Thursday, October 03, 2013

Can You Hear My Heart Episode 17


Dong Joo tersentak kaget dengan apa yang dilihatnya. ‘Palm Kiss’ Kakaknya dengan Woo Ri. Melihat itu air mata Dong Joo menetes dengan sendirinya, “Kakak? Kakak?” Gumamnya pelan tak percaya.
Woo Ri dan Joon Ha berpandangan, Woo Ri segera berdiri Joon Ha minta maaf dan langsung menarik Woo Ri kepelukannya. Joon Ha memeluk Woo Ri sangat erat, seakan ia tak ingin melepaskan Woo Ri. Dong Joo masih di sana melihat ini, Joon Ha melihat adiknya. Tapi ia tak melepaskan pelukannya pada Woo Ri. Dong Joo segera pergi dari sana. Woo Ri ingin melepas pelukan itu tapi Joon Ha memeluknya erat, Joon Ha menangis.


Dong Joo berjalan tak tentu arah meninggalkan kediaman Woo Ri. Semakin lama langkahnya semakin cepat, ia berlari melintasi jalanan malam. Pikirannnya kacau hingga tak menyadari ada mobil yang melaju di belakangnya. Mobil itu berulang kali meng-klakson dan karena memang Dong Joo tak bisa mendengar ia tak menyadarinya.
Dong Joo berhenti berlari, ia melihat sinar dari belakang (lampu mobil) Dong Joo berbalik dan terkejut melihat ada mobil di belakangnya dan si supir berteriak marah, “Apa kau mau mati?” bentak si supir.


Supir keluar dari mobil dan melabrak Dong Joo yang masih terdiam, “Apa kau mau mati? Apa kau sudah gila?” Dong Joo hanya mengatakan maaf berulang kali dengan perasaan sedih.


Joon Ha masih menangis memeluk Woo Ri, ia tak tahu bagaimana ini bisa terjadi. “Woo Ri aku tak tahu apa-apa!” tangis Joon Ha. Perasaan Woo Ri juga berkecamuk, ia terharu sekaligus sedih matanya berkaca-kaca. Ia mengangkat tangannya perlahan menepuk punggung Joon Ha berusaha menghibur Joon Ha, “Jangan menangis!” ucap Woo Ri.


Dong Joo berdiri membelakangi aquariumnya, ia menggenggam kantung kacangnya. Tak berapa lama kemudian ia pun terduduk.


Presdir Choi mengamati sketsa wajah Ma Roo, ia tampak memikirkan sesuatu.

Joon Ha pulang ke rumah Dong Joo, ia melihat ruangan di rumah remang-remang. Ia berfikir kalau Dong Joo sudah tidur. Joon Ha tak jadi masuk tapi kemudian ruangan menjadi terang benderang, Dong Joo menyalakan lampunya dan belum tidur. Joon Ha masuk ke rumah.

Dong Joo melihat kakaknya datang keduanya bertemu pandang. Joon Ha langsung mengambil minuman di kulkas (kan tadi udah mabuk, mau minum lagi kah dia)


Joon Ha menawari Dong Joo minuman. Dong Joo merebut paksa botol minumannya dan berkata kalau Kakaknya sudah terlalu mabuk. Joon Ha menyangkal kalau ia tak mabuk. Dong Joo bersikeras kalau Kakaknya sudah mabuk. Keduanya berebut botol minuman hingga botol itu jatuh dan pecah berantakan.


Dong Joo membersihkan pecahan botol. Joon Ha meminta Dong Joo membiarkannya, ia sendiri yang akan membersihkannya. Dan pecahan botol itu mengenai telapak tangan Dong Joo hingga berdarah. Joon Ha cemas apa Dong Joo tak apa-apa. Ia menyuruh adiknya menyingkir, ia yang akan membersihkannya dan akan melihat luka Dong Joo.

Dong Joo menatap Kakaknya dan berkata kalau Joon Ha sudah mabuk biar ia saja yang membersihkannya. Joon Ha meyakinkan kalau dirinya tak mabuk.


Tahu kalau adiknya marah gara-gara melihat ia bersama Woo Ri. Joon Ha langsung berkata jujur, keduanya bertatapan, “Sudah kubilang dia bukan adikku. Dia sama sekali tak ada hubungan denganku. Maksudku... aku menyukai Bong Woo Ri!”
Dong Joo meninggikan suaranya, “Bong Ma Roo!”
“Aku Jang Joon Ha. Namaku adalah Jang Joon Ha Kakaknya Cha Dong Joo!” suara Joon Ha tak kalah tinggi.

Joon Ha meminta Dong Joo membersihkan lukanya sebelum tidur agar tak infeksi. Ia langsung bangkit pulang ke rumah Ibunya.


Esok harinya Woo Ri mengantar susu di rumah Dong Joo, susu putih dan susu coklat. Ia tak bisa melihat kondisi dalam rumah karena tirai tertutup rapat. Woo Ri menebak kalau Dong Joo sudah berangkat kerja.


Young Kyu melambai ke arah Woo Ri meminta Woo Ri cepat. Woo Ri berkata pada ayahnya kalau kemarin ia agak cemas, tapi sekarang ia sudah merasa senang. Young Kyu juga demikian, ia mengatakan karena ibunya tak ada ia merasa cemas tapi sekarang ia sudah merasa senang. Woo Ri tanya apa ayahnya mau melakukan sesuatu agar Nenek bisa mengingat ayahnya. Young Kyu ingat sesuatu. Tapi ketika ia ingin mengatakannya Young Kyu melihat Na Mi Sook mencoret-coret gambarnya.


Young Kyu langsung mengumpat, Woo Ri terkejut melihat Na Mi Sook pagi-pagi ada di Taman Botani. Young Kyu marah kenapa Mi Sook selalu mencoret-coret. “Apa kau tahu, aku sedang marah karena ibuku pergi?” Mi Sook mengangkat tangannya, “Apa katamu? Katakan lagi!” Mi Sook meminta Young Kyu mengatakan lagi umpatan Young Kyu. Young kyu menolak, “Aku tak mau (mengatakannya) weee...!” Ia menjulurkan lidahnya hehe. Mi Sook kesal, ia langsung membuka kacamata, “Hey...” bentaknya keras.


Mata Woo Ri membesar melihat wajah Mi Sook tanpa kaca mata, ia berjalan maju perlahan menghampiri Mi Sook. Young kyu juga melihat Mi Sook, “Woo Ri ini nasi manis. Tepung dimana mana!” (bedak kali maksudnya)
Woo Ri tak percaya dan berkata terbata-bata, “A-a-ayah dia mirip Ibu...” Young Kyu menyangkal tak mirip. “Dia lebih mirip nasi manis. Nasi manis, wajah dipenuhi tepung.” Mi Sook tambah kesal, “Kau ini. Orang seperti apa kau?” Young kyu dengan senyum polosnya langsung memperkenalkan diri membuat Mi Sook bertambah kesal. Woo Ri mengatakan kalau Young kyu ini ayahnya.


Mi Sook meminta Woo Ri mengikutinya. Young kyu mengucapkan selamat tinggal untuk Mi Sook, “Orang yang ditinggalkan cinta selamat jalan!” (hehehe) Mi Sook menahan kesal, ia meminta Woo Ri pergi ke toko jam 12 nanti, ia sekarang ingin sendirian.
Mi Sook berjalan pergi dari taman dengan kekesalannya. Tingkah kesalnya seperti anak kecil. Hihi jingkat jingkat.


Mi Sook mencoba sampel produk lotion kosmetik Re:nk. Dong Joo ingin tahu pendapat Mi Sook tentang produknya. Mi Sook memuji produk lotion Dong Joo tak lengket di kulit. Ia tak suka yang lengket-lengket. Dong Joo tersenyum dan berkata kalau ia berpikiran sama dengan Mi Sook.
Mi Sook minta maaf karena sudah meminta Dong Joo datang pagi-pagi, ini karena ia tak suka penasaran. Dong Joo kembali berkata kalau ia juga berfikiran sama dengan Mi Sook.


Mi Sook menjelaskan kalau pendapatnya itu berdasarkan hasil penjualannya, ia menyukai cara berpenghasilan seperti itu dan ia akan menentukan sendiri siapa yang akan bekerja dengannya. Ia tak suka buang-buang waktu. Dong Joo setuju.

Mi Sook ingin Dong Joo merubah konsep workshop-nya, “Life Change Academy ‘Rubah hidupmu bersama Energy Cell’.” Ia tak menyetujui konsep ini. "Kosmetik tak bisa merubah hidup seseorang!" Dong Joo kembali menyetujui usulan Mi Sook dan menawarkan apa ada yang lain yang diinginkan Mi Sook. Mi Sook ingin memandu seseorang untuk bekerja dengannya.


Kang Min Soo masuk ruangan Dong Joo dan senang melihat Na Mi Sook ada di sana. Kalau ia tahu Mi Sook akan datang ia akan membawa bekal sandwich lebih banyak. Min Soo akan memberikan sandwich itu untuk Dong Joo.
Dong Joo berkata Min Soo tak perlu melakukan itu. Ia meminta Mi Sook mendiskusikan jadwal workshop dengan Min Soo. Dong Joo langsung keluar.


Min Soo merengut ia semalaman tak tidur hanya membuat sandwich untuk Dong Joo. Melihat itu Mi Sook langsung mendesah ia tak menyukai kerumitan. “Tak perlu memperalakukanku secara berlebihan, yang akan mencerita bukan sandwich tapi kau!”


Joon Ha bangun tidur, ia mengeluh kepalanya sakit. Ny Tae membawakan minum untuknya. Ny Tae tanya Joon Ha minum dengan siapa. Joon Ha menjawab ia minum sendirian. Karena konferensinya ditunda ia tak ada kerjaan jadi ke warung yang di pinggir jalan, kapan-kapan ia akan mengajak ibunya ke sana.
Ny Tae akan mengajak bicara Joon Ha berdua, tapi Presdir Choi keluar dari kamar. Presdir Choi mengajak Joon Ha jalan-jalan dengannya untuk menikmati udara pagi.


Presdir Choi memulai pembicaraan ia berkata kalau Dong Joo tak punya pilihan. Ia merasa Dong Joo mengincarnya. “Begitu bernafsunya dia hingga tak sadar dia sudah memegang senjata terbalik dan akan menikam dirinya sendiri. Waktu itu kenapa kau pergi begitu saja? Kalau mau berbisnis jangan campur bisnis dengan urusan pribadi!”
Joon Ha menjawab bukankah kontraknya sudah ditandantangani, jadi apa yang harus didiskusikan lagi.

Presdir : “Jadi kau sudah mendapatkan semua yang kau inginkan dariku? Kelihatannya kau sangat dekat dengan Dong Joo tapi kau sudah meninggalkan Dong Joo. Kau tak akan berhenti sampai di sini?”
Joon Ha berkata kalau penilaian Presdir sudah salah. Sekarang ia sudah memiliki hubungan dengan Presdir Choi, itu sudah cukup. “Mulai sekarang aku akan membantu Dong Joo, Aku tak pernah meninggalkan Dong Joo!”


Presdir Choi penasaran, “Apa benar kau putra dokter Jang? Kalau kuperhatikan kau sama sekali tak mirip dengan dokter Jang dan juga tak mirip dengan kepribadiannya!” Joon Ha berkata sesantai mungkin, “Apa kau kenal dengan ayahku?” Presdir menjawab kalau ia pernah bertemu beberapa kali sebelum Kakek Dong Joo meninggal.
Joon Ha menilai Presdir Choi orang yang impresif, bisa membandingkan ia dan ayahnya hanya dalam beberapa kali pertemuan. “Ayahku orang yang unik sebagai anaknya aku pun tak mengenalinya!”


Presdir Choi tersandung kakinya sendiri, spontan Joon Ha memeganginya, “Anda harus hati-hati!” sahut Joon Ha. Presdir menatap Joon Ha, ada yang aneh ketika ia menatap Joon Ha. Presdir berkata ia akan mengajak Joon Ha jalan-jalan lagi lain kali.

Breakfast keluarga Woo Ri dan Seung Chul. Paman Lee sudah tak sabar, ia ingin segera sarapan, tapi putranya belum juga muncul membawakan makanan.


Young Kyu turun dari lantai 2 tergesa-gesa, ia memperlihatkan surat yang ia buat untuk ibunya. Ia minitipkan surat itu pada Woo Ri. Surat dengan gambar semangkuk nasi dengan tulisan.
Paman dan Bibi Lee heran, apa itu sebuah surat. Bibi Lee penasaran dan melihatnya langsung. Young Kyu menjelaskan isi tulisannya, kalau ibunya pulang apapun akan ia lakukan untuk ibunya. “Akan kubuatkan nasi untuknya, akan kupijat kakinya, akan kunyanyikan lagu untuknya!”


Bibi Lee memuji ini sangat hebat begitu puitis hanya dangan satu kata ‘segalanya’ Young Kyu sudah mengungkapkan seluruh isi hatinya. “Sampai tulangmu-pun akan kau berikan pada ibumu. Begitu kan maksudmu?” Young kyu malah tak mengerti apa yang disampaikan Bibi Lee.


Seung Chul membawakan ayam goreng buatannya, ia meminta Woo Ri makan semuanya. Ia sudah mempelajari 1000 resep cara memasak ayam. “Aku ingin dirasakan semuanya, itu cukup untuk sarapan kita seumur hidup.” Ucap Seung Chul sambil menatap Woo Ri. Woo Ri tak percaya, “Sarapan ayam goreng setiap hari?”

Bibi Lee tanya apa maksudnya sarapan kita seumur hidup. Suaminya menyenggol meminta istrinya tak usah mempedulikan putranya, “Dia memang payah dia kembali pun tak ada yang berubah di sini. Selama dia ada disini kita tak perlu khawatir!” Seung Chul merengut melihat orang tuanya bicara berbisik.


Seung Chul mempersilakan semuanya makan karena saat kafe-nya dibuka nanti semuanya boleh makan ayam goreng sampai teler. Ibunya heran, siapa yang mau membuka kafe ayam. Sueng Chul merangkul ibunya dan meminta ibunya makan saja dulu (apakah dia mau minta modal buat usahanya?? hehe)
Seung Chul menatap Woo Ri dan bicara tanpa suara, “Aku akan membuka restauran ayam. Kita kerjakan sama-sama!”


Paman Lee merasa ayam gorengnya kebanyakan dan mengusulkan memberikannya pada Dong Joo, Young Kyu setuju. Bibi Lee bilang jangan dibawakan, “Suruh dia datang ke sini. Woo Ri cepat panggil dia, aku sudah rindu padanya. Sudah lama tak bertemu dengannya!” Bibi Lee langsung terkekeh.
Seung Chul kesal ia meninggikan suaranya, “Apa maksudmu Dong Joo?” Woo Ri langsung tersedak. Seung Chul makin heran.


Seung Chul menarik Woo Ri ke kamar Woo Ri. Seung Chul marah apa Woo Ri membawa Cha Dong Joo pulang ke rumah. “Musuhmu? Apa kau masih waras?” Woo Ri meminta Seung Chul jangan berteriak seperti itu, ayahnya tak tahu kalau Dong Joo itu anggota keluarga Woo Kyung.

Seung Chul : “Apa yang kau lakukan? Kau berbohong pada Paman. Apa yang kau rencanakan?”
Woo Ri : “Memangnya menurutmu apa? Cha Dong Joo sudah mempekerjakan ayah lagi. Dia baik pada ayah dan ayah menyukainya!”
Seung Chul : “Kau sendiri bagaimana? Paman tak tahu kalau Cha Dong Joo itu anggota keluarga Woo Kyung. Kau sendiri bagaimana? Apa kau tak ingat ketika dia membohongimu lalu kau pusing memikirkan bagaimana mengembalikan uangnya? Bukankah uangnya sudah dikembalikan semua? Jadi tak ada alasan lagi untuk bertemu dengannya. Kenapa kau berhubungan lagi dengannya?”

Woo Ri tak tahu harus menjelaskan dari mana dulu.
Seung Chul : “Dia musuh ibumu. Apa kau sudah lupa?”
Woo Ri tak lupa itu, dia anak Presdir Woo Kyung tapi dia bukan musuh.
Seung Chul heran, dia?


Woo Ri berkata kalau ceritanya sangat rumit, ia akan menjelaskannya nanti. Seung Chul meminta Woo Ri menjelaskannya sekarang, “Sederhanakan saja ceritanya!”
Woo Ri terbata-bata menjelaskannya, “Itu.. ah... Ayah Cha Dong Joo adalah Presdir Woo Kyung tapi Cha Dong Joo bukan orang jahat. Sebenarnya dia juga tak menyukai ayahnya!”

Seung Chul kembali meminta Woo Ri menjelaskannya lebih sederhana. Woo ri akan menjelaskan. Tapi Seung Chul memotong ucapan woo Ri, ia menatap sedih, “Sudahlah lupakan saja!” sahut Seung Chul, ia tahu Woo Ri tak bisa mengatakannya karena ini menyangkut perasaan pribadi Woo Ri. “Kau memang lugu, kau hanya menyukai dia karena dia baik pada ayahmu kan? Tapi perasaan itu... tak boleh kau teruskan!”

Seung Chul keluar dari kamar Woo Ri, tapi ia kembali berbalik akan masuk lagi tapi ia mengurungkan niatnya. Ia menyandarkan kepalanya ke pintu kamar Woo Ri.


Woo Ri sampai di kantor Energy Cell tergesa-gesa. Kerana ia sekarang berada di perusahaan kosmetik Woo Ri ingat sesuatu ia langsung ke kaca dan memakai lipstik wehehe.
Dan toeng Joon Ha melihat dan menatap heran. Woo Ri berbalik dan terkejut melihatnya. Joon Ha tak menyangka bisa bertemu Woo Ri di kantor Energy Cell.


Woo Ri tanya apa perut Joon Ha sudah tak apa-apa karena mabuk semalam, setahunya mie dingin bisa membuat perut jadi lebih enak. Joon Ha tersenyum, “Kalau begitu kita nanti cari mie dingin!” (mengajak makan bersama)
Tapi Woo Ri bilang sibuk. Joon Ha menyindir apa Woo Ri takut mentraktirnya. Woo Ri menggeleng bukan itu. Joon Ha berkata tak apa-apa, ia juga tak mau makan mie dingin, “Aku.... kemarin tidak mabuk. Aku masih sadar.”
woo Ri : “Kau semalam mabuk!”
Joon Ha : “Benar. Dan jangan lagi kau katakan kalau aku mirip Kakakmu. Aku bukan Kakakmu!”


Dong Joo mengatakan kalau produknya sebentar lagi akan diluncurkan, apa perlu menambah lebih banyak penata rias. Shin Ae mengusulkan merekrut beberapa wanita cantik, “Untuk menjadi sales itu harus cantik agar orang mau beli.” Mi Sook membenarkan dan menatap tajam Shin Ae, “Dia cantik!” (Mi Sook menyuruh Shin Ae jadi sales kah hahaha)

Mi Sook meminta Dong Joo tak usah pikirkan masalah merekrut pegawai fokus saja pada produk. Karena ia ketua manajer ia yang bertanggung jawab untuk merekrut pegawai. Shin Ae marah ia tak terima karena itu adalah jabatannya, “Siapa ketua manajer? Aku ketua manajer. Aku ditunjuk dari kantor pusat.”


Mi Sook : “Kau terlalu cantik. Kecantikanmu akan sia-sia kalau terus duduk di belakang meja.”

Min Soo terkekeh membenarkan ucapan Mi Sook. Dong Joo juga membenarkan, Na Mi Sook-lah yang menjadi kepala Manajer dan Shin Ae bisa bekerja di lapangan.


Dong Joo menyerahkan semuanya pada Mi Sook ia akan keluar. Tapi ia melihat Kakaknya dan Woo Ri masuk bersamaan. Dong Joo yang masih marah kerana kejadian semalam langsung meninggalkan tempat, Woo Ri menatap heran. Joon Ha menyusul Dong Joo.

Shin Ae heran dan bertanya pada Woo Ri kenapa Woo Ri datang. Mi Sook yang menjawabnya, ia yang menyuruh Woo Ri datang. “Apa ada masalah?” Mi Sook membuka kaca mata hitamnya. Woo Ri kembali terkejut, “Kau mirip Ib...” Mi Sook meminta Woo Ri jangan menyebut itu karena bisa membuatnya menggigil, ia tak menyukai kata-kata itu.


Shin Ae merasa terganggu dengan kehadiran Woo Ri dan meminta Woo Ri jangan dekat-dekat dengannya. Shin Ae menyuruh Woo Ri pulang dan masak buat ibumu. “Hey...” bentak Mi Sook membuat Shin Ae tersentak kaget. Sampai Joon Ha yang di dalam ruangan pun mendengarnya.


Dong Joo akan ke lab dan meminta Kakaknya mengatakan apa yang ingin disampaikan. Joon Ha berkata kalau pembelian pabrik kedua sudah selesai dan Dong Joo bisa memulainya setelah inspeksi dan instalasi selesai. Dong Joo memuji itu sangat hebat, apa ada lagi yang akan disampaikan Joon Ha.

Joon Ha bertanya bagaimana dengan tangan Dong Joo. Dong Joo melihat telapak tangannya yang diplester dan mengatakan sudah tak apa-apa.

Joon Ha mengajak Dong Joo makan siang bersama, kedatangannya memang untuk mengajak Dong Joo makan bersama. Dong Joo berkata seharusnya Joon Ha mengatakannya dari tadi kerana ia harus pergi sekarang.


Mi Sook dan Shin Ae masih beradu mulut. Mi Sook marah, “Kau pikir kau siapa memutuskan tamuku pergi atau tidak!” Shin Ae tak kalah galak, “Beraninya kau bicara informal seperti itu padaku, berapa usiamu?”

Min Soo melerai dan mengatakan kalau ini di kantor, kalau mau berdebat lakukan di luar. Woo Ri meminta Bibi-nya jangan seperti itu. Shin Ae malah menyalahkan Woo Ri, bukankah Woo Ri sudah disuruh pulang kenapa tak pulang. Dong Joo dan Joon Ha melihat keributan ini.

Woo Ri berkata ia akan pulang tapi ia ada janji disini, “Aku harus mendengarkan apa yang disampaikan Na Mi Sook padaku sebelum pulang!” Shin Ae tak suka Woo Ri membantah perkataannya. Shin Ae bilang ia akan mengirimkan sms nama password pintu rumahnya dan meminta Woo Ri cepat pergi. Mi Sook minta Woo Ri mengacuhkan saja apa yang disampaikan Shin Ae.


Shin Ae yang sudah marah menarik paksa Mi Sook, “Kau pikir aku ini siapa?” Dengan santai Mi Sook menjawab, “Nyonya besar!”
Wohoho semua menganga mendengar Mi Sook berani mengatakan itu. Shin Ae tambah marah. Banyak yang harus dilakukan Mi Sook, ia tak ingin berdebat dengan Shin Ae karena ia sudah lelah melihat kantor polisi (wah seringkah dia bolak balik masuk kantor polisi)

Shin Ae : “Apa kau pikir kata-katamu membuatku takut? Apa kau mau kutunjukan sesuatu yang menakutkan? Apa kau pikir Cha Dong Joo bisa membantumu? Tapi aku punya hubungan langsung dengan Presdir!”
Mi Sook mencibir, “Gariskan eyeliner dengan lurus, punya-mu tak simetris.” Shin Ae tambah murka. Woo Ri menahannya, “Bibi!” Shin Ae mendorong Woo Ri bukankah ia sudah bilang melarang Woo Ri memanggilnya Bibi.


Dong Joo akan maju tapi Joon Ha maju lebih dulu, “Woo Ri.. Kenapa kau diam saja dihina seperti itu. Dia seseorang yang tak mau dipanggil Bibi. Dia bukan siapa-siapa!”
Shin Ae : “Dokter Jang?”
Joon Ha akan mengantar Woo Ri pulang. Min Soo menatap heran. Woo Ri melihat Dong Joo dan menolak ajakan Joon Ha. Ia datang untuk bertemu dengan Na Mi Sook.

Mi Sook menatap Dong Joo kemudian bergilir menatap Joon Ha, “Rumit sekali!” sahutnya. “Aku memanggilmu karena aku ingin kau bekerja denganku. Hubungi aku setelah kau putuskan!”

Joon Ha kembali mengajak Woo Ri pergi. Shin Ae menyidir Woo Ri memiliki kemampuan hebat, “Setelah menendang Nenekmu keluar dari rumahmu kau jadi berubah!” Woo Ri menyangkal bukan begitu keadaan yang sebenarnya. Joon Ha meminta Woo Ri jangan menanggapinya. Joon Ha kembali mengajak Woo Ri.

Dong Joo menatap kesal ia mengajak Min Soo pergi. Woo Ri menatap kepergian Dong Joo dengan tatapan sedih. “Aku bilang ayo!” Joon Ha mengeraskan suaranya.

Shin Ae yang sudah sangat marah juga meninggikan suaranya, “Dokter Jang kau sudah berbuat kesalahan.”


Min Soo berkata pada Dong Joo kalau ia baru pertama kali melihat Joon Ha seperti itu. Kenapa dia jadi begitu dekat dengan Bong Woo Ri. Dong Joo berbalik menatap ke belakang.


Shin Ae : “Dokter Jang kenapa sikapmu jadi seperti ini? Apa yang sudah kulakukan padamu? Kenapa setiap kita bertemu kau selau membuatku kesal?”
Joon Ha : “Karena setiap melihatmu, kau membuatku kesal dan itu terjadi sejak kita pertama kali bertemu. Aku hanya tak suka padamu. Lalu harus bagimana lagi?” (ketika di rumah Ny Tae,  Ma Roo mengambil berkas beasiswa-nya dan di sana Ma Roo bertemu Shin Ae)


Woo Ri menarik Joon Ha untuk menghindari pertengkaran yang lebih besar. Dong Joo kembali dan melihat Woo Ri memegang tangan Joon Ha (haduh.....)
Dong Joo mengajak Kakaknya makan di luar. Menyadari Dong Joo ada di sana Woo Ri langsung melepas tangannya dari tangan Joon Ha. Joon Ha menyadari itu.


Ke-empatnya makan bersama. Min Soo duduk di samping Dong Joo, Woo Ri di samping Joon Ha. Min Soo berkata kalau makanan disini enak. Woo Ri tak segera makan ia hanya meminum air putihnya saja. Woo Ri merasa tak nyaman.
Joon Ha : “Kenapa kau tak makan? Apa tak sesuai seleramu? Apa mau kupesankan yang lain?”

Dong Joo menatap perhatian Kakaknya pada Woo Ri, ia juga meminum air putihnya. Joon Ha menyodorkan makanan untuk Woo Ri. Woo Ri merasa tak nyaman, ia akan kembali meminum air putihnya tapi gelas itu sudah kosong.

Joon Ha memanggil pelayan untuk mengisi air putih Woo Ri. Dong Joo langsung menyodorkan gelasnya yang masih berisi air putih ke Woo Ri. “Minumlah ini!” Min Soo heran kenapa memberi dia minuman air putih yang sudah Dong Joo minum. Woo Ri tak segera meminumnya. Dong Joo langsung mengambil kembali gelasnya, “Lupakan saja kalau begitu jangan diminum!”

Woo Ri melihat telapak tangan Dong Joo diplester dan bertanya kenapa apa sakit. Dong Joo dan Joon Ha berpandangan. Min Soo menarik tangan Dong Joo melihat luka itu lebih jelas, “Bos apa kau terluka? Aku baru tahu. Kenapa?”


Dong Joo : “Bong Woo Ri-ssi, Na Mi Sook ingin kau bekerja dengannya. Apa kau tertarik bekerja di Energy Cell?”
Joon Ha langsung menjwab pertanyaan Dong Joo, ia berkata kalau Woo Ri tak akan mau. “Dia lebih suka menjual mobil. Biarpun uang jatuh dari langit dia akan tetap menjual mobil. Bukankah begitu?” Dong Joo kesal dan menegaskan kalau ia bertanya pada Woo Ri, “Apa kau tak mau datang dan bekerja denganku?”
Min Soo menatap keanehan pada ke-tiga-nya.

Joon Ha : “Kenapa sedang makan kita bicara tentang pekerjaan?”
Dong Joo mengatakan kalau setelah makan ia harus ke lab. “Apa kau mau ke lab denganku? Kita bisa banyak bicara di sana!” ajak Dong Joo pada Woo Ri. Woo Ri diam ia belum bisa memutuskan. Joon Ha meminta Dong Joo menghentikan semua ini, “Karena kau semua orang jadi tak nyaman!”


Dong Joo : “Karena aku?”
Min Soo yang tak tahu apa-apa ikut bicara, “Ada apa? Apa kalian bertiga menyembunyikan sesuatu dariku?”
Dong Joo : “Kau bilang itu karena aku? Bukankah itu karena kau?”
Joon Ha : “Cha Dong Joo?”
Woo Ri menyela apa karena hal ini Dong Joo mengajaknya makan siang. Lebih baik ia pulang dan makan nasi sisa. Woo Ri bangkit dan akan pergi. Dong Joo berkata kalau ia belum selesai bicara. Joon Ha menarik Woo Ri untuk duduk kembali. Joon Ha emosi, “Sudah kubilang hentikan!”


Dong Joo dan Joon Ha bicara berdua. Joon Ha berkata kalau Dong Joo marah padanya lampiaskan saja kenapa marah pada Woo Ri.
Dong Joo : “Lalu, haruskah kuperlakukan Bong Woo Ri dengan baik?”
Joon Ha : Apa?
Dong Joo : “Kau bilang kau menyukainya. Kau bilang kau serius, kalau begitu apa aku bisa menunjukan rasa sayangku padanya di depanmu?”
Joon Ha menatap tajam adiknya, “Lakukan semaumu. Tak ada pengaruhnya bagiku!”

Dong Joo : “Benarkah? Inikah dirimu yang sebenarnya? Aku tak bisa melihatmu menjaga Bong Woo Ri di depanku seakan tak terjadi apa-apa. Hal itu membuatku marah. Biarpun aku tak memberitahu kau tahu segalanya tentang aku. Haruskah kau bersikap seperti itu di depanku? Di matamu sekarang, apa hanya ada Bong Woo Ri? Apa kau sudah tak melihat adikmu lagi, Cha Dong Joo!”
Joon Ha pelan berkata ya. “Aku tak peduli padamu!”
Dong Joo : Apa?


Joon Ha kembali mengulang kata-katanya dengan penuh keyakinan, “Aku tak peduli padamu... Setiap kau bersama Woo Ri. Maafkan aku... aku tak mempedulikanmu!”
Mata Dong Joo terlihat sedih, Kakak?
Joon Ha kembali menatap tajam Dong Joo dan bicara tegas, “Cha Dong Joo, setiap kau bersama Woo Ri kau jangan memikirkanku. Dan mulai saat ini aku akan seperti itu, jadi kau juga lakukan hal yang sama.”


Min Soo berkata apa Woo Ri tak tahu. Ia sendiri bisa tahu walau hanya dengan melihat, “Salah satu dari mereka menyukaimu dan salah satunya tidak suka!” (wahaha salah, suka semua) Bagaimana Woo Ri bisa memisahkan 2 orang yang tak terpisahkan selama 16 tahun.

Woo Ri menyangkal bukan seperti itu. Min Soo bilang ia tak memarahi Woo Ri tapi malah memuji Woo Ri sangat bagus, “Kau menyelesaikan keinginanku yang tak terpenuhi selama 5 tahun.” Sekarang tinggal masalah waktu ia dan Dong Joo bersatu, karena dari yang ia lihat hari ini Joon Ha-lah yang menyukai Woo Ri. Walaupun ia agak menyesal melepaskan Joon Ha, “Tapi akan kuberikan dia padamu!”
Woo Ri : “Tapi Eonni...”

Tiba-tiba terdengar suara Dong Joo mengajak Min Soo pergi. Min Soo senang ia langsung beranjak. Woo Ri melihat keduanya pergi.


Ny Tae menelepon Sekertaris Kim untuk mencari tahu keberadaan Dokter Jang. Ny Tae berpesan pada Sek Kim, Dokter Jang harus segera menemuinya di Seoul, ini keadaan darurat sampai Dokter Jang pun dipanggil. Ny Tae kesulitan menghubunginya. Ny Tae tanya apa Choi Jin Chul memberikan perintah lain setelah melihat gambar itu.


Dong Joo dan Min Soo tiba di Lab dan langsung menyapa Ny Tae. Ny Tae segera menutup teleponnya.
Ny Tae tanya kenapa datang terlambat. Min Soo langsung mengaitkan tangannya ke lengan Dong Joo dan berkata kalau mereka makan siang dulu, “Kencan!” tegas Min Soo. Ny Tae berkata itu membuatnya sedih, apa itu sebabnya Dong Joo tak menghubunginya. Dong Joo melepas tangan Min Soo dan berkata pada ibunya agar jangan lagi datang ke Lab karena para pegawai akan merasa tak nyaman.

Ny Tae berkata kalau kedatangannya untuk bertemu Dong Joo ada yang ingin ia katakan. Dong Joo bilang ia tak punya waktu, ia harus melakukan tes keamanan terhadap produknya. Ny Tae memaksa hanya 1 menit. Ny Tae bicara seperti berbisik pada Dong Joo agar Min Soo tak mendengar, “Choi Jin Chul meminta cerai!” Dong Joo terkejut melihat ibunya mengatakan ini. Kemudian keduanya bicara berdua tanpa Min Soo.


Ini lebih cepat dari yang diperkirakan Ny Tae. “Aku ketahuan, ditambah lagi musuhku, Shin Ae.” Dong Joo tanya apa yang ibunya pikirkan bukankah ini tak ada masalah. Ny Tae mengatakan walaupun ia memenangkan perceraian ini, begitu ia meninggalkan Woo Kyung akan sulit untuk kembali, “Aku sudah lama bersabar. Bagaimana bisa dia mengirim perempuan itu ke kantor? Dia bukan manusia!”
Dong Joo : “Kalau begitu.. apa yang Ibu ingin aku lakukan?”

Ny Tae meminta Dong Joo merahasiakan ini dari Joon Ha, “Aku tak ingin dia ditinggalkan. Tapi kalau Joon Ha tahu betapa malangnya diriku.” Ny Tae hampir menangis, Dong Joo memeluk Ibunya (jelas ini tangis palsu Ny Tae)


Nenek menaruh beberapa Roti di tas Woo Ri, sekarang ia bisa makan makanan enak dengan lega karena anak dan cucunya juga ikut makan itu.
Woo Ri membawakan obat untuk Neneknya. Nenek meminta Woo Ri membawa roti-roti itu ke Ayah Woo Ri. Nenek berkata kalau Shin Ae tak suka memasak, “Setiap dia keluar dia selalu menyodorkan makanan ini kepadaku ini makanan mahal, hanya kau dan ayahmu yang makan, mengerti?”

Woo Ri meminta Nenek pulang bersamanya. Nenek menolak ia beralasan lebih suka tinggal di tempat Shin Ae. Lebih baik Woo Ri memberi tahu young kyu, ia tak perlu makan karena setiap melihat gambar nasi buatan Young Kyu ia sudah merasa kenyang. “Lihatlah bagaimana dia menuliskan kata-kata ini. Anakku memang pintar!” seru Nenek. Ia juga baru sadar kalau Ma Roo juga pintar karena diajarkan Young Kyu.


Woo Ri : “Nenek kalau kau tidak pulang karena Kak Ma Roo, akan kucari dia!”
Nenek kaget, Woo Ri akan mencarinya dimana. Woo Ri mengambil gambar Ma Roo yang dibawanya dan memperlihatkan pada Nenek, “Bukankah ini Kak Ma Roo?” Nenek terkejut gambar Ma Roo ada di tas Woo Ri. Nenek meraba gambar Ma Roo, “Ya ampun anakku!” Nenek menangis menatap gambar itu. Woo Ri tanya dimana Nenek melihat Ma Roo, “Dimana bertemu dia?”

Nenek mengelak gambar itu bukan Ma Roo, terakhir ia ke rumah sakit dan ketika Shin Ae pergi, “Dia yang menuntunku!” Woo Ri heran rumah sakit. “Apa Nenek yakin bertemu dia di rumah sakit? Apa dia mengaku sebagai Bong Ma Roo?”
Nenek terus mengelak kalau itu bukan Ma Roo, dia hanya seseorang yang menunjukan jalan. Nenek meminta Woo Ri cepat pulang membawa barang-barang Woo Ri. Woo Ri mengerti dan segera pulang. Setelah Woo Ri pulang Nenek mengeluh kapan Woo Ri datang lagi.


Woo Ri di dalam lift ia berniat menghubungi Joon Ha, Woo Ri berfikir itu pasti dia tapi kenapa namanya Jang Joon Ha. Woo Ri tak jadi menghubungi Joon Ha.


Woo Ri keluar dari lift dan bertabrakan dengan Presdir Choi yang akan masuk lift (ow ow) Keduanya berpandangan sejenak dan pintu lift langsung menutup.
Woo Ri mengeluh kenapa ia selalu tak beruntung (kenapa harus bertemu dia) Woo Ri akan pergi tapi ia penasaran mau kemana Presdir Choi. Woo Ri melihat berhenti di lantai berapa Presdir Choi naik. Lantai 20. Kediaman Shin Ae juga di lantai 20.

Woo Ri kaget ia teringat ucapan Neneknya yang mengatakan kalau Ma Roo ditemukan penjahat itu akan membawanya.


Presdir Choi menunjukan gambar Ma Roo yang dibawanya pada Nenek. Nenek terkejut Presdir Choi memiliki sketsa gambar cucu-nya.

Presdir Choi : “Apa ini Ma Roo? Katakan kapan, dimana, dan bagaimana kau bertemu dia?”
Nenek menyamakan sketsa gambar itu dengan sketsa gambar yang dimilikinya dari Woo Ri tadi. Nenek heran kenapa bisa ada dua fotocopian. Nenek berusaha merebut gambar tapi Presdir Choi menarik kertasnya.

Presdir meminta Nenek mengatakan padanya dengan jelas sebelum Nenek kehilangan ingatannya, “Seorang ayah berhak untuk bertemu dengan anaknya.”


Nenek : “Ya ampun kalau bicara jangan sembarangan. Ayah seperti apa kau? Selama 16 tahun ini Young Kyu selalu menyiapkan nasi untuk anaknya. Lalu kau bagaimana? Setiap malam dia selalu menunggu anaknya sampai tertidur di depan pintu dan setiap dia merindukan anaknya dia membenturkan kepalanya ke dinding sambil berteriak Ma Roo Ma Roo Ma Roo. Dia memanggil nama Ma Roo ratusan kali bahkan ribuan kali. Mengetahui Young kyu yang seperti itu, lalu kau ayah seperti apa?”

Presdir marah, “Aku datang bukan untuk mendengar ini katakan dimana kau bertemu Ma Roo?”
Nenek : “Kalau aku tahu kau mau apa? Aku tak tahu kenapa kau mau bertemu Ma Roo tapi Young Kyu ingin bertemu dia juga agar bisa memberikannya semangkuk nasi. Kenapa aku harus membawa Ma Roo ke orang sepertimu? Biarpun aku bisa menemuinya aku akan tetap bilang kalau aku tak tahu.”


Presdir Choi : “Kurasa kau belum mengenalku dengan baik. Kalau kau terus menolak kau tahu apa yang akan terjadi dengan putrimu? Tidakkah kau melihat sendiri bagaimana dia berlutut dan memohon? Putrimu... apa kau ingin aku menghisap darahnya sampai habis?”
Nenek mengumpat, “Kau pantas mati!” Nenek akan mencekik Presdir Choi tapi tenaga Presdir lebih kuat ia menepisnya.

Woo Ri menekan password pintu rumah Shin Ae, ia langsung masuk dan terkejut mendengar suara Presdir Choi yang sangat marah.


Woo Ri melihat Presdir Choi memarahi Neneknya. Woo Ri menguping.
Presdir : “Kalau kau temukan Ma Roo akan kuperlakukan putrimu dengan baik. Akan kubiarkan dia masuk rumahku.”
Nenek : “Memangnya kenapa dengan putriku?”
Presdir : “Kalau kau tak mau mendengar aku memakimu, carilah Ma Roo. Begitu Ma Roo ditemukan akan kutendang mereka semua keluar (Ny Tae dan Dong Joo) aku sudah tak tahan lagi melihat Dong Joo akan menjadi ahli warisku. Carilah Ma Roo. Cari anak kandungku Bong Ma Roo jangan sampai aku yang mencari lalu berlumuran darah. Anakku Bong Ma Roo, dia-lah pewaris Woo kyung. Bawa dia padaku. Ayahnya seorang yang impresif, bagaimana mungkin dia menjadi anak seorang yang idiot? Ma Roo anakku yang malang, CARI DIA. Aku tak akan memberikan jerih payahku pada Cha Dong Joo. Aku akan memberikannya pada anakku.”


Woo Ri tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia gemetaran mengetahui kenyataan kalau Kakaknya yang ia cari-cari selama ini, Bong Ma Roo adalah anak kandung dari musuh no 1 nya Choi Jin Chul.


Woo Ri langsung berlari keluar, ia tak turun dengan lift tapi lewat tangga. Woo Ri lemas dan langsung terduduk di tangga, ia berusaha mencerna apa yang baru didengarnya tadi, “Choi Jin Chul. Tidak. Tidak mungkin!” Woo Ri tak percaya, ia menangis tak percaya.

Woo Ri mengingat kejadian ketika Joon Ha berkata minta maaf atas nama Ma Roo. Joon Ha memberikan jam tangan untuknya sebagai pengganti jam tangan Ma Roo agar Woo Ri melupakan Ma Roo. Kemudian ketika Woo Ri menutup wajah gambar Ma Roo dan ketika ia menutup wajah Joon Ha. Air mata Woo Ri mengalir deras, “Jang Joon Ha... Bong Ma Roo!” Woo Ri mengambil ponsel akan menghubungi Joon Ha tapi ia masih berat melakukannya.

Sementara itu Joon Ha membeli tiket cable car untuk satu orang.

Woo Ri masih di depan apartemen Shin Ae, ia menunggu seseorang. Dan yang ditunggu pun datang, Cha Dong Joo. Ternyata Woo Ri menghubungi Dong Joo bukan Joon Ha.


Dong Joo melihat Woo Ri duduk sendiri dengan tatapan mata yang sedih, Dong Joo menghampirinya dan bertanya ada apa. Woo Ri malah balik bertanya kenapa Dong Joo terlambat ia sudah lama menunggu.
Dong Joo menahan lengan Woo Ri, “Kau bilang mau mengatakan sesuatu apa itu?” Woo Ri berkata lebih baik pergi dari sini dulu ia tak mau tinggal disini. Dong Joo menatap gedung apartemen di depannya dan terheran-heran.

Woo Ri melamun di mobil Dong Joo. Dong Joo membetulkan letak kaca mobilnya agar bisa melihat Woo Ri bicara, “Kau bisa bicara sekarang!” Woo Ri menolak karena Dong Joo tengah mengemudi. Dong Joo bilang tak apa-apa. Woo Ri berkata kalau ini akan berbahaya. Dong Joo langsung berhenti menepikan mobilnya, “Bicaralah!” pinta Dong Joo.


Woo Ri menatap Dong Joo dalam hati ia bertanya, “Apakah Jang Joon Ha adalah Bong Ma Roo? Jang Joon Ha adalah Bong Ma Roo, begitukan?”
“Bicaralah!” Dong Joo menunggu Woo Ri bicara tapi Woo Ri hanya diam menatapnya. “Kau menyuruhku datang kenapa tak bicara? Kenapa diam saja?”
Woo Ri : “Memangnya tak boleh?”
Dong Joo : Apa?
Woo Ri : “Aku memintamu datang agar aku bisa melihatmu. Apa tak boleh?”

Giliran Dong Joo yang diam terpaku. Woo Ri mengeraskan suaranya, “Aku tanya apakah tak boleh?”
“Kalau begitu tak usah bicara. Lebih baik seperti itu!” Dong Joo langsung menjalankan mobilnya kembali.


Woo Ri terus memandang Dong Joo yang mengemudi. Dong Joo memperhatikannya melalui kaca mobil.

Keduanya sampai disuatu tempat. Woo Ri heran kenapa Dong Joo mengajaknya ke sini. Dong Joo berkata bukankah Woo Ri hanya ingin melihatnya dan meminta Woo Ri jangan banyak bicara. Dong Joo membukakan pintu mobil Woo Ri.

Dong Joo mengajak Woo Ri ke diskotik. Ya ampun hehehe...

Woo Ri mengajak Dong Joo pulang. Dong Joo tanya kenapa, ini tempat yang cocok untuk saling melihat, “Berisik sekali disini aku tak bisa mendengar apa-apa. Disini gelap jadi pegang tanganku erat-erat!” Dong Joo menggandeng tangan Woo Ri.


Woo Ri dan Dong Joo duduk berdampingan, Woo Ri merasa tak nyaman apalagi Dong Joo terus menatapnya.
Dong Joo : “Apa kau mau dansa?”
Woo Ri : Apa?
Dong Joo : “Kita berdansa sambil berpandangan!”


Woo Ri tak mendengar, “Apa? Apa katamu?” Dong Joo mengeraskan suaranya, “Aku bilang ayo kita dansa!” Woo Ri melirik ke baju yang dipakainya serasa tak cocok dengan suasana diskotik, “Bagaimana aku bisa keluar seperti ini?”
“Kenapa?” Dong Joo mendekatkan wajahnya, “Apa kau ingin terlihat hebat bersamaku?”


Woo Ri mendorong wajah Dong Joo dengan jarinya, “Menjauhlah!”


Dong Joo kembali mendekatkan wajahnya dan berkata tak bisa menjauh, penglihatannya jelek dan di sini gelap. “Aku juga ingin melihatmu tapi aku tak bisa melihatmu dengan jelas!”
Woo Ri : “Apa kau mempermainkanku?”
Dong Joo : “Ya. Aku merayumu karena kau jelek.”
Woo Ri : apa?
Dong Joo menengokan kepala Woo Ri untuk melihat ke lantai dansa, “Lihat baik-baik. Bukankah kau yang paling atraktif di sini? Tapi ... bagaimana kau bisa melakukan itu?” Woo Ri tak mengerti maksud Dong Joo.
Dong Joo : “Kau itu Si angsa buruk rupa. Jadi bagaimana kau bisa melakukan itu?”
Woo Ri masih tak paham, melakukan apa.
Dong Joo : “Mulai sekarang, jangan pedulikan siapapun di sekitarmu. Apalagi yang tak ada di sekitarmu, apa aku mengerti?”


Joon Ha naik cable car sendirian huhuhu tatapan matanya sendu. Ia mengingat perkataan Woo Ri yang mengatakan setiap Woo Ri melihatnya, Woo Ri semakin merindukan Ma Roo. Pengakuan Woo Ri, jika dibandingkan dengan Cha Dong Joo, Joon Ha sedikit lebih baik. Dan dibandingkan Dong Joo, Woo Ri lebih menyukai Joon Ha. Joon Ha tersenyum simpul mengingat itu, tapi sesaat kemudian tatapan matanya kembali serius.


Dong Joo mengetuk-ngetuk meja seakan mengikuti irama musik. Woo Ri melihatnya dan teringat ucapan Choi Jin Chul yang didengarnya tadi, bahwa begitu Ma Roo ditemukan Choi Jin Chul akan menendang mereka semua keluar.


Woo Ri meraih tangan Dong Joo, Dong Joo sedikit terkejut. Woo Ri memandang luka di telapak tangan Dong Joo, “Apa sakit?”


Dong Joo tersenyum, “Dibandingkan dengan Jang Joon Ha, kau lebih baik.” Dong Joo menggenggam tangan Woo Ri, “Rasa sakitnya berkurang jika kau menggenggam tanganku.”


Dong Joo kembali mendekatkan wajahnya ke Woo Ri, “Tapi ... sekarang antara kau dan Jang Joon Ha. Aku masih menyukai Jang Joon Ha sedikit. Jadi kau harus berusaha keras. Shhhh.. kau memang angsa si buruk rupa!”
Woo Ri mengalihkan wajahnya tak ingin air matanya diketahui Dong Joo, “Cha Dong Joo apa kau mau berdansa denganku?” Ajak Woo Ri. Kini giliran Dong Joo yang terkejut, “Apa? Aku tak bisa dansa!”
Woo Ri : “Lalu kenapa kita disini?”
Dong Joo : “Sebernanya untuk ...”
Woo Ri memotong ucapan Dong Joo, “Mengatakan aku jelek!”
Dong Joo : “Itu salah satunya.”
Woo Ri : “Lalu mengatakan kalau kau bisa berdansa!”
Dong Joo menyangkal ia tak bisa berdansa. Woo Ri menariknya turun ke lantai dansa.

Woo Ri menari atraktif mengikuti irama musik disko, Dong Joo menatapnya heran. Ia diam saja tak tahu harus berbuat apa. Woo Ri menari berputar kesana kemari.


Dong Joo melihat sekeliling, ia mulai merasa tak nyaman. Woo Ri menarik wajah Dong Joo agar jangan melihat kemana-mana. “Apa yang kau lakukan? Jangan melihat orang lain. Lihat saja aku.”
Dong Joo : “Tapi, dimana kau belajar dansa seperti ini?”
Woo Ri : “Temanku Seung Chul yang mengajarkannya. Ketika di SMA dia tergila-gila dengan dansa, setiap aku dan ibunya mengejarnya aku belajar diam-diam!”
Dong Joo heran, “Di SMA? Akan kulaporkan kau ke polisi!” haha
“Terserah kau!” Woo Ri terus menari menikmati irama musik disko. Woo Ri menggerak-gerakan tangan Dong Joo supaya bergerak.

Dong Joo berkata ia sudah menyesal membawa Woo Ri ke diskotik dan mengajak Woo Ri pulang. Woo Ri menolak, “Aku akan berdansa sampai pingsan dan melupakan semuanya.” Dong Joo diam melihat Woo Ri yang terus jingkrak-jingkrak.


Woo Ri berhenti menari dan menatap Dong Joo, ia langsung berhambur memeluk Dong Joo. Woo Ri melepas pelukannya, “Mulai sekarang kau tak boleh berkata apa-apa!” Woo Ri menangis dan menyandarkan kepalanya ke dada Dong Joo. Dalam pelukan Dong Joo, Woo Ri berkata sambil menangis, “Aku. Walaupun aku menjadi Bong Woo Ri terburuk di dunia, kau harus tetap menyukaiku. apa kau mengerti?” (Dong Joo tak tahu apa yang diucapkan Woo Ri)

Dong Joo melepas pelukannya pelan Woo Ri tertunduk, “Bukankah kau tak mau bicara?” Woo Ri mengangguk.


Dong Joo menarik Woo Ri ke pelukannya. Woo Ri menangis dalam pelukan Dong Joo. Dalam hati Dong Joo berkata, “Bong Woo Ri bisakah kukatakan satu hal. Seperti sekarang ini... tetaplah disisiku.”


Woo Ri sampai di rumah, ia melihat ayahnya sudah tertidur pulas sambil mengigau menyebut nama ibunya. Woo Ri berbaring di sebelah ayahnya, Woo Ri memeluk ayahnya.


Presdir Choi memperkenalkan Joon Ha kepada para Direktur, ia meminta para direktur bisa mempercayai Joon Ha karena Joon Ha itu kepercayaannya. Salah satu Direktur itu bilang kalau ia mengandalkan masa depannya pada Joon Ha karena Presdir Choi juga sangat berharap pada Joon Ha. Joon Ha memberi hormat.

Ponsel Joon Ha berdering ia tampak senang melihat siapa yang meneleponnya. Joon Ha bicara menjauh dan berkata ia bisa datang dan meminta menunggunya.
Joon Ha berkata pada Presdir Choi kalau ia ada janji penting. Presdir mengizinkannya. Joon Ha mohon diri, ia tampak senang sekali. Presdir menatapnya penuh kecurigaan.

Presdir Choi sampai di sebuah hotel, ia akan menemui seseorang. Ia sampai di sebuah kamar dan menekan bel kamar, “Siapa itu?” terdengar suara dari dalam.


Pintu terbuka Presdir Choi tersenyum, “Lama tak bertemu!” sahut Presdir Choi. “Lama tak bertemu Presdir!” ucap Dokter Jang. (ya ampun... Gaswatttt...)


Joon Ha sampai di tempat ia janjian dengan seseorang, Joon Ha keluar dari mobil dan melihat Woo Ri berdiri di seberang jalan sendirian. Ia tersenyum menatap Woo Ri. Joon Ha menghampiri Woo Ri.

Joon Ha memuji penampilan Woo Ri yang tampak lain dengan tas selempangan, bukan tas gendong, “Kenapa kau kesini?”
Woo Ri : “Aku ke sini untuk menagih hutang. Bukankah kau sudah kutraktir dua kali makan siang?”
Joon Ha : “Kemarin kau tak mau kuantar pulang, kenapa sekarang datang sebagai tukang tagih?”
Woo Ri : “Kalau tak mau... aku mau aku pergi saja!”


Joon Ha bercanda, ia tersenyum dan mengajak Woo Ri masuk ke mobilnya. Joon Ha memasangkan sabuk pengaman untuk Woo Ri dan bertanya Woo Ri mau makan apa. Woo Ri bilang ia tak mau makan, “Belikan aku yang lain.”
Joon Ha : “Ahh.. apa kau menganggapku orang kaya? Kau mau kubelikan apa?”
Woo Ri : Terserah!
“Ayo pergi kemana saja!” Joon Ha tersenyum sangat senang.

Joon Ha memilihkan tas untuk Woo Ri, “Yang ini cantik!” sahutnya.


Dan jreng penampilan Woo Ri pun sudah berubah dengan gaun hitam yang membuatnya tampak feminim. Woo Ri tersenyum dan berkata kalau Joon Ha sudah membelikan banyak untuknya. Joon Ha berkata kalau di dalam masih banyak lagi. Joon Ha menggandeng Woo Ri masuk ke toko tas.

Joon Ha mengambil tas tangan cantik untuk Woo Ri, tapi Woo Ri memilih-milih tas gendong. Joon Ha terkejut dengan pilihan Woo Ri, “Apa kau ingin seperti kura-kura lagi?”


Woo Ri berkata kalau ia menyukai tas itu. Joon Ha setuju, tas itu bisa menggantikan tas ransel Woo Ri dan bertanya Woo Ri mau apa lagi. Woo Ri memandang Joon Ha. Joon Ha kembali bertanya apa Woo Ri ingin pergi ke suatu tempat. Woo Ri menjawab tidak tapi bisakah ia memiliki kedua tas itu. Joon Ha tersenyum membolehkan (apa sih yang ga kalau lagi dimabuk cinta apa aja dituruti hehe)


Woo Ri teringat sesuatu, “Dokter. Jam tangan itu bisakah kau memberikannya lagi padaku?”
Joon Ha heran, apa?
Woo Ri : “Resepmu, bisakah kau kembalikan?”
Joon Ha : “Kau bilang kau tak memerlukannya. Kau bilang kau tak akan mau melupakan Kakakmu?”
Woo Ri : “Tadinya seperti itu tapi sekarang tidak bisa. Aku terjangkit penyakit lagi!”


“Dokter....” Woo Ri menatap tajam Joon Ha.
“Dokter Jang Joon Ha.” Woo Ri tersenyum.
“Kak Ma Roo...!” Woo Ri menitikan air mata. “Aku tak akan mencarinya lagi!”



re-posted and re-edited by : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment