Friday, October 04, 2013

Can You Hear My Heart Episode 27

Dong Joo pergi meninggalkan kantor Woo Kyung. Woo Ri ingin tahu apa ini semua perbuatan Joon Ha dan apa salah Dong Joo sampai dia dipecat. Joon Ha berkata bukankah tadi Woo Ri sudah mendengar yang ia ucapkan. Ia tak mau lagi melihat Dong Joo. Woo Ri kecewa apa ini alasan Joon Ha memecat Dong Joo, hanya karena tak mau melihat Dong Joo lagi, “Kakak memecatnya karena itu? apa Kakak sudah gila? Kenapa Kakak tak mencoba mengerti dia?”

Joon Ha : “Mengerti? Kenapa aku harus mengerti? Aku tak mau ingatanku tentang dia membuatku muak. Aku ingin menghapus semuanya.”
Woo Ri mengeraskan suaranya. Apa Kakaknya bisa melakukan itu, silakan saja mencoba melupakan. Tapi kalau dirinya, ia tak akan bisa. Walaupun Kakaknya pergi, ia akan tetap merindukan Kakaknya sampai ia marah dan membenci Kakaknya. Ia sendiri tak bisa melupakan Kakaknya. Woo Ri sangat kecewa dengan sikap Joon Ha dan berkata yang bodoh itu bukan ayahnya tapi Joon Ha. Woo Ri pergi meninggalkan Joon Ha dengan kekesalannya. Joon Ha menerima telepon dari Presdir Choi.
Joon Ha segera menemui ayahnya di parkiran. Sek Kim membukakan pintu mobil, Presdir Choi ada di dalam mobil. Presdir Choi bertanya apa Joon Ha tahu apa yang sudah dilakukan Dong Joo. Ia menyerahkan berkas yang ia terima dari istrinya. Joon Ha membacanya ‘Surat Wasiat’

Presdir Choi mengatakan kalau surat wasiat ayah kandung Dong Joo akan dimuat di media. Kita terpojok. Selama 16 tahun Joon Ha bersama Dong Joo dan Ny Tae. Apa Joon Ha tak tahu adanya surat wasiat ini. Bukankah Joon Ha bilang sangat mengenal Dong Joo tapi Joon Ha sudah ditikam 2 kali oleh Dong Joo.

Joon Ha menegaskan kalau itu tak akan terjadi lagi. Kalau masalah ini dibawa ke pengadilan perlu waktu 5 sampai 10 tahun hingga kedua belah pihak menyerah. Dong Joo tak akan melakukan ini dengan mudah. Yang perlu kita lakukan adalah mengumpulkan kepercayaan dan mencoba mencari selamat.

Presdir Choi yakin kalau Dong Joo tak akan melakukan ini sendirian. Maka dari itu Joon Ha harus bisa menguasai Min Soo. Kalau sampai Dir Kang membantu Dong Joo, tamatlah kita. Joon Ha mengerti dan  memandang Presdir Choi dengan tatapan aneh.
Presdir Choi berpapasan dengan rombongan Dewan Direksi. Mereka menanyakan berkas yang mereka terima. Presdir Choi bersikap sesantai mungkin, sepertinya Dewan Direksi tak puas terhadapnya dan berkata kalau ia tak melakukan kesalahan apapun. Ia tak punya alasan untuk dikritik.

“Lalu dokumen ini dari Cha Dong Joo. Apa ini?” tanya salah seorang dari mereka. “Kalau ini benar kami tak bisa diam saja.”

Presdir Choi menyampaikan kalau Cha Dong Joo bukan anak kandungnya. "Seseorang yang tuli akan memimpin perusahaan. Kenapa kalian begitu mudah masuk perangkapnya? Kalau aku bersalah, kesalahanku adalah tak becus membesarkan anak. Itu saja. Aku Choi Jin Chul selama 30 tahun telah membesarkan Woo Kyung. Selama itu aku tak pernah berdiam diri.”
Joon Ha di ruangannya. Ia tertawa sendiri, Min Soo masuk dan heran melihat sikap Joon Ha yang seolah tak terjadi apa-apa, sementara ia sendiri sangat khawatir. Joon Ha menyangkal ia juga shock sampai tak bisa berhenti tertawa. “Dia bukan Cha Dong Joo yang kukenal, setelah ditikam dari belakang dua kali aku merasa pikiranku jadi lebih jernih.”

Min Soo memberi tahu kalau masalah ini sampai ke pengadilan kita dalam posisi yang tak diuntungkan. Ia ingin tahu apa rencana Joon Ha selanjutnya. Joon Ha tak tahu lagi bagaimana caranya mengalahakan Dong Joo. Ia meminta Min Soo memberitahu padanya apa yang harus ia lakukan. Min Soo juga tak bisa memberikan solusi karena ia tak memiliki kemampuan untuk itu.

Joon Ha berkata selama Dong Joo ingin mendapatkan apa yang pernah menjadi miliknya. Kita tak punya waktu lagi Joon Ha meminta Min Soo memikirkan baik-baik.
Woo Ri mendapat sms dari Dong Joo ‘Aku bukan pihak yang kalah jadi kau tak perlu menghiburku. Akan kuhubungi kau lagi nanti.’

Woo Ri membalas sms Dong Joo, ‘Apa yang terjadi? Ayo kita bertemu’ Woo Ri berfikir kembali apa ia harus mengirim sms itu.
Dong Joo dan ibunya tengah makan di restouran. Dong Joo mendapat sms dari Woo Ri. ‘Salut’ (wah berarti tulisan sms nya diganti)

Ny Tae menepuk meja meminta perhatian Dong Joo. Dong Joo menyimpan ponselnya. Ny Tae berkata seharusnya Dong Joo melihat wajah Choi Jin Chul tadi pagi. Ia penasaran seperti apa wajah Choi Jin Chul ketika di pengadilan nanti dan bertanya pada Dong Joo kapan Dong Joo kau akan mengeluarkan ‘kartu terakhir’ (senjata terakhir). Dong Joo mengatakan ia akan mengeluarkan kartu terakhir kalau Choi Jin Chul tak mengakui kesalahan pada pertemuan Dewan Direksi. Ny Tae tak yakin Choi Jin Chul akan mengakui kesalahan. Ia tak percaya putranya masih berharap Choi Jin Chul melakukan itu. “Kau anakku tapi kau terlalu polos. Lihat saja sampai mati pun dia tak akan mengaku.”
Dong Joo tersenyum melihat kedatangan seseorang, Min Soo. Lain halnya dengan Ny Tae, ia terkejut Min Soo datang. Dong Joo ingin tahu bagaimana dengan suasana kantor. Min Soo berkata kalau Joon Ha sangat tegang dan dia terlihat sangat mencurigakan. Dong Joo tahu kalau ini akan terjadi, “Kau bilang kau mau jadi mata-mataku. Mana hasilnya?”

Ny Tae heran, “Mata-mata? Apa yang kalian bicarakan?”
Min Soo menatap Ny Tae penuh harap, “Bibi. Maukah kau memaafkan ayahku?”
Dong Joo berkata sangat yakin kalau ibunya sudah memaafkan itu. Ny Tae diam saja. Min Soo permisi ke belakang (mungkin ke toilet).

Ny Tae ingin tahu apa Dong Joo sudah menceritakan semuanya pada Min Soo. Dir Kang adalah kaki tangan Choi Jin Chul dan Dong Joo tak boleh mempercayai Min Soo begitu saja. Dong Joo berkata kalau Min Soo itu anak yang jujur. Ketika ia menceritakan semuanya dan minta maaf Min Soo bahkan mau membantunya.

Ditengah-tengah obrolan keduanya Choi Jin Chul menelepon Ny Tae. Ny Tae bicara menjauh dari Dong Joo. Min Soo sudah kembali dari toilet (mungkin).
Ny Tae berbicara dengan Choi Jin Chul di telepon, “Kau mau menemuiku? Tapi aku tak bisa. Ada yang harus kulakukan. Aku harus ke rumah Dong Joo dan memberi makan ikan. Kalau itu yang kau mau, datanglah!”

Kim Bi memprentasikan rencana Produk di depan Joon Ha. Joon Ha lebih memilih pilihan yang B. Ny Tae meneleponnya. Joon Ha berkata kalau ia tengah rapat.
Ny Tae : “Bagaimana rencana Dong Joo. Apa kau menyukainya?”
Joon Ha : “Aku sibuk, tak ada yang bisa kusampaikan.”

Joon Ha akan menutup telepon tapi Ny Tae buru-buru mengatakan kalau Joon Ha harus menemui Choi Jin Chul di rumah Dong Joo karena sepertinya Choi Jin Chul mau membicarakan warisan dan Joon Ha harus datang karena Joon Ha anak Choi Jin Chul. Joon Ha hanya menjawab terima kasih karena Ny Tae masih memikirkannya. Joon Ha langsung menutup teleponnya.
Joon Ha meminta pendapat Park Dae Ri tentang rencana yang dipaparkan oleh Kim Bi. Park Dae Ri mengatakan kalau ia lebih menyukai pilihan A dan CEO Cha bilang juga menyukai pilihan A. Joon Ha tak menanyakan pendapat CEO Cha. Ia menanyakan pendapat Park Dae Ri dan meminta pendapat Kim Bi. Kim Bi bingung karena menurutnya pilihan A adalah konsep yang terbaik tapi ia juga menyukai pilihan B. Joon Ha menilai produknya tidak akan terlihat menonjol kalau memakai pilihan A dan memutuskan menggunakan pilihan B.
Kim Bi mengeluh pada Woo Ri. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran Joon Ha. Apa alasan Joon Ha memecat Bos-nya. Ia ingin Woo Ri mengatakan sesuatu padanya bukankah Woo Ri dekat dengan mereka. Woo Ri hanya menjawab tak tahu.
Kim Bi mendesak ia ingin tahu. Seung Chul datang ke kantor dan melihat Kim Bi memaksa Woo Ri mengatakan alasan kenapa Joon Ha memecat Dong Joo. Seung Chul tentu saja tak senang dengan sikap Kim Bi yang dekat-dekat dengan Woo Ri. Ia menepuk pundak Kim Bi. Kim Bi merasa ia pernah melihat Seung Chul. Apakah ia mengenal Seung Chul.

Seung Chul kesal memangnya ia harus mengenal semua pegawai disini. Ia menyuruh Kim Bi mengurus pekerjaan Kim Bi saja. Kim Bi pergi tapi sebelum ia pergi ia meminta Woo Ri nanti memberi tahu dirinya alasan Joon Ha memecat Bos-nya.
Seung Chul penasaran dengan sebutan Bos yang dimaksud Kim Bi. Ia bertanya siapa dia. Woo Ri mendesah dan menjawab kalau itu Cha Dong Joo. Seung Chul kaget mengetahui Dong Joo dipecat. ia menebak ini pasti perbuatan Jang Joon Ha. Seung Chul marah ia berniat melabrak Joon Ha. Woo Ri heran dan menahan Seung Chul, bukankah yang dipecat itu Dong Joo kenapa Seung Chul yang marah.

Seung Chul tak tahu harus berkata apa lagi. Kemudian ia mengeluarkan sebuah kertas pemesanan pembelian kendaraan. Woo Ri kaget apa Seung Chul mau membeli mobil.

Seung Chul : “Bukankah sudah kukatakan. Kita ini sudah ditakdirkan bersama. Ketika aku bisa punya mobil, orang yang biasa mengantarmu naik mobil, dia sudah dipecat.”

Seung Chul ingin tahu berapa banyak penghasilan Woo Ri sampai bisa membeli mobil. Dari pada Woo Ri bekerja seperti ini lebih baik bekerja di kafe ayamnya. Ia akan menggaji 5 juta Won. Woo Ri meminta Seung Chul cepat mengembalikan uangnya yang 2 juta Won. Ia meminta Seung Chul jangan merecoki pekerjannya.
Young Kyu di Taman Botani mengurusi bunga-bunga. Ia kesal melihat Na Mi Sook selalu mengikuti dan mengejarnya. Na Mi Sook duduk di kursi memperhatikan Young Kyu bekerja.
Young Kyu menghampiri Mi Sook, “Kenapa kenapa kenapa kenapa kau mengikutiku terus?”
Mi Sook : “Kenapa kenapa kenapa kau begitu membenciku?”
Young kyu makin kesal kenapa Mi Sook tak mengenakan make up. Ia tak suka Na Mi Sook mirip Ibunya Woo Ri karena itu membuatnya bingung.

“Tidakkah kau pikir ini keajaiban?” Mi Sook menatap langit, “Atau aku adalah hadiah yang dikirim oleh Mi Sook dari surga.” Young Kyu mencari bingkisan hadiah yang diucapkan Mi Sook, “Apa? Mana hadiah?”
Mi Sook tersenyum, “Aku...”
Young Kyu bingung ia tak mengerti.
Terdengar teriakan Menajer Seo memanggil Young Kyu. Ia panik karena poster yang ditempelkan Young Kyu hilang. Young Kyu bilang ia yang mengambilnya karena Ma Roo sudah pulang.
Manajer Seo berkata seharusnya Young Kyu membawa Ma Roo padaknya. Young Kyu menjelaskan kalau Ma Roo itu sibuk sekali, “Dia dokter tapi kerja di kantor karena dia juga anak Choi Jin Chul.”
Manajer Seo terkejut, “Siapa?”
Young Kyu : “Manajer, kau bingung kan? Ma Roo itu anakku tapi juga anak Choi Jin Chul.”

Manajer Seo membentak meminta Young Kyu jangan bercanda. Kalau Young Kyu bohong bisa dipenjara.
“Dia tak bohong.” sahut Mi Sook. “Ini hanya masalah rahasia keluarga.” Mi Sook memperagakan kode rahasia.
Manajer Seo heran siapa Mi Sook. Mi Sook tersenyum malu-malu dan menyenggol Young Kyu. Young Kyu heran kenapa Mi Sook menyenggolnya. Mi Sook kembali tersenyum malu-malu.
Manajer Seo langsung bisa menebaknya. Ia kesal bukan main dan berteriak sambil mengacak-acak rambutnya. Young Kyu dan Mi Sook heran melihatnya.
Manajer Seo : “Bong Young Kyu, aku saja belum pernah punya pacar. Ini tidak benar. Ini tidak mungkin, tak boleh terjadi.”

Dong Joo datang dan memanggil Young Kyu. Melihat Dong Joo datang Mi Sook langsung menutup wajahnya dengan tas. Dong Joo melihatnya dan terheran-heran. Dong Joo ingin bicara dengan Young Kyu. Keduanya duduk di bangku taman.
Dong Joo berkata dengan nada sedih, setiap berseteru pasti bisa didamaikan tapi kali ini malah semakin parah. Bagaimana kalau tidak bisa berdamai selamanya. Young Kyu tak mengerti siapa yang maksud Dong Joo.
“Orang yang kusukai.” Sahut Dong Joo. Young Kyu menyarankan kalau begitu katakan padanya kalau Dong Joo tak mau bertengkar dengannya. Dong Joo berkata kalau dia sudah tak mau mendengarkannya lagi.
Young Kyu : “Shin Ae juga seperti itu. Dia tak mau mendengarkan. Dia tak pernah mau kalau kusuruh pergi. Dia selalu kembali. Dia selalu berteriak pada ibu walaupun kusuruh berhenti. Walalupun kubuatkan nasi enak, dia tetap saja marah-marah. Setiap hari kerjanya marah-marah.”

Young Kyu memperlihatkan wajah marah-marahnya Shin Ae, “Kau selalu sakit kepala setiap berteriak mungkin itu sebabnya dia marah-marah. Mong Goon dan Ibu Seung Shul suka pada semua orang kecuali Shin Ae. Bahkan Ibu pun mungkin tak menyukainya. Aku tak menyukainya.”

Dong Joo : “Jadi itu sebabnya...”
Young Kyu : “Benar karena semua orang tak menyukainya aku kasihan pada Shin Ae. Dia tak punya teman. Tak ada yang mau berteman dengannya.”
(Ya ampun ucapan seperti ini keluar dari mulut seorang Bong Young Kyu. Salut)

Young Kyu berkata setelah ia menanam tanaman ia akan memberi makan ikan. Young Kyu melanjutkan pekerjaanya. Dong Joo merenungi apa yang dikatakan Young Kyu, “Benar juga aku punya teman bicara disini tapi Kakakku tak punya.” Batin Dong Joo.
Ny Tae memberi makan ikan-ikan Dong Joo, Presdir Choi datang dengan kekesalannya. Presdir berkata kalau ia tak mau membuang waktu. Ia tahu kalau Dong Joo menginginkan Energy Cell. Ia akan menulis perusahaan atas nama Dong Joo dan mengajak istrinya bercerai dan menyelesaikan semuanya.

Ny Tae setuju karena hidup bersama Choi Jin Chul rasanya seperti hidup di neraka. “Pergilah seperti ketika kau datang ke sini. Dengan tangan kosong.” (Artinya Ny Tae ingin bercerai asalkan Presdir Choi memberikan semua yang menjadi miliknya dan Dong Joo yaitu Woo Kyung)

Presdir Choi berkata kalau Ny Tae sudah banyak berubah. “Apa kau pikir ini semua karena aku? Tidak. Ayahmulah yang memulai semua ini.”
Ny Tae menebak, “Apa maksudmu perjanjian pranikah?”

Presdir Choi terkejut istrinya mengetahui ini. Ny Tae mencibir ia merasa kasihan pada Choi Jin Chul, “Kau anak yang tak punya ayah lalu kau jual dirimu demi uang.” Presdir Choi meninggikan suaranya dan meminta Ny Tae hati-hati kalau bicara.
Ny Tae : “Apa kau kecewa? Itukah sebabnya kau membunuh ayahku?”
Young Kyu berlari jingkrak-jingkrak karena akan memberi makan ikan. Tapi Young Kyu terkejut melihat dari luar kalau di dalam rumah ada Choi Jin Chul tengah berbincang dengan Ibu Dong Joo. Tepat saat itu Joon Ha juga datang. Young Kyu tambah terkejut melihatnya, “Ma Ma Ma Roo.” ujar Young Kyu senang bisa melihat Ma Roo lagi.
Dong Joo heran melihat kedatangan Joon Ha dan bertanya untuk apa Joon Ha datang ke rumahnya. Joon Ha tak menjawab ia berjalan masuk ke rumah. Young Kyu bersembunyi di balik badan Dong Joo. Young Kyu ingin mengejar tapi Dong Joo menahannya dan menarik Young Kyu menjauh dari sana.
Ny Tae berkata kalau ia tengah mencari cara agar Presdir Choi memohon padanya untuk menghapus penderitaan Presdir Choi dan itu yang selalu  ia pikirkan selama 16 tahun setiap kali melihat wajah anak Presdir Choi.

Presdir Choi mengungkapkan kalau istrinya adalah penculik Joon Ha. ia minta istrinya mengatakan pada Dong Joo untuk membatalkan rapat Dewan Direksi dan diam saja mendengarkan rencananya.

Joon Ha hadir ditengah-tengah keduanya. Nya Tae menyadari kehadiran Joon Ha tapi Presdir Choi tak tahu. Ny Tae menolak melakukan apa yang diperintahkan Choi Jin Chul karena ia sendiri yang menyebarkan surat wasiat ayah kandung Dong Joo. Ia tak puas kalau hanya dengan memiliki Energy Cell. Kecuali Choi Jin Chul berjanji akan mewariskan Woo Kyung pada Dong Joo. “Tapi tampaknya tempat itu sudah kau siapkan untuk anak kandungmu sendiri kan?”

Presdir Choi : “Aku belum melakukan ... test DNA.” (wow itu berarti presdir Choi masih belum yakin kalau Joon Ha anaknya, kasihan Joon Ha)
Joon Ha tersenyum miris mendengarnya. Presdir Choi meminta Ny Tae membawa Dong Joo padanya dan menyuruh Dong Joo berlutut dihadapannya baru kemudian ia akan menjadikan Dong Joo sebagai pewaris Woo Kyung.
Ny Tae : “Apa kau serius? Lalu bagaimana dengan Joon Ha?”
“Jangan jawab itu ayah!” sahut Joon Ha menghampiri keduanya dan membuat Presdir Choi terkejut.
Joon Ha : “Semuanya yang dikatakan Tae Yeon Suk bohong. Tak ada gunanya meladeni semua ucapannya.”

Young Kyu mengkhawatirkan Ma Roo. Ia melihat disana ada Choi Jin Chul. Ia harus bertemu Choi Jin Chul. Ia harus balas dendam dan mengucapkan terima kasih pada Choi Jin Chul (balas dendam Young Kyu memperagakan dengan menepuk kepala dan terima kasih Young Kyu memperagakan memberi hormat)

Dong Joo menahan dan berkata kalau Choi Jin Chul itu orang jahat. Ia akan mengirim Choi Jin Chul ke tempat yang jauh dan meminta Young Kyu segera pergi saja.
Young Kyu melihat Joon Ha keluar dari rumah, ia menyembunyikan wajahnya di balik badan Dong Joo. Choi Jin Chul juga ikut keluar dan melihat Young Kyu. Joon Ha menyuruh ayahnya segera masuk ke mobil. Young Kyu sedih mendengar Joon Ha menyebut Choi Jin Chul dengan sebutan ayah.
“Kau mau kemana Joon Ha?” Ny Tae berteriak. Joon Ha dan Presdir Choi berbalik menatap Ny Tae.

Ny Tae : “Orang yang kau minta untuk kau selamatkan ada disini. Ayahmu, Bong Young Kyu. 16 tahun yang lalu kau berlutut dan memohon. Choi Jin Chul membunuh ibu tirimu lalu kau minta aku menyelamatkan ayahmu agar tak dipenjara. Lalu kenapa kau meninggalkan ayahmu yang baik ini dan memanggil musuhmu ‘ayah’?”

Young Kyu melihat wajah Joon Ha sedih. Ia meminta Ny Tae jangan mengatakan itu karena Joon Ha akan menangis. Ia menyuruh Joon Ha cepat pergi. Young Kyu tak ingin Ny Tae bicara lebih jauh lagi dan membuat Joon Ha menangis. Young Kyu memohon pada Ny Tae jangan melakukan ini. Ia mengaku salah.
Joon Ha kembali mengajak ayahnya masuk ke mobil. Young Kyu sangat mengkhawatirkan Joon Ha, bukankah Choi Jin Chul itu orang jahat. Bukankah Dong Joo bilang akan mengejar Choi Jin Chul. Dong Joo minta maaf ia akan mengejar Choi Jin Chul lain kali. Dong Joo mengaitkan jemarinya, ia berjanji.
Shin Ae meminta ponsel Woo Ri. Ia ingin tahu nomor telepon Joon Ha. Woo Ri meminta Shin Ae membiarkan kakaknya sebentar saja. Shin Ae berkata kalau itu bukan urusan Woo Ri ia tetap meminta Woo Ri berikan ponsel atau memberikan nomor telepon Joon Ha.

Na Mi Sook datang dan mendengar keributan antara Shin Ae dan Woo Ri. Shin Ae meminta Mi Sook jangan ikut campur. Shin Ae memarahi Woo Ri memangnya siapa Woo Ri sampai melarang dirinya bertemu anaknya. “Anak yang malang aku harus bertemu anakku.”

Mi Sook : “Kenapa kau bilang dia anak yang malang. Dia sudah memecat Cha Dong Joo dan tak merasa bersalah.”
Shin Ae terkejut mendengarnya, “Kau bilang Cha Dong Joo dipecat? Dan Ma Roo yang melakukannya?”
Mi Sook : “Benar. Dia bertingkah seperti dirimu tanpa belas kasihan.”
Shin Ae marah ia bertolak pinggang Keduanya baradu mulut. Woo Ri berusaha melerai keduanya.

Nenek datang karena mendengar keributan. Mi Sook langsung berdiri di samping nenek. Nenek marah kenapa Shin Ae tak sopan terhadap tamu dan menabok Shin Ae keras-keras.
Shin Ae minta ibunya jangan seperti itu. Sikap Mi Sook seperti ini karena ada maunya dengan Young Kyu. Apa Mi Sook pikir Young Kyu mau dengan Mi Sook. “Young Kyu itu Oppa-ku, tak akan kuberikan Oppa-ku padamu!” (Wohoho ini pertama kalinya Shin Ae menyebut Young Kyu Kakaknya)

Nenek dan Woo Ri terkejut mendengarnya, “Oppa? Apa sekarang kau mau menjadi adiknya?” Shin Ae gelagapan dan berkata tak sudi.

Nenek bersyukur Shin Ae sudah waras dan kata-kata Kakak keluar dari mulut Shin Ae. Ia tertawa senang dan memuji Mi Sook sangat hebat. Sebelum ia meninggal satu keinginannya sudah terkabul. Woo Ri juga senang Shin Ae membela ayahnya.
Young Kyu datang tergesa-gesa mencari Woo Ri. Ia terkejut melihat Mi Sook juga ada disana. Mi Sook tersenyum melihat kedatangan Young Kyu. Nenek langsung berseru pada Shin Ae, “Hey Shin Ae Oppa-mu pulang!”
Young Kyu heran, “Oppa? Oppa? Aku ini Oppa siapa?”

Mi Sook langsung meraih tangan Young Kyu (agresif ya haha) tapi Young Kyu menarik tangannya tak mau disentuh Mi Sook.
Shin Ae kembali ke topik awal. Ia tetap meminta nomor telepon putranya pada Woo Ri dan bertanya dimana putranya.
Young Kyu menarik Woo Ri masuk ke kamar. Ia mengatakan kalau ia tahu dimana Ma Roo tapi ia meminta Woo Ri merahasiakan ini dari Shin Ae. Young Kyu berkata kalau tadi Ma Roo datang ke rumah Dong Joo. Ibu Dong Joo juga ada di sana, dia berteriak pada Choi Jin Chul lalu pergi. Young Kyu sedih karena Ma Roo pergi dengan Choi Jin Chul dan mata Ma Roo seperti mau menangis.

Woo Ri mengkhawatirkan ayahnya tapi Young Kyu bilang ia tak apa-apa karena Dong Joo berjanji padanya lain kali Dong Joo akan mengejar Choi Jin Chul.

Woo Ri tergesa-gesa menuju rumah Dong Joo. Ia senang melihat mobil Dong Joo terparkir disana. Ia akan menekan bel rumah tapi ia sadar dan niat itu ia urungkan. Ia melongok ke kaca yang samar-samar tertutup tirai, sepi. Tak seorang pun ada di rumah. Woo Ri berteriak memanggil nama Dong Joo, sekali lagi ia sadar apa yang ia teriakan akan percuma. Dong Joo tak akan mendengarnya.
Di kafe BBQ Chicken, Paman Lee heran dan bertanya pada putranya apa anak pemilik juga bisa dipecat. Seung Chul malah menyahut kalau ayahnya pemilik juga bisa dipecat. Ia minta ayahnya berhati-hati.

Tiba-tiba Dong Joo datang dan meminta alkohol. Seung Chul menyahut bukankah Dong Joo dipecat, kenapa datang ke tempatnya. Dong Joo meminta segelas alkohol. Tapi Seung Chul malah bertanya apa kedatangan Dong Joo ke tempatnya ingin bertemu Woo Ri. Dong Joo menjawab kalau sekarang ia merasa malu untuk bertemu Woo Ri karena ia sudah dipecat.
Keduanya duduk berhadapan. Seung Chul masih penasaran apa kedatangan Dong Joo benar-benar sedang tak mencari Woo Ri. Dong Joo malah balik bertanya kalau Seung Chul jadi dirinya apa Seung Chul tak malu menunjukan diri di depan gadismu. Dong joo juga mengingatkan Seung Chul jangan menghubungi Woo Ri.

Seung Chul : “Apa kau punya teman? Kenapa kau datang kesini?”
Dong Joo mendesah dan bertanya apa Seung Chul mau menjadi temannya. Seung Chul melotot, apa Dong Joo pikir ia mau menjadi teman Dong Joo. Ia sangat membenci orang seperti Dong Joo. Dong Joo tersenyum ia ingin tahu apa yang Seung Chul benci darinya. Seung Chul menjawab semuanya.
Joon Ha bersama Presdir Choi di apartemennya. Presdir Choi membuka dokumen. Joon Ha menuangkan air untuk Presdir Choi dan disana tergeletak sebuah gambar yang dibuat oleh Young Kyu. Ada sebuah pesan kecil dari Woo Ri, ‘Hadiah kecil ini agar kau bisa belajar tertawa, ayah sudah pandai menulis kan?’ Ada tulisan yang dibuat Young Kyu di gambarnya, ‘Jangan sakit ha ha ha’

Presdir meminta Joon Ha duduk, Joon Ha langsung menyimpan gambar itu.
Joon Ha melihat dokumen yang Presdir Choi berikan padanya, sepertinya itu dokumen pengalihan kepemilikan. Tapi karena Dong Joo bersikap seperti ingin membuat tuntutan. Maka dari itu ia belum memasukan Joon Ha ke daftar keluarga. Kalau ia mengalihkan kekayaan pada Joon Ha sekarang, waktunya tak sebentar. Presdir Choi meminta Joon Ha membuat surat penolakan pemindahan saham.

Joon Ha membaca tuntutan yang diajukan Dong Joo, “Jika kebanaran Choi Jin Chul adalah ayah Jang Joon Ha terungkap maka Jang Joon Ha harus mengembalikan semua saham miliknya.”

Presdir Choi minta Joon Ha tak perlu kecewa karena ini sudah biasa dalam bisnis. Joon Ha berkata apa ia juga harus menyerah menjadi ahli waris. Joon Ha pun membuat catatan penolakan pemindahan saham dengan tulisannya.
Woo Ri masih menunggu Dong Joo sampai hampir ketiduran. Ia melihat ponselnya tapi tak ada panggilan atau sms dari Dong Joo. Untuk mengusir rasa bosan Woo Ri menghembuskan nafas ke meja kaca. Ia menuliskan ‘db’ dan gambar senyum.

Ponsel Woo Ri tiba-tiba berdering, dengan cepat ia langsung melihatnya. Ia kecewa karena yang menelepon ternyata Bibi Lee.
Bibi Lee : “Kau dimana? Bawa pulang ‘susu putih’ ini (Dong Joo). Dia minum alkohol dan sekarang seperti ‘susu strawberry’.”
Dong Joo dan Seung Chul bersulang minum alkohol. Seung Chul ingin tahu Dong Joo belum mabuk kan. Dong Joo bukan laki-laki kalau minum segini saja sudah mabuk. Dong Joo berkata kalau ia peminum yang hebat. Tapi Seung Chul menyangkal, ia melihat mata Dong Joo tak berkata seperti itu.

Paman Lee heran melihat kedua pemuda ini, sejak kapan putranya berteman dengan musuhnya. Bibi Lee berkata kalau putranya itu tak polos tapi berjiwa besar. Ia memuji dirinya sudah berhasil mendidik putranya menjadi pria sejati.

Woo Ri sampai ke kafe. Bibi Lee berkata pada Woo Ri kalau ‘susu stawberry-nya’ sudah kembali menjadi ‘susu putih’. Ia meminta Woo Ri menjaga kafe. Ia mengajak suaminya menggoreng ayam. Woo Ri melihat ke dua pemuda ini bicara akrab dalam mabuk.
Seung Chul ingin tahu apa yang Dong Joo suka dari Bong Woo Ri. Rambutnya seperti helm dan pakaiannya berantakan.
Dong Joo : “Apa kau ingat tasnya? Tas merah itu? dia bukan anak kecil lagi.”
Seung Chul : “Begitukah? Itu saja? Kenapa kalau bicara suaranya keras?”
Dong Joo : “Apa? Suaranya seperti piano.”
Seung Chul : ”Piano? Ah yang benar saja. Kau memang tak bisa mendengar... tapi maksudku adalah ...”
Dong Joo : “Tak apa-apa walaupun aku tak bisa mendengar, dia bilang dia menyukaiku.”
Seung Chul : “Siapa bilang menyukaimu? Siapa? Hey, Kau itu baru saja belajar bernafas. Bong Woo Ri dan aku sudah 16 tahun bersama.”
Dong Joo : “Denganku pun sudah 16 tahun. Aku bertemu dia ketika dia berusia 9 tahun.”
Seung Chul : “Kapan? dimana? Bulan apa? jam berapa?”
Dong Joo tertawa, “Hey.. Lee Seung Chul kau bukan sainganku.”
Woo Ri tersenyum melihat keduanya.

Seung Chul : “Kalau begitu bagaimana yang satunya lagi?”
Dong Joo : “Kenapa? Memangnya ada orang lain lagi selain kita berdua?”
Seung Chul : “Apa kau tak tahu? Jang Joon Ha juga menyukainya. Hubungan kalian kan sedang tak baik, makanya kau tak tahu. Dia berlagak jadi Kakaknya dan ingin membelikan rumah di Seoul ‘kalau tak mau datang sendiri bawa seluruh keluargamu’ apa seperti itu sikap seorang Kakak? Kau tak tahu kan?”

Dong Joo melirihkan suaranya dan mengatakan ia sudah tahu itu. Seung Chul heran Dong Joo sudah tahu itu dan Dong Joo pergi begitu saja. Katika dia masih kecil dia meninggalkan keluarganya dan Dong Joo masih simpati padanya. Dong Joo berkata kalau Joon Ha tak meninggalkan keluarganya. Joon Ha pikir dia meninggalkan keluarganya tak hanya brengsek tapi juga bodoh.

Seung Chul berkata kalau Dong Joo lebih bodoh dari Joon Ha. Dong Joo tertawa dan mengusulkan bagaimana kalau menantang Joon Ha minum bukankah Seung Chul bilang Seung Chul pejuang tangguh. Seung Chul jelas saja mau dan bersemangat. Tapi kemudian Dong Joo mendesah meminta Seung Chul melupakan itu karena Joon Ha lebih suka minum sendirian. “Jang Joon Ha tak punya teman sepertimu!”
Seung Chul : “Siapa bilang aku temanmu?”
Dong Joo : “Lalu, apa kau mau jadi adikku? Minta apa saja, Kakak akan memberikan apa saja.”

Seung Chul tertawa kemudian menatap tajam Dong Joo, “Kakak berikan aku Bong Woo Ri! Kak Dong Joo, katanya kau mau memberikan apa saja.” Dong Joo jelas tak mau dan keduanya beradu mulut dalam mabuk.
Joon Ha memasang gambar Young Kyu di pintu lemari es, Ia tersenyum memandang gambar itu. Joon Ha kembali membaca catatan yang ia buat mengenai penolakan pemindahan saham. Ia tersenyum sinis. Dan terdengar olehnya bel pintu rumah berbunyi.
Woo Ri datang mengunjunginya membawakan ayam goreng BBQ Chicken. Woo Ri melihat di meja tergeletak dokumen-dokumen. Woo Ri tanya apa Joon Ha tengah bekerja. Joon Ha takut Woo Ri membaca itu, ia akan membereskannya tapi Woo Ri meminta ia saja yang membereskannya.

Joon Ha menolak dan mendorong Woo Ri. Ia menyuruh Woo Ri cepat pulang karena ia banyak pekerjaan. Woo Ri minta maaf dan berpesan agar Joon Ha memakan ayam goreng itu.
Joon Ha marah apa Woo Ri itu bodoh, tak ada gunanya Woo Ri datang jauh-jauh membawa ayam goreng ke rumahnya, apa lagi naik bus. Joon Ha kembali menyuruh Woo Ri pulang. Woo Ri mengerti dan segera pulang dengan perasaan sedih. Tapi ia tersenyum melihat gambar yang dibuat ayahnya dipajang disana.
Melihat itu Joon Ha langsung mencabut gambar dan sobeklah gambar itu. Joon Ha terkejut karena ia tak bermaksud untuk merobeknya. Joon Ha membuang gambar itu dan langsung masuk kamar. Di dalam kamar Joon Ha terduduk sedih.
Esok harinya Woo Ri sampai di kantor dan menyapa semua karyawan. Ia heran melihat Na Mi Sook pagi-pagi sudah sampai di kantor. Woo Ri memandang kursi Dong Joo yang kosong, tak ada penghuninya. Ia hanya mendesah kesal.

Kim Bi tiba-tiba datang dan berteriak kalau Bos datang. Mi Sook tak percaya bukankah Dong Joo sudah dipecat. Kim Bi menegaskan kalau Dong Joo datang lagi. Woo Ri senang mendengarnya.
Pertemuan dewan direksi, Dong Joo berdiri di podium dan mengatakan kalau tujuan ia dan dewan direksi berkumpul adalah membahas pemberhentian Choi Jin Chul. Dong Joo meminta dewan direksi melihat wasiat ayah kandungnya, “Bahwa aku mewarisi 77% saham Woo Kyung. Bertentangan dengan surat wasiat, Choi Jin Chul menguasai seluruh saham tersebut dan sekarang dia Presden Direktur.”

Presdir Choi mencibir apa Dong Joo mengumpulkan dewan direksi untuk menentang warisan. Dong Joo berkata kalau ia hanya mau menunjukkan bahwa orang yang duduk di kursi Presiden Direktur yang sekarang sebenarnya tak punya hak. Presdir Choi memberi tahu kalau Ibu Dong Joo (Tae Yeon Suk) sudah menyerahkan bisnis padanya. Dong Joo berkata kalau ibunya hanya mempercayakan Woo Kyung pada Choi Jin Chul bukan menyerahkan agar Choi Jin Chul berkuasa semaunya.
Dong Joo mengungkapkan kalau 16 tahun yang lalu Choi Jin Chul menjual Woo Kyung Cosmetics dan bertanya siapa yang mengizinkan Choi Jin Chul melakukan itu. Presdir Choi menjawab kalau ia mendapat izin dari almarhum Kakek Dong Joo. Dong Joo meminta bukti.

Presdir Choi : “Kalau saja aku bisa, akan kubawa Kakekmu kesini untuk mengatakannya sendiri.”
Dong Joo : “Kalau Kakekku ada disini sekarang, apakah hanya itu yang akan dikatakannya?”

Dir Kang mengingatkan agar masalah rumah dibicarakan di rumah dan masalah pekerjaan dibicarakan di kantor, “Perusahaan ini adalah perusahaan dengan sistem semikonduktor terbesar. Kenapa Presdir Choi diberhentikan? Apakah dia menyebabkan perusahaan rugi? Apa kau punya bukti?”

Dong Joo memperlihatkan dokumen penjualan Energy Cell dan kerugian yang dihasilakannya cukup besar.
Woo Ri mendengar kasak-kusuk staf marketing. Mereka berpendapat Dong Joo tak seharusnya bersikap seperti itu pada ayahnya. Staf yang lain berkata kalau Choi Jin Chul bukan ayah kandungnya. Woo Ri hanya bisa menarik nafas panjangnya.

Woo Ri membuka sms Dong Joo ‘Bukan aku yang kalah kau tak perlu menghiburku. Selesai bekerja kau akan ku hubungi tunggu saja.’ Woo Ri berucap penuh semangat, “Cha Dong Joo bertahanlah!”
Presdir Choi berkata kalau dalam situasi darurat CEO diperkenankan menjual perusahaan setelah mendapat persetujuan dewan direksi dan ini ada dalam peraturan perusahaan. Dong Joo ingin tahu bagaimana dengan pembuatan sistem semikonduktor. Jika para dewan direksi tak setuju apakah ada aturan kalau Presdir bisa berbuat semaunya. Presdir Choi menatap Dir Kang dan ia berfikir kalau Dir Kang bisa menjawab pertanyaan Dong Joo. Presdir Choi mencibir bukankah Dong Joo sudah dipecat tapi Dong Joo tetap berani menyingkirkannya.

Dong Joo mengerti karena posisinya sudah dipecat ia tak memenuhi syarat untuk bisa mengangkat masalah ini dan ia akan menyampaikan ini pada rapat pemegang saham. Hasil rapat hari ini akan ia laporkan pada pemegang saham. Di luar rapat ini ia akan menjelaskan alasan mengapa Choi Jin Chul perlu diberhentikan.

Presdir Choi emosi kenapa Dong Joo tidak melakukan disini saja. Dong Joo inginnya begitu tapi ia tak percaya pada para Dewan Direksi Woo Kyung. Dir Kang khawatir jika Dong Joo melapor ini pada pemegang saham masalah ini akan terbuka ke masyarakat. Ia tahu Dong Joo tak peduli pada nama baik Woo Kyung.

Dong Joo : “Mana yang kalian anggap penting, menjaga nama baik atau menutupi kejahatan?”
Presdir Choi menggebrak meja, “Kau... Apa kau mau memasalahkan ini sampai akhir?”

Dengan santai Dong Joo berkata kalau ini bukan akhir tapi baru permulaan. “Sampai bertemu di rapat pemegang saham!”

Dir Kang mengejar Dong Joo, ia ingin bicara dengan Dong Joo.
Presdir Choi kesal karena Dong Joo mau mengungkap masalah ini di rapat pemegang saham. Ia sudah memberi Joon Ha arahan untuk menutup Energy Cell, para pemegang saham ingin mengetahui informasinya. Dengan santai Joon Ha berkata kalau semua itu tak ada gunanya karena sudah berakhir. Presdir Choi terkejut mendengar perkataan Joon Ha.
Joon Ha berkata kalau ia akan menggunakan uang yang diberikan Presdir Choi dengan sebaik-baiknya. Presdir marah dan menahan paksa Joon Ha, ia ingin tahu apa maksud perkataan Joon Ha.

Joon Ha : “Aku sudah berusaha menjadi anakmu tapi kau tetap mengatakan aku bukan anakmu. Tidak apa-apa. Aku tak rugi.”
Presdir marah ia merasa dikhianati Joon Ha.
Dir Kang memohon Dong Joo jangan mengungkapkan masalah ke pemegang saham, sudah cukup menyingkirkan Choi Jin Chul saja. Dong Joo berkata kalau ini bukan hanya untuknya tapi untuk Dir Kang juga. Dong Joo melihat Min Soo datang. Ia meminta Dir Kang mendiskusikan ini dengan Min Soo untuk mencari jalan keluar. Ia tak akan memaafkan Dir Kang kalau berbuat macam-macam lagi.
Dir Kang ingin tahu seberapa banyak yang diketahui Min Soo. Dong Joo melirik ke arah Min Soo. Dir Kang mengikuti arah pandang Dong Joo dan terkejut putrinya sudah ada disana.

Min Soo langsung menggandeng lengan ayahnya dan berkata kalau ayahnya sudah lama tak kencan dengannya. Min Soo mengajak ayahnya pergi dan berjanji akan menghubungi Dong Joo nanti.
Joon Ha keluar ruangan dan melihat Dong Joo masih disana. Keduanya bertemu pandang. Presdir Choi menyusul Joon Ha dan marah-marah, apa Joon Ha sudah lupa apa yang Joon Ha tulis.

Joon Ha menatap sinis, “Kenapa? Agar bisa kau berikan pada anakmu Cha Dong Joo?” Joon Ha menepis pegangan tangan Presdri Choi dan mengeluarkan catatan penolakan pemindahan saham. “Itu sebabnya aku tak mau menuliskan semua ini.” Joon Ha merobek kertas penolakan pemindahan saham dan membuangnya begitu saja (maaf dilarang buang sampah sembarangan hahaha)
Presdir Choi : “Apa yang kau lakukan pada ayahmu?”
Joon Ha menatap tajam, “Ayah katamu? Aku tak punya ayah.”
“JANG JOON HA...” Presdir Choi mengguncang tubuh Joon Ha seraya berteriak.
“Apa kau tak malu di depan anakmu?” Joon Ha menatap Dong Joo, dengan paksa ia menyingkirkan tangan Choi Jin Chul dari tubuhnya.

Presdri Choi seperti terkena serangan jantung dadakan. Ia berusaha menggapai dinding untuk mencari pegangan. Joon Ha meninggalkannya begitu saja dan menghampiri Dong Joo.
Joon Ha : “Kau mau apa? Semua yang mau kau ambil dari Choi Jin Chul sudah kuambil. Kau harus berhadapan denganku kalau kau mau menginginkan Woo Kyung.”
Joon Ha berlalu dari hadapan Dong Joo. Presdir Choi berusaha berdiri ia menelepon Sek Kim.
Dong Joo pulang ke rumahnya. Ia memandangi ikan-ikannya. Dong Joo mengambil ponselnya dan membaca sms dari Woo Ri, ‘Kau tak lupa kalau aku masih menunggu kan? Begitu semua berakhir kau harus membelikan aku sesuatu. Harus.’

Woo Ri membaca sms balasan dari Dong Joo, ‘Penawaran kencan pertama, ayo bertemu.’
Woo Ri menghela nafas. Dong Joo menunggu sms balasan dari Woo Ri tapi tak kunjung datang.
Esok harinya Dong Joo mengajak Woo Ri kencan. Keduanya berada di dalam mobil. Woo Ri menyentuh bahu Dong Joo dan bertanya apa Dong Joo tak merindukannya. Dong Joo menjawab kalau ia lupa karena sangat sibuk. Woo Ri berkata kalau ia sangat terkejut ketika menerima tawaran kencan dari Dong Joo. Memangnya Dong Joo itu siapa. Dong Joo tertawa dan meminta Woo Ri mengatakan saja apa yang ingin Woo Ri lakukan.
Woo Ri langusng mengambil ponsel dan mengarahkannya ke Dong Joo. Ia memotret sembarangan. Dong Joo melarang Woo Ri mengambil gambarnya begitu. Woo Ri minta Dong Joo bergaya. Dong Joo langsung bergaya sesuai arahan Woo Ri sambil mengemudi dan tersenyum.

Dong Joo minta Woo Ri memaafkannya karena ia sudah berbuat kesalahan dan tak pernah menghubungi Woo Ri karena sibuk. Woo Ri merengut diam. Dong Joo kembali meminta Woo Ri memaafkannya. Dengan judesnya Woo Ri menolak, ia akan balas dendam pada Dong Joo. Tapi cemberutnya itu langsung diikuti dengan senyuman.

Ada yang menelepon Woo Ri sepertinya Joon Ha tapi Woo Ri mematikan dan langsung menonaktifkan ponselnya. Dong Joo heran dan bertanya siapa yang menelepon. Woo Ri tak mengatakannya dan beralasan kalau ini kencan pertamanya tak boleh ada yang mengganggu.
Presdir Choi berada di dalam mobil di depan apartemen Joon Ha. Sek Kim memberi tahu kalau Joon Ha ada di rumah tapi tak mengangkat telepon. Sek Kim bertanya apa Presdir Choi akan langsung ke kantor tapi Presdir berkata ia akan ke Pucheon.
Dong Joo dan Woo Ri jalan berdua menikmati pemandangan danau. Dong Joo mulai menceritakan hari-harinya setelah ia dipecat. Setiap hari yang ia lakukan adalah makan, minum alkohol, lalu tidur dan waktu berjalan sangat cepat. Banyak hal yang tadinya tak terpikirkan olehnya muncul begitu saja.

Dong Joo : “Choi Jin Chul adalah ayah Jang Joon Ha, X adalah Y. Kenapa sulit membayangkannya? Kalau bagi Cha Dong Joo yang IQ-nya 300 saja sulit apa lagi bagi Bong Woo Ri.”

Woo Ri merasa akan lebih mudah menjawab soal matematika. Sesulit apapun pasti bisa diselesaikan. Jawaban salah atau benar tinggal dihapus, selesai sudah.
Dong Joo menyindir apa Woo Ri tak pernah belajar dengan serius. Woo Ri malah bertanya kenapa harus belajar serius karena semua temannya yang belajar serius semuanya aneh-aneh. Cha Dong Joo yang IQ-nya 300 saja dipecat dari perusahaan. Jang Joon Ha seorang dokter yang tak bekerja di rumah sakit. Yang normal hanya dirinya.

Dong Joo tertawa dan membenarkan ucapan Woo Ri. Sekarang Jang Joon Ha sudah sulit ia tangani. Sekarang ia tahu cara mengakhiri perseteruan ini. Ia harus mengembalikan semua yang telah ia ambil, lalu dengan begitu mungkin perasaan Joon Ha akan lebih baik. Woo Ri tak mengerti dengan ucapan Dong Joo.
Dong Joo berkata kalau ia sudah memikirkannya sejak awal. Ia bisa menjatuhkan Choi Jin Chul dan membuat ibunya senang. Tadinya ia pikir dengan menyerahkan kembali ke Joon Ha akan sia-sia. Tapi, itu semua bohong. “Yang paling diinginkan Joon Ha... aku pura-pura tak tahu saja. Bong Woo Ri, kau... takkan bisa kembali ke Kak Joon Ha, bahkan jika posisi anak pemilik perusahaan diambil.”

Woo Ri : “Kesimpulannya, apa ini semua karena aku?”
Dong Joo : “Tidak. Aku akan mengembalikan Kak Joon Ha, tapi aku tak bisa kehilanganmu. Jadi itu karena aku.”

Dong Joo merasa perseteruan ini tak akan selesai. Woo Ri bertanya kali ini siapa yang menang. Kalah atau menang bukankah Dong Joo tetap ingin dihibur. Woo Ri langsung menarik Dong Joo ke wahana permainan.
Keduanya naik banyak wahana permainan. Dong Joo tak menyangka kalau di tempat ini ada wahana seperti ini. Woo Ri berkata walapun ini sudah ketinggalan jaman tapi masih aktif dan ia sudah 10 kali datang ke sini. Dong Joo membanggakan diri kalau ia sudah 100 kali naik permainan yang seperti ini sebelum usia 13 tahun.

Woo Ri ingin tahu apa Dong Joo pernah ke Disneyland. Dong Joo menjawab tentu saja karena setiap kali Kakeknya bisnis di luar negeri ia selalu diajak ke Disneyland. Sesibuk apapun Kakeknya beliau selalu menyempatkan diri untuk menemaninya memancing bahkan mendaki gunung. Woo Ri tak percaya Dong Joo mendaki gunung. Dong Joo berkata bukankah ia sudah mengatakannya kalau ketika kecil cita-citanya adalah menjadi petualang Indiana Jones.

Selanjutnya Dong Joo dan Woo Ri naik wahana kora-kora.
Woo Ri berteriak kegirangan, “Paman orang ini adalah Indiana Jones. Sekali lagi.” Dong Joo memejamkan matanya ketakutan dan berpegangan pada Woo Ri.
Tapi setelah itu Woo Ri yang tak kuat, “Paman sudah dong. Berhenti.” Wajah Woo Ri memelas.
Giliran Dong Joo yang semangat, “Kenapa? Lebih lama lebih asyik. Kupikir aku akan jatuh naik ini tapi ternyata asyik sekali. Paman seratus kali lagi!”
Woo Ri dan Dong Joo keluar dari cable car. Woo Ri tak tahan lagi perutnya mulai mual. Dong Joo khawatir apa Woo Ri tak apa-apa. Apa pergi saja. Woo Ri menolak karena sudah terlanjur datang wahananya harus dimainkan semua.
Woo Ri berjalan meringis Dong Joo mencegatnya dan langsung jongkok. Ia meminta Woo Ri naik ke punggungnya ia akan menggendong Woo Ri.
Woo Ri ragu dan menolak ia beralasan badannya berat. Dong Joo berkata kalau keberatan Woo Ri akan ia jatuhkan. Woo Ri terharu dan menarik nafas dalam-dalam. Ia langsung naik ke punggung Dong Joo (siapa mau? saya saya haha)
Dong Joo mengendong Woo Ri tanpa kesulitan. Woo Ri tersenyum dan bicara tapi karena Dong Joo menggendong Woo Ri, Dong Joo tak tahu apa yang dikatakan Woo Ri.

“Cha Dong Joo aku menyukaimu. Mungkin takdir terus mempertemukan kita. Sejak pertama kali bertemu. Sebenarnya aku juga tak bisa mendengar. Tidak, aku bisa mendengar tapi aku pura-pura tak bisa dan hanya mau mendengar apa yang mau kudengar. Kata-kata bahwa kau menyukaiku, kata-kata bahwa kau mau bersamaku.”

Kemudian Woo Ri sedih, “Tapi karena aku, Kakak memusuhimu. Aku tahu tapi aku pura-pura tak tahu. Pura-pura tak mendengarkan. Tapi aku lebih dulu bertemu Kakakku. Dia menakutkan dan pantas dikasihani.” Woo Ri menangis, “Menakutkan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana Kakak bisa jadi seperti ini, apa yang harus kita lakukan?”
Dong Joo seakan merasakan apa yang diucapkan Woo Ri, ia ikut merasakan kesedihan Woo Ri. Dong Joo langsung melantunkan reff lagu Good Person untuk menghibur Woo Ri. Woo Ri terharu mendengarnya.

Niga wooseumyuhn nado joha nuhn jangnanira haedo
Nuhl gidaryuhdduhn nal, nuhl bogo shipduhn bam
Naegen buhkchan haengbok gadeukhande
Naneun honjayuhdo gwaenchanha nuhl bol sooman iddamyuhn
Neul nuhui dwiesuh, neul nuhl baraboneun geuge naega gajin mogshin guhtman gata


(Huhu sedih liat Dong Joo nyanyi buat menghibur Woo Ri walaupun nadanya ga tepat)
Joon Ha memasukan ikan ke aquarium kecil. Ia menatap ikan itu dan bicara padanya, “Haruskah aku memberimu nama? Bagaimana kalau kuberi mana ‘aku’?”
Joon Ha kesepian ia hanya seorang diri ditemani ikan barunya.
Dong Joo dan Woo Ri melihat keindahan tebing dan danau. Woo Ri bertanya apa yang Dong Joo sukai darinya. Dong Joo menjawab semuanya.

Woo Ri tersenyum, “Wuah... aku pasti gadis yang paling bahagia kalau Cha Dong Joo yang ‘tak ada yang tak bisa kau lakukan’ menyukaiku. Dan aku akan merasa nyaman. Ayo kita putus!”
“Apa?” Dong Joo terkejut mengetahui ajakan putus dari Woo Ri.
Woo Ri : “Ketika aku menginap di rumah Kakakku. Membuatkan nasi, ketika makan nasi, nonton film dan ngobrol, aku hanya memikirkan Cha Dong Joo. Itulah kenapa aku tak bisa menyatu dengannya. Aku akan kembali padanya dan mencoba lagi. Bisakah kau menungguku?”
Woo Ri hampir menitikan air mata, ia tak bisa melihat Kakaknya dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini. “Karena aku gadis yang baik, kau bisa menungguku kan?”
Dong Joo mengerti dan mengangguk pelan. Ia meminta Woo Ri mendengarkannya sebelum pergi, “Ketika Bong Ma Roo berusia 14 tahun. Ketika dia meninggalkan rumah, dia mendatangi ibuku. Memohon agar Bong Young Kyu diselamatkan (dikeluarkan dari penjara) makanya kubilang Kakakmu tak pernah meninggalkan keluarganya. Itulah kenapa aku ikhlas melepasmu. Walaupun kau mungkin akan disakiti Bong Ma Roo. Itu karena adiknya.”

Woo Ri menangis tak percaya. Apa benar Kakaknya minta keluargnya diselamatkan. Dong Joo mengangguk tersenyum dan meminta Woo Ri mendekati Ma Roo secara baik-baik. Woo Ri berjanji.
Woo Ri : “Bos aku akan kembali setelah misi ku berhasil.”
Woo Ri langsung pergi meninggalkan Dong Joo.
“Sekertaris Bong!” panggil Dong Joo. Woo Ri berbalik menatap Dong Joo.
Dong Joo : “Kalau kau mau melakukannya dengan benar lalu kenapa kau pergi? Bong Woo Ri adik Bong Ma Roo yang harus pergi.”
Woo Ri mengangguk penuh air mata.
Dong Joo : “Kau harus menepati janjimu. Kembalilah segera!”
Woo Ri kembali mengangguk. Dong Joo memperagakan bahasa isyarat ‘anak bodoh’ pada Woo Ri sambil tersenyum.
Woo Ri tersenyum sedih dan pergi meninggalkan Dong Joo seorang diri disana.



re-posted and re-edited by : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment