Thursday, October 03, 2013

Can You Hear My Heart Episode 12


Dong Joo ingin ibunya mengembalikan Joon Ha ke keluarganya, “Ibu bilang ibu mencintainya. Tapi Ibu memenjarakan dia disisi ibu, apa itu namanya cinta? Walaupun dia kembali tak ada yang berubah, kalau ibu tak mau melakukannya biar aku yang mengembalikan dia ke keluarganya!”

Ny Tae langsung murka dan menampar putranya. Woo Ri yang mengintip di luar terkejut melihatnya.
Ny Tae : “Mengembalikan dia? Siapa? siapa yang bilang seperti itu? apa hakmu memutuskan ini?”
Dong Joo : “Lalu apa yang tidak aku ketahui? Apa ada alasan lain sampai Ibu tak mau melepaskannya? Katakan!”
Ny Tae beralasan ia tak bisa membiarkan Dong Joo sendirian.


Woo Ri merasa ia tak perlu melihatnya lagi tapi kemudian terdengar teriakan yang memekakan telinganya hingga ia pun tersentak, “Aku akan membunuhnya!” teriak Ny Tae.


Ny Tae : “Dia sudah membunuh Kakekmu, orang yang membuatmu seperti ini. Choi Jin Chul, Orang itu aku akan membunuhnya. Aku akan membuat dia menyesal dan menderita seumur hidup. Merobek-robek hatinya perlahan-lahan sampai mati. Aku akan melakukan itu. Apa bisa kau melakukan itu semua?”
Dong Joo diam saja

Ny Tae : “Apa aku mencintai Joon Ha? Apakah aku memikirkan nasibnya? Dia sendiri yang memilih kehidupan ini. Kenapa aku harus memperhatikannya? Joon Ha sendiri tak masalah, lalu kenapa kau harus meributkannya? Apa kau bisa hidup tanpa Joon Ha? Selama Peresmian kau terus menatapnya. ‘Hyeong, Hyeong’ Kau yang membutuhkan Joon Ha. Kulakukan ini bukan untukku, tapi semua ini demi kau. Jangan pernah berfikir untuk membiarkan Joon Ha pergi!”


Mata Dong Joo berkaca-kaca, “Apa hati Ibu tenang dengan berkata seperti itu. Tanpa ibu mengatakannya aku tahu kalau aku tak sempurna. Tapi aku mencoba untuk selalu bersabar dan terus mencoba. Tidak bisa melindungi Kakekku, itu bukan kesalahan ibu tapi kesalahanku. Itu sebabnya akan kulakukan ini!”


Ny Tae berkata tapi tak menatap putranya, “Benar. Lakukanlah!” Dong Joo tak tahu apa yang diucapkan ibunya. Air mata Dong Joo menetes deras.


Di luar rumah Ny Tae berkata dalam hati, “Benar Dong Joo, lakukanlah! Walaupun kau melakukan itu dia akan tetap ku-adu dengan Choi Jin Chul. Untuk kesalahanku ini pada Joon Ha aku akan menerima semua hukumannya!”

Woo Ri masih berada di luar jendela menatap Dong Joo yang masih berdiri mematung.


Nenek terus mencari Joon Ha dan ia melihatnya. Nenek menahan tangis berusaha mengejar Joon Ha. Dengan langkah tertatihnya Nenek berhasil menarik Joon Ha perlahan, “Ma Ma Roo Ma Roo!” ucap Nenek.


Joon Ha memandang Nenek kaget, “Kenapa anda seperti ini?” Nenek menangis dan memukul-mukul Joon Ha, “Anak nakal!”
“Nenek, kenapa kau seperti ini?” mata Joon Ha mulai berkaca-kaca. Nenek terus menangis sambil memukul-mukul Joon Ha, “Anak nakal. Kau benar aku Nenekmu, cucuku kau cucuku!”


Nenek berusaha menyentuh wajah Joon Ha. “Ma Roo Ma Roo Ma Roo!” Nenek menyentuh kedua pipi Joon Ha. Joon Ha tak kuasa menahan air matanya.
Joon Ha : “Aku tak mengerti apa yang anda katakan? Tapi anda harus tenang. Nenek kau pasti salah mengenali orang!”
Nenek : “Lalu dari mana kau tahu namaku Hwang Soon Geum? Kalau kau bukan cucuku dari mana kau tahu namaku? Anak nakal, anak nakal!”


Joon Ha menarik Nenek menepi supaya tak ada yang melihat. Nenek minta Joon Ha menariknya pelan-pelan. “Pulanglah sekarang, ayahmu menunggumu!” Pinta Nenek.
Joon Ha : “Aku tak mau. Aku tak mau pulang. Bong Ma Roo sudah meninggal!”
Nenek : Apa?
Joon Ha : “Bong Ma Roo sudah meninggal. Asal kau tahu itu, begitulah aku hidup. Nenek, Ayah, keluargaku sudah meninggal, begitulah aku hidup!”
Nenek : “Ma Roo?”
Joon Ha : “Apa Nenek tahu kenapa aku pergi? Aku tak akan kembali pada kalian. Jauh dari ayah dan nenek, aku tak membenci kalian!”


Tangis Joon Ha mulai pecah, “Aku merasa seperti ini lebih baik. Meninggalkan rumah yang penuh sesak. Aku... Sekarang aku merasa lega, Nek. Walau kau menyeretku aku tak akan pulang, kau tahu aku keras kepala.
Aku sekarang memiliki ibu dan aku punya adik laki laki, bukan adik yang memalukan seperti dulu. Aku sekarang punya keluarga yang kucintai dan aku tak akan pulang!”

Nenek : “Tidak Ma Roo, ayahmu selalu menunggumu!”
“Aku tak pernah memikirkan Ayah!” Joon Ha mengeraskan suaranya. “Kenapa harus dia yang menjadi ayahku? Kenapa aku harus kembali untuk selalu menghindarinya? Apa untungnya aku kembali? Kenapa aku harus kembali? kenapa?


Nek, tak mau-kah kau melihatku bahagia? Cucumu, Bong Ma Roo... Biarkan aku hidup bahagia. Lebih baik kau pura-pura tak tahu. Lupakan dia. Anggap saja Ma Roo sudah meninggal. Kumohon padamu!”

Nenek tak bisa menerima itu, “Kalau seperti itu ayahmu akan meninggal!”
Joon Ha : “Lalu aku bagaimana? Nenek, bagaimana dengan aku?”


Nenek ingin menyentuh Joon Ha, tapi Joon Ha menyingkir. Kaki Nenek sudah tak kuat lagi dan ia pun jongkok sambil menatap Joon Ha, “Ma Roo Ma Roo!”

Joon Ha langsung pergi meninggalkan Nenek sendirian yang terus memanggil namanya, “Ma Roo Ma Roo Ma Roo!”


Young Kyu di depan gerbang rumah Dong Joo menulis kata ‘pergi’ di tanah. Ia membacanya, “Pergi pergi pergi!”

Woo Ri minta maaf karena membuat ayahnya menunggu lama. Young kyu melihat mata Woo Ri merah. Woo Ri beralasan kalau ia mengantuk dan ia pura-pura menguap di depan ayahnya.
Young Kyu masih penasaran kemana wanita menakutkan itu. Woo Ri mengatakan kalau wanita itu sudah pergi dan Cha Dong Joo baik-baik saja, jadi ayahnya tak usah khawatir.


Young Kyu menunjukan tulisan yang ditulisnya, tulisan itu ia tujukan untuk wanita yang menakutkan itu. Woo Ri tak menyangka ayahnya yang menulis ini, “Kapan Ayah belajar ini dulu Ayah tak mau kuajari?”
Young Kyu mengatakan kalau Dong Joo yang mengajarinya, “Itu nama-nama ikan. Kalau mereka nakal aku harus menuliskan namanya Ka Na Da Ma Pa Sa!”


Woo Ri heran Dong Joo menamai ikan dengan huruf. Ia penasaran apa Dong Joo bisa menyebutkannya dengan terbalik. Young Kyu berkata Dong Joo tak bisa menyebutkan huruf secara terbalik dengan lancar, dia melakukannya lambat, “Cha Dong Joo itu pasti bodoh tapi dia baik hati, seperti orang bodoh (pabo katte)!” Young Kyu memperagakan bahasa isyarat orang bodoh.


Woo Ri merasa aneh bukankah Dong Joo bilang kalau dia tak bisa mengingatnya. Ia pun setuju pendapat ayahnya kalau Dong Joo itu bodoh.
“Pabo pabo pabo (bodoh bodoh bodoh)!” ucap Young Kyu sambil meletakkan jempol di hidungnya. Young Kyu mengajak Woo Ri lari pulang.


Shin Ae kebingungan mencari ibunya di rumah sakit. Ia pun melihat ibunya duduk jongkok bersandar pada tembok. Shin Ae emosi, “Apa ini ruang periksa atau kau pikun lagi? Di gedung seluas ini bagaimana aku bisa mencarimu?” Shin Ae menyuruh ibunya berdiri.


Nenek yang masih sedih berkata kalau ia bertemu Ma Roo, “Aku bertemu anakmu!” Shin Ae mengira ibunya pikun lagi. Shin Ae tanya bagaimana hasil pemeriksaannya, “Apa hasilnya tetap saja sama?” (penyakit dementia) Nenek kembali berujar, “Aku melihat anakmu Ma Roo!”


Shin Ae berkata kalau sekarang masalahnya bukan Ma Roo, tapi Woo Ri yang akan pergi dari rumah. Ia minta ibunya jangan mengatakan itu di depan Woo Ri, apa ibunya pikir ia bisa hidup dengan ibunya. Ia meminta ibunya menutup mulut.


Bibi Lee membereskan pakaian Seung Chul, ia memasukkan beberapa pakaian ke koper. Paman Lee mencoba jaket jeans milik putranya yang tampak kekecilan di badannya.
Seung Chul mengambil lagi beberapa potong pakaian dan minta ibunya memasukan itu juga. “Kau itu mau belajar menggoreng ayam atau mau ikut peragaan busana?” tanya ibunya. Seung Chul cuma nyengir.

Young Kyu datang menggendong ibunya. Ia berteriak pada Woo Ri agar membereskan tempat tidur Nenek. Seung Chul langsung berdiri dan berseru, “Woo Ri kita kerjakan sama-sama!”


Bibi Lee ingin tahu dan ia bertanya pada Shin Ae bagaimana hasil pemeriksaannya apa penyakitnya bisa disembuhkan. Shin Ae tak menjawab ia malah menutup hidung karena Bibi Lee dekat-dekat dengannya, “Bau ayam!” sahut Shin Ae. Bibi Lee penasaran ia mencium baju dan rambutnya hehe.


Woo Ri segera menggelar kasur Nenek, Seung Chul membantu menata bantal. Nenek langsung berbaring dan diselimuti. Young Kyu dan Woo Ri langsung memijit kaki Nenek. Dengan nada suara sedih Nenek meyakinkan kalau ia tak merasa sakit, ia hanya ingin berteriak.

Seung Chul meminta Nenek tak boleh sakit, ia akan pergi belajar menggoreng ayam selama 10 hari, “Aku akan kembali sebagai profesor ayam goreng. Supaya Woo Ri tak kesulitan Nenek harus tetap sehat!”
Woo Ri ingin tahu bagaimana hasil pemeriksaannya. Shin Ae menyampaikan kalau ibunya masih bisa hidup seribu tahu lagi apa Woo Ri puas dengan jawabannya.


Nenek ingin Shin Ae menginap di rumahnya malam ini, karena ia ingin bicara dengan putrinya. Melihat sikap Nenek yang berubah ini Bibi Lee malah mengira Nenek pikun lagi, karena meminta Shin Ae menginap. Shin Ae menolak, “Cukup kau perhatikan anakmu dan cucumu, aku jangan dibawa-bawa!” Shin Ae langsung keluar.

Seung Chul memeluk Nenek dan meminta Nenek harus tetap sehat. Bibi Lee manarik putranya untuk segera turun dan berkemas.

Woo Ri tanya apa Nenek mau ke kamar mandi. Nenek minta semuanya keluar ia ingin tidur. Setelah semuanya keluar Nenek hanya bisa menangis sedih.


Dong Joo duduk melamun di kursi pianonya. Joon Ha datang membawa belanjaan dan melihat adiknya melamun.


Pluk Joon Ha melempar sesuatu ke arah Dong Joo. Dong Joo malas bercanda dengan kakaknya, ia hanya memalingkan wajahnya sedikit. Joon Ha tanya kenapa Dong Joo diam saja. Ponsel Joon Ha berdering, ia mengira itu telepon dari ibunya tapi itu telepon dari Presdir Choi. Dong Joo memperhatikan kakaknya bicara. Joon Ha bicara menjauhi Dong Joo.


Presdir Choi ingin bertemu dengan Dong Joo dan Joon Ha, ia agak khawatir tentang Dong Joo. Ia meminta Joon Ha menjaga Dong Joo layaknya adik sendiri.


Ny Tae ingin tau apa suaminya tadi baru menelepon Joon Ha. Suaminya membenarkan dan mengatakan kalau malam ini Joon Ha tidur di rumah Dong Joo. Ny Tae merasa aneh bukankah suaminya tak menyukai Joon Ha, dari mana suaminya tahu nomor ponsel Joon Ha. Presdir hanya menjawab, jika ia menginginkan sesuatu apa istrinya pikir ia tak bisa mendapatkannya.

Presdir memuji istrinya memiliki pengamatan yang bagus tentang Joon Ha, “Jang Joon Ha kelihatannya baik, perhatikanlah dia baik-baik!”
Ny Tae : “Kalau tentang mengamati sesuatu aku tak pernah salah, kau bisa mengandalaknnya. Kalian berdua sangat mirip!”


Dong Joo dan Joon Ha memasak bersama, memanggang daging dan minum. Dong Joo mengeluh kenapa tak memasak makanan yang mudah saja. Joon Ha melempar sesuatu, Dong Joo meminta kakaknya jangan melakukan itu (Ha ji ma)
Joon Ha : “Kenapa kau menaggilku ahjumma (Bibi)?”
“Ha ji ma!” Dong Joo mengucapnya lagi.


Joon Ha berkata kalau cara pelafalan ucapan Dong Joo selalu sama, bagaimana Dong Joo bisa membedakannya. Ia memuji adiknya sangat jenius, “IQ mu 300 dan karena aku yang mengajarimu jadi IQ ku 301!”
Dong Joo ingin tahu apa ibu yang menyuruh Joon Ha datang ke rumahnya. Joon Ha berkata kalau ia hanya ingin main.


Dong Joo menegaskan kalau Kakaknya ingin kembali ke Amerika, pergi saja. Joon Ha berkata kalau ia kembali ke Amerika ia pasti akan memberi tahu Dong Joo, “Memangnya apa yang harus kusembunyikan darimu?” Dong Joo meminta Joon ha berjanji, “Kalau ibu menahanmu aku ingin kau tetap pergi!”

Dong Joo merasa ada yang aneh dan bertanya apa ada sesuatu. Joon Ha mendesah ternyata sulit menyembunyikan sesuatu dari Dong Joo. Dong Joo tanya apa yang terjadi. “Aku tak tahu!” jawab Joon Ha sambil meminum minumannya. “Apa ada yang salah?” tanya Dong Joo ingin tahu.

“Aku bertemu Nenekku!” jawab Joon Ha jujur.
Dong Joo : Apa?
Joon Ha : “Aku bertengkar dengannya di rumah sakit!”
Dong Joo bertanya apa sampai sekarang Joon Ha tetap tak mau pulang.


Joon Ha : “Dong Joo, ayahku itu baik kan? Nenekku juga orang yang baik, hanya saja dia suka mengumpat. Bong Woo Ri juga suka melakukannya. Dia bilang aku ini anak brengsek. Lucu kan?”
Joon Ha berusaha tertawa, “Melihat mereka dari kejauhan, rasanya mereka itu lucu. Rasanya menyenangkan hidup bersama mereka!”

Wajah Joon Ha kembali serius, “Tapi pada akhirnya jika hidup bersama mereka aku menjadi sesak. Kau menyuruhku menjadi menjadi Kakakmu dan Kakak Bong Woo Ri kan? Tapi bagaimana? Walau bagaimana pun aku tak pernah mengagapnya sebagai adikku. Aku hanya.... Maafkan aku karena hidupnya tak seperti hidupku!”

“Cha Dong Joo, bisakah kau hidup tanpa aku?” Joon Ha kembali meminum minumannya.


Woo Ri melihat ayanya tidur di luar kamar. Ia akan keluar dan terkejut melihat Nenek keluar kamar. Ia segera lari pelan, Nenek tak menyadarinya. Nenek membetulkan selimut putranya.

Woo Ri sampai di lantai bawah dan terdengar teriakan Bibi Lee yang marah karena suaminya kentut. Hahaha. Woo Ri langsung sembunyi.


Paman Lee keluar kamar membawa bantalnya dan ngomel, “Memangnya orang tidak boleh kentut?” Paman Lee menutup pintu kamar tapi istrinya melarang, jangan menutup pintu apa suaminya mau membunuh dirinya dengan bau kentut itu. wakakaka...

Paman Lee langsung tidur di depan TV sambil ngomel, “Apa kau pikir omelanmu tak membuatku hampir mati? Lebih enak tidur di luar!” Paman Lee nungging dan ia pun mengeluarkan suara kentutnya lagi hahaha, “Ah lega rasanya...” Woo Ri yang berada di sana langsung tutup hidung.


Nenek memandangi Young Kyu yang tertudur pulas, “Young Kyu apa yang bisa kulakukan tanpamu. Aku bisa gila, kalau aku bisa akan kupaksa dia pulang!”
Nenek menangis sedih, “Young kyu, aku bertemu anakmu. Anak yang keras kepala itu. Sifat keras kepalanya tidak hilang sama sekali. Tapi, dia itu kan bukan anakmu kenapa dia sangat mirip dengnmu?” Nenek menyentuh wajah Young kyu, “Dagumu mirip, warna alismu juga. Anakmu masih hidup. Ma Roo masih hidup!”


Malam-malam Woo Ri ke rumah Dong Joo, ia melihat Dong Joo menyelimuti Joon Ha yang tertidur. Woo Ri tersenyum dan bergumam kalau Dong Joo sangat sehat.


Dong Joo membaca berkas sambil memainkan kantong kacangnya. Woo Ri terkejut kantongnya masih ada. Bukankah kemarin Dong Joo bilang kalau kantong itu sudah dibuang. Woo Ri kesal Dong Joo berbohong padanya.


Esok harinya Woo Ri menggenjot sepeda dan tersenyum sumringah, ia melintasi taman botani untuk mengantar susu. Ia pun berhenti di rumah Dong Joo. Ia manaruh 2 kotak susu di depan pintu.

Woo Ri melihat sekeliling tapi rumah itu sepi, ia kecewa. Lalu tiba-tiba ada yang bicara, “Aku menyukainya, aku menyukai Cha Dong Joo. Apa itu yang ada di sepedamu?”


Woo Ri mencari sumber suara, ia mendongak ke atas dan Dong Joo tangah berdiri bersandar santai di atas.


Woo Ri memberikan susu coklat untuk Dong Joo. Ia bilang itu gratis untuk promosi dan kalau Dong Joo mau memesan ia minta Dong Joo tanda tangan pemesanan dulu. Dong Joo berkata kalau ia hanya minum susu putih.


Woo Ri langsung menukarnya dan bergumam, “Kenapa kau hanya minum susu putih? Oh.. mungkin susu putih memang lebih enak. Mungkin itu sebabnya wajahmu begitu putih!”


Dan toeng... Dong Joo sudah berada di samping Woo Ri membuat jantungnya hampir copot haha. “Apa yang kau lakukan? Panas!” Woo Ri langsung kikuk, ia gugup dan mengipas-ngipas dirinya. Dong Joo memperhatikan sikap gugupnya Woo Ri. “Kenapa?” tanya Woo Ri.

Dong Joo : “Apa kau menyukaiku?”
Woo Ri : “Aku? Kenapa aku menyukaimu? Kau sudah gila!”
Woo Ri kembali mengipas dirinya dengan tangan, Dong Joo tersenyum simpul, “Bukankah kau baru saja mengatakan kalau kau menyukaiku?”


Woo Ri mendelik, Dong Joo mendekatkan wajahnya ke Woo Ri, “Aku!” sahut Dong Joo. Woo Ri menunduk berusaha memalingkan wajahnya tapi kepala Dong Joo mengikuti arah kepala Woo Ri.



Woo Ri malu-malu mengangguk. Dong Joo tertawa, Woo Ri kembali mendelik kesal. Dong Joo langsung menarik Woo Ri ke dalam rumah.


Dong Joo mendudukan Woo Ri didepan piano. Dong Joo minta maaf karena ia tak ingat kalau ia pernah menyukai Woo Ri. Dong Joo ingin Woo Ri memainkan lagu yang pernah Woo Ri ajarkan ke dia.

Wakakaka kena batunya dah tuh si Woo Ri pake bo'ong segala sih.

Woo Ri beralasan kalau permainan pianonya tak bagus.


“Piano-ist, waktu pertama kali bertemu kau menyebutku piano-ist. Bukan pianis tapi piano-ist!” Dong Joo merasa itu memiliki makna tersendiri. Woo Ri bengong ia berusaha mengingat, “Pasti ada artinya hanya saja aku tak ingat!” batin Woo Ri.

Dong Joo meminta pertama-tama harus merangsang hippocampus dulu kemudian merangsang sel saraf dibagian yang berhubungan dengan ingatan, “Bagaimana menurutmu?”

Hipokampus (bahasa Inggris: Hippocampus) adalah bagian dari otak besar yang terletak di lobus temporal. Manusia memiliki dua hippocampus, yakni pada sisi kiri dan kanan. Hipokampus merupakan bagian dari sistem limbik dan berperan pada kegiatan mengingat (memori) dan navigasi ruangan. Istilahhipokampus diturunkan dari bentuknya pada potongan koronal yang menyerupai kuda laut. (Bahasa Yunani: hippo:kuda, kampos:monster laut).


Woo Ri bingung ia tak mengerti apa yang diucapkan Dong Joo. “Bagaimana menurutmu?” tanya Dong Joo lagi. Menurut Woo Ri itu hal yang bagus. Ia tak tahu harus bagaimana lagi, kebohongannya membuat dirinya jadi pusing haha.


Dong Joo mempersilakan Woo Ri memainkan piano. Woo Ri mendesah pasrah. Dong Joo memegang kedua bahu Woo Ri dan menatapnya seolah serius, “Tolonglah aku!” ucap Dong Joo. Woo Ri seperti terhipnotis, ia akhirnya akan mencoba bagian awalnya saja. Woo Ri melemaskan jemarinya.


Lucunya, ketika Woo Ri bermain piano ia malah memperagakan layaknya bermain pianika. Mulutnya monyong seolah ia meniup pianika. hahaha. Dong Joo tersenyum.

Woo Ri berhenti dan bertanya apa Dong Joo ingat sesuatu. Dong Joo berbohong sedikit lagi dan meminta Woo Ri memainkannya lebih lama. Woo Ri kembali memonyongkan mulutnya seolah meniup pianika dan jari kanannya menekan tuts piano. Dong Joo tak tahan ia kembali tertawa, tapi ia berusaha menahan tawanya.

Woo Ri melirik Dong Joo dan Dong Joo langsung bersikap biasa-biasa saja. Woo Ri kembali bertanya apa Dong Joo sudah ingat. Dong Joo meminta Woo Ri terus memainkannya. Untuk merangsang ingatan Dong Joo, Woo Ri akan memainkannya berulang-ulang. Kali ini Woo Ri mamainkannya lebih baik dan ga pake monyongin mulut.


Dong Joo terus menatap Woo Ri, ia mengingat ketika ia mengajari Woo Ri bermain pianika dengan nada itu.


Tiba-tiba Dong Joo ikut memainkan pianonya. Woo Ri terkejut. “Bagian selanjutnya seperti ini kan?” Dong Joo menekan tuts piano.


Dong Joo mengambil posisi kedua tanganya memainkan piano dan tubuh Woo Ri berada ditengahnya (wah..... seperti dipeluk dari belakang) Dan tentu saja permaian piano Dong Joo jauh lebih baik dari Woo Ri, sangat baik.


Sayang banget kalau pict ini ga ikut di post, hehe...


“Hey Cha Dong Joo, kau mengganggu tidurku!” Joon Ha muncul tiba-tiba dengan kondisi baru bangun tidur. Woo Ri terkejut melihat Joon Ha dan langsung menyembunyikan wajahnya, sementara Dong Joo terus memainkan pianonya.


Woo Ri melirik ke arah Joon Ha dan spontan ia langsung berdiri. Akibatnya, kelapa Woo Ri mengenai dagu Dong Joo. Dong Joo langsung terjengkang wakakak.
Dong Joo meringis kesakitan memegang dagu (lebih tepatnya dibibir). Woo Ri menyalahkan Dong Joo seharusnya Dong Joo bisa lebih refleks lagi, “Kenapa kau tak menghindar?”
Dong Joo : Apa?


Woo Ri ingin melihat apa ada yang terluka. Dong Joo ingin tahu apa ada yang berdarah. Woo Ri melihat dan berkata kalau tak ada yang berdarah hanya saja warnanya lebih merah. “Karena kulitmu putih jadi terlihat lebih merah, kau harusnya lebih hati-hati!”
“Kau juga harusnya lebih hati-hati!” Protes Dong Joo.


Joon Ha menepuk pelan bahu Dong Joo. Woo Ri langsung bertanya, “Cha Dong Joo kejadian sebelumnya apa ada yang kau ingat? Apa kau ingat?”
Dong Joo berpura-pura tak ingat dan berterima kasih atas usaha Woo Ri. Woo Ri kecewa Dong Joo masih belum mengingatnya.


Woo Ri bertemu ayahnya di depan rumah Dong Joo. Ayahnya menyampaiakan kalau ia bekerja lagi di taman dan bisa datang setiap hari. Ia bisa melihat bunga setiap hari dan bisa menunggu Ma Roo, bermain dengan Dong Joo dan memberi makan ikan.

Sebelum ayahnya bekerja Woo Ri ingin tahu apa Dong Joo pernah bertanya pada ayahnya tentang dirinya. Young kyu menjawab tak pernah, “Apa kau ingin ditanyai?” Woo Ri berkata tak perlu dan menyuruh ayahnya bergegas kerja.

Nenek tiduran di kamar ia memikirkan Ma Roo yang ia temui dan ia harus memberi tahu Shin Ae. Ia tak peduli sikap Shin Ae nanti. Dia marah atau tidak nenek tak peduli. Nenek menelepon Shin Ae. Ia menyelipkan nomor telepon Sin Ae dibalik perban tangannya.


Shin Ae tengah tiduran di kursi ia menjawab teleponnya dan ketika tahu itu dari ibunya Shin Ae berkata kalau ia tak mau diganggu lagi. Nenek minta Shin Ae jangan cerewat dan harus mendengarkan apa yang akan dikatakannya, “Kemarin aku bertemu Ma Roo di rumah sakit. Dia bilang sekarang dia punya ibu dan adik. Dia hidup layak tapi ....”


Shin Ae mendesah meminta ibunya minum obat saja ia langsung mematikan ponselnya. Nenek ngomel, “Anak durhaka. Karena ibu seperti inilah Ma Roo lari dari rumah!” Nenek kembali menelepon Shin Ae tapi Shin Ae tak menjawabnya. Shin Ae berfikir apa benar ibunya bertemu Ma Roo.


Untuk memastikannya Shin Ae ke rumah sakit ia bertanya pada petugas reseptionis apa ada pasien yang bernama Bong Ma Roo. Petugas berkata tak ada pasien yang bernama Bong Ma Roo. Shin Ae meminta mencarinya sekali lagi karena pernah ada yang melihat dia ada di rumah sakit ini.

Petugas berkata walaupun dia terlihat di rumah sakit bukan berarti dia seorang pasien. Shin Ae meminta mencarinya didaftar nama dokter. Petugas kesal dan meminta Shin Ae segera menyingkir karena antrian panjang.


Shin Ae emosi, “Kau jangan main-main denganku aku ini istri pemilik Woo Kyung!” Petugas tertawa mendengarnya dan meminta antrian berikutnya maju. Shin Ae tambah emosi dan minta di panggilkan penanggung jawab rumah sakit.


Woo Ri minta bantuan Joon Ha untuk menekan Manajer Seo yang belum memberinya upah mengantar susu sebesar 100 dolar.
Woo Ri : “Kau tahu pemilik tempat ini kan? Si pemarah yang bisa bersinar dalam gelap. Apa kau mau aku melaporakanmu?”
Manajer Seo mempersilakan Woo Ri melaporkannya ia akan mengecek lagi tagihannya. Joon Ha tersenyum dan memanggil Woo Ri.


“Ya ampun kakaknya Cha Dong Joo!” Woo Ri pura-pura menyapa padahal ia sudah mengatur semuanya hehehe. Melihat ada kakak dari bosnya Manajer Seo ikut memberi hormat. “Kau sudah bekerja keras!” sahut Joon Ha pada Manajer dan meminta Woo Ri ngobrol dengannya. Woo Ri mengiyakan.

Melihat kedekatan Woo Ri dengan keluarga boss-nya Manajer Seo langsung merogoh kantong celana mengambil ponsel dan menelepon seseorang agar membayar upah mengantar susu untuk Woo Ri.


Woo Ri sangat berterima kasih, atas bantuan Joon Ha ia bisa gajian dan bisa membayar biaya rumah sakit Neneknya. Joon Ha ingin tahu apa hasil pemeriksaan Nenek bagus. Woo Ri berkata Joon Ha tak perlu khawatir. Tapi ada berita buruk yaitu Ma Roo belum juga kembali.


Ada yang ingin Woo Ri tanyakan ke Joon Ha, “Bagaimana Cha Dong Joo bisa kehilangan ingatannya?”
Joon Ha : “Kenapa? apa kau sedih karena Dong Joo tak bisa mengingatmu?”
Woo Ri : “Bukan. Memangnya kenapa dia tak bisa mengingatku? Kami kan cuma bertemu sebentar!”


Joon Ha pernah mendengar kalau Woo Ri menyukai Dong Joo. Woo Ri langsung diam menunduk. “Benar kan sekarang aku bisa lihat kau pintar sekali berbohong!” sahut joon Ha.
Woo Ri : “Tidak aku punya bukti, Ma Roo melihatnya. Cha Dong Joo dulu selalu mencariku. Dia bahkan memberiku alamatnya. Dia selalu mengikutiku sampai ke rumahku, ayahku juga bisa bersaksi!”


Joon Ha kemudian mengalihkan pembicaraan, “Bukankah kau berjualan mobil?” apa Woo Ri bisa menjual mobil bekas. Woo Ri heran bukankah mobil Joon Ha masih baru. Joon Ha menyampaikan kalau ia akan kembali ke Amerika.
Woo Ri : Apa? Kapan?


Joon Ha merasa Woo Ri terlihat senang kalau ia pergi. Woo Ri menolak anggapan itu, “Kalau dokter pergi bagaimana dengan Cha Dong Joo?” Joon Ha heran, “Kenapa dengan Dong Joo?”
Woo Ri : “Dia akan kesepian, kalian sangat dekat!”
Joon Ha merasa ini tak adil, ia yang akan pergi ke Amerika tapi Woo Ri terus mengkhawatirkan Dong Joo.
Woo Ri : “Tidak, aku lebih menyukai dokter dari pada Cha Dong Joo!”


Ponsel Woo Ri berdering, Seung Chul menleponnya. Joon Ha memandang Woo Ri yang menjauh menerima telepon, “Kau lebih menyukaiku dari pada Cha Dong Joo? Aku tak percaya, kau itu pembohong besar!”


Di tempat belajarnya Seung Chul menyempatkan diri menelepon Woo Ri, “Apa kau merindukanku? Aku pulang dan kau tak mencariku? Kenapa? aku sudah pergi lagi apa kehadiranku tak kau harapkan?”
Woo Ri : “Tentu saja. sejak kau tak ada Nenek kesepian di rumah dan harus pergi ke rumah sakit sendirian. Terima kasih!”

Seung Chul : “Jangan hanya berterima kasih padaku, selama 10 tahun aku mengerjakan tugas di taman demi kau. Bong Woo Ri semua kesengsaraanmu sudah berakhir!”
Seung Chul menyudahi teleponnya karena Chef sudah datang.


Seung Chul menatap koran yang ia baca, disana tertulis ‘Cha Dong Joo penerus Woo Kyung setelah pergi selama 16 tahun memulai bisnis kosmetik sendiri’. “Cha Dong Joo, kau itu belum seberapa!” Seung Chul membanting korannya.

Woo Ri kembali ke tempat dimana ia meninggalkan Joon Ha tapi Joon Ha sudah tak ada disana, Woo Ri celingukan tapi ia tak melihat Joon Ha.


Chef meminta peserta mengerjakan sesuai resep, “Pikirkan itu seperti kalian belajar 1 tahun!”
Seung Chul menyahut, “Satu tahun? Rasanya seperti 20 tahun. Aku akan membuat pernyataan untuk kalian!”
Chef : “Lee Seung Chul kembalilah kenapa tidak ikuti saja resepnya?”
Seung Chul : “Mengingat resep tidak berarti rasanya akan selalu enak, hal yang paling penting adalah hasrat yang ada di dalam hati. Seharusnya disini kita keluarkan dulu apa yang ada dalam hati kita dan kenapa kita disini!”


Chef meminta kata-kata itu disampaiakan setelah kita selesai kelas ini. Plukkk Seung Chul menempelkan telunjuknya ke mulut Chef, “Tidak. Aku akan menggoreng ayam selama 20 tahun dan akan menjadi pemilik toko ayam goreng. Jadi aku harus mengeluarkan apa yang ada dalam hatiku!”


Minyak adalah air, ayam adalah bunga. Hanya ketika bunga mendapat air yang takarannya tepat rasa lezatnya akan keluar. Jadi kita perlu ayam yang terbesar dan minyak yang terbaik.
Seung Chul sangat bersemangat, “Sampai bisa menggoreng ayam yang terlezat dimasa depan aku akan bertanggung jawab atas ayam goreng!” Peserta lain bertepuk tangan.


Presdir Choi menolak membiayai iklan Taman botani Dong Joo, “Woo Kyung adalah perusahaan pembuat semikonduktor, mana bisa aku mengeluarkan biaya iklan terpisah. Kalau kau mau membuat kosmetik silakan tapi kau harus mengikuti aturan perusahaan!”

Ny Tae dan Shin Ae masuk ke ruangan Presdir Choi. Ia meminta Shin Ae menunggu di luar saja. Presdir Choi meminta Dong Joo bersabar karena kondisi keuangan yang belum stabil, kalau saatnya tepat ia akan memberikannya.

Dong Joo : “Jadi perusahaan besar tidak melakukan iklan untuk produknya. Sebagai anakmu aku mengerti. Tapi kalau hal ini sampai diketahui pesaing mereka akan meremehkan Woo Kyung!”
Ny Tae mendengarkan perbincangan keduanya sambil membaca koran.
Presdir Choi : “Itu bisa saja terjadi. Jadi apakah aku harus mendukung Taman botani agar reputasi Woo Kyung tidak turun?”


Dong Joo mendengar ada rumor yang menyebutkan kalau Presdir menghalang-halangi bangkitnya produk Energy Cell. Presdir Choi ingin tahu siapa yang bilang begitu.
Dong Joo berkata itu hanya rumor, “Sekarang aku hanya bisa mengikuti saran Ayah bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengiklankan Taman Botani!”


Dong Joo mengajak Staf-nya membahas rancana iklan di TV. Dong Joo membawa kantong kacanganya ke kantor. Min Soo risih melihatnya, “Boss bisakah kau simpan kantong kacangmu? Aku tak bisa konsentrasi!” Dong Joo menjawab ia memerlukan kantong kacangnya untuk berkonsentrasi.


Dong Joo : “Pertama-tama kita bahas mengenai penjualan dan isi promosi. Setelah 2 minggu menggunakan produk ini dan pelanggan merasa tak puas kita kembalikan uang meraka!”


Park Dae Ri tak yakin, setelah 2 minggu apa tak beresiko.
Min Soo : “Kau menggunakan produk kita kan? Setelah kau pakai produk itu, kau tak mengembalikannya!”


Dong Joo : “Apakah kita yakin akan manfaat dari produk itu? kita harus memahami benar produk kita. Bagaimaa kampanye status marketing kita?”
Dae Young : “Ya. 30rb contoh barang yang kau perlukan aku bisa menyiapkannya besok!”
Dong Joo senang itu lebih dari cukup. ia meminta Park Dae Ri mengedarkan produk melalui majalah dan buku katalog bisnis. "Ayo kita mulai bekerja....”


Dong Joo masuk ke ruangannya Min Soo terus memperhatikannya. ia merasa heran kenapa Dong Joo selalu membawa kantong kacang itu. Kim Bi berbisik pada Min Soo, “Boss kita itu, apa dia sudah tahu kalau perusahaan ini akan seperti ini?”


Dong Joo membaca berkas sambil memainkan kantong kacangnya. Woo Ri mengiriminya sms meminta nomor rekening Dong Joo. Ia ingin mengembalikan uang penjualan lukisan 3 juta won. Dong Joo heran karena ia sudah menerima uang segepok dari Seung Chul, kenapa Woo Ri ingin mengembalikan uang lagi.


Woo Ri di tempat kerjanya ia tengah membersihkan mobil-mobil yang akan di jual. ia mendapat balasan sms dari Dong Joo, “Aku tak punya rekening Bank tak usah dikirim!”

Woo Ri tak percaya, “Dia tak punya rekening bank? Tidak mungkin!” Ia kembali mengirim sms pada Dong Joo, “Kalau begitu kita bertemu aku tak bisa hidup dengan dibebani hutang!”


Dong Joo tersenyum membacanya, “Dia tak bisa hidup!” gumamnya. Dong Joo membalas sms, “Tidak bisa bertemu aku tak punya waktu!”
Woo Ri kesal dan membalas sms lagi, “Bagaimana kalau aku ke rumahmu?”
Dong Joo membalas sms-nya beberapa kali.
“Lagi?”
“Kenapa kau ke rumahku setiap hari?”
“Kenapa?”
Sms berikutnya Cuma tanda seru (!)


Dong Joo menunggu sms balasan dari Woo Ri tapi tak kunjung datang, ia pun kembali mengirim sms.

Woo Ri mengumpat memandang ponselnya, “Dasar kotoran semut!” dan sms Dong Joo pun kembali masuk, “Aku melihatnya, ‘kotoran semut’ kau mengumpatku. Aku bisa mendengar semuanya. Kita ketemu jam 10 besok di taman!” Woo Ri tertegun.


Joon Ha menemui undangan Presdir Choi di kantor Woo Kyung, Presdir menyuguhkan minuman untuk Joon Ha. Presdir tak menyangka kalau Pabrik Kosmetik Po River itu milik Joon Ha. Joon Ha heran apa Presdir memanggilnya hanya untuk menanyakan hal itu. Presdir hanya sedikit terkejut mengetahui hal itu, ia tak menyangka Joon Ha melakukan itu semua untuk Dong Joo. “Bukankah kau seorang dokter?”


Joon Ha berkata kalau ia tertarik dengan bisnis dan Dong Joo juga tertarik dengan bisnis. Karena itu ia berfikir untuk menginvestasikan uang miliknya pada Dong Joo dan itu tak akan ada masalah.
Presdir memuji Joon Ha pandai mengatur uang dan ia yakin kalau jumlah investasi Joon Ha tak sedikit. Joon Ha mengaku kalau ia juga memliki beberapa saham di Amerika, “Bisnis apapun semua dikendalikan oleh Investor. Dengan menjadi Investor kita mudah mengendalikan orang-orang!”


Presdir Choi memuji kalau Joon Ha mirip dengannya, “Apakah kau lebih tertarik berbisnis dari pada menjadi dokter?” Presdir melihat Joon Ha selalu mendampingi Dong Joo dengan menjadi bayangan Dong Joo.
Joon Ha : Bayangan?
Presdir : “Kau kan mirip denganku. Tapi kalau aku, aku tak akan pernah mau hidup menjadi bayangan orang lain. Apa aku salah?”


Joon Ha tersenyum, “Kupikir anda keliru. Aku puas dengan kehidupanku yang sekarang. Semakin banyak yang kuinginkan aku tak akan lebih bahagia. Jika merasa cukup maka kau sudah bahagia. Bagaimana pendapat anda?”

Presdir : “Hubunganmu dengan orang-orang di rumah tanggaku. Istriku, Dong Joo dan kau. Apa kau benar ingin seperti ini terus?”
Joon Ha : “Ibu, Dong Joo dan aku sudah satu keluarga. Dan aku akan selalu melindungi mereka!”
Presdir : “Bagaimana kalau ada yang lebih baik dari itu?”
Joon Ha : “Aku tak tahu kalau ada yang lebih baik!”
Presdir : “Kau hanya perlu waktu untuk memikirkannya!”


Presdir masuk mobilnya dan di sana sudah ada Shin Ae. Shin Ae ingin tahu bagaimana dia (Joon Ha). “Orang-orang seperti itu aku sudah tahu mereka itu bagaimana!” sahut presdir Choi.
Shin Ae meminta Presdir Choi hati-hati, “Aku tak suka kehadirannya yang begitu misterius, apa kau sendiri tidak curiga?”

Presdir tanya bagaimana pencarian Shin Ae di rumah sakit. Shin Ae menjawab ia tak tahu. Ia minta Presdir saja yang melakukannya, ia tak punya banyak kesempatan di sana. “Aku sendiri tak yakin apakah kata-kata ibuku benar atau tidak. Mencari Ma Roo sekali lagi. Kau harus awasi Tae Yeon Sook yang melibatkan Dong Joo dalam bisnis. Dia tak akan berhenti!”
Presdir : “Kalau dia tetap meneruskan malah anaknya yang akan celaka!”


Young Kyu membuka pintu kamar ibunya dan ia melihat ibunya tengah minum alkohol, “Apa yang ibu lakukan?” Nenek langsung menyembunyikan botol minumannya.
Young Kyu menyalakan lampu, ia merasa Ibunya tidak sedang tidur. dari luar ia mendengar suara orang minum. Young kyu mencium ada aroma alkohol, “Ibu apa kau minum lagi?” Nenek menutup mulut dan menggeleng, “Tidak. Aku tak minum alkohol, pergilah!”


Young Kyu mengambil tulisan dan menempelkan didahi ibunya, Cha (tidur) Nenek heran apa ini. Tidur jawab Young Kyu. Nama keluarga kita tak ada di sini tapi nama Ma Roo ada jelasnya. Young kyu menunjukan kata yang berbunyi Ma.

Nenek terharu melihat young kyu sudah mengenal huruf, “Ya Tuhan perlu waktu seumur hidup untuk melihatmu bisa membaca huruf!”
Young Kyu mengatakan kalau Woo Ri memberinya banyak PR dan itu membuatnya pusing. Tapi sejak bertemu dengan Dong Joo ia menjadi suka. “Aku suka main sekolah-sekolahan dengan ikan!”

Nenek menangis terharu, “Ma Roo bilang ayahnya bodoh tapi lihatlah dia begitu pintar. Kalau tahu seperti ini aku tak akan melepaskan Ma Roo pergi!”


Young Kyu heran, “Apa? Ibu apa kau bertemu Ma Roo? apa ibu bertemu dengannya?” Nenek berbohong ia bertemu Ma Roo dalam mimpi.


Young Kyu jadi sedih ia juga ingin bermimpi bertemu Ma Roo, “Ibu bagaimana caranya bermimpi? Bagaimana caranya? Aku mau bermimpi. Aku mau bermimpi, aku mau bertemu Ma Roo. Aku mau bermimpi!” Young Kyu terus merengek sambil memukul kepalanya.


Woo Ri melihat ayahnya tertidur masih mengenakan helm senternya. Woo Ri akan melepas helm senter ayahnya tapi Young Kyu langsung tersadar tapi matanya masih terpejam, “Ayah apa kau tak tidur? Kalau begitu helm helm-nya dilepas kalau tidak kepalamu akan sakit!”

Young Kyu tak mau melepasnya ia bersikeras berkata sambil memejamkan mata kalau itu tak sakit, “Helm Bong Young Kyu aku paling suka!”
Woo Ri : “Oh oh orang tidur kok bisa bicara? Kau berbohong ya, nanti polisi akan menjemputmu!”


Young Kyu langsung melek dan bangun, “Tidak tidak aku tak tidur. Woo Ri ibu bertemu Ma Roo!”
Woo Ri tekejut, apa?
Young Kyu : “Dia bertemu Ma Roo dalam mimpi. Aku harus tidur cepat agar bisa bertemu Ma Roo dalam mimpi. Aku selalu tidur setiap hari tapi tak pernah bertemu Ma Roo. Bahkan dalam mimpi-pun dia tak mau menemuiku. Ma Roo tak pernah datang. Tapi ibu bertemu Ma Roo. Benar ibu bertemu Ma Roo. Lalu aku bagaimana? Bagaimana dengan aku?”


Woo Ri tahu kesedihan ayahnya dan ia langsung menghiburnya, “Ayah ayah. Tunggu, aku sedang marah!” Woo Ri memalingkan wajahnya. Ayahnya tanya, kenapa.
Woo Ri mendelik, ia sudah menyuruh ayahnya belajar nama-nama keluarga. Tapi ayahnya tak mau dan beralasan sakit kepala tapi nama-nama ikan Ayahnya mau belajar, “Kau lebih suka ikan dari pada putrimu!”


Young Kyu : “Tidak, aku suka ikan. Aku juga suka Bong Woo Ri. Aku suka ibu, aku suka Bong Ma Roo, Mong Goon, Seung Chul, Ibunya Seung Chul, jari Bong Youn Kyu, jari Cha Dong Joo, Cha Dong Joo. Aku suka semuanya!”
Woo Ri ingin tahu kenapa ayahnya menyukai Cha Dong Joo. Young kyu berkata kalau Cha Dong Joo itu baik. “Dia seperti Mi Sook, mirip. Itulah kenapa aku menyukainya!”

Woo Ri heran, “Ibu? Mereka tak mirip!”
Young Kyu : “Tidak tidak mata Mi Sook dan mata Cha Dong Joo meraka sama persis. Mi Sook tak bicara tapi Dong Joo bisa bicara!”
Young kyu menyalakan senter helm dan memandang foto keluarganya, “Benarkan Mi Sook? Haruskan aku mengajari Cha Dong Joo bahasa isyarat?” Woo Ri menatap aneh.


Woo Ri berjalan sendirian di taman, ia memandang jam tangan yang terpasang di tas gendongnya. Ia melihat ayahnya lari-lari di taman. Woo Ri ingin memanggil tapi tak jadi, ia melihat ayahnya menghampiri Dong Joo.

Young Kyu menunjukkan kalau Dong Joo salah dalam berkebun. Woo Ri memperhatikan dari jauh. Dong Joo mengerti dan langsung mempraktekannya kemudian bertanya apa selanjutnya. “Menyiram tanaman!” sahut Young Kyu. “Karena tak ada hujan mereka kehausan, tapi ini sulit!” Dong Joo merebut selang airnya dan berkata ia bisa melakukannya.
Young Kyu merebut kembali selang airnya, “Jangan kau tak bisa, putik bunganya akan gugur. Tidak boleh!”
“Aku bisa!” Dong Joo merengek.


Young Kyu mengancam kalau Dong Joo tak mau mendengarkannya maka ia akan menyebut Dong Joo dengan sebutan bayi. Dong Joo memandang wajah dan memperhatikan semua yang diucapkan Young Kyu, “Bolehkah aku menyiram sekali saja? Aku bisa!”


Woo Ri tercengang melihatnya, apa ia menyadari sesuatu. Mata woo ri mulai berkaca kaca.
Young Kyu : “Cha Dong Joo kalau kau tak mendengarkanku namamu akan kutulis dan kutempel di pohon itu. Jangan seperti ikan-ikan yang tak mau mendengarkan!”
Dong Joo mengeja namanya, “Namaku Cha Dong Joo!” Young Kyu tahu huruf Cha. Tapi ia tak tahu huruf selanjutnya nama Dong Joo.

Dong Joo tertawa, “Karena kau tak bisa menuliskan namaku jadi aku tak perlu mematuhimu!” Dong Joo berusaha merebut selang airnya tapi Young kyu melarang.
Young Kyu pergi akan menyiram, sebelum pergi ia menjulurkan lidahnya. Dong Joo tertawa.


Dong Joo melihat jam tangannya ia teringat janji bertemu Woo Ri. Sebelum pergi ia memandang bunga yang ada di depannya. Dong Joo menutup kedua telinga dengan tangan matanya terpejam, “Apa maksudmu terima kasih?” Dong Joo bicara dengan bunga.

Dong Joo membuka matanya dan tersenyum. Air mata Woo Ri hampir menetes melihatnya. Dong Joo kembali melihat jam tangannya, ia sudah hampir terlambat dan langsung bergegas.


“Cha Dong Joo!” teriak Woo Ri. Dong Joo tak melihatnya, ia tak tahu kalau Woo Ri berteriak memanggilnya. Dong Joo mempercepat langkahnya.
“Cha Dong Joo!” Woo Ri kembali berteriak berjalan tapat di belakang Dong Joo.


“Cha Dong Joo, jawab aku!” Air mata Woo Ri menetes. “Kau tak mengatakan kau suka padaku, aku sudah berbohong. Aku bilang aku bohong!” Woo Ri terus berteriak.
Dong Joo terus berjalan. Woo Ri menangis dan kembali berteriak, “Apa kau tak mendengarku? Kau bilang kau bisa mendengar suaraku!”
“Cha Dong Joo, CHA DONG JOO!” Woo Ri terus berteriak. Dong Joo melangkah pulang ke rumah sambil terus tersenyum sumringah.


“Cha Dong Joo!” Woo Ri bergumam pelan berhenti mengejar Dong Joo.



re-posted and-re-edited by : dianafitriwidiyani.blogspot.com

No comments:

Post a Comment