Friday, October 04, 2013

Can You Hear My Heart Episode 25

Dong Joo dan Woo Ri berada di bawah pohon besar, keduanya duduk berdampingan. Dong Joo menunjukkan permainan pianikanya dan setelah itu Woo Ri gantian memainkannya dan Dong Joo mengajarinya. Sementara Woo Ri memainkannya, Dong Joo menutup kedua telinga dengan tangannya.
Woo Ri meminta pendapat Dong Joo tentang permainan pianikanya. Tapi Dong Joo menutup telinga dan memejamkan matanya.

(Dong Joo rambutnya baru, habis potong rambut dia haha.. tambah cakep hihihi)

“Apa mainnya sudah?” Tanya Dong Joo dan meminta Woo Ri memainkan lagu yang lain. Woo Ri tersenyum dan menabok Dong Joo. Dong Joo tersenyum membuka mata dan mulai menggoda Woo Ri, “Tak bisa kah kita?” Woo Ri pura-pura tak mengerti, “Apa?”
Dong Joo mendekatkan wajahnya, “Kau tahu maksudku!” Dong Joo tersenyum mencurigakan. “Aku pulang saja!” sahut Woo Ri akan berdiri tapi Dong Joo manariknya untuk kembali duduk.
Keduanya berpandangan kemudian Woo Ri memejamkan matanya. Dong Joo terkekeh dan plok... Dong Joo menabok kepala Woo Ri dan menyuruh membuka mata.
Dong Joo : “Kalau terburu-buru seperti itu memangnya kau bisa tahan?”
Woo Ri : Apa?
Dong Joo : “Woo Ri, aku menyukaimu dan aku ingin kita selalu bersama. Tapi, saat kau bersamaku kau akan menjadi susah. Jadi, apa mungkin suatu saat nanti kau tak akan mau bersamaku lagi...”
Belum selesai Dong Joo bicara Woo Ri langsung menyambarnya dengan ciuman. Woo Ri tersenyum, “Kalau memang begitu lalu kenapa? Apa aku boleh meninggalkanmu? Kau berbohong!”
Dong Joo mengaku kalau ia sudah berbohong karena walau bagaimanapun ia berharap Woo Ri selalu di sisinya. “Kalau begitu, jangan pergi dan selalu dengarkan kata-kataku!”
“Apa yang akan kau katakan? Apa itu?” Woo Ri penasaran.
Dong Joo : “Apa kau tahu kenapa Kak Joon Ha marah?”
Woo Ri mengangguk. Bukankah Dong Joo adiknya, ia merasa Joon Ha berhak marah. Selama 30 tahun dia tak tahu dan dia berfikir kalau ini tak adil. Kemudian dengan penuh keyakinan Woo Ri berkata dengan seiring berjalannya waktu kemarahan Joon Ha juga akan mereda.

Tapi Dong Joo tak yakin. Ibunya tahu kalau Joon Ha anak Choi Jin Chul tapi ibunya tetap membesarkan Joon Ha seperti anak sendiri, “Aku menjadi tuli karena Choi Jin Chul. Karena luka yang disebabkan ibuku sekarang Kakakku juga tuli. Kami berdua sekarang sama-sama tuli!”
Woo Ri terdiam mendengar penjelasan Dong Joo. Dong Joo meminta Woo Ri menjawab pertanyaannya, “Apa kau mau tetap bersamaku dengan keadaanku yang seperti ini?” Woo Ri menatap Dong Joo, keduanya bertatapan lama tanpa berkata-kata.
Joon Ha membuka foto di ponsel Dong Joo isinya foto keluarga Woo Ri dan foto Joon Ha dulu. Joon Ha juga membuka kotak masuk sms dan menghapus beberapa sms dari Woo Ri. Salah satunya berbunyi, ‘Akan kuajari kau pianika datanglah ke pohon besar’ Joon ha terlihat marah mereka berdua tengah bersama. Terdengar seseorang membuka pintu tapi Joon Ha tak beranjak dari tempat duduknya.
Dong Joo dan Woo Ri sampai di sana. Dengan sikap dinginnya Joon Ha melempar ponsel dan menghampiri Dong Joo sambil menyerahkan koran. Joon Ha berkata kalau wartawan sudah menulisnya dengan baik, Dong Joo membaca beritanya
Cucu pendiri Woo Kyung : Cha Dong Joo adalah saksi kematian Kakeknya’
Joon Ha berpesan lebih baik kenangan itu dikubur saja tapi Dong Joo menolak walau bagaimanapun ia tak akan menutupi kenyataan. Joon Ha berkata kalau orang-orang hanya melihat kenyataan yang bisa mereka lihat kalau memang ini tidak adil ia meminta Dong Joo membuktikannya. Dong Joo akan melakukan itu tapi demi nama baik Woo Kyung ia akan bersabar.
Joon Ha : “Apa pedulimu dengan nama baik Woo Kyung? Aku adalah orang yang paling berhak atas nama baik Woo Kyung dibandingkan dirimu. Aku akan menyingkirkan semua orang yang menghalangiku tak peduli itu Energy Cell atau Cha Dong Joo.”
Woo Ri yang dari tadi mendengarkan saja ingin ikut bicara, “Kakak?” Tapi Joon Ha mengacuhkannya. Joon Ha mengingatkan Kalau Dong Joo mau mempertahankan posisi lebih baik menutup mulut Tae Yeon Suk dan jangan membiarkan dia membuang tenaga sia-sia. Joon Ha langsung pergi dari sana. Woo Ri hanya bisa menarik nafas melihat Joon Ha pergi.

Dong Joo menyimpan koran yang diberikan Joon Ha tadi. Woo Ri penasaran tentang isi beritanya. Dong Joo berkata kalau isi beritanya tak penting.
Dong Joo ingin tahu apa arti dari bahasa isyarat yang diperagakan Woo Ri.
“Pabo kate ‘Kau bodoh’.” jawab Woo Ri tanpa ekspresi.
Dong Joo kaget, apa?
Woo Ri memperagakan bahasa isyaratnya, “Pabo kate.” ulang Woo Ri.
Dong Joo : “Jadi artinya bukan keren? Atau hidungku mancung? Atau aku ini tampan?”
Woo Ri : “Apanya yang keren?”

Dong Joo merengut, tapi kemudian tatapannya berubah sendu. Woo Ri tanya ada apa. Dong Joo langsung keluar rumah Woo Ri mengikutinya. Dong Joo membuka pintu mobil dan menyuruh Woo Ri masuk. Woo Ri bertanya mau kemana.
Joon Ha dan Min Soo bertemu di sebuah restouran. Min Soo tanya dimana Dong Joo bukankah Joon Ha bertemu Dong Joo. Dengan sikap dingin Joon Ha berkata kalau Dong Joo ada di rumahnya bersama Woo Ri. Min Soo penasaran apa sebenarnya hubungan mereka bertiga, “Apa cinta segitiga?” Joon Ha tak menjawab, Min Soo mendesaknya, “Tak mungkin kalau ini cinta segi empat atau ada hubungan dua pasang kekasih.”
Joon Ha sedikit tersenyum, “Baiklah. Sepertinya hubungan dua pasang kekasih. Dari pada membuat kita pusing lebih baik kita pacaran.” (hah?)
Min Soo jadi gelagapan.
Joon Ha : “Kenapa? Ketika di Amerika kau menyatakan itu padaku.”

Min Soo mulai merengut itu karena Joon Ha dulu selalu mengedepankan Dong Joo dan membuatnya patah hati. Joon Ha berkata benar tapi di Make Up Show kemarin Dong Joo sudah menyingkirkannya. Setelah sekian tahun hanya dalam waktu singkat ia sudah disingkirkan.

Joon Ha : “Kang Min Soo jadilah pacarku dan aku akan memperlakukanmu dengan baik.”
Min Soo : “Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?”
Joon Ha : “Aku tak suka kau menyukai Dong Joo. Kau harus menyukaiku. Ayahmu pasti setuju.”
Joon Ha meminta Min Soo memikirkannya kembali.
(Oh oh Apalagi rencana Joon Ha ingin mendapatkan saham lebih banyak kah?)
Dong Joo mengantar Woo Ri ke suatu tempat, apartemen Joon Ha. Woo Ri masih bingung ia belum mengenal tempat ini dan bertanya di mana ini.
Dong Joo memberi tugas pada Woo Ri untuk bicara dengan Joon Ha, “Masuklah dan dengarkan apa yang dikatakan Jang Joon Ha.” Woo Ri kaget mendengar apa yang diperintahkan Dong Joo padanya.

Dong Joo berkata hari ini mungkin Woo Ri akan sibuk tapi coba dengarkan dia. Apapun bisa ia lakukan tapi yang ini ia tak bisa melakukannya, “Bantu aku melakukan hal yang aku tak mampu.” Kata Dong Joo. Woo Ri masih diam, Dong Joo meminta Woo Ri segera pergi sebelum ia berubah pikiran.
Woo Ri tersenyum dan menggenggam tangan Dong Joo, “Terima kasih!” batin Woo Ri sambil terus tersenyum.
“Oh.. jangan tersenyum!” batin Dong Joo sambil memperlihatkan muka manisnya hehe..
Dong Joo ke kantor Woo Kyung, ia berpapasan dengan Presdir Choi. Dong Joo ingin bicara tapi Presdir memintanya nanti saja sambil berlalu.
Dong Joo tanya nanti itu kapan, langkah Presdir terhenti dan membelakangi Dong Joo. “Aku tak bisa mendengarmu kalau kau ada dibelakangku. Datanglah ke depanku supaya aku bisa membaca gerak bibirmu.” Presdir Choi berbalik tapi masih membelakangi Dong Joo.
“Cha Dong Joo!” panggil Presdir tapi Dong Joo tak mengetahuinya. Dong Joo berbalik badan ia sedikit terkejut Presdir sudah ada tepat dibelakangnya. Dong Joo mengira kalau Presdir sudah pergi.
Presdir Choi mengajak Dong Joo bicara di ruangannya. Dong Joo menatap plat nama Choi Jin Chul di meja dan mengelusnya. Presdir meminta Dong Joo duduk tapi Dong Joo tak menyadari Presdir bicara.
“Bolehkah aku duduk disini?” Tanya Dong Joo. Presdir mulai kesal dan menepuk Dong Joo, “Sudah kubilang duduk disini!” Dong Joo minta maaf karena ia tak bisa mendengar Presdir bicara.
Presdir Choi menegaskan kalau ia bukan penyebab Dong Joo menjadi tuli. Kalau Dong Joo tak kehilangan ingatan seharusnya Dong Joo tahu itu.
Dong Joo malah bertanya kapan ia menyatakan kalau Presdir Choi penyebab ketuliannya. Ia ingin Presdir Choi melakukan sesuatu terhadap artikel di koran yang dibawanya. Dong Joo menatap Presdir sesantai mungkin, “Aku terkejut melihat yang tak seharusnya kulihat!” (kejadian yang menimpa Kakek)
Presdir : “Apa kau punya bukti? Siapa yang akan pecaya padamu? Baiklah. Anggap saja mereka percaya padamu, tapi kasusnya sudah lama berlalu ancamanmu sudah terlambat. Kau terlambat.”

Dong Joo berkata kalau ia tak berminat memasukan Presdir Choi ke penjara karena itu terlalu mudah. Yang diinginkannya adalah Presdir Choi minta maaf pada ibunya, uang ibunya diperdaya orang lain lalu kehilangan ayahnya ditangan orang itu. Anaknya kehilangan pendengaran. “Ibuku, sebelum dia menjadi gila kau harus mundur dan minta maaf pada ibu.”

Presdir Choi tersenyum sinis ia tak tahu apa kesalahannya. Ia berfikir kalau kesalahannya adalah membawa Dong Joo ke rumah sakit pada hari kecelakaan itu. Seharusnya ketika itu Dong Joo ia biarkan mati (sompret nih orang) “Seperti yang kau katakan, sebelum dia menjadi gila bawa dia ke Amerika!”

Dong Joo menghela nafasnya, daripada Presdir Choi melakukan itu lebih baik minta maaf pada ibunya. Presdir Choi diam.
Dong Joo maju menatap tajam Presdir Choi, “Apa kau dengar itu? apa kau dengar? Sebelum aku menutup kesabaranku!”
Presdir marah melihat sikap Dong Joo padanya, ia akan melayangkan tamparan pada tapi Dong Joo langsung menahan tangan Presdir Choi, “Ayah. Kalau kau tak mau minggir aku sendiri yang akan menyingkirkanmu. Bersiaplah.”
Dong Joo langsung keluar dari ruangan, Presdir Choi geram ia meminta sekertarisnya memanggilkan Joon Ha.
Joon ha pulang ke apartemennya dan terkejut melihat Woo Ri ada di sana. Woo Ri masih memanggilnya dengan sebutan Kakak. Joon Ha mengatakan kalau ia sudah lelah memperingatkan Woo Ri jangan menyebutnya seperti itu.
Woo Ri mengerti, “Orang yang bukan Bong Ma Roo atau Jang Joon Ha, tunjukan dimana rumahmu aku mau lihat bagaimana kau hidup. Kerena kau bilang malu hidup bersamaku. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri.”
Joon Ha lelah ia menyuruh Woo Ri pulang. Joon Ha akan masuk tapi Woo Ri menghalangi jalannya dan berkata kalau ia juga lelah dan meminta Joon Ha memberinya segelas air. “Aku bahkan tak bisa ke kamar kecil gara-gara menunggumu,”

Joon Ha menerima telepon dan ia bergegas kembali ke mobilnya tak jadi masuk ke rumah. Woo Ri membuntutinya. Woo Ri tanya kapan ia harus datang lagi karena sekarang sepertinya Joon Ha ada urusan penting. Joon Ha bilang terserah karena bukan dirinya yang mengajak Woo Ri datang. Joon Ha langsung masuk ke mobil dan tancap gas.
Shin Ae mengeluh kakinya pegal dan menyuruh ibunya memijit kakinya. Ia ngedumel mereka menyembunyikan anaknya dan tak membiarkan dirinya masuk. Nenek berkata biarkan saja jangan pedulikan. “Mulai sekarang anggap saja kau tak punya anak, tinggal saja bersama ibumu.”

Shin Ae : “Mana mungkin aku melakukan itu? untuk bisa bertemu Ma Roo sudah 4 hari aku menunggu diluar kantor.”
“Young Kyu sudah 16 tahun menunggunya!” sahut Nenek.
Shin Ae : “Padahal dia kan bukan ayah biologisnya.”
Nenek : “Itu membuatku gila, yang bukan ayah biologis saja seperti itu. Selama itu dia selalu menyiapkan makanan untuk Ma Roo dan malam hari dia tidur di luar menunggunya.”

Shin Ae tak mau mendengar itu, ia celingukan dan bertanya dimana Woo Ri, ia menerka mungkin sekarang Woo Ri tengah menemui putranya. Dia dekat dengan Cha Dong Joo dan juga Ma Roo. Terakhir ia melihat di kantor dan Ma Roo membela Woo Ri. Ia benar-benar tak menyangka kalau Joon Ha itu Ma Roo. Tadinya ia berfikir kalau Joon Ha itu pacarnya Woo Ri.
Nenek menabok Shin Ae karena tak bisa mengenali anak sendiri. Paman Lee datang, Shin Ae heran melihatnya kenapa Paman Lee selalu masuk ke rumah orang. Nenek menyahut kalau ini rumah Paman Lee. Nenek mengingatkan Shin Ae jangan pernah berharap kalau Ma Roo akan memanggil Shin Ae dengan sebutan ibu.
“Benar.” bentak Paman Lee, “Selama dia sekolah SD ibunya Seung Chul yang selalu menjemputnya, kau tak punya hak.” Shin Ae makin kesal mendengarnya.
Joon Ha menemui ayahnya di kantor, ia melihat ayahnya tengah melamun dan bertanya apa ada yang salah. Ayahnya meminta mulai sekarang Joon Ha jangan seperti ini. Presdir Choi menunjukan koran yang ia terima dari Dong Joo.
Joon Ha tanya kenapa, ini ia lakukan untuk melindungi ayahnya. Presdir Choi tanya apa Joon Ha pikir ini akan berhasil jangan terlalu menyudutkan Dong Joo, “Tikus yang terpojok pun dia akan menyerang kucing.”
Joon Ha : “Jadi menurutmu dia sebaiknya ku elus-elus saja? Kalau Dong Joo semenakutkan itu kapan dia akan pergi?”
Presdir berjanji ia akan memasukan nama Joon Ha ke daftar keluarga tapi kalau ia mengumumkan itu di publik Dong Joo akan menjadi tenang. Dong Joo mungkin akan membencinya tapi Dong Joo tak akan bisa apa-apa sejak Joon Ha bersamanya. Joon Ha tersenyum dengan rencana ayahanya, akhirnya ayahnya menggunakan dirinya untuk menghentikan Dong Joo.
Presdir : “Kalau anak itu pergi tidak akan bagus untuk kita berdua.”

Joon Ha memberi tahu kalau ada cara lain untuk menyingkirkan Dong Joo dan Tae Yeon Suk tanpa harus mencelakakan dirinya dan ayahnya, “Kudengar ada wasiat lain yang ditinggalkan Presdir Tae.” Presdir Choi sedikit terkejut mendengar ini.
Joon Ha : “Belum pernah kulihat tapi kurasa itu memang ada. Bagaimana lagi mereka bisa menyeret masalah ini?”
Presdir : “Jadi? Apa yang akan kau lakukan?”

Joon Ha berfikir kalau Dir Kang belum mengetahui ini, “Kita punya cara lain. Karena kita masih orang asing pindahkan seluruh sahammu padaku. Daripada ayah kehilangan semua itu karena berhadapan dengan Dong Joo. Bukankah itu tak masalah bagimu?”
Dong Joo pulang ke rumah dan ia terkejut melihat ibunya tertidur di sofa. Ia membetulkan letak posisi ibunya tidur. Ny Tae tidur sambil menggenggam amplop hitam yang dibawanya. Dong Joo mengambil amplop itu dan membetulkan letak selimut ibunya.
Dong Joo menelepon seseorang dan berkata kalau ia sudah memeriksa dokumen kontrak yang ia bicarakan waktu itu.
‘Suamiku pasti senang bertemu denganmu sepertinya dia punya waktu besok’ itu yang tertulis di layar ponsel Dong Joo.
Selesai menelepon Dong Joo memandang amplop hitam itu sambil sesekali memandang ibunya yang terlelap di sofa.
Ada sms dari Woo Ri, ‘Bos misi kita gagal. Bong Ma Roo dan Jang Joon Ha, mereka sudah gila sepertinya perang ini akan berlangsung lama.’
Dong Joo tersenyum membacanya dan membalas sms Woo Ri..
Woo Ri bersiap tidur dan ia mendapat balasan sms dari Dong Joo, ‘Datanglah ke taman botani jam 2 kau harus menerima hukuman atas kegagalanmu. Sebelum itu kau tak boleh menemuiku.’
Joon Ha dan Presdir Choi makan bersama di sebuah restouran. Joon Ha berkata kalau rapat hari ini berjalan lancar kita bisa menyingkirkan Energy Cell dengan cepat. Presdir mengerti itu dan Joon Ha harus merahasiakan ini dari Dong Joo dan berpesan supaya hati-hati.

Kemudian datanglah seorang pria. Pria itu minta maaf karena terlambat datang. Presdir berkata kalau ada perusahaan lain yang menginginkan Energy Cell, tidakkah keterlambatan itu keterlaluan.

Pria itu bersyukur karena Presdir Choi menawarkan pertama kali padanya. “Kupikir kau mencoba memanfaatkan ketidakmampuan anakmu (Dong Joo yang tak bisa mendengar) aku ternyata sudah berprasangka buruk padamu!” sahut pria itu yang ternyata calon pembeli Energy Cell.

Presdir tertawa ia mengaku kalau ia memang mencintai uang tapi siapa yang mau menjatuhkan anaknya sendiri ia juga manusia. Joon Ha hanya diam saja. Pria itu bertanya berapa harganya ia berharap Presdir Choi tak memasang harga tinggi. Presdir berkata untuk masalah harga bicarakan dengan Joon Ha. Joon Ha menyerahkan berkas dokumennya.

Pria itu mengajak minum terlebih dahulu tapi Joon Ha meminta minumnya nanti saja setelah kontrak ditandatangani, karena Joon Ha melihat sepertinya pembeli ini sudah membuat keputusan dan tak perlu membuang waktu silakan menyebutkan harga yang ditawarkan.
Ny Tae menyiapkan makanan untuk Dong Joo dan membawanya ke kamar. Ia tanya apa Dong Joo ingin agar ia tinggal bersama Dong Joo. Tapi Dong Joo menolak.
Dong Joo : “Ibu apa kau merasa kesepian? apa Ibu ingin aku pulang?”
Ny Tae : “Tidak, kau sudah nyaman tinggal disini.”
Dong Joo : “Ibu mau aku pulang kan? Apa ibu pikir aku merasa nyaman disini? Aku akan berkemas sekarang.”
Ny Tae : “Sudah kubilang aku tak mau. Aku baik-baik saja sekarang. Choi Jin Chul lah yang akan merasakan penderitaan, aku ini penuh dendam.”
Dong Joo : “Aku tak suka itu. Aku tak ingin wanita yang kucintai menyimpan dendam.”

Dong Joo mengenggam tangan ibunya dan meminta ibunya kembali ke diri ibu seperti yang dulu. Ny Tae hanya tersenyum mendengar keinginan putranya.

Ny Tae melihat putranya tak mengenakan arloji, ia meminta Dong Joo memakai itu karena ada orang yang datang. Dong Joo berkata kalau ia ingin terbiasa hidup tanpa alat bantu dan yang datang itu mungkin staf Energy Cell dan meminta ibunya mengatakan pada mereka kalau sebentar lagi ia akan menemui mereka. Ny Tae mengerti dan langsung keluar.
Ny Tae terkejut melihat siapa yang datang, Joon Ha dan juga Staf Energy Cell. Kim Bi dan Min Soo. Dong Joo keluar akan menemui tamunya dan ia juga terkejut melihat Joon Ha juga datang.
Joon Ha : “Kau terlihat sehat-sehat saja. Kupikir kau pingsan lagi. Makanya kau suruh pegawaimu datang ke sini kan?”

Min Soo berkata kalau ia bertemu Joon Ha diluar ketika akan berangkat ke rumah Dong Joo. Joon Ha ingin tahu ada pertemuan apa di rumah Dong Joo, apa ada hal yang tidak harus ia ketahui tentang Energy Cell. Dong Joo tak menjawabnya ia meminta yang lain memulai pertemuan mereka.

Ny Tae memandang kesal Joon Ha. Joon Ha meminta Ny Tae membuatkan kopi untuknya, bukankah Ny Tae tahu selera kopinya. Ny Tae tambah kesal melihat tingkah Joon Ha. Dan Ny Tae pun membuatkan minuman untuk mereka semua.
Dong Joo menyembunyikan sebuah dokumen dan Min Soo menyentuh lengan Dong Joo, “Bagaimana perasaanmu?” tanya Min Soo.
Kim Bi memberikan kode kalau ia juga mau bicara dengan Dong Joo. Ia bilang kalau ia masih belum percaya bagaimana Dong Joo bisa lancar bicara padahal Dong Joo tak bisa mendengar. Dong Joo tersenyum.

Joon Ha mengingatkan kalau mau bicara lebih baik satu-satu karena Dong Joo hanya bisa membaca satu pembicaraan dalam satu waktu.
Dong Joo : “Kenapa kau menanyakan hal yang sudah kau tahu? Kau yang mengajariku seperti itu.”
Joon Ha : “Tapi tetap saja kau tak bisa mendengar.”

Dong Joo tanya ke Kim Bi apa contoh iklannya sudah selesai. Joon Ha ikut menyahut meminta Kim Bi mengeluarkan ide dan mereka akan beriklan di TV. Min Soo tak percaya apa anggarannya cukup. Kim Bi menambahkan kalau beriklan di TV pasti akan memberikan dampak yang besar, Kim Bi tersenyum senang.

Ny Tae menyuguhkan minuman. Sambil menyuguhkan ia berkata tak perlu mendengar perkataan orang lain kita sudah cukup punya peluang. Kita perlu mendapatkan pendapatan lima kali lebih besar dari sekarang. Joon Ha berkata tak apa-apa karena pemilik perusahaan sudah memberikan semuanya, ia meminum minuman yang disuguhkan Ny Tae. Nya Tae memandang kesal Joon Ha, semuanya jadi merasa canggung.

Dong Joo meminta ibunya lebih baik membicarakan masalah ibunya berdua dengan Joon Ha di luar. Ia dan pegawainya harus mendiskusikan sesuatu.
Tiba-tiba Woo Ri masuk dan minta maaf karena terlambat datang. Ny Tae jelas tak suka dengan kedatangan Woo Ri. Dong Joo meminta Woo Ri segera bergabung. Dong Joo menyebut Woo Ri sekertaris.

Ny Tae heran Dong Joo menyebut Woo Ri dengan sebutan sekertaris. Min Soo tanya apa benar Woo Ri itu sekertaris-nya Dong Joo. Ny Tae menyindir seharusnya Dong Joo memlilih sekertaris yang lebih baik. Ny Tae meminta Woo Ri ikut dengannya dan membantunya di dapur.

Dong Joo melarang ia memanggil Woo Ri bukan untuk membantu pekerjaan ibunya, Woo Ri bilang tak apa-apa dan menyuruh yang lain meneruskan pekerjaannya. Woo Ri segera menyusul Ny Tae ke dapur.

Dong Joo akan menyusul keduanya tapi Min Soo meminta Dong Joo cepat menyelesaikan pertemuan ini karena ia harus segera ke Lab.
Woo Ri menawarkan diri apa yang harus ia lakukan. Ny Tae berkata dengan sinis kalau Woo Ri itu tak tahu malu barani datang ke sini.
Joon Ha tiba-tiba masuk dapur dan meminta kopi lagi, “Woo Ri tolong ambilkan!”
Ny Tae berkata kalau Woo Ri dan Joon Ha itu sama saja, “Kalian tak tahu dimana tempat kalian.”
Joon Ha : “Aku baru saja mau mengatakan itu padamu. Kau tahu kalau ayahku sudah tak suka kenapa kau masih tinggal di rumah dan tak pergi saja.”
Woo Ri : Kakak?
Ny Tae : “Kakak? Kau masih menganggap anak Choi Jin Chul ini kakak. Pembunuh ibumu? Dia anak pembunuh apa kau tak jijik padanya?”
Woo Ri diam tak menjawab. Dong Joo tak bisa konsentrasi ia bergegas menuju dapur.
Ny Tae : “Kalian berdua tak tahu tempat kalian.”
Joon Ha : “Itu yang mau kukatakan kenapa kau tak tahu tempatmu bicara seperti itu pada adikku. Woo Ri pergilah kencan dengan manusia normal kau tak usah pacaran dengan Dong Joo yang tak bisa mendengar.”
Woo Ri : Kakak?
Ny Tae emosi anaknya dihina seperti itu. Joon Ha maju dan menatap tajam Ny Tae, “Jangan bersikap kasar pada adikku.”
Dong Joo membalikan badan Joon Ha dengan kasar ia meminta Joon Ha pergi saja kalau sikap Joon Ha masih seperti itu.
Joon Ha memandang marah Dong Joo, “Apa yang kau lakukan? bukankah kau mau menjaga Bong Woo Ri? Tak bisakah kau mengontrol ibumu?”

Untuk meredakan suasana Woo Ri berniat mengajak Joon Ha pergi dari sana tapi Dong Hoo menahan tangan Woo Ri dan meminta tetap tinggal. Joon Ha menepiskan tangan Dong Joo dari tangan Woo Ri, “Lepaskan tanganmu dari Bong Woo Ri!”
Dong Joo meninggikan suaranya, “Memangnya siapa kau berani menyuruhku?”
Joon Ha : “Bong Woo Ri adalah adikku. Aku tak akan menyerahkan dia pada orang sepertimu.”

Joon Ha menggandeng tangan Woo Ri dan menariknya keluar. Dong Joo hanya bisa melihat dan menahan kesal.
Di luar, Woo Ri heran dengan sikap Joon Ha. Kenapa Joon Ha bicara seperti itu bukankah Dong Joo tak bisa mendengar.
Joon Ha : “Kenapa kau masih menyebut dia Cha Dong Joo. Apa kau suka mendengar namanya?”
Woo Ri : “Apa kakak sudah lupa? Ibuku juga tak bisa mendengar. Aku senang Kakak membelaku tadi. Aku sangat terharu Kakak membelaku. Tapi sebencinya Kakak padanya, kakak tak boleh berkata seperti itu. Ucapan kakak tak hanya menyakiti Cha Dong Joo tapi aku juga.”
Joon Ha : “Aku tak tahu itu. Kalian berdua sama saja. Selalu saja yang menyakitkan adalah menyakitimu. Satu dari kalian sakit, yang satunya ikut merasakan. Begitukan?”

Air mata Woo Ri menetes, “Kakak. Kau benar, aku hanya memikirkan diriku sendiri maafkan aku.”
Joon Ha memberi tahu kalau ia akan berkunjung ke rumah Woo Ri, “Aku kan Kakakmu jadi aku harus datang. Aku tak tahu kapan tapi tunggu saja.”

Joon Ha meminta Woo Ri masuk ke mobilnya. Ia akan mengantar Woo Ri pulang, “Karena aku kakakmu aku harus mengantar adikku pulang.”
Woo Ri menolak ia memilih jalan kaki saja. Kemudian Woo Ri tersenyum, “Pulanglah kalau Kakak sempat, kami semua menunggumu.” Woo Ri langsung jalan pergi, Joon Ha menutup pintu mobilnya kesal.

Ny Tae tak bisa mempercayai ini bagaimana Joon Ha bisa bersikap seperti itu pada putranya. Dong Joo menegaskan kalau dia bukan Jang Joon Ha tapi Bong Ma Roo. Ia berpesan pada ibunya jangan lagi mengganggu Bong Ma Roo dan Bong Woo Ri.
Dong Joo menemui Min Soo dan Kim Bi yang masih duduk di sana. Ia berkata kalau kantor pusat membantu beriklan di TV pasti ada alasan dibalik itu semua, mungkin mereka akan membuat kita sukses kemudian menjatuhkan kita.

Dong Joo memberikan dokumen pada Min Soo dan menyampaikan kalau itu rencana barunya untuk selamat. Ia meminta Min Soo melihat dokumen itu. Min Soo tanya Dong Joo mau kemana. Dong Joo bilang ia tak bisa konsentrasi dan akan langsung keluar.

Ny Tae menarik putranya dan bertanya mau kemana. Dong Joo menjawab kalau ia mau minta maaf atas nama ibunya, Dong Joo langsung keluar.

Dong Joo berlari keluar menyusul Woo Ri yang belum jauh. Joon Ha di dalam mobil melihat Dong Joo berlari menghampiri Woo Ri.
Dong Joo langsung memeluk Woo Ri dari belakang. Woo Ri sedikit terkejut.
Dong Joo : “Woo Ri, ibuku tak menyadari kekurangan anaknya. Maafkan aku. Aku tak akan berbuat seperti ini lagi. maafkan aku Woo Ri.”
Joon Ha sedih melihat ini, ia hampir menangis.
Shin Ae menelepon ke kantor Woo Kyung, lebih tepatnya ke Sek Kim. Ia tanya apa Sek Kim sudah menyampaikan pesannya pada Presidr Choi. Kalau Presdir Choi tetap menolaknya ia akan mengungkap semua rahasia yang ia ketahui. Sementara itu telepon rumah terus berdering. Shin Ae tak mengangkatnya.

Nenek masuk kamar dan mengangkat teleponnya. Ia terkejut mendengar siapa yang menelpon, Ma Roo?
Shin Ae yang ikut mendengarkan juga terkejut dan langsung mematikan ponselnya. Nenek mengerti dan tersenyum senang mendengarnya. Shin Ae merebut telepon itu dari ibunya tapi sayang telaponnya sudah terputus. Wehehe..

Nenek mengambil kembali gagang telepon dari tangan Shin Ae dan menghubungi Young Kyu. Shin Ae penasaran apa yang dikatakan putranya tadi ditelepon.

Young Kyu tengah memberi makan ikan di rumah Dong Joo. Ia tampak terburu-buru. Dong Joo memanggilnya, Young Kyu menyahut tapi tak memandang Dong Joo.
Dong Joo kembali memanggil Young Kyu. Young Kyu menyahut kenapa Dong Joo memanggilnya terus ia sibuk. Dong Joo heran apa terjadi sesuatu. Young Kyu kegirangan dan berkata apa Dong Joo tak tahu, Ma Roo akan pulang hari ini. Hebat kan hebat kan hebat kan.
Dong Joo ikut senang mendengarnya, “Wah Bong Ma Roo pasti akan makan nasi enak buatanmu. Aku jadi iri.” Young Kyu langsung bergegas pulang.
Joon Ha benar-benar berkunjung ke rumah Neneknya. Di depan rumah Shin Ae sudah menunggunya. Shin Ae tersenyum tapi Joon Ha hanya menatapnya dingin dan menghindar. Shin Ae sedikit kecewa dengan sikap putranya.
Young Kyu sampai di sana, Joon Ha melihatnya. Young Kyu jadi serba salah ia langsung menyembunyikan wajahnya di tangga dan melirik dengan sebelah matanya.
“Pabo (bodoh)!” ucap Shin Ae melihat tingkah Young Kyu. Joon Ha terus memandang Young Kyu yang berusaha menyembunyikan wajah. Joon Ha langsung naik menuju lantai 2, Young Kyu tersenyum dan bersorak senang melihat Ma Roo pulang.
Joon Ha duduk memandang foto ketika ia kecil, Nenek senang cucunya berkunjung ke rumahnya.
Shin Ae : “Ma Roo aku tak tahu kau akan datang, ibu jadi tak enak.”
Joon Ha mengacuhkan ucapan Shin Ae dan bertanya pada Nenek bagaimana kabar Nenek. Nenek terkejut Joon Ha menanyakan kabarnya, “Aku? Kau tak usah mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja.”
Paman Lee masuk tergesa-gesa dan ia benar-benar terkejut Joon Ha berkunjung ke rumah, “Ma Roo apa kau ingat aku?” Paman Lee memberikan semua ayam goreng yang dibawanya.
Paman Lee menangis terharu, “Aigoo dia sudah dewasa. Dia menjadi pria yang tampan. Mana Young Kyu?” Nenek mengatakan kalau Young Kyu berada di dapur membuat nasi untuk anaknya.
Paman Lee kembali menangis dan berkata kalau keinginan Young Kyu akhirnya terpenuhi. Paman Lee menyusul sobatnya ke dapur.
Paman Lee meminta sobatnya menemui Joon Ha jangan hanya di dapur saja. Young Kyu menolak ia harus memasak nasi. Young Kyu tersenyum memandang Joon Ha dari dapur, “Mong Goon. Ma Roo itu tampan ya? Dia sudah jadi dokter. Wajah Ma Roo tak berbeda dengan waktu dia masih kecil. Matanya seperti ini... sama. Kalau dia pakai pakaian dokter dia mirip Mi Sook.”

Shin Ae dan Nenek hanya diam memandang Joon Ha. Joon Ha tanya apa Woo Ri belum pulang. Shin Ae menawarkan diri apakah ia harus memanggil Woo Ri. Nenek berkata kalau Woo Ri sebentar lagi akan pulang.
Joon Ha ingin melihat-lihat rumah. Tepat saat itu Woo Ri pulang. Woo Ri senang Joon Ha benar-benar datang.

Di BBQ Chicken, Bibi Lee celingukan mencari putranya.
Seung Chul datang setelah mengantar pesanan dan bertanya apa ada pesanan yang akan dikirim lagi. Bibi Lee meminta putranya menjaga toko. Seung Chul tanya ibunya mau kemana. Bibi Lee menjawab kalau ia akan pulang karena Ma Roo datang. Ia ingin melihatnya.

Seung Chul : “Ma Roo.... maksud ibu Jang Joon Ha? Kenapa si brengsek itu pulang? Apa dia sudah bosan menjadi anak Choi Jin Chul?”
Bibi Lee : “Mungkin. Aku mau pulang melihatnya.”
Seung Chul : “Ibu. Karena banyak pelanggan, tolong jaga tokonya!”
Seung Chul langsung ngibrit pulang. Bibi Lee berteriak kesal ia juga mau pulang melihat Ma Roo.
Woo Ri mangajak Joon Ha melihat-lihat kamarnya. Joon Ha memperhatikan setiap detail kamar itu. Woo Ri jadi tak enak hati karena kamarnya berantakan. Joon Ha melihat tas ransel merah, Woo Ri berkata kalau ia juga punya tas lain. Woo Ri membuka lemarinya dan memperlihatkan tas-tas yang dibelikan Joon Ha.

Joon Ha juga melihat pianika Woo Ri. Woo Ri langsung mengambilnya dan mengingatkan Joon Ha, “Apa ingat ini? Dulu aku meniup ini setiap hari.”
Joon Ha : “Apa selama ini kau menyimpan ini?”
Woo Ri : “Tentu saja. Apa mau kumainkan sekarang?”

Joon Ha bilang tak usah dan mengajak Woo Ri keluar kamar. Keduanya akan keluar tapi Shin Ae masuk ke sana dan meminta Woo Ri keluar. Ia ingin bicara dengan putranya. Joon Ha tak suka melihatnya. Woo Ri mengerti dan langsung keluar kamar.
Shin Ae : “Apa yang bisa kukatakan, aku tahu aku tak pantas menjadi ibumu tapi aku juga mengkhawatirkanmu. Ketika aku mendengar Dong Joo tak bisa mendengar, aku malah mengkhawatirkanmu. Aku tak mengerti kenapa Tae Yeon Suk menjadikanmu anaknya.”
Joon Ha : “Apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan?”
Shin Ae : “Itu maksudku... Baiklah, walaupun kau tak menyukaiku. Kau, aku dan ayahmu Choi Jin Chul. Kita bertiga keluarga. Kau mungkin tak tahu tapi ayahmu tahu kalau aku membuka mulut......”
“Kalau kau mau diperlakukan seperti manusia. Bersembunyilah selama bertemu denganku.” Joon Ha memotong ucapan Shin Ae.
Shin Ae : Apa?
Joon Ha : “Itu yang terbaik yang bisa kau lakukan untukku.”

Joon Ha keluar kamar. Dilihatnya Woo Ri tengah menyiapkan makanan. Joon Ha meminta Woo Ri tinggal bersamanya di Seoul. Woo Ri terkejut mendengar permintaan Joon Ha.
Seung Chul tiba di sana. Joon Ha kembali mengulang ucapannya, “Tinggallah bersamaku. Aku tahu kau tak mau sendirian, bawalah seluruh keluarga.”
Joon Ha pamit ia harus pulang. Yang di dapur semuanya keluar mendengar Joon Ha akan pulang. Young Kyu bersembunyi di balik badan Paman Lee, “Ma Roo nasinya sudah matang.” ucap Young Kyu sedih.

Joon Ha memberi tahu kalau ia datang ke sini bukan untuk makan, “Akan kucarikan tempat tinggal untuk kalian di Seoul. Datanglah ke sana. Aku ingin membalas kebaikan kalian yang telah membesarkanku.” Joon Ha langsung keluar. Young Kyu sedikit kecewa Joon Ha tak makan dulu. Woo Ri langsung keluar mengejar Joon Ha.
Woo Ri meminta penjelasan Joon Ha apa maksudnya pindah ke Seoul. Joon Ha menjelaskan bukankah Woo Ri dan keluarganya tinggal di rumah Paman Lee untuk menunggunya dan karena sudah bertemu tak ada alasan lagi untuk tetap tinggal disini. Ia akan mencarikan tempat tinggal baru.

Woo Ri : “Taman botani ada disini, Keluarga Seung Chul juga ada disini kami tinggal disini untuk....”
Joon Ha : “Rumah sakit Nenek dan tempat kerjamu di Seoul. Di Seoul juga ada taman botani kan, kucarikan tempat di sana.”
Woo Ri : Tapi...
Joon Ha : “Dengar, kau kan ingin aku jadi kakakmu. Kalau kau tak ingin lagi aku jadi kakakmu, aku tak masalah.”

Seung Chul mendengarkan pembicaraan keduanya. Woo Ri mengerti ia akan mencoba membicarakan ini dengan yang lain.
Setelah Joon Ha pergi Seung Chul menarik Woo Ri. Ia tak akan membiarkan Woo Ri pergi. Seung Chul mengingatkan kalau Bong Ma Roo melihat Woo Ri sebagai seorang wanita, “Dia tak melihatmu sebagai adik.”
Seung Chul tak bisa membiarkan Woo Ri pindah begitu saja, “Keluargamu adalah untuk mereka yang mau tinggal bersama. Kenapa baru sekarang dia mau menjadi Kakakmu?”
Seung Chul menarik Woo Ri masuk ke rumah, batas kesabarannya sudah habis. “Bong Woo Ri kau sudah tak punya kakak!”
Semuanya menglilingi meja makan. Nenek hanya melamun, Young Kyu malah minum alkohol. Shin Ae berkata kalau Ma Roo saja mau datang, kita pergi saja. (Menyetujui usul Joon Ha untuk pindah)

Bibi Lee : “Begitu mdah mengatakanya. Hidup tidak selalu sesuai keinginanmu.”
Seung Chul : “Sudah diputuskan. Bibi (Shin Ae) kau yang pergi dan kami tetap tinggal disini.”

Paman Lee juga tak setuju sobatnya pindah, bagaimana kalau Nenek tersesat di Seoul. Shin Ae marah dan mengatakan kalau keluarga Lee sudah keterlalauan. Ia bertanya pada ibunya apa yang akan ibunya lakukan. Nenek bingung ia belum bisa memutuskan. Ia hanya bersyukur cucunya mau datang sekarang ia sudah tak punya hak lagi. Ia tak pernah memberinya makan dan pakaian yang ia lakukan hanya menyakiti hati cucunya.

Melihat sikap ibunya yang seperti itu Shin Ae tambah jengkel dan meminta pendapat Woo Ri. Woo Ri mengatakan kalau ia lebih suka tinggal disini. Ia berharap Kakaknya bisa datang ke sini sekali-kali. Seung Chul mengingatkan jangan pernah mengizinkan dia datang.

Di sela-sela diskusi mereka, Na Mi Sook datang berkunjung. Shin Ae yang sudah emosi tambah marah lagi melihat kedatangan Mi Sook. Ternyata Nenek yang mengundangnya datang. Ia ingin Mi Sook makan bersama mereka.
Mi Sook duduk di samping Nenek. Young Kyu terus minum. Bibi Lee berkata kalau semakin lama dilihat Mi Sook semakin mirip dengan ibunya Woo Ri. Shin Ae kesal, jadi pindah tidak. Apa masalahnya kalian tinggal pindah saja.

Young Kyu yang sudah mulai mabuk menepuk-nepuk meja keras. Semuanya terkejut.
Young Kyu memarahi Shin Ae, “Aku tak bisa menunjukan wajahku. Tak ada yang bisa kulakukan untuk anakku. Kau pikir hidup ini selalu sesuai keinginanmu?” Young Kyu bicara seperti orang eling Haha...

Shin Ae langsung mengumpat, “Bong Young Kyu bodoh.”
Mi Sook marah mendengarnya, “Jaga mulutmu.”

“Kemarilah tinggallah bersama kami. Apa sih masalahnya? Kalian ke sana hanya membawa badan kalian saja.” ucap Young Kyu pada Mi Sook. Mi Sook gugup dan langsung meminum alkohol yang ada di depannya, “Bong Young Kyu. Kau terlalu terburu-buru mengambil keputusan.”
Young Kyu : “Aku tak setuju dia yang tak punya pendirian.”

Setelah berkata seperti itu Young Kyu langsung ambruk tak sadarkan diri, hehe. Woo Ri menemrima sms (dari siapa itu) sementara yang lain minum Woo Ri mengendap-endap keluar.

Woo Ri lari-lari menuruni tangga. Dong Joo sudah menunggunya dan mengingatkan jangan lari-lari seperti itu nanti jatuh. Ketika Woo Ri sampai di depannya, Dong Joo langsung memeluknya.
Dong Joo tersenyum, “Seberapa banyak kau suka padaku? Jantungmu berdetak cepat sekali.”
Woo Ri melepas pelukannya dan berkata kalau tadi Ma Roo datang.
Dan Plok... Dong Joo langsung menabok kepala Woo Ri, “Kenapa baru sekarang kau melaporkannya? Kau kupecat!”
Plok... giliran Woo Ri yang manabok kepala Dong Joo, “Ini masalah keluarga bukan bisnis. Kenapa kau pecat aku?”
Dong Joo sewot karena Woo Ri kelihatan gembira sekali. Ia agak kecewa. “Ayahmu langsung pergi ketika sedang memberi makan ikan. Kau juga.”
Dong Joo kemudian mengatakan kalau ia merasa khawatir. Woo Ri tanya tentang masalah apa.
Dong Joo : “Maafkan aku. Apa yang harus kulakukan? Besok adalah hari dimulainya perang dengan Jang Joon Ha.”
Woo Ri cemas, Kenapa?
Dong Joo : “Hey tukang selingkuh. Kau menyukai Cha Dong Joo dan Jang Joon Ha kan? Jadi besok jangan berpihak dan terima saja apa hasilnya, mengerti? Datang ke rumahku jam 2 besok. Besok adalah hari yang penting, jadi aku akan sangat senang kalau kau datang.”
Woo Ri : “Apa kau memang perlu melawannya?”
Dong Joo tak mau mengetahui komentar Woo Ri. Ia langsung membalikan badan Woo Ri dan memeluknya erat, “Jangan bicara lagi. jangan hentikan kami. Kami harus bertarung untuk menyelesaikan ini.”
Esok harinya, Mi Sook terbangun ia menginap di rumah Woo Ri karena mabuk. Ia melihat dirinya di kaca tanpa make up dan berteriak kaget.

Woo Ri masuk ke kamarnya dan melihat Mi Sook sudah bangun. Mi Sook menyembunyikan wajahnya dan bertanya siapa yang menghapus make up nya. Woo Ri mengaku kalau ia yang menghapus make up Mi Sook dan beralasan tak bagus tidur mengenakan make up dan memuji wajah Mi Sook cantik tanpa make up.

Kemudian Woo Ri mengatakan kalau ada janji. Ia harus pergi dan meminta Mi Sook beristirahat saja. Mi Sook memperhatikan penampilan Woo Ri. Apa Woo Ri akan pergi begitu saja. Woo Ri heran dan melihat penampilannya, apa aneh?
Mi Sook menarik Woo Ri dan mulai mendandaninya. Ia mendandani Woo Ri seperti seorang ibu yang mendandani putrinya hehe. Woo Ri terus memperhatikan Mi Sook.
Young Kyu masuk ke kamar Woo Ri dan melihat wajah Mi Sook tanpa make up. Young Kyu memandangnya heran dan semakin maju untuk melihat lebih jelas. Mi Sook tersenyum. Young Kyu tak percaya dengan penglihatannya dan menutup mulutnya yang menganga. Ia berusaha menutup matanya dan geleng-geleng tak percaya dengan yang dilihatnya. Hehe...
Dong Joo menerima telepon dari ibunya, ia sudah siap dengan pakaian rapi. Ny Tae meminta Dong Joo segera ke kantor. Dong Joo tanya ada apa. Ny Tae mengatakan kalau Choi Jin Chul dan Jang Joon Ha mengadakan rapat dengan dewan direksi tanpa sepengetahuannya dan materi rapatnya juga dirahasiakan. Perasannya tak enak, ia meminta Dong Joo segera datang.

Dong Joo tak bisa datang karena ada tamu yang harus ia tunggu. Dong Joo melihat keluar dan tamu yang ditunggu sudah datang. Dong Joo menutup teleponnya.
Kim Bi dan Min Soo datang bersama seorang pria bule Prancis dan istrinya yang orang Korea (Mr Phillipe dan istrinya)
Mr Phillippe bicara dalam bahasa Prancis kalau ia merasa terkesan dengan Dong Joo. Ia sudah membaca artikel tentang Dong Joo di majalah, “Aku harus berfoto denganmu karena sekarang kau orang terkenal.” Ny Phillippe mentranslate apa yang diucapkan suaminya. Dong Joo tersenyum senang mendengarnya.
Woo Ri lari-lari menuju rumah Dong Joo, ia mengenakan rok. Dari luar, Woo Ri melihat tamu Dong Joo, ia memandang penampilannya. Ia melihat penampilan Min Soo yang sempurna, cantik penuh senyuman dan pakaian Dong Joo yang sudah rapi dan juga penuh senyuman berbincang dengan tamunya. Woo Ri tak jadi masuk.
Kim Bi menjelaskan pada Mr phillippe tentang taman botani. Dong Joo melihat jam tangannya dan melirik keluar mencari Woo Ri tapi tak kunjung datang. Min Soo heran dan bertanya apa Dong Joo sedang menunggu seseorang. Dong Joo menjawab ya sambil kembali menengok keluar.

Mr Phillippe memuji kalau pemandanagn disini sangat indah. Ia ingin membangun vila dan meminta pendapat Dong Joo. Ny Phillippe kembali menerjemahkan apa yang diucapkan suaminya. Dong Joo berkata kalau itu semua tergantung Mr Phillippe.

Min Soo berbisik pada Dong Joo. Ia merasa kalau Mr Phillippe sepertinya setuju dengan perjanjiannya. Kim Bi berbisik pada Dong Joo katanya Mr Phillippe ingin melihat dokumen kontraknya terlebih dahulu.
Di ruangan rapat dewan direksi Woo Kyung. Presdir Choi mengatakan kalau rapat hari ini tentang penjualan Energy Cell. Ny Tae jelas terkejut mendengar ini. Salah satu dewan direksi bertanya kenapa mendadak. Presdir berkata kalau sekarang waktu yang tepat untuk menjualnya.

Ny Tae jelas menolaknya tapi Presdir Choi menyerahkan keputusan ini pada anggota rapat. Ia meminta pemaparan direktur keuangan Jang Joon Ha. Jang Joon Ha pun masuk dengan dokumen yang dibawanya. Ia berdiri di podium.

Ny Tae marah apa hak Jang Joon Ha berdiri di sana karena ia berfikir kalau Joon Ha sedang dalam kasus penipuan saham. Presdir Choi meminta Ny Tae menahan argumennya dulu, “Apa kau masih mau mendiskusikan masalah kontaminasi logam berat Energy Cell lagi?”
Joon Ha melanjutkan presentasinya, “Investasi dibisnis semikonduktor dapat menghasilkan sampai dengan 200rb M dollar Amerika diseluruh dunia. Itu lebih dari 20 kali dari bisnis kosmetik di dalam negeri. Kalau kita bisa menyelesaikan dalam waktu 3 tahun kita bisa mendapatkan kesuksesan diluar negeri.”
“Karena itu aku perlu membeli Energy Cell.” ujar Mr Phillippe. Ia datang bukan untuk menawarkan kerja sama tapi membeli Energy Cell.
Kim Bi yang mengerti bahasanya terkejut, “Apa? tidak bisa seperti itu.” Min Soo ingin tahu apa yang dikatakan Mr Phillippe. Kim Bi menjelaskan dibandingkan dengan perjanjian yang sudah dibicarakan sebelumnya dia ingin membeli perusahaan.
“Kami ingin investasi di Asia.” sahut Ny Phillippe. “Kami tadinya mau membangun merk baru tapi ketika kau menelepon, kupikir dengan membeli Energy Cell akan lebih cepat.” Dong Joo sedikit bimbang.
“Apa ada yang tak setuju?” tanya Joon Ha pada anggota rapat. Joon Ha tersenyum sinis pada Ny Tae.
Dan Dong Joo pun menyetujui penjualan Energy Cell pada Mr Phillippe. Keduanya berjabat tangan dan tersenyum.
Mr Phillippe : “Cha Dong Joo. Kau orang baik, kita akan bekerja sama.”
“Kalau begitu kita sepakat dengan penjualan Energy Cell.” ucap Presdir Choi memutuskan.
Ny Tae berdiri marah ia tak setuju, “Siapa yang berhak memutuskan itu? Cha Dong Joo membangun Energy Cell kita tak bisa memutuskan tanpa kehadirannya. Aku tak setuju.”
Predir Choi : “Apa kau tak menyetujui keputusan dewan direksi?”

Ny Tae marah dan berkata kalau ini sama seperti 16 tahun lalu. Woo Kyung kosmetik dijual tanpa sepengetahuan ayahnya, ia tak bisa menyetujui ini. “Apa kau pikir aku akan diam saja?”
Presdir Choi tersenyum sinis, “Sayang. Kau urus saja urusan rumah tangga. Mengerti?”
Presdir Choi menutup rapat. Ia memuji pemaparan Joon Ha bagus. Ny Tae menatap marah Joon Ha.

Joon Ha dan Presdir Choi keluar dari ruangan rapat. Presdir merangkul Joon Ha dan kembali mengatakan apa yang dilakukan Joon Ha sudah bagus, “Apa kau lihat bagaimana wajah Tae Yeon Suk tadi?”
Ponsel Joon Ha berdering, Dong Joo yang meneleponnya. Presdir berlalu meninggalkan Joon Ha yang menerima telepon.
Joon Ha : “Apa kau sudah mendengar kabar?”
Dong Joo : “Maksudmu tentang penjualan Energy Cell? Kau sudah terlambat. Karena aku sudah menjualnya.”
Joon Ha terkejut mendengarnya, “Apa? Cha Dong Joo apa yang baru saja kau katakan?”
Dong Joo : “Haruskah kuulangi lagi?”
Joon Ha marah dan meninggikan suaranya, “Cha Dong Joo!”
Dong Joo tersenyum menang.



re-posted and re-edited ny : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment