Friday, October 04, 2013

Can You Hear My Heart Episode 26

Dong Joo menandatangani penjualan Energy Cell pada Mr Phillppe, kedunya penuh senyum dan berjabat tangan. Ny Philippe bertanya apa Dong Joo tak menyesal sudah menjual Energy Cell. Dong Joo meyakinkan apapun keputusan yang sudah ia buat, ia tak akan menyesalinya.

Mr Phillippe : “Cha Dong Joo kau orang baik mari kita bekerja sama.”
Semua bersulang.

Presdir Choi memuji Joon Ha sudah melakukan hal yang bagus. Dong Joo menelepon Joon Ha. Presdir Choi akan menuju ruangannya.
Joon Ha tanya apa Dong Joo sudah mendapat kabar. Dong Joo menebak apa mengenai penjualan Energy Cell. Dong Joo berkata kalau Joon Ha sudah terlambat karena ia sudah menjualnya.

Joon Ha terkejut mendengarnya dan terlihat sangat marah. Apa hak Dong Joo menjual Energy Cell itu milik Woo kyung. Presdir Choi yang belum jauh terkejut mendengar Joon Ha mengatakan itu dan bertanya apa yang terjadi.

Joon Ha meminta Dong Joo segera datang ke kantor. Presdir Choi merebut ponsel Joon Ha dan bicara dengan Dong Joo.
“Aku sedang bicara berikan padaku!” Joon Ha membentak Presdir Choi.
“Tutup mulutmu!” ucap Presdir.

Presdir marah, “Cha Dong Joo apa yang sudah kau lakukan?” Dong Joo membaca apa yang tertera di layar ponselnya. “Siapa itu? aku tak bisa mengenalimu. Ini hanya pesan tulisan. Jang Joon Ha? Ayah?” Dong joo berusaha menebak dengan siapa ia bicara. Presdir meminta Dong Joo datang ke kantor sekarang.

Dong Joo tersenyum dan bertanya dengan siapa ia bicara. Ia tak bisa kalau caranya seperti ini. Kita bicara 4 mata saja nanti. Dong Joo memutus teleponnya.
Min Soo menepuk bahu Dong Joo pelan dan berkata kalau tamunya akan pulang. Dong Joo akan menemui mereka tapi Min Soo penasaran. Ia tak tahu apa yang terjadi, ia akan bingung kalau Dong Joo tak menjelaskannya. Dong Joo tak mengatakan apapun pada Min Soo.
Presdir berada di ruangannya bersama Joon Ha. Ia cemas berkata kalau kita kalah dua kali sekaligus, “Kita tak mendapat uang dari penjualan Energy Cell dan kita harus membayar biaya pinalti.”

Joon Ha meminta ayahnya menunggu supaya lebih yakin. Ayahnya tak boleh begitu saja mempercayai perkataan Dong Joo. Presdir marah apa Joon Ha tak tahu seperti apa Dong Joo. Kalau saja Joon Ha mendengarkannya hal ini tak akan terjadi. “Ditikam oleh orang cacat. Kalau seperti ini caramu bekerja, kenapa kau menjadi Direktur?”

Joon Ha mengeraskan suaranya, ia juga marah. Ia bukan satu-satunya yang membuat ide penjualan Energy Cell. Bagaimana bisa Direktur seperti dirinya memahami hal ini kalau pemilik perusahaan saja tak mengerti tentang hal itu.

Presdir Choi merasa kalau ia akan dipermalukan karena sudah mendukung Joon Ha di perusahaan. “Dan kau ingin aku mempercayakan perusahaan padamu? Lakukanlah sesuatu baru bisa aku percaya. Apa lagi yang kau tunggu lakukan sesuatu!” Bentak Presdir.
Joon Ha keluar dari ruangan Presdir dan menghubungi Min Soo. Joon Ha tanya dimana Min Soo. Min Soo menjawab kalau ia baru saja dari rumah Dong Joo dan sekarang ada di Lab.

Joon Ha mengatakan kalau ia sudah mendengar penjualan Energy Cell. Ia ingin tahu lebih jelas bagaimana itu bisa terjadi. Min Soo membenarkan dan mengatakan kalau pemilik Energy Cell yang sekarang adalah pemilik perusahaan multinasional. Min Soo menambahkan kalau Cha Dong Joo tidak akan menjualnya begitu saja. Min Soo merasa kecewa pada Joon Ha, ia sudah mendengar dari ayahnya.

Joon Ha meminta Min Soo menemuinya, ada yang ingin ia beritahukan pada Min Soo. Min Soo menolak ia tak ingin menemui Joon Ha sekarang. Joon Ha memerintahkan Min Soo datang karena menurut Joon Ha hari ini mungkin Dong Joo sudah mengalahkannya dan yang berikutnya adalah Min Soo. Min Soo tak mengerti apa yang dikatakan Joon Ha.

Joon Ha : “Tae Yeon Suk hanya mempercayaimu kan? Aku sudah dibohongi kata-kata itu selama 16 tahun.”
Min Soo : “Apa maksudmu?”
Joon Ha : “Putri pegawai Woo Kyung yang paling dipercaya, Kang Min Soo. Datanglah ke sini!”
Dong Joo mengemasi pakaian dan memasukannya ke koper. Ketika ia tengah berkemas Woo Ri menghubunginya. Woo Ri tersenyum dan bertanya apa Dong Joo sudah menyelesaikan tugas Dong Joo dengan baik. Dong Joo malah balik bertanya apa yang terjadi karena ia berfikir Woo Ri tak jadi datang karena sakit jadi ia akan datang untuk memastikannya.

Woo Ri mengaku kalau sebenarnya ia datang tapi ia melihat Dong Joo bersama orang asing. Ia takut berbuat kesalahan karena bahasa inggrisnya tak baik. Dong Joo menyindir memangnya Woo Ri dipanggil untuk berbicara bahasa inggris. Ia hanya ingin Woo Ri membantunya membaca ekspresi wajah. “Bukankah kau bilang hanya dengan melihat ke dalam matanya kau bisa langsung tahu apa saja.” Woo Ri minta maaf seharusnya ia berfikir seperti itu tadi.

Dong Joo : “Apa kau tak percaya padaku? Baiklah kalau kau masih terus seperti ini kita putus saja.”
Woo Ri kaget mendengar Dong Joo mengatakan ini. Dong Joo mengatakan kalau ia tengah bersiap-siap. Ia memperlihatkan baju yang tengah ia kemasi. Woo Ri ingin tahu Dong Joo mau kemana.

Dong Joo : “Supaya kau tahu bagaimana perasaanmu sendiri, aku harus pergi.”

Woo Ri kembali bertanya Dong Joo mau kemana. Dong Joo menolak memberi tahu. Mulai sekarang Woo Ri tak boleh tahu apa yang akan terjadi. Bukankah Woo Ri takut hanya gara-gara satu orang asing dan meminta Woo RI introspeksi diri.

Woo Ri ingin tahu siapa yang menang hari ini. Dong Joo diam sejenak, “Ini... rasanya aku yang menang. Tapi aku perlu menenangkan diri dulu. Jadi...”
Woo Ri : “Hmmm kalau begitu aku akan pergi menghibur ke yang kalah. Aku selalu menepati janji.”

Woo Ri minta Dong Joo memberitahunya kalau sudah sampai di Amerika. Woo Ri menebak Dong Joo akan menenangkan diri ke Amerika.
Dong Joo : “Kenapa Amerika? Aku akan pulang.”
Woo Ri tersenyum ternyata Dong Joo mau pulang. Woo Ri segera menutup teleponnya dan Dong Joo hanya bisa tersenyum.
Ny Tae meminta Sekertaris Kim menyiapkan surat gugatan, tak perlu menunggu karena ia berhak melakukannya. Tepat saat itu Dong Joo masuk ke kamar ibunya. Melihat putranya datang Ny Tae memutus telepon dan akan menghubungi Sekertaris Kim nanti.

Ny Tae mencemaskan putranya. Apa Dong Joo sudah tahu tentang Choi Jin Chul, Joon Ha dan yang lainnya. Mereka memutuskan untuk menjual Energy Cell. Ny Tae meminta Dong Joo siap-siap untuk mengajukan tuntutan.

Dong Joo meminta ibunya tenang karena ia sudah menjual Energy Cell pada perusahaan Prancis dan Choi Jin Chul tak akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Ny Tae tersenyum lega mendengarnya, seharusnya Dong Joo mengatakan itu padanya karena ia berfikir kalau semuanya sudah berakhir.

Ny Tae memberi tahu seharusnya Dong Joo melihat tadi. Ketika rapat Choi Jin Chul membawa Joon Ha dan membuatnya mempresentasikan idenya.
Dong Joo : “Ibu yang membuat Kakak jadi seperti ini. Dan jangan lagi bicara tentang pekerjaan. Kalaupun ada tuntutan itu aku yang akan menuntut dan jangan pernah menganggu Kang Min Soo!”

Pelayan masuk ke kamar Ny Tae dan memberi tahu kalau Presdir Choi sudah pulang. Dong Joo meminta ibunya menunggu di kamar saja. Ia yang akan keluar lebih dulu.
Dong Joo menemui Presdir Choi dan berkata kalau Presdir Choi tak terlihat ceria pasti ada sesuatu yang terjadi. Presdir marah atas izin siapa Dong Joo menjual perusahaan. Dong Joo mengatakan kalau perusahaan itu miliknya. Apa Presdir sudah lupa siapa pemilik asli Woo Kyung.

Presdir mengingatkan bukankah ia sudah mengatakannya Dong Joo sudah terlambat kalau ingin mengambil alih perusahaan. Dong Joo tertawa dan berfikir kalau sekarang lah saat yang tepat.

Dong Joo berpesan mulai sekarang Presdir harus berhati-hati duduk di kursi Presiden Direktur. Dong Joo naik ke kamarnya. Presdir berteriak memanggil Dong Joo (percuma Dong Joo ga bakalan denger teriakanmu)
Ny Tae keluar dari kamarnya dan berkata apa yang dilakukan suaminya itu tak ada gunanya. Bukankah ia sudah bilang walaupun suaminya memanggil Dong Joo dia tak akan menengok.
Ny Tae menepuk dada Presdir, “Rasakan hatimu robek berkeping-keping.” Presdir menyingkirkan tangan istrinya.
Dong Joo merebahkan diri di ranjang. Ia teringat sesuatu dan mengambil ponsel dari saku celananya. Dong Joo duduk dan menyetel rekaman ketika Woo Ri menyanyi di show room mobil. (Episode 16 lagu Good Person)

Dong Joo mengucap ulang apa yang dinyanyikan Woo Ri. Ia membaca gerak bibir Woo Ri ketika menyanyi. Ia mengulangnya dengan nada versinya sendiri karena memang ia tak tahu nada aslinya.
Woo Ri ke kantor Energy Cell disana tak ada staf satupun, sepi. Tapi di dalam ruangan Joon Ha, Min Soo tengah berbincang dengan Joon Ha.
“Kau bohong ayahku tak melakukan itu.” ucap Min Soo. Ia perlu bukti.
Joon Ha : “Kang Min Soo, apa kau mau menjadi seperti aku? Cha Dong Joo sedang memanfaatkanmu. Apa kau tak melihat diriku? Aku sudah menjadi Kakaknya selama 16 tahun hanya karena ayahku membunuh Presdir Tae. Hal yang sama akan terjadi padamu. Sejak kau bergabung dengan Energy Cell, Cha Dong Joo memanfaatkanmu untuk balas dendam. Dia tahu ayahmu ikut terlibat.”

Min Soo tak mempercayai ucapan Joon Ha ia akan menanyakan sendiri pada ayahnya. Joon Ha mengatakan kalau ia sudah mendengar Dir Kang memberikan semua sahamnya pada Min Soo. Uang hasil penghianatan terhadap Presdir Tae. Dir Kang takut saham itu akan jatuh ke tangan Dong Joo dan itu yang dikatakan Dir Kang padanya. Min Soo lemas mendengarnya.

Joon Ha : “Kalau kita tak bisa menghentikan Dong Joo, kita berdua akan selamanya menjadi anak seorang kriminal. Aku tak mau hidup seperti itu. Hanya ada satu cara untuk kita hidup. Kalau kita tak bisa mengalahkan Dong Joo, kau dan aku akan mati.”

Woo Ri mendengar semuanya tapi kemudian ponselnya berdering. Ia panik dan segera pergi dari sana. Joon Ha menyadari ada orang di luar ruangan dan segera keluar tapi tak melihat siapapun.
Min Soo berjalan lemas keluar dari ruangan Joon Ha. Joon Ha menahan karena ia belum selesai bicara. Min Soo berkata kalau ia harus menenangkan diri.
Joon Ha : “Menenangkan apa? Kau hanya perlu melaksanakan apa yang kuperintahkan.”

Min Soo bingung, sekarang ia tak bisa mempercayai siapapun. Entah itu Dong Joo, Ibu Dong Joo, Joon Ha bahkan ayahnya dan semua orang yang telah memperalatnya.
Joon Ha : “Tak ada yang bisa kau percaya kecuali dirimu sendiri. Jangan memilih atas dasar perasaan, pilihlah dengan benar. Kalau kau ikut denganku ini semua akan berakhir. Min Soo, aku hanya percaya padamu.”
Ternyata Woo Ri mendapat sms dari Dong Joo, ‘Apa kau sudah menghiburnya? Jangan menyanyi suaramu tak bagus.’ Woo Ri menangis sedih membaca sms. Ia hanya bisa terduduk sedih atas apa yang baru didengarnya tadi.
Young Kyu memberikan make up pada Mi Sook tapi Mi Sook menolaknya. Young Kyu memaksa Mi Sook harus menerimanya (Young Kyu memperagakan orang yang memakai bedak) tapi Mi Sook bersikeras menolak.
Young Kyu : “Lakukan agar wajahmu menjadi putih!”

Mi Sook kesal, “Waktu aku memakai make up wajahku menjadi putih dan kau tak memandangku. Kenapa kau tiba-tiba menyuruhku memakainya?”
Young Kyu bingung, “Ini.. ini... orang berwajah putih harus tetap terlihat putih. Apa yang harus kulakukan kalau ada 2 Mi Sook. Aku tak tahan.”
Young Kyu memukul-mukul matanya. Mi Sook memeganginya menahan tangan Young Kyu agar tak memukul lagi. Young Kyu jadi grogi dan meminta Mi Sook melepaskan tangannya.

Tapat saat itu Nenek datang dan terkejut melihat keduanya. Ia berusaha mengalihkan pandangannya. Menyadari kalau Nenek ada disana Mi Sook langsung melepas tangan Young Kyu.
Young Kyu ketakutan ia langsung bersembunyi di belakang tubuh ibunya dan meminta ibunya berkata pada Mi Sook supaya jangan menyentuh tangannya. Mi Sook menyangkal kapan ia melakukan itu.
Nenek ngomel, “Tetap saja. Bagaimana bisa perempuan maju lebih dulu?” (haha)
Young Kyu : “Tidak.. tidak.. Dia bukan perempuan. Hanya Mi Sook (Ibu Woo Ri) yang perempuan. Suruh dia pergi. Pergi!”

Mi Sook sedih apa Young Kyu begitu membencinya. Kenapa semua pria membencinya. Nenek mengingatkan jangan terlalau berharap pada mereka (pria). Kalau perempuan maju duluan semua pria akan lari.
Young Kyu meminta tolong pada ibunya agar Mi Sook mengenakan make up lalu pergi. Mi Sook malah menggandeng lengan Nenek dan menolak pergi. Ia tak mau pergi sebelum makan.
Nenek dan Mi Sook berada di kamar Woo Ri. Dengan kesal Mi Sook merias wajahnya tapi sesekali ia juga menangis. Nenek tak tahu harus berbuat apa karena Young Kyu yang bertanggung jawab atas makanan di rumah (oh Young Kyu mengancam kah kalau Mi Sook tak mengenakan make up, Young Kyu tak akan menyiapkan nasi hehe)

Mi Sook minta maaf ia tak bermaksud mengganggu Nenek. Mi Sook menangis. Nenek berkata tanpa Mi Sook mengatakanya ia sudah tahu. Tangis Mi Sook semakin menjadi dan ia memeluk Nenek.

Shin Ae masuk ke kamar Woo Ri dan melihat ibunya tengah menenangkan Mi Sook yang menangis, “Kau masih belum pergi? Kenapa kau tidak tinggal saja disini?”

Mi Sook menyembunyikan wajahnya. Nenek meminta Shin Ae jangan mengganggu Mi Sook. Jangan mengganggu orang baik. Shin Ae heran dengan sebutan ibunya untuk Mi Sook. Apa ibunya tak tahu wanita seperti apa Mi Sook ini.

Mendengar itu Mi Sook langsung menatap tajam Shin Ae. Shin Ae ketakutan dan mengadu pada ibunya. Tapi Nenek malah mengajak Mi Sook keluar bersamanya.
Shin Ae menahan ibunya dan memperlihatkan gambar perabotan rumah. Ia meminta ibunya mengatakan itu pada Ma Roo kalau Ibunya yang memilih itu. Shin Ae berkata kalau ia tak bisa tinggal di rumah yang kecil. Nenek tak peduli apa yang dikatakan putrinya. Shin Ae meyakinkan kalau putranya memiliki banyak uang, seorang anak ingin membalas jasa jadi ia minta ibunya menyetujui saja usul putranya untuk pindah rumah.Nenek mengajak Mi Sook keluar dan anggap saja Shin Ae tak mengatakan apa-apa. Pura-pura saja tak mendengar.

Mi Sook mengerti situasi dan tahu Nenek sangat tertekan, tak bisa mengakui orang tua didepan anaknya sendiri. Ia sangat mengerti itu. Nenek terharu mendengarnya tapi tidak dengan Shin Ae, ia malah kesal.
Mi Sook : “Semua Ibu hatinya sama. Orang tua adalah mereka yang mengkhawatirkan anaknya walaupun dia baik-baik saja. Kau mana mungkin tahu? Apa kau pikir tubuh orang tua saja yang bisa layu? Hatinya pun menjadi tua karena terlalu mengkhawatirkan anaknya.”

Mendengar itu Nenek langsung memeluk Mi Sook. Shin Ae dengan paksa melepas pelukan itu. Kenapa ibunya jadi seperti ini, Ma Roo itu sudah memiliki pekerjaan jadi ikuti saja kemauannya. Nenek tak mau mendengarkan apa yang dikatakan Shin Ae.
Sementara ketiga wanita ini berdebat, Young Kyu malah asyik menggambar. “Satu perempuan, satu Mi Sook.” Young Kyu menggambar wajah Mi Sook (ibunya Woo Ri)

Paman Lee datang dan berkata kalau ia sudah tahu bagaimana caranya keluarganya bisa selalu bersama. “Aku tak akan pergi, satu perempuan.” sahut Young Kyu sambil terus menggambar. Paman Lee heran apa Young Kyu tak mau tinggal bersama Ma Roo.
Young Kyu berkata kalau nanti Ma Roo akan bingung. “Aku Bong Young Kyu, adalah ayah Ma Roo. Tapi Ma Roo bilang kalau ayahnya adalah Choi Jin Chul. Satu ayah. Satu Mi Sook. Jadi aku ayah Ma Roo dan Choi Jin Chul juga ayah Ma Roo. Tidak tidak, Ma Roo akan bingung.”
Paman Lee bengong, “Benar. Aku saja bingung.” (aku juga haha)

Young Kyu meminta sobatnya tak usah khawatir karena Ma Roo akan kembali lagi. “Kusuruh dia makan di sini tapi dia malah pergi, jadi dia akan datang lagi.”
Paman Lee menyerah silakan sobatnya befikir seperti itu. Kalau Ma Roo tak datang hari ini besok dia pasti datang.
Young Kyu bertanya pada sobatnya kapan ia bisa bertemu Choi Jin Chul. Paman Lee menatap marah dan bertanya kenapa apa Young Kyu ingin balas dendam.

Young Kyu menepuk dahinya dan dengan sifat polosnya ia berkata kalau ia mau balas dendam dan juga mengucapkan terimakasih karena sudah membesarkan Ma Roo.

Paman Lee langsung menabok kepala sobatnya ini dan meminta sobatnya mengerjakan satu hal saja dan lebih baik balas dendam saja. “Tidak balas dendam dulu lalu berterimakasih padanya. Setelah itu dia akan marah besar.” Paman Lee tertawa terbahak-bahak.
Joon Ha menemui Presiden Direktur yang mau membeli Energy Cell. Keduanya berbincang di dalam mobil. Ternyata dia Presdir Perusahaan Hansung. Joon Ha mengatakan semuanya kalau Energy Cell sudah dijual dan ia juga harus membayar biaya penalti.

Presdir Hansung marah apa Joon Ha pikir uang bisa membeli segalanya, “Kau menyenangkan kami dengan menawarkan perusahaan kepada kami tapi kenapa kau malah menjual perusahaan ke perusahaan lain?”
Joon Ha menyadari kesalahannya dan minta maaf. Presdir Hansung tak peduli itu ia ingin bertemu dengan Presdir Choi sebelum media tahu dan membuatnya malu.

Joon Ha : “Apa anda mau dokumen Hansung juga? Ketika kami memulai Energy Cell, Hansung mencoba mengacaukan bisnis. Haruskah kuungkapkan ini pada wartawan?” (haha Joon Ha mengancam Presdir Hansung nih ceritanya)
Presdir Hansung terlihat sangat marah. Joon Ha menundukan kepala kembali minta maaf.
Dong Joo duduk di tangga memperhatikan ibunya yang tengah menelepon seseorang. Ia mengingat kejadian dimana ia melihat ibunya dan Joon Ha tertawa sambil minum bersama. Ia juga mengingat ketika Ibunya mengenalkan ke orang-orang kalau Joon Ha sudah seperti putranya sendiri.

Ny Tae menyudahi teleponnya dan terkejut melihat Dong Joo duduk di tangga. Dong Joo berkata kalau setelah Joon Ha pergi, sekarang ibunya sudah kehilangan senyumnya. Ny Tae tak suka Dong Joo membicarakan Joon Ha.
Dong Joo : “Walaupun itu semua bohong, melihat ibu tersenyum aku selalu ingin melihatnya.”
Dong Joo tersenyum sambil menghela nafas dan berjanji akan membantu ibunya tersenyum lagi. Dong Joo beranjak ke kamarnya.
Woo Ri di kamarnya ia tak bisa tidur dan teringat kata-kata Joon Ha ke Min Soo, “Aku dipaksa menjadi saudara Cha Dong Joo dan menjadi telinganya selama 16 tahun hanya karena ayahku membunuh Presdir Tae. Hanya ada satu cara kita bisa selamat, kalau kita tak bisa mengalahkan Cha Dong Joo kita akan mati.”

Woo Ri juga mengingat ketika Dong Joo mengatakan padanya kalau ayah dari Joon Ha adalah Choi Jin Chul dan itu membuat Dong Joo terpukul. Juga kejadian ketika Dong Joo berjanji pada Joon Ha kalau Dong Joo akan menjadi malaikat pelindung untuk Joon Ha. Dan juga ia mengingat Dong Joo mengatakan padanya kalau Dong Joo dan Joon Ha harus bertarung.
Woo Ri menelepon Dong Joo. Ponsel Dong Joo diletakkan di atas kasur dan Dong Joo tengah sibuk dengan laptopnya, jadi tak tahu Woo Ri meneleponnya.

Ny Tae masuk ke kamar putranya dan menawarkan apakah Dong Joo mau dibuatkan sesuatu. Dong Joo menolak karena sebentar lagi dia mau tidur. Ny Tae tersenyum apa Dong Joo mau minum alkohol. Dong Joo membalas senyum dan meminta ibunya bergabung dengannya. Dong Joo langsung keluar kamar.
Nya Tae mendengar ponsel Dong Joo bergetar, ia celingukan mencari dan menemukan ponsel itu ada di atas tempat tidur. Ny Tae melihat siapa yang menelepon, Piano-ist. Ny Tae tak tahu siapa itu, ia langsung menelepon nomor itu menggunakan ponselnya sendiri dan terkejut kalau si penerima itu Woo Ri. Ia langsung mematikan ponselnya.

Woo Ri merasa aneh. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi. Woo Ri terus memandang ponselnya, “Cha Dong Joo.” gumamnya pelan.

Dong Joo sarapan bersama ibunya dan Presdir Choi. Joon Ha datang dan ikut bergabung. Presdir Choi tanya apa Joon Ha sudah membereskan semuanya. Joon Ha menjawab tentu saja dan ia sengaja datang untuk melaporkannya. Joon Ha meminta Ny Tae membuatkan kopi untuknya. Tapi Ny Tae tak mau melakukannya ia malah akan menyiapkan pakaian untuk Dong Joo. Ny Tae langsung pergi ke kamar Dong Joo.

Joon Ha : “Dia selalu saja melakukan itu walaupun sudah kuberi tahu kalau aku akan sedih kalau kehilangan seorang ibu.”
Dong Joo tak mempedulikan apa yang dikatakan Joon Ha, ia akan bergegas pergi meninggalkan meja makan tapi Joon Ha memberi kode dan menyuruh Dong Joo duduk kembali karena Dong Joo perlu mendengar bagaimana ia membereskan kekacauan yang sudah dilakukan Dong Joo.
Joon Ha menyampaikan kalau pemilik Hansung mengancam akan menyebarkan berita ini ke wartawan dan ia harus menundukkan kepalanya untuk minta maaf.
Dong Joo : “Kalau begitu bagus. Kau tidak bisa belajar seperti itu dari ayahmu. Dia tak tahu bagaimana caranya minta maaf.”

Joon Ha memberi usul pada ayahnya daripada bergaul dengan Dong Joo lebih baik ayahnya menendang Dong Joo dari perusahaan. Dong Joo harus dihukum karena membuat perusahaan kehilangan banyak uang dan harus membayar pinalti karena melanggar perjanjian. Dan juga membuat pemilik Hansung malu.

Dong Joo tersenyum melihat Joon Ha mengatakan ini dan berkata kalau Joon Ha tak punya hak melakukan itu. Ia menyindir Joon Ha, “Direktur yang mencoba mengkhianati karyawan dengan menjual perusahaan. Dia tak akan dihargai lagi.” Dong Joo langsung pergi ke kamarnya.
Joon Ha kesal Dong Joo mengatakan itu dan mengadu pada ayahnya. Presdir Choi menenangkan Joon Ha dan berkata walau bagaimanapun juga Dong Joo masih anaknya. Ia memperingatkan saat ini jangan membuat keributan dengan Dong Joo karena kemungkinan Dong Joo sedang menyembunyikan sesuatu dan Joon Ha harus mencari tahu apa yang sedang direncanakan Dong Joo.

Joon Ha menyampaikan kalau ia mempunyai cara untuk meredam ini. Ia mengajak ayahnya berangkat ke kantor bersama dan akan menceritakannya di jalan.
Woo Ri akan berangkat kerja, Young Kyu mencegatnya. Ia menitipkan gambar untuk Ma Roo, “Kau pasti bertemu Ma Roo di kantor. Berikan ini padanya, ini surat bergambar. Haruskah aku membuatnya setiap hari? Sejak kecil Ma Roo jarang sekali tersenyum sampai dewasa pun dia tidak tersenyum. Tapi begitu tersenyum dia sangat tampan. Dan juga sepertinya dia mau menangis.”
Woo Ri tak mengerti maksud ayahnya.
Young Kyu : “Matanya seperti ini, seperti mau menangis. Surat ini harus sampai ke Ma Roo. Lalu katakan padaku kalau dia tersenyum, lalu akan kubuatkan lagi surat untuknya.”

Woo Ri berada di BBQ Chicken. Ia menelepon Dong Joo dan mengatakan kalau ada hal yang sangat penting. Seung Chul langsung mendekatinya ia ingin tahu yang ditelepon Woo Ri itu bukan Dong Joo atau Joon Ha kan. Woo Ri menutup teleponnya.
Seung Chul : “Apa kau masih belum tahu kalau jodohmu itu aku?” (pede amat nih orang haha)
Woo Ri : “Mana mungkin aku tahu!”
Seung Chul : “Kalau begitu dengarkan baik-baik. Jang Joon Ha kan Kakakmu jadi dia bukan pilihan. Cha Dong Joo itu tuli tapi dia tak selevel dengan kita, jadi jangan lagi dekati dia.”
Kemudian keduanya berbincang panjang dan tertawa terbahak-bahak. Seung Chul seolah mengerti betul kegalauan Woo Ri dan ia sahabat yang tepat untuk Woo Ri, seorang sahabat yang bisa menghibur. Dong Joo datang dan melihat keduanya tertawa. Ia ikut tersenyum melihatnya.

Woo Ri memuji Seung Chul pandai bicara.
Seung Chul : “Apa kau pikir aku hanya pandai bicara? Aku ini juga pandai berenang. Cha Dong Joo dibawa ke rumah sakit setelah jatuh ke dalam air kan? Tapi aku, kalau aku jatuh ke air aku akan langsung keluar. Aku juga bisa menghasilkan uang. Aku ini yang terbaik. Kurang apa aku sekarang?”

Woo Ri meminta Seung Chul mengembalikan uangnya yang 2 juta Won. Seung Chul menolak ia memiliki alasan kenapa tak mengembalikan uang itu. “Kau bisa melupakan seorang pacar tapi kau tak bisa melupakan orang yang meminjam uangmu kan? Sampai mati pun kau tak akan lupa. Bahkan saat tidur kau selalu mengingatnya. Aku tak akan mengembalikan hutangku.”

Keduanya lalu saling pukul seperti berkelahi tapi penuh senyuman. Dong Joo memperhatikan keduanya dan masuk.
“Kau punya kopi kan?” tanya Dong Joo pada Seung Chul. Melihat Dong Joo datang Seung Chul langsung memasang wajah juteknya. “Ini bukan Kafe kopi tapi Kafe ayam.”
Dong Joo : “Tapi katanya disini menjual kopi?”
Seung Chul sewot, “Tak akan kujual padamu.”

Seung Chul mengehela nafas apa badan Dong Joo sehat-sehat saja. Dong Joo mengucapkan terima kasih karena Seung Chul sudah memperhatikannya. Seung Chul mengelak ia tak memperhatikan Dong Joo dan meminta Dong Joo segera pergi.

Dong Joo : “Kalau begitu kapan-kapan aku akan datang lagi untuk minum alkohol disini.”
Seung Chul mengingatkan Dong Joo jangan sok akrab dengannya karena ia tak menyukainya dan kembali menyuruh Dong Joo untuk segera pergi.
Dong Joo : “Aku datang dan pergi itu terserah padaku.”

Seung Chul kesal ia meninggikan suaranya dan berkata kalau ini warung makannya. “Datang saja lain kali, pergi!” Bukannya melerai Woo Ri malah cengingisan melihat keduanya beradu mulut. Ia mengingatkan Seung Chul bukankah sobatnya ini mau menggoreng ayam. Seung Chul langsung lari ke dapur dan berpesan Woo Ri jangan kemana-mana.

Woo Ri heran kenapa Dong Joo datang ke sini. Dong Joo berkata kalau ia mau minum kopi. “Sebenarnya aku bukan penakut tapi temanmu itu agak menakutkan.” (enggak kok dia lucu hehe)
Woo Ri ingat masih ada waktu sebelum Dong Joo berangkat kerja. Ia ingin bicara dengan Dong Joo di tempat lain. Dong Joo menyarankan ngobrolnya di jalan saja sambil ia mengemudi. Woo Ri menolak karena itu berbahaya dan juga banyak yang harus ia ceritakan.

Woo Ri berteriak pamit pada Seung Chul. Seung Chul keluar dari dapur dan berteriak Woo Ri jangan kemana-mana, tapi Woo Ri sudah pergi dan lari dari sana.

Dong Joo akan menyusul Woo Ri tapi Seung Chul menahannya. Ia memberi tahu kalau saat ini pikiran Woo Ri sedang bimbang, kalau Dong Joo tak bisa membuat Woo Ri tertawa seperti yang ia lakukan paling tidak Dong Joo hati-hati membawa kendaraan.
Dong Joo dan Woo Ri berada di sebuah restouran. Keduanya duduk berhadapan. Dong Joo ingin Woo Ri duduk di sampingnya tapi Woo Ri menolak karena ada banyak hal yang harus ia katakan dan duduk berhadapan akan lebih baik.
Woo Ri : “Tak ada rahasia diantara kita kan? Orang yang bukan Bong Ma Roo dan bukan Jang Joon Ha tidak mengacaukanmu lagi kan?”
Dong Joo tersenyum dan meminta Woo Ri menganggapnya seperti itu saja. Woo Ri akan bicara tapi ia ragu mengatakannya. Dong Joo meyakinkan kalau tak apa-apa katakan saja.
Woo Ri mulai bercerita kalau kemarin ia mendengar Joon Ha bicara serius dengan Min Soo. Sebenarnya kemarin ia ke kantor ingin menemui kakaknya tapi mendengar itu ia membatalkannya.

Woo Ri : “Kak Min Soo seperti mau menangis karena tak percaya. Dia diberi tahu kalau ayahnya (Dir Kang) terlibat hal serius. Aku juga terkejut tapi mungkin karena ini melibatkan ayahnya, dia terlihat shock.”
Dong Joo merasa pada akhirnya Min Soo akan tahu juga. Tapi cara dia mengetahuinya itu sangat penting dan cara kemarin kurang bagus.

Woo Ri ingin tahu sampai kapan Dong Joo akan berseteru dengan Joon Ha. Dong Joo balik bertanya kenapa, apa Woo Ri sudah lelah melihat ia dan Joon Ha berseteru. Woo Ri berkata kalau Kakaknya benar-benar tegang. Sampai dia harus membenci orang yang dicintainya.

Dong Joo menghela nafas sepertinya Woo Ri penggemar berat Joon Ha. ”Aku memintamu untuk menghibur, bukan berpihak.”
Woo Ri : “Kata ayah mata Kak Ma Roo seperti mau menangis. Kuharap dia benar-benar menangis. Dengan begitu dia akan berubah.”

Woo Ri sedih ia hampir menangis dan mengalihkan pandangan dari Dong Joo. Ia tak ingin Dong Joo melihat air matanya.

Dong Joo pindah duduk di sebelah Woo Ri, “Apakah aku perlu memelukmu atau terus mendengar ceritamu? Karena aku hanya bisa melakukan satu hal dalam satu waktu.” (peluk peluk peluk hahaha)
Woo Ri menyandarkan kepalanya ke bahu Dong Joo. Kemudian ia meraih tangan Dong Joo dan menuliskan sesuatu di telapak tangan Dong Joo. Dong Joo heran. Woo Ri berkata kalau Dong Joo bisa melakukan kedua-duanya.
Woo Ri menghembuskan nafasnya ke kaca dan menuliskan kata ‘bodoh’ di kaca. Ia melakukannya lagi dan meminta Dong Joo menuliskan sesuatu. Dong Joo tersenyum dan ia menuliskan kata ‘terima kasih’ di kaca.
Woo Ri melakukannya lagi ia membuat gambar senyum. Dong Joo melengkapi gambarnya. Keduanya tersenyum. Dong Joo memeluk Woo Ri sambil memandang tulisan dan gambar yang mereka buat.
Di kantor Woo Ri mendengar telepon di meja Dong Joo berdering. Ia segera menjawabnya walaupun ia tahu Dong Joo ada di sana. Na Mi Sook memperhatikan apa yang dilakukan Woo Ri.

Woo Ri bertanya pada Dong Joo kalau mereka (si penelepon) menanyakan apa Dong Joo sudah selesai memeriksa dokumen marketing. Dong Joo berkata kalau ia akan segera mengirim emailnya. Woo Ri menyampaian pada si penelepon apa yang dikatakan Dong Joo.

Terdengar kasak-kusuk staf disana. Mereka bergumam ternyata benar Dong Joo tak bisa mendengar. Mi Sook memperhatikan stafnya yang tengah bergosip dan memarahi mereka, “Dari pada bekerja dengan kulitmu cobalah bekerja dengan hatimu.”
Mi Sook menghampiri Dong Joo. Ia tahu kalau Dong Joo sudah menceritakan semua rahasia Dong Joo dan sekarang ia juga ingin membuka rahasianya.
Mi Sook : “Aku sudah bercerai. Bong Woo Ri apa kau ada masalah dengan itu?”
Woo Ri berkata tidak dan itu melegakan Mi Sook.
Joon Ha datang dan memanggil Woo Ri.
Woo Ri : “Kakak?”
Mi Sook heran dengan panggilan Woo Ri pada Joon Ha dan bertanya pada Dong Joo apa itu artinya Jang Joon Ha adalah anak Kim Shin Ae. Dong Joo hanya menjawab ya.

Joon Ha meminta kalau pekerjaan Woo Ri sudah selesai agar ikut bersamanya. Woo Ri tanya kemana. Joon Ha menjawab kemana saja. Joon Ha mengambilkan tas Woo Ri dan memakaikannya. Woo Ri menatap Dong Joo seolah meminta izin. Dong Joo tersenyum dan membolehkan Woo Ri pergi. Ia akan menghubungi Woo Ri nanti. Joon Ha langsung menggandeng Woo Ri.
Ponsel Dong Joo bergetar, Min Soo meneleponnya.
Woo Ri dan Joon Ha berjalan di parkiran. Woo Ri berjalan mundur di depan Joon Ha. Ia senang Kakaknya mau mentraktirnya makan. Joon Ha mengingatkan kalau ia bukan Dong Joo dan ia bisa mendengar. Woo Ri beralasan ini bukan karena Dong Joo tapi memang sejak kecil ia sudah seperti ini.
Joon Ha bertanya Woo Ri mau makan apa. Woo Ri menjawab itu terserah Joon Ha. Banyak yang ia mau makan sandwich, telur, daging, mie rebus.... Joon Ha tersenyum dan mengajak Woo Ri makan kimchi. Bukankah Woo Ri tahu cara memasaknya, ia mengajak Woo Ri membuat kimchi di rumahnya.
Di apartemen Joon Ha, Woo Ri sibuk membuat kimchi dan Joon Ha hanya duduk melamun memperhatikannya. Woo Ri menyuguhkan masakannya. Joon Ha mencicipinya. Woo Ri ingin tahu pendapat Joon Ha tentang masakannya tapi Joon Ha diam dan meneruskan makannya.
“Makanlah denganku!” ajak Joon Ha. Ia meminta Woo Ri duduk di sebelahnya. Woo Ri menolak ia akan makan sambil berdiri saja. Woo Ro merasa ini agak aneh, ia agak canggung dan langsung melahap makanannya sambil berdiri (ah maaf bukan pelajaran yang baik nih makan sambil berdiri)

Sambil makan Woo Ri memberi tahu kalau hari ini ia sudah menjual 2 set kosmetik dan memuji diri sendiri kalau ia sales yang hebat.

“Tempat ini terlalu kecil karena aku tinggal tinggal sendirian. Gedung di sebelah ruangannya lebih luas.” ucap Joon Ha membahas masalah pindah rumah. Woo Ri langsung diam.
Joon Ha : “Kapan kau akan pindah?”

Woo Ri memberi tahu kalau diskusi keluarga kemarin baru selesai lewat tengah malam. Dari pada ke apartemen lebih baik pindah ke villa. “Kita bahkan tak pernah memimpikan memiliki rumah. Bahkan tak ada yang memiliki pekerjaan tetap. Terimalah tanggung jawab!”
Joon Ha : “Aku akan bertanggung jawab terhadapmu.” (Huwa hihihi..)

Joon Ha kembali memakan nasinya. Woo Ri manaruh lauk ke mangkuk Joon Ha. Kenapa Kakaknya hanya makan nasi dan lauknya tak dimakan, pikirkanlah orang yang membuatnya.

Joon Ha meminta Woo Ri tidur di rumahnya. Ia beralasan tak bisa mengantar Woo Ri pulang karena lelah. Woo Ri berkata kalau ia bisa naik bus. Joon Ha tak membolehkannya itu akan berbahaya.
Woo Ri mengatakan ia takut ayah dan nenek akan cemas menunggunya pulang. Mendengar itu Joon Ha langsung menelepon Neneknya dan memberi tahu kalau Woo Ri menginap di rumahnya. Nenek mengerti dan mengizinkannya. Tak lupa Nenek menanyakan kabar cucunya, apa makanan di tempat cucunya enak.
Shin Ae sibuk memilah-milah gambar rumah dan bertanya dengan siapa ibunya bicara. Nenek menjawab kalau itu Ma Roo. Shin Ae ngomel kenapa teleponnya tak diberikan padanya, ia ingin tahu apa yang putranya katakan. Nenek memberi tahu kalau Woo Ri menginap di rumah Ma Roo.

Shin Ae heran kenapa Woo Ri menginap di rumah Ma Roo. Ia menyuruh ibunya kembali menelepon Ma Roo. Nenek menolak karena ia tak tahu nomor telepon cucunya. Shin Ae kesal bukankah ia sudah bilang kalau Woo Ri itu menyukai Ma Roo. Nenek berkata tentu saja Woo Ri menyukainya. Mereka kan bersaudara.

Shin Ae : “Mereka tak memiliki hubungan darah dan apakah mereka pernah tinggal bersama dalam waktu yang lama? Bukankah dulu mereka pernah tinggal bersama hanya satu bulan. Kita harus memisahkan mereka.”
Nenek meminta Shin Ae membiarkannya saja karena Ma Roo itu memiliki perasaan khusus pada Woo Ri. Mereka seperti itu sejak kecil. Woo Ri selalu memanggilnya Kakak. Gadis itu selalu mengejarnya. Ma Roo selalu berpura-pura mengacuhkannya, padahal dia juga menyukai Woo Ri. Ma Roo selalu membuat Woo Ri tertawa, Ma Roo membuat Woo Ri nyaman padanya. Seperti itulah Ma Roo. Sedangkan dirinya, ia hanya bisa berteriak pada Ma Roo. Young Kyu takut padanya dan selalu bersembunyi. Tapi setiap Ma Roo dikejar oleh Woo Ri walaupun dia selalu menghindar, Ma Roo semakin suka dengan gadis itu.

Shin Ae kesal mendengarnya kenapa ia baru tahu sekarang dan ia kembali memilah-milah gambar yang ada di depannya.

Nenek meminta Shin Ae seharusnya bersikap selayaknya seorang ibu, yang selalu Shin Ae pikirkan hanya rumah baru. Woo Ri tak pernah memiliki alasan lain dan dia serius mendekati Ma Roo. Itulah kenapa Ma Roo menyukainya.
Dong Joo dan Min Soo bertemu. Min Soo heran kenapa Dong Joo mengajaknya kencan. Dong Joo berkata kalau ia hanya ingin ditemani minum. Min Soo kecewa dengan jawanban Dong Joo, ia berfikir kalau Dong Joo menyukainya.

Dong Joo : “Aku menyukai Kang Min Soo. Kau temanku yang tak bisa tergantikan.”
Min Soo ingin tahu apa Dong Joo membencinya ia mengaku kalau ayahnya sudah menganiaya Dong Joo. Tapi Dong Joo tak boleh membalas dendam padanya. Kenapa Dong Joo melakukan itu. Kenapa Dong Joo memperalatnya juga.

Dong Joo berkata kalau ia tak tahu apa kesalahan ayah Min Soo dimasa lalu. Min Soo merasa alasan Dong Joo sangat lemah, ia meminta alasan yang kuat.
Dong Joo : ”Waktu aku mengajakmu menjatuhkan Choi Jin Chul untuk membalas dendam hanya itu yang kupikirkan. Itu lukaku yang paling dalam. Aku marah, frustasi, dan merasa teraniaya. Aku sama sekali tak dendam pada keluargamu. Aku tak tahu bagaimana penderitaanmu. Maafkan aku.”
Min Soo : “Tak perlu minta maaf. Sudah terlambat.”

Dong Joo tahu apapun alasannya ia tak boleh memperalat orang lain. Ia sudah tahu itu ketika kehilangan Joon Ha. Min Soo tahu kalau Dong Joo adalah korban. Tapi Dong Joo memilih cara yang salah untuk balas dendam. Dong Joo tak mengerti dengan perkataan Min Soo. Min Soo memberi tahu kalau Woo Kyung sudah melempar Dong Joo keluar.
Woo Ri berada di kamar Joon Ha. Ia merasa tak nyaman dan tak segera tidur. Ia hanya duduk di tepi ranjang. Ia memutuskan untuk pulang tapi tak enak hati. Ia hanya menghela nafas panjangnya.
Joon Ha akan masuk kamar untuk menaruh baju. Ia pun sadar ini tak nyaman untuk Woo Ri. Ia tak jadi masuk dan tersenyum. (Ahhh senyum apa ini...)
Woo Ri akan mengirim sms, tiba-tiba Joon Ha mengetuk pintu dan masuk ke kamar. Woo Ri kaget. Joon Ha meminta kalau Woo Ri merasa tak nyaman lebih baik Woo Ri katakan saja. Joon Ha menyuruh Woo Ri segera tidur. Joon Ha akan keluar tapi kembali berkata kalau Woo Ri tak ngantuk Woo Ri bisa menonton film.
Dong Joo dan Min Soo masih bersama. Min Soo berkata jujur kalau ia menyukai Dong Joo. Ia ingin tahu apakah membuat dirinya menyukai Dong Joo itu bagian dari rencana Dong Joo. Dong Joo meminta Min Soo menganggapnya seperti itu agar lebih mudah. Ia memerlukan saham Dir Kang untuk merebut kembali Woo Kyung. Min Soo sedih mendengarnya dan itu berarti Dong Joo memanfaatkannya lagi.

Min Soo : “Kalau kau mau tetap di Woo Kyung. Kalau kau mau, kau bisa memanfaatkanku.”
Dong Joo menolak ia tak mau memanfaatkan Min Soo. Sejak kembali ke Seoul ia tak mau dan itu tak ada kaitannya dengan Jang Joon Ha.

Min Soo menebak apa itu kerana Woo Ri. Dia sudah membuat Dong Joo ragu atas rencana yang sudah Dong Joo buat selama 16 tahun. “Cha Dong Joo, tanpa aku apa kau yakin bisa mengalahkan Choi Jin Chul dan Jang Joon Ha? Pikirkanlah lagi. Apa saja yang kau minta aku bersedia membantumu. Tidakkah kau menginginkan Woo Kyung? Bagaimana caranya?”

Dong Joo : “Kalau Kang Min Soo tak mau jadi partnerku. Aku tak akan memanfaatkanmu. Aku akan mencari cara lain untuk mendapatkan kembali Woo Kyung.”
Min Soo : “Apa kau begitu membenciku? Apa kau tak bisa melepaskan Bong Woo Ri?”
Dong Joo berkata kalau ini bukan tentang Bong Woo Ri tapi ini karena ibunya. “Untuk mendapatkan kembali Woo Kyung haruskah kuulangi seperti perbuatan Choi Jin Chul pada ibuku? Kepadamu?”

Dong Joo merasa sedih kalau memikirkan Ibunya. Apa yang diambil dari ibunya adalah Kakeknya, pendengarannya, Woo Kyung dan juga kepercayaan. “Apakah ibuku mengatakan bahwa dia percaya padamu? Itu semua bohong. Walaupun aku anaknya, aku tak percaya padanya. Kau tahu betapa menakutkannya ibuku ketika mencampakan Kak Joon Ha. Apa kau juga mau seperti itu? kalau kau menemui aku sedang bersusah payah dan meminta tolong padamu, pura-pura saja tak tahu.”

Dong Joo pamit ia harus pulang tapi Min Soo menahan tangannya, “Jangan pergi!” pinta Min Soo sedih matanya berkaca-kaca.
Joon Ha dan Woo Ri benar-benar nonton film. Woo Ri merasa kalau Kakaknya menyukai Film ini. Joon Ha tanya apa filmnya diganti saja. Woo Ri menolak karena ia menyukai semua jenis film.

Woo Ri berkata kalau ia lebih suka nonton bersama ayah dan nenek. Ayah akan menangis dan nenek akan mengumpat. Lucu sekali. Woo Ri tertawa. Di Amerika pasti Joon Ha tak pernah menonton Film Korea.
Woo Ri ingin Joon Ha menceritakan pengalaman Joon Ha ketika di Amerika. Pergi kemana saja, apa pergi ke disneyland.

Joon Ha : “Sudah kubilang aku tak bisa kemana-mana karena Dong Joo.”
Woo Ri ingat Joon Ha pernah mengatakan itu dan ia pun ingat cable car. Ia mengajak Joon Ha kalau sempat naik cable car bersama. Joon Ha menolak karena sepertinya tak asyik. Woo Ri heran apa Kakaknya pernah naik cable car. “Kapan kakak pernah naik itu?”
Joon Ha : “Ketika kau menyukai Dokter Jang Joon Ha lebih sedikit daripada Cha Dong Joo.”
Woo Ri tertegun mendengarnya.

Joon Ha : “Apa kau tahu, bagimu aku ini Bong Ma Roo anaknya Bong Young Kyu. Jang Joon Ha kakaknya Cha Dong Joo dan juga anak dari musuh Choi Jin Chul. Sepanjang hidupku saat aku tak ada hubungannya dengan orang-orang, saat aku ini kau anggap seorang pria. Ketika aku Dokter Jang Joon Ha, itu yang pertama dan terakhir kan? Bong Woo Ri apakah waktu itu kau suka padaku?”

Mata Woo Ri berkaca-kaca dan mengangguk pelan. (Ah jadi Woo Ri sempat menyukai Joon Ha sebagai seorang pria bukan Kakak ketika ia belum tahu kalau Joon Ha itu Ma Roo)
Woo Ri tak bisa tidur ia hanya duduk di kasur. Ia kembali mengingat ucapan Joon Ha tadi, “Apakah waktu itu kau suka padaku?” (dilemakah hati Woo Ri ???)
Joon Ha tidur di kursi. Apakah ia tidur? tentu saja tidak. Ia mengingat apa yang pernah dikatakan Woo Ri padanya.
Dong Joo pulang ke rumah dan ia sudah berada di kamarnya. Ia menatap amplop hitam yang selalu dibawa ibunya. Ia tampak memikirkan sesuatu.

Esok harinya, Joon Ha dan Woo Ri berangkat ke kantor bersama. Keduanya melihat Dong Joo tengah berdiri menatap papan informasi yang juga dibaca oleh karyawan lain.

Woo Ri akan menghampiri Dong Joo tapi Joon Ha menahannya. Dong Joo akan pergi dari sana. Ia melihat Joon Ha dan Woo Ri tengah menatapnya.
Joon Ha menghampiri Dong Joo. Woo Ri penasaran ia ikut membaca apa yang ada di papan pengumuman.
‘Memo bagian personalia – pemberhentian Cha Dong Joo’

Woo Ri menatap Dong Joo cemas. Sementara Dong Joo dan Joon Ha bertatapan penuh perseteruan.
Presdir Choi keluar dari kamar dan akan berangkat ke kantor. Ny Tae memanggilnya dan memberikan sebuah amplop besar. Presdir Choi membaca berkas dan terlihat sangat terkejut.

‘Pemberitahuan untuk mengadakan rapat darurat Dewan Direksi dengan agenda : pemberhentian Choi Jin Chul’

Dan dibalik kertas itu ada kertas lain ‘Surat Wasiat’
Ny Tae tersenyum, “Kau sudah bekerja keras. Selamat tinggal.”
Dong Joo dan Joon Ha masih saling menatap. Woo Ri hadir di tengah-tengah keduanya. Staf Energi Cell menatap cemas. Min Soo juga sudah datang.
Joon Ha : “Kuputuskan untuk memaafkan Ibu sekarang. Jadi kau juga harus memaafkan Choi Jin Chul.”
Dong Joo : Memaafkan?
Joon Ha : “Mulai sekarang kita tak usah bertemu lagi. Lupakan semua. Itulah tujuan dari memaafkan seseorang. Pergilah!”
Dong Joo : “Jang Joon Ha, apa kau akan baik-baik saja? Aku bisa saja melupakan semuanya. Tapi apa kau bisa melupakan semuanya?”
Dong Joo berjalan pergi meninggalkan kantor. Ia berpapasan dengan rombongan Dewan Direksi. Joon Ha menatap heran kenapa Dewan Direksi berkumpul.



re-posted and re-edited by : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment