengan Choi Jin Chul. Joon Ha berkata bukankah Dong Joo pernah mengatakan padanya jangan bermain dengan orang jahat, “Jadi ini ku akhiri. Kenapa?”
Dong Joo : “Kau membuatnya marah. Memangnya apa yang ada di dalam otakmu?”
Joon Ha : “Sudah kubilang aku lelah. Aku ingin istirahat sebentar.”
“Apa artinya itu?” Dong Joo meminta Kakakanya bicara yang jelas. Dong Joo mencengkeram tangan Kakaknya. Joon Ha melepaskan diri kerena itu akan menyakitinya. Dong Joo ingin Kakaknya bicara sebelum ia betulan menyakiti kakaknya.
Joon Ha : “Choi Jin Chul akan segera melepas seluruh sahamnya. Ibu akan membeli semuanya. Lalu kau akan memiliki Energy Cell sepenuhnya. Itu semua yang terpenting!”
Dong Joo : “Apa maksudmu yang penting?”

Woo Ri berjalan mendekat perlahan.
Joon Ha : “Dong Joo, aku mati-matian percaya padamu. Tapi kalau kau sendiri terlihat ketakutan. Apa yang bisa ku perbuat? Ini tak sebanding dengan neraka yang ku lalui 16 tahun yang lalu melawan Choi Jin Chul. Kalau aku masuk, kau bisa manarikku keluar!”
Dong Joo : Apa?
Joon Ha : “Jangan biarkan aku terlalu lama di dalam sana!”
Dong Joo : “Kau sudah merencanakan untuk masuk ke sana. Berapa banyak uang yang kau gunakan untuk rencana itu?”

Joon Ha meminta Dong Joo jangan memikirkan itu. “Jagalah Energy Cell, aku akan sangat puas kalau kau bisa melakukannya!”
Dong Joo : “Kau sudah gila, apa kau pikir aku akan membiarkanmu?”
Joon Ha : “Hey. Kau bilang kau tak akan membawaku ke pulau terpencil. Aku juga tak akan membawamu. Selama 16 tahun aku menjagamu, sekarang waktunya kau menjagaku. Cha Dong Joo mulai hari ini, aku memintamu menjadi malaikat pelindung Jang Joon Ha!”
Dong Joo marah atas apa yang sudah direncanakan Kakak-nya, dengan sekuat tenaga Dong Joo melayangkan pukulannya ke arah Joon Ha.
Woo Ri tersentak kaget. Ujung bibir Joon Ha berdarah.
Dong Joo mencengkeram baju Kakaknya, “Hey brengsek mulai saat ini kau bukan Kakak Cha Dong Joo. JANG JOON HA, KALAU KAU SEPERTI INI JANGAN JADI KAKAKKU!” bentak Dong Joo.



source : http://anishuchie.blogspot.com/2012/02/can-you-hear-my-heart-episode-19.html
re-posted and re-edited by : dianafitriwiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment