Friday, October 04, 2013

Can You Hear My Heart Episode 23

Dong Joo menatap sedih Joon Ha, "Jang Joon Ha. Kau seharusnya tak berkata seperti itu. kata-kata itu, aku tak tahu kalau ternyata itu berarti kesedihan. Pergilah. Lakukan apa yang ingin kau lakukan!"
Air mata Dong Joo menetes, "Kak Joon Ha." Dong Joo berusaha tersenyum meskipun air matanya terus mengalir deras, "Aku menangis karenamu, ini yang terakhir kalinya!" Dong Joo pergi dari hadapan Joon Ha dengan perasaan sedih.
Dong Joo berpapasan dengan Woo Ri. Woo Ri melihat kesedihan Dong Joo dan bertanya apa Dong Joo tak apa-apa. Dong Joo tersenyum dan mengusek-usek rambut Woo Ri, "Aku tidak 'tidak apa-apa'" Woo Ri ingin tahu apa yang terjadi antara Dong Joo dan Joon Ha.
Dong Joo : "Bong Woo Ri kau bilang Bong Ma Roo bukan lagi Kakakmu. Apa kau dengar aku? Sekali lagi!"
Joon Ha lewat tapi ia berjalan berlalu begitu saja dengan angkuhnya.
Dong Joo masuk ke ruangan yang sekarang menjadi ruangan Joon Ha. Barang-barang miliknya tengah dibereskan oleh anak buah Joon Ha. Dong Joo meminta barang-barangnya jangan disentuh. Joon Ha menyuruh anak buahnya menunggu diluar. Staf Energy Cell mengintip dari luar jendela. Joon Ha berkata kalau ia akan resmi bekerja besok dan untuk hari ini ia masih memberikan tempatnya untuk Dong Joo.
Park Dae Ri dan rekannya cemas ada apa ini. Apa CEO Cha dipecat. Apa kesalahannya.

Woo Ri ikut melihat dari luar jendela. Park Dae Ri heran melihat Woo Ri ada di sana. Kenapa Woo Ri tak berada di ruangan Woo Ri sendiri. Woo Ri mengerti ia akan segera pergi, tapi ia ragu dan kembali melihat ruangan pimpinan Energy Cell.
Joon Ha berpikir kalau bagian marketing cocok untuk Dong Joo tapi kalau Dong Joo ingin tetap diruangan ini ia akan mencarikan meja untuk Dong Joo (Dong Joo akan dipindahkan ke bagian marketing bareng sama Na Mi Sook itu berarti bareng sama Woo Ri donk hehe)

Dong Joo bertanya apa hanya mengambil posisinya yang bisa dilakukan Joon Ha. Joon Ha tertawa dan menjawab kalau posisi ini sebenarnya adalah miliknya. Dong Joo merasa Joon Ha sangat kekanak-kanakkan. Tapi Joon Ha menganggap ini sangat lucu. Bekerja tidak selalu harus serius kata Joon Ha. Dong Joo tanya apa Joon Ha pikir ini lucu.
Joon Ha : "Cha Dong Joo, kalau kau serius kau akan cepat tua. Kalau kau menginginkan posisi ini kau harus bisa mengontrol dirimu dan menjadi kekanak-kanakkan!"
Joon Ha mengambil kantung kacang Dong Joo yang ada di meja dan melemparkannya ke arah Dong Joo. Kantung kacang itu jatuh. Dong Joo meminta Joon Ha mengambilnya tapi Joon Ha menolak. Dong Joo jongkok mengambilnya sendiri.
Dong Joo : "Jang Joon Ha, kau tak akan bisa menjadi Cha Dong Joo hanya dengan meniru setiap kata-kataku. Kalau memang itu keinginanmu silakan. Tapi kalau kau mau melakukannya lakukanlah dengan benar dan jangan merusak apa yang sudah kubangun!"
Dong Joo membawa kotak barang-barangnya dan keluar dari ruangan.
Staf Energy Cell mencemaskan Dong Joo. Dong Joo meyakinkan kalau ia tak apa-apa. Ia meminta yang lain tak usah khawatir dan tetap bekerja sesuai jadwal dan biarkan saja barang-barang di ruangannya karena ia akan kembali lagi.

Dong Joo memanggil Woo Ri yang masih berdiri diam, "Bong Woo Ri. Sepertinya keinginanku terkabul. Sekarang kau jadi sekertarisku!" Woo Ri langsung menyusul Dong Joo tanpa melihat Joon Ha yang berdiri di dalam ruangan menatapnya.
Sambil berjalan menuju ruangan marketing Woo Ri meminta Dong Joo kembali dan bicara dengan Joon Ha lagi. Dong Joo tak memperhatikan apa yang dikatakan Woo Ri. Woo Ri langsung menyentuh badan Dong Joo. Dong Joo memandangnya.

Woo Ri berkata bukankah Dong Joo tahu kalau Joon Ha bersikap seperti itu karena dia sedang marah. Dong Joo memejamkan matanya, ia merasa pusing. Woo Ri cemas.

Dong Joo menyindir sekertaris seperti apa Woo Ri ini. Kalau tak mau membawakan barang-barangnya paling tidak bukakan pintu. Dong Joo meminta untuk sementara lupakan Joon Ha dan bertanya dimana meja Woo Ri.
Dong Joo melihat sekeliling ruangan dan memujinya. Na Mi Sook heran kenapa Dong Joo ada di ruangan marketing. Dong Joo malah bertanya dimana meja Bong Woo Ri. Mi Sook menunjukannya dan kembali bertanya apa yang terjadi.
"Aku ditendang!" jawab Dong Joo santai. "Walaupun ini membuatku kikuk, Manajer tolong jangan tertawakan aku!"

Dong Joo ingat apa boleh ia menggunakan ide dari Mi Sook. Ia ingin mencuri konsep 'Love or Leave' (cinta atau pergi) untuk make up show nanti. Mi Sook mengizinkannya, "Selama kau tak mencuri hatiku!" ucap Mi Sook dan Dong Joo terkekeh melihatnya.
Nenek, Young Kyu dan Paman Lee makan ayam goreng (Paman Lee kok yang makan) Nenek sibuk membersihkan lantai yang dikotori Paman Lee. Young Kyu menyuruh sobatnya makan ditempat lain dan jangan merepotkan ibunya.

Paman Lee malah menyuruh Nenek untuk terus membersihkan lantai. Young kyu kesal kenapa sobatnya membuat ibunya terus bekerja. Young kyu akan merebut kain pembersih itu tapi Nenek menolak, ia beralasan kalau dirinya banyak bergerak ia tidak akan kehilangan kesadarannya.
Nenek juga meminta Young Kyu mengajarinya membaca huruf, "Katanya menulis itu bagus untuk pasien alzheimer. Bagaimana caranya? Aku kan buta huruf?" Young Kyu mengusulkan bagaimana kalau ibunya ikut ke rumah Dong Joo. Bermain dengan ikan dan huruf itu menyenangkan. Paman Lee tak setuju dan marah, kenapa kesana itu rumah musuh kita.

Nenek juga menolak karena tak sopan masuk rumah orang tanpa permisi. Young Kyu berkata tak apa-apa karena Dong Joo memintanya datang setiap hari untuk memberi makan ikan. "Dia itu orang yang menyenangkan dia bahkan memberiku topi yang ada lampunya. Ibu, ibu, ibu, Cha Dong Joo itu anak yang baik!" Nenek tahu kalau Dong Joo itu orang yang baik. Begitu baiknya sampai ia khawatir apa Dong Joo bisa bertahan hidup di dunia ini. "Jadi kau baik-baik dia jangan membencinya walaupun dia anak Choi Jin Chul!"
Shin Ae berkunjung ke rumah ibunya. Melihat Shin Ae datang Young Kyu langsung menyuruhnya pulang. Shin Ae mencoba bersikap manis di depan ibunya. Ia tanya bukankah kaki ibunya sakit, kalau sakit alzheimer kenapa tak dibawa ke rumah sakit. Paman Lee merasa aneh dan menganggap sikap Shin Ae ini tak normal. Shin Ae juga mengatakan ketika ia melihat Ma Roo itu mengingatkan pada ibunya.

Young Kyu heran apa Shin Ae melihat Ma Roo. Apa Shin Ae bertemu Ma Roo. Shin Ae mengatakan kalau Ma Roo memiliki rumah dan memintanya untuk tinggal bersama (yah bohong banget) tapi biarpun begitu karena sudah dewasa dia tetap canggung dengannya.

Nenek mengajak Shin Ae bicara berdua di kamar dan berpesan tak boleh ada yang masuk. Tapi Paman Lee dan Young Kyu mencoba mencuri dengar.
Nenek meminta Shin Ae bicara jujur apa sebenarnya yang terjadi. Shin Ae bilang kalau kedatangannya memang untuk melihat ibunya. Nenek menabok dan menyuruh Shin Ae bicara jujur.

Shin Ae berkata kalau ia sekarang sudah menjadi Nyonya besar dan ibunya juga harus bisa memulai hidup yang bermartabat, apakah memukul dan bersumpah serapah gaya Nenek dari penerus Woo Kyung.

Shin Ae juga mendengar kalau Ma Roo datang ke restouran ayam Seung Chul untuk melihat Nenek. Ia merasa itu karena rasa sayang Ma Roo pada Neneknya. Shin Ae mengajak ibunya menemui Ma Roo. "Dia tak mau mendengarkan Young Kyu tapi dia pasti mau mendengarkanmu!"
Nenek kembali menabok Shin Ae dan bertanya kenapa. Apa dengan membawanya Shin Ae pikir hati Ma Roo akan luluh. Ibunya minta tolong Shin Ae jangan lagi mengotori hati anak malang itu. "Biarkan dia, sudah terlambat kalau kau mau menjadi ibunya!"

Shin Ae kesal bagaimana bisa anak itu tak mau memanggilnya ibu, padahal ia sudah susah payah melahirkannya. "Kalau dia tak kulahirkan hidupku tak akan seperti ini, aku akan menjadi sekertaris di perusahaan yang lebih besar dari Woo Kyung. Mendapatkan uang, menikah, dan hidup layak!"

Nenek terdiam ternyata putrinya masih belum berubah. Shin Ae kembali meminta ibunya untuk ikut dengannya dan mengatakan pada Ma Roo kalau ia sudah banyak berkorban untuk Ma Roo, "Kau tahu betapa aku hampir mati ketika melahirkannya!" Nenek jelas-jelas menolaknya ia berfikir kalau Ma Roo itu tak menginginkan Shin Ae.
Shin Ae : "Ibu apa kau mau melihatku seperti ini? Ibu tolong katakan sesuatu padanya aku mohon!"
Nenek : "Kalau kau mengerti kenapa anakmu seperti itu padamu. Lihatlah aku. Apa yang kau pikirkan tentang diriku? Ibu yang tak berbuat apa-apa untuk anaknya. Begitu kau melihatnya kau akan muak dengannya dan tak akan menyukainya. Ibu ini, yang kau inginkan dia mati. Ibu ini yang lebih baik mati. Seperti itulah aku bagimu. Begitulah dirimu dimata Ma Roo!"

Shin Ae menolak pendapat ibunya karena ia berbeda. "Kau hidup miskin. Tapi aku, kalau aku tak punya Ma Roo aku takkan hidup seperti itu. Aku tak bodoh seperti ibu. Aku tak miskin!"
Nenek : "Lalu apa yang harus kulakukan?"
Shin Ae : "Tolong bicara dengan Ma Roo. Bagiku ini tak adil, ibu ini tak adil bagiku. Aku bisa gila atau mati. Aku tak bisa membiarkan mereka menyingkirkanku sementara mereka hidup enak. Aku tak bisa membiarkan itu terjadi!"
Nenek memeluk Shin Ae yang terlihat begitu frustasi.
Paman Lee menunjukan pada Young Kyu bagan silsilah keluarga musuh. Nama Choi Jin Chul juga anaknya Bong Ma Roo. Paman Lee menyilang nama Ma Roo. Lalu Cha Dong Joo karena dia bukan anak kandung Choi Jin Chul Paman Lee memberi tanda segitiga dan menyebutnya setengah musuh.
Paman Lee : "Choi Jin Chul, Kim Shin Ae, Bong Ma Roo. Mereka bertiga adalah musuh. Kalau mereka musuh, kita harus membinasakan sampai tiga generasi. Anaknya Ma Roo juga harus dibenci sampai akhir!"
Young Kyu menolak membenci anaknya Ma Roo. Paman Lee punya usul kalau tak mau membenci anaknya kita naik ke atas. Sejak dulu tradisi bangsa kita adalah memusnahkan tiga generasi. Diatas Bong Ma Roo ada Ibunya yaitu Shin Ae dan di atas Shin Ae ada... ibunya Shin Ae.
Young Kyu berdiri marah, "Tidak mungkin, aku hanya mau membenci Choi Jin Chul. Aku mencintai ibuku dan Ma Roo!"

Paman Lee meminta sobatnya kembali duduk dan berkata kalau sasaran utamanya adalah Choi Jin Chul dan sobatnya ini harus mempersiapkan pembalasan dendam. Young Kyu tak mengerti.
Plok... Paman Lee menepuk dahi Young Kyu dan bertanya apa itu sakit. Young Kyu menggelang dan menjawab kalau itu tak sakit.
Paman Lee : "Kalau kau menggunakan kepalamu (otakmu) untuk mengahadapi Woo Kyung, kau akan menang. Kepalamu sudah terlatih untuk kau gunakan padanya. Lalu Choi Jin Chul akan menjadi seperti dirimu. Dan itu berarti bencana untuk mereka. Ini adalah pembalasan dendam yang paling sadis!" (wahaha ingin membuat Choi Jin Chul jadi orang idiot)
Young kyu memegang dahinya dan berucap seperti yang diucapkan Paman Lee, pembalasan dendam paling sadis.
Min Soo menemui Dong Joo di ruang marketing. Ia bertanya bagaimana bisa Joon Ha menjadi Direktur. Dong Joo tak menanggapi pertanyaan Min Soo, ia malah balik bertanya kandidat untuk make up show apa sudah diputuskan. Min Soo meminta Dong Joo jangan merubah topik pembicaraan. Bagaimana dengan posisi Dong Joo.
Telepon di depan Dong Joo berdering, jelas Dong Joo tak mengetahuinya. Woo Ri panik dan segera mengangkat telepon itu. Woo Ri berkata kalau Dong Joo sedang rapat, kalau penting kirim saja sms ke ponsel Dong Joo. Dong Joo memperhatikan apa yang diucapkan Woo Ri.

Min Soo heran kenapa Woo Ri yang menjawab telepon Dong Joo. Woo Ri beralasan karena Dong Joo sedang berbincang dengan Min Soo jadi ia berinisiatif untuk menjawab telepon Dong Joo.

Na Mi Sook datang membawa tape meminta Dong Joo mendengarkan musik. Sebuah alunan musik pengiring. Na Mi Sook berkata kalau lagu itu cocok untuk mengekspresikan tentang cinta dan perpisahan. Apa Dong Joo setuju dengan musik pilihannya.

Dong Joo cuma bisa nyengir dan hanya menjawab ya. Woo Ri yang mengerti situasi langsung bertanya apa ini. Mi Sook berkata kalau itu musik Beethoven. Min Soo merasa kalau musik itu sama sekali tak melambangkan konsep make up show dan terkesan berat. Ia meminta pendapat Dong Joo. Dong Joo bingung harus bicara apa.
Woo Ri langsung berseru kalau ia lebih menyukai Batman, ia penah mendengarnya tapi lupa judulnya. Dong Joo langsung mengerti maksud Woo Ri, itu adalah musik yang ia setel ketika berada di dalam mobil dan ia mengatakan lebih menyukai Batman dari pada Beethoven. Ia berkata pada Mi Sook kalau ia akan mendiskusikannya dengan penata musik. Dong Joo langsung pergi mengajak Woo Ri. Dong Joo menyebut Woo Ri, Sekertaris Bong.

Min Soo heran apa Woo Ri sekarang menjadi sekertaris Dong Joo. Woo Ri menjawab kalau ia bukan sekertaris resmi ia hanya membantu beberapa pekerjaan saja. Dong Joo membenarkan kalau Woo Ri itu sekertarisnya dan itu ia yang menyuruh.
Min Soo makin heran dan meminta pendapat Na Mi Sook tentang Woo Ri dan Dong joo. "Hubungan pria dan wanita hanya mereka berdua yang tahu!" jawab Mi Sook. Min Soo makin penasaran.
Dong Joo dan Woo Ri tiba diparkiran. Woo Ri berbicara memandang Dong Joo sambil berjalan mundur. Ia sebenarnya tak mau mengaku sebagai Sekertaris Dong Joo karena takut mengecewakan Min Soo.
Dong Joo menatap tajam Woo Ri, "Apa kau sangat menyukaiku? kau akan jatuh cinta kalau memandang wajahku!"
Woo Ri : "Memangnya aku melakukan ini karena aku suka padamu? Aku memang selalu memandang wajah orang yang kuajak bicara. Ekspresi wajah, terutama mata tak akan bisa berbohong. Coba lihat matanya!"
Dong Joo : "Apa begitu saja? Apa itu alasanmu melihat wajahku?"

Tiba-tiba ada mobil yang melaju cepat diparkiran. Woo Ri langsung menengok, Dong Joo melihat Woo Ri menengok dan ia langsung reflek melindungi Woo Ri. Mobil itu ngerem mendadak.
Joon Ha yang berada di dalam mobil, ia langsung keluar. Dong Joo meminta Joon Ha hati-hati kalau mengendarai mobil. Joon Ha tanya apa Dong Joo kaget.

Joon Ha beralih menatap Woo Ri, ia sebenarnya akan menelepon Woo Ri dan mengajak pulang bersamanya. Woo Ri heran apa Joon Ha mau pulang ke rumahnya. Joon Ha tak menjawab dan menyuruh Woo Ri masuk ke mobilnya.

Dong Joo meminta Joon Ha mengikuti mobilnya saja kalau mau ke rumah Woo Ri. Dong Joo langsung berjalan menggandeng Woo Ri.
Joon Ha : "Kenapa aku harus mengikutimu?"

Dong Joo tak tahu apa yang diucapkan Joon Ha. Woo Ri menahan tangan Dong Joo dan berkata kalau ada yang harus ia katakan pada Joon Ha dan meminta Dong Joo pergi dulu. Dong Joo mengerti dan ia akan menghubungi Woo Ri nanti.
Setelah Dong Joo pergi Joon Ha menyuruh Woo Ri masuk ke mobilnya tapi Woo Ri bertanya dulu apa Joon Ha mau ke rumahnya. Joon Ha menjawab tidak tapi akan ke rumahnya. Ia akan menunjukan rumah barunya pada Woo Ri.
Woo Ri : Kakak?
Joon Ha : "Aku bukan Bong Ma Roo. Aku juga bukan Jang Joon Ha. Aku sekarang adalah pribadi yang ketiga!"
Woo Ri tak tak tahu bagaimana harus bersikap pada pada pribadi Joon ha yang baru. Joon Ha berkata kalau akan memberitahu Woo Ri jika kepribadiannya yang baru ini sudah memiliki nama.
Woo Ri : "Kakak yang sekarang, apa itu baik bagimu?"
Joon Ha menjawab kalau ia sendiri tak tahu. Woo Ri kembali bertanya kenapa Joon Ha selalu marah. Kenapa selalu saja bertengkar.
Joon Ha : "Apa itu tak boleh? Kenapa aku tak boleh marah? Kenapa aku tak boleh bertengkar? Kau tak tahu bagaimana rasanya hidup sebagai Jang Joon Ha. Jadi perhatikan saja aku. Kalau kau tak menyukaiku sebagai laki-laki, cukup sebagai orang yang bisa kupergunakan. Apa itu bisa?"
Woo Ri : "Baiklah. Marahlah semaumu. Bertengakarlah dan akan kubiarkan. Tapi Kakak harus sadar Kakak akan menderita karena itu. Apa Kakak tahu?"
Joon Ha : "Lupakan. Pergilah!"
Joon Ha kembali ke mobil dan segera pergi dari sana, tak menghiraukan panggilan Woo Ri.
Woo Ri mengunjungi kafe ayam Seung Chul (namanya BBQ Chicken-Restouran ini juga menjadi sponsor drama hehe) Woo Ri langsung berseru kalau bisnis Seung Chul sangat bagus. Seung Chul langsung pasang wajah juteknya ketika melihat Woo Ri dan bertanya kenapa Woo Ri datang.

Woo Ri tanya apa Seung Chul menjual alkohol. Woo Ri langsung masuk. Seung Chul heran kenapa Woo Ri tiba-tiba ingin minum. Apa Woo Ri putus dengan Cha Dong Joo.
Seung Chul menuangkan minuman untuk Woo Ri, "Semakin lama melihatku aku semakin keren kan? Dimana lagi kau bisa mendapatkan pria sekeren aku? Menuangkan alkohol untuk gadisnya yang datang setelah putus dengan pria lain. Kau beruntung sekali Bong Woo Ri!"
Woo Ri : "Selain sebagai pria dan wanita, sebagai teman kau bisa pinjamkan telingamu kan? Aku tak punya teman ngobrol. Aku sedang frustasi!"
Seung Chul memberikan syarat asal jangan menyebut nama Cha Dong Joo. Seung Chul pindah posisi duduk di samping Woo Ri dan Paman Lee ikut menguping pembicaraan ini.
Woo Ri langsung bercerita, "Kak Ma Roo. Selama ini menurutku Kakak telah menjalani hidup yang penuh penderitaan!"
Seung Chul : "Apa maksudmu Ma Roo yang Jang Joon Ha? Dia dokter, terakhir kali kulihat dia pakaiannya mewah sekali!"
Woo Ri : "Hanya karena pakaiannya mewah apa kau pikir dia bahagia? Belakangan ini hidupnya jauh lebih menderita daripada aku!"
Seung Chul tanya apa Woo Ri bertemu dengan Joon Ha. Woo Ri menjawab kalau ia bertemu Joon Ha di perusahaan. Dia mendapatkan posisi menggantikan Dong Joo.
Seung Chul kaget apa Cha Dong Joo sudah digulingkan. Paman Lee ikutan kaget dan berkata Cha Dong Joo pasti merasa tersingkirkan. Seung Chul kesal ayahnya ikut bicara dan merusak suasana. Paman Lee bertanya ke Woo Ri apa suasana hati Woo Ri sekarang terjadi karena Dong Joo digulingkan. "Aigoo, aku kasihan padanya!"

Seung Chul mengingatkan Woo Ri agar tak kasihan pada Dong Joo. Tapi Woo Ri tak tahu, ia merasa kasihan pada semua orang. Paman Lee menuangkan minuman untuk Woo Ri agar tahu ceritanya lebih lanjut. Seung Chul memandang tak suka ayahnya menggaggu obrolannya dan langsung mendorong hingga ayahnya terjengkang (Haha.. ya ampun ini anak)

Setelah mendorong ayahnya, Seung Chul langsung merangkul Woo Ri. Woo Ri menabok melepaskan diri. Tiba-tiba ibunya datang dan marah-marah. Bibi Lee berkata kalau Seung Chul masih banyak pekerjaan, "Apa seperti ini caramu mengelola toko?"
Paman Lee berkata pada istrinya kalau Cha Dong Joo sudah digulingkan oleh Ma Roo dan sekarang Ma Roo yang menjadi pangeran Woo Kyung. Bibi Lee tak peduli dan masih marah pada putranya, sebelum Seung Chul juga akan ia gulingkan berhentilah berkelakukan seperti ini. Mereka sudah memiliki 1000 makanan dalam daftar menu. Kenapa masih membuat resep baru. Bibi Lee menunjukan makanan baru yang dibuat putranya.
Seung Chul membela diri kalau itu bukan menu biasa. Ini persembahannya untuk Woo Ri, "Woo Ri kau lihat daun bawang di dada ayamku. Itu laksana dirimu yang tertanam di dadaku!" (wehehe)

Paman Lee menyahut kalau itu sangat keren, "Kau pun akan kutanam!" sahut Paman Lee pada istrinya. Tapi Bibi Lee malah menabok suami dan anaknya sambil memercikan air agar mereka lekas bekerja. Bibi Lee meminta bantuan Woo Ri untuk mencuci piring. Seung Chul menolak, ibunya tak boleh menyuruh Woo Ri bekerja. Dan Woo Ri tersenyum melihat keributan dan kekonyolan keluarga sahabatnya ini.

Dong Joo menunggu Joon Ha di depan sebuah apartemen dan orang yang ditunggu pun datang. Dong Joo langsung keluar dari mobil dan memaggil Joon Ha.
Joon Ha tanya dari mana Dong Joo tahu tempat ini. Dong Joo menjawab bagaimana pun Joon Ha merahasiakannya ia tetap anak pemilik Woo Kyung. Joon Ha tak ingin melihat Dong Joo diluar perusahaan dan menyuruh Dong Joo segera pergi.

Dong Joo menghalangi laju jalan Joon Ha, "Kau tak punya pilihan. Kau sudah tahu kalau aku harus bicara dengan menatap wajah agar percakapan berjalan lancar."
Joon Ha tak mau tahu, itu masalah Dong Joo. Ia tak ada waktu bicara dengan Dong Joo. Yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya agar Tae Yeon Suk menjadi gila lalu loncat dari lantai atas. Ia harus mencari cara untuk itu.
Dong Joo : "Seperti inikah caranya kau memasuki kelemahanku? Seperti pengecut?"
Joon Ha tertawa, "Kau seharusnya berterim kasih padaku. Menipumu, pura-pura akrab dengamu. Mengatakan aku menjagamu, melindungimu, ‘percaylah padaku’. Aku bisa saja memanfaatkanmu untuk menjatuhkan Woo Kyung lalu menusukmu dari belakang seperti ibumu. Jadi kau seharusnya berterima kasih padaku karena aku hanya membencimu!"

Dong Joo tersenyum mengatakan terima kasih karena Joon Ha sudah jujur padanya. "Tapi karena kau pandai kau ingat semua kata-kataku kan? Bahwa setiap kata yang kulihat dengan mataku, itu terukir dihatiku!"

Joon Ha tahu itu. Dong Joo berpesan agar Joon Ha hati-hati dengan kata-katanya dan jangan sampai Joon Ha menyesal. Dong Joo akan pergi tapi Joon Ha menahan dan bertanya apa maksud Dong Joo ia akan menyesal.
Dong Joo : "Ketika kau meninggalkan keluargamu dan kau menggandeng tangan ibuku. Apa kau tahu kalau ini akan terjadi? Jadi jangan salah menduga karena aku sendiri tak pernah menyangka kita akan jadi seperti ini. Ingat selalu kata-kataku!"

Dong Joo kembali ke mobilnya, Joon Ha beteriak. "Kali ini aku takkan menyesal dengan pilihanku. Aku yakin aku takkan menyesal!" Dong Joo tak mengetahui teriakan Joon Ha.
Dong Joo kembali ke rumahnya, tatapan matanya sedih. Ia memandang ikan-ikannya. Joon Ha sendirian di apartemen, ia mengamati suasana rumahnya yang sangat sepi. Joon Ha melirik sarung tangan dan bola baseball-nya.
Dong Joo masih berdiri membelakangi akuarium menggenggam kantung kacang sangat erat dan melempar-lemparkannya. Joon Ha pun melakukan hal yang sama, ia melempar-lempar bola baseball-nya.
Joon Ha memandang bola base ball-nya kemudian ia terlihat sangat marah dan melempar bola itu jauh-jauh. tapi setelah itu ia tampak sedih. Dong Joo menggenggam kantong kacangnya erat.

Pagi-pagi Woo Ri mengantar susu ke rumah Dong Joo. Ia mengambil dua kotak susu dari keranjang sepedanya, susu putih dan susu coklat.
“Orang yang seperti Batman!” panggil Dong Joo. Woo Ri tersenyum melihat Dong Joo. “Kau lebih suka Batman atau aku?” tanya Dong Joo sambil berjalan mendekati Woo Ri. Woo Ri tertawa dan berkata kalau Dong Joo seperti Kakaknya sangat menakutkan.
Dong Joo menggoda Woo Ri, jadi apa ia harus terlihat menakutkan dulu supaya Woo Ri memanggilnya Kakak. “Aku harus memukulmu!” Dong Joo mengangkat tangannya akan memukul tapi Woo Ri malah tertawa.

Dong Joo melihat dua kotak susu yang dibawa Woo Ri dan berkata kalau ia tak minum susu coklat. Woo Ri mengatakan setelah Dong Joo bergaul dengan Joon Ha, Dong Joo harus minum susu coklat juga, “Minuman manis bagus untuk orang yang haus akan cinta!” Dong Joo tanya siapa yang mengatakan itu. Woo Ri menjawab orang yang bukan Bong Ma Roo dan juga orang yang bukan Jang Joon Ha. Dong Joo menolak meminumnya dan segera masuk ke rumah, Woo Ri mengikutinya.
Dong Joo memberi makan ikan-ikannya. Woo Ri berdiri di seberang akuarium dan tersenyum memandang Dong Joo, “Wah... sudah besar!” sahut Woo Ri. Dong Joo tanya bagaimana Woo Ri bisa masuk ke rumahnya.
“Ah... Kau tampan sekali!” Cup.... Woo Ri langsung mencium akuarium. Dong Joo kaget dengan apa yang dilakukan Woo Ri, “Menjijikan. Kau mencium kapan saja sesukamu!”
“Kau bilang apa? Aku melakukannya untuk dia!” sahut Woo Ri sambil menunjuk salah satu ikan, “Siapa namanya?”
“Cha!” jawab Dong Joo jutek. Woo Ri mencium akuarium sekali lagi.
Dong Joo duduk di depan piano. Ia mulai merenggangkan tangan siap memainkan pianonya. Woo Ri ada di depannya dan bertanya apa Dong Joo mau memainkannya. Woo Ri berkata sejelas mungkin di depan wajah Dong Joo.

Dong Joo menatapnya apa Woo Ri mau diajari. Woo Ri langsung semangat dan duduk di samping Dong Joo, “Benarkah? Apa kau serius?” Dong Joo memberi syarat itu semua tergantung bagaimana sikap Woo Ri.
Dong Joo mulai memainkan nada yang seperti biasanya sambil sesekali menatap Woo Ri. Woo Ri menikmatinya dan berkata kalau menurut ibunya suaranya itu seperti piano. Dong Joo membenarkan suara Woo Ri memang sama seperti suara piano.

Dong Joo menekan nada yang sama tapi nadanya semakin tinggi, “Bagaimana menurutmu? Sama seperti suaramu kan?” Dong Joo kembali memainkan pianonya. Dong Joo meminta Woo Ri menceritakan tentang Ibu Woo Ri, “Orang seperti apa dia?”
Woo Ri mulai menjelaskan dan Dong Joo tetap memainkan pianonya tak menatap Woo Ri, “Siapapun yang masuk ke salon ibuku rambutnya dipotong dan menjadi cantik. Kemudian ....” Woo Ri menatap Dong Joo yang terus memainkan piano. “Dia orang yang melihat suara dengan matanya, seperti juga dirimu!”

Dong Joo berhenti memainkan piano dan menatap Woo Ri, “Apa lagi?”
Keduanya bertatapan, Woo Ri kembali melanjutkan kata-katanya, “Dia bukan orang yang tak bisa mendengar, tapi dia orang yang bisa melihat dengan baik!” Woo Ri tersenyum seperti itulah dirinya menunjukan suara pada ibunya.

“Menunjukan suara?” Dong Joo langsung teringat ketika Mi Sook Kecil mengatakan ini di rumahnya. Woo Ri langsung menyebutkan solmisasi seperti yang diucapkannya dulu dengan gaya yang sama.
Do....
Re
Mi
“Apa itu?” tanya Dong Joo sama seperti yang ia tanyakan dulu.
Fa...... Woo Ri mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Dong Joo tertawa, “Dasar pianis palsu. Fa itu disini!” Dong Joo menekan tuts piano, “Fa Fa Fa!”
“Bukan. Faaaa....!” kata Woo Ri sambil memperagakan lagi. “Bagaimana bukankah sama saja?” Dong Joo tersenyum, “Benar. Itu sama!”

Dong Joo meminta Woo Ri memperhatikan baik-baik karena ia hanya menunjukkannya sekali. Woo Ri menolak, kalau Dong Joo mau mengajari ajarkan sampai ia bisa. Jangan hanya sekali tapi ajarkan sampai ia bisa. “Itu tergantung bagaimana kau bersikap!” sahut Dong Joo.
Dong Joo langsung menarik Woo Ri kepelukannya, “Kalau suaramu seperti suara piano lalu bagaimana dengan suaraku?” Mata Woo Ri berkaca-kaca mendengar Dong Joo menanyakan ini, “Hangat!” jawab Woo Ri. Dong Joo tak mengetahui jawaban Woo Ri tapi ia merasakan Woo Ri mengatakan sesuatu.
Woo Ri melepas pelukan Dong Joo dan mengulang ucapannya, “Hangat. Seperti hatimu, suaramu itu hangat!” Dong Joo memperhatikan apa yang diucapkan Woo Ri kemudian ia tersenyum dan kembali memeluk Woo Ri.
Presdir Choi tengah bersama Dir Kang di ruangannya. Ia mengatakan kalau sekarang istrinya menuduh dirinya membunuh Presdir Tae (Ayah Ny Tae Yeon Suk / Kakek Dong Joo)
Dir Kang penasaran sebenarnya apa yang terjadi ketika malam itu. Presdir Choi berkata jujur kalau ia sudah menarik oksigen. Dir Kang jelas terkejut mendengar ini. Presdir melanjutkan kata-katanya, karena Dir Kang sudah tahu yang sebenarnya awas saja karena Dir Kang sekarang sudah terlibat bersamanya.
Dir Kang berkata kalau ia sudah menutup mata ketika Presdir Choi mencuri kekayaan Presdir Tae. Presdir Choi tertawa siapa yang akan percaya itu setelah Dir Kang juga ikut menikmatinya.

Dir Kang marah apa sekarang Persdir Choi mengancamnya. Presdir bertanya dengan santai mengancam apa bukankah Dir Kang tahu hukumnya, yang dilihat Dong Joo bukankah semuanya bukti. Kalau Dir Kang merasa tak enak hati terhadap Dong Joo silakan kembalikan uang yang sudah Dir Kang ambil dan berlutut dihadapan Dong Joo.
Min Soo dan Joon Ha masuk ke ruangan Presdir. Presdir Choi meminta keduanya duduk. “Ya Ayah!” Ucap Joon Ha. Min Soo jelas terkejut mendengar Joon Ha menyebut Presdir Choi dengan sebutan ayah. Joon Ha tersenyum dengan keheranan Min Soo. Presdir tertawa dan berkata kalau Joon Ha adalah anaknya yang hilang.

Presdir Choi berpesan pada Dir Kang agar merahasiakan ini dari Dewan Direksi dan mengatakan kalau Joon Ha adalah penerus Woo Kyung.

Joon Ha bertanya pada Min Soo, bukankah Min Soo tak suka dengan yang namanya rahasia. Sekarang apa yang akan Min Soo lakukan setelah tahu semuanya. Min Soo tak tahu harus mengatakan apa.
Joon Ha dan Min Soo berada di ruangan Joon Ha (yang tadinya ruangan Dong Joo). Min Soo kesal bagaimana dengan Dong Joo apa yang terjadi dengan dia. Joon Ha berkata kalau ia akan membimbing Dong Joo dengan baik. Walaupun ia tak ada hubungan darah tapi ia dan Dong Joo sudah saling mengenal lama.

Min Soo : “Apa itu sebabnya kau mengambil kedudukannya dan mengusirnya ke bagian marketing?”
Joon Ha : “Kau jangan seperti itu. Aku pantas mendapatkan posisi ini. Apa kau sudah lupa? Selama 5 tahun ketika Energy Cell masih dibangun akulah orang yang paling berperan ini semua terlaksana. Kang Min Soo, aku akan membimbingmu dan mempekerjakanmu disini!”
Min Soo tak habis pikir dengan sikap Joon Ha yang sekarang, tetap saja Joon Ha jahat. Joon Ha seharusnya melakukan hal yang lain, kenapa harus Energy Cell. Ia tahu Joon Ha telah membantu tapi tetap saja ide tentang produk dan isinya adalah ide Dong Joo.
Joon Ha : “Lalu apa dia harus kukirim ke bagian riset?”
Min Soo : Apa?

Joon Ha menjelaskan kalau Dong Joo tak selamanya bisa mengendalikan Energy Cell. Lebih baik sekarang dari pada nanti tapi dia lebih menderita. Min Soo tanya kenapa. Joon Ha tak bisa mengatakannya kalau Min Soo masih penasaran lebih baik tanya langsung pada Dong Joo.

Joon Ha menyerahkan berkas persetujuan tentang Make Up Show dan meminta Min Soo menyiapkannya baik-baik. Min Soo masih menatap tak mengerti. Joon Ha mendesah apa Min Soo tak puas, kalian akan kesulitan tanpa dukungan dari Woo Kyung. Min Soo masih ingin tahu lebih jelas tapi Joon Ha memintanya jangan bertanya lagi dan kembali menegaskan kalau ia tak mencuri kedudukan Dong Joo tapi Dong Joo-lah yang duduk di kursinya.
Dong Joo masih di rumah. Ia mempersiapkan dirinya untuk acara Make Up Show. Dong Joo melepas jam tangan alarm dan menyimpannya di laci. Ia juga menyimpan kantung kacangnya di laci yang sama. Isi lacinya tertata rapi.
Semuanya tengah mempersiapkan acara Make Up Show. Dong Joo sampai di sana dan melihat Joon Ha tengah mengatur semuanya, mulai dari tata letak hingga tata lampu. Dong Joo memuji ini sangat hebat apa lagi dengan dukungan dari Woo Kyung dan meminta Joon Ha meneruskannya.
Joon Ha memberi tugas untuk Dong Joo. Joon Ha memanggil wartawan dan berkata pada wartawan kalau semua ini yang mempersiapkan adalah Dong Joo. Joon Ha mengatakan pada Dong Joo kalau wartawan ini yang nantinya akan meliput seluruh acara. Wartawan langsung memberondong pertanyaan ke arah Dong Joo. Wartawan yang berdiri di samping kanan kiri bertanya secara bersamaan.
Dong Joo menatap Joon Ha, “Kau tahu semua. Aku memang mempersiapkan semua ini. Tapi orang ini, dia perwakilan khusus dari Woo Kyung. Akan lebih baik kalau kalian bertanya padanya!” Dong Joo melempar balik umpan Joon Ha.

Ponsel Dong Joo bergetar Joon Ha mengetahui itu dan meminta Dong Joo menjawabnya. Staf Energy Cell dan Woo Ri datang, Woo Ri memperhatikan keduanya. Dong Joo akan menjauh menjawab telepon tapi Joon Ha menahan meminta Dong Joo menjawab teleponnya di sini.

Ny Tae yang menelepon Dong Joo. Dong Joo langsung menjawab dengan meletakkan ponsel di telinganya. Ia berkata pada ibunya kalau ia sibuk dan akan menelepon nanti.
Joon Ha merebut ponsel Dong Joo, ia tahu kalau itu dari Ny Tae. Joon Ha menggantikan Dong Joo menjawabnya, “Ya Ibu. dimana kau? Bisakah kau membawa file dari ruanganku ke sini?” Dong Joo memperhatikan apa yang diucapkan Joon Ha.

Wartawan heran Joon Ha menyebut kata ‘Ibu’ dan bertanya apa Dong Joo dan Joon Ha memiliki hubungan saudara. Dong Joo menatap Joon Ha penuh kekesalan. Joon Ha memberi kode supaya Dong Joo menjawab semua pertanyaan wartawan sementara ia sendiri menjawab telepon Ny Tae menggantikan Dong Joo.
Joon Ha membalikan badan dan berkata pada Ny Tae kalau Dong Joo tengah diwawancara. Mereka menanyakan dirinya dan Dong Joo. Joon Ha bertanya apa yang harus ia katakan pada wartawan. Dong Joo penasaran apa yang Joon Ha katakan pada ibunya.

Ny Tae terdengar marah apa yang sudah Joon Ha lakukan. Joon Ha balik bertanya kenapa sikap Ny Tae seperti itu bukankah ia sudah terbiasa menjawab telepon untuk Dong Joo. “Kalau kau marah apa yang akan kau lakukan?”

Wartawan kembali bertanya apa Dong Joo dan Joon Ha bersaudara dan datang lagi pertanyaan lain secara bersamaan.
Woo Ri yang melihat semua itu dan langsung berinisiatif maju. Ia menyentuh Dong Joo dan berkata kalau contoh hadiah ada padanya dan meminta Dong Joo mengeceknya lagi. Woo Ri minta maaf pada wartawan karena sudah mengganggu soalnya kalau ia salah ia takut akan dipecat (Woo Ri penyelamat)

Dong Joo langsung meminta wartawan bertanya langsung pada Joon Ha. Dong Joo dan Woo Ri langsung meninggalkan mereka semua. Joon Ha menahan diri dan menutup telepon. Sambil jalan Woo Ri berbalik menatap Joon Ha tapi Dong Joo membalikkan kepala Woo Ri agar tak melihat kemana-mana.
Young Kyu berada di taman botani ia merasa kalau ia tengah diikuti seseorang. Ia berhenti dan seseoarng yang dibelakangnya juga ikut berhenti. Young Kyu jalan lagi dan orang itu pun mengikuti langkahnya (seorang wanita mengenakan sepatu hak tinggi) Young Kyu mempercepat langkahnya wanita itu pun demikian (Na Mi Sook yang mengikuti Young Kyu)
Young Kyu berhenti mendadak dan berbalik badan menatap kesal kenapa Mi Sook terus mengikutinya. Mi Sook menjawab gelagapan dan berkata kalau ia manjual make up.

“Kau doggy yang tersesat!” sahut Young Kyu. Mi Sook marah mendengar sebutan Young kyu untuknya.
Young Kyu : “Kau selalu mengikutiku, mungkin saja kau doggy yang tersesat.”

Young Kyu melajutkan jalannya lagi, Mi Sook kembali mengikutinya. Kali ini Mi Sook berjalan di samping Young Kyu dan bertanya apa taman botani ini milik Young Kyu. Young Kyu menjawab bukan dan ia menunjukan dimana letak rumahnya yang sekarang dan rumahnya yang dulu. Ia ada di taman karena Mi Sook sangat menginginkan taman bunga.
Mi Sook heran dengan nama yang disebut Young Kyu, “Apa itu ibunya Bong Woo Ri yang mirip aku?”
Young Kyu memperhatikan wajah Mi Sook dan berkata kalau Mi Sook ibunya Woo Ri tak mirip dengan Mi Sook yang ada di hadapannya, “Mi Sook-ku sangat cantik. Tapi orang yang ditinggalkan cinta, penuh tepung dimana-mana. Kau seperti kue tepung beras.”

Mi Sook sewot apa Young Kyu menyukai wanita yang tak memakai make up. Young Kyu mengatakan ia tak menyukainya. Mi Sook-nya tidak mengenakan make up. Mi Sook-nya satu-satunya wanita.
Mi Sook : “Satu-satunya wanita? Kalau semua pria di dunia ini seperti dirimu tak akan ada wanita yang tak bahagia!” (jadi wanita semuanya bahagia kalau semua pria di dunia seperti Young Kyu haha)
Young Kyu tak mengerti apa yang dikatakan Mi Sook. Dengan tatapan sedih Mi Sook mengatakan wanita tak bahagia artinya walaupun kau menginginkan cinta karena luka itu kau tak akan bisa. Walapun kau tak ingin sendirian karena luka itu kau akan tetap sendirian. Walapun dibawah sinar matahari sendiri kau merasa dalam kegelapan malam.

Young Kyu geleng-geleng tak mengerti maksudnya, “Menjadi wanita tak bahagia itu sulit. Berhentilah menjadi wanita yang tak bahagia!” Mi Sook juga inginnya seperti itu tapi ia tak bisa keluar dari sana. Ketidakbahagiaan selalu mengikuti seperti bayangan, menancap di bawah kakinya dan mengikutinya terus.

Young Kyu : “Kalau begitu ketidakbahagiaan adalah doggy yang tersesat. Mengikutimu terus seperti doggy yang tersesat. Yang harus kau lakukan adalah katakan ‘pergi pergi’ dan mengejarnya dengan sapu. Bisakah aku mengejar ketidakbahagianmu?”

Mi Sook terharu mendengarnya karena Young Kyu orang pertama yang mengatakan itu padanya. Mi Sook hampir menangis. Young Kyu meminta Mi Sook jangan menangis karena itu akan membuatnya ikutan menangis. Mi Sook berujar kalau Young Kyu juga orang pertama yang menangis bersamanya.
Young Kyu menyangkal kalau ini bukan yang pertama kalinya. Ketika di belakang rumah Seung Chul mereka menangis bersama. Young Kyu memperagakan bahasa isyarat ‘bersama’. Mi Sook tanya apa itu sambil memperagakan apa yang diperagakan Young Kyu.

“Bersama bersama!” jawab Young Kyu. Ini bahasa isyarat yang diajarkan mi sook padanya. Mi Sook heran, “Bahasa kode? Apa Mi Sook tak bisa bicara?”
Young Kyu : “Tidak. Dia bicara dengan tangannya dan dia sangat cantik.”

Young Kyu menunjukan beberapa kata menggunakan bahasa isyarat dan berkata kalau ia masuk surga nanti ia akan bicara dengan Mi Sook, banyak yang akan ia ceritakan pada Mi Sook jadi ia berlatih setiap hari dan sekarang ia sudah pandai berkata apa saja.
“Mi Sook pasti sangat bahagia di surga!” sahut Na Mi Sook. Young Kyu menatap langit, “Mi Sook apa kau bahagia di surga?” Na Mi Sook ikut menengadahkan wajahnya menatap langit.
Acara Make Up Show pun dimulai. Kang Min Soo menjadi MC acaranya. Semua tepuk tangan. Woo Ri berdiri di samping Dong Joo. Joon Ha berdiri sendirian jauh dari semuanya.
Woo Ri sangat antusias melihat para model Make Up Show. Dong Joo memperhatikannya apa Woo Ri juga mau ke atas panggung. Woo Ri menolak dan meminta Dong Joo saja yang ke panggung.
Dong Joo memperhatikan apa yang diucapkan Woo Ri, “Kau ini seperti kodok yang bermulut besar. Kenapa mulutmu kau buka lebar-lebar kalau bicara?”
Woo Ri : “Apa? Aku bilang kau lebih putih, kau saja yang ke atas!”
Dong Joo : “Apa bisa? Haruskah aku yang membawa finalisnya?”
“Apa kau serius?” Tanya Woo Ri tapi Dong Joo tak memperhatikannya. Woo Ri langsung berdiri di depan Dong Joo, “Apa kau benar-benar mau melakukan itu?”
Dong Joo tersenyum dan melorotkan bando yang dipakai Woo Ri hingga menutupi mata Woo Ri. Woo Ri tertawa.
Presdir Choi duduk di dekat istrinya dan berkata bakat Dong Joo itu pasti didapat dari Ny Tae.
Ny Tae : “Itu lebih baik dari pada terlantar. Cha Dong Joo sangat bagus menjalankan usaha Woo Kyung. Aku bangga padanya.”
Tiba-tiba Joon Ha menyentuh pundak Ny Tae, “Bisakah kau bangun agar aku bisa bicara dengan Ayah?”
Nya Tae mengatakan dengan ketus kalau itu bukan tempat duduk. Presdir Choi langsung berdiri ia akan meninggalkan tempat dan beralasan bosan.
Keduanya bicara, Presdir Choi mengatakan kalau ia sudah memberikan posisi yang Joon Ha inginkan, “Memangnya kau siapa mencoba menolongku dengan uang?”
Joon Ha Berpikir kalau Presdir Choi akan menghargainya. “Kita kehilangan moment untuk mengehentikan Energy Cell. Sekarang kita biarkan saja dia berkembang, setelah itu kita jual!”
Presdir : Jual?
Joon Ha : “Perusahaan itu berjalan atas nama Dong Joo, apa kau tetap akan melakukan itu? akan kuambil alih Energy Cell. Ayah, Kau bertanggung jawab mencarikanku nama!”
Presdir : apa?
Joon Ha : “Aku tak menyukai nama Jang Joon Ha. Tae Yeon Suk yang memberikanku nama itu. Aku mau menghilangkan nama itu!”
Presdir menyarankan tak usah terburu-buru karena banyak orang yang akan memperhatikan.
Joon Ha : “Bukankah itu penting, setelah kau temukan anak yang hilang setelah 30 tahun? Kau bilang kau mau memberikan apa saja!”
Presdir : “Kau tak tahu apa-apa. Kalau aku menendang Tae Yeon Suk tanpa rencana ....”
“Dia akan mengungkapkan statusmu sebagai pembunuh ayahnya!” Joon Ha memotong ucapan Presdir Choi. Presdir Choi terkejut Joon Ha mengetahui ini. Joon Ha tersenyum dan meminta Presdir Choi tak perlu khawatir karena dia (Ny Tae) tak akan begitu saja mengungkapkannya, “Ayah masukan aku ke dalam daftar anggota keluarga.”

Joon Ha akan pergi tapi Presdir Choi memanggilnya, “Kalau kau ingin mendapatkan sesuatu kau harus belajar bersabar. Bukannya aku tak mau mengabulkan keinginan anak yang hilang selama 30 tahun, cobalah mengontrolnya!”
Joon Ha berdiri menyendiri menatap Dong Joo dari kejauhan. Dong Joo bersama staf Energy Cell yang lain. Dong Joo berterima kasih pada staf Energy Cell karena sudah bekerja keras.
Tiba-tiba Woo Ri memberikan sebotol air mineral pada Joon Ha. Joon Ha memandang Woo Ri yang membawa banyak air mineral, “Apa kau tak merasa dilecehkan? Min Soo disorot lampu di panggung dan kau hanya memegang botol air. Tapi kau tetap senang selama kau berada di sebelah Dong Joo kan?”

Dong Joo melihat Joon Ha dan Woo Ri. Keduanya bertemu pandang, Dong Joo langsung kembali menatap panggung. Joon Ha menyuruh Woo Ri pergi ke Dong Joo karena sepertinya Dong Joo mencari Woo Ri. Joon Ha menerima air mineral pemberian Woo Ri.
Woo Ri akan pergi tapi ia menghentikan langkahnya dan kembali menatap Joon Ha, “Kau tahu kenapa aku merasa senang bersama Cha Dong Joo? Karena Cha Dong Joo menyukaiku meskipun kerjaku hanya memegang botol air. Aku merasa diriku hebat walaupun hanya seperti itu. Tapi sejak kau menanyakannya tiba-tiba aku merasa diriku menyedihkan. Jangan bicara seperti itu, aku kecewa!”
Woo Ri langsung menghampiri Dong Joo dan memberikan air mineral yang ia bawa. Dong Joo membagikannnya untuk staf Energy Cell. Joon Ha melihat kegembiraan dan kebersamaan mereka sementara dirinya sedih sendirian dan terluka.

Min Soo berbisik kalau jadwalnya agak terlambat dan ia harus segera memulai finalnya. Dong Joo memberikan kode setuju. Dong Joo langsung menyuruh staf untuk mengatakan pada panitia kalau finalnya dipercepat. Mereka semua tampak sibuk, Joon Ha hanya melihatnya saja.
Dong Joo masuk ke ruang ganti ia meminta semua penata rias agar ke ruang ganti di belakang panggung. Joon Ha menelepon Dong Joo. Woo Ri melihatnya dan menyadari situasi. Ia langsung mengusulkan akan mengantar penata rias ini ke belakang panggung dan meminta Dong Joo menyusul setelah selesai menelepon.
Ruang ganti sepi dan Dong Joo menjawab teleponnya. Ia memperhatikan layar ponselnya. Joon Ha tanya ada apa. Dong Joo mengatakan kalau ia mempercepat acara finalnya.
Joon Ha : Aku turut merasa cemas apa karena aku tahu masalahmu?
Pet... Tiba-tiba lampu di ruang ganti padam. Dong Joo celingukan dan melihat Joon Ha berdiri di pintu. Dong Joo terlihat marah, apa yang dilakukan Joon Ha sekarang.
“Mempermainkanmu!” jawab Joon Ha. “Seperti yang ibumu lakukan padaku. Apa kau takut? Kalau begitu datanglah ke sini.”
Tangan Joon Ha memperagakan meminta Dong Joo mendekat ke arahnya. Seperti Ny Tae dulu meminta Joon Ha mendekat. “Kemarilah Dong Joo!”
Dong Joo : “Kau bilang kau mau mengambil semua milikku kau harus merubah caramu. Dengan cara ini kau tak akan mendapatkan apa-apa!”
“Lalu bagaimana dengan cara ini?” Joon Ha menutup pintu ruang ganti.
Dong Joo berada di ruang gelap seorang diri. Terbayang dalam ingatannya Joon Ha pernah berkata ketika di saipan, “Kenapa? apa kau takut? kau takut kalah? Bodoh. Kotoran semut.” Teringat juga ucapan Joon Ha yang meminta Dong Joo gantian menjadi malaikat pelindung kalau tidak Joon Ha akan menderita dan patut dikasihani.
Dong Joo keluar dari ruang ganti dan menyusul Joon Ha, “Rubah caramu itu. Cara itu tak akan mempan untukku!”
Dengan tatapan dingin Joon Ha berkata ia berharap Dong Joo mati.
Dong Joo : “Setelah selama ini, aku tak akan mati semudah itu. Kau yang akan mati!”
Dong Joo langsung pergi Joon Ha berteriak meminta Dong Joo berhenti.
Kim Bi berkata kalau finalnya akan segera dimulai dan bertanya pada Woo Ri dimana Dong Joo. Woo Ri heran karena ia tadi meminta Dong Joo untuk menyusulnya ke belakang panggung.
Woo Ri langsung mencari Dong Joo dan berpapasan dengan Joon Ha, “Mana Cha Dong Joo?” tanya Joon Ha.
Dan pet.... Lampu aula acara Make Up Show padam. Ny Tae langsung mencemaskan putranya. Woo Ri dan Joon Ha juga terlihat cemas. Joon Ha menyuruh Woo Ri segera mencari Dong Joo.

“Ini bukan kecelakaan. Tenanglah sebentar!” tiba-tiba suara Dong Joo muncul ditengah kegelapan.
Byar.... Lampu menyala dan Dong Joo sudah berdiri di atas panggung, “Inilah dunia yang kujalani selama ini!” Wartawan langsung maju berdiri di depan panggung. Semua menatap heran.
Dong Joo memandang ibunya yang terlihat begitu mencemaskannya. “Telingaku.... tak bisa mendengar!”
Dong Joo memandang Joon Ha yang terlihat sangat terkejut karena Dong Joo mengatakan ini di depan umum. Ny Tae tambah cemas. Presdir tak mengerti apa yang dikatakan Dong Joo.

Woo Ri terharu mendengar pengakuan Dong Joo. Ny Tae meminta tolong pada Joon Ha agar mematikan microphone-nya sekarang. Min Soo dan semua Staf Energy Cell juga menyaksikan ini.
Dong Joo menatap Presdir Choi, “Aku kehilangan pendengaranku ketika kecelakaan pada usiaku 13 tahun dan aku tak bisa mendengarkan suaraku sendiri!” Presdir melongo atas apa yang baru saja Dong Joo katakan.

Dong Joo menatap Woo Ri. Woo Ri mengangguk setuju Dong Joo mengatakan semuanya. Dong Joo tersenyum, “Tapi aku baik-baik saja!”

Wartawan penasaran, “Apa ini bagian dari Make Up Show? Apa maksudmu kau tak bisa mendengar? Maksudmu apa kau tuna rungu?”
“Aku baik-baik saja karena ada seseorang yang mengatakan padaku dengan hatinya....” Dong Joo kembali menatap Woo Ri yang sudah menteskan air mata, “Cha Dong Joo. Kau bukan orang yang tak bisa mendengar tapi orang yang bisa melihat lebih baik!”
Woo Ri memperagakan bahasa kode, “Kau bodoh...” Dong Joo tersenyum melihatnya.
Dong Joo kembali menatap ke audiens, “Aku bukan orang yang tak bisa mendengar tapi orang yang bisa melihat labih baik!” Dong Joo mengulang kalimat itu beberapa kali dan tersenyum...



re-posted and re-edited by : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment