Thursday, October 03, 2013

Can You hear My Heart Episode 15

Woo Ri mengaku pada Dong Joo kalau ia sudah berbohong tentang Dong Joo yang mencuri kantong kacang, pembelajaran piano dan tentang Dong Joo yang menyukainya. Woo Ri juga secara resmi memberi tahukan namanya. Woo Ri menyesal ia minta maaf.


Entah karena terbawa perasaan atau apa, Dong Joo tak bisa berkata-kata lagi. Ia langsung mencium Woo Ri dan membuat Woo Ri tersentak kaget, hingga kantong kacang yang berada di tangannya pun jatuh dengan sendirinya. Woo Ri memejamkan matanya. Melihat Woo Ri memejamkan mata Dong Joo menciumnya lagi. Woo Ri tambah terkejut dan membuka matanya.


Woo Ri tertegun dan memegang bibirnya. “Bibir itu... hanya untuk bermain pianika dan makan. Bukan untuk berbohong. Dia tidak dibuat untuk berbohong. Kalau kau berbohong lagi, aku tak akan melepasmu!” Ucap Dong Joo. (ini berarti kalau Woo Ri bohong lagi hukumannya kiss wahahaha)

“Apa kau benar mau bertemu Paman?” Woo Ri mangangguk pelan masih belum sadar seratus persen ia masih terpaku. Dong Joo pergi Woo Ri langsung duduk lemas dan kembali memegang bibirnya.


Dong Joo masuk rumah ia berusaha menenangkan hatinya atas apa yang dilakukannya barusan. Jantungnya dag dig dug hehehe.
Young Kyu melihat Dong Joo masuk dan langsung menyapa, ini membuat Dong Joo kaget dan Dong Joo pura-pura menguap, beralasan ngantuk. Ia mohon diri akan ke kamarnya. Young Kyu heran.


Young Kyu langsung keluar, ia melihat Woo Ri duduk terpaku di tangga memegangi bibirnya. Ayahnya tanya apa Woo Ri sakit, apa ada yang terluka? Woo Ri berkata tidak ia hanya mengantuk.
Young Kyu merasa aneh, kenapa semua orang ngantuk padahal belum waktunya tidur. Young Kyu melihat kantong kacang tergeletak di situ. Woo Ri mangambilnya. Keduanya pulang. Sebelum pergi Woo Ri menatap kediaman Dong Joo dan menggeleng-gelengkan kepala.


Di dalam kamar Dong Joo masih memikirkan apa yang baru dilakukannya terhadap Woo Ri tadi. Ia mendesah dan geleng-geleng kepala, “Tidak!” Dong Joo langsung bergegas keluar.

Dong Joo mencari Woo Ri. Ia tersenyum senang Woo Ri belum jauh.


Woo Ri berjalan melamun, ayahnya memandang heran. “Woo Ri apa kau ngantuk?” Ayahnya membuyarkan lamunannya. “Apa kau mau kugendong di punggungku?”
“Aku lapar!” Woo Ri mencari alasan, “Ayo cepat pulang lalu kita makan!” ayahnya berkata kalau ia akan membuatkan nasi yang sangat enak.


“Aku juga mau nasi!” seru Dong Joo setelah mengetahui apa yang diucapkan Young Kyu tadi. Woo Ri menatapnya gugup, ia menunduk. Young Kyu tanya apa Dong Joo lapar. Dong Joo mengiyakan, “Kumohon berikan aku nasi!” Young kyu menyanggupi, ia akan membuatkan nasi yang enak.

Dong Joo berterimakasih dan memeluk Young Kyu. Dong Joo memandang Woo Ri, “Bagaimana dengan kantong kacangku?”
Woo Ri menyerahkan kantong kacangnya sambil menunduk, ia masih belum berani menatap Dong Joo.


Dan brukk Dong Joo langsung memeluk Woo Ri, “Terima kasih!” ucap Dong Joo. Mata Woo Ri terbelalak Dong Joo memeluknya.
Dong Joo : “Kau terkejutkan? Aku melakukannya karena aku merasa nyaman!”

“Ayo berangkat!” teriak Young Kyu. Dong Joo tak menyadari teriakan Young Kyu. Woo Ri langsung melepas pelukan Dong Joo dan bilang berangkat.


Woo Ri kembali menyerahkan kantong kacang. Dong Joo mengambilnya dari tangan Woo Ri sambil yah tentu saja mengenggam tangan Woo Ri. Hehehe.
Young Kyu kembali berseru ayo berangkat. Dong Joo mengangkat tangan Woo Ri dan menjawab berangkat. Dong Joo menggandeng tangan Woo Ri sambil berlari.

Woo Ri masuk lebih dulu ke rumah, ia melihat rumah yang berantakan. Ia meminta Dong Joo dan ayahnya tunggu di luar sebentar. Woo Ri langsung beres-beres.


Young kyu langsung mencari ibunya. Woo Ri mengatakan kalau Nenek sekarang berada di rumah Shin Ae. Young Kyu tanya kenapa, apa terjadi sesuatu, kenapa dia pergi. Young Kyu masuk kamar dan mencari ibunya. Woo Ri mengatakan kalau Nenek akan menginap di sana beberapa hari.

Dong Joo masuk dan melihat-lihat rumah Woo Ri. Dong Joo berusaha mencari tahu apa yang dikatakan Woo Ri dan ayahnya di dalam kamar tapi ia tak bisa melihat dengan jelas apa yang keduanya bicarakan.


Bibi Lee memanggil Woo Ri tapi ia terkajut melihat Dong Joo di sana, ia belum pernah bertemu dan mengenal Dong Joo. Dong Joo tak menyadari di sana ada Bibi Lee. Paman Lee juga datang mencari sobatnya ia terkejut ada seorang pemuda disana. Ia menduga kalau dia pencuri, Bibi Lee menyuruh suaminya diam.

Bibi Lee mengamati Dong Joo dari kanan ke kiri. Dan ketika Dong Joo bertemu pandang dengan Bibi Lee sontak ia terkejut, tiba-tiba ada orang dihadapannya.


Bibi Lee langsung duduk lemas memegang dadanya, ia terpana melihat Dong Joo, “Apa aku bermimpi?” hahaha
Young Kyu dan Woo Ri keluar kamar. Young Kyu mengatakan pada Dong Joo kalau ibunya tak ada di rumah.
Paman Lee : “Cha... Cha Dong Joo? Apa dia Cha Dong Joo?”
Dong Joo berbalik badan dan terkejut melihat Paman Lee tiba-tiba ada di belakangnya (padahal dari tadi hehe). Dong Joo heran memandang orang-orang di rumah Woo Ri. Bibi Lee tak percaya dengan wajah putih Dong Joo, ia kagum dan memuji Woo Ri pandai (mencari pacar hahaha)


Shin Ae menyeret ibunya, ia meminta ibunya berjalan yang benar. Nenek mengeluh kakinya sakit dan tak bisa berjalan, ia langsung jongkok. Nenek juga mengeluh lapar dan minta makanan.

Shin Ae meminta Ibunya menyebutkan makanan apa saja, ia akan membelikannya di luar. Nenek menolak makanan yang dibeli di luar karena terlalu banyak minyak. Shin Ae kesal kenapa Ibunya seperti ini. Ia tak tinggal sendiri di rumah itu dan pemiliknya segera datang.

Nenek berkata kalau Shin Ae merasa tak nyaman kenapa tinggal di rumah orang lain, kenapa tidak tinggal di rumah mereka sendiri. Shin Ae yang sudah kesal langsung mengacuhkan ibunya, ia tiduran di kursi dengan santainya.

Nenek langsung berdiri ia akan membuatkan makanan dan bertanya dimana nasinya. Shin Ae menjawab tak ada nasi karena ia sedang diet jadi tak makan nasi. “Kau pantas di gantung!” Nenek menggerutu. “Kalau begitu ayo kita mati sama-sama, sudah cukup rasanya hidup seperti ini. Mati juga tak rugi!”


Young Kyu menyendokan nasi untuk semua, untuk ibunya juga. Paman Lee menyahut kalau dia sedang ada di Seoul. “Bagaimana kalau dia pulang?” bantah Young Kyu. Ia juga menyendokan nasi untuk Ma Roo. Woo Ri langsung membungkus nasi untuk Ma Roo.

Paman Lee menepuk Dong Joo, “Teman.. Pemandangan yang aneh kan?” Dong Joo membenarkan. Paman Lee berkata kalau ini adalah ritual keluarga, setelah itu Young Kyu akan makan sisa-nya yang dingin.


Paman Lee menatap Dong Joo, “Semakin lama aku melihatmu aku semakin ingin mendonorkan darahku untukmu. Sebanarnya apakah kau kekurangan darah?” Dong Joo tertawa dan menjawab kalau ia sehat-sehat saja.
Woo Ri menyuguhkan nasi untuk Dong Joo, masih ada suasana canggung diantara keduanya. Paman Lee meminta jatah bagiannya, tapi Young Kyu bilang kalau sekarang bukan sarapan jadi Paman Lee tak kebagian. Keluarga Seung Chul hanya makan bersama Young Kyu ketika sarapan saja.


Bibi Lee membawa ayam goreng, minuman dan makanan yang lain untuk Dong Joo. Paman Lee ngomel istrinya kejam, ulang tahunnya saja makanannya tak semewah ini. Bibi Lee mendorong suaminya dan tersenyum menatap Dong Joo, “Aigoo seandainya saja aku bisa memelihara dan menyuapimu setiap hari. Kalau kurang bilang saja akan ku buatkan!”
“Ya terima kasih!” ucap Dong Joo.
Bibi Lee langsung berseru bahagia, “Ya Tuhan dia baru saja berterimakasih padaku!” Bibi Lee tertawa riang. Suaminya kesal apa berterima kasih itu lucu. “Bagiku itu lucu jangan cerewat!” ucap Bibi Lee. Hahaha.. Young Kyu senang Bibi Lee menyukai Dong Joo.


Paman Lee menuangkan minuman untuk Dong Joo, “Teman. Ini untuk merayakan kita menjadi 3 sekawan.” Tapi Dong Joo bilang ia tak minum alkohol. Woo Ri langsung menyambar minuman itu dan segera meneguknya sampai habis, “Aku haus sekali. Rasanya enak!” sahut Woo Ri membuat Dong Joo dan yang lain bengong. Woo Ri berujar kenapa membuang-buang waktu dengan orang yang tak minum alkohol. Ia langsung menuangakan minuman untuk Paman Lee.

Paman Lee minta Young Kyu juga diberikan minuman, “Kita tak bisa membuat dia membenturkan kepalanya ke tembok gara-gara merindukan ibunya.” Young Kyu tak mau minum, Woo Ri juga melarang Paman Lee memberikan minuman untuk ayahnya. Paman dan Bibi Lee terus memaksa, Woo Ri langsung mengambil dan meminumnya. Dong Joo terheran-heran dengan kehebohan keluarga ini.


Paman dan Bibi Lee sudah mulai mabuk. Young Kyu menelepon ibunya dan menyanyikan lagu kesukaannya. Paman dan Bibi Lee ikut bersenandung. Nenek senang mendengar lagu itu. Bibi Lee merebut teleponnya dan berkata pada Nenek kalau mereka semua tengah minum-minum, ia mengundang Nenek untuk ikut bergabung.
Suami istri ini terus minum, Woo Ri meminta keduanya berhenti minum. Young Kyu kembali menyanyikan lagu ditelepon, Dong Joo tersenyum melihat keluarga ini.

Shin Ae merebut telepon membuat ibunya tersentak kaget. Shin ae marah apa ibunya mau membayar tagihan telepon. “Ibu menyebutnya (Choi Jin Chul) penjahat, tagihan teleponnya juga dibayar oleh penjahat itu!” Shin Ae menarik ibunya meminta jangan membuatnya susah, “Pulanglah! Pulang ke anakmu yang hebat itu!”

Terdengar suara bel pintu Shin Ae cemas apa yang harus ia lakukan Presdir Choi datang.


Shin Ae membawa ibunya ke kamar dan ia memberi minuman alkohol agar ibunya diam, “Minumlah lalu tutup mulutmu dan tidur!” Shin Ae mengatakan kalau minuman itu mahal ia memohon pada ibunya agar jangan keluar dan jangan bersisik, “Kalau ketahuan aku akan mati.”


Shin Ae menyambut Presdir Choi dan bertanya bagaimana rapatnya apa semua setuju dengan sistem baru yang akan diterapkan Presdir.
Presdir Choi : “Anak brengsek Dong Joo itu membuat kekacauan!”
Shin Ae : “Apa dia sudah siap ditendang keluar? apa dia melakukan itu karena didukung Dir Kang? Katanya dia akan menikahi putrinya!”
Presdir : “Menikah?”
“Benar. Min Soo yang bilang!” sahut Shin Ae. Shin Ae ingin tahu seberapa banyak saham Dir Kang. Dia pemilik saham terbesar setelah Presdir, “Apa kau tak apa-apa dengan itu?”


“Bicara apa kau?” Nenek tiba-tiba masuk. “Dasar brengsek Nenek melempar sesuatu ke arah Presdir.
Presdir marah, “Apa ini?”
Nenek : “Aku ibu mertuamu. Kau pantas mendapat penyakit Epilepsi, sipilis. Lalu mati dengan wajah ada di dalam toilet.”

Nenek berkata akhirnya bisa melihat menantunya setelah 30 tahun. Nenek menyiram Pesdir Choi dengan minuman yang dibawanya. Amarah Presdir meledak. Ia menatap garang Ibunya shin Ae ini.

Nenek : “kau lihat apa? Haruskah matamu kucungkil. Kau ini tak ada kerjaan sehingga menikah demi uang? Setelah kau telantarkan anakmu, apa kau pikir hidupmu jadi bahagia? Lalu kau buat hidup anakku jadi sengsara!”

Shin Ae cemas kenapa ibunya jadi seperti ini. Shin Ae akan membersihkan baju kotor Presdir, “Sayang. Nenek itu sudah benar-benar gila dia mengidap alzheimer. Dia seperti itu karena dia pikun tolong mengertilah.” Nenek masih menumpahkan sumpah serapahnya.

“Keluar!” bentak Shin Ae seraya mendorong ibunya hingga terjatuh. “Kalau bukan karena orang ini aku sudah mati. Jangan sekali-kali ibu menyakiti dia! Sayang ...” Shin Ae mencoba bersikap manis pada Presdir Choi.


Karena sudah terlanjur emosi Presdir langsung melayangkan tamparan pada Shin Ae. “Perempuan murahan, keluar dari rumahku sekarang juga!” bentak Presdir. “Kalau dia memang gila kenapa tak kau bawa dia ke rumah sakit jiwa. Apa kau tahu siapa yang kau hadapi?” Nenek tak terima putrinya ditampar seperti itu, “Memangnya kau siapa? akan kubunuh kau! beraninya menyakiti anakku!”

Shin Ae menengahi Ibunya. Ia berlutut minta maaf, “Aku salah aku yang salah. Aku yang salah. Aku melakukannya untuk menemukan Ma Roo. Maafkan aku sekali ini. Sekali ini saja.” Presdir yang masih emosi tak yakin kalau Ma Roo itu benar-benar lahir, “Tak perlu mencarinya. Kalau dia memang seperti kalian tak usah dicari!”


Shin Ae kembali membentak ibunya jangan membuat Presdir Choi lebih marah lagi, “Akan kulakukan apapun yang kau katakan hentikan amarahmu. Aku yang salah ini tak akan terjadi lagi, Sayang. Tanpamu aku akan mati. Sayang aku salah.” Nenek tak sanggup melihat putrinya memohon-mohon merendahkan diri dihadapan pria seperti Choi Jin Chul. Nenek menangis, “Nak, Jangan lakukan ini!”


Joon Ha memainkan bola baseball dan mengingat percakapannya dengan Dong Joo di kantor Energy Cell tadi. Dong Joo tanya Joon Ha ingin menjadi anak Ibu atau ingin menjadi Hyeong-nya. Joon Ha memandang sarung tangan baseball yang ia biasa mainkan bersama Dong Joo.

Ny Tae masuk ke kamar dan memperlihatkan koran yang isinya tentang Konferensi Pers Dong Joo kemarin, “Anak ini. Apa yang sedang dia rencanakan?”

[CEO Energy Cell, Cha Dong Joo mengatakan kosmetik akan menjadi bendera baru Woo Kyung]

Ny Tae berkata bukankah Joon Ha bilang Dewan Direksi akan membantu Dong Joo, Walaupun Choi Jin Chul tak mendukung dia. Ny Tae kesal, “Untuk apa memperjuangkannya. Dia hanya akan menggali kuburannya sendiri.” Ny Tae ingin tahu, apa yang dikatakan Dong Joo pada Joon Ha. Joon Ha menjawab kalau Dong Joo sudah tak ingin bermain dengannya lagi.


Ny Tae mengenggam tangan Joon Ha memintanya jangan ragu-ragu, “Dong Joo itu masih anak-anak, dia belum dewasa seperti kau.” Joon Ha tiduran di pangkuan Ibunya, “Ibu.” gumam Joon Ha sedih. Ny Tae minta Joon Ha berusaha lebih keras lagi.


Tatapan Joon Ha sedih, “Ibu. Ketika aku masih kecil aku ingin sekali melakukan ini. Tapi kenapa dulu aku tak berani? Ibu tak perlu takut, anak-anak remaja biasa melakukan ini!”

Ny Tae meminta Joon Ha jangan bicara omong kosong, seorang anak bersandar pada ibunya berarti dia sedang galau. Joon Ha berkata dari pada mengucap janji-janji kenapa ibunya tak mengusap punggungnya saja. Bukankah seorang ibu akan selalu melakukannya. “Dong Joo selalu memojokkanku. Jadi hari ini aku kecewa. Ibu sebentar saja!”


Tangan Ny Tae ingin mengusap punggung Joon Ha tapi ia berat melakukannya. Joon Ha menunggu dalam diam. Ny Tae mengerti kalau beban pikiran Joon Ha sangat berat tapi mereka bisa apa, “Maafkan ibu?”
Dan tes... tetes demi tetes air mata Joon Ha mengalir. Joon Ha benar-benar ingin bersandar pada sosok seorang Ibu. Huhuhu.


Ny Tae kembali ke kamarnya, disana suaminya akan pergi tidur. Ia meminta istrinya mematikan lampu. Tapi Ny Tae tak melakukannya, ia malah duduk di depan meja rias. “Apa kau tak dengar kubilang matikan lampunya!” Perintah Presdir Choi. Ny Tae menjawab apa suaminya tak lihat kalau ia sedang bermake up, “Kita ini masih pasangan suami istri kau bukan satu-satunya penghuni kamar ini!”
Presdir kesal untuk apa istrinya malam-maalm bermake up, “Kau mau kemana?” Ny Tae tak mengatakannya, kenapa ia harus melaporkan semuanya. Ny Tae langsung keluar kamar. Presdir menatap kesal.

Setelah pesta minum Young Kyu dan Paman Lee mabuk berat. Dong Joo dibantu Woo Ri mengangkat Young Kyu ke kamar, Paman Lee sudah tergeletak tak sadar.


Dong Joo akan melepas helm yang menempel di kepala Young Kyu. Tapi Woo Ri merebut biar ia saja ucapnya dan tangan keduanya bersentuhan, “Kau gadis tak tahu malu!” ucap Dong Joo. Woo Ri langsung menarik tangannya. Karena sudah malam Woo Ri menyuruh Dong Joo pulang.


Dong Joo keluar dari kamar dan melihat ada foto keluarga di dinding, lebih tepatnya memandang foto Woo Ri kecil. Dong Joo tersenyum memandangnya, “Kau benar. Seperti inilah kau ketika kecil!” Dong Joo melihat foto Ma Roo yang berdiri di samping Woo Ri, “Dia lebih tampan ketika masih kecil.” Dong Joo merogoh ponsel dan memotret gambar Woo Ri kecil.


Dong Joo langsung menyimpan ponselnya begitu Woo Ri keluar dari kamar, “Kau belum pulang?” tanya Woo Ri. Dong Joo tak menjawab ia hanya berkata kalau Woo Ri sangat cantik ketika kecil. Woo Ri memberi tahu kalau ibunya adalah seorang penata rambut yang hebat setiap hari ibunya selalu menata rambutnya. Dong Joo langsung mengusek-usek rambut Woo Ri, “Aku jadi tahu kenapa sekarang rambutmu pendek.” Kemudian Dong Joo merapikan rambut Woo Ri yang ia acak-acak tadi.

Joon Ha berdiri di tepi jalan di depan rumah Woo Ri. Ia memandang ke arah rumah Woo Ri. Joon Ha langsung sembunyi ketika melihat Dong Joo dan Woo Ri keluar dari rumah.


Dong Joo turun tangga pelan-pelan. Woo Ri ada di belakangnya meminta Dong Joo hati-hati, “Tanganmu bisa patah kalau terpeleset. Nenekku dulu seperti!” itu ucap Woo Ri. (Tapi Dong Joo ga tahu Woo Ri ngomong apa, coz dia di belakang Dong Joo)
Sadar kalau ucapannya tak akan diketahui Dong Joo, Woo Ri menyentuh pundak Dong Joo. Dong Joo menoleh, “Ini berbahaya jadi hati-hatilah!” ucap Woo Ri.
Dong Joo : “Benarkah? Kalau begitu kau seharusnya mambantuku!”
Woo Ri : “Bagaimana caranya? Tangganya begitu sempit.”
Dong Joo menarik tangan Woo Ri, “Apa yang tidak bisa di dunia ini!” sahut Dong Joo kemudian jalan cepat menuruni tangga menarik tangan Woo Ri. Hingga posisi keduanya seperti Dong Joo menggendong Woo Ri.


Karena jalan terlalu cepat Woo Ri hilang keseimbangan dan ia langsung merangkulkan tangannya ke leher Dong Joo.


Dong Joo berbalik badan, karena tak siap dengan perubahan posisi Woo Ri hampir jatuh dan tepat mendarat ke pelukan Dong Joo. Woo Ri kaget, “Selamat jalan!” ucap Woo Ri tertegun. Tahu kalau Woo Ri bicara Dong Joo meminta Woo Ri diam, “Shhh.. dalam suasana seperti ini seharusnya kau diam saja!” Dong Joo tersenyum.

Dong Joo melepas pelukannya, Woo Ri hanya bisa menunduk. “Apa mau kuantar karena sekarang sudah gelap?” Dong Joo malah mengusek-usek rambut Woo Ri. “Pantang takut, masuklah!” Dong Joo menyuruh Woo Ri masuk ke rumah lebih dulu.


Dan Joon Ha masih berdiri di tempatnya memandang kedua orang ini.


Dong Joo kembali ke rumah dengan senyum sumringah, ia mengira disana ada Joon Ha tapi ternyata itu adalah ibunya. Ny Tae merasa kalau Dong Joo hidup di rumah ini dengan riang gembira. Dong Joo bertanya ketus, memangnya ada masalah. Dong Joo mengacuhkan ibunya. Ibunya minta Dong Joo jangan menyalahkannya, “Kau sebenarnya sudah tahu kalau semua ini kulakukan demi dirimu.”

“Dengan membeli perusahaan?” sahut Dong Joo memperlihatkan berkas pembelian perusahaan yang sepertinya sengaja ditinggalkan Joon Ha. Sebagai ganti rugi atas keputusan ibunya di Energy Cell ia tetap tak mau melibatkan Ibunya. “Cepatlah mengambil uangmu di perusahaan invenstasi, Ibu harus minta tanda tangan pemiliknya, Jang Joon Ha sebelum dia pulang ke Amerika. Atau kalau tidak kenapa tak merubah nama pemilik itu menjadi nama Ibu sendiri dari pada menggunakan Joon Ha yang malang sebagai ‘bemper’”


Ny Tae berkata kalau mereka itu satu keluarga, tak ada bedanya siapa yang menjadi CEO. Joon Ha juga menginginkan ini, “Ini bukan karena aku yang memaksa jadi kau tak perlu salah paham.”
Dong Joo : “Benarkah? Kalau begitu rubah menjadi namaku. Biar aku yang menjalankan perusahaan investasi itu!” (W Invest)
Ny Tae meminta Dong Joo fokus saja pada Energy Cell. Dong Joo menolak, “Masuk ke perusahaan yang menspekulasi harga saham itu harusnya tugasku, kenapa melibatkan Kak Joon Ha?”


Dong Joo : “Jangan mengganggu Kak Joon Ha! Kak Joon Ha mungkin saja percaya pada Ibu. Tapi kebohongan ibu dengan menjadikan Joon Ha sebagai keluarga, aku tak pernah percaya itu.”

Ny Tae meyakinkan putranya kalau musuh Dong Joo yang seberanya itu bukan dirinya tapi Choi Jin Chul. “Kalau aku memiliki kekuatan sebesar ini akan kugunakan untuk menjatuhkan dia.”
Jumpa pers? Mungkin itu cara Dong Joo untuk keluar dari masalah. Tapi pada akhirnya Dong Joo dimusuhi oleh dewan direksi. “Kau tanya kenapa aku tak mempercayaimu? Itulah bukan karena masalah telingamu tapi karena kau tak akan mampu berhadapan dengan Choi Jin Chul. Joon Ha mungkin bisa!”


Dong Joo tertawa, kebohongan ibunya tak mempan untuknya. “Jangan membawa-bawa nama Kak Joon Ha atau Choi Jin Chul. Kuasai saja Energy Cell. Jangan lagi bekerja diam-diam di belakangku.” Dong Joo meminta ibunya segera mengirim Joon Ha ke Amerika. Sudah cukup membawa dirinya ke situasi seperti sekarang ini dan ini peringatan terakhir untuk ibunya. Jangan lagi menyentuh Joon Ha, kalau Ibunya mengacaukan hidup Joon Ha ia tak akan memaafkan orang itu, walaupun itu ibunya sendiri.


Woo Ri membereskan botol-botol minuman dan ia teringat ucapan Dong Joo ketika dirinya jatuh ke pelukan Dong Joo, “Shh.. dalam situsi seperti ini kau seharusnya diam saja!” Woo Ri tersenyum mengucap ulang kalimat yang diucapkan Dong Joo. Ia kembali memegang bibirnya.

Min Soo meneleponnya, Woo Ri langsung minta maaf karena ia lupa menghubungi Min Soo. Min Soo tanya bagaimana dengan Na Mi Sook. Woo Ri berkata kalau kepala teamnya mengenal Na Mi Sook, “Dia itu sales pintar dan juga pintar dalam bersembunyi. Orang bilang sekarang dia tak ada di Korea.”

Min Soo bilang ia harus segera menemui Na Mi Sook karena perusahaan sedang tak stabil. Woo Ri ingin tahu kenapa. Min Soo tanya apa Woo Ri tak membaca koran, ini semua gara-gara Cha Dong Joo. Mereka sekarang dikucilkan di Woo Kyung. “Adik, aku benar-benar berharap banyak padamu, Mi Sook yang satu ini benar-benar tak mau keluar dari persembunyiannya.” Woo Ri mengerti ia akan mengusahakannya. Woo Ri heran kenapa Dong Joo tak menunjukkan kalau dia sedang mengalami kesulitan. Woo Ri ingin menghubungi Dong Joo, ia memandang ponselnya.


Dong Joo duduk di depan piano memandang foto dirinya bersama ibu dan Joon Ha. Ia teringat ketika ia melewati masa-masa sulit di Saipan.

Joon Ha mendampinginya memainkan piano. Ibunya turut serta, ketiganya tertawa gembira.


Dong Joo : “Hyeong. Jang Joon Ha. Jangan menyesal seperti Bong Ma Roo. Mulai saat ini kau berhati-hatilah. Apa kau mengerti?”


Dong Joo mengintip lewat jendela memastikan apa Woo Ri sudah datang mengantar susu apa belum. Ia tak melihat Woo Ri tapi di depan pintu dua kotak susu sudah ada di sana. Dong Joo heran dan langsung keluar.


Dong Joo mengambil susu itu dan berlari ke depan mencari Woo Ri. Ia melihat jam memastikan apakah sudah waktunya Woo Ri mengantar susu, ia melihat kalau jam belum menunjukan pukul 6 pagi. “Dia sudah pergi mengantar susu?” Dong Joo ingin menelepon tapi ia berfikir kembali, “Apa dia meloncat-loncat seperti kelinci?”


Joon Ha akan ke rumah Dong Joo tapi langkahnya terhenti melihat Woo Ri sedang membersihkan coretan digambar Ma Roo yang ditempelkan ayahnya. Joon Ha tersenyum memandangnya. Woo Ri kesal siapa yang mencoret-coret itu.
Woo Ri melihat Joon Ha berdiri memandangya. Joon Ha mengingatkan Woo Ri jangan suka mengumpat seperti itu.


Woo Ri merasa kalau Joon Ha sedang tidak pergi piknik kenapa pagi-pagi sudah ada di taman. Joon Ha beralasan ingin bertemu saudaranya.
Woo Ri : “Dokter benar-benar menyayanginya. Kenapa Dokter mau pergi ke Amerika?”
Joon Ha : “Jadi, apa aku tak usah pergi?”
Woo Ri : “Memangnya Dokter tak akan pergi kalau kubilang begitu?”
Joon Ha sangat berharap, “Bisakah kau bilang ‘jangan pergi’?”

Joon Ha melihat ada susu coklat di keranjang sepeda Woo Ri, ia mengambilnya. Joon Ha berkata kalau Dong Joo hanya minum susu putih dan dirinya minum susu coklat. Ia sangat suka yang manis-manis. Woo Ri tak menyangka Joon Ha menyukai yang manis-manis, Neneknya juga seperti itu. Dia suka makan yang manis-manis dan ia sedih ketika melihat Neneknya memakan gula pasir.


Woo Ri akan sangat senang kalau Joon Ha tak kembali ke Amerika dan bisa merawat Neneknya. “Katanya Nenekku menderita alzheimer. Orang bilang itu sejenis penyakit pikun.” Woo Ri berbalik memandang gambar Ma Roo yang ditempel di dinding, “Sayang sekali kalau sampai dia melupakan semuanya.” Joon Ha memandang sedih.


Terjadi kesibukan di kantor Energy Cell. Dong Joo memperhatikan warna lipstik Woo Tae Hyun. Tae Hyun tersenyum bukankah ini bagus. Dong Joo juga menyukai warnanya.


Min Soo senang bisa melihat Dong Joo lagi. “Kantong kacangmu. Sepertinya kondosimu bagus hari ini, bukankah karena ini?” Dong Joo menatap senyum kantong kacangnya. Tadinya Min Soo khawatir pada Dong Joo karena ia berfikir Dong Joo bertengkar dengan pacarnya (Joon Ha). “Aku jadi penasaran apa yang kalian pertengkarkan? Tapi aku tak berani bertanya? Kenapa kalian bertengkar?” (bertengkar dengan Joon Ha)


Dong Joo tak menjawab ia malah bertanya pada Kim Bi, apa Kim Bi melihat pengacara mereka. Kim Bi menjelaskan kalau ia sudah mengirim dokumen bersertifikasi jadi mereka (Hansung) sudah tak bisa menuntut lagi. “Ini tak adil aku sampai tak bisa tidur, asmaku sampai kumat!” Kim Bi tertawa mengeluarkan maskernya.

Dong Joo : “Sebagai spesialis wewangian asma itu sangat fatal, perhatikan masalah hukum agar hal ini tak terjadi lagi. Kau ku tugaskan untuk memberi pembalasan pada Hansung dan yang lainnya. Ayo kita kerjakan pemasaran.”

Dong Joo menyuruh kepala team Kang Min Soo untuk memeriksa hasil inspeksi FDA. Min Soo berkata kalau ia sangat sibuk, ia harus inspeksi terakhir ke toko pertama yang dilantai 3, Bong Woo Ri juga ada disana. Dong Joo tanya jam berapa. Min Soo menjawab jam 2. Wohoho Dong Joo semangat.


Shin Ae menemui Presdir Choi di kantor. Presdir Choi kesal melihatnya, Shin Ae malah mengunci pintu ruangan. Tanpa malu-malu Shin Ae langsung merangkul Presdir Choi, ia meminta Presdir melupakan kejadian kemarin ia mengaku salah. Presdir minta Shin Ae menyingkirkan tangannya.
Shin Ae melepas rangkulannya sambil terus memohon. Presdir sudah dibuat kesal oleh Shin Ae, “KELUAR!!!” bentak Presdir Choi.


Shin Ae berlutut meminta maaf, ia kembali mengaku salah. Si tua itu (ibunya) menderita alzheimer dan ia harus mengawasinya. Selama dia ada akan lebih mudah mencari untuk Ma Roo, “Setelah itu kita tak memerlukannya lagi akan kupulangkan dia. Jadi kau jangan marah, jangan sampai kau tak pulang ke rumahku lagi.”
Presdir : “Rumahmu?”
Shin Ae sadar kalau itu bukan rumah miliknya, “Ayahnya Ma Roo?” Shin Ae terus merendahkan diri di depan Presdir Choi, “Tolong aku sekali ini saja. Sekali saja, Sayang...?” Shin Ae memohon-mohon sambil menangis.


Nenek ingin keluar rumah tapi ia tak bisa membuka pintunya. Ia menggerutu rumah Shin Ae seperti penjara. Nenek akan menelepon putrinya tapi ia lupa dimana menaruh nomor ponsel Shin Ae. Ia merogoh isi kantongnya dan membuka sketsa gambar Ma Roo, “Apa ini?” Nenek memandang heran, “Kenapa?”


Nenek lupa dengan sketsa Ma Roo. Ia meletakan gambar begitu saja di lantai. Nenek kembali merogoh kantong dan ia menemukan permen. Nenek langsung membuka bungkusnya tapi sial permen itu jatuh ke lantai. Nenek mencari permennya dan menyenggol jus yang ada di meja dan tumpahan jus itu mengotori sketsa gambar Ma Roo. Nenek menemukan permennya dan langsung melahapnya.


Woo Ri menemui Dokter yang memeriksa Nenek, ia bertanya tentang penyakit Nenek apa bisa disembuhkan. Dokter mengatakan kalau alzheimer tak bisa disembuhkan semakin lama akan semakin memburuk. Dokter akan membuatkan resep obatnya. Woo Ri teringat Nenek pernah minta obat tapi ketika ditanya obat apa Nenek mengatakan kalau itu vitamin yang dibelikan Shin Ae.
Dokter berkata kalau alzheimer bisa diperlambat prosesnya. Woo Ri ingin tahu apa ada solusi yang lain untuk mengobatinya, “Tidak. Maksudku untuk memperlambatnya bagaimana caranya?”


Young Kyu pulang tergesa-gesa ia langsung masuk ke kamar ibunya dan tentu saja tak mendapati Nenek ada disana. Young kyu jongkok di depan kamar Nenek dan tampaknya hari ini pun dia tak pulang sahutnya sedih. “Sudah satu malam, ibu pasti sudah meninggalkanku karena dia malu padaku, sama seperti Ma Roo. Ibu aku merindukamu!”


Seung Chul masuk mengendap-endap. Ia membawakan gingseng merah untuk Young Kyu, “Ini sebagai tanda tekadku untukmu. Persediaanya masih banyak, minumlah bersama Nenek!” Young Kyu memberi tahu kalau Ibunya tak ada di rumah, “Dia ke rumah Shin Ae sudah satu malam tapi dia belum pulang!” ucap Young Kyu sedih. Seung Chul meminta Young Kyu jangan berisik. Kalau sampai ia ketahuan, ibunya akan menari-kan tarian pisau untuknya. Dan ia bisa mati karena itu.

Terdengar panggilan Paman Lee, “Young Kyu apa kau sudah pulang?” Young Kyu merespon panggilan sobatnya tapi Seung Chul langsung membungkam mulut Young Kyu dan menarik masuk ke kamar Woo Ri.

Paman Lee heran di lantai 2 tak ada siapa-siapa dan ia melihat di sana ada gingseng merah yang dibawa Seung Chul tadi, “Dari mana ini? Sepertinya benda ini bukan berasal dari rumah ini!” Paman Lee langsung menebak kalau gingseng itu dari Cha Dong Joo. Ia akan membawa gingsengnya. Seung Chul kesal karena gingseng itu akan ia berikan pada Nenek.


Young Kyu melepas bungkaman tangan Seung Chul, “Seung Chul apa kau juga merindukan ibuku?”
“Ya tentu saja!” jawab Seung Chul ia memohon Young Kyu jangan berisik. Seung Chul mengajak Young Kyu menemui Nenek di rumah Shin Ae. Young kyu tentu saja senang.


Woo Ri pergi ke bandara untuk menjemput Na Mi Sook. Ia melihat foto Na Mi Sook yang ada di ponselnya tapi foto itu tak jelas. Woo Ri menelepon kapala team-nya agar mengirim foto yang lebih jelas lagi. Woo Ri melihat orang yang lalu lalang, ia menyamakan setiap orang yang dilihatnya dengan foto yang ia terima.

Woo Ri melihat seorang wanita mengenakan kaca mata hitam dengan dandanan make up yang super tebal, itu Na Mi Sook. “Na Mi Sook-ssi, Na Mi Sook-ssi!” panggil Woo Ri. “Anda Na Mi Sook-ssi kan?”
“Kau siapa?” tanya Mi Sook. Woo Ri memperkenalkan diri, “Perusahaan Energy Cell ingin bertemu anda!” Mi Sook memberi kode supaya Woo Ri diam. Dengan angkuhnya ia berjalan tegap.


Tiba-tiba ada polisi yang mecegat Na Mi Sook. Polisi memperlihatkan kartu identitasnya dan mengatakan bahawa mereka memiliki beberapa pertanyaan pada Na Mi Sook yang berkaitan dengan penukaran mata uang ilegal. “Aku perlu melihat langit sebentar!” sahut Na Mi Sook. “Kenapa jadi gerah?”
Dia mirip seseorang (Ibunya Woo Ri ?????)


Di kantor polisi Woo Ri terus memandangi Mi Sook.
Polisi ke Mi Sook : “Perjudian di luar negeri? Ini perjalanan kelima anda di Makau!”
Mi Sook : “Ini karena aku tak bisa ke portugal. Banyak orang portugis disana, apa lagi?”
Polisi : “Tuan Park Ho Min ditahan karena pertukaran mata uang ilegal dan perjudian tak resmi. Dia bilang kau juga terlibat.”
Mi Sook : “Terlibat? Aku tak tahu bagaimana cara melakukannya. Aku hidup sebatang kara, begitu juga dengan berjudi. Itu gayaku.”
Woo Ri bengong memperhatikan Mi Sook.

Polisi risih dengan kaca mata hitam Mi Sook dan meminta melepasnya. Na Mi Sook memegang kaca mata akan membukanya, Woo Ri penasaran dan siap melihat wajah Mi Sook tapi Mi Sook tak jadi melepasnya. “Akan kubuka kalau kau bisa menunjukan surat perintah penangkapan!”

Polisi berdiskusi dengan rekannya, Mi Sook berbalik menatap Woo Ri yang duduk di belakangnya, “Siapa namamu?”
Woo Ri : “Namaku? Namaku Bong Woo Ri!”

“Nama itu biasa saja. Apa aku bisa pergi?” tanya Mi Sook pada polisi, “Hak sepatu kananmu sudah usang kau pasti sering membawa ngebut mobilmu. Kau perlu mobil yang bisa ngebut dengan tombol dari pada dengan pedal kaki yang merusak sepatumu. Aku bisa menyediakan mobil itu!” Na Mi Sook memberikan kartu namanya. Hehe promosi ni ye.


Na Mi Sook keluar kantor polisi bersama Woo Ri. Woo Ri memuji Mi Sook sangat keren di kantor polisi tadi. “Apanya yang keren?” tanya Mi Sook. Woo Ri tak tahu tapi yang pasti Mi Sook sangat keren.
Mi Sook : “Kau kelihatan begitu gembira. Manusia dan kehidupan itu sama saja. Ketika kau tak tahu apa-apa, kau merasa gembira.”


Mi Sook merasakan hangatnya sinar matahari. Ia menikmati dan menengadahkan wajahnya ke langit. Ia memegang kaca mata seolah ingin melepas tapi tak dilakukannya. Woo Ri penasaran dengan wajah Na Mi Sook ini.
Mi Sook : “Ini mungkin karena langitnya cerah. Aku suka dengan wajahmu. Kemana kau akan mengajakku pergi?”


Dong Joo mencium aroma produk kosmetik yang dibawa Kim Bi. Ia memuji garis yang putih itu bagus karena terang dan segar. “Kalau garis acak itu temanya apa?”

Kim Bi : “Remaja yang belum terbuka matanya terhadap dunia. Diambang fajar ketika pagi belum tiba. Maksudku ketika rusa jantan menenggak embun, angin segar berhembus perlahan. Wangi yang membuatku terbangun dari tidur. Itu temanya.”
Dong Joo : “Tidak baik untuk jatuh cinta yang pertama!”
Kim Bi : “Lalu? jatuh tidur lagi?”
Dong Joo tertawa, rusa jantan? Dong Joo memuji itu ide yang hebat. Kim Bi senang.

Setelah Kim Bi keluar Dong Joo kembali mencium aroma produuk kosmetiknya dan bergumam, “Cinta pertama?” Dong Joo tersenyum. Dong Joo melihat jam tangannya sudah hampir jam dua. Ia mengajak Min Soo untuk segera melakukan inspeksi akhir. Tapi Min Soo mengatakan kalau jadwal pertemuannya ditunda. Dong Joo sedikit kecewa. Hahaha


Young Kyu memberi makan ikan, ia mengeluh dan curhat pada ikan-ikan walaupun kepalanya tak sakit karena mabul semalam tapi ia masih mengantuk. Young Kyu menguap beberapa kali. Di dalam mimpi ia ingin sekali melihat Ma Roo, ia juga ingin bertemu ibunya. Young kyu kembali menguap jam menunjukan pukul 2 kurang.


Dan Young Kyu pun tertidur. Joon Ha mengangkat kepala Young Kyu dan menaruh bantal untuk menyangga kepalanya.


Joon Ha menatap wajah Young Kyu, ia mulai meraba wajah ayahnya mulai dari alis, hidung, mulut dan dagu. “Jadi seperti ini rupamu!” Tak terasa air mata Joon Ha menetes dengan sendirinya semakin lama semakin deras.


Dong Joo melihat Min Soo menemui Woo Ri dan Na Mi Sook. Min Soo ingin tahu kenapa Na Mi Sook pindah haluan dari berjualan mobil pindah ke berjualan kosmetik. “Apa harus ada alasan lain?” tanya Mi Sook.
Min Soo : “Apa kau mau melatih para pegawai?”
Mi Sook menyenggol Woo Ri agar mengatakan sesuatu sehingga Na Mi Sook betah. Woo Ri menawarkan apa Mi Sook mau keluar karena hari ini cuaca sangat cerah.
Mi Sook : “Bong Woo Ri apa arti nama itu?”
Woo Ri : “Itu asalnya dari ‘bongori’ yang artinya ‘kuncup bunga’ tapi karena aku dan ayahku tak tak tahu cara mengeja yang benar!”


“Nona Bong Ori (bebek)!” panggil Dong Joo. Woo Ri langsung mendelik ke arah Dong Joo. Dong Joo memuji woo Ri sangat hebat bisa membawa Na Mi Sook ke sini.


“Apa kabar. Aku Cha Dong Joo!” Dong Joo menjabat tangan Na Mi Sook tapi posisinya itu lho haha nempel-nempel Woo Ri seperti memeluk. Mi Sook memuji kulit Dong Joo sangat halus, “Jadi CEO perusahaan kosmetik itu kau. Kurasa aku bisa mempercayaimu!”


Shin Ae tiba-tiba muncul dan ngomel kenapa kantornya sepi. Semua menatap Shin Ae tak terkecuali Dong Joo yang melihat semua menengok. Min Soo heran kenapa Shin Ae datang ke kantor Energy Cell. Shin Ae berkata kalau Presdir Choi memberi tanggung jawab padanya untuk memimpin toko.

Shin Ae melihat disana ada Woo Ri dan penasaran kenapa Woo Ri ada disana. Dong Joo tak tahu ternyata keduanya saling mengenal. Dong Joo belum tahu kalau Shin Ae anaknya Nenek. Woo Ri beralasan siapa tahu ia bisa membantu di sana, “Tapi Bibi, Nenek bagaimana?”

Dong Joo heran membaca gerak bibir Woo Ri, “Apa dia Bibi-mu? Kim Shin Ae?” Woo Ri mengangguk. Shin Ae mengelak, “Kau ini masa aku Bibimu? Orang akan mengira itu betulan.” Shin Ae mengajak Woo Ri keluar, ada yang ingin ia katakan.

Mi Sook juga akan pergi, ia menatap Shin Ae dan berkata kalau ia tak suka yang gelap-gelap. Shin Ae kesal dan mengerasakan suaranya, “Kau seharusnya melepas kaca matamu.”
“Ikut aku!” Dong Joo menarik Woo Ri keluar. Shin Ae bertanya ke Min Soo siapa itu. Min Soo bilang kalau Woo Ri sudah jauh-jauh menjemputnya di bandara. “Tapi kenapa mereka bergandengan tangan?” tanya Shin Ae heran. Min Soo juga bengong.

Dong Joo manarik Woo Ri sampai ke parkiran. Ada yang harus dilakukan Dong Joo. Tapi ia penasaran, “Kim Shin Ae itu bukan Bibi-mu kan?” Woo Ri tak menjawab. Dong Joo meminta Woo Ri menunggu sebentar.


Ada mobil yang berjalan cepat di parkiran Dong Joo tak mengetahuinya, Woo Ri yang tahu langsung lari menghampiri Dong Joo. Mobil itu ngerem mendadak. Ternyata Jang Joon Ha yang berada di dalam mobil. Ketiganya terkejut. Joon Ha tak menyangka kalau Woo Ri juga ada disana.


Dong Joo dan Joon Ha bicara berdua.
Dong Joo : “Jang Joon Ha. Jadi kau lebih memilih menjadi anak Ibu?”
Joon Ha : “Kontrak untuk Pabrik Energy Cell yang kau bicarakan itu. Kutingalkan di rumahmu. Tolong diperiksa.”
Dong Joo : “Apa kau kesini bukan untuk menemui Choi Jin Chul?”


Joon Ha akan melakukan keduanya, karena ia yakin bisa melakukannya. Ia akan membelikan Dong Joo perusahaan dan akan ia tarik tangan Choi Jin Chul agar dia menyerahkan sahamnya. Dong Joo merasa itu akan gagal. Dari mana Joon Ha mendapatkan uangnya. Joon Ha berkata Kalau mereka memiliki investasi, tabungan mereka dan uang Ibu.

Dong Joo : “Apa kau pikir aku bodoh? Mana bisa mendapatkan keduanya!”
Joon Ha bisa meminjam uang investasi mereka dalam jangka waktu pendek lalu mengembalikannya. Dan ibu akan menjual seluruh real estate-nya. (sebegitu kaya kah mereka ckckck)
Dong Joo : “Apa kau akan mencuri? Kau bilang kau akan menghentikan Choi Jin Chul. Tapi sekarang kau jadi seperti dia!”
Joon Ha : “Orang kaya selalu melanggar hukum untuk melindungi uang mereka. Aku hanya meminjam sedikit dan aku pasti akan mengembalikannya!”


“Lupakan saja!” Dong Joo kesal. “Jangan membeli perusahaanku, aku hanya minta kau jangan menggandeng Choi Jin Chul. Aku tak perlu itu. aku tak mau kau melakukan hal seperti itu.”
Joon Ha : “Aku sudah tanda tangani kontraknya.”
Dong Joo terkejut dan manarik tangan Joon Ha, “Kenapa kau berbuat seperti ini? Kau dan ibu sama-sama sudah tak waras. Bukankah sudah kubilang kau jangan lagi mendengarkan ibu!”
“Dan jangan lagi melibatkan ibu!” sambung Joon Ha.
Dong Joo : “Bukankah kau bilang akan kembali ke Amerika. Kenapa tiba-tiba kau melakukan ini? Kakak?”


Joon Ha : “Dong Joo, Apa kau tak melihat dulu Choi Jin Chul melepas masker oksigen kakekmu? Aku juga melihatnya. Choi Jin Chul juga penyebab meninggalnya ibu tiriku di pabrik dulu. Waktu aku ke rumah sakit, dia meninggal di depan mataku. Bong Woo Ri menyimpan arloji itu di tasnya. Benda itu milikku. Benda yang membuat ibu tiriku kembali ke dalam pabrik untuk mengambilnya ketika kebakaran.

Namun Choi Jin Chul menutup semua pintu hingga dia meninggal. Kakekmu maupun ibu tiriku, mereka meninggal karena Choi Jin Chul. Dia Ibu pertama yang pernah kumiliki. Aku tak pernah sebelumnya mengucapkan kata-kata yang baik padanya. Baik itu terima kasih atau pun kata maaf.

Ibumu, ibuku... aku tak boleh kehilangan dia.


Dong Joo, Cha Dong Joo. Tak bisakah aku menjadi anak ibu dan menjadi kakakmu juga?”
Mata keduanya berkaca-kaca.


Dong Joo dan Woo Ri berada di dalam mobil, keduanya masih diparkiran. Dong Joo memejamkan matanya, Woo Ri duduk diam menatap Dong Joo. “Bong Woo Ri!” panggil Dong Joo masih memejamkan mata. “Kau bisa minum kan? Hari ini kita minum ya.” Dong Joo membuka mata dan langsung memakai sabuk pengamannya. Ia langsung menjalankan mobilnya.


Dong Joo dan Woo Ri berada di sebuah restouran. Dong Joo menarikan kursi untuk Woo Ri. Dong Joo duduk di depan Woo Ri. “Ini yang pertama kalinya bagiku!” sahut Woo Ri seraya tersenyum.
Dong Joo : “Kau jangan lupa, orang yang pertama kali menarikan kursi untukmu adalah Cha Dong Joo!”
Woo Ri melepas tas ransel dan menaruhnya di samping ia duduk. Dong Joo melihat jam tangan itu dan teringat ucapan Joon Ha.


Dong Joo menggenggam tangan Woo Ri erat, Woo Ri tersentak kaget. Pelayan datang membawakan makanan tapi genggaman Dong Joo tak juga lepas. Woo Ri gugup plus malu ia ingin melepaskan tangannya dari genggaman Dong Joo tapi itu sulit Dong Joo tak melepasnya.

Tangan kanan Dong Joo menuangkan minuman dan tangan kirinya tetap menggenggam tangan Woo Ri.
Woo Ri berkata bukankah Dong Joo memintanya minum, tapi tangannya digenggam Dong Joo terus. Dong Joo meminum minumannya. “Kalau kau pingsan lagi bagaimana?” Woo Ri cemas.


Dong Joo : “Bong Young Kyu bilang aku tak boleh bermain dengan orang jahat. Karena itu aku merasa sedih. Tapi orang yang paling aku sukai... mau bermain dengan orang jahat. Sudah kusuruh dia berhenti tapi dia tak mendengarkanku. Itulah kenapa, bisakah kau menyuruhnya berhenti?”
Woo Ri tahu yang dimaskud adalah Joon Ha, “Dengan siapa dokter Jang Joon Ha bermain? siapa orang jahat itu?”
Dong Joo : “Ayahku!”


Joon Ha dan Choi Jin Chul makan bersama di restauran, kedunya berada di ruangan dalam. Presdir Choi ingin Joon Ha menuangkan minuman untuknya sebagai pengganti ia sudah melaksanakan permintaan Joon Ha. Joon Ha menuruti, ia menuangkan minuman untuk Presdir Choi.


Presdir : “Ketika aku melihatmu pertama kali di pesta itu, kukira kau mirip seseorang.”
Joon Ha : “Siapa seseorang itu?”
Presdir : “Aku. Mirip ketika aku kecil. Penuh percaya diri, tak terhentikan dan tak pernah ragu. Sulit bagi seorang pemuda untuk bisa seperti itu. Kau pasti sudah banyak berlatih. Itulah bedanya antara kau dan Dong Joo.”
Joon Ha : “Apa bedanya antara aku dan Dong Joo?”
Presdir : “Kau pantas sebagai ... dan Dong Joo penuh kekurangan. Walapun kekurangan itu selalu ditutupi seseorang. Itulah kenapa dia suka seenaknya. Orang-orang seperti kau dan aku, kita harus bisa survive dengan cara kita. Kita harus menjaga diri kita sendiri.”


Pelayan masuk membawakan makanan dan membiarkan pintu ruangan terbuka.
“Kau jangan minum lagi, kau akan pingsan!” itu suara Woo Ri, Joon Ha mendengar suara Woo Ri. “Aku bukan orang selemah itu, aku baik-baik saja!” terdengar pula olehnya suara Dong Joo. Ternyata mereka berada dalam restauran yang sama. Tapi Presdir Choi belum menyadarinya, ia asyik melahap makanannya.


Dong Joo terus minum, Woo Ri kesal. “Lakukan apa saja semaumu, kalau kau pingsan aku akan pergi meninggalkanmu disini!”
Dong Joo : “Bong Woo Ri, apa Bong Ma Roo terlantar dan pergi?”
Woo Ri : “Jangan bicara begitu tentang oppa-ku!”
Dong Joo : “Dia memberikanmu arlojinya, meninggalkanmu dan berjanji akan kembali. Oppa seperti apa itu? kau panggil saja aku ‘Oppa’ aku tak suka kotoran semut seperti itu!”
Woo Ri : “Kenapa kau marah bicara tentang Oppa-ku? Walau bagaimanapun aku tetap menyukai Oppa-ku!”
Dong Joo : Apa?
Woo Ri : “Asal kau tahu, Oppa-ku adalah cinta pertamaku!”


Dong Joo mengangkat wajahnya dan melihat joon berdiri di sana. Woo Ri belum menyadari hadirnya Joon Ha dan Joon Ha mendengar apa yang dikatakan Woo Ri tadi.
Dong Joo : “Jadi cinta pertamamu adalah kotoran semut itu? aku tak menyukainya!”


Ketika Dong Joo akan meminum lagi tiba-tiba tangan Joon Ha menahannya. “Dokter?” Woo Ri tak menyangka Joon Ha juga ada di restouran yang sama dengannya. Joon Ha meminta Woo Ri pulang bersama Dong Joo. “Apa aku tak boleh ikut minum?” Dong Joo akan meminum minumannya lagi, tapi Joon Ha mencegahnya, “Bukankah aku sudah memintamu untuk tak minum?”
Dong Joo : “Kenapa aku tak boleh seperti ini seperti itu? sedangkan kau bisa!”
Joon Ha berkata kalau Presdir Choi ada di sana, “Tak ada artinya jika kalian berdua bertemu!”
Dong Joo : “Benarkah? Kalau begitu bawa Bong Woo Ri pulang!”
Dong Joo meminta maaf pada woo Ri karena ia sudah agak mabuk, “Mintalah Kakak mengantarmu pulang.” Woo Ri malah meminta Joon Ha mengantar Dong Joo pulang. Dong Joo tak mau, ia ingin mereka pulang bersama.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Presdir Choi. Presdir melihat Dong Joo tengah bersama Woo Ri, “Orang yang menggembar-gemborkan diri akan menjadi pemimpin Woo Kyung, pergi dengan orang seperti ini?”


Woo Ri merasa tak enak ia akan pergi. Dong Joo menarik Woo Ri supaya berdiri di sampingya, “Kau mengenal Bong Woo Ri kan? Karena kau ada disini kenapa tak minta maaf?”
Joon Ha menyuruh Dong Joo segera pulang membawa Woo Ri. “Dasar pecundang!” gumam Presdir Choi.
Dong Joo : “Apakah kau kehilangan ingatan seperti aku? Kudengar ibu Bong Woo Ri meninggal karena Woo Kyung!”

Amarah Presdir meledak ia akan melempar kursi kearah Dong Joo. Tapi Joon Ha dan Sekertaris Kim menahannya, Joon Ha mengajak Dong Joo dan Woo Ri keluar tapi Presdir meminta semuanya tetap di tempat karena ia belum menyuruh mereka pergi.


Dong Joo menatap marah Presdir, “Hubungan antara aku dan kakakku tak ada yang bisa memisahkan. Dan jangan pernah mencobanya!”


“Apa? Kau brengsek!” Presdir akan menampar Dong Joo tapi dengan sigap Dong Joo menahan tangan Presdir Choi.
Dong Joo : “Kalau kau tak ingin membunuhku, jangan pernah menyentuhku!"



re-posted and re-edited by : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment