Wednesday, October 02, 2013

Can You Hear My Heart Episode 2

Young Gyu berada di kamar bersama Ma Roo yang tertidur.


Young Gyu terus membenturkan kepalanya ke dinding. Ma Roo merasa terganggu dan segera keluar.
“Ma Roo, kau mau kemana?” teriak Nenek.


Nenek mengintip apa yang dilakukan Young Gyu. Ia mencemaskan putranya, “Ya Tuhan akulah yang berbuat banyak kesalahan, aku tak tahu harus bagaimana denganmu, walaupun aku mati aku tak akan membiarkannya. Tidak akan.”
Young Gyu terus membenturkan kepalanya ke dinding.

Mi Sook membereskan pakaian sementara putrinya tertidur. Mi Sook mengusap lembut kepala putrinya dan menangis.
“Ibu... ibu...” Mi Sook kecil terbangun dan melihat ibunya tengah mengemasi pakaian. Ia tanya mau kemana.
Ibunya hanya mengatakan dalam bahasa isyarat, “Cepat tidur. Kita harus bangun pagi-pagi besok!”


Sambil menangis Mi Sook kecil berkata kalau ia tidak mau pergi, ia tidak mau pindah lagi, “Aku mau tinggal disini!” Mi Sook kecil menyingkirkan tas yang sudah berisi pakaian.
“Paman bilang dia mau menjadi ayahku. Dia sudah berjanji!” ucap Mi Sook kecil sambil terus menangis.


Keduanya saling menarik tas, karena tak kuasa menahan lagi Mi Sook memeluk putrinya. Mi Sook kecil terus meminta ibunya jangan pindah ia ingin tetap tinggal di sini. “Ibu... ibu... kita tinggal di sini saja!”


Esok harinya Mi Sook keluar dari rumahnya dan kebingungan.
Mi Sook menemui Keluarga Lee yang tengah sibuk dengan dagangan ayam gorengnya.


Mi Sook berusaha bicara dengan bahasa isyarat dan mencoba menyampaikan sesuatu. Karena tak mengerti Ny Lee meminta Mi Sook menuliskannya.
Mi Sook menulis kalau putrinya kabur dari rumah dan membawa tas. Lee Myung Gyun cemas jangan-jangan pria kemarin yang membawanya. Ny Lee akan lapor polisi dan menyuruh Mi Sook segera mencari.
Mi Sook berpapasan dengan Young Gyu. Young Gyu menyapa tapi tak dihiraukan.


Young Gyu tanya pada Myung Gyun kenapa Mi Sook menangis.
Myung Gyun : “Apa kau benar-benar tidak tahu? Kau itu laki-laki atau bukan?”
“Kenapa dia menangis?” bentak Young Gyu. Myung Gyun hanya mendesah dan berkata kalau Mi Sook kecil menghilang bersama dengan tasnya.


Young Gyu langsung mengejar Mi Sook dan bertanya dimana Mi Sook kecil, “Aku yang salah. Aku yang salah. Kemana dia pergi?”
Mi Sook menjawab dengan bahasa isyarat.
Young Gyu : “Aku tak mengerti. Aku tak mengerti. Aku hanya tahu kode ‘bersama’ ayo kita mencari Mi Sook kecil bersama-sama!”
Mi Sook terharu Young Gyu peduli ada putrinya.

Sepanjang jalan Young Gyu mencari Mi Sook kecil. Ia bertanya pada ibu pemilik toko dan setiap orang di jalan apa melihat Mi Sook kecil.


Sampai akhirnya ia menemukan Mi Sook kecil di depan seorang pedagang dekat halte bus, “Kau tahu berapa lama kami mencarimu? Mana tasmu?”


Mi Sook kecil diam, Young Gyu memintanya pulang dan berkata kalau ibu Mi Sook kecil sudah menunggu. “Apa benar kau mau pergi?” tanya Young Gyu.

Bus datang dan Mi Sook kecil langsung naik. Young Gyu mengikutinya


Nenek minum alkoholnya dan marah ketika ayam-ayam Lee myung Gyun berisik nenek mendekati kandang ayam dan menendang pintu kandangnya. Tanpa sengaja ia melihat sesuatu di dalam kandang, “Apa itu?” Nenek penasaran.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang. Nenek terkejut melihatnya.


Shin Ae datang.
“Apa kau melihat hantu?” tanya Shin Ae. “Kenapa kau kaget melihat putrimu?”
Nenek mengusir Shin Ae, “Pergi! Kenapa kau ke sini? Pergi dari rumahku!” Nenek mendorong Shin Ae.
Shin Ae : “Ibu... kenapa kau seperti ini? Aku ke sini untuk bertemu anakku!”
Nenek : “Apa? Dasar perempuan jalang. Apa kau sudah lupa kalau kau sudah membuang anakmu? apa lagi maumu? Dasar perempuan tak berperasaan!”
Nenek memukuli Shin Ae beberapa kali. “Walaupun begitu, aku ini ibu kandungnya. Di mana dia?” Tanya Shin Ae.


Di dalam bus Young Gyu tanya ke penumpang lain mau ke mana bus ini. Tapi tak ada yang menjawab. Ia bertanya pada Mi Sook kecil pertanyaan yang sama, “Kau mau kemana?”
Mi Sook kecil : “Aku mau menemui seseorang!”


Cha Dong Joo berdandan rapi dengan setelan jas dan dasi kupu-kupunya (He is So Handsome haha)


Nenek terus mengusir Shin Ae tapi Shin Ae keras kepala ia tak mau pergi dan ingin bertemu dengan anaknya, “Aku hanya mau mengambil anakku!”
Nenek terus memukulnya, “Apa kau manusia yang bertanggung jawab? Punggung Young Gyu sudah bungkuk karena membesarkannya sendirian dan sekarang dia terus sendiri seumur hidupnya!”
Shin Ae : “Memangnya itu salahku? Aku tak pernah menyuruhnya menjadi anak Young Gyu!”


Nenek tahu niat buruk Shin Ae, “Katakan dengan jujur apa yang kau inginkan? Menghilang selama 13 tahun lalu muncul begitu saja. Dasar wanita jalang!” Nenek kembali memukul Shin Ae dengan tas.
Wajah Shin Ae pura–pura memelas, “Ibu aku merindukannya, meninggalkan anak kandungku, aku penasaran seperti apa dia sekarang dan aku juga merindukanmu.”

Nenek tetap kesal karena baginya Shin Ae itu sudah mati. Shin Ae berkata kalau ia selalu merindukan putranya dan lain kali ia akan datang untuk mengambil jika waktunya tiba.
Setelah Shin Ae pergi Nenek hanya bisa mendesah, kenapa ada wanita seperti itu.


Ada pesta di rumah keluarga pemilik Woo Kyung Group. Ma Roo sampai disana ia berniat mengambil berkas beasiswanya yang tempo hari tertinggal di mobil.


Young Gyu dan Mi Sook kecil berlari dari satu rumah ke rumah lain mencari rumah Cha Dong Joo.


Bong Ma Roo bertemu Choi Jin Chul, ia heran kenapa Ma Roo ada di rumahnya. Ma Roo mengatakan kalau ia datang untuk mengambil berkas beasiswanya yang tertinggal.


Choi Jin Chul mencibir apa hanya untuk itu Ma Roo datang. Ia akan mengirimkannya ke sekolah dan meminta Ma Roo segera pulang.
Ma Roo berkata kalau kedatangannya untuk bertemu dengan Ny Tae, “Dimana dia?”
Choi Jin Chul tak suka melihatnya, “Mendapat beasiswa saja sudah cukup untukmu untuk apa kau bertemu istriku?”


Dengan tak kalah ketus Ma Roo mengatakan kalau Choi Jin Chul tak usah khawatir ia datang bukan untuk mengemis.


Ny Tae datang dan menyambut Ma Roo. Dong Joo juga tiba di sana, Ny Tae memuji anaknya sangat tampan (banget haha)


Dong Joo meliat Ma Roo, “Hyung!” sapa Dong Joo.
Ny Tae Hyun Suk mengajak Ma Roo masuk ke rumah. Tepat saat itu Cha Sung Moo datang menyapa Dong Joo (pamannya Dong Joo – adik kandung Ayah Dong Joo)


Cha Sung Moo memuji keponakannya yang makin lama makin mirip dengan ayahnya. “Sepertinya kakakku bangkit dari kematian!”
Dong Joo mengikuti ibunya masuk ke rumah. Ayahnya berpesan agar mengatakan pada ibunya jangan terlalu lama bersama Ma Roo dan menyuruh Ma Roo pulang.


“Kenapa? Tak bisakah dia bermain denganku?” tanya Dong Joo.
Choi Jin Chul : “Ayah tak suka sembarang orang masuk rumah!”


Ketika Dong Joo akan masuk terdengar olehnya keributan di pintu gerbang, “Benar dia menyuruhku datang ke sini!” Dong Joo melihat Mi Sook kecil di pintu gerbang rumahnya.
“Siapa nama temanmu itu?” tanya penjaga.


“Aku tak tahu. Dia temanku!” jawab Mi Sook kecil. Dong Joo tersenyum, “Dia sungguh-sungguh datang!”
Young Gyu merasa kalau itu bukan rumah yang mereka cari, ini besar sekali. Mi Sook kecil melihat kalau alamatnya sama dengan yang tertulis di buku.


Mi Sook kecil berkata pada penjaga kalau ia bertemu pasti mengenalinya. Penjaga menolak dan meminta keduanya untuk segera pergi.
Dong Joo keluar dan berkata pada penjaga kalau itu adalah temannya. Ia kemudian mengajak Mi Sook kecil masuk.
Young Gyu akan ikut masuk tapi si penjaga melarangnya, “Apa kau juga temannya?” Young Gyu mengatakan kalau ia hanya menemani Mi Sook kecil.


Tae Hyun Suk menyuruh pembantunya menyiapkan makanan enak. Ma Roo merasa kalau yang disediakan sudah lebih dari cukup.


Tae Hyun Suk gemes melihat Ma Roo dan mencubit hidungnya ia berkata kalau keluarganya tidak setiap hari makan enak seperti ini dan sekarang kebetulan sedang ada pesta, Ma Roo beruntung datang.


Ma Roo menatap haru Tae Hyun Suk. Ia mengatakan kalau ia tak pernah berfikir seperti itu sebelumnya, tak pernah ada yang mengatakan padanya ‘kau anak yang beruntung’
Tae Hyun Suk meminta Ma Roo untuk berfikir kalau ia adalah anak yang beruntung setiap hari.


Pesta dimulai musik pun dimainkan. Tamu-tamu banyak yang hadir. Dong Joo dan Mi Sook kecil duduk di kursi melihat dari kejauhan.
Mi Sook kecil kagum melihat ibu-ibu mengenakan gaun yang bagus-bagus.
Dong Joo tanya kenapa Mi Sook kecil datang hari ini, pesta ini membuatnya canggung. Mi Sook kecil juga tak tahu kalau akan ada pesta di rumah Dong Joo. Kalau tahu ia akan mengenakan gaun milik ibunya. Gaun yang panjang itu.
“Kau berpakaian seperti itu karena kau mau menjadi pianis?” tanya Dong Joo. Mi Sook kecil mengangguk dan ia akan menunjukan pada ibunya betapa indahnya musik dari piano.
Dong Joo tak mengerti, “Menujukan? suara?”
Mi Sook kembali mengangguk dan melafalkan solmisasi.


Do.... dengan mata terpejam.


Re.... ia membuka satu matanya.


Mi.... ia kembali menutup semua matanya.
Dong Joo tertawa, “Apa itu?”


Faaa... Mi Sook kecil mengeraskan suaranya sambil merentangkan tangan.


Dong Joo meminta Mi Sook kecil jangan berisik kalau tidak akan ketahuan.
Mi Sook kecil memandang ibu Dong Joo dan ia kagum melihatnya, “Dia cantik sekali!”

Tae Hyun Suk mencari putranya. Dong Joo meminta Mi Sook jangan kemana-mana.
Kakek mengikuti pesta ia duduk di kursi roda dengan selang oksigen masih di hidungnya. Dong Joo menyapa kakeknya.
Terdengar komat kamit tamu yang datang, “Kenapa mendadak? Bukankah dia sudah sehat? Lalu bagaimana dengan bisnis kita?”


Kakek mulai bicara, “Aku senang bertemu kalian lagi!”
“Kami juga senang melihat anda sehat!” sahut Cha Sung Moo. Ia tepuk tangan dan meminta yang lain tepuk tangan juga.
Dong Joo melirik ke arah kursi ia meninggalkan Mi Sook kecil, kursi itu kosong.
Kakek melanjutkan kata-katanya, “Aku sudah divonis menderita kanker perut umurku tak akan lebih dari satu tahun lagi!”


“Sepertinya kita masih bisa bertemu sampai 30 tahun lagi!” sahut Dokter Kim.
Kakek : “Walaupun aku akan hidup sampai 30 tahun lagi tapi teman-teman sebayaku sudah tiada semua. Mulai saat ini akan kusampaikan tentang siapa yang akan menjadi penerus Woo Kyung dan aku berharap kalian semua menyetujuinya!”
Cha Sung Moo terkejut mendengarnya, “Penerus?”
Dong Joo bertanya pada ibunya apa kakek akan meninggalkan bisnisnya. Tae Hyun Suk hanya menggenggam tangan putranya.
Kakek : “Siapapun dia aku percaya dia akan melindungi dan meneruskan kejayaan Woo Kyung Group.”


Dan kakek menyerahkan tongkat estafet Presdir Woo Kyung Group ke manantunya, Choi Jin Chul.
Choi Jin Chul menjabat tangan kakek, “Aku menghormati keputusanmu yang bijaksana. Aku akan berusaha sebaik-baiknya!”
Tae Hyun Suk langsung memeluk suaminya dan mengucapkan selamat. Semua tepuk tangan.


Cha Dong Joo berusaha mencari Mi Sook kecil, ia celingukan. Tiba-tiba ada yang melempar sesuatu padanya. Ia pun menoleh dan dilihatnya Mi Sook kecil bersembunyi di bawah meja. Mi Sook kecil mengajak Dong Joo ke bawah meja.


Dong Joo : “Apa yang kau lakukan di bawah sini?”
Mi Sook kecil memberi kode supaya Dong Joo diam lalu terdengar bunyi keruyukan perut Mi Sook kecil, “Aku lapar!”
Dong Joo meminta Mi Sook kecil jangan kemana-mana lagi. Mi Sook kecil mengerti. Dong Joo keluar dari persembunyian.


Young Gyu setia menunggu Mi Sook kecil, ia menguap dan bosan. Akhirnya ia menghibur dirinya sendiri.
Young Gyu melempar sepatu dan menangkapnya. Penjaga marah melihat Young Gyu masih di sana.
Penjaga merebut sepatu Young Gyu dan melemparkannya jauh-jauh. Young Gyu lari mengambil sepatunya.
Penjaga menyuruh Young Gyu pergi. Young Gyu hanya bisa sembunyi sambil menunggu Mi Sook kecil.


Nenek masih kesal karena kedatangan Shin Ae. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh kedatangan Mi Sook yang dikejar-kejar Preman kemarin.
Nenek sembunyi. Preman berhasil menangakap Mi Sook dan menunjukan sebuah catatan. Ia mengancam kalau Mi Sook tak membayar ia akan membunuh Mi Sook.
Mi Sook berniat merebut kertas itu tapi si preman dengan sigap mengamankannya.
Si preman kembali mengancam kalau Mi Sook kabur ia tak segan-segan mencelakai Mi Sook kecil.


“Dasar brengsek!” Nenek langsung memukul preman dengan gayung yang dibawanya. “Suami apa? istri apa? Beraninya kau berbohong dihadapan semua orang!” Nenek terus mengayunkan gayungnya ke arah preman.
Preman menepis pukulan hingga membuat gayung itu patah. Nenek mencengkeram baju si preman.
Si preman melepaskan diri dan segera pergi dengan ancaman kalau ia akan datang lagi.

Nenek menatap kesal Mi Sook, seharusnya Mi Sook mengatakan kalau preman itu lintah darat. “Ya Tuhan, lama-lama aku bisa menjadi kering seperti mumi. Jantungku rasanya mau copot. Ya Tuhan sebenarnya aku tak tega padamu!” Nenek menyuruh Mi Sook segera pergi.


Dong Joo mengambil makanan dan ia langsung menunjukannya pada Mi Sook kecil. Tapi Mi Sook kecil menolak ia meminta daging.
“Bukankah ini daging?” sahut Dong Joo. Ia kemudian mengambil daging dan kembali memperlihatkannya pada Mi Sook kecil.
Mi Sook kecil meminta Dong Joo mengambil nasi kemudian ia mengambil minuman.
Dong Joo melihat sekeliling dan ia melihat Ma Roo keluar dari rumahnya.
“Hyung...!” Sapa Dong Joo pada Ma Roo. Dong Joo melambaikan tangan tapi Ma Roo mengacuhkannya.
Mi Sook kecil terkejut melihat Ma Roo ada di rumah Dong Joo. Ma Roo langsung keluar menuju gerbang.

Young Gyu masih mengendap-endap di luar, ia melihat sebuah taksi datang dan tepat saat itu Ma Roo juga keluar.


Young Gyu langsung menyapa putranya. Ma Roo tanya kenapa ayahnya ada di sini. Young Gyu mengatakan kalau Mi Sook kecil meninggalkan rumah dan ia mengikutinya sampai di sini.


Young Gyu menatap wanita yang baru keluar dari taksi, ia mengenali wanita itu. “Itu Shin Ae... Itu Shin Ae..” sahut Young Gyu.
Shin Ae tanya pada penjaga apa Nyonya ada.


“Shin Ae...!” teriak Young Gyu. Ma Roo langsung menarik ayahnya. “Itu Shin Ae, itu Shin Ae!” ucap Young Gyu.
“Siapa Shin Ae?” tanya Ma Roo.
“Ibumu!” jawab Young Gyu.


“Ibuku?” Ma Roo terkejut mendengarnya.
Young Gyu sadar sudah keceplosan bicara dan menutup mulutnya.
Ma Roo : “Kau bilang ibuku sudah meninggal.”
Young Gyu tak tahu harus bicara apa, “Shin Ae itu adalah...”
Ma Roo meminta ayahnya bicara yang benar, bagaimana orang yang sudah meninggal bisa hidup lagi.
“Tidak tahu, Tidak tahu, Tidak tahu. Ibu bilang Shin Ae sudah meninggal!” Young Gyu kebingungan, ibunya mengatakan kalau Shin Ae sudah meninggal tapi ia melihat orang yang mirip dengan Shin Ae. Young Gyu langsung menepuk-nepuk jidatnya karena kebingungan.
Mendengar penjelasan ayahnya Ma Roo jadi penasaran dan menatap wanita yang barusan masuk.


Mi Sook kecil makan sangat lahap di bawah meja Dong Joo menemaninya. Karena terlalu terburu-buru Mi Sook kecil tersedak. Dong Joo langsung memberinya air.


Keduanya mendengar tawa dari luar, ucapan selamat untuk Choi Jin Chul terus datang. Choi Jin Chul meminta pada dewan direksi agar tetap bekerja keras untuk Woo Kyung. Semuanya bersulang.
Mi Sook kagum melihatnya, “Ayahmu pasti seorang pemimpin!”


“Nyonya!” Shin Ae memanggil Tae Hyun Suk. Ny Tae senang Shin Ae datang dan langsung memeluknya.
Shin Ae memandang Choi Jin Chul, “Apa kabarmu? Kau tak berubah sama sekali Sekertaris Choi?”
“Sekertaris apa, hari ini dia menjadi Presiden Direktur!” seru Ny Tae.
Choi Jin Chul tak suka melihat Shin Ae datang.
Salah satu istri Dewan Direksi mengajak Tae Hyun Suk bicara dan ia pun meninggalkan Shin Ae sendiri.


Shin Ae langsung menghampiri Choi Jin Chul, “Seorang sekertaris menjadi Presiden Direktur. Surat kabar akan laris!” sahutnya.
“Tentu saja!” ujar Choi Jin Chul sambil berjalan pergi.
“Walaupun hanya Presdir pajangan, akan seperti itukah berita di koran nanti?” tanya Shin Ae dan itu membuat Choi Jin Chul menghentikan langkahnya.
Shin Ae meminta jangan terlalu dipusingkan dan berkata jika Dong Joo sudah besar nanti semua itu pasti akan dikuasai Dong Joo.
Shin Ae : “Kalau kau masih menginginkannya, aku bisa membuatnya menjadi anakmu!”
Choi Jin Chul tak mengerti maksud ucapan Shin Ae.


Tiba-tiba Ma Roo datang dan menyapa Shin Ae, “Apa kau mengenalku?” Tanya Ma Roo. Shin Ae melongo melihatnya.
“Apa kau mengenalku?” tanya Ma Roo sekali lagi. Shin Ae masih belum mengerti ada anak kecil menyapanya.
Ny Tae datang dan bertanya ada apa.
Shin Ae : “Apa kau bertanya padaku?”


Ma Roo : “Apa kau mengenalku? Aku... Bong Ma Roo!”
Shin Ae : “Siapa?”
Ma Roo : “Aku anak Bong Young Gyu. Namaku Bong Ma Roo!”


Mata Shin Ae membesar mendengarnya.


Choi Jin Chul ingat pernah bertemu Young Gyu di pasar ketika mencari Dong Joo ia lalu memandang Shin Ae.
“Kak Ma Roo!” teriak Mi Sook kecil keluar dari persembunyian dan membuat piring-piring berjatuhan mengenai Dong Joo. Tapi Dong Joo tak apa-apa.
Mi Sook kecil serba salah ia bingung. Choi Jin Chul tanya apa yang dilakukan Dong Joo di bawah meja.
“Oppa!” Mi Sook kecil sembunyi di belakang Ma Roo. Shin Ae menatap kedua anak ini.
Ny Tae ke Mi Sook kecil, “Siapa kau?”
Mi Sook kecil langsung berlindung di belakang Ma Roo ia ketakutan. Dong Joo akan mengenalkan tapi ayahnya tiba-tiba bicara.
“Beraninya kau datang ke sini bersama adikmu dan membuat keributan. Bawa adikmu dan cepat pergi!” bentak Choi Jin Chul pada Ma Roo.
“Dia bukan adikku!” Ma Roo menepiskan tangan Mi Sook kecil. “Aku datang ke sini untuk menegaskan sesuatu.” Ma Roo kembali memandang Shin Ae, “Apa kau tak mengenalku?” tanya Ma Roo.


Shin Ae : “aku tak tahu. Aku tak mengenalmu? Mengapa kau begini? Baru kali ini aku melihatmu. Apa kau mengenalku? Apa kau pernah bertemu denganku? Aku lama tinggal di Amerika dan baru kembali. Bagaimana aku bisa mengenalmu? Anak yang aneh.”
“Apa aku bilang anak ini hanya menggerogoti kita saja!” sahut Choi Jin Chul pada istrinya.
Choi Jin Chul kembali mengusir Ma Roo.


Ma Roo menahan marah ia mengepalkan tangannya.
Mi Sook kecil hanya tertunduk. Dong Joo langsung bicara dengan ayahnya kalau Mi Sook kecil itu temannya ia akan mengantarnya keluar.
Ny Tae pusing melihat semuanya dan meminta Shin Ae mengambilkannya minuman. Shin Ae menuruti. Tapi sebelum itu ia memandang sekilas Ma Roo. Ma Roo juga masih penasaran dan terus memandang Shin Ae.


Dong Joo berjanji hari minggu nanti ia akan ke desa Mi Sook kecil, “Bukankah aku sudah berjanji akan mengajarimu bermain piano!”
Mi Sook mendesah dan berkata kalau ia akan segera pindah. Dong Joo tanya kapan dan pindah ke mana.


Mi Sook kecil diam. Dong Joo meyakinkan kalau ia akan datang pada hari minggu nanti di pohon itu.
Mi Sook kecil melihat Ma Roo berjalan di depannya, ia langsung memanggil dan mengejar, “Ma Roo Oppa!” Dan Dong Joo pun ditinggalkan.


Ma Roo keluar dari rumah keluarga Dong Joo, ayahnya langsung bertanya apa Ma Roo bertemu Shin Ae? apa katanya?
Young Gyu melihat wajah Ma Roo yang tampak kecewa. Ia bertanya apa Ma Roo menangis.
Ma Roo marah, “Apa kau sudah gila ? untuk apa aku menangis?”
Mi Sook kecil lari menyusul dan ketiganya pulang bersama.


Shin Ae keluar mengamati ketiganya ia tampak kesal, “Ah orang itu. Siapa gadis kecil itu?”


Shin Ae menelpon Nenek dan mengatakan kalau ia bertemu Ma Roo. Nenek cemas mendengarnya.
Shin Ae berkata kalau ia tak sengaja bertemu dengan Ma Roo dan bertanya siapa gadis kecil yang bersama Young Gyu.
Nenek meminta tak usah mememikirkan gadis itu dan bertanya apa Shin Ae mengaku di depan anaknya. Shin Ae tak berani melakukannya karena banyak orang yang melihat, ia tak bisa mengatakannya begitu saja.


Nenek sudah menduganya kalau Shin Ae tak akan mengakui putranya di hadapan orang. Shin Ae memarahi ibunya kenapa Ma Roo sangat kurus, diberi makan apa dia. Nenek tambah marah, “Kenapa tidak kau sendiri yang memberinya makan!” Shin Ae berkata kalau Ma Roo itu mirip dirinya.
Terdengar suara di kamar kakek, Shin Ae langsung menutup teleponnya.


Kakek bersama Cha Sung Moo di kamarnya. Cha Sung Moo merasa keberatan kalau Choi Jin Chul menjadi Presdir. Ia mengatakan kalau Choi Jin Chul tak akan becus mengurus pabrik. “Dan ini sebenarnya milik kakakku!”


Kakek : “Sebenarnya aku memberikan sebuah tugas khusus pada Direktur Kang, jadi bersabarlah sebentar!”


Cha Sung Moo tak percaya mendengarnya, “Dir Kang? Kenapa kau berkata seperti itu? sudah satu tahun kami minta dia menengok mesin pabrik tapi dia hanya mengerjakan proposal yang tak ada habisnya.
Orang licik itu. Dir Kang, dia hanya orang yang bicara ‘Ya Tuan’ dihadapanmu tapi dibelakangmu dia patuh pada Choi Jin Chul dan dia mungkin memiliki rencana busuk. Jangan percaya dia! Dia anak buahnya Choi Jin Chul!”
Kakek meminta Cha Sung Moo jangan bicara sembarangan, “Lakukanlah saja tugasmu dengan baik!”


Shin Ae menguping pembicaraan itu.
Choi Jin Chul tiba di sana dan melihat Shin Ae berdiri di depan kamar kakek, “Apa yang kau lakukan?”
Shin Ae mencoba bicara manis, ”Kau tak perlu tahu apa yang kulakukan. Selain aku, kau seharusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri. Aku sedang berfikir apa aku akan berada dipihakmu atau tidak.”


Choi Jin Chul meminta Shin Ae jangan mengurusi dirinya dan urus saja keluarga Shin Ae sendiri agar mereka tak menjadi benalu orang lain.
Shin Ae : “Apa katamu?”
Choi Jin Chul : “Anak itu, keponakanmu kan? Anak kakakmu yang idiot. Anak Bong Young Gyu. Kau tak bodoh untuk urusan seperti itu!”
Choi Jin Chul akan masuk ke kamar kakek, “Ayah mertua!” panggilnya.


Shin Ae mencibir, “Ayah mertua? Siapa yang sebenarnya benalu!” Shin Ae meminta Choi Jin Chul jangan berpura-pura tidak tahu, “Pikirkan baik-baik dengan otak pintarmu!”


Young Gyu meminta pada Ma Roo jangan mengatakan pada nenek kalau itu Shin Ae. “Aku salah lihat!” kata Young Gyu. “Benar Shin Ae sudah meninggal, jadi itu bukan Shin Ae!”


Mi Sook kecil melihat ibunya duduk sambil menangis. Mi Sook kecil langsung memanggil dan memeluk ibunya.


Ma Roo langsung masuk ke rumahnya, Young Gyu masih ingin bicara dengan Ma Roo tapi ia tak tega melihat Mi Sook menangis. Ia kebingungan dan memukul dahinya.


Nenek langsung bertanya pada Ma Roo kenapa larut malam baru pulang. Ma Roo merebut minuman nenek dan bertanya siapa itu Shin Ae.
Nenek : “Kenapa kau menyebut orang yang sudah meninggal?”
Ma Roo mengeraskan suaranya, “Jangan membohongiku. Aku bertemu dia di Seoul. Dia ibuku kan?”
Nenek : “Kau bertemu orang gila di mana?”
Ma Roo : “Aku sudah mendengar semuanya. Ayah tak mungkin berbohong!”
Nenek : “Sejak kapan kau mempercayai ayahmu. Kau sendiri yang bilang kalau ayahmu bodoh!”
“Kalau begitu siapa Shin Ae?” tanya Ma Roo lagi. “Dia putriku. Putriku. Dia Bibimu. Kau puas?” bentak Nenek.
Ma Roo merasa tak pernah memiliki seorang Bibi karena Nenek tak pernah menceritakan itu sebelumnya.


Nenek mengatakan kalau Shin Ae meninggalkan rumah bertahun-tahun yang lalu, “Dan aku tak tahu apakah dia masih hidup atau sudah meninggal. Apa perlu aku cari? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan ini pada Nenekmu?”
Ma Roo diam.
Nenek : “Kenapa? Apa kau senang wanita seperti itu menjadi ibumu?”
Ma Roo : “Tidak. Kalau dia ibuku lebih baik aku tak usah dilahirkan olehnya.”


Ma Roo langsung keluar, karena kesal ia membanting jas dan membasuh wajahnya. Sepertinya Ma Roo menangis tapi ia menyembunyikan air matanya. Young Gyu memungut jas Ma Roo, ia serba salah dan memukuli dahinya lagi.


Tae Hyun Suk bersenda gurau dengan putranya dan bertanya siapa gadis jelek itu. keduanya masuk ke kamar Kakek. Kakek menyembunyikan sesuatu di bawah bantalnya.
“Dia cantik!” seru Dong Joo. Ibunya tertawa, “Dia itu jelak. Carilah gadis yang cantik!”
“Tak ada yang lebih cantik selain ibu!” Dong Joo langsung menutupi dirinya dengan selimut.
Kakek ingin tidur dengan Dong Joo, sebelum keluar kamar Tae Hyun Suk memeluk ayahnya dan membuat Dong Joo tertindih badannya. Ia menduga kalau suaminya tak akan bisa tidur malam ini karena jabatan barunya.


Kakek berkata akan malakukan apapun selama putrinya menyukai itu. “Aku juga, aku juga!” Dong Joo memeluk ibu dan kakeknya.


Choi Jin Chul memandang foto keluarga sambil minum. Istrinya mendekat, “Presdir Choi!” panggilnya. Ia memberi ucapan selamat pada suaminya.
Choi Jin Chul mengatakan kalau ada yang bilang padanya dia itu hanya Presdir pajangan. Istrinya tanya siapa yang mengatakan itu. Choi Jin Chul berkata orang itu pasti iri.


Tae Hyun Suk memberikan sebuah berkas pada suaminya dan berkata kalau itu hadiah, “Ini sebenarnya saham bagianku dan Dong Joo.”
Tae Hyun Suk meminta suaminya jangan mempedulikan orang lain dan percaya pada pikiran sendiri, “Kita lihat apakah masih ada yang berani menyebutmu sebagai Presdir pajangan.”
Choi Jin Chul berterima kasih pada istrinya. “Akulah yang seharusnya berterima kasih, aku sangat bersyukur kau sudah bekerja keras demi Dong Joo dan aku!” sahut Tae Hyun Suk.
Sambil memeluk istrinya, Choi Jin Chul memandang amplop berkas yang diterimanya.


Kakek membuka sebuah surat dan menghela nafas panjang. Ia melihat cucu tersayang tidur disebelahnya. “Dong Joo, pemilik sah atas Woo Kyung adalah kau. Jangan lupakan itu!”


Young Gyu tertidur di luar, Mi Sook kecil mengambil tas dari kandang ayam. Young Gyu terbangun, Mi Sook kecil memberi kode agar Young Gyu tak bersuara.
Nenek keluar dan marah, “Apa kau menyelinap lagi? Masuk dan tidurlah!”


Mi Sook kecil berusaha menyembunyikan tasnya. Nenek tanya apa yang disembunyikan Mi Sook kecil. “Bukan apa-apa!” jawab Mi Sook kecil. Nenek merebut tas yang dibawa Mi Sook kecil.
Mi Sook kecil berkata kalau ia tak ingin pindah makanya ia menyembunyikan tas itu di dalam kandang ayam. “Ibu bilang kami harus pindah!”
Young Gyu terkejut mendengarnya. Mi Sook kecil mengambil kembali tasnya dan mengucapkan salam perpisahan.


Young Gyu sedih ia mulai menangis dan membenturkan kepalanya ke tiang penyangga, Nenek turut sedih melihatnya.


Sebelum tidur Mi Sook kecil berbincang-bincang dengan ibunya.
“Ibu kalau kita pindah, kita tak bisa kesini lagi kan?” tanya Mi Sook kecil. “Kalau aku merindukan Nenek, Paman dan Kak Ma Roo walaupun sedikit bagaimana? Aku mungkin tak akan merindukan Nenek karena suka mengumpat.”
Mi Sook memejamkan mata putrinya, tapi Mi Sook kecil berkata ia tak bisa tidur.
Mi Sook berkata dalam bahasa isyarat, “Kau bisa melihatku walaupun kau menutup matamu!”


Mi Sook kecil : “Benarkah? Ibu bisa melihat orang yang Ibu rindukan dengan menutup mata? Walaupun orang itu tak ada disampingmu?”
Mi Sook mengangguk.


Mi Sook kecil langsung mempraktekannya, ia memejamkan mata dan bergumam, “Paman.. Paman.. Paman!”
Lalu Mi Sook kecil membuka matanya, “Aku melihat dia. Aku benar-benar bisa melihatnya!”


Mi Sook kecil lalu menutup telinga ibunya, “Apa Ibu bisa mendengar suaraku? Karena Ibu bisa melihat kalau Ibu menutup mata, apakah bisa mendengar kalau Ibu menutup telinga ibu?”
Mi Sook memberi isyarat, “Aku mendengarnya!”
Mi Sook kecil : “Benarkah? Bagaimana suaraku?”
“Cantik. Seperti suara piano!” jawab Mi Sook.
Mi Sook kecil heran, “Suara piano?” Ibunya mengangguk. “Aku juga ingin mendengar suara ibu!” Mi Sook kecil menutup telinganya.
Mi Sook meraih tangan putrinya dan meletakan di dadanya, “Ini suara ibu!”
“Aku bisa mendengarnya!” ujar Mi Sook kecil seraya tersenyum.


Mi Sook memeluk putrinya dan dalam hati ia berkata, “Ibu menyayangimu putriku dan Ibu minta maaf. Ibu benar-benar minta maaf, Ibu sangat mencintaimu. Ibu benar-benar mencintaimu!” Mi Sook meneteskan air matanya.
Sementara di luar Young Gyu masih membenturkan kepalanya.

Keesokan harinya Choi Jin Chul bersiap berangkat bekerja sebagai Presdir Woo Kyung, ia mengingatkan putranya tak boleh bermain keluar karena masih dalam proses hukuman.
“Kau dihukum karena mengacaukan pesta ayahmu!” Tae Hyun Suk menambahkan kalau Dong Joo juga pernah menghilang dari aula pabrik. Choi Jin Chul menambah hukuman Dong Joo menjadi 2 minggu tak boleh keluar rumah.
Direktur Kang datang berkunjung dan ingin bicara berdua dengan Sang Presdir baru.


Dong Joo langsung berangkat sekolah, sebelum itu tak lupa ia melakukan tos dengan ayahnya.


Choi Jin Chul dan Dir Kang bicara berdua kakek melihat dari kamarnya. Ia teringat ucapan Cha Sung Moo yang mengatakan kalau Direktur Kang merupakan kaki tangan Choi Jin Chul.

Dengan tubuh yang masih lemah kakek mencoba melakukan sesuatu di meja kerjanya. Ia mengambil berkas dari dalam laci. Ia kemudian membuka proposal penutupan pabrik nomor 1. Ia kembali teringat ucapan Cha Sung Moo yang menyebutkan bahwa Dir Kang hanya mengurusi proposal yang tak ada habisnya.


Kakek merasa ada yang sakit dalam tubuhnya, beruntung putrinya cepat datang. Kemudian Choi Jin Chul dan Dir Kang menyusul di belakangnya.
“Direktur Kang apa ini?” tanya kakek lalu ambruk ke lantai. Choi Jin Chul mengambil kertas yang terjatuh dan membacanya.
Tae Hyun Suk meminta cepat dipanggilkan Dokter Kim. Perawat datang dan memberikan bantuan oksigen.


Choi Jin Chul memegang tangan mertuaya. Kakek menatap tajam menantunya ini ia berusaha melepaskan genggaman tangan Choi Jin Chul tapi tak bisa Choi Jin Chul memegangnya erat-erat.
Choi Jin Chul : “Ayah kenapa kau begitu, kalau kau memang percaya dan menyerahkan semua padaku kau pasti sudah...”
Choi Jin Chul menyuruh Direktur Kang memanggil ambulance. Tae Hyun Suk terus berteriak memanggi ayahnya.


Young Gyu dan ibunya tiba di pasar ia langsung menggelar dagangannya. Myung Gyun datang. Young Gyu menyapa tapi Myung Gyun mengacuhkannya. Ia heran dan bertanya pada Ny Lee apa mereka berdua bertengkar? apa dia marah?
Ny Lee kesal dan menancapkan pisaunya. Melihat itu nenek emosi, “Dasar kalian aku sudah tersinggung mengapa kalian berdua...”


Young Gyu berusaha menahan ibunya dan berkata kalau semuanya ia yang salah. Kau salah apa? seru Nenek mulai menangis. Young Gyu meminta ibunya jangan menangis.


Young Gyu mendapatkan ide untuk menghibur ibunya. Ia melemparkan sepatu dan mengakapnya ia mulai menyanyi dan menari ‘Di padang rumput yang biru’
Nenek memohon Young Gyu jangan seperti itu. Young Gyu menjadi tontonan orang di pasar. Tapi Young Gyu tetap meneruskan tarian dan nyanyiannya untuk menghibur ibunya.


Terdengar seorang pembeli mengejeknya, “Kenapa disaat seperti ini dia bernyanyi? Dia sudah gila!”
Myung Gyun tak terima temannya dihina seperti itu. Ia membentak, “Dia berbuat seperti itu untuk ibunya, itu wajar!”
Nenek terharu mendengar Young Gyu menyanyi untuk menghiburnya, “Baiklah mari kita hidup bersama!”


Mereka semua menemui Preman yang kemarin. Nenek langsung berhadapan dengan si preman dan memberikan sejumlah uang padanya.
Nenek berkata kalau Mi Sook sudah menyusahkan putranya dan ia jadi ikut sengsara. “Aku akan hidup bersama mereka sampai aku mati, kau akan kupekerjakan sampai mati!”


Ny Lee dan suaminya senang mendengar itu. Tapi Young Gyu cemas mendengarnya, “Apanya yang baik ibu bilang akan mengerjakannya sampai mati dia akan tersiksa!”


Preman menghitung uang pemberian Nenek dan ternyata kurang. Nenek membenarkan. Preman langsung mengeluarkan surat hutang, nenek menerima dan langsung merobeknya. “Apa kau gila!” teriak si preman.
Nenek : “Ya aku gila. Kalau tidak gila mana mungkin aku memberimu uang!”
Nenek meminum minumannya dan bertanya pada Preman, “Kenapa kau memegang uangku kembalikan padaku?”
Nenek berusaha merebut uang yang sudah ada di tangan preman, “Kembalikan uangku. Uang ini untuk anakku. Itu uang yang dikumpulkan anaku dari hasilnya bekerja!”
Si preman langsung kabur.


Mi Sook menangis melihatnya ternyata nenek sudah baik padanya dengan membayarkan hutang-hutangnya. Ny Lee dan putrinya berusaha menghibur.
Nenek meminta Mi Sook jangan menangis kalau tidak rumahnya pasti akan terkena sial.


Tae Hyun Suk menunggui ayahnya di rumah sakit, Tangan kakek bergerak dan tersadar. Ia akan memanggil yang lain tapi ayahnya menolak.
Tae Hyun Suk mengatakan kalau mereka semua sangat khawatir tapi kakek tetap memengang tangan putrinya. Melarang memberi tahu yang lain.

Nenek berdandan rapi, ia memanggil Young Gyu dan Ma Roo untuk cepat bergegas. Young Gyu baru bangun tidur dan bertanya mau pergi kemana.


Telepon berdering Young Gyu akan mengangkat tapi Nenek melarang dan meminta putranya bersiap-siap memakai pakaian yang bersih. Young Gyu mengerti dan segera kembali ke kamar.
Nenek menjawab telepon. Shin Ae yang menelpon meminta dikirimi uang. Nenek sudah menebaknya kalau Shin Ae hanya datang untuk menghabiskan uangnya saja.
Ma Roo keluar, Nenek panik dan langsung menutup teleponnya. Ma Roo tanya mereka mau pergi kemana.
Telepon berdering lagi Ma Roo akan mengangkat tapi Nenek melarang, “Jangan diangkat itu orang yang berhutang!”
“Hutang?” Ma Roo heran,
Nenek : “Ya. Di pasar ada yang berhutang dan memberi hutang!”
Nenek memanggil Young Gyu untuk cepat-cepat.


Shin Ae terus berusaha menelpon ibunya tapi tak diangkat. Terdengar dari luar pemilik kontrakan datang dan berteriak.
Ibu pemilik kontrakan berhasil masuk menggunakan kunci duplikat dan memarahi Shin Ae.
“Uang sewanya akan kubayar!” sahut Shin Ae berlindung di balik selimutnya. Ibu pemilik kontrakan tak menginginkan uang itu ia hanya ingin Shin Ae segera pergi.


“Bibi apa kau tak tahu siapa kau?” bentak Shin Ae. “Bawa anakmu padaku dia akan kujadikan pegawai di Woo Kyung!”
Ibu kontrakan tak percaya dan menganggap Shin Ae sudah gila, ia menyeret Shin Ae keluar dari kamar kontrakan.


Nenek mengajak Young Gyu dan Ma Roo ke studio foto, di sana Mi Sook dan putrinya sudah menunggu.
Ma Roo menatap kesal ayahnya. Young Gyu membela diri kalau itu bukan idenya. Ma Roo akan pergi tapi Nenek menahan dan meminta Ma Roo ikut berfoto.


Ma Roo tak mengerti, “Foto apa?”
Nenek berkata kalau penikahan harus tetap dilaksnakan. Mi Sook kecil tersenyum senang. Tapi tidak dengan Ma Roo.


Ma Roo masih tak setuju. Nenek mengancam kalau Ma Roo masih seperti itu lagi Ma Roo tidak boleh menemuinya dan jangan pernah masuk kerumahnya lagi.
Mereka berpose bersama, awalnya posisi Ma Roo berada di belakang Mi Sook dan ayahnya. Tapi ia mengganti posisinya dengan Mi Sook kecil. Ia berada di belakang Neneknya.


Ketika berfoto Young Gyu dan Mi Sook kecil bersenda gurau saling menjulurkan lidahnya. Hehe.


Dan akhirnya jadilah foto keluarga.


Kakek meminta pada Dokter Kim agar mengizinkannya pulang karena ada yang harus ia lakukan. Dokter Kim berkata Kakek tak bisa keluar dari rumah sakit tanpa izin dari Choi Jin Chul.


Shin Ae berada di kamar Tae Hyun Suk, “Apa aku akan menjadi sekertarismu lagi?”
Tae Hyun Suk merasa senang, “Tapi bagaimana dengan pacar yang akan kau nikahi di Amerika?”
Shin Ae berkata kalau mereka sudah putus, “Kami memiliki anak tapi tidak bisa kuurus!” Tae Hyun Suk terkejut mendengar Shin Ae memiliki anak.
Shin Ae berkata setelah Tae Hyun Suk menikah dengan Choi Jin Chul mereka putus komunikasi dan banyak hal yang sudah terjadi, “Hidupku naik turun dan bertemu pria-pria jahat!”
Tae Hyun Suk merasa iba mendengar kisah hidup Shin Ae, “Dimana anak itu sekarang?”
“Dia dibesarkan di rumah saudaraku. Sekarang sedang kuusahakan untuk mengambilnya kembali. Nyonya, tolong beri aku pekrjaan!” pinta Shin Se.

Tae Hyun Suk bertanya berapa usia anak Shin Ae sekarang. Belum sempat di jawab tiba-tiba Dong Joo masuk. Shin Ae akan menceritakannya lain waktu.
Shin Ae mengajak Dong Joo makan. Dong Joo mengatakan kalau dia tidak lapar. Shin Ae berpesan kalau Dong Joo lapar bisa memberitahunya. Shin Ae keluar kamar.


Dong Joo menghampiri ibunya dan bertanya apa benar Bibi itu dulu sekertars ibu dia agak aneh. Tae Hyun Suk meminta putranya jangan seperti itu, ia sudah menganggap Shin Ae seperti adiknya sendiri.
Dong Joo tanya apa ayahnya akan pulang terlambat. Ibunya menjawab kalau mereka akan bertemu di RS, “Kenapa?”
Dong Joo senang dan tersenyum mencurigakan, “Tidak. Titip salam untuk kakek ya bu!”


Dong Joo menyiapkan pianikanya. Tiba-tiba Shin Ae masuk ke kamarnya membawakan makanan. Dong Joo langsung menyembunyikan pianika di bawah selimut.
Shin Ae melihat sekeliling. Dong Joo berkata bukankah ia sudah bilang kalau ia tidak lapar.
Shin Ae meminta Dong Joo bersikap lebih sopan padanya, “Makanlah!” kata Shin Ae sambil berkeliling kamar dan melihat foto Dong Joo bersama Tae Hyun Suk dan Choi Jin Chul.


Shin Ae : “Ayah kandungmu pasti sangat kecawa. Apa kau tak merindukan ayah kandungmu?”


Dong Joo merebut fotonya, “Jangan pegang-pegang!”
“Kau sangat sensitif!” sahut Shin Ae. “Kau tak boleh seperti itu padaku!”
Dong Joo : Apa?


“Kau tak akan tahu bagaimana nasib orang akan berubah!” Shin Ae kembali mengambil foto itu dari Dong Joo dan meletakkannya kembali ke atas piano.


Setelah berfoto bersama nenek mengajak semuanya makan. Keluarga Lee Myung Gyun juga ikut, mereka mengajak putranya Lee Seung Chul.


Sebelum makan nenek memberikan dua buah cincin untuk dikenakan Young Gyu dan Mi Sook, “Masing-masing ambil satu dan kalian akan berbahagia selamanya!”


Ny Lee tanya dari mana nenek mendapatkan uang, bukankah kemarin sudah mengahbiskan uang.
Myung Gyun meminta sobatnya untuk segera memakaikan cincni itu ke jari Mi Sook.
Young Gyu tak paham. Myung Gyun menjelaskan pakailah cincin itu dan kalian sah menikah.
Young Gyu memandang ibunya dan menyuruh ibunya saja yang memakaikannya.
Nenenk : “Memangnya aku yang menikah?”


Ny Lee menuruh Mi Sook memakaikan cincin ke jari Young Gyu. Mi Sook langsung melakukannya, Young Gyu tersipu dan ia juga melakukan hal yang sama.


Ma Roo memandang kesal ayahnya.

Ny Lee mengeluh karena makanan yang disediakan hanya Mie dan meminta putranya cepat makan.


“Babi asam manisnya untukku!” sahut Seung Chul. “Aku tak bisa makan yang lain selain babi asam manis.”
Myung Gyun menepuk kepala anaknya, “Jangan sombong. Makanlah!” hahaha
Mi Sook kecil tertawa melihatnya. “Jangan tertawa!” bentak Seung Chul. “Ayah dia menertawaiku!”


“Sekarang aku juga punya ayah, benarkan ayah?” Mi Sook kecil memandang Young Gyu.
“Benar!” Young Gyu mengangguk. “Dengar itu dia mengucapkan kata ‘ayah’ dengan lancar!” sambung Nenek.
Mi Sook kecil : “Aku sudah latihan semalaman. Aku bisa mengucapkan 10 kali dalam satu detik ayah ayahyahyahyahyahyahyahyahyahyah!”

Young Gyu merasa senang memiliki keluarga besar. Tapi Nenek bingung bagaimana caranya memberi makan mereka semua.
Mi Sook bicara dengan bahasa isyarat. Nenek bingung tak mengerti.


“Bersama?” Young Gyu menjawab. Mi Sook mengangguk. “Dia bilang ‘bersama’!” Young Gyu memperagakan tangannya.
Myung Gyun memuji sahabatnya, walaupun tak bisa membaca dan menulis tapi Young Gyu tahu bahasa isyarat, “Benar-benar berjodoh!”
Young Gyu : “Teman, apa mau kuajarkan? ‘Bersama’!”


Mendengar ayahnya menyebut kata teman Mi Sook kecil langsung berdiri, ia teringat sesuatu.


Mi Sook kecil langsung lari meuju pohon tempat ia janjian dengan Dong Joo. Ia mengelilingi pohon tapi tak menemukannya. Ia kecewa, “Kurasa dia tidak datang!”


Shin Ae duduk santai dan meminta pembantu membawaka kopi untuknya. “Kau buat saja sendiri, aku lelah!” sahut si pembantu.
Shin Ae tak percaya mendengarnya, “Kalau dipecat baru tahu rasa dia.”


Shin Ae mendongak mendengar suara piano, “Aku tak tahan dengan suara piano itu!”


Ternyata tak ada yang bermain piano, Dong Joo menyetel rekaman pianonya. Dong Joo tak ada di rumah.


Dong Joo lari-lari untuk sampai di mana ia janjian dengan Mi Sook kecil, ia celingukan dan tak melihat Mi Sook kecil, “Anak itu belum kesini?”


Mi Sook kecil membuat suara seperti ayam berkokok. Dong Joo mencari sumber suaranya. Mi Sook kecil sembunyi di atas pohon.
Mi Sook kecil tersenyum melihat Dong Joo dan segera turun, ia mengira dong Joo tak akan datang. “Aku selalu menepati janji!” ucap Dong Joo.


Mereka berdua pergi ke tanah lapang di bawah pohon besar. Dong Joo mengajari Mi Sook kecil bermain pianika.
Mi Sook masih belum bisa mengatur nafasnya ketika meniup pianika. Dong Joo terus mengajari.
Mi Sook kecil merasa kalau ia sudah bisa memainkannya dan minta di ajari nada yang lain. Tapi Dong Joo mengatakan kalau latihan kali ini sudah cukup dan lain kali bisa latihan lagi.
Mi Sook kecil : “Kau akan mengajariku lain kali? Bagaimana aku membalas kebaikanmu?”

Dong Joo berfikir kemudian ia bertanya, “Bagaimana caranya kau menunjukkan suara pada ibumu? Tunjukan bagaimana caranya!”
Dong Joo lalu menyebutkan solmisasi yang sama ketika Mi Sook kecil menyebutkannya ketika di rumah Dong Joo.

Do....
Re....
Mi....
Faaaa...

“Aku tak melakukan itu lagi!” jawab Mi Sook kecil. “Kukira ibuku tak bisa mendengar tapi ternyata dia bisa!”
Dong Joo : Apa?
Mi Sook Kecil : “Apa kau mau kuajari caranya?”


Mi Sook kecil menutup matanya, “Kalau kau menutup matamu dan berkonsentrasi kau akan bisa melihat apa yang ingin kau lihat!”
Kemudian ia menutup telinga dengan kedua tangnnya, “Jika kau menutup telingamu seperti ini kau akan bisa mendengar apa yang ingin kau dengar.
Aku bisa melihat paman, lalu kau akan bisa melihat paman. Aku bisa mendengar suara ibu, lalu aku bisa mendengar suaranya.
Kung kung kung!” gumam Mi sook kecil menutup mata dan telinganya.


Dong Joo mengikuti apa yang dilakukan Mi Sook kecil, “Aku mengerti. Ibuku....dan kakek!”
Mi Sook kecil tanya bagaimana suaranya
“Aku mendengarnya!” sahut Dong Joo masih menutup mata dan telinganya.
Mi Sook kecil ingin tahu, “Suara apa itu? Suara apa itu?”


“Suaramu!” Dong Joo membuka mata dan telinganya. “Kau menyuruhku berkonsentrasi tapi kau bicara terus!”
Mi Sook kecil : “Tapi kau... tidak tidak...”
Mi Sook kecil tak jadi mengatakannya. Dong Joo penasaran, “Apa? Apa yang ingin kau katakan?”


Mi Sook memperagakan bahasa isyarat. Jemari terbuka dengan ibu jari menyentuh hidung setelah itu mengatupkan kedua ibu jari dan telunjuk secara bersamaan.
Dong Joo tak mengerti, Apa?
Mi Sook kecil melakukannya lagi lalu meniup pianika.


Dong Joo memeperagakan apa yang dilakukan Mi sook kecil, “Apa itu? apa yang kau katakan?
Mi Sook kecil menggeleng tak mau menjawab.


Dong Joo kembali memperagakannya dan ia terus penasaran, “Hey apa yang kau lakukan? Kau selalu seperti itu.”


re-posted and re-edited by : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment