Friday, October 04, 2013

Can You Hear My Heart Episode 22

Dong Joo kembali ke kantor polisi untuk menemui Joon Ha. Ia meminta izin pada petugas polisi agar bisa mengunjungi Kakaknya. Dong Joo diminta mengisi formulir pengunjung terlebih dahulu.

Dong Joo tanya apa ada orang lain yang tengah mengunjungi Joon Ha sekarang. Petugas minta maaf tak bisa mengatakan itu.
Di ruang kunjungan Joon Ha meminta Ny Tae untuk membawa Choi Jin Chul agar menemuinya, “Choi Jin Chul yang membuatku seperti ini. Bawa dia ke sini!” bentak Joon Ha.
Ny Tae terkejut mendengar Joon Ha berteriak padanya, “Jang Joon Ha?”
“Tae Yeon Suk, bawa ayahku Choi Jin Chul ke sini!” Joon Ha kembali membentak dan memanggil Ny Tae dengan namanya langsung.

Ny Tae terkejut Joon Ha menyebut Choi Jin Chul dengan sebutan ayah, “Sama seperti denganmu, hanya orang kelas rendahan yang bisa melakukan perbuatan seperti itu. Supaya selamat, kau meninggalkan keluargamu dan hidup seperti pengemis dengan mengandalkan orang lain!”

Joon Ha : “Apa kau punya hak untuk mengatakan itu? kau menjadikanku anak untuk membalas dendam pada Choi Jin Chul. Lalu mencampakanku ketika tujuanmu telah tercapai. Apa kau pikir aku ini orang yang hina? Kau juga orang yang bersalah!”

Ny Tae menolak anggapan Joon Ha. Ia tak mencampakan Joon Ha. Yang berubah adalah Joon ha, bukan dirinya. Ia pernah mengatakan kalau mereka akan bersama sampai mati. Bukankah Joon Ha sendiri yang menghendaki masuk ke sini (penjara). Tapi setelah masuk ke sini apa Joon Ha merasa teraniaya. “Beraninya kau memanggil Choi Jin Chul ‘ayah’ di depanku!” bentak Ny Tae.

“Siapa yang membuatku seperti ini!” suara Joon Ha tak kalah keras.
Nya Tae meminta Joon Ha jangan merubah arah percakapan. Begitu frustasinya kah Joon Ha di penjara. Akankah Joon Ha menyia-nyiakan 16 tahun dengan bersamanya begitu saja. Lalu bagaimana dengan Dong Joo. “Karena ayahmu, Choi Jin Chul. Selama hidupnya dia lebih menderita daripada dinding penjara ini. Selama 16 tahun. Tidak, selamanya. Dong Joo akan menjadi tuli sepanjang hidupnya!”
Dong Joo sangat khawatir ketika mengetahui kalau Joon Ha anak Choi Jin Chul. “Walaupun dia tahu, dia mau menemaniku ke sini. Dia memintaku untuk meminta maaf padamu. Apa kau mengerti sekarang? Kami tidak mencampakanmu. Kaulah yang telah mencampakan kami. Ini belum terlambat. Kembalilah padaku, Joon Ha!”
Joon Ha tak percaya, “Apa kau mencoba membohongiku lagi? kepada siapa aku harus kembali?”
Ny Tae : “Tentu saja pada dirimu!”
Joon Ha : “Apa bukan Dong Joo? Tae Yeon Suk jangan membuat permainan lagi. kenapa? Apa kau sudah menyadari kesalahanmu? Kau tak percaya kalau Dong Joo akan bereaksi seperti itu kan? Kau seharusnya tak membuatku menjadi Kakaknya. Kalau aku berkata begitu, dia akan tetap balas dendam pada Choi Jin Chul, begitu kan? Seperti hal-nya kau telah mempermainkanku. Bisakah aku mempermainkan Cha Dong Joo juga?”

Ny Tae marah mendengar Joon Ha akan balas dendam padanya melalui Dong Joo, “Jangan pernah kau mengganggu Dong Joo. Aku akan membunuhmu!”
Joon Ha tertawa, “Kau ketakutan. Jika aku selamat, aku akan membunuh Dong Joo kemudian kau. Kau mengerti, tunggu saja!”
Ny Tae membentak, “Apa kau pikir aku akan menunggu begitu saja?”
Joon Ha : “Jangan membuang energimu. Pulanglah ke anakmu. Tanpa aku, dia tak bisa apa-apa. Dia seharusnya ditemani ibunya!”
Ny Tae menantang, “Silakan. Coba saja. Kau anak pembunuh, tentu saja kau akan melakukan itu. Anak tak tahu malu!”
Kali ini ucapan Ny Tae benar-benar membuat Joon Ha marah.
Choi Jin Chul dan Shin Ae bergegas ke kantor polisi. Shin Ae meminta agar supir lebih cepat. Shin Ae heran bagaimana bisa Choi Jin Chul tak mengenali anaknya sendiri padahal mereka tinggal satu rumah.
Choi Jin Chul menyuruh sopir untuk putar balik mobil agar segera pulang. Shin Ae marah dan meminta membebaskan Joon Ha dulu. Ia tetap meminta supir agar malanjutkan perjalanan ke kantor Polisi.
Presdir Choi mengancam kalau Shin Ae masih cerewet, ia akan mematahkan leher Shin Ae.
Dong Joo menunggu giliran untuk bisa mengunjungi Joon Ha ia terlihat sangat gelisah.
Ny Tae keluar dan Dong Joo terkejut melihat ibunya ada di sana. Ny Tae tanya bagaimana dengan perusahaan kalau Dong Joo sekarang ada di kantor polisi. Dong joo balik bertanya bagaimana dengan Kakaknya.
Ny Tae heran Dong Joo masih menyebut Joon Ha dengan sebutan Kakak. “Jangan memanggil dia seperti itu. Jang Joon Ha, katanya dia akan membunuhmu!”
Dong Joo : apa?
Ny Tae : “Joon Ha telah berpihak pada Choi Jin Chul!”

Petugas polisi memberi tahu pada Dong Joo kalau Joon Ha menolak kunjungan Dong Joo, Joon Ha tak mau menerima tamu.
Ny Tae meminta mulai sekarang Dong Joo harus bisa hidup tanpa Joon Ja, “Joon Ha bilang kau tak bisa hidup tanpa dia!”
Dong Joo membenarkan apa yang dikatakan Hoon Ha, “Kak Joon Ha telah melakukan segalanya untukku!”
Ny Tae berkata apa Dong Joo pikir itu semua dilakukan Joon Ha demi Dong Joo. Dia melakukan itu untuk kepentingannya sendiri. “Mencuri hatimu dari depan tapi melecehkanmu dibelakang!”

Dong Joo meminta ibunya jangan mencoba mempengaruhinya seperti itu, jangan mengalihkan kesalahan ibu pada tidakan Joon Ha yang tulus.
Ny Tae : tulus?
Dong Joo : “Dulu ketika di Saipan. Ibu yang menyeretku ke tebing dan membuatku bisa bicara. Tapi Kakak-lah yang membuat hidupku normal. Kalau bukan karena kebaikan hatinya, dia tak akan mungkin melakukannya selama ini. Aku tak akan melupakan semua kebaikannya!” (Love Dong Joo)
Ny Tae : “Dia berniat membunuhmu. Joon Ha sama seperti Choi Jin Chul. Dia lebih menyukai uang, dia lebih berbahaya daripada Choi Jin Chul!”
Woo Ri menyusul Dong Joo ke kantor polisi. Woo Ri memanggil Dong Joo dan yang menengok tentu saja Ny Tae. Melihat ibunya menengok, Dong Joo pun ikut menengok.
Nya Tae memandang sinis Woo Ri, “Siapa anak ini? Apa dia adik perempuan Bong Ma Roo?”
Dong Joo langsung menarik Woo Ri supaya pergi dari sana. Ny Tae berteriak meminta Dong Joo berhenti. Woo Ri berhenti menahan tangan Dong Joo.
Ny Tae tanya apa hubungan Dong Joo dengan Woo Ri. Dong Joo tak menjawab ia langsung menarik Woo Ri untuk segera pergi dari sana.
Dong Joo dan Woo Ri berada di dalam mobil. Woo Ri menghela nafas, Dong Joo memperhatikannya dari kaca mobil dan bertanya langit sudah runtuh kenapa Woo Ri menarik nafas panjang.
Woo Ri ingin tahu apa yang terjadi, “Ada apa? Kakak bagaimana?”

Dong Joo berkata kalau Joon Ha menolak kunjungannya. Ia meminta untuk sementara ini tak usah membicarakan Joon Ha dulu. “Dia tak suka melihat kita berdua bersama. Rasanya seperti orang yang ditolak cintanya. Kita tinggalkan Jang joon ha, hubungan ini hanya untuk kita berdua.”
Dong Joo tersenyum dan menggenggam tangan Woo Ri.
“Ini berbahaya!” sahut Woo Ri menaruh tangan Dong Joo ke setir mobil. Dong joo cemberut dan tak menyukai kelakuan Woo Ri ini, “Aku tak akan mau bergandengan tangan denganmu lagi!” ucapnya tapi kemudian Dong Joo kembali tersenyum dan menggenggam tangan Woo Ri lagi.
Ny Tae sampai di rumahnya dan dengan tiba-tiba ia langsung mendapatkan tamparan dari Shin Ae. Ny Tae mengacuhkannya dan berjalan menuju kamar. Presdir Choi menghalangi, “Apa yang kau ingin aku lakukan?”
Nya Tae tertawa sinis. Presdir Choi membentak meminta istrinya menjawab pertanyaannya. “Apa yang harus kulakukan untukmu?” Dengan santai Ny Tae menjawab seperti biasa saja seperti yang mereka lakukan selama ini.
Presdir Choi : “Kau sudah tahu kalau Ma Roo anakku!”
Ny Tae : “Maaf. Aku ingin menjadikannya seseorang yang berbeda darimu. Tapi sepertinya tak bisa dihindari!”
Presdir Choi yang masih emosi mencengkeram baju istrinya, “Itu pasti bohong kalau Dong Joo lupa ingatan kan? Seberapa banyak yang kau tahu?”
Ny Tae berkata pada Presdir Choi kalau mereka saat ini masih suami istri. Tak bagus kalau beredar gosip suaminya adalah seorang pembunuh.
Presdir Choi geram dan mendorong istrinya hingga jatuh tersungkur, “Apa kau punya bukti? Tentu saja kau tak akan bertingkah seperti ini kalau kau tak punya bukti. Pantas saja kau bersikeras untuk mengembalikan Woo Kyung ke tangan Dong Joo!”
Ny Tae : “Kenapa? Apa kau pikir aku tak bisa? Kau terlalu meremehkan Dong Joo. Kau sudah mendapat peringatan, jangan menyentuhnya. Woo Kyung yang telah kau besarkan ini bisa diambilnya dalam sekejap!”
Presdir Choi : “Joon Ha sudah kau ambil, rencana busuk apa lagi yang kau punya? Tentu saja jangan hanya bicara. Kalau kau bisa cobalah. Tapi anak itu.... sebelumnya kau harus menerima balasan atas kejahatanmu pada Joon Ha!”
Dong Joo ke rumah Woo Ri. Terdengar oleh Woo Ri perbincangan ayahnya dengan Paman Lee, Bibi lee dan Seung Chul. Mereka membicarakan Ma Roo anak dari Choi Jin Chul. Keluarga Lee jelas sangat tak suka.
Terdengar pula ucapan Seung Chul bahwa diantara keluarga Woo Kyung, Dong Joo lah yang paling jahat, “Dia tahu tentang Ma Roo tapi dia tak memberitahukan ini pada kita!”

Woo Ri yang mendengar ini menatap khawatir Dong Joo tapi untunglah Dong Joo tak tahu apa yang didengar Woo Ri. Woo Ri mengajak Dong Joo makan di tempat lain saja, ia beralasan kalau orang-orang di rumah sedang marah karena Ma Roo.
Dong Joo berkata bahwa mungkin saja nanti ia tak akan bertemu mereka (keluarga Woo Ri) lagi, “Izinkan aku bertemu ayahmu setelah itu aku akan pergi. Kalau pun tak dapat makan darinya mendaptakan kutukan pun tak apa-apa!” Dong Joo mengatakannya sambil tersenyum.
Young Kyu menyuruh anggota keluarga Lee keluar dari kamarnya dan mereka semua melihat kedatangan Dong Joo. Young Kyu senang melihat Dong Joo datang tapi tidak dengan raut wajah Keluarga Lee.
Bibi Lee mengingatkan Young Kyu bukankah tadi Seung Chul bilang kalau yang paling jahat itu Cha Dong Joo. Dong Joo langsung mengerti dan minta maaf.
Seung Chul berkata pada Dong Joo kalau ia akan berurusan dangan Dong Joo nanti, Seung Chul mengajak Woo Ri bicara.
Paman Lee meminta Dong Joo segera pulang, “Kami akan berdosa kalau membencimu. Kalau mau minta maaf, minta maaflah dengan cara tak usah datang lagi ke sini.” Paman Lee kemudian meninggikan suaranya, “Katakan pada Ma Roo kami bisa hidup tanpa dia!”
Young Kyu kesal dan berkata kalau ia ingin terus bertemu Ma Roo.

Paman Lee menjelaskan kalau Young Kyu belum mengetahui keadaan yang sebenarnya, “Yang terjadi adalah keluarga kita menderita kelaparan tapi Cha Dong Joo dia punya banyak makanan untuk dirinya sendiri. Dia tak memberi makan selama 16 tahun. Tapi begitu ada orang mati kelaparan dia datang sambil bicara ada makanan disini. Seperti itu. kita bersyukur karena itu.”
“Tapi dia orang baik!” ucap Young Kyu.
“Tidak, aku sudah bersalah!” sahut Dong Joo penuh penyesalan, “Walaupun aku sudah tahu kalau Kakakku itu Bong Ma Roo tapi aku tak memberitahukannya. Aku minta maaf!”
“Tak bisa dimaafkan!” seru Paman Lee.
“Kami masih menyimpan dendam!” sambung Bibi Lee.

Nenek keluar dari kamar karena mendengar keributan dan meminta semuanya jangan berisik. Nenek meminta Dong Joo masuk ke kamarnya.
Seung Chul marah karena Woo Ri mengajak Dong Joo ke rumah dalam suasana seperti ini. Woo Ri meminta Seung Chul mendengarkannya, bukannya ia membela Dong Joo tapi dia juga pasti terkejut lebih dulu mendengar kalau Ma Roo itu anak Choi Jin Chul.

Seung Chul : “Sebaik itukah kau? Apa kau pikir kau itu orang baik? Bong Woo Ri, kau pasti bangga. Tapi aku sudah tak tahan lagi, mengetahui identitas Ma Roo dan berlagak seolah-olah tak tahu. Dia melecehkan kita, aku tak tahan.”

Woo Ri meminta kalau Seung Chul tak tahu apa-apa lebih baik diam saja, jangan bertingkah seperti ini. Seung Chul membentak Woo Ri karena sudah membuatnya marah dan meminta Woo Ri jangan membela Dong Joo. Seung Chul berteriak-teriak memanggil Dong Joo.
Dong Joo berada di kamar Nenek. Nenek minta Dong Joo jangan membenci Ma Roo. “Kita harus kasihan padanya dan juga tentang Shin Ae aku tak bisa bilang apa-apa!”
Dong Joo berkata kalau kedatangannya ke sini untuk minta maaf dan meminta Nenek tak perlu khawatir. “Aku tak tahu banyak tapi hubunganku dengan Kakak tak akan berubah.”

Nenek mengatakan kalau orang dewasa sudah membuat banyak kesalahan dan anak muda yang menerima akibatnya. “Diusia muda Woo Ri sudah kehilangan ibunya. Bertemu dengan ayah yang salah, kau juga kasihan. Memiliki Nenek yang miskin dan tak tahu siapa orang tuanya sampai usia 30 tahun, Ma Roo sungguh kasihan nasibnya!”
Nenek menangis sesenggukan, apa yang harus ia lakukan dalam keadaan seperti ini. Dong Joo ikut sedih melihatnya, ia berjanji akan melakukan yang lebih baik lagi.
Melihat ibunya dan Dong Joo menangis Young Kyu jadi ikut sedih. Ia meminta ibunya dan Dong Joo jangan menangis.
Seung Chul dengan kemarahannya langsung masuk ke kamar Nenek tiba-tiba dan meminta Dong Joo keluar. Dengan kasarnya Seung Chul langsung menarik Dong Joo.
Nenek dan Young Kyu mencoba menghalangi tapi Seung Chul meminta jangan dihalangi karena itu akan membuatnya tambah marah. Seung Chul menarik Dong Joo keluar.
Woo Ri akan menyusul tapi ayahnya mencegah, ia yang akan menyusul mereka berdua.
Seung Chul dan Dong Joo berada di halaman rumah. Seung Chul melinting bajunya siap berkelahi dengan Dong Joo. Ia bahkan sudah menyiapkan kepalan tangannya untuk meninju. Tapi tak jadi ia lakukan karena Dong Joo menghadapinya dengan santai.
Dong Joo : “Tak apa-apa lakukanlah! Lebih baik kau memukulku sampai aku tak bisa berdiri!”
Seung Chul : “Dasar brengsek. Hey, apa kau pikir dengan berkata seperti itu aku tak memukulmu?”
Bug... Dong Joo tiba-tiba memukul Seung Chul hingga jatuh tersungkur. Seung Chul kaget Dong Joo memukulnya tiba-tiba, ia tak siap.
“Apa sudah cukup? pukul aku!” Perintah Dong Joo.
Seung Chul makin emosi, “Kau pasti pernah belajar tinju. Akan kulakukan dengan sungguh-sungguh!”
Bug.... Seung Chul memukul Dong Joo. Young Kyu sampai di sana dan terkejut melihat Seung Chul memukul Dong Joo. Ia meminta Seung Chul jangan melakukan itu.
Seung Chul : “Dia memukulku lebih dulu jangan menghentikanku. Dia seperti orang lemah tapi sebenarnya dia itu gangster.”
Young Kyu menarik Seung Chul agar pergi menjauh.
Young Kyu khawatir dan bertanya apa Dong Joo kesakitan karena dipukul Seung Chul. Dengan perasaan yang masih sedih Dong Joo menjawab tak sakit.
Young kyu berkata kalau Seung Chul itu sebenarnya baik tapi kali ini jangan dengarkan dia. “Dia itu selalu berkelahi di sekolah, ibunya yang bilang seperti itu. Kalau bertemu Seung Chul lagi larilah jangan berkelahi!”

Dong Joo : “Aku tak mau. Mulai sekarang kalau ada yang memukulku aku juga akan memukulnya. Selama ini aku selalu menahan diri, tapi aku malah frustasi!”
Young Kyu cemas dan meminta Dong Joo jangan frustasi, juga tak boleh berkelahi. Ia bingung apa yang harus dilakukannya.
Dong Joo bertanya dengan perasaan yang sangat sedih, “Apa yang harus kulakukan? Orang yang kusukai sudah kuberi tahu agar jangan bermain dengan orang jahat tapi dia tak mau mendengarkan. Apa yang harus kulakukan?”

Young kyu langsung mengerti maksud Dong Joo dan ingin tahu apa Ma Roo tengah bermain dengan orang jahat. “Dong Joo, Ma Roo itu anak yang baik. Dia mungkin tak mau mendengarkan. Itulah kenapa supaya Ma Roo tak bermain dengan orang jahat. Usirlah mereka pergi!”
Di luar kantor polisi Joon Ha berjalan melenggang keluar, ia menatap sekeliling. Segerombolan orang–orang datang dan memberi hormat padanya (anak buahnya Choi Jin Chul nih)

Pimpinan polisi berkata walaupun Joon Ha sudah bebas tapi Joon Ha harus tetap menunggu keputusan sidang, “Karena kau aku berada dalam posisi yang canggung. Karena menurut Presdir Choi kau adalah penerus Woo Kyung dan kau sedang menjalankan training!” Ia tak mengerti dengan pikiran Presdir Choi.
Joon Ha : “Tak perlu mencoba memahami dia, jalan hidupmu berbeda dengannya.”

Joon Ha menatap langit dan berkata kalau ia masih pusing melihat matahari apa ia sudah boleh pergi. Joon Ha langsung masuk mobil.
Dong Joo dan Woo Ri ke kantor Energy Cell. Min Soo terkejut dengan kedatangan Dong Joo dan bertanya bagaimana Joon Ha. Dong Joo tak menjawab ia malah bertanya apa sudah ada respon atas proposal untuk membuka toko di Duty Free Shops. Min Soo menjawab kalau ia sudah menghubunginya dan kembali bertanya bagaimana dengan Joon Ha. Dong Joo tak menjawab lagi dan meminta Min Soo menghubungi mereka untuk rapat besok. Dong Joo meminta Woo Ri masuk ke ruangannya.

Min Soo manarik Woo Ri dan bertanya tentang Joon Ha. Belum sempat Woo Ri menjawab, Dong Joo menyuruh Woo Ri masuk ke ruangannya.
Min Soo menatap curiga, “Tidak. Pasti bukan dia si piano-ist itu!” (emang dia hahaha)
Dong Joo membaca berkas sambil memainkan kantong kacangnya. Ia juga melihat tingkah Woo Ri yang mengelap meja kaca dengan lengan baju, Dong Joo tersenyum.
Pluk.. Dong Joo melempar kantong kacangnya dan tepat mengenai sasaran, “Bong Woo Ri kalau kau bosan kenapa kau tak menyanyi saja? Kau kan pandai menyanyi!”
Woo Ri berkata kalau ia sangat bosan di sini.
Dong Joo bertanya apa Woo Ri pikir ia mengajak Woo Ri ke sini agar bisa bersama. Dong Joo mengatakan kalau woo Ri sekarang adalah sandera. Ia menahan Woo Ri disini agar ia tahu kalau-kalau Joon Ha akan menelepon Woo Ri. Dong Joo meminta Woo Ri jangan melihatnya dan perhatikan saja telepon Woo Ri.
Woo Ri mendesah, bagaimana bisa dia menelponku dari penjara.
Dong Joo mendapat telepon ia merasa sulit harus bagaimana menerima telepon di depan Woo Ri. Ia menjawab telepon dengan meletakan di telinganya, “Ya pengacara Park!”
Woo Ri melihatnya tapi kemudian ia sadar sudah membuat Dong Joo tak tahu harus berbuat apa. Woo Ri mengalihkan diri dengan membersihkan kaca meja.
Dong Joo berkata pada Pengacara Park kalau ia tengah mengerjakan sesuatu dan meminta Pengacara Park untuk mengirim sms saja.
‘Joon Ha telah dibebaskan’ itulah bunyi sms-nya. Dong Joo memandang Woo Ri dan keduanya bertatapan. Woo Ri ingin tahu itu berita bagus atau buruk.
Dong Joo : “Kupikir kita harus menemui Jang Joon Ha.”
Joon Ha dibawa ke sebuah dermaga dan tentu saja di ujung dermaga Presdir Choi Jin Chul sudah menunggu kedatangannya.
Joon Ha berdiri dihadapan ayah kandungnya. Kemudian Presdir memandang lautan (ga tahu lautan ga tahu danau yang pasti air dah tuh banyak burung berterbangan) dan Joon Ha berdiri di samping Presdir Choi.
Presdir Choi tanya apa yang harus ia lakukan agar bisa merubah penderitaan Joon Ha selama 16 tahun bukan sebagai anaknya.
Joon Ha : “Berikan padaku bendamu yang paling penting. Dengan cara itu baru aku percaya bahwa kau memang menganggapku sebagai anakmu!”

Presdir tertawa dan mengatakan kalau ia sendiri tak tahu anaknya lahir dan tiba-tiba saja sudah berusia 30 tahun. “Perusahaan yang kubangun dengan darah dan keringatku, apa harus kuberikan padamu hanya karena kau anakku?”
Joon Ha : “Aku anak Presdir Choi Jin Chul, aku pantas mendapatkan yang sebanding dengan itu!”
Presdir Choi : “Kalau kau serakus itu seharusnya kau meminta padaku sejak dulu. Kemarin kau meletakan pisau ke leher ayahmu. Apa alasanmu berubah sekarang?”
Joon Ha berkata ia mungkin membenci menjadi anak Choi Jin Chul tapi tak bisa dirubah lagi ia memang putra Choi Jin Chul. Apapun yang ia lakukan ia tetap darah daging Choi Jin Chul. “Dan orang-orang yang memanfaatkanku karena hubungan darah itu akan kupotong tangannya. Kau akan membantuku kan? Ayah?”

Joon Ha memanggil Choi Jin Chul dengan sebutan ayah... (sakit hati saya..... huhu) Presdir Choi tersenyum.
Presdir Choi : “Kita harus meningggalkan dendam disini lalu kita pergi, aku bahkan tak tahu kau pernah lahir. Begitu aku tahu kau telah menghilang. Bong Ma Roo, kau bukan anakku. Aku tak pernah mengakuimu!”
Joon Ha : “Itu bukan salahmu. Itu kekeliruan. Sudah tahu tapi tak mengakui. Tak bisa dimaafkan. Tak akan pernah.”
Presdir Choi menepuk bahu Joon Ha, “Benar. Apapun yang akan kau lakukan, aku akan menolongmu!”
Joon Ha : “Ya Ayah. Aku akan mempercayaimu!”
Di rumah Presdir Choi, Shin Ae memasak ia menyiapkan makanan untuk Presdir dan Joon Ha.
Joon Ha datang dan melihat Shin Ae menyiapkan makanan. Shin Ae tersenyum menatap putranya, “Ma Roo!” Joon Ha mengacuhkannya.
“Aku ibumu!” seru Shin Ae tapi Joon Ha terus berjalan melewatinya dan mengambil air.
Shin Ae berusaha sebaik mungkin di depan putranya, ia menawarkan menuangkan air minum untuk Joon Ha.
“Bisa kau lepaskan tanganmu!” ucap Joon Ha ketus.
Shin Ae merasa Joon Ha masih canggung dengannya. Ia berkata kalau mulai sekarang ia akan melakukan segalanya untuk Joon Ha, “Yang tadinya tak bisa kuberikan padamu akan kuberikan!”

Joon Ha berkata diusianya yang sekarang ini ia bukanlah anak yang tergantung pada Ibunya, “Apa yang akan kau lakukan untukku, Kim Shin Ae?” (Joon Ha belum menyebut Ibu ke Shin Ae)
Shin Ae : “Akan kulakukan apa yang hatiku ingin lakukan.”
Joon Ha : “Aku tak bisa menerimanya.”
Presdir Choi datang dan bertanya sedang apa mereka berdua lakukan.
“Ayah!” panggil Joon Ha.
“Ya!” Presdir menyahut.
Joon Ha melirik ke arah Shin Ae, “Kita tak membutuhkannya!”
Shin Ae terkejut dengan apa yang dikatakan Joon Ha, “Ma Roo. Aku Ibumu!”
Shin Ae diseret keluar oleh penjaga. Ia meronta melepaskan diri, Shin Ae berteriak memanggil nama Ma Roo, “Ketika dia menyuruhku aborsi aku tetap mempertahankanmu. Kalau bukan karena aku, kau tak akan ada di dunia ini. Ma Roo, Bong Ma Roo jangan seperti ini. Aku bukan orang lain. Kau anakku, aku yang melahirkanmu!”
Joon Ha hanya menatapnya dingin.
Shin Ae : “Choi Jin Chul apa kau sudah lupa? Apa kau pikir aku akan diam saja? Kau sudah berbuat kesalahan!”
Shin Ae dimasukkan ke dalam mobil.
Joon Ha bertanya apa Ayahnya lapar. Presdir menjawab karena sudah terlanjur disiapkan ia mengajak Joon Ha makan bersama.

Ny Tae berada di ruangan Presdir menerima laporan dari Sekertaris Kim. Sek Kim memberitahukan kalau Presdir Choi sudah membatalkan semua janji-janjinya dan menghabiskan waktu bersama Jang Joon Ha. Ny Tae mengerti anak yang hilang selama 30 tahun mereka perlu mengenal agar lebih dekat.
Sek Kim bertanya real estate yang diberikan kepada Jang Joon Ha apa keadaannya tetap seperti itu. Ny Tae menjawab walaupun dengan sedikit penyesalan tapi ia akan menunggu sampai Dong Joo marah. Ketika saat itu tiba maka permainan Dong Joo akan berakhir. Ketika hubungan Joon Ha dan Dong Joo berantakan permainan akan berakhir lebih cepat.
Woo Ri membawa banyak makanan dalam plastik, ponselnya berdering, Joon Ha meneleponnya.
“Apa kau mendengar suaraku?” tanya Joon Ha.
Woo Ri tak mendengar jelas, “Halo?”

Joon Ha menjauhkan ponselnya. Kemudian ia tersenyum dan kembali mendekatkan ponsel ke telinganya.
Woo Ri : Kakak?
Joon Ha : “Bukankah merdu? Itu suara laut.”
Woo Ri : “Kak Ma Roo?”
Joon Ha : “Siapa Ma Roo yang kau sebut itu. Aku Jang Joon Ha.”
Woo Ri meminta Joon Ha jangan bercanda. Joon Ha tanya dimana Woo Ri. Woo Ri menjawab kalau sekarang ia berada di kantor. Joon Ha langsung memasang wajah tak suka mendengar Woo Ri ada di kantor, “Apa kau bersama Dong Joo?”
Woo Ri mengira Joon Ha ingin bicara dengan Dong Joo. Tapi Joon Ha meminta Woo Ri jangan memberikan teleponnya pada Dong Joo, “Aku hanya ingin mendengar suaramu.”

Woo Ri berdiri di luar pintu ruangan Dong Joo menatap Dong Joo yang masih sibuk dengan laptop-nya. Woo Ri berkata kalau Dong Joo sangat mengkhawatirkan Joon Ha, “Dia tak mengizinkanku pulang hanya karena menunggumu meneleponku.”

Joon Ha bertanya apa Woo Ri mau ke tempatnya. Woo Ri menjawab ia tak bisa pergi sendiri. Ia akan datang bersama Dong Joo. Joon Ha menegaskan kalau ia hanya ingin menemui Woo Ri.
Woo Ri heran kenapa Joon Ha jadi seperti ini. Ia mengajak bertemu dan berbaikan dengan Dong Joo. Ia tak peduli siapa anak siapa. “Ayolah kita bertemu bertiga!”
“Bong Woo Ri aku hanya ingin bertemu denganmu!” ucap Joon Ha mulai kesal dan membanting ponselnya.
Woo Ri berusaha menghubungi Joon Ha. Dong Joo melihatnya dan langsung keluar. Woo Ri panik dan langsung memutus teleponnya.

Woo Ri memperlihatkan barang bawaannya. Melihat itu Dong Joo tersenyum dan meminta Woo Ri menjadi sekertarisnya mulai dari sekarang. Woo Ri kaget dengan permintaan Dong Joo. Dong Joo mengatakan kalau ia menyukai kebersamaannya dengan Woo ri.
Dong Joo membuka bungkusan makanan yang dibawa Woo Ri.
Woo Ri yang masih kesal karena Joon Ha memutus telepon sembarangan ia pun berkata, “Si bodoh Jang Joon Ha. Kedua orang yang disukainya ada di sini. Kuharap dia juga kelaparan.”
Dong Joo tak memperhatikan apa yang dikatakan Woo Ri. Woo Ri langsung terdiam menatap Dong Joo. Dong Joo melihat Woo Ri yang terus menatapnya, “Kau lihat apa?”
“Apa aku tak boleh melihatmu?” ucap Woo Ri judes.
Dong Joo heran dengan bahasa informal Woo Ri dan bertanya berapa usia Woo Ri.
Woo Ri : “Aku 25 tahun. Kenapa?”
Dong Joo : “Aku 29 tahun!”
Woo Ri tertawa meminta Dong Joo jangan sok tua dengan membicarakan usia.
Dong Joo memperhatikan pakaian yang dikenakan Woo Ri, “Kenapa seleramu seperti itu?”
Pluk... Woo Ri langsung menyumpal mulut Dong Joo dengan makanaan, “Maafkan aku untuk orang yang lebih tua 4 tahun dari Bong Woo Ri.”
Dong Joo tertawa dan bertanya Joon Ha tak keluyuran kemana-mana kan. Woo Ri langsung cemberut, “Kau ini kenapa menanyakan pertanyaan bodoh. Kau terikat dengannya kan?”
Dong Joo kembali heran kenapa Woo Ri bicara menggunakan bahasa informal dengannya. Dong Joo langung menyumpal mulut Woo Ri dengan makanan sama seperti yang dilakukan Woo Ri ke Dong Joo tadi. Woo Ri kesal.
Dong Joo : “Mulut itu hanya untuk memainkan pianika dan makan!”
Woo Ri teringat sesuatu, ia langsung bergerak maju ke arah Dong Joo memonyongkan mulutnya. Dong Joo sontak mundur sampai terpojok ke dinding.
Dan cup.... Woo Ri mencium Dong Joo dengan cepat, “Memangnya aku tak boleh bicara informal.” Dong Joo tersenyum dan mengelus rambut Woo Ri.
Keesokan harinya, Dong Joo bertanya ke Min Soo apa sudah di cek persediaan di pabrik Pocheon. Min Soo menjawab kalau ia berencana akan mengeceknya sendiri ke sana. Dong Joo mengajak pergi bersama karena ia juga akan mengambil anggaran peralatannya.

Dong Joo melihat Woo Ri yang sangat sibuk, kedua berpandangan dan saling melempar senyum. Sadar kalau ia diperhatikan Min Soo, Woo Ri langsung bersikap biasa-biasa saja. Dong Joo melirik ke Min Soo dan ia pun bersikap sewajarnya. Ia berjalan mendekat ke arah Woo Ri.
“Apa kau tak melihat sms ku?” tanya Dong Joo. Woo Ri berkata kalau ia sibuk dan belum sempat melihatnya.
Dong Joo : “Kakak tak menghubungi, apa kau juga akan seperti itu?” (semalem Joon Ha menelepon kok)
Woo Ri memiliki keakinan kalau Kakaknya itu mungkin akan segera menelepon.
Dong Joo : “Wow tegas sekali.”
Woo Ri : “Aku sudah menunggu selama 16 tahun, tak ada yang lebih penting. Aku tak khawatir dia akan datang atau tidak, jadi kerja keraslah.”
Woo Ri akan pergi tapi Dong Joo menahannya dan berkata kalau ia akan mengajak Woo Ri makan di luar.

“Bos...” panggil salah satu pegawai. Woo Ri mendengar pegawai itu memanggil Dong Joo, “Kau orang terkenal. ke sanalah!”
Dong Joo menengok ke arah yang Woo Ri tunjukan, pegawai itu memberi hormat. Dong Joo mengingatkan kalau ia akan ke pabrik dan hari ini Woo Ri tak boleh bekerja sendiri. Dong Joo segera menghampiri pegawai itu.
Min Soo menatap heran ke dua orang ini. Ia pun memberanikan diri bertanya pada Woo Ri, “Adik. Jadi dia bukan Jang Joon Ha?”
Woo Ri tak menjawab dan beruntung Na Mi Sook hadir diantara keduanya. Woo Ri tanya ke Mi Sook apa pijatnya sudah selesai karena mereka masih memiliki banyak waktu. Mi Sook menjawab ternyata selesainya lebih cepat, “Aku bisa pulang bersamamu dan memberimu instruksi secara 4 mata.”

Woo Ri menolak ia ingin belajarnya di kantor saja karena di rumah sedang ada banyak masalah.
Mi Sook kesal mendengarnya, “Lupakan saja!” bentak Mi Sook. “Kau tak memenuhi syarat sebagai agen kecantikan. Kau kurang punya visi (pandangan kedepan) awas kau!” bentak Mi Sook lagi.

Woo Ri heran dengan sikap Mi Sook yang tiba-tiba marah padanya. Ia akan menyusul Mi Sook tapi Min Soo menahannya, “Adik aku ingin bicara denganmu!”
Tepat saat itu ponsel Woo Ri berdering. Min Soo penasaran siapa yang menelepon dan ia pun ikut melirik. Jang Joon Ha yang menelepon. Min Soo segera menjauh sambil tersenyum ia menghampiri Dong Joo yang tengah berbincang dengan pegawai.
“Sekarang kau baru menjawab teleponku!” ucap Joon Ha. Woo Ri beralasan kalau ia sangat sibuk dan bertanya dimana Joon Ha.
Joon Ha ingin bertemu Woo Ri tapi ia berpesan Woo Ri tak boleh mengatakannya pada Dong Joo.
Woo Ri melihat Dong Joo yang tengah berdiskusi dengan pegawai, “Kakak kau dimana?” Woo Ri berbicara menjauh dari sana.
Min Soo menepuk Dong Joo, “Bos. Joon Ha pasti sangat menyukai Woo Ri. Dia tak menelepon kita tapi malah menelepon Woo Ri!” Min Soo berkata kalau Woo Ri tengah menerima telepon dari Joon Ha.

Joon Ha berada di halaman rumah menyiapkan makanan untuk makan malamnya dengan Woo Ri. Daging panggang.
Woo Ri sampai di sana, Joon Ha tersenyum menyambut kedatangan Woo Ri dan mengatakan kalau ia sudah mengirim orang di halte bus, apa Woo Ri tak melihat orang itu.
Woo Ri melihat sekeliling dan bertanya apa yang dilakukan Joon Ha disini. Joon Ha tersenyum, “Pesta!” jawabnya.
Joon Ha menuangkan minuman untuk Woo Ri dan berkata kalau minuman ini (sampagne) enak diminum ketika dingin.
Woo Ri tak menyentuh minuman itu dan bertanya apa Joon Ha punya soju karena menurutnya minum soju lebih enak. Joon Ha mengerti ia minta pada anak buahnya untuk membawakan soju. Joon Ha ingin tahu apa lagi yang diinginkan Woo Ri.
Woo Ri menatap tajam, “Apa ini alasanmu memanggilku?”
Joon Ha : “Ya. Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan ini. Sekarang aku bukan kakakmu Bong Ma Roo. Juga bukan kakak Cha Dong Joo, Jang Joon Ha. Ini hal terbaru bagiku. Aku menjalani hidupku yang ketiga diusia 30 tahun.”
Woo Ri : “Apa tak ada lagi yang ingin Kakak katakan?”
Joon Ha : “Kenapa? Ini sikapku dari awal!”
Woo Ri mendesah, “Kalau tahu kau akan begini aku tadi tak akan ke sini.”

Woo Ri berdiri berniat pergi tapi Joon Ha menyuruhnya untuk duduk kembali. Woo Ri merasa bersyukur karena Joon Ha masih beruntung dan baik-baik saja.
Woo Ri berjalan pergi tapi Joon Ha menahannya, “Apakah aku mengambil posisi orang lain? Dia mungkin musuh besarmu, tapi Choi Jin Chul adalah Ayahku. Setelah 16 tahun aku bertemu Ayahku. Aku ingin melihat semua yang sebelumnya tak pernah kulihat. Aku ingin hidup seperti seharusnya aku hidup. Apa aku salah?”

Woo Ri menggeleng, “Hiduplah seperti yang Kakak mau. Selama Kakak senang lakukanlah. Tapi posisimu membuatku tak nyaman. Orang yang mengkhawatirkan kakak lebih dari pekerjaannya mungkin juga akan terluka. Aku harus kembali pada Cha Dong Joo. Aku akan mengatakan padanya bahwa Kakakku sudah hidup nyaman dan dia seharusnya tak perlu khawatir. Hiduplah dengan baik!”
Woo Ri kembali berjalan pergi dari sana. Joon Ha meminta Woo Ri berhenti dan menahan Woo Ri, “Apa hanya ada Cha Dong Joo? Hanya Cha Dong Joo kah yang kau pikirkan ketika kau sedang sulit?”

Woo Ri : “Benar. Karena aku polos dan tak begitu pintar. Aku tak suka orang yang rumit seperti dirimu. Ketika dia kesulitan dia menghadapinya. Ketika dia sedih dia menangis. ‘Kakak, kakak, kak Joon Ha’ (ucapan kekhawatiran Dong Joo) Aku lebih nyaman bersama Cha Dong Joo yang mengkhawatirkan Kakaknya. Seperti Ayah dan Cha Dong Joo. Aku lebih suka dengan si bodoh yang tak Kakak sukai. Kakakku, aku melihatnya sebagai orang yang jahat. Bukan karena aku tak menyukainya. Tapi karena dia pengecut yang suka melarikan diri!”

Woo Ri meminta Joon Ha jangan mengejarnya lagi. Ia langsung pergi dari sana, Joon Ha menatap kepergian Woo Ri dengan kesedihan sekaligus kekesalan. Dari jauh Dong Joo memperhatikannya.
Joon Ha masuk ke rumah dan terkejut melihat Dong Joo sudah ada di dalam rumah sambil memainkan bola base ball. Dong Joo melempar sarung tangan base ball ke arah Joon Ha dan mengajaknya bermain.

Joon Ha ingin tahu apa Dong Joo datang bersama Woo Ri. Dong Joo menjawab tidak, ia mengikuti Woo Ri. Dong Joo mengajak Joon Ha keluar untuk bermain kemudian bicara setelah Kakaknya lelah.
Joon Ha : “Apa kau mau aku berkata jujur? Apa hebatnya kau, Cha Dong Joo? Berlagak lurus dan jujur. Kau pasti suka membodohi orang banyak. Karena kau berlaku seperti itu, tidak berarti kau hidup seperti itu. Kenapa hanya aku yang menjadi orang jahat?”
Joon Ha mengeraskan suaranya, “Kenapa kau jadi orang baik padahal kau lebih banyak berbohong?”

Dong Joo sadar Joon ha sekarang marah padanya, “Meninggalkan ibu. Aku ingin mendengar darimu, katakan dengan benar. Apa kau tahu? Karena kau sudah mengajarkanku. Aku tak bisa mengetahui segalanya hanya sekedar membaca gerakan bibir, lihat matanya. Aku bisa mengerti ekspresimu tapi aku tak melihat apa yang akan kau katakan sebenarnya. Aku tak tahu bagaimana di depan orang-orang tapi aku tak pernah berpura-pura padamu. Meninggalkan ibu, aku bertanya padamu. Apa salahku padamu?”
Joon Ha meminta Dong Joo memperhatikan baik-baik ucapannya, “Kesalahanmu padaku adalah kau menjadi anak Tae Yeon Suk. Aku hidup seperti ini selama 16 tahun karena aku anak Choi Jin Chul. Kau juga menyukaiku. Belajar hidup dengan membenci tanpa alasan.”

Dong Joo : “Kenapa kau harus seperti itu? Kakak, tidakkah ini tak adil? Mulai sekarang kau akan membenciku karena aku anak Tae Yeon Suk dan apa aku juga harus membenci anak Choi Jin Chul?”
Dong Joo mengatakan seharusnya mereka tak melakukan itu, ia akan maju menyentuh Joon Ha tapi Joon Ha langsung mundur menghindar.

Joon Ha : “Tak perlu kita lakukan? kenapa tak boleh? Apa kau akan mengatakan yang sama kalau kuambil segalanya darimu?”
Dong Joo : Kakak?
Joon Ha : “Aku membencimu. Tidak. Itu tidak akan terjadi. Aku.... karena aku akan mengambil semua milikmu!”
Woo Ri duduk di kamarnya memandang ponsel, ia ragu apakah ia harus menghubungi Dong Joo.
Nenek masuk ke kamar Woo Ri dan heran kapan Woo Ri sampai di rumah. Ia bertanya apa Woo Ri sudah makan. Woo Ri menjawab tentu saja, apa Nenek tak mencium aroma daging di bajunya. Karena ia tadi makan daging. (Lha kan ga jadi makan dagingnya)
Woo Ri makan dengan lahapnya, Nenek menemani Woo Ri makan dan mengingatkan kalau Woo Ri makan seperti itu nanti sakit perut. Woo Ri berkata kalau ia lebih suka makan masakan buatan Nenek dari pada makan daging.
Nenek berpesan Woo Ri jangan terlalu bernafsu mencari uang karena itu akan membuat Woo Ri akan cepat tua. Woo Ri berjanji setelah ia gajian, ia akan mengajak Nenek ke salon.

“Ibumu paling bagus kalau kerja di salon!” sahut Nenek. “Kau bekerja di kantor dan wajahmu jadi penuh warna.”
Woo Ri : “Benar. Kenapa aku tak mengikuti jejaknya dan bekarja dengan tanganku.”
Woo Ri tanya apa Neneknya menyimpan alkohol. Bisakah kita minum segelas saja (Wah ini anak malah ngajak Nenek minum)
Nenek : “Gadis gila. Apa bagusnya itu? jangan minum alkohol?”
Woo Ri tanya kenapa. Ia kemudian membuka lemari dapur untuk mencari minuman yang disembunyikan Nenek tapi Woo Ri tak menemukannya.
Nenek langsung mengambil minuman simpanannya di bawah lemari dapur. Woo Ri heran dan bertanya apa secara sembunyi-sembunyi Nenek masih minum alkohol.

Nenek meminta Woo Ri jangan berisik nanti Young Kyu bangun, “Supaya mengantuk aku harus minum satu atau dua gelas. Yang terakhir aku takut, aku takut katika aku terbangun lalu tak mengingat siapapun. Aku selalu takut kalau tak bisa tidur. Satu teguk akan membuatmu tidur nyenyak!” Nenek memberikannya pada Woo Ri sambil tersenyum.

Woo Ri mengatakan kalau Nenek itu sebenarnya pintar, “Aku melihat Bibi Shin Ae. Aku tahu dia tak sepintar kau. Itulah sebabnya kau membesarkanku dan Ayah. Mencari uang di pasar, menyekolahkanku, memberiku makan dan pakaian. Karena jasa-jasamu, kapan aku bisa mengembalikannya? Nenek kau harus hidup lebih lama sampai semua jasa-jasamu bisa kukembalikan.”
Nenek : “Benar, kembalikan semuanya. Tapi itulah sebabnya aku kehilangan semuanya!”
Woo Ri menggoda Nenek, “Benarkah seperti itu. Kalau begitu ayo kita minum.”
Nenek : “Gadis gila. Kalau sampai aku kehilangan ingatanku kau yang bertanggung jawab!”
Woo Ri : “Benar. Benar. Benar. Ini semua tanggung jawabku. Makanya minumlah dan lupakan semuanya.”
Keduanya tertawa bersama.
Dong Joo ke rumah Woo Ri. Ia berdiri di depan dan menatap lantai 2 yang lampunya masih menyala. Ia mengambil ponsel berniat menelepon Woo Ri, tapi niat itu ia urungkan setelah ia melihat lampu rumah Woo Ri dimatikan.
Joon Ha minum sendirian di rumahnya. Ia terkejut mendengar seseorang membuka pintu. Shin Ae datang. Shin Ae minta Joon Ha menuangkan minuman untuknya juga.

Joon Ha marah pada penjaga apa tak ada orang. Shin Ae berkata Joon Ha tak perlu menyeretnya keluar karena ia pasti akan datang lagi. “Kau hidup seperti ini karena aku. Bukankah tak adil jika kau mengusirku?”
Penjaga datang, Shin Ae menyuruh mereka untuk keluar karena ia ibunya.

Joon Ha tertawa dan menyuruh penjaga menyeret Shin Ae keluar, “Kau tahu kalau dunia ini tak adil? Ada yang lahir dengan kasih sayang kedua orang tuanya. Ada yang lahir karena kesalahan dan dibuang oleh orang tuanya. Seperti inilah kita hidup, karena itu jangan berpikir ini tak adil.”
Shin Ae : “Tidak Ma Roo. Pikiranmu salah. Aku tak menelantarkanmu. Kalau aku menelantarkanmu aku akan mengirimu ke rumah yatim piatu. Bukankah kau kukirimkan ke ibuku? Aku berniat kembali kalau sudah punya uang. Aku hanya meninggalkanmu sebentar. Kau tahu kan? Aku pernah datang menjemputmu. Waktu itu usiamu sekitar 14 tahun. Tapi perempuan jahat itu Tae Yeon Suk.....”

“Ah aku ingat!” sahut Joon Ha. “Waktu itu juga kau menolakku!”
Shin Ae : “Kapan? bukankah kau yang meninggalkan rumah?”
Joon Ha menatap tajam Shin Ae, “Kim Shin Ae-ssi kenapa kau seperti ini? Aku mencarimu kemana-mana. Apa kau kenal aku? Pernahkah kau bertemu denganku? Aku tinggal di Amerika, bagaimana aku bisa mengenalmu? Betapa frustasinya.”

Joon Ha mengulang semua yang dikatakan Shin Ae dulu sewaktu ia mengambil berkas beasisiwa dan bertemu Shin Ae untuk pertama kalinya (Episode 2)
Joon Ha : “Itu kata-katamu pertama kali kau bertemu denganku di rumah Choi Jin Chul.”
Shin Ae terkejut mendengarnya. Joon Ha memberi kode pada penjaga untuk membawa Shin Ae keluar.
Penjaga mengerti tapi Shin Ae langsung berlutut memohon pada Joon Ha, “Tidak Ma Roo aku tak bermaksud seperti itu. Percayalah padaku. Di dunia ini mana ada seorang ibu yang menelantarkan anaknya. Aku juga hidup, tapi seakan-akan aku sudah mati!”
“Kalau begitu matilah!” sahut Joon Ha dingin sambil meminum minumannya.
Shin Ae tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Joon Ha. Ia sudah hampir menangis, “Anak durhaka. Beraninya kau bicara seperti itu pada Ibu kandungmu. Kau itu manusia atau bukan?”
Joon Ha : “Yang melahirkanku saja bukan manusia, bagaimana aku bisa menjadi manusia?”

Shin Ae berdiri menatap marah, “Baiklah. Kau seperti ini karena Choi Jin Chul. Kalau aku membuka mulutku kalian berdua akan sengsara. Kau dan ayahmu, Cha Dong Joo akan mengambil semua milikmu!”
Joon Ha tak tahan mendengar ocehan Shin Ae. Ia mulai membentak dan mengancam awas saja kalau Shin Ae menghalangi jalannya.
Dong Joo datang ke pabrik Energy Cell tapi suasana pabrik sepi tak ada aktifitas pekerjaan. Dong Joo menemui pegawai yang datang dan bertanya dimana pegawai yang lain. Pegawai itu menjawab kalau ia tidak tahu karena ketika ia datang para pegawai sudah tak ada.

Min Soo berkata kalau mereka semua mematikan mesin dan bukankah Ny Tae pemilik pabrik ini. Dong Joo meminta pegawai itu menghubungi semua pegawai pabrik yang lain untuk kembali bekerja. Kim Bi jadi khawatir bagaimana kalau nanti timbul masalah. Dong Joo meyakinkan kalau ia yang akan bertanggung jawab.
Joon Ha tiba di kantor Woo Kyung dengan sikap dinginnya, ia berpapasan dengan Woo Ri. Joon Ha tak memandangnya, ia berjalan berlalu begitu saja.
Mi Sook melihat kecemasan Woo Ri dan meminta Woo Ri menutup mata saja, “Orang itu tak ada hubungannya denganmu.”
Joon Ha sampai di kantor Energy Cell. Semua staf Energy Cell sibuk.
Park Dae Ri mengatakan pada rekannya kalau pabrik di Pucheon masih bekerja dan ketika ia berbalik badan ia terkejut melihat Joon Ha ada di sana. “Dokter Jang aku mengkhawatirkanmu apa kau baik-baik saja?”

Joon Ha meminta anak buahnya membawa dokumen-dokumen ke ruangannya (what ruangannya?) Joon Ha langsung masuk ke ruangan. Park Dae Ri menyahut kalau Bos-nya tak datang.
Anak buah Joon Ha meminta laporan anggaran selam 6 bulan ini. Park Dae Ri terkejut dengan permintaan itu ia langsung menghubungi Dong Joo.
Dong Joo menerima telepon dan mengatakan kalau itu informasi rahasia dan tak boleh dibaca Joon Ha.
Park Dae Ri : “Dokter Jang Joon Ha bilang dia bertanggung jawab. Bagaimana aku bisa menolak perintahnya?”
Joon Ha sudah berada di dalam ruangan pimpinan (ruangan Dong Joo)

“Katakan saja kalau kau tak berwenanag mengeluarkan laporan!” sahut Dong Joo kesal. Min Soo memperhatikan Dong Joo yang berbicara menatap ponsel.
Dong Joo kembali berkata, “katakan padanya tanpa izin dari Cha Dong Joo kau tak bisa memberikannya!” Dong Joo menutup teleponnya.
Min Soo menghampiri Dong Joo dan berkata kalau Manajer Pabriknya ada. Apa Dong Joo mau bertemu dengannya. Dong Joo menjawab sudah tak perlu lagi, “Yakinkan saja agar dia tak lagi mengganggu jalannya kegiatan pabrik karena aku tak tahu apa yang akan dia lakukan.”
Dong Joo segera berlalu. Min Soo berteriak, “Untuk promosi tahap kedua berapa banyak yang akan kita keluarkan?” Min Soo kesal seharusnya sebelum Dong Joo pergi paling tidak Dong Joo membuat keputusan dulu.
Na Mi Sook melatih anak buahnya mengoleskan lotion dan memijat tangan, “Sebelum latihan facial kau harus berlatih merasakan dengan tanganmu. Fokus pada rasa yang kau rasakan dengan sentuhanmu. Lakukan dengan lembut. Dengan ibu jari kuat dan lemah.”
Woo Ri tak konsentrasi tangan kawannya yang tengah ia pijat terlepas dari pegangan tangannya. Ia langsung berdiri dan berkata kalau ia tak bisa melakukan ini. Mi Sook meminta Woo Ri untuk duduk kembali.
Woo Ri : Manajer?
Mi Sook : “Ini hal yang perlu kau lakukan. Kuberi kau peringatan sebagai seseorang yang mirip ibumu. Duduk!”
Woo Ri minta maaf dan langsung keluar dari ruangan.
Woo Ri menuju ke kantor Energy Cell. Ia terkejut melihat Joon Ha duduk santai di kursi Dong Joo sambil memeriksa berkas. Woo Ri langsung masuk ke ruangan.
Woo Ri : Ada apa ini?
Joon Ha berkata kalau ia mengambil alih posisi Dong Joo, ia juga mengajak Woo Ri makan malam bersama karena ia ingin diberi selamat oleh Woo Ri.
“Apa Cha Dong Joo tahu?” Woo Ri mengajak Joon Ha bicara di luar, “Jangan seperti ini kalau pemiliknya tak di sini.”
Joon Ha : “Kenapa ruangan ini tak ada pemiliknya? Sekarang aku pemiliknya.”
Woo Ri tampak marah, “Kak Ma Roo?
Joon Ha mengingatkan bukankah mereka sudah sepakat kalau Ma Roo sudah tak ada lagi.
Dong Joo tiba-tiba masuk ke ruangan, ia meminta Woo Ri menunggu di luar karena ada yang ingin ia katakan pada Joon Ha. Tapi Joon Ha meminta Woo Ri jangan keluar, “Aku tak tahu tapi Woo Ri butuh seorang Kakak.”
Woo Ri dan Dong Joo terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan Joon Ha.
Joon Ha menatap Woo Ri, “Kalau begitu aku akan bicara sebagai seorang Kakak.” Joon Ha menyentuh bahu Woo Ri, “Jangan menemui Cha Dong Joo lagi. kenapa jangan dia? nanti kau juga akan tahu.”

Woo Ri menyingkirkan tangan Joon Ha dari bahunya, “Kau tak perlu berlagak sebagai Kakakku. Kalau kau tak mau menjadi Bong Ma Roo atau Jang Joon Ha, kau juga bukan apa-apa bagiku dan jangan lagi memberiku perintah!”
Joon Ha terkejut mendengarnya, kemudian ia menerima telepon dan berkata kalau ia akan keluar sekarang.

Sebelum keluar Joon Ha mengingatkan Dong Joo kalau ia akan mulai bekerja besok menggantikan posisi Dong Joo. Ia meminta supaya Dong Joo mengemasi barang-barang Dong Joo yang masih ada di ruangan. Joon Ha langsung keluar ruangan.
Woo Ri mencemaskan Dong Joo. Dong Joo langsung bergegas keluar menyusul Joon Ha.

Joon Ha dan Presdir Choi berjalan bersama, Dong Joo mengejarnya. “Kakak!” panggil Dong Joo. Semuanya menengok kecuali Joon Ha.
Dong Joo : “Aku tak mau bertengkar denganmu. Janganlah berbuat sesuatu yang akan kita sesali kemudian hari. Aku juga menahan diri untuk melakukan sesuatu!”
Joon Ha berkata tapi tak menatap Dong Joo, “Kau menahannya? Bukankah itu artinya kau takut kalah denganku?”
Dong Joo diam ia tak mengetahui apa yang baru saja diucapkan Joon Ha.
Joon Ha berbalik menatap Dong Joo, “Kenapa kau tak menjawab?”
(Argh.... Joon Ha teganya dirimu, Dong Joo kan ga tahu apa yang dikau bilang..)
Dong Joo menatap heran karena ia tak tahu apa yang Joon Ha katakan.
Joon Ha : “Tak bisakah kau mendengarnya?”
Joon Ha maju mendekat pada Dong Joo, “Haruskah kukatakan sekali lagi?”
Mata Dong Joo berkaca-kaca, “Jang Joon Ha. Kau tak perlu mengatakan itu. Kata-kata itu, aku tak tahu kalau itu akan menjadi kesedihan.”
Joon Ha tertawa sinis, “Benar. Lalu kali ini kau kuberi tahu.”
Dong Joo : “Benar. Lakukan apa maumu!”
Dong Joo sudah hampir menangis, “Kakak. Kak Joon Ha!” Air mata Dong Joo menetes. “Menangis karena kau, ini adalah yang terakhir kalinya.” Dong Joo berusaha tersenyum tapi air matanya terus mengalir deras.
Dong Joo berbalik badan dan pergi dengan perasaan yang sedih.




re-posted and re-edited by : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment